Tampilkan postingan dengan label Sistem Teknologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sistem Teknologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Maret 2010

Kapak Perunggu: Sebuah Peninggalan Kebudayaan Masyarakat Perundagian


Pada masa perundagian kemahiran manusia dalam membuat alat-alat makin berkembang, sebagai akibat dari adanya penggolongan dalam masyarakat berdasarkan keahliannya masing-masing. Adanya masyarakat yang bertugas secara khusus untuk membuat alat-alat. Teknologi pembuat benda-benda semakin meningkat, terutama setelah ditemuakan suatu campuran antara timah dan tembaga menghasilkan logam perunggu. Di Asia Tenggara logam mulai dikenal sejak kira-kira 3000-2000 SM.

Berdasarkan hasil penemuan arkeologi, Indonesia hanya mengenal alat-alat yang terbuat dari perunggu dan besi. Sedangkan untuk perhiasan sudah mengenal bahan dari emas, selain berbahan dasar perunggu. Benda-benda perunggu yang ditemukan di Indonesia memiliki kesamaan denga yang ada di Dongson (Vietnam), baik bentuk maupun pola hiasnya. Hal ini menimbulkan dugaan tentang adanya hubungan budaya yang berkembang di Dongson dengan di Indonesia.

Cara pembuatan
Suatu kemahiran baru pada masa perundagian adalah kemampuan menuang logam. Teknik melebur logam merupakan teknik yang tinggi, karena pengetahuan semacam itu belum dikenal dalam masa sebelumnya. Logam harus dipanaskan hingga mencapai titik lebur, kemudian baru dicetak menjadi bermacam-macam jenis perkakas atau benda lain yang diperlukan. Teknik pembuatan benda perunggu ada dua macam yaitu dengan cetak setangkup (bivalve) dan cetak lilin (a cire perdue).

Cetakan setangkup, yaitu cara menuangkan dengan kita membuat, cetakan dari batu misalnya, yang terdiri dari dua bagian yang dapat di tangkupkan (dikatupkan) seperti kulit tiram. Teknik ini dilakukan untuk benda-benda yang tidak memiliki bagian-bagian yang menonjol. Tuangan untuk semacam ini dapat dipergunakan untuk beberapa kali.

Teknik a cire perdue dipergunakan untuk benda-benda yang berbentuk dengan ada bagian yang menonjol, misalnya arca, kapak perunggu. Caranya yaitu sebagai berikut:
a. Mula-mula dibuat model benda dari lilin yang diinginkan
b. Seluruh model dari lilin itu kemudian dilapisi dengan tanah liat yang tahan api
c. Lapisan tanah liat di bagian atas dibuat semacam corong dan dibagian bawah diberi lubang
d. Seluruh model yang berlapis tanah liat itu dibakar sampai lilin meleleh dan mengalir melalui saluran yang telah dibuat
e. Dari corong tadi dituangkan cairan perunggu
f. Setelah cairan perunggu membeku dan dingin, maka lapisan tanah liat itu padat dan pecah, sehingga kita memperoleh benda cetakan dari perunggu.

Kapak perunggu memiliki macam-macam bentuk dan ukuran. Dilihat dari penggunaannya, maka kapak perunggu dapat berfungsi dua macam yaitu:
1. Sebagai alat upacara atau benda pusaka
2. Sebagai perkakas atau alat untuk bekerja

Secara tipologi, kapak perunggu dapat digolongkan dalam dua golongan, yaitu kapak corong dan kapak upaca. Umumnya kapak perunggu yang terdapat di Indonesia mempunyai semacam corong untuk memasukan kayu tangkai. Oleh karena bentunya menyerupai kaki yang bersepatu, maka dinamakan “kapak sepatu”. Namun lebih tepatnya disebut kapak corong.

Berdasarkan hasil temuan, kapak perunggu ternyata ada yang memiliki hiasan dan ada yang tidak memiliki hiasan. Adapun daerah penemuan dari kapak perunggu adalah Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali, Flores, Pulau Roti, dan Papua dekat danau Sentani.

Kehidupan Sosial Ekonomi
Kebudayaan kapak perunggu berkembang pada zaman perundagian. Pada zaman perundagian manusia tinggal di daerah pegunungan, daerah rendah dan tepi pantai. Pada zaman perundagian kehidupan manusia merupakan peningkatan cara bertahan hidupa manusia dari zaman sebelumnya.

Pada zaman bercocok tanam, manusia sudah tinggal menetap di desa-desa atau perkampungan serta mengatur kehidupannya menurut kebutuhan bersama, yaitu menghasilkan makanan sendiri terutama dari sektor pertanian dan peternakan, tidak lagi menggantugkan kehidupannya dari pemberian alam. Dalam masa bertempat tinggal menetap ini, manusia berdaya upaya untuk meningkatkan kegiatannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Yang terpenting dari peningkatan hidup tersebut antara lain pembuatan benda-benda dari logam seperti kapak perunggu.

Khusus dalam pembuatan alat dari logam diperlukan orang-orang yang terampil, sehingga dalam masa perundagian terdapat kelompok orang yang memiliki keahian khusus, yaitu golongan undagi atau golongan orang-orang yang terampil. Golongan undagi tersebut misalnya dalam pembuatan rumah dari kayu, pembuatan barang-barang gerabah, pembuatan barang dari logam dan sebaganinya.

Walapun pada zaman itu sudah mengenal peralatan dari logam, tetapi karena bahan baku logam dan teknologi pembuatan yang masih terbatas, sehingga peralatan dari dari zaman sebelumnya masih dipergunakan. Hal ini di dasarkan atas penemuan peralatan dari batu di tempat penemuan peninggalan zaman perundagian. Peralatan dari batu kemungkinan masih dipergunakan oleh golongan orang biasa sedangkan peralatan dari logam oleh golongan tertentu, hal ini disebabkan oleh bahan baku dan kemampuan teknologi yang terbatas sehingga peralatan dari logam hanya dipergunakan oleh golongan masyarakat tertentu.

Mengingat bahan baku untuk pembuatan peralatan perunggu masih terbatas, dan tidak terapat di sembarangan tempat, maka barang-barang tersebut harus didatangkan dari daerah lain, hal ini berarti adanya sebuah perdagangan. Adanya perdagangan ini berarti adanya sebuah interaksi budaya.

Peninggalan prasejarah masa perundagian menunjukan kekayaan dan keanekaragaman budaya yang tumbuh dan berkembang pada masa itu. Benda-benda hasil penemuan menunjukan adanya sebuah perkembangan kemahiran dalam pembuatan peralatan hidup.

Kemajuan-kemajuan yang telah dicapai dalam berbagai bidang akhirnya mempengaruhi terhadap kesejahtraan hidup, sehingga berpengaruh terhadap perkembangan jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang sebelumnya bertempat tinggal secara berkelompok telah membentuk sebuah perkampungan. Gabungan dari beberapa perkampungan terdekat akhirnya membentuk sebuah desa. Kebanyakan tempat penemuan yang meninggalkan sisa-sisa kehidupan kelompok manusia tersebut terletak di daerah dekat pantai. Perpindahan penduduk atau pelayaran lebih banyak terjadi pada masa perundagian dari masa sebelumnya. Bentuk mata pencaharian yang berkembang adalah pertanian dalam bentuk perladagangan atau persawahan, nelayan dan perdagangan.

Kehidupan Sosial Budaya
Susunan masyarakat dalam masa perundagian tidak dapat diketahui dengan pasti. Untuk memperoleh gambaran sedikit tentang hasil kehidupan sosial budaya pada masa itu, kita peroleh dari hasil penelitian peninggalan-peninggalan yang berupa kuburan-kuburan yang berasal dari zaman perundagian. Dari kuburan-kuburan tersebut dapat diketahui adanya orang-orang tertentu yang dikuburkan secara upacara khusus. Cara penguburan yang khusus dapat dilihat dari cara penempatan mayat dalam kuburan peti batu, sarkofagus atau tempayan khusus dan sebaginya. Upacara khusus dapat dilihat dari berbagai jenis bekal kubur yang terdapat dalam kuburan-kuburan itu.

Dari penelitian tersebut dapat kita ketahui bahwa ada orang-orang yang dapat diperlakukan khusus setelah mereka meninggal. Dapat diduga bahwa mereka adalah orang-orang yang memiliki kedudukan terkemuka dalam masyarakat. Dari perlakuan khusus terdapat tokoh-tokoh tertentu, maka dalaplah dikatakan bahwa masyarakat pada masa itu telah memiliki norma-norma dalam kehidupan, terutama sikap menghargai kepemimpinan seseorang. Walaupun dapat kita pastikan bahwa masyarakat pada masa itu didasarkan atas gotong royong, namun telah berkembang norma-norma yang mengatur hubungan antara yang dipimpin dan yang memimpin. Norma-norma tersebut tentunya telah tumbuh dan berkembang dalam masa berabad-abad.

Kepercayaan pada masa perundagian di Indonesia sebenarnya tidak berbeda dengan kepercayaan masa bercocok tanam, yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang. Orang beranggapan bahwa roh nenek moyang berpengaruh terhadap perjalanan hidup manusia dan masyarakatnya, karena itu arwah nenek moyang harus selaludiperhatikan dan dihormati dengan mengadakan upacara-upacara dan memberikan sesaji-sesaji. Adanya suatu kepercayaan bahwa orang yang sudah meninggal memerlukan barang-barang seperti semasa hidupnya, maka bagi orang yang terpandang atau mempunyai kedudukan dalam masyarakat, diadakan upacara-upacara penguburan dengan pemberian bekal kubur lengkap. Bekal kubur itu dapt berupa macam-macam barang seperti periuk, benda dari perunggu dan besi, manik-manik dan perhiasan lain serta jenis unggas.

Kehidupan pada masa perundagian diliputi perasaan solidaritas yang tertanam dalam sanubari tiap warga masyarakat sebagai warisan nenek moyang. Sebagai akibat adat kebiasaan dan kepercayaan yang kuat, maka kebebasan individu agak terbatas, karena pelanggaran yang dilakukan dianggap membahayakan masyarakat. Kalau ada orang memiliki kekayaan lebih dari orang lain, kebanyakan ia adalah seorang kepala suku atau mereka adalah orang-orang yang berkedudukan penting dalam masyarakat. Tetapi kekayaan itu pun dipergunakan untuk kepentingan masyarakat. Penguasaan dan pengambilan sumber penghidupan diatur menurut tata tertib dan kebiasaan masyarakat. Pemakaian barang-barang dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari di dasarkan atas sifat magis atas barang-barang tersebut.

Pada masa itu ada kultus kepemimpinan dan pemujaan kepada suatu yang suci di luar diri manusia dan hal ini dikuasai oleh suatu yang lebih tinggi. Dalam masyarakat mulai jelas ada pembedaan golongan-golongan tertentu seperti golongan-golongan pengatur upacara atau berhubungan dengan kepercayaan, golongan petani, golongan pedagang dan para pembuat benda dari logam atau gerabah.

Upacara-upacara bersifat pemujaan ada juga yang berhubungan dengan peranan laut. Sebagai bangsa yang telah lama mengarungi laut, maka dalam masyarakat Indonesia masa perundagian lautpun memegang peranan penting dalam kepercayaan masa itu. Disamping pemujaan leluhur yang telah dilakukan di punden-punden batu berundak, ada pula upacara di laut. Bagaiman bentuk upacara laut pada masa itu, belum bisa diketahui dengan pasti karena belum ditemukan peninggalan-peninggalan yang memberikan petunjuk dengan pasti. Mungkin upacara yang sekarang masih dilakukan oleh para nelayan yang berhubungan dengan laut masih mengandung unsur yang menggambarkan keadaan masa lampau. Misalnya selamatan yang berhubungan dengan pembuatan perahu, sedang laut dan sebagainya.

Kemahiran mengarungi laut telah dimiliki oleh bangsa Indonesia sejak masa prasejarah, dengan demikian pengetahuan mengenai astronomi untuk mengetahui arah pelayaran telah mereka ketahui. Kemudia ini kemudia sangat berguna pada waktu mereka mengembangkan cara bercocok tanam dengan mempergunakan pengetahuan astronomi. Bentuk kepercayaan masa perundagian dapat kita ketahui melalui benda-benda peninggalan yang kita temukan dari masa itu.

Keterangan pertama tentang kapak perunggu diberitakan Ramphius pada awal abad ke-18. Sejak sertengahan abah ke-19 mulai dilakukan pengumpulan dan pencatatan asal-usulnya oleh Koninklijk Bataviaasch Genootschap. Kemudian penelitian ditingkatkan kea rah tipologi dan uraian tentang distribusi dan konsep religious mulai dicoba berdsarkan bentuk dan pola hiasannya.

Secara tipologis kepak perunggu dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu kapak corong (kapak sepatu) dan kapak upacara. Kemudian Heekeren mengklasifikasikan kapak ini menjadi kapak corong, kapak upacara dan tembilang atau tajak. Pembagian ini diperluas lagi oleh Soejono dengan mengadakan penelitian lebih cermat tentang bentuk-bentuk kapak dan membagi kapak perunggu menjadi delapan tipe pokok dengan menentukan daerah persebarannya.

Tipe I atau tipe umum merupakan tipe dasar. Kapak jenis ni lebar dengan penampang lonjong, garis puncak (pangkal0 tangkainya cekung atau kadang-kadang lurus, dan bagian tajaman cembung. Tipe ini terbagi lagi kedalam beberapa macam, yaitu sebagai berikut:

a. Subtipe A
Tangkai panjang, tajaman berbentuk setengah bulatan atau hamper cembung, dan terdapat dalam berbagai ukuran. Yang terbesar ukuran 19,8 x 12,4 x 2,8 cm sedangkan yang kecil berukuran 4,6 x 4,4 x 13 cm. sebuah kapak yang besar dengan hiasan, yang dikenal sebagai “Kapak Makassar” merupakan kapak upacara. Kapak ini sesungguhnya lebih tepat disbeut dengan bejana perunggu karena bentuk dan ukurannya menyerupai bejana perunggu yang ditemukan di Indonesia. Daerah persebaran dari kapak subtipe ini ialah Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Selayar, Bali, Flores, Timor dan Maluku.

b. Subtipe B
Kedua sisi kapak melengkung ke dalam. Tangkai dan mata kapak sama panjang. Tipe ini terdiri dari beberapa ukuran. Yang terbesar 12,6 x 9,2 x 2,4 cm dan yang terkecil 4,6 x 4,3 x 9 cm. kapak-kapak subtipe ini ditemukan di Jawa Barat, Jawa Timur dan Madura.

c.Subtipe C
Tangkai panjang dan cekung dipangkal. Kedua ujung tajam melengkung ke dalam, membentuk lingkaran. Sebuah kapak yang besar disebut “Kapak Sentani” bentuk kapak seperti ini didapatkan di Jawa Barat dan Papua.

Tipe II atau tipe ekor burung seriti mempunyai bentuk tanggai dengan ujung yang membelah seperti ekor seriti. Ujung tajaman biasanya berbentuk cembung atau seperti kipas. Belahan pada ujung tangkai ada yang dalam, dan ada yang dangkal. Kapak-kapak tipe ini ada ygn dihias, ada pula yang tidak memperlihatkan hiasan. Pada kapak perunggu yang ditemukan di Jawa Barat, bagian tangkainya dihias dengan pola topeng yang disamarkan dalam garis-garis, mata atau geometris berupa pola tangga dan lingkaran. Yang terbesar diantara kapak-kapak tipe ini berukuran 24,5 x 13,6 x 5,5 cm dan yang terkecil 5,4 x 4,3 x 3,5 cm. Daerah temuannya adalah Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Bali dan Flores.

Tipe III atau tipe pahat memiliki tangkai yang pada umumnya lebih panjang daripada tajamannya. Bentuk tangkai ini ada yang menyempit dan lurus, ada yang pendek dan lebar. Bentuk tajaman cembuk atau lurus (datar). Kapak yang dari tipe ini berukuran 12,2 x 5,8 x 1,7 cm dan yang terkecil 5,4 x 3,6 x 1,3 cm dan daerah penemuannya adalah di Jawa Barat, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Maluku dan Papua.

Tipe IV atau tipe tembilang berbentuk seperti tembilang zaman sekarang; tangkai pendek, mata kapak gepeng, bagian bahu lurus kea rah sisi-sisinya. Mata kapak berbentuk trapesioda atau setengah lingkaran. Jenis mata kapak dengan bentuk setengah lingkaran rata-rata berukuran 13,5 x 10,8 x 3,5 cm. Yang terbesar dengan jenis mata kapak berbentuk trapesioda adalah 15,7 x 9,6 x 2 cm da yang terkecil 13,4 x 6,5 x 1,6 cm. Kapak-kapak ini ditemukan di Jawa Timur, Bali dan Sulawesi Selatan. Tipe V atau tipe bulan sabit memiliki mata kapak berbentuk bulan sabit, bagian tengahnya lebar yang kemudian menyempit ke kedua sisi, serta sudut-sudut tajamannya membulat. Tangkai lebar di pangkal kemudian menyempit di bagian tajamannya. Pada jenis yang kecil, kedua sudut pangkal tangkainya berakhir sebagai sapu lidi, sedangkan mata kapaknya sangat pipih. Jenis yang besar berukuran 16,5 x 15, 6 x 3,4 cm dan yang terkecil 7,2 x 5,2 x 4,5 cm. Kapak-kapak tipe ini ditemukan di Bali dan Papua.

Tipe VI atau tipe jantung memiliki mata kapak seperti jantung, tangkainya panjang dengan pangkal yang cekung, bagian bahu melengkung, pada ujungnya. Kapak tipe ini ditemukan dalam berbagai ukuran; yang terbesar 39,7 x 16,2 x 1,5 cm dan terkecil 13 x 7,2 x 0,6 cm. Kedua sudut pangkal tangkainya pada jenis yang kecil juga seperti tangkai sapu lidi. Kapak tipe ini hanya ditemukan di Bali.

Tipe VII atau tipe candrasa bertangkai pendek dan melebar pada pangkalnya. Mata kapak tipis dengan kedua ujungnya melebar dan melengkung ke arah dalam. Pelebaran ini tidak sama sehingga membentuk bidang mata yang asimetris. kapak ini sangat besar dan pipih; yang terbesar memiliki lebar tajama 133,7 cm yang terkecil 37 cm. Kapak ini kadang-kadang dihias dengan pola burung berparuh runcing dan kakinya digambarkan mencengkram sebuah kapak tipe candrasa dalam bentuk kecil. Pola-pola geometris berupa pilin, garis-garis, dan tangga menghiasi tangkai candrasa. Kapak dari tipe ini ditemukan di Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Tipe VIII atau tipe kapak Rote berbentuk khusus dan hanya ada tiga buah ditemukan di Rote; sebuh di antaranya musnah dalam kebakaran pada waktu mengikuti pameran di Paris pada tahun 1931. Tangkai kapak yang lengkung serta panjang dituang menjadi satu dengan kapaknya. Keseluruhannya gepeng dan berukuran panjang lebih kurang 90 cm. Puncak (pangkal) tangkai berbentuk cakram, tempat perletakan kapaknya. Cakram ini dihias dengan pola roda atau pusaran. Kapak yang menempel pada cakram ada yang bermata melebar berbentuk kipas, dan ada yang kedua sudut tajamannya melengkung ke dalam hingga seluruh mata kapak membentuk bulatan yang berlubang di kedua belah sisi. Pola hias utama pada mata kapak adalah topeng dengan tutup kepala yang menyerupai kipas. Sebuah fragmen kapak perunggu yang memperlihatkan mata kapak berbentuk bulat dengan pola hias semacam pusaran yang disederhanakan mungkin sekali merupakan bagian dari jenis kapak upacara tipe kapak Rote ini. fragmen tersebut ditemukan di Papua

Sebuah kapak perunggu yang berbentuk khas telah ditemukan di Liang Bua (Flores) pada ekskavasi tahun 1978. Kapak ini berukuran maksimal panjang 8,1 cm, lebar 8 cm dan tebal 0,6 cm, serta tidak bercorong. Sisi kiri dan kanan tangkai kapak melipat ke dalam sehingga membentuk ruang untuk memasukan tangkai kayunya. Tipe kapak ini merupakan bentuk pendahulu dari kapak corong dan sementara ini merupakan satu-satunya temuan di Indonesia. Kapak ini ditemukan sebagai liang kubur di Liang Bua yang diduga berasal dari masa perundagian, berdasarkan temuan-temuan serta lain, yaitu jenis-jenis gerabah dari tipe yang telah maju.

Pada tahun 1971, seorang penduduk dari Desa rai Dewa di Pulau Sabu Barat yang bernama Ama Biddo Padji menemukan sebuah kapak perunggu di Dusun Kabila. Ia menemukan kapak ini ketika sedang menanam ubi di ladangnya. Berdasarkan klasifikasi Soejono, kapak ini dapat digolongkan ke dalam tipe Soedjono, VII. Kapak ini berukuran panjang.....dan lebar bagian tajaman 35 cm. Bagian ini berbentuk oval dan seperti dibagi-bagi ke dalam sejumlah jari-jari. Bagian tengahnya menggambarkan pola topeng. Bagian tengahnya hanya digambarkan seperti duri-duri.

Sebuah kapak perunggu yang memiliki bentuk hampir sama dengan kapak Kabila ditemukan di Pulau Rote. Kapak ini akan diselundupkan melalui Bandara Juanda di Surabaya, tetapi berhasil digagalkan dan diserahkan ke Museum Mpu Tantular Surabaya. Kapak ini berukuran panjang 150 cm dan bagian tajamnnya juga memiliki pola hias topeng.

Kepustakaan
Laporan Jurnalistik Kompas. (2008). Ekspedisi bengawan Solo: laporan jurnalistik Kompas : kehancuran peradaban sungai. Buku Kompas
Moehhadi. (1986). Sejarah Indonesia. Jakarta: Karunia Jakarta Universitas Terbuka
Poesponegoro, M.D. dkk. (2008). Sejarah Nasional Indonesia Jilid I. Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono. (1990). Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 1. Kanisius
Situngkir . (2009) Jenis-jenis Sarkofagus. [Online]. Terdapat di. http://www.pewarta-indonesia.com/nspirasi/Sosial-Budaya/jenis-jenis-sarkofagus.html [13-0-09]
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=1368

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/614

Kapak Persegi: Sebuah Peninggalan Kebudayaan Masyarakat Neolitikum


Peningkatan tarap hidup manusia dalam hal memenuhi kebutuhan hidup selalu bersamaan dengan berkembangnya kemampuan dalam membuat alat-alat yang lebih maju. Peningkatan kemampaun dalam membuat peralatan ini terlihat dari hasil yang ditemukan pada masa bercocok tanam, ternyata lebih maju bila dibanding dengan masa berburu. Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengupam alat-alat batu serta dikenalnya pembuatan gerabah. Tradisi mengupam alat-alat batu telah dikenal luas di kalangan penduduk kepuauan Indonesia. Bukti-bukti peninggalan memperlihatkan tingkat kronologis serta hubungannya dengan daratan Asia Tenggara dan Asia Timur.

Alat-alat yang pada umumnya diasah (diupam) adalah kapak dan kapak batu, yang di beberapa tempat pengupaman juga dilakukan pada mata panah dan mata tombak. Kapak dan kapak batu ditemukan tersebar di seluruh kepulauan dan sering kali dianggap sebagai petunjuk umum tentang masa bercocok tanam di Indonesia.

Penemuan di luar Indonesia
Di luar Indonesia alat semacam ini ditemukan juga di Malaysia, Thailand, Vietnam, Khmer, Cina, Jepang, Taiwan, Filipina, dan Polinesia. Pada umumnya kapak persegi berbentuk memanjang dengan penampang lintang persegi. Seluruh bagiannya diupam halus-halus, kecuali pada bagian pangkalnya sebagai tempat ikatan tangkai. Tajamannya dibuat dengan mengasah bagian ujung permukaan, bagian bawah landai ke arah pinggir ujung permukaan atas. Dengan cara demikian diperoleh bentuk tajaman yang miring seperti terlihat pada tajaman pahat buatan masa kini. Ukuran dan bentuknya bermacam-macam, bergantung pada penggunaannya. Yang terkecil ialah semacam pahat yang berukuran panjang kira-kira 4 cm dan terpanjang kira-kira 25 cm dipergunakan untuk mengerjakan kayu.

Di Indonesia
Peningkatan tarap hidup manusia dalam hal memenuhi kebutuhan hidup selalu bersamaan dengan berkembangnya kemampuan dalam membuat alat-alat yang lebih maju. Peningkatan kemampaun dalam membuat peralatan ini terlihat dari hasil yang ditemukan pada masa bercocok tanam, ternyata lebih maju bila dibanding dengan masa berburu. Masa bercocok tanam di Indonesia dimulai kira-kira bersamaan dengan berkembangnya kemahiran mengupam alat-alat batu serta dikenalnya pembuatan gerabah. Tradisi mengupam alat-alat batu telah dikenal luas di kalangan penduduk kepuauan Indonesia. Bukti-bukti peninggalan memperlihatkan tingkat kronologis serta hubungannya dengan daratan Asia Tenggara dan Asia Timur.

Alat-alat yang pada umumnya diasah (diupam) adalah kapak dan kapak batu, yang di beberapa tempat pengupaman juga dilakukan pada mata panah dan mata tombak. Kapak dan kapak batu ditemukan tersebar di seluruh kepulauan dan sering kali dianggap sebagai petunjuk umum tentang masa bercocok tanam di Indonesia.

Penemuan di luar Indonesia
Di luar Indonesia alat semacam ini ditemukan juga di Malaysia, Thailand, Vietnam, Khmer, Cina, Jepang, Taiwan, Filipina, dan Polinesia. Pada umumnya kapak persegi berbentuk memanjang dengan penampang lintang persegi. Seluruh bagiannya diupam halus-halus, kecuali pada bagian pangkalnya sebagai tempat ikatan tangkai. Tajamannya dibuat dengan mengasah bagian ujung permukaan, bagian bawah landai ke arah pinggir ujung permukaan atas. Dengan cara demikian diperoleh bentuk tajaman yang miring seperti terlihat pada tajaman pahat buatan masa kini. Ukuran dan bentuknya bermacam-macam, bergantung pada penggunaannya. Yang terkecil ialah semacam pahat yang berukuran panjang kira-kira 4 cm dan terpanjang kira-kira 25 cm dipergunakan untuk mengerjakan kayu.

Di Indonesia
Nama kapak persegi itu berasal dari Von Heine Goldern, berdasarkan kepada penampang-alang dari alat-alatnya, yang berupa persegi panjang atau juga berbentuk trapezium. Yang dimaksud dengan kapak persegi itu bukan hanya kapak persegi saja, tetapi banyak lagi alat-alat lainnya dari berbagai ukuran dan berbagai keperluan; yang besar yaitu kapak atau pacul, dan yang kecil yaitu tarah, yang tentunya digunakan untuk mengerjakan kayu. Alat-alat itu semuanya sama bentuknya, agak melengkung sedikit, dan diberi tangkai yang diikat kepada tempat lengkung itu.

Kapak persegi di Indonesia ini terutama ditemukan di wilayah Sumatra, Jawa, Bali, Nusan Tenggara Timur, Maluku, Sulawesi dan di Kalimantan. Bahan yang digunakan untuk membuat kapak persegi kebanyakan menggunakan batu api dan batu Kalcedon. Pembuatan kapak-kapak ini diperkirakan terpusat di beberapa tempat, dari dari sini menyebar ke tempat-tempat lain. Hal ini berdasarkan pada tempat penemuan kapak persegi di beberapa tempat yang tidak memiliki bahan batu api, yang digunakan sebagai bahan pembuatannya, sedangkan di pusat pembuatannya banyak sekali ditemukan kapak persegi yang semunya telah diberi bentuk namun masih kasar atau belum dihaluskan. Hal ini menandakan kalau kapak persegi dihaluskan oleh pemakainya bukan pembuatnya. Adapun perkiraan pusat-pusat dari pembuatan kapak persegi antara lain di dekat Lahat (Palembang), dekat Bogor, Sukabumi, Karawang, Tasikmalaya (Jawa Barat), di daerah Pacitan (Madiun) dan lereng selatan Gunung Ijen (Jawa Timur). Di desa Pasirkuda dekat Bogor bahkan ditemukan sebagai batu asahan.

Tempat Situs Penelitian
Perhatian terhadap kapak dan kapak terupam halus di Indonesia mulai diberikan sekitar tahun 1850 oleh beberapa ahli dari Eropa. Waktu itu, bahan studi hanya berasal dari temuan lepas yang kurang jelas umur atau asalnya. Pengumpulannya diusahakan oleh sebuah perkumpulan swasta (antara 1800-1850) yang bernama Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetwnschappen. Koleksi perkumpulan ini disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Hal tersebut sebenarnya diilhami oleh karangan terkenal G.E. Rumphius yang terbit pada tahun 1705 di Amsterdam, berjudul D Amboinsche Rariteitenkamer. Dalam buku tersebut terdapat bagian yang membicarakan alat-alat batu yang disangka buatan alam. Pendapat ini sama dengan anggapan orang kebanyakan pada waktu itu, dan juga sekarang di antara kalangan penduduk, yang menganggap kapak batu sebagai gigi kilat atau gigi guntur.

Setelah tulisan Rumphius itu, perhatian terhadap benda-benda prasejarah itu lenyap lagi. Berselang kira-kira satu setengah abad lamanya, barulah muncul beberapa pendapat dari C. Swaying dan W. Vrolik (1850), serta C. Leemans (1852). Buku karangan Leemans itu merupakan karya pertama yang menyajikan pemaparan yang baik terhadap alat-alat batu prasejarah di Indonesia. Pada waktu itu ia menjabat sebagai direktur museum barang kuno di Leiden. Karyanya didasarkan atas koleksi benda-benda prasejarah yang dikirimkan dari Indonesia oleh rekannya, Swaying. Hal seperti itu dilakukan juga oleh J.J. van Limburg Brouwer yang hasilnya terbit pada tahun 1872. Lima belas tahun berikutnya (1887), terbit karya C.M. Pleyte yang pada dasamya memberikan ikhtisar tentang zaman batu, terutama tentang kapak persegi dan kapak lonjong di Indonesia dan merintis pemikiran ke arah pelaksanaan klasifikasi dan distribusi jenis benda tersebut. Dasar-dasar pemikiran inilah rupa-rupanya mengilhami karya dua orang sarjana kenamaan P.V. van Stein Callen-fels dan It von Heine Geldern dalam pembahasannya tentang distribusi dan kronologi kapak dan kapak lonjong di Indonesia yang dimulai sejak tahun 1920-an. Sangat disayangkan bahwa usaha-usaha yang berharga dari Pleyte dan para peneliti sebelumnya itu hanya didasarkan pada sumber-sumber yang diperoleh tanpa melakukan penggalian arkeologis, tapi lebih mengandalkan pada temuan-temuan yang nampak di atas permukaan tanah. Selanjutnya, berkembanglah penelitian-penelitian berupa penggalian-penggalian yang intensif berkat jasa Stein Callenfels.

Stein Callenfels mencoba menyusun kronologi alat-alat batu dari masa bercocok tanam, terutama atas dasar tipe-tipe kapak dan kapak persegi. Atas dasar tersebut tercapailah empat tingkat perkembangan. Tiap-tiap tingkat diwakili oleh bentuk-bentuk tertentu. Tingkat yang paling tua mempunyai bentuk yang paling sederhana dan tingkat-tingkat selanjutnya menunjukkan perkembangan yang lebih maju. Tingkat yang paling akhir, menurut pendapatnya, dibawa oleh orang-orang yang menggunakan bahasa Indonesia. Pendapat seperti ini, terutama pendekatan atas dasar tipologi, pada tingkat penelitian dewasa, kurang meyakinkan karena tidak disertai dengan kelengkapan data statigrafi.

Pengetahuan kita tentang masa bercocok tanam di Indonesia sebenarnya sangat terbatas karena data arkeologis belum terungkap secara lengkap. Penelitian berupa ekskavasi-ekskavasi baru dilakukan di beberapa tempat di Jawa dan Sulawesi. Dari tempat-tempat lain, bahannya hanya berupa temuan lepas yang berhasil dikumpulkan dari permukaan tanah pada waktu melakukan survei lapangan atau sebagai hasil pembelian dari penduduk. Pengolahan data menjadi sulit karena konteks asli dengan lapisan tanah yang mengandungnya ataupun hubungannya dengan tingkat budaya lain tidak dapat diikuti dengan tepat.

Penelitian di Sulawesi dilakukan di pinggir Sungai Karama di desa-desa Sikendeng, Minanga Sipakka, dan Kalumpang. Penggalian di Sikendeng (sebuah desa yang terletak beberapa kilometer dari muara) dilakukan oleh A.A. Cense dan Stein Callenfels pada tahun 1933.Hasil penggalian tersebut terdiri dari kapak-kapak persegi dan sejumlah kereweng polos (tak berhias). Selanjutnya, pada tanggal 25 September sampai dengan 17 Oktober 1933, Stein Callenfels meneruskan penelitiannva ke arah lulu Sungai Karama (93 km dari muara) di dekat Desa Kalumpang, di atas bukit kecil Kamasi. Stein Callenfels mencatat temuan berupa beberapa buah kapak persegi terupam halus, kereweng-kereweng polos dan dan ada pula yang berhias dalam jumlah cukup banyak, kapak-kapak setengah jadi (calon kapak), sebuah kapak bahu yang masih kasar, fragmen-fragmen gelang batu, mata panah yang terasah, pisau batu atau bilah-bilah pisau batu bertajaman miring yang menunjukkan persamaan dengan temuan di Tembiling (Malaysia), dan beberapa kapak perimbas.

Karena pentingnya penemuan di Kalumpang itu, HR. van Heekeren melakukan penggalian ulang di tempat yang sama pada tahun 1949 (23 Agustus-September 1949). Penggalian dilakukan pada lereng selatan bukit Kamasi, sedangkan Stein Callenfels melakukan penggaliannya di lereng timur. Dalam laporannya Heekeren mengatakan bahwa tempat tersebut telah hancur keadaannya sebagai akibat dari kegiatan pertanian yang berulang-ulang dilakukan oleh penduduk setempat. Lapisan tanah yang mengandung budaya prasejarah telah bercampur aduk dengan yang lainnya. Di sini ia menemukan tempat perpaduan tradisi kapak persegi dengan tradisi kapak lonjong, tetapi masa perkembangan tiap-tiap tradisi tersebut di Kalumpang belum dapat diketahui dengan pasti karena lapisan budaya yang mewakili kedua tradisi tersebut telah bercampur baur." Selain jenis kapak persegi yang umum, di Kalumpang ditemukan pula jenis kapak berbentuk biola dan kapak batu sederhana. Kapak bentuk umum dibuat dari batuan rijang (chert) berwarna kelabu dan hijau, sedangkan kapak biola dari batu sabak. Ekskavasi Heekeren menghasilkan juga mata panah dan mata tombak yang diasah, calon-calon kapak, sebuah pemukul kulit kayu, dan sebuah bendy lambing phallus dari terakota.

Heekeren juga menemukan sebuah situs lain yang cukup kaya akan penemuan prasejarah di Minanga Sipakka (1 km sebelah barat Kalumpang). Dari guguran tebing Sungai Karama di Minanga Sipakka, ia berhasil menemukan kapak-kapak lonjong, calon-calon kapak, sebuah pukul kulit kayu, dan sejumlah kereweng polos dan berhias. Penemuan ini terjadi ketika ia dalam perjalanan pulang dari Kalumpang. Heekeren menduga bahwa temuan-ternuan di Minanga Sipakka ini berasal dari masa yang lebih tua. Namun ternyata jenis kapak persegi tidak ditemukan di tempat ini.

Guna memperoleh keterangan tentang umur temuan-temuan di Kalumpang, W.F. van Beers telah melakukan penelitian geologi. Atas dasar hasil penelitian itu umur Kalumpang ditaksir amat muda, yaitu 1.000 tahun yang lalu. Heekeren menempatkan kira-kira paling sedikit 600 tahun yang lalu dan dianggap sebagai contoh retardasi budaya sebagai akibat dari sikap sosial yang terisolasi rapat dari dunia luar.

Penggalian di Jawa dilakukan oleh Heekeren terhadap sebuah situs Kendenglembu (Banyuwangi) pada tahun 1941. Tempat ini mula-mula ditemukan oleh W. van Wijland dan J. Buurman dalam tahun 1936. Karena hasil penggalian Heekeren serta catatan-catatannya telah lenyap akibat keadaan kacau ketika perang Dunia II, diputuskan untuk melakukan penggalian pada tahun 1969. Penggalian ulang tersebut dilakukan oleh Lembaga Purbakala dan peninggalan Nasional di bawah pimpinan RP. Soejono."

Penggalian tersebut menghasilkan dua lapisan budaya yang batasnya agak jelas. Lapisan pertama (paling atas) mengandung lapisan historis yang temuannya antara lain terdiri dari uang kepeng, fragmen keramik, gerabah-gerabah berhias (dari masa Majapahit), dan pecahan bata. Lapisan kedua (di bawah lapisan pertama) mengandung kapak persegi, kereweng-kereweng polos berwama merah, sejumlah kapak setengah jadi, batu-batu asahan berhias, dan serpih-serpih batu yang pada urnumnya tidak dapat ditemukan sebagai alat. Benda-benda temuan dari lapisan kedua tersebut memberikan petunjuk tentang perbengkelan dan tempat tinggal masyarakat bercocok tanam.

Penyelidikan selanjutnya berupa penelitian lapangan di beberapa daerah penemuan serta penggalian percobaan. Penggalian percobaan pernah dilakukan di Leles (Kabupaten Garth, Jawa Barat) pada tahun 1968, dan di Kelapadua (Cimanggis, Kabupetan Bogor) pada tahun 1971. Leles tidak banyak menghasilkan kapak. Kapak dari Leles hampir semuanya berasal dari temuan-temuan lepas yang ditemukan pada waktu survei. Umur yang lebih menonjol berupa alat-alat obsidian yang menunjukkan banyak persamaan dengan alat-alat obsidian dari Bandung.


Lokasi temuan kapak persegi di DKI Jaya antara lain: di Kampung Kramat, Kelurahan Cililitan, Kecamatan Kramat Jati; yang diteliti oleh tim Teguh Asmar, Dirman Surachmat, dan Made Sutavasa, pada tahun 1968. Penelitian ini kemudian dilakukan lagi pada tahun 1971, 1977, 1979, 1980, dan 1982. Temuan berupa kereweng, fragmen, kapak, serpih, batu asap, dan kapak persegi berjumlah 4 buah. Situs pejaten, Kelurahan Pejaten Kecamatan Pasar Minggu. Situs ini digali oleh Dinas Museum DKI pada tahun 1973 dan 1974. Hasil temuan berupa kereweng, fragmen dan kapak persegi utuh, fragmen cetakan kapak dari tanah liat yang dibakar, gelang dan cincin perunggu, fragmen alat besi, terak besi, dan bulatan dari tanah liat, fragmen cawan berkaki, batu asahan, dan serpih.

Situs Condet, Kelurahan Balekambang, Kecamatan Kramat Jati, diteliti oleh Dinas Museum DKI tahun 1976, 1977, 1979, dan 1980. Temuan berupa kereweng, batu asahan, serpih, fragmen kapak persegi, fragmen logam,dan bulatan tanah. Tanning Barat, Kelurahan Tanjung Barat, Kecamatan Jagakarsa, diteliti tahun 1983 oleh Dinas Museum DKI. Flash temuan berupa kereweng, serpih batu asahan, cetakan dari tanah liat, terak besi, moluska, dan sisa tulang binatang. Pondok Cina, Kelurahan Pondok Cina, Kecamatan Beji, Depok. Penelitian dilakukan oleh Dinas Museum tahun 1984. Hasil temuan berupa serpih, dari penduduk diperoleh 5 buah kapak persegi.

Tempat penemuan di Klapadua yang terletak di tepi sungai Ciliwung ternyata telah hancur karena erosi dan akibat kegiatan pertanian oleh penduduk. Sisa-sisanya hanya sedikit yang ditemukan dalam ekskavasi. Sebagian besar benda temuan berasal dari permukaan tanah. Walaupun demikian, dapatlah dipastikan bahwa Klapadua pernah didiami manusia. Pecahan kapak ditemukan berserakan di permukaan tanah. Batu-batu asahan dan pecahan gerabah tak berthas ditemukan di permukaan tanah sampai ke tepi sungai. Tempat ini diduga sebagai perbengkelan dan tempat tinggal yang menghasilkan kapak-kapak. Ini yang terjadi di tempat-tempat lain di Jawa Barat, seperti di Purwakarta, Tasikmalaya, dan di sekitar Bogor.

Daerah pantai utara Jawa Barat, yang memanjang dari Tangerang hingga Rengasdengklok juga menghasilkan banyak kapak persegi. Koleksi dari daerah ini umumnya merupakan basil pembelian dari penduduk yang melakukan penggalian liar atau menemukan secara kebetulan ketika mengerjakan sawah, jalan desa, atau kebun.Tempat-tempat temuan di pantai Rengasdengklok terletak di sepanjang daerah aliran sungai Bekasi, Citarum, Ciherang, dan Ciparage. Unsur-unsur dari masa yang lebih muda lebih banyak memperlihatkan pengaruhnya di tempat-tempat tersebut dan kemudian mempengaruhi daerah pedalaman melalui keempat sungai tersebut.

Situs Pasir Angin, Desa Cemplang, Kecamatan Cibungbulan, Kabupaten Bogor diteliti sejak tahun 1971-1975, dan 1991-1995 oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Temuan beragam berupa artefak logam, artefak batu, manik-manik, dan kapak persegi, fauna, arang, dan sebagainya."

Situs Panumbangan, Kecamatan Jampang Tengah, Kabupaten Sukabumi, tahun 1954 Erdbrink pernah melakukan penelitian di wilayah ini dan menemukan panah, serpih, dan bor. Pada tahun 2000 dan 2003 tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional melakukan penelitian di wilayah ini. Hasil temuan berupa serpih, colon kapak persegi, oleh penduduk ditemukan beberapa kapak persegi. Situs Cipari, Kelurahan Cipari, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, diteliti oleh T. Asmar tahun 1972-1978.Hasil temuannya berupa peti kubur batu, artefak logam, gerabah, gelang batu, dan kapak persegi. Situs Limbasari, Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, diteliti oleh Balai Arkeologi Yogyakarta pada tahun 1981-1983. Hasil temuannya berupa kapak persegi, calon kapak persegi, alat serpih, batu pukul, dan batu asah.

Tipar Ponjen, Kelurahan Ponjen, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Purbalingga, diteliti tahun 1984. Hasilnya berupa bahan gelang batu, fragmen gelang batu, fragmen calon kapak persegi, kapak persegi, batu asah, tatal batu, dan batuan." Situs Ngerijangan, Desa Sooka, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, sejak awal abad ke-19 telah diteliti oleh para ahli, antara lain, Koeningswald, Marks, Flathe dan Pfeiffer, Verstappen, Balasz, Sartono, Soejono, Tweedie, Movius, Heekeren, dan Barstra. Penelitian terutama dilakukan di situs Padangan, Ngerijang, Sengon, dan Ngerijangan. Ratusan pecahan rijang sebagai produk buangan pembuatan kapak persegi dan mata panah ditemukan tersebar. Temuan utama dari situs ini adalah kapak persegi, calon kapak, mata panah, calon mata panah, dan serpih.

Bentuk dan jenis
Berbicara mengenai sebuah peralatan, tentunya kita tidak akan terlepas dari yang namanya sebuah bentuk dasar, ada beberapa variasi yang kita kenal dari kapak persegi. Variasi yang paling umum ialah "belincung", yaitu kapak punggung tinggi, karena bentuk punggung tersebut penampang lintang berbentuk segitiga, segi lima, atau setengah lingkaran. Belincung dan kapak pada umumnya dibuat dari jenis batuan setengah permata dan tergolong benda yang terindah dalam perbendaharaan kapak-kapak batu di dunia. Variasi ini biasanya ditemukan di Jawa, Sumatra, Kalimantan, dan Bali. Belincung ditemukan pula di Semenanjung Malaya dan istilah yang digunakan untuk jenis benda ini ialah kapak paruh. Jenis kapak yang berpenampang lintang setengah lingkaran dengan garis dasar lebih kurang cekung itu oleh Heekeren digolongkan sebagai jenis "kapak perisai", karena bentuknya menyerupai perisai lonjong. Jenis kapak ini terutama ditemukan di Jawa dan luar Indonesia. Bentuk semacam ini juga terdapat pula di Polinesia Timur. Variasi-variasi lain telah ditemukan di kepulauan Indonesia sebagai temuan-temuan lepas dan jumlahnya tidak begitu banyak.

Sudah dikatakan bahwa variasi yang paling umum dari kapak persegi adalah kapak yang ditemukan di Jawa, Sumatra, dan Bali. Selain itu, ada pula variasi-variasi lain seperti kapak bahu, kapak tangga, kapak atap, kapak bentuk biola, dan kapak penarah. Bentuk-bentuk variasi ini ditemukan di beberapa daerah saja dan jumlahnya pun sangat terbatas. Tempat-tempat penemuannya terutama di daerah utara dan daerah timur kepulauan Indonesia. Variasi-variasi kapak persegi merupakan instruksi dari luar dan bentuk-bentuknya menunjukkan persamaan dengan bentuk-bentuk di daerah luar Indonesia yang menyebar dari Cina melalui kepulauan-kepulauan di utara Indonesia ke arah Polinesia Timur. Variasi-variasi yang khas tersebut dapat diuraikan sebagai berikut.

Kapak bahu sederhana. Jenis ini khusus ditemukan di Kalumpang. Tangkainya dipersiapkan secara kasar dan tidak rapi, serta tidak sesimetris seperti pada tangkai kapak bahu yang umum tersebar di daratan Asia. Pengupaman dilakukan pada sebagian permukaan alat, terutama pada bagian tajaman. Jenis kapak sederhana ini juga ditemukan di Cina (Sechwan, Kwantung), Jepang, Taiwan, dan Filipina (Botel Tobago).

Kapak tangga hanya beberapa buah ditemukan di Sulawesi, tetapi di luar Indonesia jenis ini tersebar di Cina Selatan, pantai timur daratan Asia Tenggara, Taiwan, dan Filipina. Bagian pangkal pada permukaan alas alat dibuat lebih rendah, seakan-akan merupakan tangga turun setingkat, guna memperkukuh ikatan pada tangkai. Sebuah bentuk lain yang sangat jarang dan juga ditemukan di Sulawesi adalah kapak gigir. Sebuah gigir yang sejajar dengan garis lebar pangkal kapak dibuat di permukaan atas dengan cara memukul-mukul batu sampai tercapai bentuk gigiran tersebut. Variasi semacam ini telah ditemukan di pulau-pulau Taiwan, Hoifu (Hong Kong), Luzon, dan Selandia Baru.

Kapak atap tersebar di Jawa Timur, Bali, dan kepulauan Maluku. Di luar Indonesia jenisnya dijumpai di Polinesia Timur. Alat ini tebal dengan kedua sisi sampingnya miring ke arah permukaan bawah sehingga membentuk penampang lintang berbentuk trapesium.

Kapak biola ditemukan hanya di Kalumpang bersama-sama dengan kapak batu sederhana. Kedua sisi sampingnya cekung sehingga alatnya menyerupai biola. Bentuk penampang lintangnya agak lonjong. Pengupaman dilakukan sekadarnya pada permukaan alat, khususnya pada tajaman. Jenis alat ini terdapat juga di Jepang, Taiwan, dan Botel Tobago.

Kapak penarah. Bentuk alat ini panjang dengan penampang lintang persegi empat yang sisi-sisinya cembung atau penampang lintangnya hampir bundar, tajamannya cekung di bawah. Jenis kapak ini umumnya berukuran besar dan hanya beberapa berukuran kecil. Yang berukuran besar mungkin digunakan untuk menarah batang pohon guna membuat sampan. Alat ini ditemukan di Jawa Timur dan Bali. Jenis alat ini terdapat pula di Selandia Baru dan di Polinesia Timur.

Beberapa variasi lain yang menarik adalah kapak batu yang berbentuk khusus dan kapak persegi yang menerima pengaruh dari bentuk kapak perunggu. Kapak bahu yang berbentuk khusus itu mempunyai gagang yang panjang, bahu cekung, mata kapak yang pendek, dan tajaman yang berpinggiran cembung serta miring. Sebuah dari variasi ini ditemukan di daerah Bogor (Jawa Barat), yang berwarna cokelat kekuningan dan sebuah lain lagi ditemukan di Kalumpang, yang berwarna kehitaman. Kapak yang menerima pengaruh bentuk kapak perunggu memperlihatkan tajaman yang melebar, melebihi ukuran leher kapaknya sendiri. Variasi ini ditemukan terbatas di Jawa Barat (sekitar Tangerang dan Jakarta) dan di Jawa Tengah (Gunung Kidul).

Dari temuan-temuan lepas dapat diketahui persebaran kapak persegi, termasuk bentuk-bentuk variasinya di Sumatra (Bengkulu, Palembang, Lampung), Jawa (Banten, Bogor, Cibadak, Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Pekalongan, Banyumas, Semarang, Kedu, Yogyakarta, Wonogiri, Punung, Surabaya, Madura, Malang, Besuki), Kalimantan, Sulawesi, Bali, Solor, Adonara, Ternate, Maluku, dan Sangihe Talaud. Di antara tempat-tempat tersebut ada yang dapat diperkirakan sebagai bengkel-bengkel kapak persegi seperti di desa Bungamas, Palembang (antara Lahat-Tebing Tinggi), di Karangnunggal (Tasikmalaya), di desa Pasir Kuda (Bogor), di daerah pegunungan Karangbolong dekat Karanganyar (Jawa Tengah), dan di Punung dekat Pacitan (Jawa Timur).

Kalau kita ikuti daerah penemuan kapak-kapak tersebut, dapat dikatakan bahwa jenis-jenis kapak persegi berkembang luas di Kepulauan Indonesia, terutama di daerah kepulauan bagian barat. Suatu hal yang harus kita ingat ialah bahwa kapak-kapak persegi telah dibuat sendiri di beberapa tempat yang daerahnya menyediakan bahan mentah. Punggung kapak pada umumnya memperlihatkan perimping-perimping dan patahan-patahan pada tajaman yang membuktikan penggunaan secara intensif. Kapak-kapak yang ditemukan dalam keadaan utuh diduga mempunyai fungsi magis atau digunakan sebagai benda tukar dalam sistem perdagangan sederhana.

Pemasangan pada tangkai
Apabila pada zaman paleolitikum penggunaan kapak dari batu ini langsung dipenggang dengan menggunakan tangan, tampa menggunakan alat lain. Lain halnya dengan zaman neolitikum, mereka pada masa itu sudah mengenal tangkai sebagai bahan yang digunakan untuk mengikat kapak dan digunakan sebagai pegangan. Cara memasangkan mata kapak pada tangkai ialah dengan memasukkan bendanya langsung dalam lubang yang khusus dibuat pada ujung tangkai atau memasangkan mata kapak pada gagang tambahan yang kemudian diikatkan menyiku pada gagang pokoknya. Pada kedua cara ini, mata kapak dipasangkan vertikal.

Penambahan alat dalam menggunakan kapak dari batu ini merupakan sebuah inovasi yang mampu dikembangkan oleh manusia pada zaman prasejarah. Mereka terus berinovasi untuk menghasilkan yang lebih baik dan efisien, termasuk kenyamanan dalam menggunakannya. Tangkai kapak atau gagang kemungkinan berbahan dasar dari kayu dan sejenisnya. Kayu-kayu tersebut mereka bentuk sedemikian rupa sehingga mudah untuk memasang mata kapak atau kapak persegi dan mudah dalam memegangnya.

Kepustakaan
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Harsrinuksmo, Bambang. 2004. Ensiklopedi Keris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Driwantoro, Dubel, dkk. 2003. "Potensi Tinggalan-Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara". Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia I (Zaman Prasejarah di Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono. 1990. Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius.
Soejono, R.P. (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/564

Kapak Perimbas: Kebudayaan Masyarakat Paleolitikum

Zaman Paleolitikum berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu, manusia pada masa itu harus berjuang untuk kelangsungan hidupnya. Perjuangan adalah sebuah keharusan yang harus ditempuh oleh manusia demi tercapainya sebuah kelangsungan hidupnya. Alam ini bukan musuh yang harus di jauhi, melainkan sebuah tantangan yang harus menjadi kawan dalam hidup ini. Hidup mengembara sebagai pemburu, penangkap ikan, dan pengumpul bahan makanan seperti buah-buahan, umbi-umbian, dan bahan makanan lainnya, menjadi sebuah kebiasaan sehari-hari mereka, berusaha mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya.

Untuk menjawab sebuah tantangan alam dan menjadikanya kawan, tentunya manusia harus terus berinovasi agar tidak kalah cepat dengan perubahan alam. Manusia pada zaman prasejarah khususnya zaman Paleolitikum berusaha melakukan semua itu dengan melakukan berbagai inovasi, terutama dalam hal peralatan hidup. Salah satu peralatan hidup yang berhasil mereka buat, dengan tujuan untuk mempermudah dalam berbagai aktivitas hidupnya, seperti dalam berburu, menangkap ikan, mengumpulkan makanan adalah kapak perimbas.

1. Kemunculan Kapak Perimbas
Peradaban manusia purba terbagi dalam beberapa masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, serta masa perundagian. Setiap masa memiliki ciri khas tersendiri. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba telah mengenal alat-alat berburu seperti kapak perimbas, alat-alat serpih, dan alat-alat tulang. Pada masa bercocok tanam, manusia purba telah mengenal sistem kepercayaan dan telah mampu membuat bangunan besar dari batu (Megalit), berbagai alat dari batu, gerabah, dan perhiasan. Pada masa perundagian, manusia purba telah mengenal kehidupan sosial ekonomi dan mampu menghasilkan berbagai benda dari perunggu.

Selain di Indonesia, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, kapak perimbas ini banyak ditemukan di wilayah luar Indonesia, khususnya kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Kapak perimbas diperkirakan sebuah peralatan awal yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara merampingkan pada suatu permukaan batu untuk memperoleh tajaman. Bentuk alat ini meruncing, dan kulit batu masih melekat pada pangkal alatnya sebagai pemegang. Pada umumnya alat ini dipersiapkan dari sebuah serpihan besar. Bentuk alat ini mendekati bujur sangkar atau persegi empat panjang. Tajamnya dipersiapkan melalui penyerpihan terjal pada permukaan alas menuju pinggiran batu (Poesponegoro, 2008: 96).

Tajam kapak perimbas, yang berbentuk konveks (cembung) atau kadang-kadang lurus, diperoleh melalui pemangkasan pada salah satu sisi pinggiran batu. Kulit batu masih melekat pada bagian besar permukaan batu (Poesponegoro, 2008: 96).

Melihat seluruh penemuan di wilayah Punung, dan dari hasil-hasil penggolongan alat-alat Paleolitik yang tercapai, tampaklah bahwa jenis kapak perimbas menduduki tempat utama di antara alat-alat yang masif. Kapak perimbas budaya Pacitan oleh Heekeren dibagi dalam beberapa jenis atas dasar ciri-ciri pokok yang sudah sebagai landasan penggolongan Movious. Jenis-jenis penggolongan itu adalah:

* Tipe setrika (iron-heater chopper), berciri: panjang menyerupai setrika, berpenampang lantang plano-konveks, dan memperlihatkan penyerpihan yang memancang dan tegas.
* Tipe kura-kura (tortoise ), berciri: beralas membulat dengan permukaan atas yang cembung dan meninggi.
* Tipe serut samping (side scraper), berciri: berbentuk tidak teratur dan tampak gelap, tajamnya dibuat pada sebelah sisi.

2. Persebaran Kapak Perimbas
1. Luar Indonesia
Peralatan prasejarah yang sangat menonjol di Indonesia pada masa Paleolitikum adalah kapak perimbas. Kapak ini merukan jenis kapak yang digenggam dan berbentuk masif. Manusia pendukung dari kapak perimbas ini diduga adalah Pithecanthropus. Bukti-bukti pendukung dari kebudayaan ini ditemukan pula di Cina, yaitu Chou-kou-tien, dan kapak ini ditemukan bersamaan dengan fosil manusia Pithecanthropus pekinensis.

Mengenai persebaran kebudayaan kapak perimbas telah dilakukan penelitian sejak tahun 1397 dan 1398 di Myanmar. Ada pun tempat persebaran kapak perimbas adalah Thailand, Pakistan, Myanmar, Malaysia, Cina, dan Indonesia. Kalau dilihat dari sudut teknologinya, ternyata kapak perimbas yang ditemukan di Indonesia memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di negara-negara lain.

Movius berpendapat bahwa di Asia Tenggara dan Asia Timur berkembang suatu budaya Paleolitik yang berbeda dengan corak yang berkembang di daerah sebelah barat seperti Eropa, Afrika, Asia Barat, dan sebagian India, khususnya mengenai bentuk dan teknik alat-alat batunya. Hasil penemuan menunjukkan kalau teknik pembuatan yang ada di Asia Timur dan Asia Tenggara adalah monofasial, yaitu pengasahan alat-alat batu dilakukan pada salah satu permukaan saja. Kebudayaan kapak perimbas digolongkan sebagai tingkat awal budaya batu di Asia Timur dan masa perkembangannya pada umumnya ditentukan sejak kala Plestosen Tengah, sesuai dengan keadaan geografisnya.

Perimbangan tipe-tipe alat di daerah persebaran Asia Tenggara dan Asia Timur tidak sama. Ada tipe-tipe tertentu yang menonjol daripada tempat lain. Yang menonjol dalam kelompok lokal budaya Paleolitik di Asia Timur dan Asia Tenggara adalah tipe kapak perimbas dan kapak penetak. Begitu pula jenis batuan yang digunakan untuk membuat kapak perimbas berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Misalnya, fosil kayu banyak dipakai di Myanmar, kuarsa di Punjab, Cina, dan Malaysia, sedangkan kapur kersikan dan tufa kersikan banyak dipakai di Indonesia.

2. Di Indonesia
Salah satu ciri khas dari kehidupan prasejarah Indonesia adalah berkesinambungan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Fenomena seperti ini terus berkembang dari mulai zaman kehidupan awal manusia sampai zaman sekarang. Bukti adanya kapak perimbas menunjukkan adanya sebuah kehidupan pada zaman Paleolitikum, zaman yang diperkirakan sebagian bumi masih diselimuti es.

Keberadaan kapak perimbas di Indonesia ternyata memiliki persebaran yang luas dan khusus berkembang di tempat-tempat yang banyak mengandung bahan batuan yang sesuai untuk pembuatan perkakas-perkakas batu. Penelitian mengenai tradisi paleolitik di Indonesia dimulai pada 1935, ketika Koenigsswald menemukan alat-alat batu di daerah Punung (Pacitan), di dasar Kali Baksoko. Alat-alat tersebut bercorak kasar dan sederhana teknik pembuatannya. Koenigswald beranggapan bahwa kebudayaan Paleolitik yang tersebar ada di Pacitan sama dengan kebudayaan yang berkembang di Eropa pada zaman awal Paleolitik. Temuan kapak perimbas di Pacitan ini merupakan sebuah kebudayaan terawal di Indonesia.

Perhatian terhadap kebudayaan kapak batu dari zaman Paleolitik di Indonesia mulai meluas. Dan penemuan-penemuan baru terus terjadi, seperti; Sumatra Selatan (lahat), Lampung (Kalianda), Kalimantan Selatan (Awangbangkal), Sulawesi Selatan (Cabbege), Bali (Sembiran, Trunyan), Sumbawa (Batutring), Flores (Wangka, Maumere, Ruteng), dan Timor (Atambua, Kefanmanu, Noelbaki). Daerah Punung ternyata daerah terkaya akan kapak perimbas sehingga sekarang merupakan tempat penemuan terpenting di Indonesia.

3. Keadaan Manusia Pendukungnya
Kehidupan zaman batu ini telah berlangsung sejak 600.000 tahun yang lalu. Selama kurun waktu tersebut manusia hanya menggunakan alat-alat yang paling dekat dengan lingkungan kehidupan mereka, seperti kayu, bambu, dan batu. Mereka menggunakan batu-batu tersebut untuk berburu maupun untuk membersihkan makanan. Batu-batu tersebut juga mereka gunakan sebagai kapak yang digenggam untuk memotong kayu atau membunuh binatang buruan. Kehidupan manusia pendukung zaman ini masih nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kepindahan mereka bergantung dari tersedianya bahan-bahan makanan terutama binatang buruan. Jadi, inti kegiatan hidup harian manusia pendukung kebudayaan kapak perimbas (zaman Paleolitikum) adalah mengumpulkan bahan makanan untuk dikonsumsi saat itu. Kegiatan seperti itu disebut peradaban food gathering atau pengumpul makanan.

Berdasarkan penemuan fosil manusia purba, jenis manusia purba yang hidup pada zaman Paleolitikum adalah Pithecanthropus erectus, Homo wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, dan Homo soloensis. Fosil ini ditemukan di aliran Sungai Bengawan Solo.

Kepustakaan
Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Daeng, J. Mans. 2005. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djubiantono, T. 1985. "Posisi Stratigrafi Artefak di Lembah Muzoi", dalam PIA III. Jakarta: PuslitArkenas, hal. 1026–1033.
Driwantoro, Dubel. dkk. 2003. "Potensi Tinggalan-Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara”. Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).
Forestier, Hubert. 2007. Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu; Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur. Jakarta: Populer Gramedia.
Poesponegoro, M.D. dkk. 2008. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.
Soejono, R.P. (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Wiradnyana, Ketut, Dominique Guillaud & Hubert Forestier. 2006. “Laporan Penelitian Arkeologi, Situs Arkeologi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara”. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).
Wiradnyana, Ketut & Dominique Guillaud. 2007. “Laporan Penelitian Etno-Arkeologi, Situs Arkeologi di Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara”. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/552

Kapak Lonjong: Sebuah Kebudayaan Masyarakat Neolitikum


Paleolitikum, hal ini bisa dikatakan lebih baik karena hasil peralatan yang ditemukan pada zaman ini lebih maju. Zaman Neolitikum menghasilkan beberapa kebudayaan yang salah satunya adalah kebudayaan kapak lonjong. Kapak lonjong ini dikatakan jauh lebih maju apabila dibandingkan dengan kebudayaan zaman Paleolitikum, yaitu kebudayaan kapak genggam dan kapak perimbas.

Tradisi kapak lonjong dapat diduga lebih tua daripada tradisi beliung persegi. Bukti-bukti stratigrafis telah ditunjukkan oleh T. Harrison dalam ekskavasi yang dilakukan di Gua Niah, Serawak, dan menurut pertanggalan C-I4 yang diperolehnya, kapak lonjong ditemukan dalam lapisan tanah yang berumur ± 8.000 SM.

Kapak ini bentuk umumnya lonjong dengan pangkal agak runcing dan melebar pada bagian tajaman. Bagian tajaman diasah dari dua arah dan menghasilkan bentuk tajaman yang simetris. Di sinilah bedanya dengan beliung persegi yang tidak pernah memiliki tajaman simetris (setangkup). Bentuk penampang lintangnya seperti lensa, lonjong, atau kebulat-bulatan.

Bahan dan Pembuatannya
Perkembanga pembuatan alat-alat terus mengalami perubahan dari satu zaman ke zaman berikutnya, tidak terkeculai bahan baku yang digunakan untuk menggunakan alat-alat tersebut. Pada zaman prasejarah bahan-bahan yang dipakai untuk membuat kapak lonjong pada umumnya batu kali yang berwarna kehitaman, seperti kapak-kapak batu yang sampai sekarang masih digunakan di Papua. Bahan yang terdapat di kali atau dari batu kali ini cukup memudahkan mereka untuk mengembangkan peralatan kapak lonjong, sebab bahan-bahannya sudah ada di lingkungan tempat mereka tinggal dan tidak perlu terlalu kerja keras untuk mendapatkan bahan tersebut. Kapak juga dibuat dari jenis nefrit berwarna hijau tua. Calon kapak atau bahan baku yang diperoleh melalui penyerpihan segumpal batu atau langsung dari kerakal yang sudah sesuai bentuknya, diupam halus setelah permukaan batu diratakan dengan teknik pukulan beruntun. Selain menghasilkan kapak lonjong yang berukuran besar atau kapak lonjong untuk pekakas, mereka juga ternyata menghasilkan kapak lonjong kecil berukuran kecil yang diperkirakan berguna sebagai benda wasiat atau benda pusaka yang mengandung unsur magis. Kapak yang berukuran kecil ini tidak digunakan sebagai pekakas atau senjata.

Pemasangan Tangkai
Apabila pada zaman Paleolitikum penggunaan kapak dari batu ini langsung dipenggang dengan menggunakan tangan, tampa menggunakan alat bantu lain, lain halnya dengan zaman Neolitikum. Mereka pada masa itu sudah mengenal tangkai sebagai bahan yang digunakan untuk mengikat kapak dan digunakan sebagai pegangan. Cara memasangkan mata kapak pada tangkai ialah dengan memasukkan bendanya langsung dalam lubang yang khusus dibuat pada ujung tangkai atau memasangkan mata kapak pada gagang tambahan yang kemudian diikatkan menyiku pada gagang pokoknya. Pada kedua cara ini, mata kapak dipasangkan vertikal.

Penambahan alat dalam menggunakan kapak dari batu ini merupakan sebuah inovasi yang mampu dikembangkan oleh manusia pada zaman prasejarah. Mereka terus berinovasi untuk menghasilkan yang lebih baik dan efisien, termasuk kenyamanan dalam menggunakannya. Tangkai kapak atau gagang kemungkinan berbahan dasar dari kayu dan sejenisnya. Kayu-kayu tersebut mereka bentuk sedemikian rupa sehingga mudah untuk memasang mata kapak atau kapak lonjong dan mudah dalam memegangnya.

Persebaran di Indonesia
Daerah penemuan kapak lonjong di Indonesia, hanya terbatas di daerah bagian timur, yaitu Sulawesi, Sangihe Talaud, Flores, Maluku, Leh, Tanimbar, dan Papua. Di Serawak, yaitu di Gua Niah, kapak lonjong juga ditemukan. Dari tempat-tempat yang disebutkan itu, hanya sedikit yang diperoleh dari penggalian arkeologi, kecuali dari Serawak dan Kalumpang di Sulawesi Tengah. Suatu hal yang agak menyulitkan tentang penelitian kepurbakalaan kapak lonjong ini adalah karena alat semacam ini masih dibuat di pedalaman Pulau Papua. Tidaklah mustahil temuan-temuan lepas di beberapa tempat di bagian timur Indonesia itu adalah hasil pengaruh dari Papua yang mencapai tempat-tempat tersebut pada waktu yang tidak begitu tua.

Harus pula kita ingat bahwa dugaan-dugaan mengenai kapak lonjong itu dapat bermacam-macam serta berbeda sebelum pembuktian ekskavasi arkeologis di beberapa tempat seperti di Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua ditingkatkan.

Persebaran di luar Indonesia
Di luar Indonesia, kapak lonjong ditemukan tersebar luas meliputi Myanmar, Cina, Manchuria, Taiwan, Jepang, Filipina, dan juga di India. Di India unsur kapak lonjong ini sering dihubungkan dengan orang-orang Dravida sebagai pendukungnya. Di Kepulauan Mikronesia dan Melanesia kapak bulat juga ditemukan. Atas dasar tempat-tempat penemuan tersebut, agaknya jalan persebaran kapak lonjong itu dapat diikuti dan ternyata pernah melintasi bagian utara dan timur Kepulauan Indonesia dan seterusnya bertahan dengan kuat dalam waktu yang lama di Pulau Irian atau Papua.

Di Cina dan Jepang tradisi kapak lonjong berkembang pada masa bercocok tanam awal, sedangkan data pertanggalan dari Kafiavana (pedalaman Papua New Guinea) memberi petunjuk waktu sepuluh ribu tahun. Sampai saat ini Indonesia belum mendapatkan pertanggalan yang pasti tentang perkembangan tradisi kapak lonjong. Dari Gua Niah (Serawak) kita mendapatkan umur ± 3.000 tahun. Di bawah lapisan yang mengandung kapak lonjong di Niah, ditemukan lapisan yang diperkirakan mengandung alat-alat yang menunjukkan bentuk peralihan antara bentuk kapak Sumatra (Sumatralith) dan tradisi kapak lonjong.

Kehidupan
Penelitian arkeologi dan paleoantropologi sampai saat ini belum berbasil mengungkapkan kembali pendukung-pendukung tradisi kapak lonjong. Para pendukung kapak lonjong yang belum jelas ini juga mengenal cara pembuatan gerabah dengan teknik pilin serta hidup dari umbi-umbian, terutama keladi. Mereka sudah menjinakkan hewan-hewan, misalnya, babi, anjing, dan unggas. Jenis-jenis hewan ini dikirakan berasal dari Asia Tenggara. Jenis-jenis padi belum mereka kenal. Selain keladi, mungkin pula telah dikenal pohon rumbia atau Metroxilon yang menghasilkan sagu.

Kepustakaan
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Harsrinuksmo, Bambang . 2004. Ensiklopedi Keris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia I (Zaman Prasejarah di Indonesia). Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono. 1990. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Yogyakarta: Kanisius.
Soejono, R.P. (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/566

Kapak Genggam: Sebuah Kebudayaan Masyarakat Paleolitikum

Apa yang ada di alam mereka manfaatkan untuk tetap bertahan hidup, termasuk menciptakan berbagai peralatan dari batu seperti sejenis kapak untuk digenggam. Banyaknya penemuan peralatan berbahan dasar batu, seperti jenis kapak genggam, kapak perimbas, pahat genggam, dan serut, menjadi bukti tentang adanya sebuah kehidupan pada beberapa ribu tahun yang lalu di Indonesia, tepatnya pada zaman Paleolitikum.

Manusia purba di zaman Paleolitikum pada mulanya menggunakan berbagai peralatan dari batu termasuk kapak genggam sebagai alat yang dipakai untuk menumbuk biji-bijian, membuat serat-serat dari pepohonan yang digunakan sebagai pakaian, membunuh binatang buruan, atau sebagai senjata menyerang lawannya. Batu-batu tersebut disebut kapak genggam, karena digunukan dengan cara menggenggam yang mirip dengan kapak tetapi tidak bertangkai, yang kemudian sering disebut dengan kapak genggam, chopper (alat penetak), atau kapak perimbas. Alat ini merupakan sebuah simbol dari keberadaan mereka, baik dari segi pengetahuannya maupun dari segi tingkat peradabanya.

Kapak jenis ini pernah ditemukan oleh Von Koeningswald pada 1935 di Pacitan, Jawa Timur. Hasil penyelidikan menunjukkan kapak jenis ini berasal dari lapisan Trinil, yaitu pada masa Pleistosen Tengah, sehingga disimpulkan pendukung kebudayaan kapak genggam adalah manusia Pithecanthropus erectus. Penemuan serupa juga terdapat di Peking (Tiongkok) pada goa-goa di Choukoutien, serta sejumlah fosil yang mirip Pithecantropus erectus, yang disebut dengan Sinanthropus pekinensis, di mana alat-alat bantu yang ditemukan mirip dengan alat-alat di Pacitan (Soekmono,1973: 32).

Penemuan alat yang sama atau mirip di Indonesia dan di Tiongkok ini menandakan bahwa kebudayaan yang berkembang di Indonesia pada zaman prasejarah berkembang juga di Tiongkok. Semua data ini menunjukkan kebudayaan Indonesia pada zaman prasejarah (zaman Paleolitikum) sejajar dengan kebudayaan dunia.

1. Persebaran Kapak Genggam
Alat-alat batu pada zaman Batu Tua, baik bentuk atau permukaannya, ternyata masih kasar, misalnya kapak genggam. Kapak genggam semacam ini terdapat juga di wilayah Eropa, Afrika, Asia Tengah, sampai Punjab di India, tapi kapak genggam semacam ini tidak kita temukan di daerah Asia Tenggara. Berdasarkan penelitian para ahli prasejarah, ternyata kebudayaan batu ini menyebar di Cina Selatan, Semenanjung Malaka, Sumatra, Jawa. Kalimantan Barat, Nusa Tenggara, Flores, Sulawesi, sampai Filipina.

Kapak genggam merupakan jenis alat kedua yang tergolong penting pada Budaya Pacitan. Yang menarik perhatian adalah bahwa jenis kapak genggam, yang merupakan unsur pokok kebudayaan Paleolitik di luar Asia Tenggara dan Asia Timur, ditemukan pula di daerah Punung, bahkan menduduki tempat ketiga dalam jumlah urutan alat-alat masif Budaya Pacitan.

Kapak-kapak genggam di daerah Punung ditemukan di undak-undak sungai tertinggi Kali Baksoko sampai di dasar-dasar sungai di tempat-tempat penemuan lainnya. Kehadiran kapak genggam dalam jumlah yang mencolok, di antaranya terdapat bentuk-bentuk yang maju, merupakan salah satu sifat yang khas bagi kebudayaan Pacitan. Kelompok-kelompok lain di lingkungan budaya kapak perimbas Asia Tenggara dan Asia Timur yang menghasilkan kapak genggam sederhana ialah Budaya Soan dan Tampan.

Budaya Pacitan pada hakikatnya meliputi dua macam tradisi alat-alat batu, yaitu tradisi batu inti dan tradisi serpih. Tradisi batu inti menghasilkan alat-alat dari pemangkasan segumpal batu atau kerakal, dan tradisi serpih yang menyimpan alat-alat dari serpih-serpih atau pecahan-pecahan batu. Mengingat bentuk-bentuk alat yang serupa di tempat-tempat penemuan yang tersebar di Punung, Pacitan, pada berbagai tingkat, timbullah persangkaan bahwa Budaya Pacitan ini bersifat statis dalam perkembangannya dan tidak mengalami kemajuan yang signifikan. Dibanding dengan kelompok-kelompok lokal budaya batu lain di Asia Tenggara dan Asia Timur, Budaya Pacitan termasuk yang paling maju, terbukti dengan adanya kapak-kapak genggam yang bentuknya sudah maju, dan jenis kapak primbas yang khas.

Di Indonesia, kebudayaan Paleolitikum banyak ditemukan di Desa Ngandong dan Pacitan, Jawa Timur. Para ahli purbakala pun sepakat membaginya ke dalam kebudayaan Ngandong dan Pacitan. Pada awalnya, mayoritas kapak genggam ditemukan di permukaan bumi sehingga tidak diketahui pasti berasal dari lapisan tanah yang mana. Namun hasil penelitian pada 1990-2000 di Pegunungan Seribu atau Sewu dengan cara penggalian atau ekskavasi yang dilakukan oleh tim Indonesia-Prancis memastikan bahwa kapak genggam digunakan oleh manusia jenis Homo erectus. Daerah penemuan kapak genggam selain di Punung (Pacitan) Jawa Timur juga ditemukan di daerah Jampang Kulon, Parigi (Jawa Timur), Tambang Sawah, Lahat, dan Kal iAnda (Sumatra), Awangbangkal (Kalimantan), Cabenge (Sulawesi), Sembiran dan Terunyan (Bali).

Di daerah Ngandong ditemukan juga alat-alat dari tulang yang bentuknya mirip belati dan ujung atau mata tombak yang bergerigi pada sisi-sisinya. Ada pun fungsinya untuk mengorek ubi atau keladi di dalam tanah serta buat menangkap ikan. Alat-alat dari tulang ini juga masuk ke dalam kebudayaan Paleolitikum dari Ngandong. Juga ditemukan alat-alat lain berupa serpihan-serpihan (flakes), yang terbuat dari batu-batu biasa dan juga dari batu bewarna atau caldeson. Berbeda dengan kapak genggam, flakes berukuran lebih kecil dan tajam, terutama terdapat di sekitar Sangiran, Pacitan, Gombong, Parigi, Jampang Kulon, Ngandong (Jawa), Lahat (Sumatra), Batturing (Sumbawa), Cabenge (Sulawesi), serta Wangka, Soa, Mangeruda (Flores). Contoh flakes bisa dilihat pada gambar paling bawah. Flakes berfungsi untuk menguliti hewan buruan, mengiris daging, atau memotong umbi-umbian. Jadi fungsinya mirip dengan pisau sekarang.

2. Pembuatan Kapak Genggam
Kapak genggam dibuat dari gamping kersikan dan berbentuk lonjong. Pemangkasan dilakukan memanjang ke arah ujungnya yang meruncing, meliputi hampir seluruh permukaan batu dengan meninggalkan sebagian kecil kulit batu pada sebuah sisi permukaan. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara memangkas salah satu sisi batu sampai menajam, dan membiarkan sisi yang lainnya apa adanya sebagai tempat memegang.

Pada umumnya kapak gengam dipahat kasar secara memanjang, yaitu suatu teknik yang umum pada budaya kapak perimbas, tetapi ada juga beberapa buah yang diserpih dengan teliti dan dibentuk teratur (lonjong, bundar). Bentuk-bentuk yang khusus ini ditemukan baik di lembah Baksoko maupun di daerah Tabuhan, dan dapat digolongkan sebagai contoh-contoh yang mirip dengan alat-alat tingkat Acheulean Awal, suatu tingkat budaya Paleolitik di Eropa dan Afrika yang sudah mulai maju. Kesamaan antara kebudayaan Paleolitik di Indonesia dengan kebudayaan di Afrika dan Eropa menunjukkan kalau ternyata kebudayaan kita menempati posisi yang sederajat dengan mereka.

Pembuatan dengan cara seperti ini, mereka pelajari dari alam dan pengalaman hidup. Setelah menemukan alat-alat seperti ini, mereka terus berusaha untuk mengembangkannya dengan tujuan mendapatkan yang lebih baik. Hal ini terbukti dengan banyak temuan yang lebih baik dari kapak ganggam dalam beberapa tahun berikutnya. Kapak genggam termasuk ke dalam awal kebudayaan manusia dalam menciptakan peralatan hidup.

3. Manusia Pendukung Kapak Genggam
Seperti telah disinggung di atas, kebudayaan kapak genggam merupakan hasil dari zaman Batu Tua atau Paleolitikum, di mana salah satu manusia pendukungnya adalah Pithecanthropus erectus. Mereka hidup secara berkelompok dan tinggal secara berpindah-pindah. Hidup berpindah-pindah mereka lakukan dengan tujuan untuk mencari dan mengumpulkan makanan, karena mereka belum menemukan teknik bercocok tanam.

Alam merupakan tempat mereka untuk hidup dan mencari makan. Semua itu mereka lakukan demi kelangsungan hidupnya dalam kelompok. Kelompok-kelompok ini mereka bentuk dari keluarga. Pada masa itu mereka melakukan belajar dari alam dan dari orang yang lebih tua. Anak laki-laki yang dianggap sudah cukup usia biasanya dibawa berburu, dengan tujuan memperkenalkan pengetahuan berburu; dengan begitu apabila sudah besar dia bisa berburu sendiri. Belajar dari alam belajar secara langsung (praktik di lapangan) menjadi pendidikan utama pada masa itu.

Kepustakaan

Buku
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Daeng.J, Mans. 2005. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djubiantono, T. 1985. "Posisi Stratigrafi Artefak di Lembah Muzoi", dalam PIA III. Jakarta: Puslit Arkenas.
Driwantoro, Dubel, dkk. 2003. "Potensi Tinggalan-Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara". Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).
Forestier, Hubert. 2007. Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu; Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur. Jakarta: Populer Gramedia.
Poesponegoro, M.D., dkk. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid I. Jakarta: Balai Pustaka.
Wiradnyana, K., Nenggih S. & Lucas. P. K. 2002. "Gua Togi Ndrawa, Hunian Mesolitik di Pulau Nias", dalam Berita Penelitian Arkeologi No. 8. Medan: Balai Arkeologi Medan.
Wiradnyana, Ketut, Dominique Guillaud & Hubert Forestier. 2006."Laporan Penelitian Arkeologi, Situs Arkeologi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara". Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).
Wiradnyana, Ketut & Dominique Guillaud. 2007. "Laporan Penelitian Etno-Arkeologi, Situs Arkeologi di Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara." Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).

Internet
Ablteam. 2007. "Museum Bali, the Pre-historical Period". [Online] http://blog.baliwww.com/guides/349. Diakses 14-11-09.
Oka, Ketut. 2009. "Masa Berburu (Kebudayaan Kapak Genggam)." [Online] http://balebanjar.com/site/index.php?option=com_content&view=article&id
=49:masa-berburu-kebudayaan-kapak-genggam-&catid=37:prasejarah&Itemid=37. Diakses pada tanggal 14-11-09.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/551

Senin, 29 Maret 2010

Gerabah: Peninggalan Kebudayaan Masyarakat Prasejarah


Gerabah merupakan perkakas yang terbuat dari tanah liat atau lempung yang dibentuk kemudian dibakar untuk dijadikan alat- alat yang berguna membantu kehidupan manusia--biasanya berbentuk wadah. Untuk memenuhi kebutuhannya maka gerabah ini dibuat dalam berbagai macam. Ada pun macam-macam gerabah adalah celengan, kendi, tempayan, dan gerabah hiasan.

Gerabah telah dikenal di nusantara sejak zaman prasejarah. Gerabah ini digunakan sebagai alat rumah tangga dan sebagai bagian mas kawin pada upacara pernikahan. Untuk mendapatkan gerabah yang menarik, maka salah satu yang dilakukan oleh pembuat gerabah adalah dengan memberikan motif hias pada gerabah. Pada gerabah yang digunakan untuk kepentingan rumah tangga biasanya bermotif sederhana atau polos, sedangkan gerabah-gerabah untuk kepentingan lain tentunya memerlukan motif yang lebih baik, sebagai contoh motif hias untuk gerabah pernikahan ternyata ditentukan oleh martabat pengantin, semakin tinggi martabatnya maka hiasan pada gerabahnya pun semakin banyak dan sulit. Untuk membuat gerabah tentunya memerlukan bahan-bahan yang bisa digunakan. Alat dan bahan yang dapat digunakan untuk membuat gerabah adalah berbagai jenis yang tersedia di alam seperti tanah liat, kayu, bambu dan rotan.

Penemuan gerabah merupakan suatu bukti adanya kemampuan manusia dalam menciptakan teknologi bagi pembuatan gerabah itu sendiri. Hal ini dikarenakan fungsi gerabah di antaranya sebagai tempat menyimpan makanan. Dalam perkembangan berikutnya gerabah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan, tetapi beraneka ragam, bahkan menjadi salah satu barang yang memiliki nilai tinggi.

Cara Pembuatan gerabah
Pembuatan gerabah ternyata berkembang dari mulai yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks, dalam bentuk yang sederhana dibuat dengan menggunakan tangan, bahkan yang digunakan berupa campuran tanah liat dan langsung diberi bentuk dengan menggunakan tangan. Teknik pembuatan gerabah semakin berkembang, pencetakan menggunakan dengan menggunakan teknik cetak untuk jumlah masal dalam perkembangan ini, pencetakan telah memiliki nilai seni, sisi gerabah sudah mulai dihias dengan menggunakan warna.

Penemuan Gerabah
Berdasarkan hasil penyelidikan arkeologi, membuktikan bahwa benda gerabah mulai di kenal pada masa bercocok tanam. Bukti-bukti tersebut berasal dari Kadenglebu (Banyuwangi), Kalapadua (Bogor), Serpong (Tangerang), Kalumpang dan Minanga Sepakka (Sulawesi), sekitar bekas Danau Bandung, Timur Leste, dan Poso (Minahasa). Dari temuan-temuan tersebut dapat kita simpulkan bahwa teknik pembuatan gerabah dari masa bercocok tanam masih sederhana. Segala sesuatunya dikerjakan dengan tangan, sedangkan penggunaan tatap batu dan roda pemutar pada umumnya dikenal masa perundagian pada tingkat permulaan, ini belum banyak bukti-buktinya kecuali beberapa temuan dari Tangerang dan di sekitar Danau Bandung. Temuan yang berasal dari kedua tempat yang disebut terakhir ini akan mendekati sebuah hipotesis yang mungkin dapat berlaku di kalangan kelompok-kelompok masyarakat bertani di Indonesia yang cendrung untuk menggabungkan teknik tatap batu dengan teknik tangan pada tingkat permulaan. Selanjutnya barulah berkembang pemakaian roda pemutar yang sederhana.

Perlu dicatat bahwa teknik pembuatan gerabah juga dikenal di Daratan Asia Tenggara lainnya, misalnya Malaysia, Muang Thai, Cina, Taiwan, dan Jepang. Perkebangan gerabah di tempat-tempat tersebut diperkirakan sejaman dengan perkembangan gerabah yang ada di Indonesia.

Tempat-tempat Penemuan Gerabah
a. Kadenglembu (Jawa Timur)
Penelitian terhadap situs Kadenglembu dilakukan oleh Heekeren pada tahun 1941 dan Soejono pada tahun 1969 menemukan sejumlah kereweng tidak berhias, di antaranya ada yang memperlihatkan warna merah yang dipoleskan pada permukaan luarnya. Dalam lapisan yang mengandung kereweng ini ditemukan sejumlah fragmen beliung setengah jadi, batu asahan berfaset dan sejumlah besar pecahan batu. Di atas lapisan ini terdapat lapisan yang lebih muda yang mengandung beberapa pecahan porselin, beberapa uang kepeng, dan pecahan bata.

Bentuk gerabah yang ditemukan di Kedenglembu ini masih sederhana, karena sebagian besar temuan berupa fragmen tepian dan badan dari periuk yang pada umumnya bentuknya membulat. Periuk dengan bada bergigir sangat jarang dijumpai. Dari data yang terkumpul, dapat kita ketahui tentang bentuk-bentuk periuk yang umumnya kebulat-bulatan dengan tepian melipat ke luar. Dari bentuk semacam itu dapat pula kita duga bahwa gerabah seperti itu dibuat oleh kelompok masyarakat petani yang selalu terikat dalam hubungan sosial-ekonomi dan kegiatan ritual. Sifat-sifat individual tidak dapat berkembang pada pembuatan gerabah di Kadenglembu.

b. Jawa Barat
Situs penemuan Kalapadua terletak di atas daratan di tebing kanan Sungai Ciliwung. Sebagian gerabah yang ditemukan di tempat ini berada di permukaan tanah, hal kemungkinan di akibat oleh erosi dan kegiatan pertanian penduduk setempat.

Dari daerah Kalapadua, ditemukan gerabah yang lebih banyak daripada yang ditemukan di Kadenglembu. Dari hasil pengkajian ternyata gerabah yang ditemukan di Kalapadua lebih baik dalam pembuatannya, akan tetapi memiliki kekurangan dalam hal pembakaran, dimana pembakarannya kurang sempurna sehingga mengakibatkan gerabah yang ada di Klapadua tidak bisa bertahan lama. Gerabah ditemukan dalam keadaan rapuh dan mudah pecah. Hampir sebagian gerabah yang ditemukan di Klapadua telah terkikis sehingga mengakibatkan pola hias yang pasti tidak bisa diketahui.

Dari hasil penemuan kita dapat memperkirakan bahwa kebudayaan yang berkembang di Kalapadua berasal dari masa bercocok tanam. Hal ini diperkuat oleh beberapa temuan lain yang berkaitan dengan masa bercocok tanam, seperti; pecahan beliung, batu asahan, gelang dan alat-alat logam.

Ditinjau dari hasil penemuan yang ada di Klapadua, dapat diperkirakan kalu daerah ini pernah menjadi tempat tinggal masyarakat yang menghasilkan kebudayaan kapak persegi. Dari hasil temuan dapat diketahui bahwa gerabah yang dibuat di tempat itu berupa; periuk, cawan, dan pedupaan (cawan berkaki).

a. Periuk
Temuan-temuan gerabah pada umumnya fragmentaris itu, kita kenal dua macam jenis periuk yang memiliki tepian melekuk dan melipat keluar.
• Bentuk badan yang kebulat-bulatan,
• Jenis periuk dengan bergigir
Setelah di kumpulkan ternyata bentuk periuk ke bulat-bulatan ditemukan lebih banyak dari bentuk yang bergigir. Kedua jenis periuk ini tidak di hias serta mempunyai alas cekung.

b. Cawan
Setelah di kumpulkan dan dikategorikan ternyata jenis cawan ada tiga macam, yaitu:
• Cawan beralas bulat dengan tepian langsung yang agak melengkung ke dalam.
• Cawan beralas rata dengan tepian langsung
• Cawan yang sama dengan yang pertama namun perbedaannya terletak pada diberi kaki sehingga bentuknya seperti pedupaan.

Ketiga jenis cawan tersebut tidak memiliki hias. Yang menarik dari cawan-cawan tersebut ialah cawan jenis ketiga yang mirip dengan pedupaan. Kaki dibuat terpisah dari badannya. Bekas-bekas sambungannya masih tampak dan sering kali kedua bagian ini ditemukan dalam keadaan terpisah. Untuk memperkuat sambungan itu, dibuat goresan pendek sedalam ½-1 mm pada bagian yang akan disambungkan dengan badan yang telah disiapkan terlebih dahulu. Teknik menyambung seperti ini bukti-buktinya lebih terang terlihat pada jenis pedupaan yang ditemukan di Buni (Bekasi).

Sekitar Danau Bandung
Gerabah yang ditemukan di sekitar Danau Bandung dikumpulkan oleh Jong dan Koenigswald pada tahun 1941-1947. Adapun tempat-tempat penemuan gerabah di sekitar danau Bandung yaitu dataran tinggi Dago Timur. Di dataran tinggi Dago Timur ini Rothpletz telah mengumpulkan kereweng-kereweng yang jumlahnya banyak bersama-sama pecahan obsidian, pecahan batu api, kuarsa, dan sisa-sisa tuangan besi.

Gerabah dari Bandung umumnya tebal-tebal (antara 5-20 mm), dan berwarna merah. Tanda-tanda hiasan masih tampak, yaitu berupa goresan-goresan pola sisir dan pola tali, tetapi pada umumnya polos dipoles dengan warna merah pada permukaan luarnya. Dari fragmen-fragmen yang ditemukan dapat diperkirakan bentuk gerabah Dago Timur itu. Di antaranya ada periuk yang badannya kebulat-bulatan dan ada pula yang memiliki puncak bersudut dengan tepian melipat ke luar, ada juga fragmen alas yang rata, tetapi tidak banyak jumlahnya.

c. Sulawesi Tengah
Peninggalan gerabah yang ditemukan di Sulawesi Tengah diperkirakan berasal dari masa bercocok tanam, karena ditemukan bersama unsur-unsur beliung dan kapak yang diupam. Situs penemun yang ada di Sulawesi Tenggara yaitu di daerah Minanga Sipakka yang terletak di pinggir Sungai Karama.

Stein Callenfels yang pernah mengadakan penggalian di bukit Kamasi mengatakan bahwa diantara gerabah yang ditemukan itu ada yang berasal dari masa protoneolitik, jadi menjelang masa bercocok tanam. Heekeren membedakan gerabah kelumpang atas periode, yaitu periode bercocok tanam ialah kereweng-kereweng polos dan beberapa kereweng berhias bergores dengan pola garis pendek sejajar dan pola lingkaran. Kereweng yang berpola geometris digolongkan ke dalam masa perundagian yang banyak persamaannya dengan gerabah kompleks Sahuynh di Vietnam.

Gerabah yang ditemukan di Minanga Sepakka di temukan bersama dengan unsur kapak lonjong dan alat pemukul kulit kayu dari batu. Gerabah dari tempat ini ada yang polos ada juga yang berhias gores dengan pola lingkaran, segitiga (tumpal), belah ketupat, dan sering di susun dalam komposisi pita-pita horizontal sekeliling badan. Menurut Heekeren, gerabah dari Minanga Sepakka lebih tua dari gerabah yang berasal dari Kalumpang. Pendapat ini di dasarkan pada nihilnya unsur beliung persegi di Minanga Sepakka. Namun apabila dilihat dari pola lukisan yang ada dalam gerabah yang ditemukan dapat diperkirakan seusia atau sejaman.

Kepustakaan
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Harsrinuksmo, Bambang . 2004. Ensiklopedi keris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Driwantoro, Dubel, dkk. 2003. "Potensi Tinggalan-Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara". Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid I (Zaman Prasejarah di Indonesia). Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono. 1990. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Jakarta: Kanisius.
Soejono, R.P. (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/561/gerabah:-peninggalan-kebudayaan-masyarakat-prasejarah

Minggu, 21 Maret 2010

Bejana Perunggu: Sebuah Peninggalan Kebudayaan Masyarakat Perundagian

Dalam masa perundagian kemahiran membuat alat-alat semakin berkembang sebagai akibat dari terjadinya golongan-golongan dalam masyarakat yang bertugas khusus untuk membuat alat-alat. Kontak cultural antara satu suku atau kelompok dengan kelompok lain baik di wilayah nusantara maupun dengan bangsa-bangsa lain telah menjadikan perkembangan kebudayaan dari yang semula menggunakan peralatan dari batu mejadi menggunakan peralatan dari perunggu, seprti bejana yang terbuat dari perunggu.

Pada masa itu teknologi peningkatan pembuatan benda-benda semakin meningkat, terutaman setelah ditemukan campuran antara timah dan tembaga yang menghasilkan logam perunggu. Di Asia tenggara logam mulai dikenal kira-kira 3000-200 sebelum Masehi. Dalam penggalian di Vietnam ditemukan berbagai macam alat perunggu antara lain nekara, bejana, ujung tombak, kapak dan gelang. Benda-benda yang ditemukan ini memiliki kesamaan dengan benda yang pernah ditemukan di Cina dari masa dinasti Han, kira-kira pada awal Masehi. Di Thailand ditemukan benda-benda perunggu yang diperkirakan berumur 3000 tahun sebelum Masehi.

Di Indonesia, penggunaan logam perunggu diperkirakan bersamaan dengan perkembangan perunggu di Asia Tenggara. Berdasarkan temuan arkeologi, Indonesia mengenal peralatan dari perunggu, besi dan untuk perhiasan juga mengenal yang namanya emas. Perjalanan prasejarah di Indonesia berlangsung secara bertahap atau tidak menyeluruh. Sementara itu peralatan dari zaman sebelumnya masih ada yang diergunakan, dan berangsur-angsur ditinggalkan setelah pengetahuan tentang logam ini tersebar secara luas.

Benda perunggu yang ditemukan di Indonesia memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di Dongson (Vietnam), baik bentuk maupun pola hiasnya. Hal ini diperkirakan adanya hubungan budaya antara yang ada di Dongson dan yang ada di Indonesia.

Cara pembuatan
Perkembangan teknologi dan kebudayaan terus berkembang, begitu juga pada zaman prasejarah. Pada zaman prasejarah terjadi beberapa kali perkembangan peradaban, dari mulai yang sederhana sampai dengan pernggunaan peralatan dari logam atau sering disebut zaman perundagian. Suatu kemahiran baru pada masa perundagian adalah kemampuan menuang peralatan dari logam. Teknik melebur logam merupakan teknik yang tinggi, karena pengetahuan semacam itu belum dikenal dalam masa sebelumnya. Logam harus dipanaskan hingga mencapai titik lebur, kemudian baru dicetak menjadi bermacam-macam jenis perkakas atau benda lain yang diperlukan. Teknik pembuatan benda perunggu ada dua macam yaitu dengan cetak setangkup (bivalve) dan cetak lilin (a cire perdue).

1. Cetakan setangkup
Cetakan Setangkup, yaitu cara menuangkan dengan kita membuat, cetakan dari batu misalnya, yang terdiri dari dua bagian yang dapat di tangkupkan (dikatupkan) seperti kulit tiram. Teknik ini dilakukan untuk benda-benda yang tidak memiliki bagian-bagian yang menonjol. Tuangan untuk semacam ini dapat dipergunakan untuk beberapa kali.

2. Teknik a cire perdue
Teknik a cire perdue dipergunakan untuk benda-benda yang berbentuk dengan ada bagian yang menonjol, misalnya arca, kapak perunggu. Caranya yaitu sebagai berikut:
a. Mula-mula dibuat model benda dari lilin yang diinginkan
b. Seluruh model dari lilin itu kemudian dilapisi dengan tanah liat yang tahan api
c. Lapisan tanah liat di bagian atas dibuat semacam corong dan dibagian bawah diberi lubang
d. Seluruh model yang berlapis tanah liat itu dibakar sampai lilin meleleh dan mengalir melalui saluran yang telah dibuat
e. Dari corong tadi dituangkan cairan perunggu
f. Setelah cairan perunggu membeku dan dingin, maka lapisan tanah liat itu padat dan pecah, sehingga kita memperoleh benda cetakan dari perunggu.

Kapak perunggu memiliki macam-macam bentuk dan ukuran. Dilihat dari penggunaannya, maka kapak perunggu dapat berfungsi dua macam yaitu:
1. Sebagai alat upacara atau benda pusaka
2. Sebagai perkakas atau alat untuk bekerja

Secara tipologi, kapak perunggu dapat digolongkan dalam dua golongan, yaitu kapak corong dan kapak upaca. Umumnya kapak perunggu yang terdapat di Indonesia mempunyai semacam corong untuk memasukan kayu tangkai. Oleh karena bentunya menyerupai kaki yang bersepatu, maka dinamakan “kapak sepatu”. Namun lebih tepatnya disebut kapak corong.

Berdasarkan hasil temuan, kapak perunggu ternyata ada yang memiliki hiasan dan ada yang tidak memiliki hiasan. Adapun daerah penemuan dari kapak perunggu adalah Sumatra Selatan, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali, Flores, Pulau Roti, dan Papua dekat danau Sentani.

Untuk membuat peralatan logam, ternyata tidak semudah yang kita pikirkan, karena mereka harus membuat berbagai campuran seperti Tembaga, Timah Hitam dan Timah Putih. Dalam membuat bejana perunggu seorang ahli harus mencampurkan, ketiga bahan tersebuat dengan kadar ketentuan tertentu; sebagai contoh untuk membuat bejana perunggu Asemjaran (Madura) memerlukan 63,40% Tembaga, 2,83 % Timah Hitam, dan 15,20 % Timah Putih. Ketiga benda ini dilebut menjadi satu sehingga menghasilkan cairan logam yang siap dibentuk sesuai dengan tujuannya.

Penemuan Bejana Perunggu
Bejana Perunggu, ditemukan di Indonesia hanya dua buah , yaitu di Sumatra dan Madura. Bejana perunggu berbentuk bulat panjang seperti kepisi atau keranjang untuk tempat ikan yang diikatkan di pinggang ketika orang sedang mencari ikan. Bejana ini dibuat dari dua lempengan perunggu yang cembung, yang diletakan dengan pacuk besi pada sisi-sisinya. Pola hias pada bejana ini tidak tidak sama susunannya. Bejana yang ditemukan di Kerinci (Sumatra) berukuran panjang 50,8 cm dengan lebar 37 cm. Sebagian lehernya sudah hilang. Bagian leher ini dihias dengan huruf J dan pola anyaman. Pola huruf S terdapat di bagian tengah badan. Di bagian leher tampak logam berlekuk yang mungkin dipergunakan untuk menggantungkan bejana pada tali.


Bejana perunggu dari Asemjaran, Madura Jawa Timur

Bejana yang ditemukan di Asemjarang, Sampang (Madura) mempunyai ukuran tinggi 90 cm dan lebar 54 cm. Hiasan pada bagian leher terbagi atas tiga ruangan, yaitu ruang pertama berisi lima buah tumpal berderet dan di dalam pola ini terdapat gambar burung merak; ruang kedua berisi huruf J yang disusun berselang-seling tegak dan terbalik; dan ruang ketiga juga berisi pola tumpal sederet sebanyak empat buah. Di dalam pola tumpal terdapat gambar seekor kijang. Bagian badan bejana dihias dengan pola hias spiral yang utuh dan terpotong, dan sepajang tepinya dihias dengan tumpal. Sepasang pegangan dihias dengan pola tali. Latar belakang hiasan dan pola tumpal ialah dengan titik-titik dan di dalam ruang-ruang dengan pola spiral diisi dengan pola anyaman halus. Bejana ini mirip dengan bejana yang ditemukan di Phnom Penh (Khamer).


Bejana Perunggu dari Kerinci (Sumatera)

Kapak Makassar yang sangat besar dapat juga dianggap sebagai bejana. Bidang lehernya dihias dengan pola geometris berupa garis-garis spiral yang mengapit pola hias topeng dan pola hias tumpal. Bidang lainnya dileher memperlihatkan pola sepasang mata yang bersusun sebagai pola hias utama. Bagian badannya dihias, hanya bagian tepinya terdapat hiasan pola duri ikan. Bagian bawah menonjol, yang sebenarnya merupakan sisa (lidah) tuangan, sebagai penyangga kalau benda ini diletakan berdiri. Panjang benda ini 70,5 cm lebar badan 45 cm dan lebar leher 28,8 cm. tempat penemuannya adalah Ujung Pandang (Makassar) di Sulawesi Selatan.

Pada tahun 1987, Mujiono dari desa Sri Monosari, kabupaten Lampung Tengah, menemukan sebuah bejana perunggu di samping rumahnya. Menurut cerita seorang pegawai Museum Negeri Lampung yang pernah melihatnya, bejana ini baik bentuk, ukuran, maupun pola hiasnya sama dengan pola dari Phnom Penh. Sayang benda ini diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab, atau tidak diketahui keberadaannya untuk sekarang ini.

Tahun berikutnya Mujiono menemukan lagi sebuah bejana yang ukurannya lebih kecil. Bejana ini sekarang disimpan di Museum Negeri Lampung. Bejana ini berukuran panjang 63 cm dan lebar bagian mulut 16,5 cm. Pola hiasan berupa pola tumpal dan pola huruf J, pilin, dan jaring.

Kepustakaan
Moehhadi. (1986). Sejarah Indonesia. Jakarta: Karunia Jakarta Universitas Terbuka
Poesponegoro, M.D. dkk. (2008). Sejarah Nasional Indonesia Jilid I. Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono. (1990). Pengantar sejarah kebudayaan Indonesia 1. Kanisius

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/624/bejana-perunggu:-sebuah-peninggalan-kebudayaan-masyarakat-perundagian