Senin, 29 Maret 2010

Gerabah: Peninggalan Kebudayaan Masyarakat Prasejarah


Gerabah merupakan perkakas yang terbuat dari tanah liat atau lempung yang dibentuk kemudian dibakar untuk dijadikan alat- alat yang berguna membantu kehidupan manusia--biasanya berbentuk wadah. Untuk memenuhi kebutuhannya maka gerabah ini dibuat dalam berbagai macam. Ada pun macam-macam gerabah adalah celengan, kendi, tempayan, dan gerabah hiasan.

Gerabah telah dikenal di nusantara sejak zaman prasejarah. Gerabah ini digunakan sebagai alat rumah tangga dan sebagai bagian mas kawin pada upacara pernikahan. Untuk mendapatkan gerabah yang menarik, maka salah satu yang dilakukan oleh pembuat gerabah adalah dengan memberikan motif hias pada gerabah. Pada gerabah yang digunakan untuk kepentingan rumah tangga biasanya bermotif sederhana atau polos, sedangkan gerabah-gerabah untuk kepentingan lain tentunya memerlukan motif yang lebih baik, sebagai contoh motif hias untuk gerabah pernikahan ternyata ditentukan oleh martabat pengantin, semakin tinggi martabatnya maka hiasan pada gerabahnya pun semakin banyak dan sulit. Untuk membuat gerabah tentunya memerlukan bahan-bahan yang bisa digunakan. Alat dan bahan yang dapat digunakan untuk membuat gerabah adalah berbagai jenis yang tersedia di alam seperti tanah liat, kayu, bambu dan rotan.

Penemuan gerabah merupakan suatu bukti adanya kemampuan manusia dalam menciptakan teknologi bagi pembuatan gerabah itu sendiri. Hal ini dikarenakan fungsi gerabah di antaranya sebagai tempat menyimpan makanan. Dalam perkembangan berikutnya gerabah tidak hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan makanan, tetapi beraneka ragam, bahkan menjadi salah satu barang yang memiliki nilai tinggi.

Cara Pembuatan gerabah
Pembuatan gerabah ternyata berkembang dari mulai yang sederhana ke tingkat yang lebih kompleks, dalam bentuk yang sederhana dibuat dengan menggunakan tangan, bahkan yang digunakan berupa campuran tanah liat dan langsung diberi bentuk dengan menggunakan tangan. Teknik pembuatan gerabah semakin berkembang, pencetakan menggunakan dengan menggunakan teknik cetak untuk jumlah masal dalam perkembangan ini, pencetakan telah memiliki nilai seni, sisi gerabah sudah mulai dihias dengan menggunakan warna.

Penemuan Gerabah
Berdasarkan hasil penyelidikan arkeologi, membuktikan bahwa benda gerabah mulai di kenal pada masa bercocok tanam. Bukti-bukti tersebut berasal dari Kadenglebu (Banyuwangi), Kalapadua (Bogor), Serpong (Tangerang), Kalumpang dan Minanga Sepakka (Sulawesi), sekitar bekas Danau Bandung, Timur Leste, dan Poso (Minahasa). Dari temuan-temuan tersebut dapat kita simpulkan bahwa teknik pembuatan gerabah dari masa bercocok tanam masih sederhana. Segala sesuatunya dikerjakan dengan tangan, sedangkan penggunaan tatap batu dan roda pemutar pada umumnya dikenal masa perundagian pada tingkat permulaan, ini belum banyak bukti-buktinya kecuali beberapa temuan dari Tangerang dan di sekitar Danau Bandung. Temuan yang berasal dari kedua tempat yang disebut terakhir ini akan mendekati sebuah hipotesis yang mungkin dapat berlaku di kalangan kelompok-kelompok masyarakat bertani di Indonesia yang cendrung untuk menggabungkan teknik tatap batu dengan teknik tangan pada tingkat permulaan. Selanjutnya barulah berkembang pemakaian roda pemutar yang sederhana.

Perlu dicatat bahwa teknik pembuatan gerabah juga dikenal di Daratan Asia Tenggara lainnya, misalnya Malaysia, Muang Thai, Cina, Taiwan, dan Jepang. Perkebangan gerabah di tempat-tempat tersebut diperkirakan sejaman dengan perkembangan gerabah yang ada di Indonesia.

Tempat-tempat Penemuan Gerabah
a. Kadenglembu (Jawa Timur)
Penelitian terhadap situs Kadenglembu dilakukan oleh Heekeren pada tahun 1941 dan Soejono pada tahun 1969 menemukan sejumlah kereweng tidak berhias, di antaranya ada yang memperlihatkan warna merah yang dipoleskan pada permukaan luarnya. Dalam lapisan yang mengandung kereweng ini ditemukan sejumlah fragmen beliung setengah jadi, batu asahan berfaset dan sejumlah besar pecahan batu. Di atas lapisan ini terdapat lapisan yang lebih muda yang mengandung beberapa pecahan porselin, beberapa uang kepeng, dan pecahan bata.

Bentuk gerabah yang ditemukan di Kedenglembu ini masih sederhana, karena sebagian besar temuan berupa fragmen tepian dan badan dari periuk yang pada umumnya bentuknya membulat. Periuk dengan bada bergigir sangat jarang dijumpai. Dari data yang terkumpul, dapat kita ketahui tentang bentuk-bentuk periuk yang umumnya kebulat-bulatan dengan tepian melipat ke luar. Dari bentuk semacam itu dapat pula kita duga bahwa gerabah seperti itu dibuat oleh kelompok masyarakat petani yang selalu terikat dalam hubungan sosial-ekonomi dan kegiatan ritual. Sifat-sifat individual tidak dapat berkembang pada pembuatan gerabah di Kadenglembu.

b. Jawa Barat
Situs penemuan Kalapadua terletak di atas daratan di tebing kanan Sungai Ciliwung. Sebagian gerabah yang ditemukan di tempat ini berada di permukaan tanah, hal kemungkinan di akibat oleh erosi dan kegiatan pertanian penduduk setempat.

Dari daerah Kalapadua, ditemukan gerabah yang lebih banyak daripada yang ditemukan di Kadenglembu. Dari hasil pengkajian ternyata gerabah yang ditemukan di Kalapadua lebih baik dalam pembuatannya, akan tetapi memiliki kekurangan dalam hal pembakaran, dimana pembakarannya kurang sempurna sehingga mengakibatkan gerabah yang ada di Klapadua tidak bisa bertahan lama. Gerabah ditemukan dalam keadaan rapuh dan mudah pecah. Hampir sebagian gerabah yang ditemukan di Klapadua telah terkikis sehingga mengakibatkan pola hias yang pasti tidak bisa diketahui.

Dari hasil penemuan kita dapat memperkirakan bahwa kebudayaan yang berkembang di Kalapadua berasal dari masa bercocok tanam. Hal ini diperkuat oleh beberapa temuan lain yang berkaitan dengan masa bercocok tanam, seperti; pecahan beliung, batu asahan, gelang dan alat-alat logam.

Ditinjau dari hasil penemuan yang ada di Klapadua, dapat diperkirakan kalu daerah ini pernah menjadi tempat tinggal masyarakat yang menghasilkan kebudayaan kapak persegi. Dari hasil temuan dapat diketahui bahwa gerabah yang dibuat di tempat itu berupa; periuk, cawan, dan pedupaan (cawan berkaki).

a. Periuk
Temuan-temuan gerabah pada umumnya fragmentaris itu, kita kenal dua macam jenis periuk yang memiliki tepian melekuk dan melipat keluar.
• Bentuk badan yang kebulat-bulatan,
• Jenis periuk dengan bergigir
Setelah di kumpulkan ternyata bentuk periuk ke bulat-bulatan ditemukan lebih banyak dari bentuk yang bergigir. Kedua jenis periuk ini tidak di hias serta mempunyai alas cekung.

b. Cawan
Setelah di kumpulkan dan dikategorikan ternyata jenis cawan ada tiga macam, yaitu:
• Cawan beralas bulat dengan tepian langsung yang agak melengkung ke dalam.
• Cawan beralas rata dengan tepian langsung
• Cawan yang sama dengan yang pertama namun perbedaannya terletak pada diberi kaki sehingga bentuknya seperti pedupaan.

