Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahasa. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Maret 2010

Budaya Tutur yang Luntur

Keberaksaraan merupakan hal baru dalam menembus batas nilai-nilai masyarakat kita. Sistem kognitif masyarakat, sumber identitas, sarana ekspresi, sistem religi dan kepercayaan, pembentukan dan peneguhan adat-istiadat, sejarah, hukum, pengobatan, keindahan, kreativitas, asal-usul masyarakat, kearifan lokal mengenai pengetahuan, dan lainnya masih mengandalkan tradisi dalam dimensi kelisanan, budaya tutur. Bertutur, menuturkan, dan dituturkan oleh sang penutur.

Budaya tutur bertahan cukup lama dan telah menjadi semacam ekspresi estetik masyarakat di tiap-tiap daerah, di suku-suku yang tersebar di seantero Nusantara. Ekpresi atas serangkaian manifestasi dialektika dari unsur kebudayaan pendahulu yang saling bersinergi membentuk pola penghubung dengan masa selanjutnya, sebuah pakem dalam komunikasi tradisi. Namun, ketika sebagian kalangan menganggap bahwa tradisi tulis itu memunyai nilai lebih tinggi atau lebih maju karena mengikuti perkembangan arus zaman, maka eksistensi budaya tutur terlihat semakin dekaden, bahkan hampir punah.

Budaya tutur masih dinilai sebagai ruang ekspresi tradisi dan wacana sebelum ditulis, yang memiliki imej kuno. Dengan kata lain, budaya tutur dilemahkan dan dimandulkan secara sistematis. Budaya tutur kemudian hanya merupakan sebuah peninggalan ruang lisan dari anggota masyarakat yang merawat hidup sebelum keberaksaraan dituliskan dalam simbol alfabetisasi, tidak lebih dan tidak kurang.

Bila menghormati tradisi akademik, sejarah bahasa tulis merupakan sintesis bahasa formal tertulis yang mengikuti persyaratan logika keberaksaraan hingga dimengerti sebagai bahasa pengantar informasi, sebuah keberaksaraan yang disepakati pemakai bahasa. Namun ada yang hilang ketika tutur dalam tradisi lisan itu dituliskan tanpa kemudian menyertakan kaidah pembacaan dan kunci-kunci pemaknaannya. Roh atau spirit, suasana, dan konteks tak tertuliskan dan tak terbahasakan secara alfabetikal dalam kelisanan, tereduksi oleh hukum logika tulis yang dalam semiotika (sistem tanda) mau dikembalikan menjadi terbaca. Sebuah usaha yang akan sia-sia.

Persoalan ini tidak bisa lepas dari konsepsi “kemapanan”, suatu corak yang dibawa oleh modernisme. Budaya tutur yang merupakan corak masyarakat kuno (awam) dipandang, misalnya, sebagai penghambat kemajuan bangsa. Supaya suatu bangsa menjadi maju seiring arus zaman, maka budaya tutur harus diubah kepada budaya menulis, karena tradisi tulis-menulis selalu identik dengan kemajuan sebuah peradaban keilmuan.

Sebetulnya, tradisi keilmuan tidak harus menjadi sangat feodalistik dan angker. Takhta logika dan kebenaran yang selama ini kental dengan kultur keilmuan, diubah menjadi takhta tempat menghakimi benar dan salah. Dari bantah-membantah antara tutur dengan tulis dari berbagai pihak yang merasa disudutkan, sampai dengan bolak-baliknya kajian keilmuan yang terus diusung tanpa ragu untuk membungkam satu dan yang lainnya. Itulah fakta yang semakin meruntuhkan kredibilitas budaya tutur di negeri ini. Pendapat ini menciptakan adanya tendensi yang seakan menutup mata dengan apa yang sebenarnya ada.

Karena itu, tidak dapat kita pungkiri, dalam keilmuan modern (baca Barat) Indonesia, baik yang berkenaan dengan ekspresi proses verbal maupun dalam bentuk kajian tulisan dari segi kuantitas lebih mendominasi, kajian-kajian budaya tutur cenderung dinomorduakan. Bila itu dilakukan dan akhirnya budaya tutur terpinggirkan, maka malapetaka bagi bangsa ini, bangsa yang sesungguhnya telah jauh meninggalkan budaya tulis dan menggantinya dengan simbolik dalam budaya tutur.

Sejauh ini, memang belum ada perintah siapa pun untuk melarang orang bertutur. Tetapi, budaya bertutur itu-- budaya duduk bersama, budaya berbincang, budaya dialog, dan budaya kerja sama--telah menghilang dari sebagian diri kita. Sebagian mengambil alasan karena kesadaran kita yang nyatanya telah menghegemoni dengan keadaan baru. Tetapi sebagian lagi mengaku bahwa budaya tutur telah dikebiri dengan alasan yang belum jelas.

Tradisi harus dirawat untuk kemudian menjadikan sebuah pandangan bagi realitas, di mana tradisi yang masih ada adalah yang memang diperlukan dan bukannya dipaksa untuk angkat kaki atau kita dipaksa meninggalkan tradisi yang sesungguhnya masih baik untuk kita. Mau tidak mau hal itu merupakan kesadaran kolektif ketika kita menentukannya. Bila salah satu belum dipahami oleh yang bersangkutan sebagai rahim budayanya kemudian dihadapkan pada tradisi berikutnya, akankah terjadi hibriditas atau wajah dalam pembatinan rahim tradisi? Lebih khusus lagi, apabila seseorang belum meminum dari sumur-sumur tradisinya, apakah akan meloncat dalam keadaan terpecah ke dalam tradisi mutakhir yang menerpanya?

Bila citra kita sekarang buruk dalam melihat budaya tutur dalam tradisi yang, katanya, modern di bangsa ini, lantas apa yang mau diharapkan dari bangsa ini? Budaya tutur bukan hanya bertutur melainkan darinya banyak pesan yang disampaikan. Ada ruh yang menjiwai tutur. Ada yang tersirat dari yang tersurat, di mana bahasa tak hanya berkutat dalam tataran verbal dan lateral juga body language, juga interaksi simbolik, menjadikan sebuah identifikasi, penanda diri. Tapi apakah mungkin merupakan jati diri?

Dalam sebuah gambaran aplikasi sederhana, budaya tutur apabila diterapkan pada saat ini mampu menjawab persoalan-persoalan mendasar bangsa mulai dari tingkatan paling dasar sebuah bangsa. Budaya tutur mampu menjawab persoalan-persoalan klise sebuah keluarga, karena dalam budaya tutur, interaksi emosional antara orangtua dengan anak, jembatan komunikasi antara orangtua dengan anak, serta kepercayaan antara orangtua dengan anak dibangun dengan sendirinya dalam proses bertutur tersebut. Orangtua akan mendapat kepercayaan penuh sang anak, sementara sang anak akan mendapatkan sosok yang dapat diajak berbicara, karena dalam budaya tutur selalu terjadi proses dialektika. Budaya tutur adalah konteks, bukan hanya sekadar teks.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/97/id/578

Senin, 29 Maret 2010

Harmonisasi Bahasa dalam Kebudayaan Jawa

Kebudayaan Jawa adalah kebudayaan yang mengutamakan keseimbangan, keselarasan, dan keserasian. Semua unsur diatur secara harmonis dan berdampingan, baik itu hidup dengan mati, alam dengan makhluk hidup. Semua hal yang tidak cocok mengharuskan untuk dihindari; setiap yang bisa mengganggu keseimbangan itu cepat diperbaiki agar semua kembali harmoni.

Umumnya yang mengganggu keseimbangan manusia adalah pola manusianya, baik masalah manusia dengan manusia atau manusia dengan dengan alam. Untuk mengatur semua itu agar kembali benar adalah perlunya kepimpinan dan tanggung jawab pimpinan masyarakat. Kesulitan dalam masyarakat Jawa adalah setiap keseimbangan itu diganggu oleh pola manusia dengan manusia yang umumnya bisa menimbulkan konflik (harmoni terganggu). Untuk menghindari konflik, umumnya masyarakat Jawa mengutarakan ketidakcocokan itu dengan memendamnya.

Di masyarakat Jawa umumnya ada golongan sosial, misalnya golongan priyayi (bangsawan) dengan rakyat biasa. Ada lagi golongan santri dengan golongan abangan (masyarakat yang kurang peduli dengan syariat agama). Dalam bahasa Jawa ada kelas atau tingkatan tingkatan yang bisa menggambarkan pengaturan pengucapan dalam golongan sosial.

Tingkatan Sosial Bahasa Jawa
1. Ngoko
Bahasa ngoko adalah suatu tatanan bahasa yang paling bawah, digunakan dalam percakapan sehari-hari antara yang lebih tua dengan yang muda, orang sederajat atau teman sejawat, atasan keapada pegawainya (bawahannya).
Contoh: Lho, koen mau wes mangan a? (Lho, kamu tadi sudah makan?)

2. Ngoko andhap
Ngoko andhap digunakan kepada siapa saja yang sudah akrab akan tetapi masih menghormati satu sama lain. Ngoko andhap itu dibagi menjadi dua: antya basa dan basa antya. Ngoko andhap antya sampai sekarang masih digunakan, akan tetapi ngoko andhap antya sudah lama tak digunakan bahkan sudah tak lagi dilestarikan dan dianggap sirna.
Contoh: Lho, samean mau wes maem a? (Lho, kamu tadi sudah makan?)

3. Madhya
Madya adalah bahasa yang sering digunakan dalam masyarakat pedesaan atau masyarakat gunung.
Madhya dibagi menjadi dua: madhya ngoko dan madhya krama. Madhya ngoko adalah sebuah bahasa yang dikalobarasi dengan bahasa ngoko tetapi lebih lekat kedaerahan; bisa dibilang bahasa daerah setempat yang tak semua orang Jawa mengerti. Ciri-cirinya:

* Saya diganti menjadi kula.
* Anda menjadi dika.
* Awalan tak- diganti menjadi kula.
* Awalan ko- diganti menjadi dika.
* Awalan di- tidak berubah.

Contoh: Lho, dika wes maem a? (Lho, kamu sudah makan?)
Sedangkan madhya krama biasa digunakan masyarakat desa berbicara dengan orang yang baru kenal atau orang yang dihormati. Bisa dikatakan hampir sama dengan ngoko andhap tetapi memunyai batasan: orang muda kepada yang lebih tua atau dihormati.
Ciri-cirinya:

* Saya, diganti menjadi kula.
* Anda, diganti menjadi sampeyan, samang.
* Awalan tak- diganti menjadi kula.
* Awalan ko- diganti menjadi samang, mang.
* Akhiran -ku diganti menjadi kula.
* Akhiran -mu diganti menjadi sampéyan, samang.
* Akhiran -e tetap tidak berubah.

Contoh: Lho, samang sampun maem? (Lho, kamu sudah makan?)

4. Madhyantara
Bahasa madhyantara terbentuk dari madya krama akan tetapi kalimat-kalimat yang ditujukan adalah kepada orang yang diajak bicara ditambahi dengan bahasa krama inggil. Bahasa madhyantara dulu biasa digunakan priyayi kecil atau anak bangsawan kepada utusannya. Akan tetapi, bahasa ini sekarang sudah jarang dipergunakan.
Ciri-cirinya hampir sama dengan bahasa madya
Contoh: Lho, samang sampun dahar? (Lho, kamu sudah makan?)

5. Kromo
Bahasa kromo atau krama adalah tingkatan tengah dalam bahasa Jawa sebelum kromo inggil di mana tidak semua kosakata yang diucapkan diganti dengan bahasa alus. Kromo digunakan kepada orang yang baru kenal atau sejawat yang lebih dihormati.
Contoh: Lho, samean sampun nedo? (Lho, kamu sudah makan?)

6. Kromo Inggil
Bahasa kromo Inggil adalah bahasa di mana pengucapanan krama dicampur dengan krama inggil. Bahasa krama biasa digunakan priyayi kecil (anak bangsawan) dengan priyayi yang lebih tua, anak muda kepada orang yang lebih tua.
Ciri-cirinya:

* Saya diganti menjadi kawula, abdidalem kawula, atau dalem.
* Anda diganti menjadi panjenengan dalem atau disingkat nandalem.

Contoh: Panjenengan dalem sampun dahar? (Kamu sudah makan?)

7. Bagongan
Bahasa bagongan mulai dikembangkan pada masa pemerintahan Sultan Agung. Basa ini biasa digunakan di lingkungan kraton Mataram dengan tujuan untuk menghilangkan kesenjangan antara pejabat istana dengan keluarga raja. Seiring dengan perkembangan, bahasa bagongan sekrang sudah jarang digunakan dan bisa dikatakan hampir punah kecuali oleh orangtua yang dulu pernah mengenal bahasa ini
Ciri-ciri:

* Saya diganti menjadi manira.
* Anda diganti menjadi pakenira
* Ya diganti menjadi enggeh.
* Tidak diganti menjadi mboya.
* Bukan diganti menjadi seyos.
* Saja diganti menjadi mbesaos.
* Ini diganti menjadi puniki.
* Itu diganti menjadi puniku.
* Apa diganti menjadi punapi.
* Ada diganti menjadi wenten.

Contoh: Pakeniro pilih puniku mbesaos. (Kamu pilih itu saja).

8. Kedhaton
Basa kedhaton dipergunakan dalam area kedhaton/keraton. Bahasa ini juga hampir hilang dan perlu pelestarian.Ciri bahasa ini adalah penyampaian yang halus dan kosakata yang digunakan tergolong tinggi dan sastrawi.
Contoh: Kawula mirsani panjenenganipun ing dalem jawi. (Saya melihat kamu di luar).

Tidak ada gambaran dalam bahasa yang lebih pantas untuk dilihat dari segi perbedaan dialek dan bahasa sehari hari. Dalam masyarakat Jawa terdapat penuturan penggunaan bahasa; dalam penerapannya masyarakat jawa sering menyebutnya dengan unggah-ungguh. Seiring dengan perkembangan zaman semakin kritis kondisi bahasa Jawa. Tatanan penggunaan bahasa dan unggah-ungguh telah berkurang. Hampir lebih dari masyarakat muda Jawa sekarang tidak mengerti bahasa tata krama. Ini disebabkanya pendidikan orang tua yang kurang kepada anaknya dan penggunaan bahasa yang lebih sering didengar (umum) adalah bahasa sehari-hari tidak lagi digunakan tingkatan sosial dalam bahasa pengucapan yang dipergunakan. Faktor lain karena pendidikan bahasa Jawa dalam sekolah tak lagi optimal dan bahkan dalam sejumlah sekolah modern telah ditiadakan pelajaran bahasa Jawa. Jika ditelaah kembali dalam bahasa Jawa itu terdapat sebuah tatanan penghormatan kepada orang yang diajak bicara dan budi pekerti yang luhur bagi orang yang berbicara.

Kepustakaan
Febyardini, Dian P.R., S.S. et al. Pepak lan Wasis Basa Jawa. Indonesiatera: Yogyakarta.
Purwadi, M.Hum.,et al. Tata Bahasa Jawa. Yogyakarta: Media Abadi, Cethakan Pertama Agustus.
Purwadi. 2007. Sejarah Raja-Raja Jawa. Yogyakarta: Media Ilmu.
Margono, S.Pd., M.Acc. 2009. "Telaah Sehari Berbahasa Jawa Di Kabupaten Purworejo". [online] http://riyadi.purworejo.asia/2009/06/telaah-sehari-berbahasa-jawa-di.htmll. Diakses pada tanggal 13-11-2009.
Setyanto, Aryo Bimo. Parama Sastra Bahasa Jawa. Yogyakarta: Panji Pustaka, Cethakan Pertama Oktober _____ Budaya Jawa [online] http://map-bms.wikipedia.org/wiki/Budaya_Jawa.. Diakses pada tanggal 11-11-2009.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/544/harmonisasi-bahasa-dalam-kebudayaan-jawa

Minggu, 21 Maret 2010

Bujangga Manik: Perjalanan Seorang Peziarah 4

Sadatang ka Mulah Mada,
ngalalar ka Tapak Ratu,
datang ka Bukit Patuha,
ka sanghiang Ranca Goda.
(Setiba di Mulah Mada,
melewati Tapak Ratu,
pergi ke Gunung Patuha,
ke tempat suci Ranca Goda.)
Dipunar dijian batur,
kapuruyan ku mandala.
(Aku membangunnya kembali dan menjadikannya tempat pertapaan,
yang disari oleh mandala [?].)
Di inya aing teu heubeui,
satahun deung sataraban.
(Di sana aku tidak tinggal terlalu lama,
hanya setahun lebih.)
Sadiri aing [ti i] ti inya,
sacu(n)duk ka Gunung Ratu,
sanghiang Karang Carengcang.
Eta hulu na Cisokan,
la(n)deuhan Bukit Patuha,
heuleut-heuleut Li(ng)ga Payung,
nu / awas ka Kreti Haji. /25v/
(Setelah kuberangkat dari sana,
sesampai di Gunung Ratu,
di Karang Carengcang yang suci.
yang merupakan hulu sungai Cisokan,
berjalan menuruni Gunung Patuha,
setengah jalan menuju Lingga Payung,
yang menghadap ke Kreti Haji.)
Momogana teka waya:
neumu lemah kabuyutan,
na lemah ngali(ng)ga manik,
teherna dek sri ma(ng)liput,
ser manggung ngali(ng)ga payung,
nyanghareup na Bahu Mitra.
(Sungguh di sana:
aku menemukan tempat suci,
tempat dengan lingga bertakhta intan permata,
kilapnya menutupi lingga itu (?),
rising upwards, menjadi lingga payung,
menghadap Bahu Mitra.)
Ku ngaing geus dibabakan,
dibalay diu(n)dak-u(n)dak,
dibalay sakulili(ng)na,
ti ha(n)dap ku mu(ng)kal datar,
ser manggung ku mu(ng)kal bener,
ti luhur ku batu putih,
diawuran manik.
(Olehku telah dibangun tempat tinggal baru,
direkatkan dalam beberapa tingkat,
disambung sekelilingnya,
bagian bawah beralaskan batu pipih,
menghadap ke atas dari arah batu yang berdiri (?),
bagian teratas oleh marmer,
bertaburkan intan permata.)
Carenang heuleut-heuleutna,
Wangun tujuh guna aing,
padangan deung pakayunan,
deungan la(m)bur pameupeuhan,
roma hiang patengtongan.
(berkilauan di antara mereka,
tujuh bangunan untuk keperluanku,
sebuah dapur dan tempat kayu bakar,
dan juga tempat untuk menebah,
dua bangunan berdiri di jalan (?).)
La(m)bur ta dua ngadengdeng.
Taman mihapitkeun dora,
tajur eukeur ngara(m)pesan,
eukeur dek sereng dibuah.
na keke(m)bangan sariang.
(Lumbung dua berjajar
taman di kiri-kanan gerbang,
dengan tanaman yang melambai,
yang akan segera berbuah,
bunga-bunga sedang mekar penuh.)
Na wangun teu acan bobo,
balay ha(n)teu / acan urug / 0 / 26r /
(bangunan-bangunan tersebut masih utuh
paviliun tersebut masih bagus.)
/ Sate(m)bey datang ka masa,
datang ka ukur-ukuran,
ditapa salapan tahun,
kasapuluh pa(n)teg ha(n)ca.
Awak eukeur beurat pading,
eukeur meujeuh ngara(m)pesan.
(Ketika waktunya tiba,
telah sampai pada waktu yang tepat
setelah sembilan tahun melaksanakan pertapaan,
pada tahun kesepuluh tugas-tugas telah terpenuhi,
tubuh ini berat,
dalam bentuk yang sempurna.)
Lamun bulan lagu tilem,
panon poe lagu surup,
beurang kasedek ku wengi,
tutug tahun pa(n)teg hanca,
nu pati di walang suji,
nu hilang di walang sanga,
awak nya(m)pay ka na balay,
mikarang hulu gege(n?)dis,
paeh nyanghulu ka lancan.
(Ketika bulan segera terbenam,
matahari muncul pada waktunya,
siang digantikan malam,
tahun berakhir, tugas terpenuhi,

yang sudah mati di-walang suji,

yang membusuk di-walang sanga,
tubuh beristirahat kembali di atas dipan,
dengan gegendis sebagai bantal,
meninggal, menghadap kepada hal yang sebaliknya.)
Pati aing ha(n)teu gering,
hilang tanpa sangkan lara,
mecat sakeng kamoksahan.
(Aku mati tanpa penyakit,
meninggal bukan karena penderitaan,
aku telah dilepaskan melalui pembebasan terakhir.)
Diri na ad wisesa,
mangkat na sarira ageung,
ngaloglog a(ng)geus nu poroc.
(Roh pergi,
kepribadian pergi,
apa yang bebas dilepaskan.)
Atma mecat ti pasa(m)bung,
ad mecat ti na atma,
pahi masah kaleu(m)pangan. /
/26v/
(Jiwa dilepaskan dari ikatannya,
sari pati kehidupan dilepaskan dari jiwa,
sama-sama terpisahkan dan hilang.)
Ragaing nyurup ka petra,
kaliwara jadi dewa,
pasa(m)bung nyurupka suwung.
(Tubuhku memasuki dunia yang mati,
berharap (?) menjadi dewa,
ikatan penghubung memasuki kehampaan.)
Atmaing dalit ka lentik,
sarua deungeun dewata.
(Jiwaku buyar menjadi tak terlihat,
sama dengan dewata.)
Tuluy nyorang jalan caang,
neumu jalan gede bongbong.
(Kemudian aku berjalan di atas jalan luas,
menemukan jalan yang terbuka luas.)
U(ng)gal sa(m)pang dila(m)buran,
laun lebak dicukangan,
sumaray ditata(ngga)an,
malereng dipasigaran.
(Setiap persimpangan dilengkapi dengan bangunan,
semua jurang memiliki jembatan,
lereng dengan anak tangga,
turunan dengan pijakan tersusun.)
Tapak sapu beres keneh,
bare(n)tik marat nimurkeun.
Golang-golang situ mu(ng)kal,
patali patalu(m)bukan.
(Jejak-jejak dari sapu masih bisa terlihat,
melengkung ke arah timur dan barat.
paviliun, bendungan dan bebatuan,
terhubung dalam deretan yang panjang.)
Ke(m)bang patah cumare(n)tam,
nambuluk apuy-apuyan,
Tajur pinang pumarasi,
pinang tiwi pinang ading,
pinang tiwi kumarasi,
pinang ading asri kuning.
(Bunga patah tumbuh berdekatan,
bersinar (?) seperti kembang api.
Pohon pinang tumbuh seperti paras,
pinang tiwi dan pinang gading,
pinang tiwi yang sedang mekar penuh,
pinang gading bersinar kekuning-kuningan.)
Di tengah bantar ngajajar,
ha(n)juang sasipat mata,
ha(n)deuleum salaput hulu,
ha(n)dong bang deung ha/ (ndong),
(Di tengah-tengah pinggiran sungai terulur,
hanjuang tumbuh sampai mata manusia,
handeuleum tumbuh setinggi manusia,
handong merah dan handong,)
"(ha)/at di janma sajagat, / 28v?/
biha(ri) basa ngahanan,
masa di madiapada?"
(“...apakah kau mencintai semua manusia di dunia,
ketika kau masih hidup,
saat ada di dunia?”)
Rakaki Bujangga Manik
1505 ngarasa maneh ditanya.
Umun teher sia nyebut,
ne(m)balan sakayogyana,
nyarek sakaangen-angen, [ms. se-]
nembalan sang Dorakala:
(Bujangga Manik yang terhormat
merasa seperti sedang ditanyai.
Dengan penuh hormat ia berbicara,
menjawab dengan sopan,
berbicara menurut kata hatinya,
menjawab Dorakala:)
"Mumul ma(ng)nyarekkeun maneh,
sugan bener jadi belot,
sugan ra(m)pes jadi gopel,
sugan so(r)ga jadi papa,
(“Aku tidak ingin membicarakannya,
agar yang benar tidak menjadi salah,
agar yang baik tidak menjadi buruk,
agar surga tidak menjadi neraka.)
sugan pangrasa ku dapet,
sugan pangrasa ku te(m)bey,
[ms. -biy]
Mumul misaksi na janma,
pangeusi buana ini,
janma di madiapada.
Sariwu saratus tu(ng)gal,
kilang sahiji mo waya,
janma nu teteg dicarek.
(Agar kesimpulan mudah dipahami (?),
Agar kesimpulan tidak datang dari awal (?).
Aku menolak untuk memanggil saksi dari manusia,
penghuni dunia ini,
semua orang di tengah-tengah dunia.
Di antara seribu seratus satu,
bahkan tidak ada satu pun,
manusia yang perkataannya dapat dipercaya.)
Rea nu papa naraka,
kilang dewata kapapas,
ku ngaing dipajar renyeh,
ja daek milu ngahuru, / /29r/
ja daek dibaan salah,
ku nu dusta jurujana.
(Terdapat banyak penjahat,
bahkan dewa diperangi (oleh mereka),
aku menganggap mereka tidak dapat diandalkan,
karena ingin ikut dalam api yang membakar,
karena mereka akan tersesatkan,
oleh mereka yang jahat.)
Kucawali he(ng)gan hiji:
saksiing sanghiang beurang,
saksiing sanghiang peuting,
candra wulan deungeun we(n)tang,
deungeun (sang)hiang pratiwi.
(Hanya ada satu pengecualian:
siang hari yang suci adalah saksiku,
malam yang suci adalah saksiku,
bulan dan bintang,
dan bumi pertiwi yang suci.)
Itu nu ngingu mireungeuh:
pratiwi nu leuwih ilik,
akasa nu liwat awas,
hidep nu nyaho dibener.
(Mereka yang memelihara dan melihat:
bumilah yang lebih mengamati,
langitlah yang lebih memerhatikan,
kamulah yang tahu mana yang benar.)
Inya nu ngingetkeun rasa,
itu nu ngingu na bayu,
eta nu milala sabda,
inya nu mireungeuh tineung,
nu milala tua(h) janma,
bisa di belot di bener, [ms.bener]
nyaho di gopel di ra(m)pes.
He(ng)gan sakitu saksiing."
(Mereka yang mengingat rasa,
mereka yang menjaga kekuatan utama,
mereka yang memerhatikan kata-kata,
mereka yang mengamati pikiran,
menjaga sifat asli manusia,
mengerti salah dan benar,
mengetahui buruk dan baik
mereka itulah saksiku.”)
Carek aki Dorakala:
"Samapun sanghiang atma.
(Dorokala yang mulia berkata:
“Dengan segala hormat, jiwa yang suci.)
Mu(ng)ku aing mirebutan,
[ms. -rehut-]
ja na rua mu(ng)ku samar.
(Aku tidak akan mendebat,
karena wujudmu tidaklah kabur.)
Na awak herang ngale(ng)gang,
na rua diga dewata,
kadi asra kadi manik.
(Tubuhmu bersih dan bercahaya,
terlihat seperti dewa,
seperti intan, seperti permata.)
Na awak mum ti candu,
mahabara ti candana, / /29v/
amis ti kulit masui.
(Tubuhmu lebih wangi dari opium,
lebih berarti dari kayu cendana,
lebih manis dari kulit kayu masui.)
Kitu pamulu nu bener,
eta na ki(ng)kila so(r)ga.
(Benar-benar wujud seorang yang benar,
yang menunjukkan makhluk surga.)

Samapun sanghiang atma,
rakaki Bujangga Manik,
leu(m)pang sakarajeun-rajeun,
sia ka na kaso(r)gaan.
(Dengan segala hormat, jiwa yang suci,
yang terhormat Bujangga Manik,
pergilah seperti yang kau mau,
kamu boleh pergi ke surga.)
Samu(ng)kur aing ti inya,
leu(m)pang na(n)jak
nyangto(ng)gohkeun,
husir keh na taman herang,
dibalay ku p(e)ramata.
Pa(n)curan ta(m)baga sukia,
cangkorah salaka pirak,
ditungtung ku cudiga,
pesek dipopokan omas,
panyi(m)beuh u(n)dem salaka.
(Setelah meninggalkan tempat itu,
pergilah mendaki,
menanjak,
menuju taman yang bening,
beralaskan permata.
Pancuran dari perunggu bercahaya,
dengan kolam dari perak,
berakhir pada sebuah cerat,
tempat cuci dilapisi emas,
dengan gayung dari bejana perak.)
Ma(n)di ngabreseka maneh,
nu ma(n)di ngalaan kesang.
(Mandi dan membersihkan diri,
yang mandi membersihkan keringat.)
A(ng)geus ma sia nu ma(n)di,
ulah karatakeun teuing,
sia di na taman herang.
(Setelah kau selesai mandi,
jangan berkelana terlalu jauh,
kau di dalam taman bercahaya itu.)
Aya ra(m)pes na husireun:
husir la(m)bur ngurung jalan,
dilulurung beusi wulung,
diselang deung purasani,
dipaseuk ku beusi kebel,
tihang gading beunang ukir,
tatapa / kan goong Jawa, / 30r /
dibalay ku kaca cina,
diselang ku batu kresna,
(Ada sebuah tempat indah yang dituju:
pergilah menuju bangunan yang dekat dengan jalan,
terbuat dari besi hitam,
dipadukan dengan besi magnet,
dipasak besi yang tahan lama,
tiang gading ukiran,
disangga oleh gong jawa,
bertatahkan kaca cina,
dipadu dengan batu kresna,)
dip.p g. g.rust.1.,
diselang deungeun pramata,
mipainikul pirak apu,
dilayeusan ku aduan
mihateup sirap ta(m)ba(ga),
mipamaras omas ngora,
disarean ku panamar,
dipiwaton omas kolot,
diselang ku pirak apu,
dijeujeutan onias cina,
diselang deung kawat jawa.
(....
dipadukan dengan permata,
dengan bendul perak seperti batu kapur,
dengan kasok terbuat dari .....
beratapkan ubin-ubin perunggu,
yang berpasak emas,
dengan lantai yang dilapisi
dengan rumbai emas hitam,
dipadukan dengan perak putih seperti batu kapur,
yang diikat dengan emas cina,
bergantian dengan kawat jawa.)
Eu(n)teun jawa dipaheutkeun,
u(ng)gal tihang lambureta.
(Cermin jawa dipasangkan,
di setiap tiang bangunan.)
Dinya paranti dihias,
memeh nyorang kasorgaan,
di inya na pihiaseun,
1600 naha ngaran(n)a ku ha(n)teu?
Eu(n)teung jawa pinarada,
sisir gading batri ngukir,
paminyakan kaca cina,
eusina lenga wangsana,
(Di situ perabot dihias,
sebelum pergi ke surga,
di sanalah tempat berhias,
apa yang tidak tersedia di sana?
cemin jawa bersepuh emas
sisir dari gading berukir,
satu gelas minyak cina
isinya ....)
kapur barus di na cupu,
bunga resa di na juha,
dedes di na u(ng)keb gading,
candana mum sacupu,
pucuk / .... /30v
(kapur barus dalam guci,
bunga resa di jambangan,
zat kelenjar rusa jantan dalam belanga dari gading,
guci penuh wewangian kayu cendana,
sepucuk ....)
... / tresna. /31v?/
Rakaki Bujangga Manik,
tuluy dirawu dipangku,
dials dipagantikeun,
diu(ng)gahkeun ka sudangan,
ti sudangan ka wangsana,
wangsana carana gading,
tu(m)pak di camara putih,
camara lili(ng)ga omas,
dikikitiran ku mirah,
diwe(n)tang-we(n)tang ku omas,
dipuncakan manik[a] asra,
dibalay ku mutenghara,
diselang pramata mirah,
pramata ko(m)bala hi(n)ten,
sarba e(n)dah sagala.
(...
... cinta.
Bujangga Manik yang terhormat
lalu diangkat dipangku,
dibawa dari lengan satu ke lengan lainnya,
dibawa ke atas panggung (?),
dari panggung ke tandu,
tandu yang dihiasi gading,
berkendara di atas sapi putih,
dengan kipas bergagang emas,
berkelap kelip oleh batu rubi,
bertakhtakan emas,
dengan batu mirah dan permata di atasnya,
bertatahkan mutiara,
berpadu dengan permata dan batu rubi, batu mirah,
batu-batu beharga dan intan,
semuanya serba indah.)
Carita Darma Kancana,
ti manggung kula(m)bu hurung,
ti ha(n)dap kulambu le(ng)gang,
paheutna naga pateungteung,
di tengah naga werati,
ti handap naga paheu(m)pas,
Werak ngigel di puncakna,
na sarba e(n)dah sagala,
liwat na sarba mulia,
atita amahabara,
murug mu(n)car pakatonan,
branang siang sarba wama,
gumilap luma / rap-larap. /32r/
(Cerita Darma Kancana,
di atas tirai yang bercahaya,
di bawah tirai yang tembus pandang,
terpasang pada mereka naga yang berhadapan satu sama lain,
di tengah-tengah naga-naga yang ...,
di bawah naga-naga yang bertemu,
seekor merak yang menari di atasnya,
semua serba indah,
semua benar-benar tidak ternilai,
luar biasa,
sangat baik dan hebat untuk dilihat,
bersinar dengan segala jenis warna,
berkelap-kelip dan bercahaya.)
Sarua sekar pamaja,
ruana sanghiang atma,
diwereg ku tatabeuhan,
goong ge(n)ding diba(n)dungkeun,
gangsa pabaur deung caning,
tatabeuh(an) sareana,
sanghiang pabura(n)caheun,
gangsa rari dirindukeun,
sa(m)peuran aluy-aluyan,
payung hapit sutra keling,
tunggul bungbang kiri kanan,
lu(ng)sir putih ngaba(n)daleuy,
unyut mungpung sama dulur,
bitan ku(n)tul sri manglayang,
(Seperti bunga pamaja
wujud dari jiwa suci,
diramaikan oleh tetabuhan,
goong dan gending yang dipedengarkan,
simbal perunggu dicampur dengan caning,
semuanya tetabuhan
alat-alat musik suci,
Alat musik suci paburancaheun,
simbal rari dimainkan,
gong ditabuh,
payung-payung dengan sutra keling [India],
bendera bambu kiri dan kanan,
barisan panjang sutra putih,
unyut yang berlimpah,
seperti burung kuntul yang terbang indah.)
Payung lu(ng)sir puncak gading,
payung ke(r)tas puncak omas,
payung hateup sutra keling,
galewer parada cina,
na banteuleu ratna ureuy,
taluki ratna kancana,
camara lili(ng)ga omas,
tapok terong omas ngora,
pu(n)cak mirah naga ra(n)tay,
pajale ratna sumanger,
kilat padulur deung teja,
diliung nu kuwung-kuwung,
di i/(nya?) .... /32v/
(Payung sutra, gading di atasnya,
payung kertas, emas di atasnya,
payung hateup dari sutra keling,
gorden dengan sepuhan Cina,
dihiasi permata yang bergantungan,
satin dengan permata dan emas,
kipas dengan gagang emas,

cahaya keemasan kelopak terong,

di atasnya batu rubi, naga-naga yang merantai,
pajale permata, sangat bermanfaat,
petir berteman cahaya surgawi,
dikelilingi pelangi,
di sana ...).

(tamat)

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/9/351/cerita-bujangga-manik:-perjalanan-seorang-peziarah-12

Bujangga Manik: Perjalanan Seorang Peziarah 3

Ti ke(n)ca na alas Gresik,
ti kidul gunung Rajuna
(Ke arah timur adalah wilayah Gresik,
ke arah selatan Gunung Rajuna.)
Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
ngalalar ka Patukangan,
datang ka Rabut Wahangan,
leu(m)pang aing nyangwetankeun.
(Telah kulalui,
aku berjalan melewati Patukangan,
dan tiba di Rabut Wahangan,
berjalan ke arah timur.)
La(m)bung Gunung Mahameru,
disorang kalereunana.
Datang ka Gunung B(e)rahma,
datang aing ka Kadiran,
ka Tandes ka Ranobawa.
(Lereng Gunung Mahameru,
Aku melewatinya di sisi sebelah utara.
Sampai di Gunung Brahma,
tibalah aku di Kadiran,
di Tandes, di Ranobawa.)
Leu(m)pang aing ngaler-ngetan.
Sacu(n)duk aing ka Dingding,
eta hulu dewaguru.
(Berjalan aku ke timur-laut.
Tiba aku di Dingding,
pusat kedudukan dewaguru.)
Samu(ng)kur aing ti (i)nya,
datang ka Panca Nagara.
(Sepergi dari tempat itu,
tibalah di Panca Nagara.)
Sacu(n)duk aing ka Sampang,
sanepi aing ka Ge(n)ding,
meu(n)tas di Cirabut-Wahangan.
(Setelah aku tiba di Sampang,
sesampai di Gending,
aku menyeberangi Sungai Cirabut-Wahangan.)
Sadatang aing ka Lesan,
inya lurah / Pajarakan, /15v/
leu(m)pang aing ngidul-ngetan,
ngalalar ka Kaman Kuning,
ngalalar ka Gunung Hiang,
disorang kalereunana.
(Setelah aku tiba di Lesan,
yang merupakan wilayah Panjarakan,
kuberjalan ke arah tenggara,
berjalan melewati Kaman Kuning,
melewati Gunung Hiang,
yang aku lewati dari sisi utara.)
Sadatang ka Gunung Arum,
na lurah Talaga Wurung,
ti kalerna Panarukan,
ka kencana Patukangan.
(Ketika aku tiba di Gunung Arum,
yang merupakan wilayah Talaga Wurung,
ke arah utara adalah Panarukan,
ke arah kiri adalah Patukangan.)
Sadatang ka Balungbungan,
di inya aing ditapa,
sa(m)bian ngeureunan palay.
(Sesampai di Balangbungan,
di sana aku bertapa,
Sementara melepas lelah.)
Teher(ing) m(e)rela(k) najur,
tehering na(n)jeurkeun li(ng)ga,
tehering puja nyangraha,
puja nyapu mugu-mugu,
ma(ng)nya(m)bat-walakeun maneh.
(Kemudian aku bercocok tanam,
lalu mendirikan lingga,
menyembah ... memuja ...,
berdoa untuk kekuatan diri.)
Di (i)nya aing teu heubeul,
satahun deung sataraban.
(Di sana aku tidak tinggal lama,
Selama satu tahun lebih.)
Teka waya na bancana.
Datang tiagi (wa)don,
na rua mamarayaeun.
(Lalu datanglah godaan.
Datanglah seorang pertapa wanita,
yang tampaknya mencari teman.)
Teka beka mulung lanceuk,
carekna: "Kaka lanceuking,
Rakaki Bujangga Manik,
haup aing ebon-ebon,
aing na pitiagieun,
manan hese ku mamaneh,
rusuh ku na panga/wakan, /16r/
heman ku na karuaan."
(Dia suatu kali mengangkatku sebagai saudara tua,
katanya: “Saudara, kakakku,
Bujangga Manik yang terhormat,
lihatlah aku, seorang biarawati,
aku akan menjadi seorang pertapa,
daripada harus mengalami kesulitan sendiri,
disulitkan dengan tubuh jasmaniah,
tertarik pada sebuah penampilan.”)
Carekna Bujan(ga) Manik:
"Ku ngaing dirarasakeun.
Bawaing apus sata(m)bi,
ngaran(n)a na Siksaguru.
(Bujangga Manik berkata:
“Aku mengerti apa yang kau maksud.
Aku memiliki buku,
judulnya Siksaguru.)
Carek di na apus tea:
'Kadiangganing ring geni,
lamun padeukeut deung eu(n)juk,
mu(ng)ku burung eta seungeut,
kitu lanang deungeun wadon'."
(Dikatakan dalam buku ini:
‘Seperti api,
bila berada di dekat serat kelapa,
pasti akan terbakar,
demikian pula dengan laki-laki dan perempuan'.”)
Sadiri aing ti inya,
leu(m)pang aing ka lautkeun,
sugan aya nu balayar,
aing dek nu(m)pang ka Bali.
(Setelah aku pergi dari tempat itu,
Aku mendatangi pantai,
mudah-mudahan ada orang yang berlayar,
aku ingin menumpang sampai Bali.)
Sadatang aing ka laut,
kumuliling turut tasik,
kumacacang turut tancang,
nanyakeun nu dek ka Bali.
Momogana teka waya.
Kasa(m)pak aki puhawang,
na puhawang Selabatang,
dek meu(n)tas ka Nusa Bali,
dek tuluy layar ka Bangka.
(Sesampai aku di laut,
berjalan di sepanjang pantai,
datang ke pantai [?],
menanyai orang-orang yang akan pergi ke Bali.
Di sana terdapat seseorang.
Terlihat seorang nahkoda kapal
nahkoda Selabatang,
yang akan menyebrang ke Bali,
dari sana berencana berlayar ke Bangka.)
Aing dek nu(m)pang ka Bali.
Saurna Bujangga Manik
Rakean Ameng Layaran:
"Akiing juru puhawang,
aing dek nu(m)pang ka Bali.
(Aku ingin ikut menumpang.
Bujangga Manik
Rakean Ameng Layaran berkata:
“Tuanku Nahkoda,
Aku ingin ikut menumpang sampai Bali.)
Lamuning datang ka inya,
aya pangerahan a/ing." / 16v/
(Bila setiba di sana,
aku akan memberikan penghargaan [sebagai tanda terima kasih].”)
Carek Aki Selabatang:
"Lamun hayang nu dek meu(n)tas,
sui dipawalangati.
U(ng)gah onam ka parahu,
tu(m)pak di na jurung pangkuh, deuuk di gagarebongan."
(Nahkoda Sabalatang berkata:
“Bila kau ingin menyeberangi lautan,
jangan khawatir.
Ayo naiklah ke perahu,
Naik ke …. duduk di kabin.”)
Saa(ng)geus u(ng)gah ka ma(ng)gung [parahu]
bogoh ku tawas [tawas] parahu.
(Setelah naik ke atas kapal,
Aku mengagumi kapal ini.)
Parahu jati diukir,
ka luhur dinanagakeun,
teka be(n)tik ti kamudi.
(Kapal [dibuat dari] kayu jati yang diukir,
bagian atasnya berbentuk naga,
kapal ini melengkung pada kemudinya.)
Bogoh aing ku parahu.
Ra(m)pes beunang ngadangdanan,
mibabahon awi go(m)bong,
mitihang awi nyowana,
mipanggiling haur kuning,
misare kawung cawene,
midada(m)par haur seah.
(Aku mengagumi kapal ini.
Dibuat dengan sangat elok,
Memiliki dek dari bambu gombong,
pilar kapal dari bambu jowana,
dek bawah dari bambu kuning,
satu dek penuh oleh kayu aren dewasa,
dilapisi oleh bambu seah.)
Kamudi kamudi Keling.
[ms. k. kamuning K.]
Tihang layar kayu laka,
hurung beunangna ngahi(ng)gul,
(Kemudinya orang Keling [India].
Pilar utamanya dari kayu laka,
bercahaya dengan terang, diwarnai merah.)
Siang beunang ngaj(e)rinang.
Apus dangdan hoe muka,
pabaur hoe walatung,
diselang deung hoe omas.
Tali bubut kenur cina.
Carenang dayung naeu(n)teung,
dayung salawe salaya.
(Kapal itu disatukan dengan tali-tali dari rotan muka,

dipadukan dengan rotan walatung,

dicampurkan dengan rotan omas.
Penupang dari kawat cina.
Dayung-dayung berkilauan pada penyangga mereka,
25 dayung pada setiap sisi.)
Beuteung reueus ku sa/kitu, /17r/
bogoh ku nu mawa inya,
bibijilan para nusa.
(Setelah mengagumi semua ini,
aku kagum dengan para awak kapal,
datang dari pelbagai pulau.)
Nu badayung urang Marus,
nu babose urang Angke,
nu balayar urang Bangka,
juru batu urang Lampung,
juru mudi urang Jambri,
juru wedil urang Bali,
juru panah urang Cina,
juru tuiup ti Malayu,
juru amuk ti Sale(m)bu,
pamerang urang Makasar,
juru kilat urang Pasay,
nu ni(m)ba Jo(m)pong Sagala,
pani(m)ba u(n)dem salaka.
(Yang mendayung orang Marus,
yang babose orang Angke,
para pelaut orang Bangka,
kelasi orang Lampung,
kemudi orang Jambi,
juru tembak dari Bali,
juru panah dari Cina,
peniup sumpit orang Malayu,
para petarung dari Salembu,
para prajurit dari Makassar,
pelayan kelasi orang Pasai,
para penimba dari Jompong Sagala,
timba terbuat gayung perak.)
Putih kajang pucuk nipah,
langgang tihang pakajangan.
(Tembok kabin putih, tunas nipah
menjulang tinggi pilar dari dek-kabin.)
Na layar ma(n)je(r) ke(m)bang,
hir na angin bar na layar.
(Layar berkembang seperti bunga,
angin bertiup, layar terkembang.)
Masang wedil tujuh kali,
[t.wedel] sarunay dipikingkila,
ing na goong brang na gangsa,
goong kuning tumalapung,
kingkila nu bikas layar.
Seah na ge(n)dang sarunay,
seok nu kawih tarahan,
nu kawih a(m)bah-a(m)bahan:
"Ba(n)tar kali buar pelang."
(Senapan ditembakkan tujuh kali,
serunai memainkan tanda,
gong bergemuruh, simbal dibunyikan,
gong warna kuning ikut ditabuh,
sebagai tanda layar dinaikkan.
Gendang dan serunai dimainkan,
bersuara keras lagu tarahan,
dinyanyikan dengan teriakan yang lantang:
“Sungai bantara, pohon pelang.”)
Buat di manggung parahu,
balayar taraban poyan.
(Ketika di atas kapal,
berlayarlah selama ....)
Sadatang ka Nusa Ba / li, / 17v/
saurna Bujangga Manik:
"Akiing juru puhawang,
eboh midua rahayu,
e(boh) ta urang papasah.
(Setiba di Pulau Bali,
Bujangga Manik berkata:
“Nahkoda yang terhormat,
kita ucapkan selamat tinggal,
kita harus berpisah.)
Dahini kaen aing,
pangwidian aing.
(Ini pakaianku,
hadiah dariku.)
Eboh midua rahayu,
kita ma ma(ng)gih k(e)reta,
awaking ma(ng)gih rahayu.'
(Mari ucapkan selamat tinggal,
semoga kau menemukan kedamaian,
dan aku menemukan ketenteraman.”)
Carek aki Selabatang:
'Samapun mahapa(n)dita,
kami nema pangwidian.
Samapun mahapa(n)dita,
ra(m)pes nu sapilaunan.'
(Nahkoda Sabalatang berkata:
“Dengan hormat, wahai orang bijak,
kuterima hadiahmu,
hormatku, wahai orang bijak,
semoga beruntung, selamat tinggal!”)
Saa(ng)geus nyaur sakitu,
sia turun ti parahu.
(Setelah bicara itu,
ia meningggalkan kapal.)
Sacu(n)duk sia ka dayeuh,
ti inya lunasing usma.
(Ketika ia sampai di ibukota,
seketika kerinduanku hilang.)

Moha teuing nu ti heula,
teka sarua reana,
na lanang deungeun na wadon.
(Kekacauan muncul lebih rumit dari sebelumnya,
sama banyak dari mereka,
baik wanita dan pria.)
Hidepeng karah mo waya,
ja dini di tengah nusa,
gumanti leuleuwih oman [onam?]
rea ma(na)n urang Jawa,
ti(m)bun manan di Malayu.
(Aku berpikir tidak akan ada kekacauan,
melihat di sini, di tengah pulau ini,
sebaliknya, terdapat lebih banyak kekacauan,
lebih banyak dari orang-orang Jawa,
lebih ramai daripada di Melayu.)
Di (i)nya aing teu heubeul,
satahun deung sataraban.
(Di sana aku tidak tinggal lama,
selama satu tahun lebih.)
Pulang deui ka uniting.
(Kembali lagi ke tempat asalku.)
Sacu(n)duk ka si/si laut, /18r/
kasa(m)pak aki puhawang,
puhawang Belasagara,
dek balayar ka Pale(m)bang,
dek tuluy ka Parayaman.
(Sesampai di pinggir laut,
terlihat nahkoda kapal,
nahkoda Belasagara,
yang akan berlayar ke Palembang,
dari sana akan terus ke Pariaman.)
Saurna Bujangga Manik
Rakean Ameng Layaran:
"Aiing juru puhawang,
aing dek nu(m)pang di kita,
dek si(n)dang di Balungbungan."
(Bujangga Manik
Rakean Ameng Layaran berkata:
“Tuanku Nahkoda,
aku ingin ikut menumpang,
akan berlabuh di Balungbungan.”)
Carek akiing puhawang:
"Lamun puguh nu dek nu(m)pang,
ulah dipiwalangati.
Ra(m)pes, geura ka parahu."
(Sang Nahkoda berkata:
“Bila benar-benar ingin ikut menumpang,
jangan khawatir.
Dengan senang hati, naiklah ke perahu!”)
Sau(ng)gah aing ka manggung,
deuuk di gagarebongan.
Bogoh ku tawas parahu.
(Setelah aku naik ke atsa,
duduklah di kabin.
Kagumi kapal ini.)
Parahu patina ageung,
jong kapal buka dalapan,
pa(n)jangna salawe deupa.
(Perahu ini cukup besar,
sebuah jung selebar delapan depa,
panjangnya 25 depa.)
Sadiri ti Nusa Bali,
saur puhawang sakini:
"Boncah, pariket pariket.
Parahu rea buatna.
(Sepinggal Pulau Bali,
Nahkoda lalu berkata:
“Nak, berhati-hatilah.
Kapal ini banyak muatanan.)
Sugan ni(n)dih mu(ng)kal ma(n)di,
sugan mangpeng karang bepeng,
sugan ni(ng)gang karang bajra,
sugan nebu(k) karang nu(ng)gul,
sugan no(n)jo(k) karang ancol, /18v/
sugan meubeut karang seukeut,
karunya ku na tohaan,
Rakaki Bujangga Manik,
kakara numpang di urang.
Balayar sapoe rengrep."
(Bila nabrak batuan yang penuh lubang,
bila menghantam batu intan,
bila mengenai batuan yang menonjol,
bila terkena karang yang keras,
bila menghantam batu tajam,
bila memukul karang tajam,
berdoalah kepada dewa,
wahai Bujangga Manik yang terhormat,
yang baru berlayar bersama kami.
Berlayar seharian penuh.")
Sacu(n)duk ka Balungbungan,
saurna Bujangga Manik:
"Aiding juru puhawang,
eboh ta urang papasah,
eboh midua rahayu."
(Sesampai di Balungbungan,
Bujangga Manik berkata:
“Tuanku Nahkoda,
kita harus berpisah satu sama lain,
mengucapkan selamat tinggal.”)
Carekna aki puhawang:
"Samapun mahapa(n)dita,
ra(m)pes nu sapilaunan."
(Sang Nahkoda berkata:
“Hormatku, orang bijak,
semoga kau beruntung, selamat tinggal”)
Saturun ti na jong tutup,
diri aing ti parahu.
Sacu(n)duk ka Gunung Raung,
ka lurah Talaga Wurung.
(Setelah turun dari jung,
aku meninggalkan perahu.
Setiba di Gunung Raung,
[pergi] ke wilayah Talaga Wurung.)
Samu(ng)kur aing ti inya,
sacu(n)duk aing ka Baru.
Eta na lurah kategan.
(Setelah berangkat dari tempat itu,
aku tiba di Baru.
Itu wilayah para biara.)
Sadiri aing ti inya,
ngalalar ka Padang Alun,
cu(n)duk ka Gunung Watangan,
nu awas ka Nusa Barong.
(Setelah pergi dari tempat itu,
berjalan melewati Padang Alun,
sampai di Gunung Watangan,
yang menghadap Pulau Barong.)
Samu(ng)kur aing ti inya,
datang aing ka Sarampon.
(Setelah pergi dari sana,
aku datang ke Sarampon.)
Sacu(n)duk aing ka Cakru,
sadiri aing / ti inya, /19r/
leu(m)pang aing maratngidul,
datang ka lurah Kenep,
cu(n)duk ka Lamajang Kidul,
ngalalar ka Gunung Hiang,
datang a(ing) ka Padra.
(Setelah aku tiba di Cakru,
beranjak dari tempat itu,
aku berjalan ke baratdaya,
pergi ke wilayah Kenep,
tiba di Lamajang Kidul,
melewati Gunung Hiang,
datang ke Padra.)
La(m)bung Gunung Mahameru
disorang kiduleunana.
(Lereng Gunung Mahameru,
aku lewati dari sisi selatan.)
Sadatang ka Ranobawa,
ngalalar ka Kayu Taji.
(Setelah datang ke Ranobawa,
berjalan melewati Kayu Taji.)
Samu(ng)kur aing ti inya,
sacu(n)duk aing ka Kukub,
datang aing ka Kasturi,
cu(n)duk ka Sagara Dalem,
ngalalar ka Kagenengan,
sumengka ka Gunung Kawi,
disorang kiduleunana.
(Setelah berangkat dari sana,
tibalah aku di Kukub,
aku pergi ke Kasturi,
tiba di Sagara Dalem,
berjalan melalui Kagenengan,
mendaki Gunung Kawi,
yang kulewati dari sisi selatan.)
Sadatang ka Pamijahan,
leu(m)pang aing ka baratkeun,
ngalalar ka Gunung Anyar,
cu(n)duk aing ka Daliring.
(Setiba ke Pamijahan,
aku berjalan ke arah barat,
melewati Gunung Anyar,
tibalah aku di Daliring.)
Sadatang ka Gunung Ka(m)pud,
datang ka Rabut Pasajen.
Eta hulu Rabut Palah,
kabuyutan Majapahit,
nu dise(m)bah ku na Jawa.
(Sesampai di Gunung Kampud,
aku datang ke Rabut Pasajen.
Tempat ini dataran tinggi Rabut Palah,
tempat suci Majapahit,
yang dimuliakan oleh orang Jawa.)
Maca (a)ing Darmaweya,
pahi deung Pa(n)dawa Jaya.
Ti inya lunasing jobrah,
aing bisa carek Jawa,
bisa / aing ngaro basa. /19v/
(Aku membaca Darmaweya,
juga Pandawa Jaya.
Setelah itu keingintahuanku terpuaskan,
aku dapat bicara bahasa Jawa,
juga mampu menerjemahkannya.)
Di inya aing teu heubeui,
satahun deung sataraban.
(Di sana aku tidak tinggal terlalu lama,
selama satu tahun lebih.)
Ha(n)teu betah kage(n)teran,
datang nu puja ngancana,
nu nye(m)bah ha(n)teu pegatna,
nu ngideran ti nagara.
(Aku tidak tahan suara yang terus bunyi,
yang datang untuk beribadah dan mempersembahkan emas,
yang beribadah tanpa henti,
berkelana di sekitar ibukota.)
Leu(m)pang aing marat ngidul,
nepi aing ka Waliring,
ngalalaring ka Polaman,
datang aing ka Balitar,
meu(n)tas [aing] di Cironabaya,
ngalalar ka Pasepahan,
ka Luka ka Saput Talun.
(Berjalanlah aku ke baratdaya,
aku sampai di Waliring,
berjalan melewati Polaman,
tiba ke Blitar,
menyeberangi Sungai Cironabaya,
melewati Pasepahan,
ke Luka, ke Saput Talun.)
Sadatang ka Pajadangan, [ms. abrat]
ngalalar[ing] ka Kalang Abrit.
(Setiba di Pajadangan,
aku berjalan ke Kalang Abit.)
Sacu(n)duk ka Pasugihan,
di pipirna Gunung Wilis,
ku ngaing tebeh kidulna,
datang aing ka Dawuhan,
ngalalar ka Gunung Lawu,
inya na lurah Urawan.
(Setiba di Pasugihan,
di lereng Gunung Wilis,
pergi ke arah selatan,
aku berangkat ke Dawuhan,
melewati Gunung Lawu,
yang merupakan wilayah Urawan.)
Samu(ng)kur aing ti inya,
leu(m)pang aing marat ngidul,
ngalalar ka Pamanikan.
(Setelah aku berangkat dari daerah itu,
aku berjalan ke baratdaya,
melewati Pamanikan.)
Sadatang ka Sida Lepas,
nya(ng)landeuh aing ka Oyong.
(Sedatang ke Sida Lepas,
aku turun ke Oyong.)
Samu(ng)kur aing ti inya,
datang aing ka Ca(m)paga/n, /20r/,
ngalalar ka Pamaguhan.
Sacu(n)duk aing ka Pahul,
samu(ng)kur aing ti inya/
datang (a)ing ka Caturan.
(Sepeninggal dari sana,
aku pergi ke Campagan,
melewati Pamaguhan.
Setiba aku di Pahul,
berangkat dari tempat itu,
aku datang ke Caturan.)
Sacu(n)duk aing ka Roma,
meu(n)tasing di Ciwuluyu,
inya na lurah Bobodo,
ngalalar aing ka Taji,
nepi ka Gunung Marapi,
disorang kiduleunana,
cu(n)duk aing ka Janawi,
eta lurah dewaguru.
(Setiba aku di Roma,
menyeberangi Sungai Ciwaluyu,
yang merupakan wilayah Bobodo,
berjalan melewati Taji,
sampai ke Gunung Merapi,
yang kulewati pada sisi selatan,
dan tiba di Janawi,
yang merupakan wilayah dewaguru.)

Leu(m)pang aing marat ngidul.
Sanepi aing ka Wedi,
ngalalar ka Singhapura.
(Aku berjalan ke baratdaya.
Sesampaiku di Wedi,
pergi melewati Singapura.)
Sadatang aing ka Maram,
meu(n)tas aing di Ciberang,
datang ka lurah Paguhan,
ngalalar ka Kahuripan,
ka gedengna Rabut Beser,
meu(n)tas di Ciloh-Paraga.
(Sedatang aku ke Maram,
aku menyeberangi Sungai Ciberang,
datang ke wilayah Paguhan,
berjalan melewati Kahuripan,
di sisi Rabut Beser,
menyeberangi Sungai Ciloh-Paraga.)
Sanepi aing ka Pahit,
sadatang ka Taal Pegat,
nepi aing ka Kulisi,
meu(n)tas di Ciwatukura,
ngalalar ka Pakuwukan.
(Sesampai aku di Pahit,
dan tiba di Taal Pegat,
aku sampai di Kulisi,
menyeberangi Sungai Ciwakutura,
berjalan melewati Pakuwukan.)
Sacu(n)duk ka lurah Danuh,
datang aing ka Lanabang,
ka Jawarah [ka] Tadah Haji,
ka Tarungtung / ka Walakung./20v/
(Setiba di wilayah Danuh,
aku pergi ke Lanabang,
ke Jawarah, Tadah Haji,
Taruntung, Walakung.)
Sadatang(ing?) ka Kalangan,
sanepi ka Pamarisan,
datang aing ka Ta(m)bangan,
meu(n)tas aing di Cilohku,
na(n)jak ka Gunung Sangkuan,
datanging ka (A)dipala,
leu(m)pang (aing) ka baratkeun,
datang aing ka Sawangan,
ka muhara Cisarayu.
(Setiba ke Kalangan,
sampai di Pamarisan,
aku pergi ke Tambangan,
aku menyeberangi Sungai Cilohku,
mendaki Gunung Sangkuan,
aku pergi ke Adipala,
aku berjalan ke barat,
aku sampai di Sawangan,
ke muara Sungai Cisarayu.)
Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
datang ka Ma(n)dala Ayah,
leu(m)pang aing turut pasir,
datang ka Pala Buaja.
mu(ng)kur ti Tegal Popoken.
(Telah kulewati daerah itu,
aku pergi ke Mandala Ayah,
berjalan di sepanjang bukit,
pergi ke Pala Buaja,
meninggalkan Tegal Popoken di belakangku.)
Sadatang ka Karang Siling,
meu(n)tas di Cipaterangan.
(Setiba di Karang Siling,
menyeberangi Sungai Cipaterangan.)
Sadatang aing ka Mambeng,
cu(n)duk ka Dona Kalicung,
gedeng alas Nusahe,
meu(n)tas di Sagara Anak(an),
ngalalar ka Batu Lawang,
di pipirna batu tulis,
karang tu(ng)gul karangbajra.
(Setelah tiba di Mambeng,
sampai ke Dona Kalicung,
di sisi wilayah kekuasan Nusahe,
menyeberangi Sagara Anakan,
berjalan melewati Batu Lawang,
di sisinya batu tulis,
batuan kasar, batuan tajam.)
Sacu(n)duk aing ka Bakur,
ka muhara Cita(n)duyan,
ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
datang aing ka Cimedang,
meu(n)tas di Cikutrapi(ng)gan,
cu(n)duk aing ka Pana(n)jung,
ka gedeng Nusa / Wuluhen, /21r/
meu(n)tas aing di Ciwulan,
banyating di Ciloh-Alit,
na muhara Pasuketan,
ta(ng)geran na Hujung Pusus.
(Setiba aku di Bakur,
di muara Sungai Citanduyan,
telahku laluinya,
aku pergi ke Cimedang,
menyeberangi Sungai Cikutrapinggan,
tibalah aku di Pananjung,
berikutnya ke Pulau Wuluhen,
menyeberangi Sungai Ciwulan,
pergi ke Ciloh Alit,
di muara Sungai Pasuketan,
pusat Hujung Pusus.)
Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
ka to(ng)go(ng)na Gunung Co(n)dong,
di pipi(r) Gunung Parasi,
ku ngaing tebeh kidulna.
(Olehku telah terlewati,
ke balik Gunung Condong,
di sisi Gunung Parasi,
aku berjalan ke arah selatan.)
Sacu(n)duk ka Hujung Galuh,
ngalalar ka Geger Gadung,
meu(n)tas aing di Ciwulan,
leu(m)pang aing marat ngaler.
(Sesampai di Hujung Galuh
melewari Geger Gadung
aku menyeberangi Sungai Ciliwung
berjalan terus ke utara)
Sadatang ka Saung Galah,
[ms. S. Agung]
sadiri aing ti inya,
Saung Galah kaleu(m)pangan,
kapungkur Gunung Galunggung,
katukang na Panggarangan,
ngalalar na Pada Beunghar,
katukang na Pamipiran.
(Sesampai di Saung Galah
berangkatlah aku dari sana
ditelusuri Saung Galah
Gunung Galunggung di belakang saya
melewati Panggarangan
melalui Pada Beunghar
Pamipiran ada di belakangku.)
Ngalalar ka Ti(m)bang Jaya,
datang ka Bukit Cikuray,
nyangla(n)deuh aing ti inya,
datang ka Mandala Puntang.
(Berjalan melewati Timbang Jaya,
pergi ke Gunung Cikuray,
seturunku dari sana,
pergi ke Mandala Puntang.)
Sana(n)jak ka Papa(n)dayan,
ngaran(n)a na Pane(n)joan,
ti inya aing ne(n)jo gunung,
dereja (?) dangka ri kabeh,
para manuh para dangka,
pani(ng)gal Nusia Larang.
(Setelah menanjak ke Gunung Papandayan,
yang juga dipanggil Panenjoan,
aku melihat pegunungan dari sana,
jajaran (?) pemukiman di mana-mana,
semua desa, semua pemukiman,
peninggalan Nusia Larang yang mulia.)
Aing milang-melangi/nya, /21v/
Ti kidul na alas Danuh,
ti wetan na Karang Papak,
(Aku melihat mereka satu per satu.
Di arah selatan adalah wilayah Danuh,
di timur Karang Papak,)
ti kulon Tanah Balawong,
itu ta na gunung Agung,
ta(ng)geran na Pager Wesi.
(di barat tanah Balawong,
merupakan Gunung Agung,
pilarnya Pager Wesi.)
Eta na bukit Patuha,
ta(ng)geran na Majapura.
Itu bukit Pam(e)rehan,
ta(ng)geran na Pasir Batang.
(Itu Gunung Patuha,
penopang Majapura.
Itu Gunung Pamrehan,
penopang Pasir Batang.)
Itu ta na Gunung Kumbang,
ta(ng)geran alas Maruyung,
ti kaler alas Losari,
(Itu Gunung Kumbang,
pilarnya Maruyung,
ke arah utara wilayah Losari.)
Itu ta bukit Caremay,
tanggeran na Pada Beunghar,
ti kidul alas Kuningan,
ti barat na Walangg Suji,
inya na lurah Talaga.
(Itu Gunung Ceremay,
pilarnya Pada Beunghar,
di selatan wilayah Kuningan,
ke baratnya Walang Suji,
di situlah wilayah Talaga.)
Itu ta na To(m)po Omas,
lurah Medang Kahiangan.
(Itu Gunung Tampo Omas,
di wilayah Medang Kahiangan.)
Itu Tangkuban Parahu,
tanggeran na Gunung Wangi.
(Itu Gunung Tangkuban Parahu,
pilarnya Gunung Wangi.)
Itu ta Gunung Marucung,
ta(ng)geran na Sri Manggala.
(Itu Gunung Marucung,
pilarnya Sri Manggala.)
Itu ta bukit Burangrang,
ta(ng)geran na Saung Agung.
(Merupakan Gunung Burangrang,
pilar dari Saung Agung.)
Itu (ta na) bukit Burung Jawa,
ta(ng)geran na Hujung Barat.
(Itu Gunung Burung Jawa,
pilarnya Hujung Barat.)
Itu ta bukit Bulistir,
ta(ng)geran na Gu/nung A(n)ten./22r/
(Itu Gunung Bulistir,
pilarnya Gunung Anten.)
Itu bukit Naragati,
ta(ng)geran na Batu Hiang.
(Itu Gunung Nagarati,
pilarnya Batu Hiang.)
Itu ta na bukit Barang,
ta(ng)geran na [alas] Kurung Batu.
(Itu Gunung Barang,
pilarnya wilayah Kurung Batu.)
Itu bukit Banasraya,
ta(ng)geran na alas Sajra,
ti barat bukit Kosala.
(Itu Gunung Banasraya,
pilarnya wilayah Sajra,
ke barat Gunung Kosala.)
Itu ta na bukit Catih,
ta(ng)geran na Catih Hiang.
(Itu Gunung Catih,
pilarnya Catih Hiang.)
Itu bukit Hulu Mu(n)ding,
ta(ng)geran na Demaraja,
ti barat bukit Parasi,
ta(ng)geran na Tegal Lubu,
ti wetan na Sedanura,
nu awas ka alas Si(n?)day.
(Itu Gunung Hulu Munding,
pilarnya Demaraja,
ke barat Gunung Parasi,
pilarnya Tegal Lubu,
ke timurnya Sedanura,
yang menghadap wilayah Sinday.)
Eta ta na Gunung Kembang,
geusan tiagi sagala,
(Ini Gunung Kembang,
tempat segala macam pertapa,)
ti kidulna alas Maja,
eta na alas Rumbia.
(ke selatannya wilayah Maja,
yang merupakan wilayah Rumbia.)
Ti baratna wates Mener,
ta(ng)geranna Bojong Wangi.
(Ke baratnya batas Mener,
pilarnya Bojong Wangi.)
Itu ta na Gunung Hijur,
ta(ng)geranna Kujar Jaya.
(Itu Gunung Hijur,
pilarnya Kujang Jaya.)
Itu ta na Gunung Su(n)da,
ta(ng)geran na Karangkiang.
(Itu Gunung Sunda,
pilarnya Karangiang)

Itu ta na bukit Karang,
ta(ng)geran na alas Karang.
(Itu Gunung Karang,
pilarnya wilayah Karang.)
Itu Gunung Cinta Manik,
ta(ng)geran na alas Rawa.
(Itu Gunung Cinta Manik,
pilarnya wilayah Rawa.)
itu ta na Gunung Kembang, /22v/
ta(ng)geran Labuhan Ratu.
(Itu Gunung Kembang,
pilarnya Labuhan Batu.)
Ti kaler alas Panyawung,
ta(ng)geran na alas Wa(n)ten.
(Ke arah utara wilayah Panyawung,
pilar dari wilayah Wanten.)
Itu ta na Gunung (.. .)ler,
ta(ng)geran alas Pamekser,
nu awas ka Ta(n)jak Barat.
(Itu Gunung (...) ler,
pilar dari kekuasaan Pamekser,
yang terlihat dari Tanjak Barat.)

Itu ta Pulo Sanghiang,
heuleut-heuleut nusa Lampung,
Ti timur Pulo Tampurung,
(Terdapat Pulau Sanghiang,
setengah jalan dari wilayah Lampung.
Ke arah timur Pulau Tampurung,)
ti barat Pulo Rakata,
gunung di tengah sagara.
Itu ta Gunung J(e)reding,
ta(ng)geran na alas Mirah,
(ke arah barat Pulau Rakata,
gunung di tengah-tengah lautan.
Itu Gunung Jreding,
pilarnya wilayah Mirah,)
ti barat na lengkong Gowong.
Itu ta Gunung Sudara,
na Gunung Guha Ba(n)tayan,
tanggeran na Hujung Kulan,
(Ke arah barat pantai Gowong.
Itu Gunung Sudara,
Gunung Guha Bantayan,
pilarnya Hujung Kulan,)
ti barat bukit Cawiri.
Itu ta na Gunung Raksa,
gunung Sri Mahapawitra,
ta(ng)geran na Panahitan,
(ke arah barat Gunung Cawiri.
Itu Gunung Raksa,
Gunung Sri Mahapawitra,
pilarnya [Pulau] Panahitan,)
ti wetanna Suka Darma,
ti baratna gunung Manik.
(ke timurnya Suka Darma,
ke baratnya Gunung Manik.)
Awas ka Nusa Kambangan,
Nusa Layaran ....
Nusa Di/lih, Nusa Bini, /23r/
Nusa Keling, Nusa Jambri,
Nusa Cina Ja(m)budipa,
Nusa Gedah deung Malaka,
Nusa Ba(n)dan Ta(n)ju(ng)pura,
Sakampung deung Nusa Lampung,
Nusa Baluk, Nusa Buwun,
Nusa Cempa Baniaga,
Langkabo deung Nusa Solot,
Nusa Parayaman. //O//
(Lihatlah Pulau Kambangan,
Pulau Layaran ...,
Pulau Dilih, Pulau Bini,
wilayah Keling, Jambri,
wilayah Cina, Jambudipa,
wilayah Gedah [Kedah] dan Malaka,
wilayah Bandan dan Tanjungpura,
Sekampung dan kekuasaan Lampung,
wilayah kekuasaan Baluk dan Buwun,
wilayah kekuasaan Cempa (dan) Baniaga,
Langkabo [Minangkabau] dan wilayah Solot,
wilayah kekuasaan Pariaman.)
Beuteung bogoh ku sakitu,
saa(ng)geus ing milang gunung,
saleu(m)pang ti Pane(n)joan,
sacu(n)duk ka Gunung Se(m)bung,
era hulu na Citarum,
di inya aing ditapa,
sa(m)bian ngeureunan palay.
(Setelah mengagumi semua hal itu,
setelah melihat pegunungan,
setelah meninggalkan Panenjoan,
setiba di Gunung Sembung,
yang merupakan hulu Sungai Citarum,
di sana aku singgah bertapa,
sambil melepas lelah.)
Tehering puja nyangraha,
puja (nya)pu mugu-mugu.
(Beribadahlah aku melakukan persembahan,
memuja dengan penuh keyakinan.)
Tehering na(n)jeurkeun li(ng)ga,
tehering nyian hareca,
teher nyian sakakala.
(Kemudian aku mendirikan lingga,
lalu memahat patung,
selanjutnya membuat tugu.)
Ini tu(n)jukeun sakalih,
tu(n)jukeun ku na pa(n)deuri,
maring aing pa(n)teg hanca.
(Benda-benda ini menunjukkan pada semua orang,
bukti untuk orang-orang mendatang,
bahwa aku sudah menyelesaikan tugasku.)
A(ng)geus aing puja nyapu,
linyih beunang aing nyapu,
[ms. linyeh] .
ku/macacang di buruan, /23v/
nguliling asup ka wangun,
ngadungkuk di palu(ng)guhan,
disiwi teher samadi. [ms. dibiwi]
Ku ngaing dirarasakeun,
ku ngaing dititineungkeun,
beunang aing adu angka,
nu mangka kasorang tineung.
(Setelah aku beribadah dengan menyapu,
menyapu sampai bersih (?),
pekarangan di sekitar,
aku mendatangi bangunan-bangunan dan memasukinya,
duduk dalam kesunyian,
memberika penghormatan (?) dan bermeditasi.
Olehku diresapi,
olehku dinanti-nanti,
apa hasil dari tujuanku,
apa yang menyebabkan penantianku.)
Ku ngaing dipajar inya
langgeng tita deung purusa,
nya mana kasorang tineung.
(Aku menyebutnya
keabadian, kekal bersama zat teragung,
yang memenuhi maksud penantianku.)
Kena kitu nu ti heula,
guna sang mahapandita,
nu bisa mu(n)cakkan tapa,
milih miji di sarira,
ngawastu rasa wisesa,
nurutkeun sakaja(n)tenna,
ha(n)teu kabawa ku warna,
atos alot rasa,
laksana mahapurusa,
nya mana pam(i)yaktaan. [ms. Nyu
(Karena sebelum adanya diriku,
kebaikan dari orang bijak,
yang mampu menyadari pertapaan tertinggi,
memilih berkonsentrasi pada diri sendiri,
untuk memahami pengindraan tertinggi,
dengan mengikuti penciptaan diri yang sesungguhnya,
tidak dapat terbawa oleh warna [penampilan fisik],
penuh dengan keberanian, hati yang kuat,
seperti manusia suci yang agung,
yang menunjukkan bukti jelas dari itu.)
A(ng)geus ngudian sarira,
Rakaki Bujangga Manik
ngaler ngidul marat nimur,
di tengah kapala cakra,
nyiar pigeusaneun matuh,
nyiar lemah pamutian,
nyiar cai / pamorocoan, /24r/
pigeusaneun aing paeh,
pigeusaneun nu(n)da raga.
(Setelah exerting dirinya sendiri,
Bujangga Manik yang terhormat
menuju utara, selatan, barat, dan timur,
di pusat dari titik puncak,
mencari tempat untuk tinggal,
mencari tempat untuk bertapa (?),
mencari air untuk tenggelam,
tempat untuk mati bagiku kelak,
tempat membaringkan tubuh.)
Di (i)nya aing teu heubeui,
satahun deung sataraban.
(Di sana aku tidak tinggal terlalu lama,
selama setahun lebih.)
Meding katepi ku are,
datang nu ti lala(n)deuhan,
Meding waya na bancana
(Terlalu sering aku dikunjungi orang asing,
oleh orang-orang yang datang dari bawah,
terlalu banyak godaan.)
Sadiri aing ta inya,
leu(m)pang aing ngaler barat.
Tehering milangan gunung:
itu ta bukit Karesi,
itu ta bukit Langlayang,
ti barat na Palasari.
(Sepergiku dari sana,
berjalanlah aku ke utara-barat,
melihat pegunungan:
itulah Gunung Karesi,
itulah Gunung Langlayang,
di baratnya Gunung Palasari.)
Ngalalar ka bukit Pala.
Sadatang ka kabuyutan,
meu(n)tas di Cisaunggalah,
leu(m)pang aing ka baratkeun,
datang ka bukit Pategeng,
sakakala Sang Kuriang,
masa dek nyitu Citarum,
burung te(m)bey kasiangan.
(Berjalan melewati Gunung Pala.
Setiba ke tempat suci,
menyeberangi Sungai Cisaunggalah,
aku berjalan ke barat,
tiba di Gunung Pategeng,
peninggalan Sang Kuriang,
ketika akan membendung Citarum,
tetapi gagal karena matahari keburu terbit.)
Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
meu(n)tas aing di Cihea,
meu(n)tas aing di Cisokan,
datang ka lurah Pamengker.
(Telah kulalui daerah itu,
aku menyeberangi Sungai Cihea,
aku menyeberangi Sungai Cisokan,
pergi ke daerah Pamengker.)
Cu(n)duk aing ka Mananggul,
ngalalar ka Li(ng)ga Lemah.
(Tibalah aku di Mananggul,
berjalan melewati Lingga Lemah.)
Tuluy datang ka E/ronan, /24v/
na(n)jak ka Le(m)bu Hambalang.
(Lalu aku pergi ke daerah Eronan,
mendaki [Gunung] Lembu Hambalang.)
Sadatang ka Bukit Ageung,
eta hulu Cihaliwung,
kabuyutan ti Pakuan,
sanghiang Talaga Wama: / /0/ /
(Setiba di Gunung Ageung,
itu hulu Sungai Cihaliwung,
tempat suci dari Pakuan,
danau suci Sanghiang Talaga Warna:)
"Euh, kumaha awaking ini!
Mu(ng)ku nyorang tulus datang,
ngahusir ka i(n)dung bapa,
ngahusir ka pa(ng)guruan!"
( “Oh, bagaimana nasibku!
Aku tidak akan dapat melanjutkan perjalanan,
mengunjungi ibu dan ayahku,
mengunjungi tempat guruku!”)
Awaki(ng) ka Hujung Kulan,
ja rea hadanganana.
Leu(m)pang aing nyangkidulkeun,
ngahusir bukit Bulistir.
Eta hulu Cimari(n)jung,
sakakala Patanjala,
1365 ma(n)ten burung ngadeg ratu.
(Aku pergi ke Hujung Kulan,
karena di sana banyak hal yang menunggu.
Aku berjalan menyelatan,
melanjutkan perjalananku ke Gunung Bulistir.
Itu hulu Sungai Cimarinjung,
peninggalan Patanjala,
ketika ia gagal menjadi raja.)
Di (i)nya aing teu heubeul,
satahun deung sataraban.
(Di sana aku tidak tinggal lama,
selama satu tahun lebih.)
Meding katepi ku are,
datang nu ti lala(n)deuhan,
meding waya na bancana.
(Terlalu sering aku didatangi orang asing,
oleh orang-orang yang datang dari bawah,
terlalu banyak godaan datang.)
Sadiri aing ti inya,
leu(m)pang aing ngidul wetan,
meu(n)tasing di Cimari(n)jung,
meu(n)tasing di Cihadea,
meu(n)tasing di Cicarengcang, /25v/
meu(n)tas aing di Cisanti.
Sana(n)jak ka Gunung Wayang,
sadiri aing ti inya,
cu(n)duk ka Mandala Beutung,
ngalalar ka Mulah Beunghar,
nyanglandeuh ka Tigal Luar,
ka tukang Bukit Malabar,
kagedeng Bukit Bajoge.
(Sepergi aku dari sana,
aku pergi ke baratdaya,
menyeberangi Sungai Cimarinjung,
menyeberangi Sungai Cihadea,
menyeberangi Sungai Carengcang,
menyeberangi Sungai Cisanti.
Seturun dari Gunung Wayang,
dan pergi dari sana,
aku sampai di Mandala Beutung,
berjalan melewati Mulah Beunghar,
turun ke Tigal Luar,
d ibelakang Gunung Malabar,
yang diapit oleh Gunung Bojage.)
Sacu(n)duk ka Gunung Gu(n)tur,
ti wetan Mandala Wangi,
nu awas ka Gunung Ke(n)dan,
ngalalar ka Jampang Manggung.
(Sesampai di Gunung Guntur,
di timur Mandala Wangi,
yang menghadap Gunung Kendan,
aku pergi melewati Jampang Manggung.)


(bersambung)

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/9/349/cerita-bujangga-manik:-perjalanan-seorang-peziarah-10