Tampilkan postingan dengan label Laki-laki. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Laki-laki. Tampilkan semua postingan

Senin, 29 Maret 2010

Hayam Wuruk

Dyah Hayam Wuruk adalah raja keempat Kerajaan Majapahit yang memerintah tahun 1351-1389, bergelar Maharaja Sri Rajasanagara. Di bawah pemerintahannya, Kerajaan Majapahit mencapai zaman kejayaannya.

Silsilah Hayam Wuruk
Hayam Wuruk adalah putra pasangan Tribhuwana Tunggadewi dan Sri Krtawardhana (Cakradhana). Ibunya adalah putri Raden Wijaya pendiri Majapahit, sedangkan ayahnya adalah raja bawahan di Singasari bergelar Bhre Tumapel.

Hayam Wuruk dilahirkan tahun 1334. Peristiwa kelahirannya diawali dengan gempa bumi di Pabanyu Pindah dan meletusnya Gunung Kelud. Pada tahun itu pula Gajah Mada mengucapkan Sumpah Palapa.

Hayam Wuruk memiliki adik perempuan bernama Dyah Nertaja alias Bhre Pajang, dan adik angkat bernama Indudewi alias Bhre Lasem, yaitu putri Rajadewi, adik ibunya.
Permaisuri Hayam Wuruk bernama Sri Sudewi bergelar Padukasori putri Wijayarajasa Bhre Wengker. Dari perkawinan itu lahir Kusumawardhani yang menikah dengan Wikramawardhana putra Bhre Pajang. Hayam Wuruk juga memiliki putra dari selir yang menjabat sebagai Bhre Wirabhumi, yang menikah dengan Nagarawardhani putri Bhre Lasem.

Masa pemerintahan Hayam Wuruk
Di bawah kekuasaan Hayam Wuruk, Majapahit menaklukkan Kerajaan Pasai dan Aru (kemudian bernama Deli, dekat Medan sekarang). Majapahit juga menghancurkan Palembang, sisa-sisa pertahanan Kerajaan Sriwijaya (1377).

Peristiwa Bubat
Tahun 1351, Hayam Wuruk hendak menikahi puteri Raja sunda (di Jawa Barat), Diah Pitaloka Citrasemi. Pajajaran setuju asal bukan maksud Majapahit untuk mencaplok Pajajaran. Ketika dalam perjalanan menuju upacara pernikahan, Gajah Mada mendesak Pajajaran untuk menyerahkan puteri sebagai upeti dan tunduk kepada Majapahit. Pajajaran menolak, akhirnya pecah pertempuran, Perang Bubat. Dalam peristiwa menyedihkan ini seluruh rombongan Pajajaran tewas, dan dalam beberapa tahun Pajajaran menjadi wilayah Majapahit.

"Kecelakaan sejarah" ini hingga sekarang masih dikenang terus oleh masyarakat Jawa Barat dalam bentuk penolakan nama Hayam Wuruk dan Gajah Mada bagi pemberian nama jalan di wilayah ini.
Pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, kitab Kakawin Sutasoma (yang memuat semboyan Bhinneka Tunggal Ika tan Hana Dharma Mangrwa) digubah oleh Mpu Tantular, dan kitab Nagarakretagama digubah oleh Mpu Prapanca (1365).

Suksesor
Tahun 1389, Hayam Wuruk meninggal dengan dua anak: Kusumawardhani (yang bersuami Wikramawardhana), serta Wirabhumi yang merupakan anak dari selirnya. Namun yang menjadi pengganti Hayam Wuruk adalah menantunya, Wikramawardhana.

Referensi
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara.
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan(terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS.
Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/34/hayam-wuruk

Girindrawardhana

Prabhu Natha Girindrawardhana Dyah Ranawijaya adalah raja Kerajaan Majapahit yang memerintah sekitar tahun 1486. Tidak diketahui dengan pasti kapan ia naik takhta dan kapan pemerintahannya berakhir. Pendapat umum menyebutkan, ia sering dianggap sebagai raja terakhir Majapahit yang dikalahkan oleh Kesultanan Demak pada tahun 1527.

Silsilah Ranawijaya
Girindrawardhana Dyah Ranawijaya diperkirakan sebagai putra Suraprabhawa Sang Singhawikramawardhana, raja Kerajaan Majapahit yang memerintah pada tahun 1466-1474. Dugaan tersebut berdasarkan atas gelar abhiseka yang dipakai oleh Ranawijaya dan Suraprabhawa yang masing-masing mengandung kata Girindra dan Giripati. Kedua kata tersebut memiliki makna yang sama, yaitu "raja gunung".

Pada tahun 1486 Ranawijaya mengeluarkan prasasti Jiyu tentang pengesahan anugerah kepada Sri Brahmaraja Ganggadhara berupa tanah Trailokyapuri. Pengesahan ini dilakukan bersamaan dengan upacara Sraddha untuk memperingati 12 tahun meninggalnya Bhatara Mokteng Dahanapura, atau "Baginda yang meninggal di Daha". Tokoh ini diyakini para sejarawan sebagai orang tua Ranawijaya.

Suraprabhawa dalam Pararaton disebut dengan nama Bhre Pandansalas yang pada tahun 1468 melarikan diri setelah dikalahkan oleh Bhre Kertabhumi dan ketiga kakaknya. Jika berita tersebut dipadukan dengan naskah prasasti Jiyu, maka dapat diperoleh gambaran bahwa Suraprabhawa kemudian tinggal di Daha setelah terusir dari Majapahit.

Setelah meninggal, Suraprabhawa disebut dengan gelar anumerta Bhatara Mokteng Dahanapura. Hasil penyelidikan prasasti Jiyu menemukan tahun kematiannya adalah 1474. Dengan demikian, Dyah Ranawijaya diperkirakan naik takhta juga pada tahun 1474 tersebut.

Prasasti Jiyu menyebut gelar Dyah Ranawijaya adalah Sri Wilwatikta Janggala Kadiri, yang artinya penguasa Majapahit, Janggala, dan Kadiri. Ini membuktikan bahwa pada tahun 1486 tersebut kekuasaan Bhre Kertabhumi di Majapahit telah jatuh pula ke tangan Ranawijaya.

Dalam prasasti Jiyu juga ditemukan adanya nama Bhre Keling Girindrawardhana Dyah Wijayakusuma yang diperkirakan sebagai saudara Dyah Ranawijaya.

Identifikasi dengan Brawijaya
Brawijaya adalah nama raja terakhir Kerajaan Majapahit versi naskah-naskah babad dan serat, misalnya Babad Tanah Jawi dan Serat Kanda. Nama ini sangat populer dalam masyarakat Jawa namun tidak memiliki bukti sejarah yang kuat, misalnya prasasti.

Oleh karena itu perlu diselidiki dari mana asalnya para pengarang babad dan serat memperoleh nama tersebut. Nama Brawijaya diyakini berasal dari kata Bhra Wijaya, yang merupakan singkatan dari Bhatara Wijaya.

Menurut Suma Oriental tulisan Tome Pires, pada tahun 1513 ada seorang raja bernama Batara Vigiaya yang bertakhta di Dayo, namun pemerintahannya dikendalikan oleh Pate Amdura. Batara Vigiaya merupakan ejaan Portugis untuk Bhatara Wijaya, sedangkan Dayo bermakna Daha. Dari prasasti Jiyu diketahui bahwa Daha diperintah oleh Dyah Ranawijaya pada tahun 1486. Dengan kata lain, Brawijaya alias Bhatara Wijaya adalah nama lain dari Dyah Ranawijaya.
Identifikasi Brawijaya raja terakhir Majapahit dengan Ranawijaya cukup masuk akal, karena Ranawijaya juga diduga sebagai raja Majapahit. Kerajaan Dayo adalah ejaan Portugis untuk Daha, yang saat itu menjadi ibu kota Majapahit. Menurut Babad Sengkala pada tahun 1527 Daha akhirnya dikalahkan oleh Kesultanan Demak.

Ingatan masyarakat Jawa tentang kekalahan Majapahit yang berpusat di Daha tahun 1527 bercampur dengan peristiwa runtuhnya Majapahit yang berpusat di Mojokerto tahun 1478. Akibatnya, Bhra Wijaya yang merupakan raja terakhir tahun 1527 oleh para penulis babad “ditempatkan” sebagai Brawijaya yang pemerintahannya berakhir tahun 1478.

Akibatnya pula, tokoh Brawijaya pun sering disamakan dengan Bhre Kertabhumi, yaitu raja Majapahit yang memerintah pada tahun 1474-1478. Padahal, tidak ada bukti sejarah yang menyebut bahwa Bhre Kertabhumi juga bergelar Brawijaya.

Pengangkatan Ranawijaya menurut Kronik Cina
Pemerintahan Bhre Kertabhumi tidak meninggalkan bukti prasasti, juga tidak diceritakan secara tegas dalam Pararaton. Justru dalam kronik Cina dari Kuil Sam Po Kong ditemukan adanya raja Majapahit bernama Kung-ta-bu-mi.
Pada tahun 1478 Kung-ta-bu-mi dikalahkan putranya sendiri bernama Jin Bun, yang lahir dari selir Cina. Jin Bun ini identik dengan Panembahan Jimbun alias Raden Patah pendiri Kesultanan Demak. Setelah itu, Majapahit menjadi bawahan Demak. Jin Bun mengangkat seorang Cina muslim sebagai bupati bernama Nyoo Lay Wa.

Pada tahun 1486 Nyoo Lay Wa mati akibat unjuk rasa kaum pribumi. Maka, Jin Bun pun mengangkat bupati baru di Majapahit, seorang pribumi bernama Pa-bu-ta-la yang juga menantu Kung-ta-bu-mi.
Tokoh Pa-bu-ta-la ini identik dengan Prabhu Natha Girindrawardhana alias Dyah Ranawijaya yang mengeluarkan prasasti Jiyu tahun 1486. Tidak diketahui dengan pasti dari mana sumber sejarah yang digunakan oleh penulis kronik Cina tersebut.

Hubungan Ranawijaya dengan Bhre Kertabhumi
Menurut kronik Cina di atas, Ranawijaya adalah menantu Bhre Kertabhumi yang diangkat oleh Raden Patah sebagai raja bawahan Demak.
Pendapat lain mengatakan, Ranawijaya menjadi raja Majapahit atas usahanya sendiri, yaitu dengan cara mengalahkan Bhre Kertabhumi tahun 1478, demi membalas kekalahan ayahnya, yaitu Suraprabhawa. Pendapat ini diperkuat oleh prasasti Petak yang menyebutkan kalau keluarga Girindrawardhana pernah berperang melawan Majapahit.

Perang Majapahit dan Demak
Pada umumnya, perang antara Majapahit dan Demak dalam naskah-naskah babad dan serat hanya dikisahkan terjadi sekali, yaitu tahun 1478. Perang ini terkenal sebagai Perang Sudarma Wisuta, artinya perang antara ayah melawan anak, yaitu Brawijaya melawan Raden Patah.

Naskah babad dan serat tidak mengisahkan lagi adanya perang antara Majapahit dan Demak sesudah tahun 1478. Padahal menurut catatan Portugis dan kronik Cina kuil Sam Po Kong, perang antara Demak melawan Majapahit terjadi lebih dari satu kali.

Dikisahkan, pada tahun 1517 Pa-bu-ta-la bekerja sama dengan bangsa asing di Moa-lok-sa sehingga mengundang kemarahan Jin Bun. Yang dimaksud dengan bangsa asing ini adalah orang-orang Portugis di Malaka. Jin Bun pun menyerang Majapahit. Pa-bu-ta-la kalah namun tetap diampuni mengingat istrinya adalah adik Jin Bun.

Perang ini juga terdapat dalam catatan Portugis. Pasukan Majapahit dipimpin seorang bupati muslim dari Tuban bernama Pate Vira. Selain itu Majapahit juga menyerang Giri Kedaton, salah satu sekutu Demak di Gresik. Namun, serangan ini gagal di mana panglimanya akhirnya masuk Islam dengan gelar Kyai Mutalim Jagalpati.

Sepeninggal Raden Patah alias Jin Bun tahun 1518, Demak dipimpin putranya yang bernama Pangeran Sabrang Lor sampai tahun 1521. Selanjutnya yang naik takhta adalah Sultan Trenggana adik Pangeran Sabrang Lor.

Menurut kronik Cina, pergantian takhta ini dimanfaatkan oleh Pa-bu-ta-la untuk kembali bekerja sama dengan Portugis. Perang antara Majapahit dan Demak pun meletus kembali. Perang terjadi tahun 1524. Pasukan Demak dipimpin oleh Sunan Ngudung, anggota Wali Sanga yang juga menjadi imam Masjid Demak. Dalam pertempuran ini Sunan Ngudung tewas di tangan Raden Kusen, adik tiri Raden Patah yang memihak Majapahit.

Perang terakhir terjadi tahun 1527. Pasukan Demak dipimpin Sunan Kudus putra Sunan Ngudung, yang juga menggantikan kedudukan ayahnya dalam dewan Wali Sanga dan sebagai imam Masjid Demak. Dalam perang ini Majapahit mengalami kekalahan. Raden Kusen adipati Terung ditawan secara terhormat, mengingat ia juga mertua Sunan Kudus.

Menurut kronik Cina, dalam perang tahun 1527 tersebut yang menjadi pemimpin pasukan Demak adalah putra Tung-ka-lo (ejaan Cina untuk Sultan Trenggana), yang bernama Toh A Bo.

Dari berita di atas diketahui adanya dua tokoh muslim yang memihak Majapahit, yaitu Pate Vira dan Raden Kusen. Nama Vira mungkin ejaan Portugis untuk Wira. Sedangkan Raden Kusen adalah putra Arya Damar. Ibunya juga menjadi ibu Raden Patah. Dengan kata lain, Raden Kusen adalah paman Sultan Trenggana raja Demak saat itu.

Raden Kusen pernah belajar agama Islam pada Sunan Ampel, pemuka Wali Sanga. Dalam perang di atas, ia justru memihak Majapahit. Berita ini membuktikan kalau perang antara Demak melawan Majapahit bukanlah perang antara agama Islam melawan Hindu sebagaimana yang sering dibayangkan orang, melainkan perang yang dilandasi kepentingan politik antara Sultan Trenggana melawan Dyah Ranawijaya demi memperebutkan kekuasaan atas pulau Jawa.

Menurut kronik Cina, Pa-bu-ta-la meninggal dunia tahun 1527 sebelum pasukan Demak merebut istana. Peristiwa kekalahan Girindrawardhana Dyah Ranawijaya ini menandai berakhirnya riwayat Kerajaan Majapahit. Para pengikutnya yang menolak kekuasaan Demak memilih pindah ke pulau Bali.

Referensi
Babad Majapahit dan Para Wali (Jilid 3). 1989. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Babad Tanah Jawi. 2007. (terj.). Yogyakarta: Narasi

H.J.de Graaf dan T.H. Pigeaud. 2001. Kerajaan Islam Pertama di Jawa. Terj. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti

Poesponegoro & Notosusanto (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.

Slamet Muljana. 2005. Runtuhnya Kerajaan Jindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam di Nusantara (terbitan ulang 1968). Yogyakarta: LKIS

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/38/girindrawardhana

Girishawardhana

Girishawardhana Dyah Suryawikrama adalah raja Majapahit yang memerintah tahun 1456-1466. Ia dianggap identik dengan Bhra Hyang Purwawisesa dalam Pararaton.

Bhra Hyang Purwawisesa dalam Pararaton

Menurut Pararaton, Sepeninggal Rajasawardhana tahun 1453 Majapahit dilanda kekosongan pemerintahan selama tiga tahun. Baru pada tahun 1456, Bhre Wengker naik takhta bergelar Bhra Hyang Purwawisesa. Pada tahun 1462 terjadi bencana gunung meletus mewarnai pemerintahannya.

Pada tahun 1466 Hyang Purwawisesa meninggal dunia dan dicandikan di Puri. Ia digantikan oleh Bhre Pandansalas sebagai raja selanjutnya.

Girisawardhana Dyah Suryawikrama
Tokoh Hyang Purwawisesa dianggap identik dengan Girisawardhana Dyah Suryawikrama, raja Majapahit yang mengeluarkan prasasti Sendang Sedur tahun 1463. Nama Dyah Suryawikrama sebelumnya juga muncul dalam prasasti Waringin Pitu (1447), sebagai putra kedua Dyah Kertawijaya.

Jika Rajasawardhana identik dengan Dyah Wijayakumara, kakak Suryawikrama. Maka, kekosongan pemerintahan selama tiga tahun dapat diperkirakan terjadi karena adanya perebutan takhta antara Suryawikrama melawan Samarawijaya putra sulung Wijayakumara.

Prasasti Waringin Pitu juga menyebutkan Samarawijaya adalah menantu Suryawikrama. Mungkin pada tahun 1456 persaingan antara keduanya berakhir setelah Samarawijaya merelakan takhta Majapahit kepada Suryawikrama, yang tidak lain adalah paman sekaligus mertuanya tersebut.

Referensi
M.C. Ricklefs. 1991. Sejarah Indonesia Modern (terjemahan). Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Poesponegoro, M.D., Notosusanto, N. (editor utama). Sejarah Nasional Indonesia. Edisi ke-4. Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka, 1990.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/36/girishawardhana

Minggu, 28 Maret 2010

Gajah Mada: Kejanggalan Manifestasi Sumpah Palapa

Pararaton yang ditulis pada 1613 M (Padmapuspita, 1966: 91) dan Nagarakretagama ditulis pada 1365 M (Muljana 1979 : 9), menjadi satu pembahasan untuk menerawang Sumpah Palapa dan sistem kesatuan yag diingini Sang Mahapatih, sebab naskah Pararaton menyebut Sumpah Palapa yang terkenal itu, sedangkan Nagarakretagama memuat wilayah negeri yang masuk dalam kekuasaan dan wibawa Majapahit.

Kata “sumpah” itu sendiri tidak terdapat di dalam kitab Pararaton, hanya secara tradisional dan konvensional para ahli Jawa Kuno menyebutnya sebagai Sumpah Palapa. Bunyi selengkapnya teks Sumpah Palapa menurut Pararaton edisi Brandes (1897 : 36) adalah sebagai berikut:

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada: “Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seran, Tanjung Pura, ring Haru, ring Pahang, Dompo, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana isun amukti palapa.”

Terjemahannya:
Beliau Gajah Mada Patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasanya. Beliau: “Jika telah mengalahkan Nusantara, saya baru akan melepaskan puasa, jika berhasil mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya baru melepaskan puasa saya.”

Kepulauan Nusantara berada di wilayah peradaban Sindhu, yang oleh pelancong sekaligus sejarawan Cina disebut Shintu, oleh sejarawan Arab disebut Hindu, dan oleh orang-orang barat disebut Indisch, Hindia, Indo.

Dalam perspektif sejarah Indonesia, perjalanan Sumpah Palapa hingga sekarang boleh dikatakan tidak mulus. Sesudah Majapahit tidak berfungsi secara optimal perjalanan sejarah berikutnya sampai dengan saat ini, dipernuhi dengan perpecahan yang mengarah kepada faktor-faktor disintegrasi bangsa, seperti periode-periode Demak, Pajang, Mataram, dan pecahnya Mataram menjadi Yogyakarta dan Surakarta, di mana dalam periode-periode tersebut Nusantara disibukkanoleh konfrontasi budaya antara kaum tradisionalis yang diwakili oleh sisa-sisa kekuatan Majapahit dengan kaum pembaharu yang diwakili oleh kalangan Demak yang bernafaskan Islam, sementara itu disaat yang sama kekuatan VOC masuk, mengail di air yang keruh yang kemudian berubah menjadi penjajah. Tidak hanya itu, di kalangan intern Yogya dan Solo terjadi peperangan yang kompleks, berupa perebutan kekuasaan di antara intern kalangan keraton ditambah dengan campur tangan Belanda untuk memecah belah dengan politik devide et impera-nya. Kejadian yang sama berulang oleh kita sendiri atas bangsa kita sendiri. Sungguh mengerikan!

Pengalaman empat dasawarsa mitos Sumpah Palapa memperlihatkan manifestasi mengerikan ketika bertemu dengan keterlibatan militer dalam kehidupan sosial-politik, sekaligus jalur-jalur ekonomi strategis. Sumpah Palapa yang dicetuskan oleh Mahapatih Gajah Mada mengandung klaim wilayah, bukan klaim penduduk! Gajah Mada bukan tertarik mempersatukan penduduk menjadi rakyat yang sederajat, melainkan untuk meluaskan wilayah kekuasaan kemaharajaannya.

Majapahit mencapai puncak kejayaannya di masa pemerintahan Hayam Wuruk, ketika Gajah Mada menjadi patihnya, tetapi, setelah itu perlahan namun pasti menuju kemunduran, kemerosotan, dan akhirnya hancur-lebur! Kenapa? Karena, landasan yang disiapkan oleh Gajah Mada tidak kuat! Ya, tidak kuat. Kita memang menghormati Sang Mahapatih; kita menghargai pengorbanannya, tetapi kita tidak boleh lupa belajar dari kegagalannya.

Seperti apakah landasan yang disiapkan oleh Sang Mahapatih?

Landasan Kekuatan Militer
Kepulauan Nusantara terdiri atas sekian banyak suku-bangsa. Tidak semua suku bangsa siap bisa menerima “batas-batas wilayah” yang ditentukan oleh Mahapatih. Pertanyaan besarnya adalah: Mengapa mereka harus menyerahkan kedaulatan mereka dan tunduk pada Majapahit? Alhasil, terjadilah letupan-letupan kecil di mana-mana. Majapahit harus menghadapinya dengan kekuatan militer. Sumpah Palapa yang diucapkan oleh Sang Maha Patih yang menempatkan kesatuan wilayah di atas segalanya, dan at any cost, dengan harga berapa saja.

Ia tidak menjelaskan untuk apa Nusantara harus bersatu. Untuk mempersatukan Kepulauan Nusantara semestinya kekuatan militer tidak digunakan. Itu buka cara yang tepat. Semestinya masyarakat kepulauan disadarkan akan akar budaya mereka yang satu dan sama; akar budaya yang sekaligus mempersatukan mereka dengan yang lainnya sesama kesatuan.

Ekspedisi militer yang dilakukan oleh sang Mahapatih adalah kesalahan besar yang dilakukannya. Niatnya baik, tapi caranya tidak tepat, maka kesatuan yang tercipta sangat rapuh, dan sangat rentan walau pun terhadap sedikit guncangan dari luar. Kesatuan yang tercipta sepenuhnya tergantung pada keperkasaan dan kharisma Gajah Mada beserta kekuatan militernya. Maka yang tercipta adalah ketakutan keterpaksaan dan kebencian.

Nusantara harus dipandang sebagai kumpulan kepulauan yang utuh menyeluruh, walau pun berbeda-beda suku, agama, dan kepercayaannya. Ia membawa berkah bermakna: tidak ada seorang pun yang rela kalau Nusantara dirobek-robek oleh penghuninya sendiri, kecuali oleh orang-orang yang tidak mengerti, yaitu orang-orang yang tidak memiliki jati diri bangsa bersatu.

Kesejahteraan dan Kemakmuran Materi
Tidak ada yang meragukan kekayaan melimpah negeri ini, negeri yang diibaratkan zamrud di khatulistiwa, alur waktu dari dulu telah memberikan bukti nyata akan keberadaaanya, primadona dalam perdagangan dan hasil bumi yang melimpah, penduduk makmur sejahtera slogan-slogan kemakmuran pun berkumandang di seantero negeri ini. Namun, beberapa pihak dengan teliti lagi cerdik memanfaatkan semua itu, memanfaatkan untuk mereka sendiri. Dan sebagian lainnya bekerja dengan keras namun hasilnya hanya keringat. Hanya lelah dan imbalan seperlunya.

Mahapatih Gajah Mada memberikan iming-iming kesejahteraan yang dijamin oleh kerajaan, tanah perdikan hingga penetapan sima di mana-mana. Penarikan upeti dan kesejahteraan sebagai negara bawahan membawa dampak yang buruk dalam mekanisme dan pembangunan mental mandiri.

Landasan ini pun sungguh sangat rapuh. Warga masyarakat dan petinggi negara yang sudah merasa mapan menjadi malas, tak peduli terhadap bangsa dan negara. Keadaan itu semakin diperparah oleh iklim tropis dengan udaranya yang lembab. Mereka yang seharusnya bersuara malah berpikir, “Ah, itu bukan urusanku. Selama aku masih bisa makan, minum dan hidup nyaman, ya sudah!”

Setiap orang hanya memikirkan perut. Setiap orang hanya memikirkan kantongnya sendiri. Pihak-pihak asing yang selalu menunggu kesempatan seperti itu langsung memanfaatkan situasi. Mereka melakukan eksploitasi lebih lanjut. Mereka membawa alat-alat besar mereka supaya penjarahan menjadi lebih afdol!

Penjarahan yang terjadi dulu ibarat “susu seliter dicampur air” sekarang menjadi “air dicampur susu” dengan diberi warna sedikit, sehingga tidak asa yang menyangka bahwa apa yang diminumnya itu bukan susu lagi, air biasa, air berwarna putih tanpa gizi.

Cinta terhadap negara, kepedulian terhadap bangsa, sirna. Keduanya terkalahkan oleh urusan kenikmatan dan kenyamanan. Nilai pengorbanan, kesediaan dan kerelaan untuk mengorbankan jiwa dan raga diganti dengan penyembelihan hewan yang tidak bersalah. Sementara itu, sifat hewani dalam diri kita malah diberi makan dan digemukkan.

Keagamaan
Ritual mengemuka, tapi landasan budi pekerti diabaikan. Esensi agama tidak dipelajari, karena mempelajari esensi berarti menjalaninya pula. Dan untuk menjalani agama, melakoni ajaran agama, dibutuhkan kesadaran, pengorbanan dan nilai-nilai lain yang tinggi. Menjalani ritual jauh lebih mudah. Semua agama dibiarkan berkembang, bahkan perkembangannya didukung oleh negara tanpa batas. Itu bagus. Tapi, bagian apa dari agama? Bagian apa yang seharusnya didukung perkembangannya? Silakan mendukung pembangunan tempat-tempat ibadah “tanpa pilih kasih”. Silakan melaksanakan ritual-ritual keagamaan. Silakan membiayai kegiatan-kegiatan keagamaan. Tetapi, jangan lupa bahwa semua itu hanya memiliki arti jika berhasil mengagamakan jiwa kita, roh kita!

Bangunan- bangunan yang semestinya digunakan untuk kegiatan ibadah malah digunakan untuk menghasut, agar sesama anak bangsa saling membenci. Bangunan-bangunan yang semestinya digunakan untuk kegiatan ibadah malah digunakan untuk memecah belah bangsa ini; bukan untuk mempersatukan; untuk menciptakan konflik, bukan untuk kedamaian; untuk menciptakan kekacauan, bukan ketenangan dan keamanan.

Itu yang terjadi dulu di Majapahit, sehingga seorang anak pun tidak merasa bersalah untuk melawan ayahnya sendiri karena urusan agama. Kemudian lahirlah kebebasan beragama, hingga dalam tatanan pemerintahan diberlakukan kebebasan yang serupa, namun fungsi kontrol negara sangat lemah. Agama dibiarkan merasuki sendi perpolitikan memasuki ranah yang seharusnya tidak tersentuh, menyebar ke dalam urat nadi kehidupan dan jauh dari hakikat agama itu sendiri.

Pembenaran Mencapai Tujuan
Tujuan Sang Mahapatih memang mulia. Ia ingin mempersatukan Kepulauan Nusantara; dan lewat persatuan itu ia hendak menciptakan kedamaian. Jadi, tidak ada yang salah dengan tujuannya. Yang salah adalah cara yang ditempuhnya untuk mencapai tujuannya itu.

Perseteruan yang terjadi antara Pakuan-Pajajaran dengan Majapahit merupakan sebuah implementasi yang salah dari tujuan yang menerabas berbagai cara demi tujuannya itu. Berbagai literatur telah mengisahkan kejadian demi kejadian di Palagan Bubat, titik point-nya hanya satu: ada kesalahpahaman, ada sebuah permainan dan intrik yang telah dimainkan Sang Mahapatih.

Kesatuan dan persatuan dengan caranya, bukan dengan cara bersama yang dulu digadangkan Kertanegara, ambisi dan hilangnya filter sosial telah membutakan Mahapatih. Ia seolah haus akan kekuasaaan tanpa sadar bahwa batasan-batasan yang ada wajib dihormati, tanpa menyadari bahwa kedaulatan atas satu golongan tidak dapat dipaksakan.

Kurang Bersabar
Apa pun yang diinginkannya harus diperoleh dalam waktu sesingkat mungkin. Sifat ini barangkali baik bagi seorang pekerja, namun tidak cocok bagi seorang negarawan. Tidak berarti seorang negarawan harus bersabar terus. Seorang negarawan dituntut untuk bekerja lebih keras dari seorang pekerja biasa. Ia mengabdi pada negara; dan tugas itu adalah pekerjaan purna waktu.

Gajah Mada memang telah menjadikan urusan kenegaraannya sebagai hidupnya, tidak ada yang menyangsikan bahwa ia tidak memiliki perhatian terhadap negara. Namun di balik semua itu, ia hanya mendengar kata yang diucapkan oleh Prapanca beserta orang-orang lainnya yang memujinya setinggi langit; suara Tantular tidak pernah diperhitungkan!

Mpu Tantular menulis Kakawin Sutasoma untuk mengkritik Gajah Mada. Saat itu fondasi yang dipakai oleh Sang Mahapatih guna menyatukan Nusantara begitu rapuh. Deklarator Sumpah Palapa tersebut menggunakan strategi militer, ekonomi, dan agama. Sebagai alternatif, Sang Mpu menawarkan pendekatan budaya untuk mengatasi krisis multidimensi yang mendera Majapahit.

Gajah Mada tidak memahami maksud Sang Mpu. Ia adalah gaja atau gajah yang sedang mada, mabuk!
Julukan itu dia peroleh dari mereka yang mengenal dia dengan baik, “kau betul-betul seperti gajah yang mabuk.” Mereka hendak menyadarkan Sang Mahapatih, “Janganlah kau termabukkan oleh kekuasaan, kekuatan, dan keperkasaan.” Julukan itu dimaksudkan sebagai sindiran, tapi Sang Mahapatih malah menganggapnya sebagai pujian. Ia membiarkan orang memanggilnya dengan sebutan itu. Gajah Mada bukanlah nama asli Sang Mahapatih. Mengalir pula di dalam tubuhnya bukan saja darah Indonesia, tetapi darah Cina. Itu tidak menjadi soal dan memang tidak ada yang mempersoalkan hal itu.

Kawan dan Lawan
Adityawarman adalah seorang sahabat yang telah berjasa bagi Majapahit, namun setelah bantuannya tidak dibutuhkan lagi, Gajah Mada bersikap dingin terhadapnya. Barangkali Gajah Mada merasa dirinya tersaingi oleh Adityawarman, karena selain perkasa, dia juga masih memiliki hubungan darah dengan dinasti Majapahit. Sikap dingin antara mereka berdua memang tidak pernah berubah menjadi permusuhan terbuka, tetapi akhirnya Adityawarman memutuskan untuk kembali ke Tanah Minang.

Di Sumatra ia memosisikan dirinya sebagai datuk. Dan “di atas kertas” walau tetap bernaung di bawah Majapahit, sesungguhnya ia sudah “jalan sendiri”. Akibat dari perpecahan ini kelak dirasakan oleh anak cucu mereka. Mungkin masih ada terdengar keluhan orang Sumatra, “Orang Jawa (Mahapatih Gajah Mada) datang ke pulau kami untuk menjarah. Mereka ingin berkuasa.” Keluhan-keluhan seperti ini tidak jarang berkembang menjadi tuduhan “jawanisasi”.

Tuduhan “jawanisasi” juga dilontarkan oleh pulau-pulau lain, khususnya Sulawesi dan Kalimantan. Padahal, jika kita mempelajari sejarah budaya kita dengan kepala dingin, ada benang merah yang mengikat dan mempertemukan kepulauan kita. “Jawanisasi” adalah mitos yang berkembang dari rasa tidak enak mereka terhadap apa yang telah dilakukan oleh Gajah Mada dahulu yang memberlakukan Nusantara sebagai tanah jajahan, sebagaimana kebencian rakyat Sunda akan kisah serupa.

Sesungguhnya, jika kita memahami jauh lebih bijak catatan sejarah masa lalu, maka arifkah kita masih membenamkan diri kita pada kesalahan masa lalu. Akar budaya kita memang satu dan sama. Adalah suatu kebetulan, jika budaya itu masih hidup, dan oleh karenanya terasa dan terlihat sisa-sisanya di Pulau Jawa. Sementara itu, di tempat lain barangkali sudah sekarat, sekarat… belum mati!

Mempersiapkan Kader
Seperti semasa ia berkuasa, program kaderisasi memang tidak berjalan sama sekali. Dia lupa bahwa dirinya sendiri dipersiapkan oleh Arya Tadah, seorang patih yang kemudian merelakan jabatannya demi dia. Barangkali, ia seorang perfeksionis. Ia merasa dirinya paling hebat, dan orang lain tidak sehebat dirinya. Inilah akibat rasa percaya diri yang berlebihan.

Kesalahan yang sama telah dilakukan oleh setiap mereka yang telah berkuasa. Mereka “lupa” bahwa setiap orang akan mati dan tidak dapat berkuasa untuk selamanya mungkin tidak lupa, tapi tidak mau menerima kenyataan dengan rela. Sementara itu, mekanisme pemerintahan tidak boleh berhenti dan harus berjalan terus menuju kemajuan.

Penutup
Setiap orang memaknai sejarah dalam ruang lingkupnya masing-masing. Kesederhanaan pikiran serta keutamaan membaca sejarah dalam dimensi lain membawa kita dalam arus berlainan. Memaknai bukan berarti hanya dari segi positifnya, karena ada bagian lain yang lebih memberikan pelajaran bagi kita. Bukan berarti mengesampingkan jasa dan pengorbanan yang dilakukan seseorang untuk negeri ini. Akan tetapi, menilai seseorang akan jauh lebih bijak jika dari dekat kemudian menjauhinya untuk menemukan kebenaran dari pandangan orang di kejauhan atas apa yang telah ia lakukan.

Gajah Mada sosok kontroversi di negeri ini. Ia telah membawa banyak perubahan besar, sosok besar yang tercatat dalam literatur sejarah bangsa ini namanya seharum cita-cita sucinya. Peranannya menggaung ke seantero Nusantara, pandangan politiknya yang berorientasi jauh ke depan patut ditiru, kecerdikannya dalam membaca situasi membuat ia selalu sigap akan bahaya yang mengancam kedaulatan negara yang ia bela.

Tulisan ini coba memberikan gambaran dari sejarah masa lalu dalam dimensi lain, sebuah dimensi yang coba mengungkapkan human error karena Gajah Mada bukan sesosok dewa, ia pun manusia biasa. Namun, ada beberapa kekeliruan yang luput dari perhatiannya, sebuah kekeliruan yang menjadikanya sosoknya sebagai bagian dari misteri kekurangan pada diri manusia. Ambisi kekuasaan hingga kearifan dalam bernegara telah tertutupi oleh keinginan kuatnya dalam mempersatukan Nusantara dengan caranya. Ya, dengan caranya!

Niat Gajah Mada mempersatukan bangsa ini sungguh mulia, bahkan sangat mulia ketimbang berbicara pada tataran konseptual saja. Namun, sekali lagi cara yang ia tempuh tidak tepat (mungkin untuk sebagian orang benar), tidak tepat dalam pandangan mengesampingkan kepentingan orang lain karena ada cara yang jauh lebih bijak cara yang telah diungkapkan oleh Mpu Tantular, pendekatan budaya, sebuah kesadaran konseptual yang ditelurkan dalam bait-bait Sutasoma. Ya, karena kita sama dan satu.

Kepustakaan
Anand, Krisna. 2007. Sandi Sutasoma: Menemukan Kepingan Jiwa Mpu Tantular. Jakarta : PT Gramedia Pustaka Utama.
Budya Pradipta. 2004. "Sumpah Palapa Cikal Bakal Gagasan NKRI". Makalah ini disajikan untuk “Seminar Naskah Kuno Nusantara dengan tema Nsakah Kuno sebagai perekat NKRI”, diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada Hari Selasa 12 Okotber 2004 di Auditorium Perpustakaan Nasional RI, Jl. Salemba Raya 18, Jakarta Pusat. [online]. http://digilib.pnri.go.id/uploaded_files/k003/normal/Sumpah_Palapa.pdf
Muljana, Slamet. 2006. Tafsir Sejarah Nagarakretagama. Yogyakarta: LKIS Yogyakarta.
Sultan Hamengku Buwono X. 2008. Merajut Kembali Keindonesiaan Kita. Jakarta : Pt Gramedia Pustaka Utama
Tim Wacana Nusantara. 2009. Pararaton. [online] http://www.wacananusantara.org/content /view/category/2/id/202. 3. Agustus 2009

Gajah Mada

Gajah Mada adalah salah satu tokoh besar pada zaman Majapahit. Menurut berbagai kitab zaman Jawa Kuno, ia menjabat sebagai patih (menteri besar), kemudian mahapatih (perdana menteri) yang mengantarkan Majapahit ke puncak kejayaannya. Ia terkenal dengan sumpahnya, yaitu Amukti Palapa, yang menyatakan bahwa ia tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Di Indonesia pada masa kini, ia dianggap sebagai salah satu pahlawan penting dan merupakan simbol nasionalisme.

Awal Karir
Tidak diketahui sumber sejarah mengenai kapan dan di mana Gajah Mada lahir. Menurut Pararaton, ia memulai karirnya di Majapahit sebagai komandan pasukan khusus bhayangkara(bekel bhayangkara). Karena berhasil menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) dan mengatasi Pemberontakan Rakryan Kuti, ia diangkat sebagai Patih Kahuripan pada tahun 1319. Dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Ada beberapa pendapat bahwa Gajah Mada dianggap dari daerah Modo di Lamongan, di mana di daerah Cancing Ngimbang banyak ditemukan prasasti-prasasti yang diduga kuat peninggalan Majapahit, lagipula daerah ini adalah yang terdekat dengan perbatasan Lamongan-Mojokerto, tepatnya di daerah Mantup, 20 kilometer ke selatan Lamongan. Jadi ada kemungkinan bila Gajah Mada berasal dari Lamongan, mengingat bukti bukti prasasti yang ada di daerah ini bahkan tempatnya juga sangat teratur sebagai tanah perdikan, termasuk adanya beberapa makam kuno prajurit, dan juga makam kuno yang diduga kuat sebagai makam ibunda Gajah Mada, yaitu Nyai Andong Sari, yang masih menjadi tanda tanya.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Ia menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui. Ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan wilayah Keta dan Sadeng yang saat itu penduduknya sedang melakukan pemberotakan terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya ditaklukkan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat secara resmi oleh Ratu Tribhuwana Tunggadewi sebagai Patih Amangkhubumi Majapahit.

Sumpah Amukti Palapa
Pada waktu pengangkatannya, ia mengucapkan Sumpah Palapa, yang berisi bahwa ia akan menikmati palapa atau rempah-rempah (yang diartikan kenikmatan duniawi) jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Berikut Pararaton mencatat sumpahnya.

“Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa.”

Artinya:
Gajah Mada sang Mahapatih tak akan menikmati palapa, berkata Gajah Mada, “Selama aku belum menyatukan Nusantara, aku takkan menikmati palapa. Sebelum aku menaklukkan Pulau Gurun, Pulau Seram, Tanjungpura, Pulau Haru, Pulau Pahang, Dompu, Pulau Bali, Sunda, Palembang dan Tumasik, aku takkan mencicipi palapa.

Walaupun ada sejumlah (atau bahkan banyak) orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (di Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Tamiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Suwarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, Sampit, Kotalingga (Tanjunglingga), Kotawaringin, Sambas, Lawai, Kendawangan, Landak, Samadang, Tirem, Sedu, Brunei, Kalka, Saludung, Solok, Pasir, Barito, Sawaku, Tabalung, Tanjungkutei, dan Malano.

Di zaman pemerintahan Prabu Hayam Wuruk (1350-1389) yang menggantikan Tribhuwana Tunggadewi, Patih Gajah Mada terus mengembangkan penaklukan ke wilayah timur seperti Logajah, Gurun, Sukun, Taliwung, Sapi, Gunungapi, Seram, Hutankadali, Sasak, Bantayan, Luwu, Makassar, Buton, Banggai, Kunir, Galiyan, Salayar, Sumba, Muar (Saparua), Solor, Bima, Wandan (Banda), Ambon, Wanin, Seran, Timor, dan Dompo.

Perang Bubat
Dalam Kidung Sunda diceritakan bahwa Perang Bubat (1357) bermula saat Prabu Hayam Wuruk hendak menikahi Dyah Pitaloka putri Sunda sebagai permaisuri. Lamaran Prabu Hayam Wuruk diterima pihak Kerajaan Sunda, dan rombongan besar Kerajaan Sunda datang ke Majapahit untuk melangsungkan pernikahan agung itu. Gajah Mada yang menginginkan Sunda takluk, memaksa menginginkan Dyah Pitaloka sebagai persembahan pengakuan kekuasaan Majapahit. Akibat penolakan pihak Sunda mengenai hal ini, terjadilah pertempuran tidak seimbang antara pasukan Majapahit dan rombongan Sunda di Bubat yang saat itu menjadi tempat penginapan rombongan Sunda. Dyah Pitaloka bunuh diri setelah ayahanda dan seluruh rombongannya gugur dalam pertempuran. Akibat peristiwa itu, Patih Gajah Mada dinonaktifkan dari jabatannya.

Namun Nagarakretagama tak menceritakan Perang Bubat meski cukup membeberkan mengenai lapangan Bubat. Dikatakan bahwa Hayam Wuruk sangat menghargai Gajah Mada sebagai Mahamantri Agung yang wira, bijaksana, serta setia berbakti kepada negara. Sang raja menganugerahkan dukuh Madakaripura yang berpemandangan indah di Tongas, Probolinggo, kepada Gajah Mada. Terdapat pendapat yang menyatakan bahwa pada 1359, Gajah Mada diangkat kembali sebagai patih; hanya saja ia memerintah dari Madakaripura.

Pengunduran Diri Gajah Mada
Dalam Pararaton disebutkan bahwa setelah peristiwa itu Hayam Wuruk menyelenggarakan upacara besar untuk menghormati orang-orang Sunda yang tewas dalam peristiwa tersebut. Perlu dicatat bahwa pada waktu yang bersamaan sebenarnya Majapahit tengah melakukan eskpedisi ke Dompo (Padompo) yang dipimpin oleh Empu Nala.

Hayam Wuruk, menurut Pararaton, akhirnya menikah dengan sepupunya sendiri, bernama Paduka Sori, anak dari Bhre Wengker, Wijayarajasa. Nama Paduka Sori ini sama dengam tokoh Indudewi dalam Nagarakretagama, yang disebut sebagai adik (dalam hal ini berarti istri) Baginda. Ada pun Raja Wijayarajasa dari Wengker menikah dengan Dyah Wiyah Rajadewi (Bhre Daha), bibi Hayam Wuruk. Tulisan Prapanca tentang perkawinan Dyah Wiyah dengan Bhatara Sri Wijayarajasa diperkuat oleh Piagam O.J.O. LXXXIV.

Pararaton mengemukakan bahwa sehabis Pasunda Bubat, Gajah Mada mengundurkan diri (mukti palapa) sebagai patih amangkubhumi, karena sang Prabu tak menyetujui pandangan politiknya terhadap Sunda. Pemberhentian Gajah Mada ternyata sementara. Pada tahun 1359 ia aktif kembali dalam jabatan semula. Nagarakretagama pupuh 19/2 membeberkan bahwa Empu Mada mendapatkan hadiah tanah, dan di tanah itu dibangun rumah pesanggrahan Madakaripura. Akan tetapi, Gajah Mada tak melanjutkan program politik amukti palapa-nya. Gajah Mada wafat pada tahun 1286 Saka (1364 M).

Setelah Gajah Mada mangkat, Hayam Wuruk memanggil Dewan Pertimbangan Agung Majapahit, yang terdiri dari: ibunda Tribhuwana Tunggadewi, ayahanda Sri Kertawardhana, bibinda Dyah Wiyah Rajadewi, pamanda Sri Wijayarajasa, adinda Bhre Lasem serta suaminya Sri Rajasawardhana, adinda Bhre Pajang dan suaminya Sri Singawardhana. Dewan ini bermaksud mencari pengganti Gajah Mada. Akan tetapi, karena tak ada yang dipandang layak untuk menggantikannya, maka diputuskan bahwa Gajah Mada tak akan diganti.

Atas keputusan dewan tersebut, Dyah Hayam Wuruk pun menjabat sebagai raja sekaligus patih amangkubhumi. Susunan kabinet kementerian mengalami perubahan: Empu Tandi diangkat sebagai wreddha menteri (menteri sepuh); Empu Nala, pahlawan Padompo, diangkat sebagai menteri amancanagara dengan pangkat tumenggung; Pati Dami diangkat sebagai yuwamenteri (menteri muda). Jabatan patih amangkubhūmi baru terisi setelah tiga tahun Gajah Mada wafat, yakni tahun 1367. Gajah Enggon ditunjuk Dyah Hayam Wuruk untuk mengisi jabatan itu.

Akhir Hidup
Disebutkan dalam Nagarakretagama bahwa sekembalinya Hayam Wuruk dari upacara keagamaan di Simping, ia menjumpai bahwa Gajah Mada telah sakit. Gajah Mada disebutkan meninggal dunia pada tahun 1286 Saka atau 1364 Masehi. Hayam Wuruk kemudian memilih enam Mahamantri Agung, untuk selanjutnya membantunya dalam menyelenggarakan segala urusan negara.

Kepustakaan:
Berg, C.C. 1927. Kidung Sunda. Inleiding, tekst, vertaling en aanteekeningen. ‘s Grav., BKI. Memory of Majapahit: Gajah Mada

Mangkudimedja, R.M.. 1979. Serat Pararaton. Alih aksara dan alih bahasa Hardjana HP. Jakarta: Departemen P dan K, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Muljana, Slamet . 2006. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya (terbitan ulang 1979). Yogyakarta: LKiS.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/39/gajah-mada

Sabtu, 20 Maret 2010

Balaputradewa


Nama Balaputradewa disebutkan satu kali di dalam prasasti Balaputra-Jatiningrat yang berasal dari tahun 856 M atau 778 menurut tahun Saka. Selain itu, nama Balaputradewa pun disebut di dalam prasasti Nalanda sebagai salah seorang raja di Swarnadwipa atau Sriwijaya. Balaputradewa merupakan keturunan dari wangsa Sailendra dilihat dari silsilah bahwa Balaputra merupakan anak bungsu dari Samaragrawira (Rakai Warak) dan sekaligus cucu dari Dhanarandra (Rakai Panunggalan) atau yang lebih dikenal dengan gelar Wirawairimathana (pembasmi para perwira). Oleh karena itu, jelas bahwa Balaputra adalah adik dari Samaratungga (Rakai Warak).

Balaputradewa kehilangan haknya untuk memerintah di Bhumi Jawa dikarenakan putera tertua kerajaan adalah Pangeran Samaratungga sehingga Pangeran Samaratungga yang berhak memimpin kerajaan di Bhumi Jawa. Samaratungga mempunyai seorang putri bernama Pramodhawardhani yang kemudian menikah dengan Jatiningrat.

Adapun penyebab Balaputradewa berada di Swarnadwipa adalah akibat dari lepasnya Kamboja dari kekuasaan Samaragrawira. Oleh karena itu, Samaragrawira memutuskan untuk membagi dua kekuasaan yaitu: Samaratungga berkuasa di Jawa dan Balaputradewa berkuasa di Sriwijaya.

Referensi:
Mulyana,Slamet.2006.Sriwijaya hal.228-239.Yogyakarta:LKiS Yogyakarta

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/247/balaputradewa

Aria Wiraraja

Aria Wiraraja atau Banyak Wide adalah tokoh pengatur siasat Raden Wijaya dalam usaha penaklukan Kadiri tahun 1293 dan pendirian Kerajaan Majapahit. Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya mengisahkan Arya Wiraraja semula menjabat sebagai rakryan demung pada masa pemerintahan Kertanagara di Singasari. Namun karena sikapnya menentang politik luar negeri raja, ia pun dipindahkan menjadi Bupati Sumenep.

Wiraraja merasa sakit hati. Ia mengetahui kalau Jayakatwang, Bupati Gelang-Gelang, berniat memberontak. Jayakatwang ingin membalas kekalahan leluhurnya, yaitu Kertajaya raja terakhir Kadiri yang digulingkan oleh Ken Arok pendiri Kerajaan Tumapel (Singasari). Wiraraja pun mengirim surat melalui putranya yang bernama Wirondaya, yang berisi saran supaya Jayakatwang segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singasari sedang berada di luar Jawa. Maka pada tahun 1292, terjadilah serangan pasukan Gelang-Gelang terhadap ibukota Singasari. Kertanagara tewas di istana. Jayakatwang lalu membangun kembali negeri leluhurnya, yaitu Kadiri dan menjadi raja di sana.

Persekutuan Aria Wiraraja dengan Raden Wijaya
Menantu Kertanagara yang bernama Nararya Sanggramawijaya (dikenal Raden Wijaya) mengungsi ke Sumenep, Pulau Madura, meminta perlindungan Aria Wiraraja. Semasa muda, Wiraraja pernah mengabdi pada Narasingamurti, kakek Raden Wijaya. Maka, ia pun bersedia membantu sang pangeran untuk menggulingkan Jayakatwang. Raden Wijaya bersumpah jika ia berhasil merebut kembali takhta mertuanya, maka kekuasaannya akan dibagi dua, yaitu untuk dirinya dan untuk Wiraraja.

Mula-mula Wiraraja menyarankan agar Raden Wijaya pura-pura menyerah ke Kadiri. Atas jaminan darinya, Raden Wijaya dapat diterima dengan baik oleh Jayakatwang. Sebagai bukti takluk, Raden Wijaya siap membuka Hutan Tarik, di sekitar Sidoarjo, menjadi kawasan wisata bagi Jayakatwang yang gemar berburu. Jayakatwang mengabulkannya. Raden Wijaya dibantu orang-orang Madura kiriman Wiraraja membuka hutan tersebut, dan mendirikan desa Majapahit di dalamnya.

Pada tahun 1293 datang tentara Mongol untuk menghukum Kertanagara yang berani menyakiti utusan Kubilai Khan tahun 1289. Raden Wijaya selaku ahli waris Kertanagara siap menyerahkan diri asalkan ia terlebih dahulu dibantu oleh pasukan Mongol untuk memerdekakan diri dari Jayakatwang. Maka bergabunglah pasukan Mongol dan Majapahit menyerbu ibukota Kadiri. Setelah Jayakatwang kalah, pihak Majapahit ganti mengusir pasukan Mongol dari tanah Jawa.

Menurut Kidung Panji Wijayakrama dan Kidung Harsawijaya, pasukan Mongol diundang oleh Wiraraja untuk membantu Raden Wijaya mengalahkan Kadiri, dengan imbalan dua orang putri untuk diperistri Kaisar Mongol Kublai Khan.

Jabatan Aria Wiraraja di Majapahit
Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit yang merdeka tahun 1293. Dari Prasasti Kudadu (1294) diketahui jabatan Aria Wiraraja adalah sebagai pasangguhan dengan gelar Rakryan Mantri Arya Wiraraja Makapramuka. Pada prasasti Penanggungan (1296) nama Wiraraja sudah tidak lagi dijumpai. Penyebabnya ialah pada tahun 1295 salah satu putra Wiraraja yang bernama Ranggalawe melakukan pemberontakan dan menemui kematiannya. Peristiwa itu membuat Wiraraja sakit hati dan mengundurkan diri dari jabatannya. Ia lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah Majapahit. Raden Wijaya mengabulkannya. Wiraraja akhirnya mendapatkan Majapahit sebelah timur dengan ibukota di Lumajang.

Akhir Kemerdekaan Majapahit Timur
Pararaton menyebutkan pada tahun 1316 terjadi “pemberontakan” Nambi di Lumajang terhadap Jayanagara, raja kedua Majapahit. Ketika itu Nambi menjabat sebagai patih amangkubhumi Majapahit.Kidung Sorandaka mengisahkan pemberontakan tersebut terjadi setelah kematian ayah Nambi yang bernama Pranaraja. Sedangkan, Pararaton dan Kidung Harsawijaya menyebut Nambi adalah putra Wiraraja, padahal lebih tepat sebagai adik Wiraraja adn paman Ranggalawe.

Berdasarkan analisis Slamet Muljana dengan menggunakan bukti Prasasti Kudadu dan Prasasti Penanggungan (2006), Wiraraja lebih tepat sebagai ayah Ranggalawe. Tidak diketahui dengan pasti apakah Wiraraja masih hidup pada tahun 1316. Yang jelas, setelah kekalahan Nambi, daerah Lumajang kembali bersatu dengan Majapahit bagian barat. Ini berarti penguasa Majapahit Timur saat itu (entah dikuasai Wiraraja atau penggantinya) bergabung dengan Nambi yang terbunuh oleh serangan pasukan Majapahit Barat.

Kepustakaan
Muljana, Slamet. 2006. Menuju Puncak Kemegahan. Yogyakarta: LKiS.
_____ . 2005. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Yogyakarta: LKiS

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/24/aria-wiraraja