Ketiga jenis cawan tersebut tidak memiliki hias. Yang menarik dari cawan-cawan tersebut ialah cawan jenis ketiga yang mirip dengan pedupaan. Kaki dibuat terpisah dari badannya. Bekas-bekas sambungannya masih tampak dan sering kali kedua bagian ini ditemukan dalam keadaan terpisah. Untuk memperkuat sambungan itu, dibuat goresan pendek sedalam ½-1 mm pada bagian yang akan disambungkan dengan badan yang telah disiapkan terlebih dahulu. Teknik menyambung seperti ini bukti-buktinya lebih terang terlihat pada jenis pedupaan yang ditemukan di Buni (Bekasi).

Sekitar Danau Bandung
Gerabah yang ditemukan di sekitar Danau Bandung dikumpulkan oleh Jong dan Koenigswald pada tahun 1941-1947. Adapun tempat-tempat penemuan gerabah di sekitar danau Bandung yaitu dataran tinggi Dago Timur. Di dataran tinggi Dago Timur ini Rothpletz telah mengumpulkan kereweng-kereweng yang jumlahnya banyak bersama-sama pecahan obsidian, pecahan batu api, kuarsa, dan sisa-sisa tuangan besi.

Gerabah dari Bandung umumnya tebal-tebal (antara 5-20 mm), dan berwarna merah. Tanda-tanda hiasan masih tampak, yaitu berupa goresan-goresan pola sisir dan pola tali, tetapi pada umumnya polos dipoles dengan warna merah pada permukaan luarnya. Dari fragmen-fragmen yang ditemukan dapat diperkirakan bentuk gerabah Dago Timur itu. Di antaranya ada periuk yang badannya kebulat-bulatan dan ada pula yang memiliki puncak bersudut dengan tepian melipat ke luar, ada juga fragmen alas yang rata, tetapi tidak banyak jumlahnya.

c. Sulawesi Tengah
Peninggalan gerabah yang ditemukan di Sulawesi Tengah diperkirakan berasal dari masa bercocok tanam, karena ditemukan bersama unsur-unsur beliung dan kapak yang diupam. Situs penemun yang ada di Sulawesi Tenggara yaitu di daerah Minanga Sipakka yang terletak di pinggir Sungai Karama.

Stein Callenfels yang pernah mengadakan penggalian di bukit Kamasi mengatakan bahwa diantara gerabah yang ditemukan itu ada yang berasal dari masa protoneolitik, jadi menjelang masa bercocok tanam. Heekeren membedakan gerabah kelumpang atas periode, yaitu periode bercocok tanam ialah kereweng-kereweng polos dan beberapa kereweng berhias bergores dengan pola garis pendek sejajar dan pola lingkaran. Kereweng yang berpola geometris digolongkan ke dalam masa perundagian yang banyak persamaannya dengan gerabah kompleks Sahuynh di Vietnam.

Gerabah yang ditemukan di Minanga Sepakka di temukan bersama dengan unsur kapak lonjong dan alat pemukul kulit kayu dari batu. Gerabah dari tempat ini ada yang polos ada juga yang berhias gores dengan pola lingkaran, segitiga (tumpal), belah ketupat, dan sering di susun dalam komposisi pita-pita horizontal sekeliling badan. Menurut Heekeren, gerabah dari Minanga Sepakka lebih tua dari gerabah yang berasal dari Kalumpang. Pendapat ini di dasarkan pada nihilnya unsur beliung persegi di Minanga Sepakka. Namun apabila dilihat dari pola lukisan yang ada dalam gerabah yang ditemukan dapat diperkirakan seusia atau sejaman.

Kepustakaan
Bellwood, Peter. 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Harsrinuksmo, Bambang . 2004. Ensiklopedi keris. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Driwantoro, Dubel, dkk. 2003. "Potensi Tinggalan-Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara". Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).
Poesponegoro, Marwati Djoened dan Nugroho Notosusanto. 2008. Sejarah Nasional Indonesia Jilid I (Zaman Prasejarah di Indonesia). Jakarta: Balai Pustaka.
Soekmono. 1990. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 1. Jakarta: Kanisius.
Soejono, R.P. (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/561/gerabah:-peninggalan-kebudayaan-masyarakat-prasejarah

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar