Sabtu, 20 Maret 2010

Bali: Modernitas v.s. Budaya Lokal

1.Pendahuluan
Dari banyaknya pulau-pulau yang tersebar di kepulauan Indonesia, Bali merupakan pulau yang paling terkenal di dunia internasional. Pulau yang terletak di sebelah Selatan garis khatulistiwa ini memiliki luas wilayah sekitar: panjang 80 km dan lebar 150 km yang menyerupai bentuk ikan. Peradaban mencatat bahwa Bali memiliki mikrokosmos yang luar biasa tentang sejarah, legenda, kesusasteraan, seni, alam, dan manusianya itu sendiri.

Bali merupakan rantai terakhir dari jajaran pulau-pulau tropis yang subur di Indonesia. Di sebelah Timur pulau Bali, sepanjang selat Lombok yang memisahkan Bali dengan pulau Lombok, terlihat garis perbedaan dimana flora dan fauna dari ras sub-tropis berganti menjadi beragam flora dan fauna dari ras Australasia.Dari sisi ekologi, "Australasia" adalah sebuah kawasan yang mempunyai sejarah evolusi yang seragam dan sejumlah flora dan fauna yang hanya dapat ditemukan di kawasan Australia, Pulau Irian dan pulau-pulau di sekitarnya, termasuk Pulau Lombok dan Sulawesi serta pulau-pulau di Indonesia yang berada di sebelah timur kedua pulau tersebut.. Garis bayangan pemisah Australasia dengan Asia adalah Garis Wallace – Kalimantan dan Bali berada di sebelah barat, yaitu di Asia.

Di satu sisi tanah hijau yang subur, di sisi lain tanah coklat; di satu sisi terdapat kera, tupai, berbagai macam burung, di sisi lain terdapat reptil besar dan kakatua. Pulau yang menawan hati ini dibelah oleh sungai, kanal, dan lembah yang dibungkus oleh hutan dan hamparan sawah dengan ujung pantai-pantai yang indah; dihiasi oleh danau yang mengisi sisa kawah gunung berapi, keindahan-keindahan tersebut memperlihatkan sebuah dataran dimana khayalan berpadu dengan kenyataan.


Masyarakat Bali dalam salah satu perayaan keagamaan

Pada abad ke-15 M, ketika kerajaan Majapahit dikalahkan oleh kerajaan Mataram yang bercorak Islam, ratusan orang Jawa-Hindu dari berbagai kelompok; bangsawan, rohaniawan, seniman, cendekiawan dan rakyat biasa yang notabene orang-orang setia Majapahit mengungsi ke pulau tetangga yaitu Bali.
Hal yang menonjol di Bali adalah visi keyakinan yang menginspirasi setiap jiwa yang hidup di Bali untuk memanfaatkan alam dengan bijak; kreatifitas manusianya dalam berbagai bidang seperti: teknik mematung, tarian, arsitektur, musik dan berbagai ekspresi kesenian lainnya.

2. Kehidupan Sosial dan Budaya


Pandita sebagai strata tertinggi

Tatanan sosial di Bali dibangun atas pembagian strata sosial yang dibagi ke dalam:
1. Brahma, merupakan strata tertinggi yang diisi oleh para rohaniawan.
2. Ksatria, merupakan strata yang diisi oleh para bangsawan dan pejabat kerajaan
3. Waisya, merupakan strata yang diisi oleh para prajurit dan pedagang
4. Sudra, strata untuk masyarakat biasa.

Meski bergelut dengan hantaman arus globalisasi yang dibawa bersamaan dengan para turis dan pedagang asing, serta derasnya informasi dan teknologi yang masuk, kebudayaan khas yang telah lama mengakar tetap kokoh sebagai ciri khas mereka. Nama masing-masing individu dapat dilihat sebagai penunjuk strata sosial sekaligus eksistensi budaya yang ada di Bali, misal: Ida Bagus atau Ida Ayu merupakan nama yang dipakai oleh para Brahmana, Anak Agung Cokorda atau Dewa merupakan nama yang digunakan oleh para Ksatria, I Gusti merupakan nama yang digunakan bagi para Waisya, dan Wayan, Made, Nyoman, Ketut digunakan oleh para Sudra.

2.1.Upacara Kelahiran (Jatakarma Samskara)
Berbagai upacara dimulai sejak hari sebelum kelahiran, serangkaian larangan bagi ibu yang sedang hamil semisal: tidak boleh makan makanan yang berdarah segar, hukumnya tidak boleh seperti ketika seorang wanita yang sedang menstruasi memasuki kuil; ibu yang sedang hamil tidak diperbolehkan untuk memakan daging kerbau atau babi; ibu yang sedang hamil tidak boleh melihat orang yang terluka atau darah apalagi melihat orang yang meninggal; tapi ibu yang sedang hamil harus diam di rumah dengan upacara penyucian yang memungkinkan kelahirannya berjalan normal. Bapak dari sang bayi diharapkan untuk hadir pada saat hari kelahiran sang bayi untuk menemani sang istri. Ketika sang bayi lahir, sang bapak harus memotong ari-ari dengan menggunakan pisau bambu dan dimasukkan ke dalam kantung yang kemudian dilingkarkan di leher sang bayi di kemudian hari.

Pada hari ke 21 setelah kelahiran sang bayi, menurut kalender Bali, sang bayi akan dipakaikan pakaian, gelang dari emas atau perak sesuai dengan sistem sosial yang ada. Ukuran kedewasaan bagi wanita ditentukan dari waktu pertama kali mengalami menstruasi dan kesiapan untuk menikah.

Upacara kelahiran dan pubertas hanya merupakan pembuka dari serangkaian upacara dan perayaan yang menemani perjalanan setiap kegiatan keseharian masyarakat Bali dari makan sampai menjelang tidur, dari berjalan sampai dengan bertutur kata.

2.2. Upacara Potong Gigi (Mepandes)
Diantara upacara transisi yang dijalankan oleh masyarakat Bali yaitu upacara potong gigi atau disebut juga mepandes, yaitu mengikis gigi bagian atas yang berbentuk taring. Tujuan upacara ini adalah untuk mengurangi sifat buruk (sad ripu). Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).

2.3. Upacara Perkawinan (Pawiwahan)
Upacara transisi penting lainnya adalah pernikahan yang dalam bahasa Bali disebut Pawiwahan. Pawiwahan merupakan upacara persaksian ke hadapan Sang Hyang Widi dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.
Adapun persiapan-persiapan yang perlu dipersiapkan untuk upacara adalah sebagai berikut:

Sarana
· Segehan cacahan warna lima.
· Api takep (api yang dibuat dari serabut kelapa).
· Tetabuhan (air tawar, tuak, arak).
· Padengan-dengan/ pekala-kalaan.
· Pejati.
· Tikar dadakan (tikar kecil yang dibuat dari pandan).
· Pikulan (terdiri dari cangkul, tebu, cabang kayu dadap yang ujungnya diberi periuk, bakul yang berisi uang).
· Bakul.
· Pepegatan terdiri dari dua buah cabang dadap yang dihubungkan dengan benang putih

Waktu: Biasanya dipilih hari yang baik, sesuai dengan persyaratannya (ala-ayuning dewasa).

Tempat: Dapat dilakukan di rumah mempelai Iaki-laki atau wanita sesuai dengan hukum adat setempat (desa, kala, patra).

Pelaksana: Dipimpin oleh seorang Pendeta / Pinandita / Wasi / Pemangku.

Tata cara:
· Sebelum upacara natab banten pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita.
· Kemudian mempelai mengelilingi sanggah Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki.
· Sebagai acara terakhir dilakukan mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan.

2.4. Upacara Kematian (Ngaben)
Upacara kematian yang dilakukan dengan cara kremasi merupakan upacara yang spektakuler dan dramatis karena merupakan rangkaian akhir dari roda kehidupan di bumi. Menurut ajaran Hindu, roh bersifat immortal (abadi) dan setelah bersemayam dalam jasad manusia, akan bereinkarnasi, tapi sebelum bereinkarnasi, roh akan melewati sebuah fase di nirwana dan akan disucikan; dan sesuai dengan catatan kehidupan seseorang di bumi (karma) maka roh akan dikirim ke kasta rendah atau tinggi, dan kremasi merupakan proses penyucian roh dari dosa-dosa yang telah lalu.


‘Bade’, tempat kremasi jenazah berbentuk lembu/sapi

Secara filosofis, di Bali ada beberapa sarana utama yang dipakai dalam upacara kematian (ngaben) sesuai naskah Yama Purwwa Tattwa, di. antaranya : pisang jati sebagai warna, asep sebagai mata, nasi angkeb sebagai mulut, bubur pirata sebagai suara, dukut lepas sebagai dubur, cawan sebagai dahi, daun kayu sugih sebagai hidung, kusa sebagai bulu mata, jawa sebagai alis, pili-pili sebagai ulu hati, panjang ilang sebagai lidah, ending sebagai bibir, don rotan sebagai punggung, asep sebagai gusi, pengawak sebagai tulang belakang, tebu sebagai lengan, cendana sebagai tulang kelingking, rempah-rempah sebagai inti atau sebagai atma. Panyugjug sebagai jalan, panyugjug mameri sebagai penuntun yang paling depan, baju (wastra) sebagai kulit, kain wangsul sebagai telapak kaki, topi sebagai lutut, ganjang/ganjaran berisi uang sebagai tulang lutut, sangku sebagai kantung kemih, kipas sebagai nafas, kotak sebagal daging, tiga sampir sebagai urat, dan gagadhing, emba-embanan sebagai kepala.

Oleh karena itu, masyarakat Bali tidak menganggap kematian sebagai akhir dari segala-galanya namun merupakan sebuah fase kehidupan baru, dan mereka oleh karenanya sering mengucapkan pesan seperti yang tercantum dalam Bhagavadgita yaitu, “the end of birth is death, the end of death is birth” yang berarti akhir dari keidupan adalah kematian dan awal dari kematian adalah kehidupan.

3. Kesenian
Musik, Tarian, dan Patung merupakan tiga bidang kesenian yang menjadi pusat konsentrasi eksplorasi kreatifitas seni masyarakat di Bali.

3.1. Musik
Dalam hal seni musik, suara gamelan hampir berdengung di seantero tanah Bali; di pura, alun-alun, istana, dsb. Alat musik tersebut ditemani oleh kelengkapan instrumen musik lainnya seperti: gong, ceng-ceng, saron, gambang, dll. Komposisi instrumen tersebut dapat berubah sesuai dengan wilayah dan peruntukan pertunjukkan yang digelar.


Pemusik tradisional memainkan gamelan

3.2. Tarian
Selain seni musik, tarian-tarian khas Bali merupakan pertunjukkan seni yang menarik perhatian. Terdapat berbagai jenis tarian dengan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya semisal: untuk upacara keagamaan, pertunjukkan drama atau musikal, upacara peperangan, dan masih banyak lagi.


Para penari Legong Keraton

Diantara tarian tersebut yang paling terkenal adalah tari Legong Keraton. Kata Legong berasal dari kata "leg" yang artinya luwes atau elastis dan kemudian diartikan sebagai gerakan lemah gemulai (tari). Selanjutnya kata tersebut dikombinasikan dengan kata "gong" yang artinya gamelan, sehingga menjadi "Legong" yang mengandung arti gerakan yang sangat terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Adakalanya tarian ini dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan tokoh Condong sebagai pembukaan dimulainya tari Legong ini, tetapi ada kalanya pula tari Legong ini dibawakan satu atau dua pasang penari tanpa menampilkan tokoh Condong lebih dahulu. Ciri khas tari Legong ini adalah pemakaian kipas para penarinya kecuali Condong.

Gamelan yang dipakai mengiringi tari Legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Lakon yang biasa dipakai dalam Legong ini kebanyakan bersumber pada:
· cerita Malat khususnya kisah Prabu Lasem,
· cerita Kuntir dan Jobog (kisah Subali Sugriwa),
· Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu tatkala mencari ujung dan pangkal Lingganya Siwa),
· Kuntul (kisah burung),
· Sudarsana (semacam Calonarang),
· Palayon,
· Chandrakanta dan lain sebagainya.

Beberapa daerah mempunyai Legong yang khas, misalnya:
· Didesa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang lain, dinamakan Andir (Nandir).
· Di pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat juga tari Legong yang memakai topeng dinamakan
Sanghyang Legong atau Topeng Legong.

Selain tari Legong Keraton, tarian lainnya yang tak kalah terkenal adalah tari Kecak, juga tari Pendet yang pada tahun 2009 ini menjadi sorotan media dalam dan luar negeri terkait dengan pengklaiman tari Pendet sebagai warisan budaya negeri Jiran, negeri tetangga Indonesia yang sedang memulai pembangunan jati diri bangsanya.

4. Keyakinan
Keyakinan masyarakat Bali atau Hindu Bali merupakan fenomena kompleks yang dibangun dari berbagai aspek; Hindu Siwa dan Budha serta berpadu dengan tradisi leluhur dan alam. Dalam beberapa upacara adat dan ritual keagamaan terdapat perbedaan dari satu wilayah dengan wilayah lain.

Dalam keyakinan masyarakat Bali, gunung Mahameru/ Meru mempunyai kedudukan yang istimewa di hati mereka. Mahameru menggambarkan titik penting atau sebagai Rama (Bapak) dari kehidupan; darisanalah para Dewa mengatur kehidupan. Di pulau Bali, gunung sebagai kosmos merupakan sesuatu yang dominan dalam keyakinan dan arsitektur. Bagian penting dari ritual keagamaan dalam masyarakat Bali adalah upacara yang dilakukan di gunung tertinggi di Bali yaitu gunung Agung yang dianggap sebagai ‘puser bumi’, dimana di kaki gunung Agung tersebut terdapat Pura Besakih.


‘Meru’ di Pura Besakih

Di Pura Besakih, selain perayaan dan upacara tahunan yang diatur oleh kalender keagamaan, ada juga upacara besar untuk penyucian alam semesta yang disebut Eka Dasa Rudra, yang digelar setiap 100 tahun sekali.

Di abad 20 yang lalu tepatnya di tahun 1963, gunung Agung meletus setelah bangun dari tidur selama beberaba abad dan merenggut kurang lebih 1200 orang serta menghancurkan banyak desa. Masyarakat Bali melihat tragedi tersebut sebagai sebuah simbol kemarahan dari para Dewa dan oleh karenanya upacara tersebut kembali digelar pada tahun 1979 atau 1900 berdasarkan perhitungan Saka.

Simbolisasi dari kosmologi gunungan dapat dilihat pada struktur arsitektur Candi Bentar atau karakteristik gerbang yang membentuk sebuah menara yang berlekuk menyerupai dua bagian piramida yang terpisah menjadi dua, yang menggambarkan dua bagian gunung keramat, satu bagian gunung Agung dan satu bagian gunung Batur. Simbol umum lainnya adalah meru; ratusan pagoda yang berdiri di tempat-tempat suci, dan di pelataran candi dibangun pada lapisan batu yang memiliki serangkaian bentuk atap yang menyerupai piramida yang ditutup oleh daun palem hitam dengan jumlah sebelas (jumlah yang ditetapkan berdasarkan keyakinan Hindu terkait dengan tatanan alam semesta).

Keyakinan, upacara, dan perayaan keagamaan membimbing kehidupan masyarakat Bali sejak dilahirkan dan membentuk paduan dalam kehidupan berkeluarga dan sosial. Peraturan agama menentukan tata ruang desa, bentuk candi, struktur rumah, dan sederet hak dan tanggung jawab di desa. Dalam pandangan kalender keagamaan, hari libur, perayaan dan sistem ditetapkan.

5. Penutup
Seluruh kekayaan dan keindahan budaya Bali yang telah diwariskan para leluhurnya sejak zaman dulu masih terjaga dan dilestarikan hingga hari ini oleh para generasi penerusnya. Hal ini tentu saja menjadi contoh yang luar biasa bagi daerah lainnya di Indonesia untuk mengambil sebuah pelajaran yang bermakna dalam mensinergikan kehidupan modern dengan tanpa menyisihkan kearifan lokal yang ada di setiap daerah.

Bila pelestarian nilai-nilai budaya lokal/ kearifan lokal di setiap daerah dapat dijaga dan dilestarikan, maka hal ini tentu saja dapat menjadi benteng kokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam mengurangi efek budaya negatif dari luar yang bersifat destruktif terhadap kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kepustakaan
Morabito, Antonio.1994. Indonesia Archipelago of Wonders. Jakarta: PT. Prajnawati.
Soebadyo, Haryati, dkk. 2002. Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan. Jakarta: Buku Antar Bangsa.
Soebadyo, Haryati, dkk. 2002. Indonesian Heritage: Agama dan Upacara. Jakarta: Buku Antar Bangsa.
Soebadyo, Haryati, dkk. 2002. Indonesian Heritage: Seni Rupa. Jakarta: Buku Antar Bangsa.

Sumber Tambahan:
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2003/3/9/ap6.html 20-11-2009
http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/1979/03/17/DH/mbm.19790317.DH55988.id.
html 20-11-2009
http://www.babadbali.com/canangsari/banten/mepandes.htm 21-11-2009
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=996&Itemid=29 21-11-2009
http://id.wikipedia.org/wiki/Australasia 20-11-2009.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/555/bali:-modernitas-v-s--budaya-lokal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar