Rabu, 21 April 2010

Arti dan Makna Figur Raksasa Menari pada Batur Biaro Bahal I


A. Pendahuluan
Relief adalah hiasan candi yang digambarkan atau dipahatkan pada badan candi. Candi sendiri merupakan salah satu hasil pengaruh Hindu-Buddha di Indonesia. Relief dalam wujud hasil kebudayaan dapat digolongkan dalam kompleks kebudayaan fisik atau disebut artefak. Berbagai cerita yang digambarkan dalam relief merupakan hasil dari kompleks aktivitas yang digerakkan oleh ide-ide. Kompleks ide terdiri dari gagasan-gagasan, norma, dan nilai-nilai yang bersifat abstrak (Koentjaraningrat, 1990: 186).

Kompleks ide atau gagasan bersumber dari pedoman hidup yang merupakan identitas diri dari suatu masyarakat. Gagasan-gagasan tersebut saling berkaitan dan menjadi suatu sistem yang disebut sistem budaya. Sistem budaya setiap bangsa memiliki nilai-nilai yang khas. Hal tersebut dapat terlihat dari hasil budaya yang dihasilkan, seperti halnya relief candi.

Relief candi merupakan bagian dari seni pahat. Asmito (1988: 124) menjelaskan pengertian seni pahat dan dimensi-dimensinya, sebagai berikut:

Berbicara mengenai seni pahat (seni memahat) merupakan hasil ciptaan manusia dengan cara menciptakan sesuatu dengan memahat. Seni memahat merupakan seni yang berdimensi tiga, yaitu architectur (seni bangunan) dan sculpture (seni pahat). Seni bangunan, seni ukir (seni pahat) ada dalam ruang dimensi tiga, tetapi seni pahat sebagai citra lebih dekat menggambarkan (painting) dari seni bangunan. Hingga sekarang seni pahat telah diperhatikan terutama dengan penyajian kembali dari mahluk-mahluk hidup dan bentuk-bentuk alam dalam bahan yang nyata yang ada dalam ruang yang sama seperti bentuk-bentuk yang mereka sajikan. Tetapi seni pahat juga mungkin mewujudkan sifat-sifat penting pandangan dan idea telah menyajikan dengan ajeg citra-citra dewata dan orang-orang dalam jiwa kepahlawanan, juga aspek-aspek manusia yang utama.

Oleh karena itu, relief kiranya dapat memproyeksikan pandangan, ide, atau aspek-aspek manusia yang utama seperti apa yang telah dijelaskan di atas. Relief suatu candi akan dipengaruhi oleh nilai-nilai yang dimiliki masyarakat pendukung hasil kebudayaan tersebut.

Teori akulturasi kiranya dapat dijadikan bahan pertimbangan, di mana pengambilan unsur-unsur kebudayaan Hindu-Buddha hanya dapat dilakukan karena ada persamaan dengan kebudayaan asli masyarakat penerima kebudayaan ini. Dalam proses akulturasi dapat dilihat seberapa kuat dasar-dasar kepribadian budaya penerima, yang menurut F.D.K Bosch disebut dengan istilah local genius (1952).

Relief secara umum dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu relief dekoratif dan relief cerita. Relief dekoratif memunyai fungsi sebagai hiasan pengisi bidang kosong pada bangunan candi. Ada pun relief cerita merupakan pengungkapan visual dari naskah kesusastraan maupun cerita tutur. Hampir semua candi yang ditemukan sampai saat ini memunyai relief dekoratif, sedangkan relief cerita hanya terdapat pada candi-candi tertentu. Salah satu relief yang menarik untuk dikaji karena informasi yang dikandungnya adalah relief raksasa yang dipahatkan pada batur Biaro Bahal I, di kompleks percandian Padang Lawas.

Suleiman (1985: 26) berasumsi bahwa relief raksasa tersebut merupakan indikasi bahwa Biaro Bahal I, pada khususnya digunakan untuk peribadatan umat Buddha sekte Vajrayana. Apabila ditelaah lebih dalam, permasalahan-permasalahan yang muncul berkaitan dengan relief raksasa tersebut, antara lain:

1. siapakah sosok raksasa yang dipahatkan pada batur Biaro Bahal I tersebut?
2. mengapa seniman memahatkan figur raksasa, bukan figur yang lain?
3. mengapa figur raksasa digambarkan dalam posisi menari?
4. mengapa seniman memahatkan figur raksasa tersebut pada batur biaro, bukan pada atap, tubuh, atau kaki biaro?


Melalui pisau bedah semiotika Pierce, diharapkan dapat menjawab dan menjelaskan latar belakang konsep seniman masa lampau berkaitan dengan permasalahan-permasalahan yang muncul pada masa kini.

B. Kerangka Analisis Semiotika Pierce
Relief adalah bagian wujud eksperesi budaya. Sebagai karya budaya relief banyak menyimpan tanda. Masinambaw (2000: 13) berpendapat bahwa sistem tanda itu berfungsi sebagai sarana penataan kehidupan masyarakat. Peneliti budaya dan masyarakat akan mempertanyakan aneka tanda: mengapa mereka berpwrilaku demikian? Dari tanda itu akan diperoleh gambaran keteraturan dari keadaan yang kacau dan membingungkan. Kajian relief tentang tanda ini dapat dilakukan secara semiotik.

Asumsi dasar hadirnya teori semiotik dalam kajian relief, adalah adanya anggapan bahwa relief fenpmena budaya yang penuh dengan tanda. Tanda-tanda dalam relief menyuratkan dan menyaratkan akan tanda yang penuh dengan makna. Tanda dan makna harus dicari dalam sebuah kajian yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kaitan ini, semiotik yang banyak digunakan dalam bidang linguistik dan sastra, sebenarnya dapat juga dipergunakan dalam bidang budaya.

Relief adalah ekspresi jiwa (ideologi) dan tindakan manusia. Ekspresi tersebut terwujud dalam tanda (sign). Maka kajian relief dari semiotika akan mengungkap tanda-tanda yang berada dalam relief. Tanda tersebut memiliki referensi (yang di tandai). Tanda akan menyuguhkan makna yang berlapis-lapis. Dalam pandangan Soussure, tanda mengandung dua sisi, yaitu citra bunyi (sound image) dan konsep. Ini merupakan wawasan linguistik, dalam relief pun sebenarnya ada unsur keduanya. Dalam relief, yang menjadi pengamatan tentunya bukan suara tetapi lebih kepada gambar yang bisa diamati dan konsep yang terkandung di dalamnya. Relief ini mengandung wujud dan konsep yang ingin disampaikan oleh masyarakat pendukungnya dan menjadi wujud yang bisa kita amati.

Wujud dan konsep selalu beriringan dan saling berkaitan. Wujud sebagai signifier dan konsep sebagai signified. Kedua konsep semiotik ini merupakan bentuk dyadic system (sistem duaan). Keduanya saling berhubungan, membentuk tanda dan makna tanda relief secara utuh. Tanda relief dapat dibedakan menjadi tiga aspek, yaitu (1) representasi, adalah objek yang dapat diamati berfungsi sebagai tanda, (2) objek, adalah direpresentasikan oleh tanda, (3) interpretasi, adalah makna sebagai hasil pertalian antara objek dan referen. Hubungan ketiga aspek semiotik tersebut berlapis, membentuk keutuhan makna fenomena. Setiap fenomena relief akan mengandung tiga aspek ini.

Dalam pandangan teori semiotik ala Pierce, tanda relief akan memuat hubungan representasi, objek dan interpretasi terdiri dari tiga hal, yaitu; (1) ikon, merupakan hubungan persamaan antara tanda dan referen. Di dalamnya ada keterkaitan yang berupa persamaan bentuk. (2) indeks, adalah tanda yang meliputi hubungan kausal, berkesinambungan. (3) simbol, adalah tanda yang bersifat arbriter, berdasarkan kesepakatan. Simbol sering berbeda antara wilayah pemilik relief. Dua jenis tanda (1) dan (2) merupakan tanda yang dapat mengubah emosi dan pengalaman langsung dari hal-hal yang ditendai. Peneliti akan sendirinya bangkit emosinya ketika mengamati fenomena relief, sedangkan tanda (3) merupakan pengalaman berpikir, pengetahuan, dan memerlukan tafsiran.

Dalam kajian relief seperti figur raksasa menari pada Batur Biaro Bahal I, akan diteliti dari aspek bentuk relief. Peneliti harus mampu mengungkap unsur signifier (penanda atau material) dan signified (tertanda/nonmaterial).

Semiotika berpandangan, semua fenomena budaya, termasuk relief di dalamnya, dapat dipandang sebagai sebuah sistem tanda. Tanda adalah sesuatu yang dikaitkan pada seseorang untuk sesuatu dalam beberapa hal atau kapasitas. Tanda menunjuk pada seseorang, yakni menciptakan di benak orang tersebut suatu tanda yang setara, atau barang kali suatu tanda yang lebih berkembang. Pada saat mengkaji objek seni sebagai tanda, sama artinya dengan menganggapnya sebagai bagian dari kehidupan sosial dan kebudayaan manusia. Dengan kata lain, mengkaji sebuah relief sebagai sistem tanda sama artinya dengan mempelajari kebudayaan tempat relief tersebut berada. Relief memunyai referensi pada fenomena kultural yang merupakan milik masyarakat tertentu, tradisi tertentu, dan cara berpikir tertentu. Dapat dikatakan bahwa relief menyatakan pertaliannya dengan sesuatu melalui bentuknya, sehingga untuk mengkajinya adalah dengan cara menemukan kode-kode yang mengatur pada suatu komunitas, kebudayaan, dan atau ruang tertentu (Restiyadi, 2006: 17).

C. Candi Padang Lawas (Biaro Bahal)
Daerah Padang Lawas yang merupakan dataran rendah yang kering, pada masa lampau mungkin tidak pernah menjadi pusat pemukiman, dan hanya berfungsi sebagai pusat upacara keagamaan. Meski daerah ini dapat dicapai melalui jalan sungai dan jalan darat, yang dapat berarti tidak terisolir, tetapi lingkungan Padang Lawas yang sering bertiup angin panas tidak memungkinkan untuk bercocok-tanam. Oleh karena itulah, diduga bahwa pemukiman masyarakat pendukung budaya biaro Padang Lawas seharusnya bermukim di daerah muara Sungai Pane dan Barumun, tidak di sekitar kompleks percandian.

Persebaran bangunan-bangunan candi di sepanjang daerah aliran Sungai Barumun mungkin sengaja dibangun pada jalan-jalan penting untuk perdagangan. Sungai Barumun pada masa lampau diduga sebagai jalur perdagangan lokal yang cukup ramai. Jalur perdagangan ini menghubungkan daerah pesisir timur Sumatra Utara dan daerah pedalaman di wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan. Seharusnya, di daerah sepanjang tepian Sungai Barumun, terutama mulai dari Situs Si Pamutung hingga ke muara Sungai Barumun, terdapat sisa pemukiman kuno. Hingga kini belum ada laporan penelitian atau pun penemuan yang menyebutkan situs pemukiman di daerah-daerah tersebut. Mungkin situs-situs tersebut telah hilang sebagai akibat erosi dari Sungai Barumun.

Di dataran yang panas dan kering, yang hanya ditumbuhi ilalang dan beberapa pohon, di sekitar Batang Pane, Sungai Sirumambe, dan Sungai Barumun yang membelah dataran Padang Lawas, nampaklah pemandangan runtuhan berbagai biaro yang menjulang tinggi. Daerah luas yang sunyi dengan runtuhan biaronya, diperkirakan pernah menjadi pusat agama dalam Kerajaan Pannai, sebuah kerajaan yang kurang dikenal dalam percaturan sejarah kuno Indonesia. Sekarang daerah yang berupa padang ilalang ini yang dikelilingi oleh rangkaian perbukitan rendah, termasuk dalam wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan.

Untuk mencapai lokasi kompleks percandian di Padang Lawas kita dapat menggunakan kendaraan bermotor roda empat, kecuali untuk beberapa buah situs yang harus menyeberangi sungai seperti Bara dan Si Pamutung, dari Medan jaraknya sekitar 400 km ke arah baratdaya melalui Tebingtinggi, Kisaran, Rantauprapat, Gunungtua, dan Barumun, atau sekitar 100 km ke arah timur ibukota Kabupaten Tapanuli Selatan, Padang Sidimpuan. Pusat lokasi percandian Padang Lawas adalah di Barumun, Kecamatan Barumun Tengah, Kabupaten Tapanuli Selatan.

1. Awal Penemuan
Daerah Padang Lawas yang secara geografis merupakan daerah aliran Sungai Barumun, banyak ditemukan tinggalan budaya masa lampau, terutama dari masa klasik Indonesia. Tinggalan-tinggalan tersebut ada yang berupa arca, baik yang utuh maupun fragmen atau yang ada dalam konteks bangunan maupun lepas; ada yang berupa prasasti, baik yang utuh maupun yang sudah rusak karena berbagai alasan; dan ada pula yang berupa bangunan atau runtuhan bangunan. Sebagian dari tinggalan-tinggalan tersebut sudah termuat dalam Oudheidkundig Verslag dan Laporan Dinas Purbakala, tetapi ada pula yang dibuat oleh perorangan seperti yang ditulis oleh Schnitger dalam beberapa bukunya mengenai kepurbakalaan di Sumatra; Bosch (1930); Suleiman (1954; 1976;1980); Rumbi Mulia (1980); dan Nik Hassan Shuhaimi (1992). Dari sekian banyak laporan dan tulisan mengenai Padang Lawas, tulisan yang dibuat oleh Schnitger yang terlengkap karena ia adalah seorang kurator di Museum Palembang dan pelopor ekspedisi arkeologi di Sumatra pada 1935 dan 1936.

Catatan tertua mengenai kapan ditemukan kompleks biaro di Padang Lawas diperoleh dari Franz Junghun, seorang ahli geologi dan Komisaris Hindia Timur pada 1846. Setelah Junghun, kemudian kompleks biaro berturut-turut dikunjungi oleh von Rosenberg pada 1854 dan Kerkhoff pada 1887. Von Rosenberg dari Padang Lawas membawa beberapa fragmen arca untuk ditempatkan di Museum Batavia. Arca yang dibawa antara lain sebuah arca Buddha. Kerkhoff, seorang Kontrolir di Tapanuli, dalam kitabnya berjudul "Aanteekeningen betreffende eenige der in de afdeeling Padang Lawas voorkomende Hindoe-oudheden" menyebutkan "biara", Si Pamutung, dan "kuburan di Gunung Tua". Selain itu ia juga mempublikasikan secara rinci mengenai temuan-temuan hasil pengumpulan Franz Junghun di Padang Lawas.

Padang Lawas semakin sering dikunjungi oleh para peneliti asing, dan semakin banyak runtuhan bangunan yang ditemukan. Pada 1920, seorang peneliti bangsa Belanda, van Stein Callenfels berkesempatan mengunjungi Padang Lawas. Ia menyebutkan beberapa peninggalan purbakala di Gunung Tua, yaitu Bahal 1, Bahal 2, Bahal 3, Si Topayan, Aek Biaro, dan Si Pamutung.

Krom, seorang peneliti Belanda, menulis tentang Padang Lawas pada 1923. Dalam tulisannya itu, ia menyebutkan bahwa peninggalan-peninggalan di Padang Lawas disebut "on Javaansch" yang berarti "gaya seni pahat bangunan-bangunan di Padang Lawas tidak mirip dengan gaya seni pada bangunan-bangunan di Jawa". Dalam telaahnya ia melihat banyak persamaan dengan pahatan di India Selatan atau Asia Tenggara daratan. Selanjutnya Krom menghubungkan peninggalan di Padang Lawas dengan Śrīwijaya.

Pada 1925, van Stein Callenfels kembali lagi ke Padang Lawas. Dalam laporannya ia memberi gambaran dari susunan bangunan di Si Topayan, Biaro Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Selanjutnya ia memberikan gambaran bahwa yang menyebabkan kerusakan pada bangunan biaro adalah banyaknya ternak (sapi) yang berkeliaran. Laporan ini kemudian mendapat tanggapan dari de Haan yang kemudian pada 1926 mengadakan sedikit perbaikan dan pengukuran pada biaro Si Topayan, Bahal 1 dan 2.

Pada 1930 Bosch menulis tentang Padang Lawas dan mengajukan suatu teori bahwa masyarakat pendukung biaro di Padang Lawas adalah pemeluk agama Buddha aliran Wajrayāna. Anggapannya ini didasarkan indikator artefak yang ditemukannya berupa arca, relief yang menggambarkan wajah-wajah yang menyeramkan dan prasasti singkat yang bertuliskan mantra-mantra aliran Tantris.

Seorang arkeolog amatir yang banyak berjasa atas pengenalan kepurbakalaan di Sumatra yang bernama Schnitger, sudah berkali-kali mengunjungi Padang Lawas. Menurut Schnitger, biaro-biaro di Padang Lawas dibangun bersamaan dengan stupa-stupa di Muara Takus, yaitu pada sekitar abad ke-12 M. Pendapat ini disetujui oleh Suleiman, tetapi lebih lanjut ia menambahkan bahwa biaro-biaro di Padang Lawas dibangun pada abad ke-11-14 M (Suleiman, 1985: 25). Pendapatnya ini didasarkan atas pembacaan dari pertulisan-pertulisan singkat yang ditemukan di situs.

Setelah sekian lama tidak diteliti, Situs Padang Lawas kemudian diteliti kembali pada 1953 oleh tim kecil dari Dinas Purbakala di bawah pimpinan Satyawati Suleiman. Hasil dari penelitiannya itu kemudian diterbitkan dalam majalah Amerta pada 1954. Dalam tulisannya itu, Suleiman menggunakan istilah "Hindu-Batak" untuk hasil budaya di Padang Lawas, karena ada istilah "Hindu-Jawa" untuk hasil budaya dari Jawa. Istilah ini tidak disetujui oleh Damais. Ia lebih suka menyebut dengan istilah "Sumatra Purbakala".

Penelitian berikutnya dilakukan pada 1973 dan 1975 oleh tim dari Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional (LPPN) bekerjasama dengan the University of Pennsylvania Museum. Namun pada penelitian ini, tim hanya mendeskripsikan beberapa bangunan yang mudah dijangkau. Hal ini disebabkan karena kondisi jalan yang tidak memungkinkan untuk dilalui. Umumnya bangunan-bangunan yang dikunjungi pernah dilaporkan oleh peneliti terdahulu.

Penelitian yang mutakhir dilakukan pada tahun 1993 oleh tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional. Hasil dari penelitian itu adalah bahwa Sungai Barumun dan Batang Pane telah mengalami perubahan yang cukup jauh. Hal ini disebabkan karena tingkat erosi yang tinggi. Kelompok-kelompok bangunan di Padang Lawas sebagian besar berlokasi dekat dengan aliran sungai pada jarak sekitar 200-500 meter dari tepi sungai.

Pada Maret 1994, sebuah tim kerjasama Kantor Wilayah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sumatra Utara dan Pemerintah Daerah Tingkat I Provinsi Sumatra Utara melakukan pendataan dan inventarisasi tinggalan budaya di daerah Padang Lawas. Benda budaya masa lampau yang didata keseluruhannya ada yang masih insitu di Padang Lawas (bangunan dan arca), dan ada pula yang ditempatkan di Museum Nasional Jakarta (arca dan prasasti).

Pada tahun yang sama, Pusat Penelitian Arkeologi Nasional mengadakan penelitian di Padang Lawas. Penelitian tersebut meliputi survei di daerah aliran Sungai Barumun dan Pane serta ekskavasi di Situs Tandihet 2. Ekskavasi yang dilakukan di runtuhan bangunan Tandihet 2 berhasil menampakkan bentuk dan ukuran denah bangunan Tandihet 2. Bangunan ini menghadap ke arah timur dengan tangga naiknya dihias dengan sepasang makara. Sebuah arca singa yang dibuat dari batupasir (sandstone) ditemukan di antara runtuhan bangunan.

2. Kepurbakalaan
Sungai utama yang mengalir di daerah Padang Lawas adalah Barumun. Di sungai ini bermuara anak-anak sungai, misalnya Batang Pane dan Sirumambe. Kepurbakalaan yang ditemukan di Barumun mulai dari daerah hulu adalah Pageranbira, Sangkilon, Joreng Belangah (Tandihat 1 dan Tandihat 2), dan Si Pamutung. Agaknya tinggalan budaya yang terpenting di Sungai Barumun adalah kelompok Biaro Si Pamutung. Kelompok bangunan ini terletak di daerah pertemuan Sungai Barumun dan Batang Pane.

Batang Pane yang bermata-air di daerah Pegunungan Bukit Barisan, telah memiliki sejarah yang cukup panjang—setidak-tidaknya sejak zaman klasik Indonesia yang dipengaruhi oleh budaya India. Berbagai tinggalan budaya zaman itu yang berupa bangunan suci, banyak ditemukan di daerah tepiannya. Di beberapa tempat, di daerah hulunya, Batang Pane memunyai lembah yang cukup dalam. Beberapa kompleks candi nampak seperti di atas bukit. Perbedaan ketinggian antara permukaan air sungai dan kompleks candi sekitar 10-25 meter. Tinggalan budaya yang berupa kompleks biaro antara lain ditemukan di Situs Gunung Tua, Si Topayan, Aek Hayuara, Tanjung Bangun, Bara, Pulo, Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3. Kompleks Biaro ini letaknya tidak jauh dari tepian sungai dengan jarak sekitar 500 meter.

Sungai Sirumambe merupakan anak Sungai Pane yang menyabang di daerah Portibijulu, sedangkan Sungai Pane merupakan anak Sungai Barumun yang menyabang di daerah Binanga. Sungai Sirumambe merupakan sungai muda yang ditandai dengan lembahnya berbentuk V dan mengalir di antara lembah-lembah yang curam. Sungai ini bermata-air di daerah perbukitan di sekitar daerah Padang Lawas.

Survei arkeologi yang dilakukan di sekitar Sungai Sirumambe berhasil menemui beberapa lokasi yang mengandung tinggalan budaya zaman lampau di situs-situs Si Soldop, Aek Korsik, Aek Tolong Tonga, Lobu Dolok, Batu Gana, Padang Bujur, Torna Tambang, dan Naga Saribu. Sedangkan tinggalan arkeologi yang terdapat di tepian hulu Sungai Barumun adalah Si Sangkilon dan Pageran Bira/Makam Kramat Jiret.

Biaro-biaro itu, yang dahulu dicipta sebagai syair pujian dari batu dengan puncaknya menjulang ke langit, kini masih berceritera tentang kemegahan kerajaan itu, tentang agama yang pernah berkembang selama beberapa abad, tentang seni bangunan dan seni pahatnya. Semua itu merupakan bukti nyata dari sebuah hasil budaya yang bermutu tinggi. Situs-situs arkeologi di lembah Sungai Barumun dan Batang Pane ditemukan di sekitar Padang Lawas. Kawasan ini meliputi lembah-lembah Sungai Barumun, Batang Pane dan sungai-sungai lain yang luas arealnya sekitar 1.500 km persegi. Di lokasi ini terdapat sekurang-kurangnya 26 runtuhan biaro yang dibuat dari bata dan beberapa fragmen arca yang ditemukan di tepian Batang Pane, yaitu Gunung Tua, Si Topayan, Hayuara, Haloban, Rondaman, Bara, Pulo, Bahal 1, Bahal 2, dan Bahal 3; di tepian Sungai Sirumambe, yaitu Batu Gana, Si Soldop, Padangbujur, Nagasaribu, dan Mangaledang; dan di tepian Sungai Barumun, yaitu Pageranbira, Pordak Dolok, Si Sangkilon, Si Joreng Belangah (Tandihat 1), Tandihat 2, dan Si Pamutung. Tidak semua lokasi yang disebutkan itu terdapat runtuhan bangunan, melainkan hanya terdapat artefak kecil seperti misalnya prasasti, arca, dan stambha (tiang batu).

Runtuhan bangunan candi di Padang Lawas disebut biaro (=vihara dalam bahasa Sansekerta), sebutan yang biasa dipakai masyarakat untuk menyebut bangunan candi Buddha atau Hindu di Sumatra. Tetapi di India, vihara adalah biara yang merupakan tempat tinggal para pendeta atau biksu. Padang Lawas dengan kompleks biaro-nya merupakan suatu dataran yang kering dan tandus. Bagi ilmu pengetahuan, khususnya arkeologi dan sejarah, tentu saja ini sangat menarik untuk diteliti.

D. Candi Biaro Bahal
Candi Bahal I yang berada di Desa Bahal, Kec. Padang Bolak, sekitar 450 kilometer barat daya Medan, ibukota Sumut, merupakan candi terbesar yang telah dipugar. Selain kawat berduri pemagar komplek candi seluas 2.744 meter persegi, di dalam masih ada pagar sepanjang 59 meter berupa susunan bata, mulai dari empat hingga 22 lapis. Dengan begitu, Bahal I merupakan candi terluas yang telah selesai dipugar bersama empat candi perwaranya, yakni candi kecil di samping kiri dan depannya berbentuk bujur sangkar, menyerupai altar.

Perwara pertama luasnya 4,9 x 4,9 m dengan tinggi 1,5 m, berada enam meter sebelah timur laut bangunan induk. Perwara kedua merupakan perwara terluas, berada enam meter sebelah tenggara atau berhadapan dengan candi induk. Ukurannya 9,5 x 9,5 m dengan tinggi dua meter. Perwara ketiga terletak 2,20 m sebelah barat daya perwara kedua. Ukurannya 4,65 x 4,65 m dengan tinggi dua meter. Sedangkan perwara keempat ada di barat daya perwara ketiga, tinggi 1,5 meter dengan ukuran paling kecil, yakni 4 x 4 m.

Sementara bangunan induk Candi Bahal I itu sendiri berdenah bujur sangkar. Di pintu masuk terdapat delapan anak selebar 2,25 meter. Sepasang arca singa terlihat mengapit tangga. Pada bagian tengah bangunan utama terdapat ruang kosong seluas 2,5 m x 2,5 m yang fungsi awalnya diperkirakan sebagai tempat pemujaan.

Berbeda dengan posisi menghadap barat pada candi-candi di Jawa Timur atau menghadap timur pada candi-candi di Jawa Tengah, Bahal I justru dibangun menghadap tenggara dengan sudut 135 derajat.

1. Relief Yaksha di Biaro Bahal I
Pada bagian luar pipi tangga terdapat 3 panil relief yang menggambarkan raksasa (makhluk kahyangan yang khusus menjaga kekayaan dan kesuburan alam) dalam posisi menari (Koestoro, 2001: 28; Susanto, 1998:7–11).

Deskripsi visual tiap panil relief dalam hal ini adalah pemaparan semua fenomena visual seperti yang tervisualisasi dalam relief secara urut dalam satu panil. Penamaan panil diurutkan dari Panil I sampai Panil VI. Arah pembacaan figur dalam relief akan dimulai dari figur yang terletak paling kiri ke kanan. Detil deskripsi disajikan dalam uraian berikut.

Relief raksasa terletak pada bagian luar pipi kanan dan kiri tangga masuk Batur Biaro. Keseluruhan relief terdiri dari enam panil. Pada masing-masing pipi tangga terdapat tiga panil relief yang berbentuk persegi panjang vertikal. Panil berbentuk persegi tersebut bagian atas dibatasi oleh pelipit. Ada pun pada sisi bawah panil terdapat jarak tiga susunan bata dengan pelipit bawah pipi tangga masuk. Ketiga panil, baik yang terletak di sebelah barat daya atau timur laut, digambarkan secara terpisah. Dalam hal ini antara satu panil dengan panil yang lain terdapat jarak berupa pilaster setinggi dan selebar panil relief.

E. Analisis Relief
Dalam hubungan antara relief dalam candi dengan analisis semiotika, hal yang paling prinsip adalah tanda (objek). Sesuatu yang disebut tanda utama apabila dijadikan bentuk verbal akan menjadi, (relief raksasa dalam posisi menari yang dipahatkan pada batur Biaro Bahal I). Untuk memudahkan analisis, tanda tersebut akan dirinci menjadi unit-unit tanda yang lebih kecil yaitu, tanda I (figur raksasa), tanda II (figur digambarkan dalam tiga panil dalam posisi menari dan mulut menganga); dan yang terakhir Tanda III (batur Biaro Bahal I).

1. Tanda I (relief raksasa)
Representasi adalah objek yang dapat diamati berfungsi sebagai tanda. Representasi atau tanda I di candi Biaro Bahal adalah figur raksasa, dalam hal ini diperlukan ground peneliti selaku interpreter pada masa sekarang. Ground nantinya akan menjadi penghubung antara referensi seniman dan referensi peneliti dalam menginterpretasi figur raksasa. Dalam hal ini karena figur raksasa dipahatkan pada dinding sebuah bangunan suci agama Buddha, maka ground dengan sendirinya akan berkaitan juga dengan konsep kepercayaan agama Buddha pada masa itu. Seperti yang dikatakan oleh Sairam (1982: 17–18) bahwa sebuah “seni religious” yang ideal menyiratkan titik penting ketika aspirasi kebebasan, pandangan dunia, dan pikiran jernih seniman, pada saat yang bersamaan dikendalikan oleh religiusitas.

Kembali pada ground, figur raksasa dikenal dalam agama Hindu, Buddha, atau pun Jain. Dalam mitologi India, penggambaran rakshasha dibedakan menjadi dua. Pertama, dalam mitologi Hindu, raksasa adalah makhluk jahat atau jiwa yang bersifat jahat. Dalam bahasa Sanskerta, kata raksasa berarti “kekejaman” dan merupakan lawan kata dari raksha (sentosa). Mereka adalah bangsa pemakan daging manusia atau kanibal. Menurut mitologi Hindu, beberapa raksasa merupakan reinkarnasi dari orang-orang berdosa pada kehidupannya yang lampau. Meski bersifat jahat dan suka bertikai dengan para dewa, namun mereka juga memohon kesaktian dengan menyembah dewa tertentu, misalnya Brahma. Dalam Hindu, tidak selamanya raksasa berwujud mengerikan, mukanya sangar, dan bertubuh besar. Beberapa orang lahir dengan tubuh dan rupa manusia namun memiliki jiwa jahat selayaknya raksasa, seperti misalnya: Kamsa, Duryodana, Dursasana, Jarasanda, Sisupala. Tokoh-tokoh tersebut muncul dalam kisah Mahabharata. Raksasa betina disebut rakshasi, sedangkan raksasa dalam wujud manusia disebut manushya raksasa. Kedua, yaksa atau yaksha (berasal dari bahasa Sanskerta) adalah sejenis makhluk dalam mitologi Hindu, setengah manusia, setengah dewa. Yaksa seringkali dihubungkan dengan raksasa.

Berdasarkan definisi keterangan tentang raksasa, kemungkinan raksasa yang digambarkan dalam Biaro Bahal 1 adalah yaksha. Dugaan ini didasarkan pada: pertama, figur raksasa digambarkan pada sebuah bangunan suci; kedua, figur digambarkan tanpa gambaran bidang latar belakang, sehingga yang menjadi pusat perhatian adalah figur itu sendiri tanpa gangguan dari bidang latar belakang. Figur yang menjadi pusat perhatian pembaca relief dan dipahatkan pada bangunan suci tidak lain adalah figur dewa atau yang dianggap sebagai dewa; tidak mungkin figur raksasa jahat dipahatkan pada sebuah bangunan suci tanpa adanya figur dewa atau pahlawan yang menyertainya.

Sebelum dewa-dewa Hindu dan Buddha muncul dalam sistem kepercayaan di India, yaksha merupakan makhluk gaib yang dipuja oleh orang India sebagai sumber kehidupan karena melindungi pertanian. Setelah panteonisme dewa muncul dalam sistem kepercayaan di India, yaksha dimasukkan ke dalam golongan setingkat di bawah dewa.

Pada perkembangan berikutnya, yaksha menjadi pendamping Sang Buddha. Makhluk ini menghiasi stupa bersama makhluk lain seperti yang terdapat di stupa Bharhut, India pada abad I Masehi. Di Sanchi, masih di India, yaksha seakan-akan melindungi dan menjaga bangunan suci di Puncak Torana. Tugas yaksha sebagai pelindung itulah yang kemudian berkembang di Indonesia menjadi dwarapala.

Di Tibet, yaksha disebut sebagai gnod sybin, yang termasuk ke dalam kelas roh halus. Disebutkan juga dalam salah satu teks Buddha bahwa yaksha adalah penjelmaan kekuatan supernatural dari alam. Mereka biasanya hidup terpencil dari manusia dan memiliki keistimewaan sebagai pemimpin kehidupan spiritual.

Sumber lain menyebutkan bahwa yaksha termasuk ke dalam kelas semidewa. Pada umumnya makhluk ini penuh dengan kebaikan, tetapi kadang-kadang juga jahat. Beberapa di antaranya digambarkan sebagai sosok dewa-dewa lokal, yang lainnya hidup di Gunung Semeru (Mahameru) untuk menjaga dunia para dewa. Yaksha juga dikenal sebagai dewa yang melimpahkan keberuntungan dan kekayaan (Jain & Daljeet, 2006: 10). Dalam agama Hindu, Kubera (Sansekerta: Kuvera; baca: Kuwera) adalah dewa pemimpin golongan bangsa yaksa atau raksasa. Meski demikian, ia lebih istimewa dan yang utama di antara kaumnya. Ia bergelar “bendahara para dewa”, sehingga ia disebu dewa (Hindu), sedangkan dalam agama Buddha disebut Jambhala yang merupakan Dewa Kekayaan.

Figur yaksha sering digambarkan dalam bentuk raksasa ataupun figur manusia biasa dengan perhiasan yang mencolok (Jain & Daljeet, 2006:10). Melalui uraian di atas, dapat diketahui bahwa tanda I (figur raksasa) memunyai indeks dengan representasinya. Hal ini berarti, tanda I (figur raksasa) mengindikasikan sebuah konsep bahwa figur tersebut adalah yaksha yang digambarkan sebagai raksasa.

2. Tanda II (relief menari dan mulut menganga)
Tanda II, yaitu figur yang digambarkan dalam tiga panel dalam posisi menari dan mulut menganga. Tanda II ini akan dirinci lagi menjadi dua tanda yang lebih kecil, yaitu tanda (b), figur digambarkan dalam tiga panil relief; dan tanda (b), figur digambarkan dalam posisi menari dengan mulut menganga. Masing-masing tanda akan dihubungkan dengan ground yang bersifat ikon dan indeks untuk selanjutnya ditentukan representasinya yang paling tepat.

Tanda (a) yaitu, figur digambarkan dalam tiga panil relief, apabila dihubungkan dengan ground yang bersifat ikonik, dapat berarti bahwa jumlah figur yang digambarkan dalam relief tersebut adalah tiga figur. Akan tetapi, apabila diamati lebih detil, tampak bahwa komponen-komponen ikonografi dan gambaran wajah yang dimiliki oleh tiga figur tersebut sama. Hal ini tentunya menjadi sebuah pertimbangan juga bahwa terdapat sebuah kemungkinan bahwa figur yang digambarkan sebenarnya berjumlah satu figur saja, tetapi digambarkan dalam tiga sekuen gerakan tari. Representasi yang terakhir sepertinya lebih tepat apabila diterapkan pada tanda (a). Dengan demikian, tanda (a) yaitu figur digambarkan dalam tiga panil relief, merupakan sebuah indikasi adanya sebuah konsep bahwa jumlah figur sebenarnya satu tetapi digambarkan dalam tiga panil relief karena figur tersebut bergerak dalam tiga sekuen gerakan. Hal ini berarti antara tanda (a) dan representasinya memiliki ground yang bersifat indeks.

Tanda (b), yaitu figur digambarkan dalam posisi menari dengan mulut menganga, representasi dihubungkan dengan konsep kepercayaan dalam agama Buddha. Satu hal yang perlu dicatat dalam hal ini adalah adanya aksesoris berupa sebilah pedang. Pedang, selain sebagai sarana mempertahankan diri, juga merupakan simbol dari adanya pengorbanan. Apabila konsep ini dihubungkan dengan aktivitas menari yang dilakukan oleh yaksha, terdapat kemungkinan bahwa yaksha dalam hal ini digambarkan dalam posisi melakukan aktivitas tarian pengorbanan. Seperti yang dikemukakan oleh Suleiman (1985:26), bahwa kompleks percandian Padang Lawas erat kaitannya dengan agama Buddha aliran Vajrayana.

Vajrayana memandang alam kosmos (alam semesta) dalam kaitan ajaran untuk mencapai pembebasan. Apabila di Mahayana terdapat konsepsi Trikaya (tiga tubuh Buddha), maka dalam Vajrayana, Buddha bermanifestasi dan berada di mana-mana. Oleh karenanya, Buddha adalah wadah atau badan kosmik yang memiliki enam elemen, yakni: tanah, air, api, angin, angkasa, dan kesadaran. Dalam rangkaian yang tersusun sebagai sistem, Vajrayana selain memiliki pandangan filosofis, juga memiliki puja bakti ritual maupun sistem meditasi khusus yang disebut Sadhana, yaitu meditasi dengan cara memvisualisasikan dengan mata batin, menyatukan mudra, dharani (mantra), dan mandala.

Hal tersebut didasarkan pada beberapa temuan di tempat penelitian yang mengindikasikan keberadaan aliran tersebut di kompleks percandian Padang Lawas. Antara lain adalah penemuan Arca Bhairawa, Heruka dan Prasasti Tandihat yang berisi mantra dalam sekte Vajrayana. Upacara terpenting bagi penganut aliran Vajrayana adalah upacara Bhairawa yang pelaksanaannya berlangsung di sebuah ksetra, yakni tempat penimbunan mayat sebelum dibakar yang dianggap suci. Di sana mereka melakukan semadi, menari-nari, merapalkan mantra-mantra, membakar mayat, minum darah, tertawa-tawa, serta mengeluarkan bunyi seperti suara banteng (Suleiman, 1985: 26). Lebih jauh lagi, pisau atau pedang dalam hal ini sebagai simbol dari pengorbanan. Melalui uraian di atas, maka tanda (b) merupakan sebuah indikasi terdapatnya sebuah konsep bahwa yaksha di dalam relief tersebut digambarkan dalam suatu aktivitas ritual suci aliran Vajrayana.

Setelah dilakukan pembahasan terhadap tanda-tanda (a) dan (b), selanjutnya representasi dari Tanda II (figur digambarkan dalam tiga panel dalam posisi menari dan mulut menganga) dapat ditentukan dengan lebih mudah. Kata kunci untuk ground berdasarkan interpretasi dari tanda (a) dan (b), adalah figur melakukan tiga sekuen gerakan tari dan menari, pengorbanan dan tertawa merupakan ritual suci aliran Vajrayana. Jadi, representasi dari tanda II adalah figur digambarkan melakukan aktivitas ritual aliran Vajrayana.

Pembahasan berikutnya adalah tanda III yaitu, (batur Biaro Bahal I) yang akan dihubungkan dengan ground arsitektural bangunan candi secara umum, yang berarti hubungan antara tanda III dan representasinya akan bersifat indeks pula.

Menurut Soekmono (1977: 241) candi adalah kuil tempat pemujaan dewa. Di tempat itu orang berbakti kepada dewa, oleh karena itu benda terpenting untuk pemujaan adalah patung yang melukiskan dewa itu. Menurut kosmologi India, tempat bersemayam para dewa yang sesungguhnya adalah puncak Gunung Mahameru—gunung kosmis bangsa India. Dengan demikian candi merupakan pencerminan atau simbol tempat tinggal dewa-dewa itu atau merupakan replika Gunung Mahameru. Candi juga merupakan simbolisasi alam semesta.

Pembagian bangunan ke dalam tiga bagian yaitu kaki, tubuh, dan atap sesuai dengan lingkungan alam semesta yang terdiri atas bhurloka (lingkungan para makhluk yang masih bisa mati), bhuvarloka (lingkungan manusia yang sudah disucikan), dan svarloka (lingkungan para dewa) (Soekmono, 1972: 15). Sebagai replika Gunung Mahameru atau replika kosmos, candi harus didirikan di lingkungan yang suci. Oleh karena itu, suatu tempat yang akan dipakai untuk mendirikan candi harus disucikan lebih dahulu. Tempat itu kemudian diberi tanda dengan sembilan patok, satu di pusat lainnya pada keempat sudutnya serta pada tengah sisi-sisinya. Ketiga alam tersebut secara berturut-turut dalam agama Buddha disebut Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu (Fontein, 1972: 13). Selanjutnya di halaman itu didirikan candi. Halaman candi kemudian dinyatakan dengan tembok keliling (Soekmono, 1977: 232-235). Halaman dalam kompleks candi merupakan lingkungan yang suci, sedangkan pagar merupakan batas pemisah dengan dunia profan (Kempers, 1959: 20).

Ketiga bagian dari bangunan suci Candi Biaro Bahal I berada di atas sebuah batur yang berbentuk bujursangkar dengan ukuran 10 x 10m. Keberadaan batur candi ini mengindikasikan bahwa tiga bagian bangunan suci tidak didirikan di atas tanah, dan batur dalam hal ini adalah sebagai landasan tempat ketiga bangunan suci tersebut berada. Dalam bilik candi agama Buddha pada umumnya terdapat arca pemujaan yang tentunya merupakan figur dewa utama. Ada pun batur candi merupakan bangunan tempat dilaksanakannya pradaksinapatha. Pelaksanaan pradaksinapatha, yang tidak lain adalah ritual pemujaan berupa berjalan mengelilingi bangunan suci yang dilakukan di batur candi, mengindikasikan bahwa batur candi merupakan wahana pelaksanaan ritual, tempat penting dalam pelaksanaan ritual pemujaan. Melalui uraian ground indeks di atas, maka tanda III yang berupa (batur Biaro Bahal I) mengindikasikan sebuah konsep bahwa Batur Biaro merupakan wahana ritual dan landasan ketiga bagian bangunan suci tempat dewa-dewa yang dipuja berada.

Dalam proses semiotic, tanda-tanda di atas selanjutnya dapat dijadikan petunjuk untuk selanjutnya menentukan representasi dan interpretaasi dari tanda utama yang tertera di dalam permasalahan, yaitu relief raksasa dalam posisi menari yang dipahatkan pada batur Biaro Bahal I. Hal-hal yang perlu dicatat berdasarkan analisis tanda-tanda, berkaitan dengan inti permasalahan adalah figur yaksha; gerakan menari dalam tiga sekuen; ritual-ritual suci aliran Vajrayana; dan batur candi sebagai wahana ritual pemujaan dan landasan keberadaan bangunan suci tempat dewa-dewa utama dipuja. Dengan demikian, tanda (relief raksasa dalam posisi menari yang dipahatkan pada batur Biaro Bahal I)berdasarkan uraian dan pembahasan atas Tanda I, II, dan III, mengindikasikan sebuah konsep bahwa relief tersebut menggambarkan figur yaksha yang secara kontinyu melakukan ritual-ritual suci aliran Vajrayana dengan menari dan tertawa, tidak lain untuk melindungi, memakmurkan, dan menyucikan ketiga bagian suci dari Biaro Bahal I yaitu Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu tempat dewa-dewa utama dipuja.

Lebih jelas lagi, apabila dihubungkan dengan candi sebagai representasi dari Gunung Mahameru, maka tanda (relief raksasa dalam posisi menari yang dipahatkan pada batur Biaro Bahal I) memunyai relasi indeks dengan konsep representasi Biaro Bahal sebagai representasi dari Gunung Mahameru, dan yaksha sebagai penjaga alam dewa-dewa bertempat tinggal di kaki gunung Mahameru tersebut, melakukan ritual ritual aliran Vajrayana dengan menari dan tertawa untuk menyucikan dan memuja dewa-dewa yang bertempat tinggal di Gunung Meru. Melalui relasi tersebut tidak mengherankan apabila relief tersebut digambarkan pada batur candi.

Kepustakaan
Fontein, Jan. et. al. 1972. Kesenian Indonesia Purba. New York: Grapic Society Ltd.
Kempers, A. J. Bernet. 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: P. J. Van der Peet.
Koestoro, Lucas Partanda. dkk. 2001. Biaro Bahal Selayang Pandang. Medan: Maparasu.
Restiyadi, Andri. 2006. “Analisis Sintaktik, Semantik, dan Kreativitas Seniman Jawa dalam Pembingkaian Tanda Visual-Naratif pada Relief Cerita Krsna di Candi Prambanan (Sebuah Pendekatan Semiotika Desain)”, dalam Skripsi untuk gelar Sarjana dalam Ilmu Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Sairam, T. V. 1982. Indian Temple Forms and Foundations. New Delhi: Agam Kala Prakasham.

Internet
Sonesson, Göran. Lecture I: The Quadrature of The Hermeneutic Cicle, Historical And Systematic Introduction to Pitorial Semiotics. http://www.chass.utoronto.ca/epc/srb/cyber/ Sonesson1.pdf. tt (a).
http://balarmedan.wordpress.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Relief
Relasi Makna C.S Piercehttp://fahri99.wordpress.com/2007/06/20/relasi-makna-cs-pierce/
JudulMetodologi Penelitian FolklorPenulisSuwardi EndraswaraPenerbitMedia PressindoISBN9797880990, 9789797880996
http://echoarianto.wordpress.com/2010/02/28/candi-biaro-bahal-di-tapanuli-selatan/
http://www.budpar.go.id/filedata/790_1261-03Padang Lawas1.pdf
http://www.buddhakkhetta.com/User/Kat1/Sub20/Sub221/Art223/baca.php?com=1&id=223
http://bulletin.alambahasa.com/budaya-indonesia/52/riwayat-dvarapala/
http://www.walubi.or.id/wacana/wacana_057.shtml
http://www.purbakala.jawatengah.go.id/detail_berita.php?act=view&idku=35
http://balarmedan.wordpress.com

Sumber : http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/647

Artefak Batu Kendan


Oleh : Lutfi Yondri

Artefak Batu Kendan: Teknologi, Manusia Pendukung
dan Kronologinya dalam Kerangka Budaya Prasejarah
di Tepian Danau Bandung Purba

Abstracts
Subsistence of prehistoric man in the ancient of Bandung Basin ridge, can be estimated had taken since Paleolithic until Paleometalic era. During prehistoric era, the ideal as dwelling area can be proved by several of obsidian stone (Sundanese: kendan stone) as a prehistoric tools which have spread over in many locations. In this period, kendan stone tools are seems to be common used by prehistoric man who inhabited in the ancient of Bandung Basin ridge. This paper try to mention about how it makes, function in human being, chronology, and man who support it culture in the past period.

Kata kunci: batu kendan, obsidian, prasejarah, manusia, danau bandung purba

Pendahulan
Kendan, tidak ada pertanggalannya pasti kapan nama itu ada dalam lintas sejarah dan budaya di Jawa Barat, khususnya bagi masyarakat yang mendiami kawasan Danau Bandung Purba. Nama ini begitu popular ketika kita menyibak kembali masa klasik Sunda. Pada masa itu pernah berlangsung satu institusi kerajaan yang bernama Kerajaan Kendan. Konon wilayah ini dahulunya merupakan daerah yang diberikan oleh Sri Maharaja Suryawarman kepada Resi Guru Manikmaya dengan segala kelengkapannya. Di wilayah itulah Sang Resi kemudian diangkat sebagai pemegang kekuasaan “ratu” dan merupakan bagian dari wilayah kekuasaan Tarumanagara. Akan tetapi dalam kaitannya dengan budaya prasejarah yang pernah berlangsung di kawasan tepian Danau Bandung Purba, nama kendan itu selalu menjadi objek bahasan karena mayoritas peralatan batu yang ditemukan di kawasan itu terbuat dari bahan batu obsidian yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai Batu Kendan.

Tidak semua daerah di Indonesia menyebut bahan yang demikian dengan sebutan batu kendan, beberapa masyarakat ada yang menyebutnya dengan istilah batu kaca, batu kecubung, dan lain sebagainya. Artefak yang terbuat tersebut, di Indonesia umumnya ditemukan di lingkungan gua dan danau (Heekern, 1972: 181). Tempat-tempat penemuan artefak tersebut yang pernah di data oleh Adhi Surjana (1998) antara lain Gua Ulutiangko dan Tiangkopanjang (Jambi); danau Gadang (dekat Danau Kerinci); sekitar Danau Cangkuang (Garut), sekitar kawasan tepian Danau Bandung Purba (Bandung), Leuwiliang (Bogor), Gua Sodong (Besuki); danau Tondano (minahasa, serta Gua Rundung (Flores Barat) (Surjana. 1998: 8). Sementara itu data terakhir tentang temuan artefak tersebut yang juga didukung oleh temuan manusia pedukungnya ditemukan di Gua Pawon yang terletak di kawasan sebelah barat tepian Danau Bandung Purba (Yondri, 2003).

Artefak batu kendan di di tepian Danau Bandung Purba, antara lain pernah diteliti oleh A.C. de Jong dan G.H.R. von Koenigswald (1930 - 1935), J. Krebs (1932-1933), Stein Callenfels (1934), van der Hoop (1938), Erdbrink (1942), W. Rothpletz dan W. Mohler (1942-1945), von Heine Geldern (1945), J. Bandi (1951), van Heekeren (1972), dan tim dari Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (1978) yang melakukan penelitian di daerah Cililin dengan temuan berupa alat-alat serpih berbahan batu kendan dan beberapa alat serpih yang terbuat dari bahan lain seperti batukuarsa, batuapi, dan batugamping. Lokasi-lokasi temuan artefak batu kendan pada penelitian tersebut antara lain Padalarang, Dago, Lembang, Cicalengka, Banjaran, Soreang, dan Cililin (Heekeren, 1972, Pantjawati 1988). Sementara itu, dari hasil penelitian yang telah dilakukan terakhir, telah diperoleh beberapa lokasi-lokasi temuan baru yang sebelumnya belum terlacak, seperti Gua Pawon, kawasan perbukitan kawasan Ujung Berung, Cinunuk, dan Cileunyi (Yondri, 2003, 2004, Laili, 2005).

Luasnya daerah persebaran temuan artefak batu kendan di tepian Danau Bandung Purba dan adanya ketercampuran artefak tersebut dengan temuan budaya lain, kemudian sempat menjadi topik perdebatan di kalangan para ahli, dalam hal ini bayak permasalahan yang kemudian tidak dapat memberikan pemahaman yang memuaskan. Oleh kaena itu dengan adanya berbagai temuan baru, dan hasil analisis yang dilakukan kemudian, dalam dulisan ini akan dicoba uraikan tentang bagaimana pengolahannya, keberagaman bentuk dan fungsi, serta siapa manusia pendukungnya di masa lalu.

Pembahasan
Pengolahan Batu Kendan Menjadi Artefak
Batu kendan berdasarkan proses terbentuknya termasuk dalam kelompok batuan beku luar (extrusive igneuos rock), yaitu batuan yang terjadi karena pembekuan magma yang terjadi karena proses pendingan yang sangat cepat dari magma yang keluar kepermukaan bumi. Batu Kendan termasuk dalam kelompok batuan rhyolite yaitu batuan beku yang bersifat asam dengan kandungan silika lebih dari 66%, kandungan kuarsa minimal 10%, dan juga kandungan orthoclase (photasium feldspar) yang minimal berjumlah seperdelapan dari total feldspar. Kelompok batuan rhyolite ini merupakan batuan aliran dari granit yang bertekstur aphanitic yaitu memiliki butiran mineral yang sangat halus dan kenampakan mineral yang sejajar satudengan yang lainnya (Soetoto, 1986: 28-37).

Batu Kendan secara petrografi memiliki ciri pecahan gelombang yang melengkung di permukaan atau bersifat concodial, memiliki warna cerah dan berkilap kaca (vitreous luster), pada umumnya merupakan batuan masif, dan bertekstur gelas (galssy), dengan kekerasan berkisar antara 5-5.5 skala Mohs, dan termasuk batu mulia tanggung. Pada batu yang berwarna hitam terdapat kandungan magnetite (Fe2O4) dan mineral lain berwarna hitam. Sementara itu pada batuan batu Kendan berwarna kuning, merah, dan coklat terdapat kandungan magnetit dan hematit (Fe2O3), berwarna merah (Pearl, 1980: 67). Adanya kandungan silika yang besar itu menyebabkan batuan itu mempunyai sifat keras yang memudahkan penyerpihan, dan dapat menghasilkan sudut pecahan yang tajam (Oakley, 1968:28-29).

Sifat-sifat yang demikianlah yang tampaknya menjadikan batuan tersebut menjadi pilihan dan dianggap sangat baik untuk dijadikan peralatan hidup manusia di masa lalu. Dan bahkan merupakan batu favorit yang dipakai untuk membuat senjata dan sampai sekarang batu ini masih dijadikan sebagai alat alat bedah. Batu obsidian pertama kali ditemukan oleh obsidius maka dari itu nama batu ini berasal dari namanya. Batu obsidian dapat ditemukan di Jepang, Hawaii, Iceland, Mexico, Hungary, Guatemala, Ecuador, New Mexico dan Arizona. http://elevenmillion.blogspot.com/2009/08/batu-obsidian.html

Pengolahan bahan batu Kendan menjadi alat batu oleh manusia prasejarah penghuni tepian Danau Bandung Purba di masa lalu. Berdasarkan ukuran sisa pembuatan alat (batu inti) yang ditemukan, besar kemungkinan dapat memberikan pemahaman akan dekatnya lokasi pembuatan dengan sumber perolehan bahan. Dalam hal ini dapat diasumsikan bahwa setelah bahan diperoleh dari tempat penambangan, kemudian batu inti tersebut akan dibawa dan diolah mengikuti pergerakan dan penghunian yang mereka lakukan di tepian Danau Bandung Purba. Dalam hal ini semakin dekat lokasi temuan dengan sumber bahan maka sisa bahan atau batu inti yang tersisa dari hasil pengolahan alat masih dalam ukuran yang cukup besar, dan semakin jauh dari sumber bahan sisa bahan makin kecil.

Pengolahan batu kendan menjadi alat batu tidak terlepas dari dua teknik dasar pengolahan yaitu tehnik pukul (percussion technique) dan teknik tekan (pressure technique) (Crabtree et all., 1972). Dalam pelaksanaan pembuatan alat batu, teknik pukul biasanya dilakukan dengan dua cara yaitu dilakukan secara langsung (direct percussion technique) yang secara langsung memukulkan alat pemukul ke batu inti yang akan dibuat menjadi alat batu. Pemukulan ini juga dapat dilakukan secara tidak langsung (indirect percussion technique) dengan cara tidak memukulkan langsung alat pukul ke batu inti. Biasanya dalam teknik tidak langsung ini digunakan benda lain seperti tulang atau kayu sebagai perantara antara alat pemukul dan batu inti. Seperti yang dikemukakan oleh Harrie Lsurise Inizan (1992), pada teknik pukul tersebut sebenarnya masih dapat dibedakan lagi berdasarkan kekerasan alat pukul yang digukan. Pertama disebutnya sebagai hard hammer percussion. Teknik ini biasanya menggunakan alat batu pukul yang memiliki kekerasan yang cukup tinggi. Dan kedua, disebut soft hammer percussion. Pada teknik ini perkakas yang digunakan tidak sekeras yang digunakan pada hard hammer percussion, yaitu tulang dan tanduk (Inizan, 1992: 37-38)

Berbagai Bentuk Temuan Peralatan dari Batu Kendan
Apa kegunaan dan bagaimana kaitan antara batu Kendan dalam kehidupan manusia prasejarah yang hidup di tepian Danau Bandung Purba?, ini merupakan satu pertanyaan yang umum dipertanyakan oleh para ahli prasejarah. Bila batu Kendan itu hanya terserak begitu saja tanpa memiliki korelasi dengan budaya, mungkin batu tidak akan menjadi perhatian dari para ahli, dan mungkin sampai sekarang tidak akan ada yang membicarakannya. Karena Batu Kendan yang banyak ditemukan di tepian kawasan Danau Bandung Purba tidak hanya berupa bongkahan, tetapi juga berupa serpih, dan banyak di antaranya memiliki ciri sebagai alat batu, maka muncullah berbagai perdebatan dan pembahasan dari para ahli. Beberapa peneliti yang pernah membahas Batu Kendan (obsidian) di antaranya A.C.de Jong dan G.H.R. von Koenigswald (1930 - 1935), J. Krebs (1932-1933), Stein Callenfels (1934), van der Hoop (1938), Erdbrink (1942), W. Rothpletz dan W. Mohler (1942-1945), von Heine Geldern (1945), J. Bandi (1951), van Heekeren (1972), Pantjawati (1988), dan Lutfi Yondri (2005).

Khususnya penelitian yang pernah dilakukan oleh Bandi (1950). Dia menyatakan bahwa kumpulan koleksi artefak batu Kendan yang berasal dari tepian Danau Bandung Purba tidak menunjukkan keseragaman. Sebagian besar batu Kendan tersebut berupa serpih dan sisa pembuatan (waste products). Temuan yang benar-benar meupakan bilah sangat jarang, beberapa diantara batu Kendan tersebut telah dikerjakan dengan baik dan serpih beretus sebanyak 291 dengan mata tajaman sebagai akibat dari pemakaian, dan 159 dengan tajaman marginal. Juga terdapat 239 tipe alat seperti mata panah berukuran kecil, serut samping, serut inti, alat tusuk, dan pisau-pisau berpunggung. Koleksi artefak batu Kendan yang dikerjakan oleh Bandi berjumlah 889 serpih, beberapa di antaranya sudah terbagi berdasarkan fungsinya, terdiri dari 49 mata panah, 46 alat serut berpunggung, 25 alat serut inti, 62 alat serut, 21 alat tusuk, 11 alat pelobang, 5 pisau, 10 bentuk khusus, 159 serpih beretus, dan 9 serut inti berpunggung (Heekeren, 1972). Klasifikasi yang dilakukan oleh Bandi tersebut, tampak jauh lebih beragam bila dibandingkan dengan hasil klasifikasi yang ditemukan oleh Koenigswal (1935) dengan klasifikasi artefak berupa serut dengan variasi serut dan serut cekung, mata panah, penusuk, gurdi, penyerut, dan pembelah (Sumiati, 2004: 48).

Sementara itu, berdasarkan hasil penelitian Pancawati (1988) terhadap artefak-artefak batu Kendan Danau Bandung Purba yang tersimpan di Museum Nasional, Jakarta. Pengamatan terhadap beberapa variabel yang terkait dengan fungsi yang meliputi variabel berat, letak tajaman, bentuk, tingkat kerusakan tajaman, serta pola perimping atau catu pakai, Pantjawati mengelompokkan fungsi alat-alat batu Kendan Danau Bandung Purba ke dalam tujuh kelompok, diantara adalah alat yang dipakai untuk aktivitas menyerut atau memotong dengan besaran sudut tajaman antara 46 sampai 55 derajat, untuk pembuatan alat menggali dari kayu (digging stick) dengan besaran sudut tajaman alat antara 35 sampai 40 derajat, alat untuk menggaruk, pisau, alat tusuk, pelobang, dan alat yang bersifat multi fungsi.

Analisis terhadap batu kendan yang berasal dari tepian Danau Bandung Purba juga pernah dilakukan oleh Iis Sumiati (2003) dengan sampel temuan batu-batu kendan temuan dari situs Dago, yang sekarang menjadi koleksi Museum Geologi Bandung. Dari 2285 artefak batu kendan analisis tersebut berhasil dikelompokkan masing-masingnya ke dalam kelompok bahan baku, kelompok alat, perkakas, dan limbah. Data yang cukup menarik dari hasil analisis yang dilakukan oleh Iis Sumiati tersebut adalah adanya pengkayaan akan identifikasi tipe alat, perkakas dan sub tipe alat yang lebih banyak bila dibandingkan dengan hasil identifikasi baik yang dilakukan oleh Koenigswald (1935), Bandi (1950), maupun oleh Pantjawati. Bentuk-bentuk alat hasil analisis Sumiati, antara lain terdiri dari alat serpih dengan sub tipe alat serpih pakai, kemudian alat serut dengan sub tipe berupa alat serut samping, serut cekung, serut ujung, serut gerigi, dan serut berpunggung tinggi, kemudian lancipan, gurdi dengan sub bertipe dan non tipe, mata panah, pisau, serta limas. Sementara itu dari kelompok perkakas, didapatkan tipe batu pukul, batu inti, dan serpih (Sumiati, 2003:60).

Berkaitan dengan fungsi alat-alat berbahan batu Kendan yang ditemukan di kawasan tepian Danau Bandung Purba yang telah dianalisis oleh Koenigswald, Bandi, Pantjawati, dan Iis Sumiati tersebut, beberapa jenis alat yang sama juga ditemukan di Gua Pawon. Artafak-artefak batu Kendan yang ditemukan di gua tersebut selain berasosiasi dengan fragmen gerabah disamping fragmen tulang binatang dan sisa-sisa moluska pada kedalaman antara 0 hingga 60 cm dari permukaan tanah, juga ditemukan pada kedalaman antara 60 hingga 180 cm dari permukaan tanah dengan asosiasi temuan berupa alat tulang, sisa perhiasan dari gigi ikan dan binatang, fragmen tulang binatang, rangka manusia. Walaupun kegiatan ekskavasi di Gua Pawon belum selesai dilakukan, temuan batu Kendan yang ditemukan telah dapat memperlihatkan dua periode budaya pengguna artefak batu Kendan yaitu era mesolitik dan era neolitik yang ditandai oleh temuan serta berupa fragmen gerabah.

Temuan artefak batu Kendan di Gua Pawon umumnya lebih banyak berukuran kecil dan lebih cenderung pada sisa pembuatan (debris), dengan ditemukannya beberapa artefak batu Kendan yang berasosiasi dengan sisa-sisa makanan berupa fragmen tulang binatang, alat-alat tulang berupa lancipan tunggal dan lancipan ganda berbagai ukuran, sisa perhiasan dari gigi binatang, dapat disimpulkan bahwa alat-alat batu Kendan di Gua Pawon tersebut selain digunakan untuk keperluan untuk pengolahan bahan makanan, juga digunakan sebagai alat dalam membuat dan meruncingkan peralatan yang terbuat dari bahan tulang dan tanduk, serta dalam membuat perhiasan yang terbuat dari gigi hewan vertebrata dan ikan (Hiu).

Berdasarkan hasil analisis 1637 artefak batu kendan (obsidian) hasil ekskavasi di Gua Pawon, kotak S3T3, S3T4, S4T4, dan S4T5 yang dilakukan oleh Anton Ferdianto (2009) , tampak variasi alat yang dihasilkan sedikit lebih kaya bila dibandingkan dengan klasifikasi yang telah di hasilkan oleh peneliti terdahulu, baik yang dilakukan oleh Koenigswald (1935), Bandi (1950), Pantjawati (1988), dan Iis Sumiati (2004), karena di Gua Pawon ditemukan artefak batu kendan yang multi fungsi (multy tools). Disebutkan bahwa alat ini memiliki keunikan tersendiri, yaitu memiliki lebih dari satu fungsi atau karakteristik alat. Alat ini selain digunakan sebagai bilah untuk memotong pada bagian lateralnya, namun pada bagian sisi yang lain berguna sebagai alat penyerut (Ferdianto, 2008: 50). Tidak salah kalau alat-alat batu berbahan Batu Kendan yang ditemukan di Gua Pawon tersebut disimpulkan lebih bervariatif bila dibandingkan dengan temuan dari lokasi-lokasi yang lain di tepian Danau Bandung Purba.

Hasil analisis tentang klasifikasi temuan alat batu Kendan temuan dari sekitar Danau Bandung Purba yang berhasil dianalisis oleh masing-masing ahli tersebut dapat diperbandingkan dari tabel sebagai berikut.

Tabel. Perbandingan klasifikasi dan identifikasi fungsi artefak batu Kendan
Klasifikasi
Koenigswald
(1935)
Bandi
(1951)
Pantjawati (1988)
Sumiati
(2004)
Ferdianto
(2009)
Bahan baku
-
-
-
Bongkahan
Bongkahan
Kelompok Alat dan Variasinya
-
-
Fungsi 1
Kemungkinan variasi: Penampang lintang : segi empat. Sisi dorsal : trapesium dengan sisi terlebar di bagian belakang. Bentuk tajaman: cekung
Serpih Pakai
Serpih Pakai
Serut
1.Serut
2. Serut Cekung
Serut
Fungsi 2
Kemungkinan variasi: Bentuk : Mikrolit
Serut
1. Serut Samping
2. Serut Cekung
3. Serut ujung
4. Serut Gerigi
5. Serut berpung-gung tinggi
Serut
1. Serut Samping
2. Serut Cekung
3. Serut ujung
4. Serut Gerigi
5. Serut berpung-gung tinggi
Mata Panah
Lancipan
1.Mata Panah
2.Penusuk
Penusuk tengah
Penusuk bersisi
Penusuk bersudut
Fungsi 3
Kemungkinan variasi: Sisi dorsal : trapesium dengan sisi terlebar di bagian depan
Lancipan
Lancipan
Fungsi 4
Mata Panah
Mata Panah
Gurdi
Gurdi
Fungsi 5
Gurdi
1. Bertipe
2. Non Tipe
Gurdi
Penyerut
Penyerut
1.Penyerut tebal
2.Penyerut runcing
3.Penyerut runcing dan tebal
Fungsi 6
Kemungkinan variasi: Sisi dorsal : segi tiga sama kaki. Bentuk kerusakan tajaman : a. teratur, besar, dan dalam. b. teratur, besar, dan dangkal
Pisau
Pisau

Pembelah
Pembelah
Fungsi 7
Limas
Multy Tools
Perkakas


-
Batu Pukul
Batu Pukul
Limbah
-
-
Limbah
1.Serpihan
2.Serpih
1.Serpihan
2.Serpih
Sumber Bahan Batu Kendan

Dari mana perolehan bahan batu kendan untuk membuat alat batu oleh manusia prasejarah yang hidup di tepian Danau Bandung Purba, baik yang melangsungkan hidup di dalam gua maupun dalam bentuk hunian terbuka, juga merupakan satu permasalahan yang menarik untuk dibahas lebih lanjut. Dalam hal ini pertanyaan apakah batu-batu tersebut hanya berasal dari daerah Kendan saja, atau ada sumber bahan yang lain.

Berdasarkan hasil kajian terakhir yang dilakukan Tjia, dkk, melalui analisis Spektrometer di Universitas Ilmu Pengetahuan Malaysia, Penang dan electron microprobe di Universitas Malaya, Kuala Lumpur, ternyata peralatan berbahan batu kendan tersebut bukan berasal dari satu lokasi yang sama yakni Gunung Kendan, akan tetapi juga berasal dari sumber bahan yang lain. Hal ini antara lain dibuktikan dari hasil analisis beberapa sampel yang diambil dari beberapa situs yang ada di tepian Danau Bandung Purba seperti Gua Pawon, Bukit Karsamanik, dan Dago yang kemudian diperbandingkan dengan sampel yang diambil dari Gunung Kendan (Nagreg), Kampung Rejeng (Garut). Dari hasil analisis tersebut peroleh adanya kesamaan unsur kimia yang terkandung dalam masing-masing sampel. Kesamaan unusur inilah yang kemudian dijadikan sebagai data yang dapat memberikan gambaran tentang keterkaitan antara artefak dan sumber bahan. Dalam hal ini berbagai peralatan atau artefak batu kendang yang ditemukan di kawasan tepian Danau Bandung Purba tersebut di masa lalu selain berasal dari Kendan juga digunakan batu yang sama yang berasal dari Kampung Rejeng (Garut) (Tjia, dkk: 2007).

Oleh karena hasil analisis ini masih terbatas dari sampel yang berasal dari sumber baha sebenarnya kajian akan sumber bahan ini masih terbuka untuk diperdebatkan karena dari informasi yang berhasil dikumpulkan, di kawasan Jawa Barat masih terdapat lokasi yang lain yang juga mengandung bahan batu kendan (obsidian), seperti daerah Sukabumi. Dalam hal, bila jelajah manusia prasejarah pendukung artefak batu kendan tersebut mampu menjangkau wilayah Garut, besar kemungkinan manusia-manusia prasejarah yang menempati wilayah ini juga mampu menjangkau sumber bahan yang ada di daerah lain yang dapat mereka ekploitasi. Dalam hal ini manusia prasejarah yang hidup di kawasan bagian timur akan mencari bahan ke wilayah Nagrek dan Garut, sementara manusia prasejarah yang menempati kawasan bagian barat tepian Danau Bandung Purba mencari bahan dari daerah lain, yang tidak menutup kemungkinan bahan-bahan tersebut berasal dari daerah Sukabumi karena di daerah tersebut juga terdapat sumber bahan yang sama. Akan tetapi untuk membuktikan hal tersebut, perlu dilakukan analisis spesifik lebih lanjut.

Kelompok Manusia Tertua Pemakai Batu Kendan
Dapat disimpulkan bahwa hampir beberapa dekade lamanya, pengetahuan tentang manusia pendukung budaya batu Kendan yang ditemukan di tepian Danau Bandung Purba tidak dapat terungkap. Melihat data tentang persebaran situs pengandung artefak batu Kendan, keletakannya di tepian Danau Bandung Purba selama ini hanya baru dapat memperkirakan tentang bentuk pemukiman dari kehidupan manusia pendukung budaya batu Kendan. Sebaran situs umumnya menempati daerah terbuka di lereng-lereng perbukitan dengan ketinggian rata-rata sekitar 723 m diatas permukaan laut. Bentuk hunian terbuka ini senada dengan pendapat yang dikemukakan oleh R.P Soejono yang manyatakan bahwa kecuali bertempat tinggal di gua-gua, ada juga kelompok manusia yang bertempat tinggal di tepi pantai (Soejono, 1984: 125).

Mungkin yang dimaksud di tepi pantai di sini tidak terbatas pada lokasi-lokasi yang bersisian dengan laut, dalam hal ini juga termasuk daerah-daerah yang dekat dengan lokasi sumber air seperti danau dan sungai. Hidup mereka pada saat itu masih sepenuhnya tergantung kepada alama lingkungannya. Mereka hidup berburu binatang di dalam hutan, menangkap ikan, mencari kerang dan siput, dan mengumpulkan makanan dari alam di sekitarnya, misalnya umbi-umbian seperti keladi. Kecenderungan memilih hidup di gua-gua atau di gua-gua payung pada masa itu diperkirakan dilakukan secar tidak tetap, demikian pula dengan cara hidup di tempat-tempat terbuka di pinggir-pinggir pantai. Tempat-tempat tersebut mereka tempat selama di daerah sekitarnya terdapat sumber-sumber hidup yang mencukupi kebutuhan mereka. Tempat tersebut kemudian akan ditinggalkan dan mereka akan berpindah ke tempat yang baru, apabila ditempat yang pertama tadi tidak memungkinkan karena bahan-bahan makanan sudah makin berkurang (Soejono, 1984:156).

Berdasarkan penafsiran pola kehidupan masyarakat pada tingkat budaya yang demikian, maka sebaran situs pengandung artefak batu Kendan di tepian Danau Bandung Purba dapat mencerminkan tetang dinamika penghidupan yang terjadi pada era tersebut. Kawasan pengandung artefak batu Kendan di tepian Danau Bandung Purba diantaranya ada yang memiliki frekuensi temuan yang cukup padat, ada pula dengan frekuensi temuan yang tidak padat. Hal ini mungkin juga terkait dengan lamanya intensitas penghunian di kawasan tersebut di masa lalu. Data tentang manusia tertua sebagai pendukung budaya batu Kendan di tepian Danau Bandung Purba baru terungkap dari hasil penggalian arkeologis yang dilakukan di Gua Pawon dengan ditemukannya 4 rangka manusia dalam kotak penggalian yang sama dengan temuan artefak batu Kendan. Perkiraan tentang jenis ras manusia manusia tersebut, Bass dalam tulisannya “Human Osteology, A Laboratory and Field Manual” (1989) menyebutkan bahwa bagian kepala (skull) merupakan satu-satunya area dari rangka yang akurat. Perkiraan ras yang berdasarkan amatan bagian kepala atau tengkorak tersebut dihasilkan dari pengamatan tulang muka yang dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu berdasarkan variasi struktur tulang secara morfologis dan anatomis, serta pengukuran anthropomorfik (Bass, 1989:83-85). Dalam amatan morfologis dapat dilihat bentuk muka yang datar (flat face atau orthognathous) dengan pemunduran tulang zygomatik,seperti yang umum dimiliki oleh ras Kaukasoid, prognatisme pada ras Negroid, dan pola gigitan edge to edge pada ras Mongoloid.

Berdasarkan pengamatan terhadap bagian kepala masing-masing individu yang ditemukan di Gua Pawon, menunjukan bentuk tengkorak yang cenderung membulat atau brachycephal. Ciri lain yang mengarah pada ras adalah bagian mulut yang menonjol sedikit, bersama dengan gigi muka dengan pola tautan gigi edge to edge, serta gigi seri sebagian besar berbentuk sekop (shovel sharped incisor) seperti yang umumnya dimiliki oleh manusia dari ras Mongoloid. Ciri lain dari ras ini adalah variasi tinggi badan tidak selebar pada ras Austromelanesid, dan rata-rata lebih kecil. Bentuk tengkorak bundar atau sedang, dengan isi tengkorak rata-rata lebih besar. Dahi lebih membulat dan rongga mata tinggi dan persegi, muka lebar dan datar (brachiocephaly) (dalam arah muka-belakang) dengan hidung yang sedang atau lebar; akar hidung dangkal. Hanya bagian mulut yang menonjol sedikit, bersama dengan gigi muka. Reduksi alat pengunyah relatif berlanjut; tempat pelekatan otot-otot lain mulai kurang nyata. Ciri lain adalah rahang atas berbentuk persegi (square jaws), tulang pipi (cheek bone) menonjol dan lebar, hidung lebar, akar hidung dangkal dan sebagian besar gigi seri berbentuk sekop
(shovel sharped incisor) (Beals dan Hoijer, 1965:209-211; Soejono, 1984:131-132).

Manusia ras mongoloid tersebut diperkirakan telah hidup dan berkembang di kawasan Nusantara sejak sekitar 10.000 tahun yang lalu, di samping manusia dari ras yang lain yaitu ras Australomelanesoid (Snell dan T. Jacob dalam Boedhi Sampurno dan Koeshardjono, 1983:1). Di bagian barat Indonesia, berkembang populasi yang merupakan campuran ras Australomelanesoid-Mongoloid dengan unsur Mongoloid yang menonjol, sedangkan di bagian timur Indonesia yang menonjol adalah unsur Australomelanesoid.

Kronologi Budaya
Pentarikhan temuan alat-alat obsidian yang ditemukan di tepian Danau Bandung Purba tersebut, sebelumnya pernah menjadi perdebatan para ahli. Dalam karangan yang berbeda, baik von Koenigswald maupun van der Hoop sama-sama berpendapat bahwa alat serpih obsidian itu lebih cenderung digolongkan sebagai alat mikrolit yang berasal dari masa bercocok tanam. Hal tersebut mereka dasarkan atas adanya temuan-serta berupa pecahan gerabah, fragmen beliung persegi, dan cetakan-cetakan logam (Callenfels, 1934, Koeningswald, 1935, Hoop, 1940, Soejono, 1984).

Pendapat lain dikemukakan oleh Geldern (Soejono, 1984), yang lebih cenderung menggolongkan alat-alat obsidian tersebut ke masa yang lebih tua dari masa bercocok tanam. Hal senada juga dikemukakan oleh H.G Bandi dan W. Rothpletz. Mereka lebih cenderung menggolongkan alat obsidian itu sebagai alat yang berasal dari masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut. Bahkan Rothpletz menduga bahwa Dago Pakar merupakan salah satu situs perbengkelan yang ada di sekitar dataran tinggi Bandung karena begitu banyaknya temuan yang ditemukan.

Dari hasil penelitian di Gua Pawon yang dilakukan melalui serangkaian kegiatan ekskavasi yang dilakukan pada tahun 2003 sampai 2004. Dari hasil penelitian di Gua Pawon, dapat diperoleh data yang dapat digunakan dalam penafsiran tentang pentarikhan artefak obsidian selama ini, karena dari ekskavasi yang dilakukan di gua tersebut berhasil ditemukan satu kompleks aktivitas budaya prasejarah yang memiliki konteks kuat dengan artefak obsidian. Artefak-artefak obsidian yang ditemukan di gua tersebut ditemukan di beberapa lapisan budaya, terdiri dari berbagai bentuk, jenis dan ukuran, dengan konteks berupa rangka manusia, alat-alat tulang, arang, perkutor, serta alat-alat serpih lainnya baik yang terbuat dari batu rijang, dan batu hijau (Yondri, 2003, 2004).

Analisis pertanggalan yang dilakukan melalui sampel tulang dan arang yang dianalisis melalui pertanggalan C-14 (carbon dating), diperoleh angka pertanggalan antara 5660+ 170 BP sampai 9525 + 200 BP (Yondri, 2005). Pada era yang demikian diperkirakan manusia yang tadinya hidup di alam terbuka kemudian mulai menetap di dalam gua/ceruk yang dilakukan dalam waktu sementara atau dalam kurun waktu yang cukup lama atau yang umum disebut dengan Masa budaya yang demikian menurut Soejono (1984) disebut juga dengan istilah mesolitik dan merupakan bagian dari lintasan budaya prasejarah di Indonesia secara berurut dari periode yang paling tua ke periode yang lebih muda terdiri atas: 1) masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat sederhana, 2) masa berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut, 3) masa bercocok-tanam, dan 4) masa perundagian. Sementara oleh Bellwood mesolitik disebutnya dengan istilah prekeramik (Bellwood, 1985), sedangkan oleh Simanjuntak disebutnya dengan istilah preneolitik (Simanjuntak, 2001). Bila angka pertanggalan tersebut dikorelasikan dengan keberlangsungan penggunaan Batu Kendan oleh manusia yang pernah hidup di Gua Pawon tersebut, dapat disimpulkan bahwa batu-batu Kendan tersebut telah dipergunakan sejak ribuan tahun yang lalu atau sejak masa prasejarah, jauh sebelum adanya Kerajaan Kendan yang diratui oleh Resi Guru Manikmaya.

Penutup
Alat-alat batu yang terbuat dari batu Kendan yang telah ditemukan selama ini di kawasan tepian Danau Bandung Purba dengan wilayah persebaran yang cukup padat pada ketinggian 723 m diatas permukaan laut, sampai sekarang masih merupakan satu topik yang sangat menarik untuk dibahas dalam kajian arkeologi. Seiring dengan ditemukannya artefak batu Kendan di Gua Pawon sebagai bagian dari tepian Danau Bandung Purba di masa prasejarah, dimana artefak-artefak batu Kendan yang ditemukan di antaranya ada yang berasosiasi dengan pecahan gerabah sebagai salah satu penanda dari budaya neolitik, dan berasosiasi dengan temuan alat tulang, serpih dari bahan batuan lainnya sabagai bagian adri ciri budaya mesolitik, maka dapat disimpulkan bahwa artefak batu Kendan yang pernah berfungsi sebagai alat batu yang paling dominan dan sebagai alat utama bagi masyarakat prasejarah di tepian Danau Bandung Purba di masa lalu. Dari konteks temuannya, tampaknya alat batu berbahan Batu Kendan tersebut tidak hanya dipakai dalam periode budaya neolitik, akan tepai jauh sebelumnya yaitu pada era mesolitik.

Berkaitan dengan lokasi temuan artefak batu Kendan yang ditemukan di dua lokasi yang berbeda yaitu di dalam gua dan di lokasi terbuka, juga dapat ditarik satu gambaran tentang pola kehidupan masyarakat pendukung budaya batu Kendan tersebut, yaitu selain tinggal dalam bentuk hunian terbuka di berbagai tempat yang cukup strategis untuk melangsungkan kehidupan yang dekat dengan sumber air, berada di lahan yang subur seperti kawasan Dago Pakar, juga hidup dalam bentuk hunian tertutup dengan memanfaatkan gua sebagai tempat hunian, seperti yang ditemukan di Gua Pawon.

Munculnya penamaan Batu Kendan di masa yang kemudian, mungkin disebabkan karena masyarakat melihat kesamaan antara serpih dan bongkahan batu obsidian yang banyak ditemukan di lahan garapan masyarakat yang berada di kawasan tepian Danau Bandung Purba sama dengan batu yang terdapat di kawasan Kendan (Nagreg). Sehinga bila ada yang menemukan batu yang demikian, maka akan langsung menyebutnya sebagai Batu Kendan.

Berkaitan dengan Kerajaan Kendan dan alat-alat batu (serpih) yang terbuat dari Batu Kendan yang sama-sama berada di sekitar tepian Danau Bandung Purba, perlu penulis sampaikan bahwa keduanya berada pada masa budaya yang berbeda. Kerajaan Kendan berada pada masa klasik Sunda, sementara keberadaan alat-alat serpih yang terbuat dari bahan Batu Kendan ada dalam lintas budaya yang ribuan tahun sebelumnya. Yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah “kenapa justru Kendan yang dipilih oleh Manikmaya untuk dijadikan sebagai lokasi keratuan (pusat pemerintahan), apakah daerah itu sudah ramai sejak prasejarah, dan terus berlanjut hingga kedatangan Manikmaya?. Tentunya hal ini perlu diteliti lebih lanjut.

Daftar Pustaka
Anggraeni, Nies dkk. 1986. “Survei di Daerah Cililin, Bandung”, dalam BPA No. 36 : Laporan Penelitian Arkeologi dan Geologi di Jawa Barat. Jakarta : Depdikbud
Bandi, H.G.1951. “Die Obsidian industrie der umgebung von Bandung in west Java”’ Sudseestudien, Bassel.
Bass, William M. 1989. Human Osteology, A Laboratory and Field Manual. Michael K. Trimble (ed.) Columbia: Missouri Archaeological Society
Callenfels, P.V van Stein. 1934. “Korte Gids voor de Prehistorische Verzameling”, Jaarboek KBG: 93.
Chia, Stephen, Lufti Yondri, dan Truman Simantunjak. 2008. “L’origine des artefacts d’obsidienne de Gua Pawon, Dogo et Bukit Karsamanik á Bandung, Indonésie”. Science Direct L’antropologie 112. Hal 448-456. Paris
Ferdianto, Anton. 2008. “Artefak Obsidian Dari Gua Pawon, Kabupaten Bandung, Jawa Barat”. Skripsi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
Heekeren, HR. Van. 1972. The Stone Age of Indonesia. Rev. 2nd. The Hague-Martinus Nijhoff
Koenigswald, G.H.R von. 1935. “ Das Neolithicum der Umgebung von Bandung”, TBG, 75 (3): 394-419.
Laili, Nurul. 2006. “Jejak Pendukung Budaya Obsidian di Sekitar Danau Bandung “. Dalam Edi Sedyawati (ed.) Arkeologi Dari Lapangan ke Permasalahan: 18-29. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.
Pantjawati. 1988. Alat-Alat Obsidian: Media Adaptasi Manusia Terhadap Lingkungan di Sekitar Danau Bandung. Skripsi. Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Rotpletz, W. 1952. Alte siedlungsplatze beim Bandung (Jav
a) und die Entdeckung. Bronzezeitlicher Gussformen: Sudsee Studien, Basel 1951: 125
Simanjuntak, Harry Truman. 2001 “Prasejarah Indonesia Dalam Konteks Asia Tenggara di Sekitar Holosen Awal Data Baru dalam Penelitian Dasa Warsa Terakhir”. Dalam Edi Sedyawati dan Susanto Zuhdi (peny.) Arung SamudraPersembahan Memperingati Sembilan Windu A.B. Lapian: 661-682. Depok: Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan
Soejono, R.P. 1984. “Jaman Prasejarah di Indonesia”, Sejarah Nasional Indonesia I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta : PN. Balai Pustaka.
Soetoto. 1986. “Geologi Sebagian Daerah Aliran Kali Grindulu, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur Berdasarkan Interpretasi Citra Landsat dan Foto Udara”, TesisI. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Universitas Indonesia
Sudjatmiko. 2004. “Sumber Alat-Alat Batu Prasejarah dari Situa Gua Pawon”. Dalam Budi Brahmantyo dan T. Bachtiar (peny.) Amanat Gua Pawon: 97-104. Bandung: Kelompok Riset Cekungan Bandung.
Sumiati, Iis, 2003. “Artefak Obsidian Dari Situs Dago, Bandung, Jawa Barat”. Skripsi. Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya, Universitas Indonesia.
Surjana, Adhi, 1998. “Strategi Adaptasi Masa Prasejarah Di Kawasan Danau Bandung Purba: Tinjauan Berdasarkan Artefak”. Skripsi. Fakultas Sastra. Universitas Gajahmada.
Yondri, Lutfi. 2003 Laporan Kegiatan Ekskavasi di Situs Gua Pawon, Desa Gunung Masigit Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Bandung : Balai Arkeologi Bandung (tidak diterbitkan).
2004a Laporan Kegiatan Ekskavasi di Situs Gua Pawon, Desa Gunung Masigit Kabupaten Bandung – Jawa Barat. Bandung : Kerja sama Balai Arkeologi Bandung dan Balai Pengelolaan Kepurbakalaan, Sejarah dan Nilai Tradisional - Jawa Barat (Tidak diterbitkan).
2004b Laporan Hasil Penelitian Prasejarah Gua-Gua Prasejarah Kawasan Bukit Gamping Lembar Cianjur, di Kecamatan Ciranjang dan Sekitarnya, Provinsi Jawa Barat. Bandung : Balai Arkeologi Bandung (Tidak diterbitkan)
2005 “Kubur Prasejarah Temuan dari Gua Pawon, Desa Gunung Masigit, KAbupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat: Sumbangan Data BAgi Kehidupan Prasejarah di Sekitar Tepian Danau Bandung Purba”. Tesis. Program Pascasarjana Arkeologi. Jakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia.

Penulis Merupakan Peneliti di Balai Arkeologi Bandung
lutfi_yondri@yahoo.co.id

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/99/id/653

Minggu, 18 April 2010

Arsitektur Masjid di Jawa Pada Abad ke 15-16 (Tinjauan Terhadap Pengaruh Pertukangan Cina Terhadap Bangunan Masjid Jawa Kuno)

A. Masjid
Kata masjid terulang sebanyak dua puluh delapan kali dalam Al-Quran. Dari segi bahasa, kata tersebut terambil dari akar kata sajada-sujud, yang berarti patuh, taat, serta tunduk dengan penuh hormat dan takzim. Meletakkan dahi, kedua tangan, lutut, dan kaki ke bumi, yang kemudian dinamai sujud oleh syariat, adalah bentuk lahiriah yang paling nyata dari makna-makna di atas. Itulah sebabnya mengapa bangunan yang dikhususkan untuk melaksanakan salat dinamakan masjid, "tempat bersujud."

Masjid adalah tempat ibadah umat Muslim. Masjid berukuran kecil juga disebut musholla, langgar, atau surau. Selain tempat ibadah masjid juga merupakan pusat kehidupan komunitas Muslim. Kegiatan-kegiatan perayaan hari besar, diskusi, kajian agama, ceramah dan belajar Al Quran sering dilaksanakan di masjid. Bahkan dalam sejarah Islam, masjid turut memegang peranan dalam aktivitas sosial kemasyarakatan hingga kemiliteran.

Banyak pemimpin Muslim setelah wafatnya Nabi Muhammad Saw, berlomba-lomba untuk membangun masjid. Seperti Mekah dan Madinah yang berdiri di sekitar Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, Kota Karbala juga dibangun di dekat makam Imam Husein. Wilayah Nusantara khususnya Jawa pada abad ke- 15-16 merupakan wilayah yang sedang mengalami peralihan kekuasaan dari zaman Hindu-Buddha ke zaman kerajaan Islam. Pada masa itu kerajaan kerajaan banyak meninggalkan bangunan yang berupa masjid, seperti halnya pada zaman kerajaan Hindu-Bunda banyak meninggalkan bangunan suci berupa candi, petirtaan, dll. Bangunan keagamaan merupakan simbol keberadaan sebuah keyakinan dalam kerajaan.

Selain tempat beribadah (menunaikan salat lima waktu) fungsi lainnya adalah sebagai tempat pendidikan. Masjid sering kali digunakan untuk berdakwah atau belajar dan mengajarkan agama Islam, maupun pendidikan umum. Pada masa kerajaan Islam masjid dipergunakan sebagai tempat untuk mengengajarkan ilmu-ilmu yang berhubungan dengan keIslaman; dari sinilah pengaruh dan ajaran Islam berkembang.

Masjid datang ke Nusantara dibawa oleh agama Islam. Jauh sebelum datangnya Islam: Nusantara sudah banyak mengalami percampuran budaya terutama yang datang dari Cina dan India. Pengaruh kebudayaan India dapat kita terlihat dalam pembangunan candi-candi yang masih dapat kita kenal sampai sekarang. Sedangkan pengaruh Cina pada masa itu belum terlalu kelihatan terutama yang berhubungan dengan bangunan suci atau tempat ibadah, dalam hal ini pengaruh percampuran kebudayaan baik dengan kebudayaan asli Nusantara, India, maupun Islam. Untuk itu tulisan ini akan mencoba untuk menguraikan tentang pengaruh kebudayaan Cina dalam arsitektur masjid.

Kajian terhadap unsur-unsur Cina dalam khazanah kebudayaan Islam di Jawa tidak hanya dihadapkan pada realitas minimnya data-data sejarah berupa situssitus kepurbakalaan yang tersedia, tetapi juga berhadapan dengan persepsi publik Muslim selama ini yang meyakini bahwa proses Islamisasi di Jawa itu datang langsung dari Arab atau minimal Timur Tengah, bukan dari Cina. Kalaupun sebagian mereka ada yang menganggap adanya pengaruh Gujarat-India, namun Gujarat yang sudah ‘diarabkan’(Qurtuby, 2003:177).

Nusatara pernah berjaya dengan kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu-Budha, kerajaan tersebut muncul dan tenggelam dalam sejarah Nusantara, mulai dari kerjaan Kutai sampai dengan kerjaan Majapahit. Berbagai pendapat mengemuka tentang keruntuhan kerajaan Hindu-Budha di Nusantara, mulai dari perebutan kekuasaan dalam anggota keluarga kerajaan, kedatangan bangsa barat dan kedatangan Islam. Semuanya memiliki bukti dan data yang cukup untuk memperkuat pendapatnya masing-masing. Terlepas dari perdebatan penyebab keruntuhan kerajaan Hindu-Buddha, yang jelas selepas kerajaan Hindu-Buddha runtuh kerajaan yang bercorak Islam banyak berkuasa di Nusantara.

Seperti halnya pada masa kerajaan Hindu-Buddha yang banyak meninggalkan bangunan tempat suci atau tempat beribadah, maka masa kerajaan Islam juga meninggalkan bangunan suci tempat beribadah yaitu berupa masjid. Masjid peninggalan pada abad ke-15 sampai ke-16 memiliki bentuk yang spesifik. Peninggalan masjid pada masa tersebut diyakini sebagai hasil dari bentuk arsitektur transisi, antara kebudayaan Hindu-Buddha ke Islam. Keadaan yang seperti itu menghasilkan bentuk arsitektur masjid yang spesifik, dan tidak telepas dari kebudayaan sebelumnya. Masjid kuno Jawa sebagai tempat ibadah kaum Muslim, tentunya sangat erat hubungannya dengan awal masuk dan berkembangnya agama Islam di Nusantara.

Berbicara mengenai teori masuknya Islam ke Nusantara, ada empat buah teori tentang awal masuknya Islam ke Nusantara. Pertama, teori Arab, yang menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara dibawa oleh pedagang yang berasal dari Arab (tepatnya Hadramaut) atau Timur Tengah. Kedua,teori India, yang menyatakan bahwa Islam yang datang ke Nusantara berasal dari India. Ketiga, teori Cina, yang menyatakan bahwa Islam yang masuk ke Nusantara (terutama Pulau Jawa) dibawa oleh komunitas Cina-Muslim. Keempat, teori Persia, yang menyatakan Islam tiba di Nusantara melalui peran para pedagang asal Persia yang dalam perjalanannya singgah ke Gujarat sebelum ke Nusantara sekitar abad ke-13 M.

Teori Cina yang menyatakan masuknya Islam ke Jawa abad ke 15 dan 16, didukung oleh Sumanto al Qurtuby (2003). Menurutnya, abad-abad tersebut disebutnya sebagai zaman “Sino-Javanese Muslim Culture”dengan bukti di lapangan seperti: Konstruksi Masjid Demak (terutama soko tatal penyangga Masjid), ukiran batu padas di Masjid Mantingan, hiasan piring dan elemen tertentu pada Masjid Menara di Kudus, ukiran kayu di daerah Demak, Kudus dan Jepara, konstruksi pintu makam Sunan Giri di Gresik, elemen-elemen yang terdapat di keraton Cirebon beserta taman Sunyaragi, dan sebagainya; semuanya ini menunjukkan adanya pengaruh pertukangan Cina yang kuat sekali.

Tentang masuknya Islam ke Jawa pada abad ke-15-16 memang banyak kerancuan, sebeb banyak bukti yang menyatakan Jawa sudah dimasuki Islam sebelum abad tersebut. Hal yang harus dibedakaan adalah masuknya Islam dan pengaruh arsitektur bangunan Islam (masjid) di Jawa pada abad ke-15 dan 16 M. Maka, dalam hal ini akan dibahas mengenai pengaruh pertukangan Cina terhadap bentuk arsitektur masjid di Jawa.

1. Sumber Pelaut Belanda
Sumber yang menjelaskan gambaran kuno bentuk masjid di Jawa secara tertulis didapat dari buku: Oost Indische Vojage (1660), Der Mooren Tempel in Java” yang ditulis oleh Wouter Schouten (Graaf, 1998: 157; Lombard, 1994: 122). Schouten menggambarkan bangunan masjid di Jepara pada abad ke-17 tersebut sebagai bangunan konstruksi kayu, lima lantai, dan diikelilingi oleh parit. Bangunan masjid tersebut beratap runcing dan dihiasi oleh ornamen, tiap lantainya bisa dicapai dari dalam dengan tangga kayu. Di buku tersebut juga terdapat gambar dari Jepara dilihat dari arah laut, di mana bangunan masjid tersebut merupakan bangunan yang tertinggi di Jepara waktu itu.

Dalam tulisannya Wouter tidak menjelaskan secara detail tentang masjid kuno tersebut. Bangunan masjid kuno di Jawa pada umumnya dikelilingi oleh kolam. Kolam tersebut biasanya digunakan untuk air wudu ketika akan sembahyang. Secara garis besar masjid kuno Jawa yang dibangun pada abad ke-15 dan 16 memunyai ciri-ciri:

1. Atapnya bersusun lima;
2. Bentuknya segi empat dan simetri penuh;
3. Denahnya dikelilingi oleh kolam, yang digunakan sebagai air wudhu ketika akan sembahyang;

* mihrab, tempat kecil pada pusat tembok sebelah barat dipakai oleh imam masjid
* ruang utama masjid, dipakai untuk sembahyang oleh kaum pria
* serambi, beranda sebuah masjid
* pawestren, tempat sembahyang bagi wanita
* kolam, tempat berisi air yang digunakan untuk wudhu
* garis aksis menuju Mekah, garis maya sebagai orientasi pada pembangunan sebuah masjid
* makam, kuburan
* pagar keliling, pagar pembatas komplek masjid
* gerbang, pintu masuk utama di komplek masjid atau makam

Alat yang dipergunakan untuk memanggil jemaah salat adalah bedug. Bedug adalah alat musik tabuh seperti gendang. Bedug merupakan instrumen musik tradisional yang telah digunakan sejak ribuan tahun lalu, yang memiliki fungsi sebagai alat komunikasi tradisional, baik dalam kegiatan ritual keagamaan maupun politik. Pada zaman Islam, bedug dipergunakan sebagai alat pertanda telah masuknya waktu salat (ashar, magrib, isya, subuh, dan duhur). Di Jawa bedug merupakan ciri khas masjid kuno. Amen Budiman (1979: 40) bahkan mengatakan asal-usul bedug yang diletakkan di serambi-serambi masjid Jawa, merupakan pengaruh arsitektur Cina, di mana bedug diletakkan tergantung di serambi kelenteng. Tapi di Masjid Menara Kudus, bedugnya justru diletakkan di bagian atas menara

Hal lain yang dianggap cukup menarik dan bagian dari ciri khas dari masjid-masjid kuno di Jawa adalah keberadaan sebuah makam, yang diletakkan di bagian belakang atau samping masjid. Hampir tidak jauh dari komplek masjid kuno Jawa selalu terdapat makam-makam yang disakralkan dan dimitoskan oleh penduduk setempat. Orang-orang yang dimakamkan di sekitar masjid bisanya mereka yang berjasa dalam penyebaran Islam (tokoh agama). Penyakralan tersebut merupakan bagian dari penghargaan atau penghormatan dari masyarakat atau umat kepada orang yang dihargainya. Namun penyakralan ini akan berbahaya apabila sudah keluar dari kaidah-kaidah keislaman, karena akan mengakibatkan perbuatan syirik. Pengeramatan tersebut terjadi di masjid-masjid yang terletak di desa seperti misalnya Masjid Sendang Duwur di Pacitan Lamongan atau Masjid Mantingan di Jepara, juga masjid-masjid kuno di Kudus (Masjid Menara Kudus), Surabaya (Masjid Sunan Ampel), Masjid Agung Demak, Masjid Agung Banten. Bentuk seperti ini merupakan ciri khas dari masjid kuno di Jawa.

2. Pertukangan kayu dan batu orang Cina di Jawa.
Tidak seperti pengaruh Hindu, pengaruh peradaban Cina terhadap peradaban Jawa dan Bali kurang diketahui. Namun ada kemungkinan seni rupa Jawa dan Bali zaman pra-Islam memiliki lebih banyak unsur dan motif China daripada yang diungkapkan hingga kini (Graaf, 1985: 10).

Berita pertama mengenai masyarakat Cina Muslim di Jawa berasal dari Haji Ma Huan, seorang sekretaris dan juru bahasa Cheng Ho (Zheng He). Ma Huan sedikitnya telah mengikuti tiga kali misi muhibah Cheng Ho. Dari perjalanan muhibah tersebut, Ma Huan berkesempatan melihat dari dekat keadaan masyarakat di Jawa waktu itu. Ma Huan selanjutnya menjelaskan dalam bukunya Ying-yai Sheng-lan bahwa di Jawa terdapat tiga golongan masyarakat. Pertama, orang-orang Islam yang datang dari barat dan memperoleh penghidupan di ibukota. Kedua, orang-orang Tionghoa yang berasal dari Provinsi Guangdong, Zhangzhou, Quanzhou banyak pula beragama Islam. Ketiga, rakyat selebihnya menyembah berhala dan tinggal bersama anjing mereka.

Dari sumber-sumber berita di atas dapat diambil kesimpulan sebagai berikut.

* Orang Cina Muslim pada abad ke-15 sudah banyak terdapat di kota-kota pelabuhan, terutama di pantai utara Pulau Jawa.
* Sudah banyak terdapat bangsa Cina dari Provinsi Guangdong di Jawa. Hal ini penting karena sebagian besar suku Konghu (asal Guangdong) secara turun menurun berprofesi sebagai tukang yang sangat ahli dalam pengerjaan kayu dan batu.

Hal yang menarik dan mungkin dapat menjadi bukti adanya pengaruh Cina dalam petukangan adalah daerah-daerah pesisir yang paling dulu di menganut Islam seperti Demak, Kudus, Jepara tercatat sebagai daerah penghasil ukiran kayu, bahkan Jepara terkenal sebagai sentral ukiran sampai sekarang. Sumber lisan di sekitar daerah Masjid Menara Kudus, menyebutkan nama Kyai The Ling Sing, sahabat karib Sunan Kudus (Ja’far Sodiq - abad ke-15) dan sekaligus sebagai peletak dasar pertukangan dan seni ukir kayu di daerah Kudus dan sekitarnya.

Di samping itu ada juga nama Sun Ging An pada abad ke-15, yang ahli dalam bidang seni ukir di Kudus dan Sunggingan yang dulu merupakan daerah penghasil ukiran di Kudus. Gaya seni ukir Sunggingan akhirnya menjadi salah satu pendukung arsitektur bangunan rumah di Kudus. Hal ini dapat dilihat pada bentuk dan motif krobongan, rumah adat Kudus, bentuk regol, kongsel, dan ornamen ukiran yang bercirikan ular naga (Qurtuby, 2003: 138).

Nama Tjie Wie Gwan tercatat sebagai Cina Muslim yang ahli dalam pertukangan kayu dan seni ukir pada masa Ratu Kalinyamat pada abad ke-16. Tjie Wie Gwan dijuluki sebagai sungging badar duwung (ahli pemahat batu). Makam Tjie Wie Gwan terdapat di antara makam Sultan Hadlirin dan Ratu Kalinyamat (penguasa Jepara abad ke-16). Berkembangnya seni ukir Jepara ini tidak luput dari jasa Tjie Wie Gwan (Qurtuby, 2003: 137).

Sumber sejarah lisan merupakan salah satu bukti bahwa seni pertukangan batu dan kayu Cina sudah berkembang sejak abad ke-15 dan 16 M di wilayah pantai utara Jawa, seperti Jepara, Kududs, Demak, dan sebagainya.

3. Bangunan Masjid Kuno di Jawa
Untuk mengaji ada tidaknya unsur-unsur “asing” kaitannya dengan “kebudayaan Islam” biasanya yang dijadikan ukuran atau acuan pertama adalah masjid (Pijper, 1985: 14-15).

Untuk melihat ada-tidaknya pengaruh pertukangan Cina dalam gaya arsitektur masjid kuno di Jawa, ada tiga sampel masjid yang dapat mewakili ada-tidaknya pengaruh tersebut. Ada pun ketiga masjid itu adalah: Masjid Demak (1474), Masjid Kudus (1537), dan Masjid Mantingan (1559)

a) Masjid Demak (1479)
Masjid Demak merupakan masjid tertua di Pulau Jawa. Lokasi Masjid berada di pusat kota Demak, berjarak sekitar 26 km dari Kota Semarang, sekitar 25 km dari Kabupaten Kudus, dan sekitar 35 km dari Kabupaten Jepara.

Masjid ini merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Glagahwangi Bintoro Demak. Struktur bangunan masjid bernilai historis bagi seni bangun arsitektur tradisional khas Indonesia. Wujudnya megah, anggun, indah, karismatik, dan berwibawa. Kini Masjid Demak difungsikan sebagai tempat peribadatan dan ziarah.

Penampilan atap limas piramida masjid ini menunjukkan akidah Islam yang terdiri dari tiga bagian: (1) Iman, (2) Islam, dan (3) Ihsan. Di masjid ini juga terdapat “Pintu Bledeg”, bertuliskan “Condro Sengkolo”, yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, yang bermakna tahun 1388 Saka, atau 1466 M, atau 887 H.

Raden Fatah bersama Wali Songo mendirikan masjid yang karismatik ini dengan memberi prasasti bergambar bulus. Ini merupakan Condro Sengkolo Memet, dengan arti Sariro Sunyi Kiblating Gusti yang bermakna 1401 Saka. Gambar bulus terdiri dari kepala yang berarti angka 1 ( satu ), kaki 4 berarti angka 4 ( empat ), badan bulus berarti angka 0 ( nol ), ekor bulus berarti angka 1 ( satu ). Bisa disimpulkan, Masjid Demak berdiri pada 1401 Saka atau 1479 M.

Soko Majapahit, merupakan tiang yang berjumlah delapan buah terletak di serambi masjid. Benda purbakala hadiah dari Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi ini diberikan kepada Raden Fatah ketika menjadi Adipati Notoprojo di Glagahwangi Bintoro Demak tahun 1475 M.

Pawestren, merupakan bangunan yang khusus dibuat untuk salat jamaah wanita, dibuat menggunakan konstruksi kayu jati, dengan bentuk atap limasan berupa sirap (genteng kayu) kayu jati. Bangunan ini ditopang 8 tiang penyangga, 4 di antaranya berhias ukiran motif Majapahit. Luas lantai yang membujur ke kiblat berukuran 15 x 7,30 m. Pawestren ini dibuat pada zaman K.R.M.A. Arya Purbaningrat, tercermin dari bentuk dan motif ukiran Maksurah atau Kholwat yang menerakan tahun 1866 M.

Surya Majapahit, merupakan gambar hiasan segi 8 yang sangat populer pada masa Majapahit. Para ahli purbakala menafsirkan gambar ini sebagai lambang Kerajaan Majapahit. Surya Majapahit di Masjid Agung Demak dibuat pada tahun 1401 tahun Saka, atau 1479 M.

Maksura , merupakan artefak bangunan berukir peninggalan masa lampau yang memiliki nilai estetika unik dan indah. Karya seni ini mendominasi keindahan ruang dalam masjid. Artefak Maksurah di dalamnya berukirkan tulisan Arab yang intinya memuliakan keesaan Allah SWT. Prasasti di dalam Maksurah menyebut angka 1287 H (1866 M), di mana saat itu Adipati Demak dijabat oleh K.R.M.A. Aryo Purbaningrat.

Pintu Bledheg, yakni pintu yang konon diyakini mampu menangkal petir ini merupakan ciptaan Ki Ageng Selo pada zaman Wali. Peninggalan ini merupakan prasasti “Condro Sengkolo” yang berbunyi Nogo Mulat Saliro Wani, bermakna tahun 1388 Saka atau 1466 M, atau 887 H.

Mihrab, atau tempat pengimaman, di dalamnya terdapat hiasan gambar bulus yang merupakan prasasti “Condro Sengkolo”. Prasasti ini memiliki arti “Sariro Sunyi Kiblating Gusti”, bermakna tahun 1401 Saka atau 1479 M (hasil perumusan ijtihad). Di depan mihrab sebelah kanan terdapat mimbar untuk khotbah. Benda arkeolog ini dikenal dengan sebutan Dampar Kencono warisan dari Majapahit.

Dampar Kencana, benda arkeologi ini merupakan peninggalan Majapahit abad XV, sebagai hadiah untuk Raden Fatah Sultan Demak I dari ayahanda Prabu Brawijaya V Raden Kertabumi. Semenjak takhta Kasultanan Demak dipimpin Raden Trenggono 1521-1560 M, secara universal wilayah Nusantara mulai dikuasai oleh kerajaan-kerajaan bercorak Islam.

Soko Tatal atau Soko Guru, yang berjumlah empat ini merupakan tiang utama penyangga kerangka atap masjid yang bersusun tiga. Masing-masing soko guru memiliki tinggi 1.630 cm. Formasi tata letak empat soko guru dipancangkan pada empat penjuru mata angin. Yang berada di barat laut didirikan Sunan Bonang, di barat daya karya Sunan Gunung Jati, di bagian tenggara buatan Sunan Ampel, dan yang berdiri di timur laut karya Sunan Kalijaga. Masyarakat menamakan tiang buatan Sunan Kalijaga ini sebagai Soko Tatal.

Situs Kolam Wudlu, yakni situs yang dibangun mengiringi awal berdirinya Masjid Agung Demak sebagai tempat untuk berwudlu. Hingga sekarang, situs kolam ini masih berada di tempatnya meski sudah tidak dipergunakan lagi.

Menara, yakni bangunan sebagai tempat adzan ini didirikan dengan konstruksi baja. Pemilihan konstruksi baja sekaligus menjawab tuntutan modernisasi abad XX. Pembangunan menara diprakarsai para ulama, seperti KH.Abdurrohman (Penghulu Masjid Agung Demak), R.Danoewijoto, H. Moh Taslim, H. Aboebakar, dan H. Moechsin .

Masjid Demak merupakan salah satu masjid terpenting dan tertua di Jawa (1479). Masjid ini telah mengalami renovasi berulang-ulang sehingga wujudnya seperti yang sekarang kita saksikan. Masjid Demak didirikan pada masa Kerajaan Demak yang diperintah oleh Raden Fatah pada abad ke-15. Hampir semua sumber historiografi lokal menyebutkan bahwa Raden Fatah (Patah) atau Panembahan Jinbun (dalam bahasa Cina dialek Yunan berarti “orang kuat”) adalah seorang Cina Muslim. Perbedaannya hanya terletak pada identifikasi genealogi Raden Patah. Pendapat ini kemudian diperkuat oleh pendapat banyak sejarawan, antara lain: H.J. de Graaf & Pigeaud (1985:42-43), Denys Lombard (1994, 1996:44), Budiman (1979: 16), dan Sumanto al Qurtuby (2003: 39-40, 214).

Yang menjadi kontroversi sampai sekarang adalah fenomena soko tatal, yang merupakan konstruksi utama (soko guru) pada Masjid Demak. Menurut sumber yang dikutip Graaf (2004: 23), juga Muljono (2005: 199) dari Malay Annals (Catatan Tahunan Melayu) dikatakan bahwa pembangunan Masjid Demak pada zaman Raden Patah tidak selesai-selesai disebabkan karena adanya kesulitan untuk mendirikan atap dari konstruksi kayu dengan luas 31 x 31 M, sebab sebelumnya pertukangan setempat tidak pernah membangun bangunan dengan sistem konstruksi kayu dengan bentang sebesar yang ada di masjid tersebut. Itulah sebabnya Bong Kin San (Pang Jinshan), yang disebutkan sebagai ipar Raden Patah, penguasa di Semarang, menyediakan diri untuk menyelesaikan sistem konstuksi kayu di Masjid Demak yang tak kunjung selesai. Kin San membawa ahli-ahli pembuat kapal Cina dari pelabuhan Semarang untuk membangun Masjid Demak tersebut. Itulah sebabnya soko tatal tersebut konstruksinya sangat mirip dengan teknik penyambungan pertukangan kayu pada tiang-tiang kapal Jung Cina (Graaf, 2004: 23, Qurtuby, 2003: 180).

Qurtuby (2003: 188) juga menjelaskan ada kesamaan bahan bangunan yang digunakan pada kelenteng Talang (1428) di Cirebon dengan bahan bangunan yang digunakan di Masjid Demak. Bahan-bahan tersebut antara lain: tegel bata kuno ukuran 40 x 40 cm, bata merah kuno ukuran 28 x 14 cm, serta banyak paku kuno segi empat. Selain itu juga cara penyelesaian hubungan antara kolom-kolom struktur utama Masjid dengan tanah dipakai batu alam sebagai perantara. Batu tersebut disebut sebagai “umpak” (dalam ilmu konstruksi perletakan seperti itu disebut sebagai perletakan sendi). Penyelesaian seperti itu menurut Stutterheim (1948: 114) mengingatkan kita tentang batu umpak yang ada di kelenteng-kelenteng sepanjang pantai utara Jawa serta masjid-masjid Cina di Kanton tempat asal sebagian orang Cina yang menetap di Jawa. Juga menurut Qurtuby (2003:129), bentuk mustoko (hiasan yang ada di puncak atap masjid), berbentuk bola dunia yang dikelilingi oleh 4 ekor ular jelas terinspirasi oleh tradisi Cina.

Hal lain misalnya “mihrab” (yang dianggap sebagai bagian yang paling tua di masjid tersebut, yang belum banyak mengalami perubahan) yang di dalam temboknya terdapat gambar kura-kura. Lambang kura-kura ini memunyai banyak makna. Menurut tradisi Cina zaman itu, lambang kura-kura merupakan simbol kemenangan Dinasti Ming (1368-1644), saat berhasil mendirikan dinastinya. Tapi menurut S. Wardi (1950), gambar kura-kura tersebut bermakna tahun saka 1401 atau 1479 M (kepala=1, kaki=4, badan=0, ekor=1) atau candrasengkala “Sarira Sunyi Kiblating Gusti” (Qurtuby, 2003: 182). Mengapa para sejarawan berkesimpulan yang berbeda, padahal benda yang dianalisis sama? Semuanya ini karena berangkat dari sudut pandang yang berbeda.

Biasanya di belakang atau di lingkungan sekitar Masjid terdapat kampung yang dinamakan sebagai ‘kauman”. Masjid Demak juga terletak di Kampung Kauman.

Seperti di masjid-masjid Jawa yang dibangun pada abad ke-15 dan 16, di Masjid Demak pun terdapat hiasan piring dan hiasan lainnya yang ditempel di tembok yang bergaya Cina. Tentang bentuk atap yang bersusun di Masjid Jawa Kuno (termasuk Masjid Demak) sudah lama menjadi perdebatan. Pijper (1947) dan Stutterheim (1948) menunjuk atap bertingkat seperti pada arsitektur Bali yang didasari atas kosmologi Hindu sebagai ide dasar dari bentuk atap bersusun di arsitektur Jawa. Graaf (2004) dan Lombard (1996) menganggap adanya pengaruh Cina (atap pagoda) yang kuat pada masjid-masjid kuno Jawa, mengingat pada abad ke-15 dan 16 adalah zaman di mana para pedagang Cina Islam merupakan pedagang yang dominan dan banyak yang menetap di pantai utara Jawa sambil menyebarkan keagamaannya.

b) Masjid Kudus (1537)
Penyebaran Islam di Jawa tidak terlepas dari para pedagang, salah satu pelopornya adalah Maulana Maghribi, yang lebih dikenal dengan nama Maulana Malik Ibrahim. Beliau menyebarkan Islam tidak sendiri, melainkan bersama-sama dengan yang lain, Wali Songo. Wali-wali tersebut menyampaikan risalah Islam dengan cara yang berbeda, salah di antaranya adalah Ja'far Shodiq atau biasa disebut Kanjeng Sunan Kudus.

Masjid Menara Kudus merupakan salah satu peninggalan sejarah, sebagai bukti proses penyebaran Islam di Tanah Jawa. Masjid ini tergolong unik karena desain bangunannya, yang merupakan penggabungan antara budaya Hindu-Islam. Sebelum masuknya pengaruh Islam, Kerajaan-kerajaan bercorak Hindu-Buddha banyak meninggalkan bangunan yang berhubungan dengan tempat suci atau tempat beribadah seperti candi. Abad ke-15 dan 16 merupakan masa transisi dari zaman Hindu-Buddha ke zaman Islam, sehingga bangunan suci yang bercorak Islam (masjid) ikut dipengaruhi oleh kebudayaan sebelumnya yaitu Hindu-Buddha. Masjid Menara Kudus menjadi bukti sejarah, bagaimana sebuah perpaduan antara kebudayaan Islam dengan kebudayaan Hindu telah menghasilkan sebuah bangunan yang tergolong unik di mana menara dan berbagai ornamen lain bergaya Hindu.

Masjid Menara terletak di daerah Kauman Kudus. Menurut sejarah setempat, pendiri Masjid Menara (tahun1537) ini adalah Kyai Ja’far Sodig atau Sunan Kudus. Pengaruh arsitektur Hindu terlihat jelas pada Menaranya serta gerbang-gerbang yang dipakai sebagai pintu masuk. Mungkin hanya menara ini yang mempunyai bentuk asli atau sedikit mengalami perubahan. Tentang bangunan masjidnya sendiri, berapa kali mengalami perubahan, tidak dicatat dengan jelas. Seperti Masjid Demak dan Masjid Kudus juga terdapat makam keramat. Atapnya juga bersusun 3 terdiri dari konastruksi kayu layaknya arsitektur Masjid Jawa Kuno.

Pembuatan menara Masjid Kudus yang menyerupai bangunan umat Hindu mungkin merupakan sebuah bentuk penghormatan Sunan Kudus terhadap masyarakat Hindu yang berkembang pada masa itu. Masjid Kudus dibangun oleh Sunan Kudus pada 956 H. Hal ini terlihat dari batu tulis yang terletak di pengimaman masjid, yang bertuliskan dan berbentuk bahasa Arab. Batu itu berperisai, dan ukuran perisai tersebut adalah dengan panjang 46 cm, lebar 30 cm. Konon batu tersebut berasal dari Baitulmakdis (Al Quds) di Yerussalem-Palestina. Dari kata Baitulmakdis itulah muncul nama kudus yang artinya suci, sehingga masjid tersebut dinamakan Masjid Kudus dan kotanya dinamakan Kota Kudus.

Masjid Menara Kudus ini terdiri dari 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendela semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang berasal dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid mengalami perombakan pada 1918-an, menjadi lebih besar dari semula. Di dalamnya terdapat kolam masjid, kolam yang berbentuk "padasan" tersebut merupakan peninggalan zaman purba dan dijadikan sebagai tempat wudhu. Masih menjadi pertanyaan sampai sekarang, apakah kolam tersebut peninggalan jaman Hindu atau sengaja dibuat oleh Sunan Kudus untuk mengadopsi budaya Hindu. Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera, yang terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar", konon kabarnya gapura tersebut berasal dari bekas Kerajaan Majapahit dan dahulu dipakai sebagai pintu spion.

Cerita mengenai menara Kudus pun memiliki berbagai versi. Ada pendapat yang mengatakan bahwa menara Kudus adalah bekas candi orang Hindu. Buktinya: bentuknya hampir mirip dengan Candi Kidal yang terdapat di Jawa Timur yang didirikan kira-kira tahun 1250 M atau mirip dengan Candi Singosari. Pendapat lain mengatakan, kalau di bawah menara Kudus dulunya terdapat sebuah sumber mata air kehidupan. Kenapa? Karena makhluk hidup yang telah mati kalau dimasukkan dalam mata air tersebut menjadi hidup kembali. Karena dikhawatirkan akan dikultuskan, ditutuplah mata air tersebut dengan bangunan menara. Menara Kudus itu tingginya kira-kira 17 meter, di sekelilingnya dihias dengan piringan-piringan bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. 20 buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma, sedangkan 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Dalam menara ada tangganya yang terbuat dari kayu jati yang mungkin dibuat pada 1895 M. Tentang bangunannya dan hiasannya jelas menunjukkan hubungannya dengan kesenian Hindu-Jawa. Bangunan menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: kaki, badan, dan puncak bangunan; dihiasi pula dengan seni hias, atau artefiks (hiasan yang menyerupai bukit kecil).

Pengaruh Cina yang mencolok pada masjid ini antara lai: hiasan-hiasan piring porselen Cina pada dinding-dinding Masjid. Bahkan di dinding menaranya terdapat piring-piring yang berasal dari negeri Cina. Sebagai masjid yang lebih muda dari Masjid Demak, sistem konstruksi kayunya juga menggunakan 4 buah soko guru seperti halnya Masjid Demak. Suatu hal yang umum apabila konstruksi kayu yang digunakan mencontoh dari konstruksi yang lebih dulu ada (Masjid Demak). Kalau benar bahwa sistim konstruksi kayu Masjid Demak dikerjakan oleh tukang-tukang kayu Cina dari galangan kapal di Semarang, dapat disimpulkan bahwa sistem ini kemudian diadopsi oleh tukang-tukang setempat.

Di perkampungan Kauman di belakang Masjid Menara Kudus sampai sekarang masih terdapat beberapa rumah tradisional Kudus yang penuh ukiran-ukiran. Menurut sumber lisan setempat, ilmu pertukangan dan ukiran kayu di daerah Kudus adalah warisan dari Kyai The Ling Sing, yang makamnya terletak tidak jauh dari Masjid Menara Kudus dan tahun kematiannya diperingati setiap 15 Suro (Muharam). Jadi, jelas di sini ada pengaruh pertukangan kayu Cina di Masjid dan rumah tradisional Kudus.

c) Masjid Mantingan (1559), Jepara
Masjid dan Makam Mantingan terletak di Desa Mantingan, Kecamatan Tahunan, 5 km selatan Kota Jepara. Desa ini terkenal karena di sini terletak makam Sultan Hadliri dan istrinya, Ratu Kalinyamat. Sultan Hadliri adalah orang Muslim yang memimpin penyebarluasan agama Islam di pesisir utara Jepara. Masjid Mantingan merupakan masjid tertua kedua setelah Masjid Agung Demak.

Masjid Mantingan didirikan pada 1559 M, sesuai dengan tulisan yang terdapat didalam masjid rupa brahmana wanasari yang ditulis oleh Raden Toyib. Awalnya Raden Toyib mempelajari agama Islam di Mekah dan Cina. Setelah menyelesaikan belajar, dia pindah ke Jepara dan menikah dengan Ratu Kalinyamat (Retno Kencono), putri Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak. Kemudian dia dikenal sebagai Sultan Hadliri dan dinobatkan sebagai Adipati Jepara sampai beliau meninggal dan dimakamkan di sebelah masjid yang dia dirikan, Masjid Mantingan.

Di pemakaman ini juga dimakamkan istrinya yaitu Ratu Kalinyamat dan saudaranya yang keturunan China Cie Gwi Gwan. Pemakaman ini ramai dikunjungi pada saat diperingatinya hari meninggalnya Sultan Hadliri . Ritual ini diadakan setahun sekali pada 17 Rabiul Awal (kalender Muslim), sama dengan hari lahirnya Kota Jepara.

“Masjid Mantingan didirikan dengan lantai tinggi ditutup dengan ubin bikinan Tiongkok, dan demikian juga dengan undak-undakannya. Semua didatangkan dari Makao. Bangunan atap termasuk bubungan adalah gaya Tiongkok. Dinding luar dan dalam dihiasi dengan piring tembikar bergambar biru. Sedang dinding sebelah tempat imam dan khatib dihiasi dengan relief-relief persegi bergambar margasatwa, dan penari-penari yang dipahat pada batu cadas kuning tua. Pengawas pekerjaan baik di Welahan maupun Mantingan tidak lain adalah babah Liem Mo Han.” (Pramoedya Ananta Toer – Arus Balik)

Bentuk Masjid Mantingan juga merupakan tipologi masjid kuno Jawa, seperti konstruksi atap yang menggunakan soko guru, atapnya bersusun tiga, adanya serambi didepan, denah yang berbentuk segi empat. Masjid ini didirikan pada 1559 pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Tahun 1559 sesuai dengan condro sengkolo yang diketemukan di daerah mihrabnya.

Bukti naskah sejarah lokal maupun sejarah tutur tentang arsitektur Masjid Mantingan dan keterlibatan pertukangan Cina, cukup banyak. Mengapa hal ini jarang diungkapkan? Sejarah adalah sebuah interpretasi atas peristiwa masa lampau. Kalau latar belakang si penafsir berbeda maka hasil interpretasinya pun bisa berbeda. Itulah sebabnya Graaf (1985) menganjurkan ada penulisan sejarah Jawa dari sudut pandang “pesisir” bukan hanya dari sudut pandang “pedalaman”.

Ukiran pada dinding Masjid yang terbuat dari batu padas kuning bermotif Cina, merupakan salah satu bukti adanya campur tangan pertukangan Cina di masjid ini. Bahkan R.A. Kartini (pahlawan wanita nasional asal Jepara) menulis dalam kumpulan catatannya (Door duisternis), mengatakan bahwa dia pernah mengunjungi tempat permakaman Sultan Mantingan (Pangeran Hadliri/Hadliri ), di mana di dalamnya banyak terdapat ukir-ukiran dan serta rumah-rumahan yang bercorak Cina (Graaf, 1985: 131).

Tokoh pertukangan kayu yang berperan besar di daerah Jepara adalah Tjie Wie Gwan. Menurut cerita tutur setempat, makam Tjie Wie Gwan terletak di antara makam Pangeran Hadliri dan Ratu Kalinyamat. Bahkan ukir-ukiran kayu yang indah bergaya Cina di makam dalam komplek Masjid Mantingan diperkirakan orang setempat sebagai karya Tjie Wie Gwan, karena ia meninggal bertahun-tahun kemudian setelah meninggalnya Ratu Kalinyamat (Qurtuby, 2003: 137). Tidak seperti halnya keahlian dalam membuat keramik, orang Cina lebih rajin menurunkan ilmunya kepada tukang-tukang kayu setempat. Seperti dugaan Graaf (1985: 133), bahwa pembuatan perabot serta ukiran-ukiran kayu Jepara yang halus ini berasal dari orang-orang Cina abad ke-15 dan 16.

Simpulan
Seperti telah dikemukakan, abad ke 15 dan 16 M merupakan masa transisi dari zaman Hindu-Buddha ke zaman Islam. Zaman kerajaan Islam tidak begitu banyak meninggalkan bukti bangunan-bangunan keagamaan, tidak seperti pada zaman kerajaan Hindu-Buddha yang banyak meninggalkan bangunan berupa Candi. Hal ini mejadi salah satu kesulitan dalam merekontruksi bangunan yang berkembang pada zaman kerajaan Islam. Maka untuk melengkapi data dalam penulisan, tentunya tradisi lisan atau sumber lisan bisa dipergunakan dalam melengkapi sumber penelitian.

De Graaf, yang disebut “Bapak Sejarah Jawa”, sering memakai sumber sejarah tutur atau lisan sebagai bahan perbandingan. Graaf telah berhasil merekonstruksi sejarah berdirinya Mataram. Sayang sekali bahwa pada akhir hidupnya Graaf belum berhasil merekonstruksi sejarah Jawa abad ke-15 dan 16 ini. Bukunya yang terakhir yang ditulis bersama Th.G. Th. Pigeuad, yaitu Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th centuries: The Malay Annals of Semarang and Cirebon (sebelum ia meninggal tahun 1984), sering dipakai sebagai acuan.

Pengaruh arsitektur Hindu-Buddha terhadap masjid kuno Jawa (abad ke-15-16) jelas terlihat, terutama pada Masjid Menara Kudus, Masjid Sendang Duwur di Pacitan, Lamongan. Bentuk masjid Jawa pada abad ke-15 sampai 16, meski didirikan pada abad peralihan atau transisi, tetap merupakan ciri khas dan bagian dari sejarah perkembangan arsitektur Jawa. Ciri khas dari arsitektur Jawa terletak pada kemampuannya mempertahankan keasliannya meski dibanjiri oleh gelombang pengaruh dari luar. Hinduisme dan Budhisme dirangkul, tetapi akhirnya “dijawakan”. Demikian juga dengan pengaruh kebudayaan dan pertukangan Cina. Agama Islam masuk ke Jawa, tetapi arsitektur Jawa semakin menemukan identitasnya. Pembangunan masjid-masjid di Jawa dan Nusantara pada umumnya mulai mengalami masa krisis identitas setelah masuknya orang Barat (terutama Belanda setelah abad ke-17) ke Nusantara dan mengalami berbagai proses perubahan sampai bentuknya yang sekarang.

Kepustakaan
Aceh, Abubakar. 1955. Sejarah Masjid. Banjarmasin.
Al Qurtuby, Sumanto. 2003. Arus Cina-Islam-Jawa. Inspeal Ahimsakarya Press: Jogjakarta.
Ambary, Hasan Muarif. 1991. Makam-Makam Kesultanan dan Para Penyebar Islam di Pulau Jawa. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional: Jakarta.
Budiman, Amen. 1979. Masyarakat Islam Tionghoa Di Indonesia. Penerbit Tanjungsari: Semarang.
Graaf, H.J. de. 1963. “The Origin of Javanese Mosque”, JSEAH Journal of Southeast Asia History, Hal. 1-5.
_____ . 1998. 2004. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI antara Historisitas dan Mitos, terjemahan dari Chinese Muslims in Java in the 15th and 16th centuries: The Malay Annals of Semarang and Cirebon. PT Tiara Wacana: Yogya.
Graaf & Pigeaud. 1985. Kerajaan-Kerajaan Islam di Jawa, Peralihan dari Majapahit ke Mataram. Grafitipers: Jakarta.
Ismudiyanto dan Parmono Atmadi. 1987. “Demak, Kudus and Jepara Mosque, A study of Architectural Syncretism”. Laporan Penelitian Laboratorum Sejarah Arsitektur. Universitas Gadjah Mada: Yogyakarta.
Muljana, Slamet. 2005. Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-Negara Islam Di Nusantara. LkiS: Yogyakarta.
_____ . 2005a. Menuju Puncak Kemegahan (Sejarah Kerajaan Majapahit). LKiS: Yogyakarta.
Pijper, G.F. 1947. “The Minaret in Java”, dalam F.D.K. Bosch et.al (ed). India Antiqua. A Volume of oriental studies presented by his friend and pupils to Jean Phlippe Vogel (O). Leiden: Brill, Kern Institue, hal. 274-283.
_____ . 1985. Beberapa Studi Tentang Sejarah Islam di Indonesia 1900-1950. Terjemahan. Tujimah: Jakarta.
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia III: Zaman Pertumbuhan dan Perkembangan Kerajaan Islam di Indonesia. Balai Pustaka: Jakarta.
Tjandrasasmita, Uka. 1986. Sepintas Mengenai Peninggalan Kepurbakalaan Islam di Pesisir Utara Jawa. Pusat Penelitian Arkeologi Nasional: Jakarta.

Sumber Artikel
Dr. M. Quraish Shihab, M.A. Wawasan Al-Qur'an. Terdapat di [Online]. http:// media.isnet.org/Islam/Quraish/Wawasan/Masjid.html [05/04/2010]
______.Masjid Agung Demak. Terdapat di [Online]. http://media.isnet.org/Islam/ Quraish/ Wawasan/Masjid.html [05/04/2010]
http://www.demakkab.go.id/index.php?option=com_content&view=article&id=102&Itemid=91
http://navigasi.net/goart.php?a=bumsjkds
http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid
http://zeeth.wordpress.com/2008/09/18/masjid-mantingan/
http://idb2.wikispaces.com/file/view/masjid+kuno+di+Jawa.pdf

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/654