Sabtu, 20 Maret 2010

Arsitektur Rumah Tinggal pada Zaman Majapahit

Oleh : Pepeng

Semua bangunan ciptaan manusia yang dimaksudkan untuk tempat berteduh, beribadah atau untuk kegiatan lainnya, sesungguhnya adalah simbol penciutan ruang yang semula dibatasi oleh bumi di bawah, langit di atas dan gunung di sisi-sisinya. Jika ciptaan alam itu maha besar maka ciptaan manusia boleh disebut maha kecil. Sebagai simbol ruang maka tiap bentuk yang diciptakan oleh manusia selalu mengandung makna tertentu. Semua ini adalah hasil ari penguasaan akan ilmu dan atau seni bangunan yang dalam bahasa asing disebut arsitektur.

Bangunan dari zaman Majapahit yang banyak ragamnya juga merupakan simbol dari zamannya, tetapi di sini hanya akan dibahas bentuk bangunannya saja; pembahasannya pun dibatasi pada bangunan rumah tinggal saja.

Sumber Penelitian Arsitektur Jawa Kuna
Untuk mengetahui bangunan kuna tersebut diperlukan sumber-sumber penelitian yang antara lain berupa:

1. Tinggalan arkeologis berupa prasasti, relief, miniatur bangunan, pondasi bangunan, masjid kuna, keraton kuna dan lain-lain.

2. Karya sastra
Naskah: Nagarakertagama tulisan Mpu Prapanca, Arjunawijaya dan Sutasoma tulisan Mpu Tantular, Lubdhaka tulisan Mpu Tanakung, Kunjarakarna tulisan Mpu Dusun, Sudamala dan Sri Tanjung (tak diketahui penulisya). Naskah dari jaman sebelum Majapahit, ialah Ramayana ditulis oleh Mpu Triguna, Sumanasantaka ditulis oleh Mpu Monaguna, Hariwangsa ditulis oleh Mpu Panuluh dan Wrttasancaya ditulis oleh Mpu Tanakung.

Berita asing: huruf musafit Cina (Ma Huan tahun 1416 menerbitkan buku Ying-yai Sheng-lan; antara lain berisi deskripsi rumah-rumah di Tuban dan penulis Eropa (Maclaine Pont, G.P. Rouffaer dan Rijkloff van Goens).

Semua sumber sastra tersebut telah memberikan deskripsi tentang bentuk rumah di Jawa. Nama bentuk rumah-rumah itu diberi istilah: umah (rumah rakyat), grha (rumah pembesar), wesma (rumah dengan dinding bambu), mahanten (rumah di pegunungan beratap meru dari bahan ijuk dan bertiang empat atau enam untuk nyepi atau memadu kasih), yasa (balai pertemuan, dindingnya berhias lukisan dan lain-lain) dan rangkang (rumah kecil untuk tempat pertemuan.

Sumber prasasti menyebut nama bangunan waruga (semacam balai; lihat teks prasasti Hantang tahun 1135 M) dan baganjing (bangunan keagamaan; lihat prasasti Plumbangan tahun 1140 M). Selain nama bangunan, prasasti juga menyebut bangunan bertiang 8 (lihat prasasti Jaring tahun 1181 M) dan bangunan bertiang 8 dari kayu kuning serta bertirai dari kain halus (prasasti Kemulan tahun 1194 M).

Bentuk Rumah
Sesungguhnya bentuk dan ukuran rumah dapat menunjukkan kelas masyarakat penghuninya. Rumah di lingkungan keraton berbeda dengan rumah untuk keagamaan dan rumah rakyat kecil. Rumah-rumah di zaman Majapahit masih memiliki bentuk sederhana. Melalui analogi perbandingan dengan relief dan bangunan lama, dapat disimpulkan bahwa bentuk dasarnya ada tiga macam yaitu tajuk, limasan dan kampung. Adapun rumah bentuk tajuk mempunyai empat tiang dan atap tajuk, rumah ini sering dipakai untuk tempat suci atau tempat ibadah. Adapun bentuk limasan dan kampung akan dibahas di bagian lain.

Rumah Tinggal
Ada dua bentuk rumah tinggal, yaitu limasan dan kampung yang datanya tampak pada relief. Penjelasan tentang bentuk rumah tinggal itu demikian:
1. Bentuk limasan ada lima macam yaitu:
limasan pokok: bertiang empat.
Limasan apitan: bertiang empat.
L;imasan bapangan: bertiang empat
Limasan traju mas: bertiang enam
Limasan sinom: bertiang delapan
2. Bentuk kampung: bertiang empat dengan atap kampung. Rumah ini umumnya dimiliki oleh rakyat.

Rumah Tradisional
Rumah tradisional Jawa yang mengandung unsur arsitektur kuna dan banyak dibuat ialah bentuk limasan dan joglo. Jika rumah ini tanpa dinding atau terbuka, maka fungsinya sebagai pendapa, yaitu tempat pertemuan. Sebelum tahun 1950 semua Lurah, Camat hingga Bupati di Jawa mempunyai rumah joglo yang terbuka untuk tempat pertemuan dengan warganya atau tempat menjamu tamu-tamu yang datang. Pada masa sekarang bangunan semacam ini masih ada di daerah-daerah kabupaten di Jawa.

Penutup
Kajian akan arsitektur rumah tinggal zaman Majapahit memang menarik, tetapi hasilnya masih bersifat hipotesis karena tidak ada bukti, atau contoh rumah Majapahit yang masih selamat hingga kini. Mengingat bahwa secara tradisional bentuk rumah itu diwariskan secara turun-temurun, maka melalui kajian etno-arkeologis atas bentuk rumah pedesaan, keraton dan masjid di Jawa, hipotesis tersebut di atas tidak akan meleset terlalu jauh.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kabudayaan.

Sumber : http://aligufron.multiply.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar