Selasa, 16 Maret 2010

Kalimantan Sebagai Jalur Persimpangan Linguistik Komparatif Austronesia

Oleh : K. Alexander Adelaar

Bahasa asli Kalimantan terbagi kedalam 10 sub kelompok berbeda (Hudson 1978). Karya tulis ini mendiskusikan empat sub kelompok yang telah penulis teliti.

Sub kelompok Barito Tenggara termasuk Malagasi. Bahasa ini telah mendapa pengaruh dari Melayu dan Jawa. Pengaruh Melayu datang setelah pengaruh masuknya Islam di Asia Tenggara, dan terdapat pula beberapa indikasi bahwa tulisan Arab diperkenalkan ke Madagaskar oleh orang Indonesia (kemungkinan orang Jawa). Penulis menekankan hipotesis bahwa orang-orang Malagasi berlayar menumpang kapal-kapal yang dimiliki Melayu untuk sampai ke Madagaskar.

Sub kelompok Malayic termasuk Iban dan Melayu. Perbedaan dan keterkaitan bahasa Malayic yang dituturkan di Kalimantan Barat memberi kesan tempat asal Malayic mungkin saja berada di area ini.

Bahasa Tamanic secara fonologikal, morfosintaks, dan leksikal mendekati bahasa Sulawesi Selatan sehingga membentuk sebuah sub kelompok dengan mereka. Mereka memiliki beberapa bentuk perkembanagan fonologis berbeturan dengan bahasa Bugis, yang tampaknya membentuk cabang didalam kelompok bahasa Sulawesi Selatan.

Bahasa Tanah Dayak memiliki beberapa kemiripan leksikal dan fonologi dengan bahasa Aslian. Hal ini menunjukan bahwa bahasa Tanah Dayak berasal dari hasil pergantian bahasa dari Aslian ke Austronesia, atau baik bahasa Tanah Dayak dan Aslian memiliki dasar yang berasal dari bahasa ketiga.

Pengantar
Satu hal yang jelas, Kalimantan menunjukan percampuran dari beberapa kelompok etnik yang memiliki asal mula berbeda. Hardeland pada pertengahan abad ke-19 (Ardeland 1858, 1859) masih menggunakan panggilan “Dayak”, hal itu sekarang tampak menjadi salah satu bahasa Barito Barat-Laut, yang kemudian membentuk cabang dari kelompok Barito Barat di bagian Selatan Kalimanatan. Menurut Hudson (1978), kelompok bahasa Barito merupakan salah satu bagian dari sub kelompok linguistic dimana bahasa asli Kalimanatan berasal.



Peta 1: Kelompok bahasa Kalimantan dan hubungan mereka dengan sub kelompok exo-Borneanl.

Hudson mengelompokkan bahasa Kalimantan menjadi tujuh kelompok endo-Bornean (Tanah Dayak, Rejang-Baram, Kenyah-Kayan, Apo Duat, Barito Barat, Barito-Mahakam, dan Barito Timur (1) (lihat peta 1). Menurut Hudson, kesepuluh kelompok itu setidaknya berbeda satu sama lain karena mereka berasal dari sub kelompok linguistic Malayo-Polinesian (Non-Bornean), dan kelompok exo-Bornean yang berhubungan dengan bahasa-bahasa non-kalimantan. Bahasa Dayak Malayic merupakan bagian dari sub keluarga bahasaMalayic (termasuk, Melayu, Minangkabau, dan Banjar), Tamanik, yang berhubungan erat dengan bahasa Sulawesi Selatan, dan sub kelompok bahasa Sabahan dengan bahsa Filipina (Hudson 1978). Terlepas dari basa asli tersebut, terdapat beberapa bahasa Malayic, Bajau, dan Cina yang memiliki sejarah panjang di Kalimanatan: bahasa-bahasa tersebut secara umum dituturkan di daerah pantai dan di perkotaan.(3)

Walaupun masi dalam tahap pendahuluan, pengklasifikasian Hudson bersifat lebih ilmiah dan luas dari pada klasifikasi bahasa Kalimantan sebelumnya.

Melalui penelitian linguistic yang saya kerjakan pada lima tahun terakhir ini, saya telah berhasil melakukan penelitian lebih jauh kedalam empat sub kelompok Hudson, viz. Barito timur, Dayak Malayic, Tamanik, dan Tanah Dayak. Saya juga telah melakukan penelitian terhadap pengaruh bahasa Melayu dan bahasa-bahasa Indonesia lainnya pada Malagasi. Selama empat kunjungan lapangan pendek ke Kalimantan Barat, saya mengumpulkan banyak data korpus Salako (bahasa Dayak Malayic) dan Embaloh (bahasa Tamanik), dan saya telah mengumpulkan daftar perbendaharaan kata dasar bahasa Tanah Dayak. (4) Data-data linguistic ini dan yang lainnya membuka jalan bagi kita untuk menciptakan beberapa kesimpulan mengenai asal mula dan penyebaran penutur bahasa-bahasa yang terlibat.
Barito Timur: Siapakah Imigran Melayu-Polinesia ke Madagaskar?
Dahl (1951, 1977) menunjukan Malagasi, bahasa Austronesia yang dituturkan sebagai dialek yang dipakai oleh hampir semua penduduk Madagaskar, berasal dari sub kelompok Barito Tenggara .(5) Kelompok lainnya dimana (Maanyan, Samihim, Dusun Malang, Dusun Witu, Dusun Devah dan Paku) dituturkan dibagian Tenggara Kalimantan. Dhal mengamati Malagasi memiliki sejumlah kecilkata pinjaman Sansekerta sebagai perbandingan terhadap bahasa-bahasa Indonesia. Menurut Dahl, hal ini menunjukan bahwa imigran dari Barito Timur ke Madagaskar pasti meninggalkan tanah kelahiran mereka hanya tepat setelah pengaruh India mulai mempengaruhi bahasa dan kebudayaan Indonesia . berdasarkan fakta yang ada, pengaruh linguistik India di Indonesia dapat dilacak pada abad kelima. Dahl menyimpulkan bahwa migrasi tersebut pasti mengambil tempat pada perkiraan waktu itu atau sesaat sesudah peristiwa tersebut terjadi. Dia tidak secara terang-terangan menganggap kemungkinan pengaruh tersebut datang bahasa Austronesia lainnya.

Studi mendalam pertama tentang pengaruh tersebut (Adelaar, 1989, 1991a dan pers) menunjukan bahwa terdapat banyak kata pinjaman Melayu di Malagasi, dan bahwa terdapat sejumlah kata pinjaman dari Jawa. Melayu dan Jawa juga merupakan bahasa pengangkut perbendaharaan kata-kata Sansekerta di Malagasi. Tidak ada satupun kata pinjaman Sansekerta yang mendukung asumsi pengaruh lansung bahasa India terhadap bahasa Malagasi. Hal ini berdampak penting bagi penanggalan migrasi Dahl: karena semua pengaruh Sansekerta masuk melalui Melayu dan Jawa, kita harus memundurkan penanggalan waktu migrasi ke pengaruh pertama bahasa Melayu dan Jawa pada Malagasi, dari pada pengaruh pertama bahasa India di Indonesia. Bukan tidak mungkin untuk menentukan penanggalan pertama pengaruh Melayu dan Jawa terhadap Malagasi, walaupun sepertinya hal itu terjadi setidaknya dua abad setelah abad kelima. Material bahasa yang dipinjam ju7ga memberikan informasi terhadap sifat alami dari pengaruh Melayu dan Jawa terhadap proses migrasi penutur Barito Timur, pengaruh yang pasti sudah dimulai beberapa sebelum migrasi, dan pasti telah bertahan sampai jangka waktu tertentu di masa setelahnya.

Secara umum, kata-kata pinjaman Melayu dan Jawa berasal dari semua jenis wilayah kekuasaan semantic. Akan tetapi kata-kata pinjaman Melayu biasanya direpresentasikan dalam bidang kehidupan maritime dan navigasi, seperti pada contoh dibawah ini:

trozona ‘whale’ <> Buginese and Embaloh s, South Sulawesi languages (minus Buginese) r:
PMP *pajə y ‘paddy’ > Proto-South Sulawesi *paze; Buginese ase, Embaloh ase (Makassarese, Mandar, South Toraja pare);
PMP *qalə jaw ‘day’ > Proto-South Sulawesi *ilzo; Buginese ə sso, Embaloh aso (Makassarese, Mandar, South Toraja allo);
PMP *ajan ‘name’ > Proto-South Sulawesi *azan; Buginese as əŋ , Embaloh asan (Makassarese are ŋ);
PMP *laja ‘burn (a wound)’; ‘be hot (spices)’; Buginese lasa ‘sick’, Embaloh ba-lasa ‘be strong’ (Makassarese lara ‘sour, bitter, e.g. a grapefruit’);
PMP *siji ‘to winnow’ > Proto-South Sulawesi *sizi; Buginese sise? (Ide M. Said 1977: sise), Embaloh sese (South Toraja siri).
Loss of PMP/Proto-South Sulawesi *p:
PMP *pusuq ‘heart’ > Proto-South Sulawesi *puso ‘id.’; Buginese uso ‘heart-shaped blossom of the banana-tree’, Embaloh uso? ‘heart-shaped tip of a banana fruit-stem’;
PMP *pajə y ‘paddy’ > Proto-South Sulawesi *paze; Buginese ase, Embaloh ase ‘id.’;
Proto-South Sulawesi *sa(m)po ‘house’ (Mills 1981:75); Buginese sao, Embaloh sao ‘id.’;
PMP *piliq ‘choose’ > Proto-South Sulawesi *pile; Buginese ile, Embaloh ile? ‘id.’;
PMP *punti ‘banana’ > PSS *punti ‘id.’; Buginese utti, Embaloh unti ‘id.’.

Fakta yang menunjukan banyaknya perubahan leksikal pada Embaloh danTae’ (Toraja Selatan) mungkin saja merupakan hasil dari kenyataan bahwa penutur Tae’ yang baru saja menjadi pemeluk Kristen, dalam banyak hal memiliki sedikit kemungkinan untuk menjadi subjek bagi perubahan yang datang dari kebudayaan luar daripada Bugis dan Makasar.

Sepertinya Tamanik lebih erat hubungannnya dengan Bugis daripada bahasa Sulawesi Selatan lainnya; bahasa ini dapat dikategorikan kedalam kelompok bahasa Sulawesi Selatan dalam sub kelompok yang sama dengan Gugis (atau Bugis dengan Campalagia, cf. Grimes dan Grimes [1978] dan Sirk [1989]).

Sudah jelas kalau mata rantai Tamanik dan Bugis tidak memiliki hungungan dengan migrasi Bugis ke pantai Kalimantan Timur, Selatan dan Barat pada sekitar abad ke-17. Masyarakat Bugis menjaga identitas mereka atau bisa saja bercampur dengan kebudayaan local Melayu. Migrasi mereka ke Kalimantan merupakan fenomena yang cukup baru dibandingkan dengan perpisahan antara Bugis dan Tamanik, yang mendahului proses penyebaran Islam di Sulawesi Selatan. Peristiwa itu pasti terjadi pada waktu yang sangat lampau sehingga penutur bahasa Tamanik dapat beraptasi dan berasimilasi terhadap lingkungan Kalimantan, dan kemudian melupakan identitas exo-Bornean mereka.

Tanah Dayak: Beberapa Keistimewaan yang Sama Dengan Bahasa Orang Asli
Menurut Hudson (1978:23), mungkin saja bahasa Tanah Dayak membentuk sebuah sub kelompok dengan bahasa Rejang-Baram, seperti beberapa bahasa Tanah Dayak (Ribun, Pandu, Sanggau, Jongkang, Semendang) tedapat intervocalic k pada kata “dua” (dukah atau dukoh). Kesamaan intervocalic stop pada kata “dua” dalam sebagian bahasa Rejang-Baram ([de]gwa]). Blust (1981) mengklasifikasi bahasa Tanah Dayak kedalam sub kelompok yang sama dengan bahasa Malayic, Rejang, Tamanik (EMbaloh), Aceh, dan Chamic berdasarkan kesamaan leksikal (terutama dalam bilangan angka). Namun bagaimanapun juga, bahas Tanah Dayak berbeda secara morfosintaks dengan bahasa Malayic (dan bahasa Austronesia lainnya). Bila leksikon bahasa tersebut memiliki banyak kesamaan dengan bahasa Malayic , hal ini mungkin merupakan hasil dari proses peminjaman, karena secara keseluruhan leksikon-leksikon ini tampak mencerminkan set-set bunyi berbeda vis-à -vis PMP.

Walaupun masih terlalu awal untuk menyimpulkan sejarah Tanah Dayak, terdapat beberapa kesamaan antara kelompok ini dengan beberapa bahasa Orang Asli (13) yang cukup menarik untuk disebutkan, dan tentu saja ideal untuk menjadi tema penelitian lebih lanjut. Salah satu isu adalah seri nasal stop atau yang disebut “preploded nasals”. Saya lebih memilih istilah yang terakhir, karena istilah tersebut lebih benar dari segi perubahan fonetik yang terjadi. Di Tanah Dayak, anggota dari serangkaian “Preploded” (-pm, -tn, dan –kn, atau, dalam beberapa bahasa, -bm, dn, gn) terbentuk oleh mengujarkan jeda tanpa melepaskan plosure, dan kemudian membiarkan aliran udara lepas melalui hidung. Di kebanyakan bahasa Tanah Dayak, bunyi sengau atau nasal yang terakhir menjadi “preploded”. Bandingkan contoh berikut dari Sungkung, bahasa yang dituturkan di wilayah Samba dan Sanggau Kalimantan Barat dalam rangkaian enam desa disepanjang perbatasan Serawak:

Proto-Land Dayak[14] *ŋarVm ‘night’ > Sungkung ŋaləpm ‘id.’
Proto-Land Dayak *madVm ‘rotten’ > Sungkung mad εpm ‘id.’
PMP *Zalan ‘road, path’ > Sungkung alatn ‘id.’
PMP *(lnøipən ‘tooth’ > Sungkung jipətn ‘id.’
PMP *Daqan ‘branch’ > Sungkung da?atn ‘id.’
PMP *qiDuŋ ‘nose’ > Sungkung nukŋ ‘id.’
Proto-Land Dayak *turaŋ ‘condylar bone’ > Sungkung tulakŋ ‘id.’

Preplosion took place in all final nasals, unless the nasal in question was historically preceded by another nasal. Compare:
PMP *[] ənəm ‘six’ > Sungkung nəm ‘id.’
Proto-Land Dayak *ram[i]n ‘house’ > Sungkung amin ‘id.’
Proto-Land Dayak *taŋ an ‘hand’ > Sungkung ta ŋan ‘id.

Catatan: pada kasus nukŋ’hidung’ (lihat diatas), preploded nasal didahului oleh nasal lainnya akan tetapi nasal ini berkembang dari *(n)D yang penuh sejarah. *(n)D menjadi nasal hanya setelah prepolsion terjadi. Pada kajian linguistic Orang Asli (Aslian), preplosion merujuk pada “nasal yang terpecah” (Skeat dan Blagden 1906: 772-773) atau “predenasalisation” (Benjamin 1985: 14; Diffloth 1976: 230). Hal ini dapat ditemukan pada bahasa-bahasa Aslian tengah, termasuk Temiar dan Semai. Bahasa-bahasa ini juga memiliki jɲ, karena mereka mengadopsi system palatal pada posisi kata-akhir. Sepertti Tanah Dayak, nasal preploded yang mereka miliki berasal dari nasal konsonan sederhana (Skeat dan Blagden 1906: 773)

Beberapa contoh Semai (diambil dari Difflith 1976):
raŋɔ:jɲ ‘jew’s harp’ (Diffloth 1976:243)
do:kŋ ‘house’ (cf. Old Mon ḍūŋ ‘city, province’; Diffloth 1976:231)
[gmgu:pm] ‘to winnow vertically’ (Diffloth 1976:236) ?ej ɲ (East Semai), ?εɲ
(West Semai) ‘I’

Skeat dan Blagden (1906), Benjamin (1985) dan Diffloth (1976) tidak memberikan kondisi phonotatic yang jelas yang dapat menunjukan kemunculan nasal preploded di Aslian Tengah, contoh yang mereka tunjukan pun tidak membawa kita pada senuah kesimpulan pada masalah ini. Terdapat beberapa kasus Semai dimana preplosion tampak tetrtutupi oleh kemunculan nasal yang mendahului preplosion tersebut (seperti pada bahasa Tanah Dayak dan Dayah Malayic)
Bandingkan:

sma:ɲ ‘to ask’ (Diffloth 1976:231)
maɲu:ɲ ‘small fruit sp.’ (Diffloth 1976:243)
tuɲεɲ ‘(name of a hill)’ (Diffloth 1976:242)

akan tetapi terdapat beberapa kasus dimana preplosion muncul daripada nasal, dan, sebaliknya, terdapat beberapa kasus dimana preplosion tidak muncul walaupun tidak terdapat nasal:
raŋɔ:jɲ ‘jew’s harp’ (Diffloth 1976:243)
turɔ:ɲ ‘the last remaining of a series, e.g. teeth’
sekali lagi, seperti pada kasus bahasa Tanah Dayak dan Dayak Malayic, nasal raŋɔ:jɲ mungkin berubah menjadi sebuah bentuk perkembangan dari jeda atau sebuah nasal+gugus jeda (seperti pada bahasa Tanah Dayak kuno hi(n)duŋ ‘nose’ > Sungkung nukŋ pada contoh diatas). Namun, asumsi ini masih bersifat spekulatif, dan solusi untuk pertanyaan ini melibatkan lebih nayak penelitian sejarah komparatif bahasa Aslian.

Nasal preploded bukanlah hal asing pada bahasa-bahasa lain, akan tetapi perubahan bentuk akhir nasal menjadi bunyi nasal jeda kemudian menjadi sebuah fitur kedaerahan yang merupakan hal yang khas bagi bahasa-bahasa di kepulauan utama Asia Tenggara dan di sebagian pulau Sumatera dan Kalimantan. Preplosion juga muncul di beberapa dialek Melayu yang dituturkan oleh Orang Asli (Benjamin 1985:14) dan di beberapa dialek Melayu yang dituturkan oelh Orang Darat dan beberapa Orang Utan di kepulauan Riau (cf. Kähler 1960:36-37, 54-55). Fenomena semacam itu juga terjadi di Urak Lawoi’, bahasa Malayic yang dituturkan di pantai barat-daya Thailand. Pada Urak Lawoi’, -p, -t dan –k berkembang dari nasal asli yang telah memlaui tahap prepolsion. Dari perbendaharaan kata Hogan (Hogan 1988) kondisi phonotactic untuk perkembangan Urak Lawoi’, -p, -t dan –k memilikikemiripan dengan nasal di bahasa Tanah Dayak. Di Kalimantan, hal ini banyak ditemukan di bahasa-bahasa Tanah Dayak, namun beberapa bahasa tampak belum terpengaruh oleh kondisi tersebut, dimana beberapa bahasa Dayak juga mengembangkan rangkaian semacam ini. Bahasa Dayak itu mencakup bahasa Barito Barat dan Timur di Kalimantan Tengah dan Selatan, dan bahasa Malayic (seperti Salako, Kendayan dan variasi bahasa Mualang) di Kalimantan Barat. Fakta menyebutkan bahwa prepolsion muncul di bahasa Tanah Dayak dan juga seperti bahasa Aslian. Namun fenomena tersebut tampak berkorelasi dengan beberapa kemiripan leksikal antara dua kelompok bahasa itu. Bandingkan kata untuk menunjukan ‘to die’ dan ‘to bathe’ pada bahasa Orang Asli (diambil dari Benjamin 1976, gloss 19 dan 132):


to die
to bathe
( Aslian Utara)
Kensiu
kəbis
?ənlay
Kintaq Bong
kəbis
?ənlay
Jehai
kəbis
?əlay
Mendriq
kəbəs
?εlay
Bateg Deq
halɔt
nay
Mintil
kəbus [a]
sɔuc
Bateg Nong
kəbus
sɔc
Che’ Wong
kəbus
mamuh
(Central Aslian)
Semnam
kəbəs
mamuh
Sabum
kəbəs
mamuh
Lanoh Jengjeng
kəbəs
mamuh
Lanoh Yir
kəbəs
mamuh
Temiar
kəbəs
muh
Semai I
ndat
mamuh
Semai II
dat
mamuh
Jah Hut
kəbəs
ma?mūh
(Southern Aslian)
Mah Meri
kəbəs
hūm
Semaq Beri
kəbəs
mahmε̄h
Semelai
khəbəs
hūm
Temoq
kəbos
mahmεh
[a]dengan kata lain

Vocal high-back yang diucapkan tanpa membulatkan bibir.
Catatan. Bentuk mane?, mandey?, manI? dan man ḯ ? merupakan bentuk adaptasi dari mandi pada bahasa Melayu atau man(d)i? pada bahasa Dayak Malayic.

Pada kenyataannya bahasa-bahasa Aslian berbagi preplosion dan bentuk yang sama untuk kata ‘to die’ dengan bahasa (Tanah) Dayak seperti yang disuslkan oleh Skeat dan Blagden (1906: 773 dan 435-438).

Pada umumnya, kemiripan-kemiripan tersebut muncul karena (1) hubungan genetik, (2) kesempatan atau (3) adanya suatu bentuk koneksi, baik dalam bentuk peminjaman kebudayaan atau kebudayaan dasar. Hubungan genetic yidak banyak memperngaruhi kemiripan-kemiripan yang terjadi, karena semua bukti meninggalkan sedikit keraguan tentang klasifikasi bahasa Tanah Dayak sebagai bagian dari Austronesia, dan mengenai klasifikasi bahasa Orang Asli sebagai Austro-Asiatic. Besar kemungkinan bahwa kemiripan leksikal terjadi karena kebetulan saja, namun hal ini tidak menjelaskan preplosion, persebaran yang dijelaskan dalam istilah fitur kedaerahan. Bila memang terdapat kontak, hal ini pasti terjadi pada masa yang sangat lampau, karena sejauh yang saya tahu tidak terdapat bukti yang menjelaskan masalah itu. Sifat alami dari kedua kesamaan itu cenderung mengarah pada perbendaharaan kata-kata dasar dan fitur fonologi. Berdasarkan fakta bahwa pengetahuan kita yang sekarang masih terlalu minim untuk menggambarkan sebuah kesimpulan yang jelas, saya lebih cenderung menjelaskan kesamaan—kesamaan ini sebagai hasil dari perpindahan bahasa. Mungkin saja penutur bahasa Aslian yang sebenarnya di Kalimantan berpindah dari bahasa asli mereka ke bahasa Tanah Dayak, dimana beberapa kata dari bahasa asli seperti ‘to die’ dan ‘to bathe’ tetap dijaga dan menolak pergantian kata oleh suku kata Austronesia kuno *anDuy ‘to bathe’ dan *maCey ‘to die’. Mungkin juga bahwa suatu waktu terdapat bahasa ketiga di Kalimantan dan di Semenanjung Malaya, dan fakta yang menyebutkan penututr di Kalimantan berpindah bahasa ke Tanah Dayak sementara penutur aslinya di Semenanjung Malaya berpindah bahsa ke Aslian. Walaupun bentuk kəbis dan mamuh merupakan hal yang cukup umum dalam bahasa Aslian, pada tahap ini tidaklah jelas apakah mereka diwariskan dan dapat diattributkan pada bahasa Aslian kuno. Oeh karena itu hal ini mungkin saja terjadi karena mereka berdua, baik Aslian dan Tanah Dayak sangatlah inovatif.

Preplosion dapat ditemukan pada banyak bahasa yang tidak berasal dari sub kelompok linguistik yang sama atau bahkan pada keluarga bahasa yang sama. Baik Tanah Dayak dan Aslian memliki anggota yang tidak pernah terpengaruh olehnya. Preplosion lebih jauh lagi berusaia lebih muda dari pada fenomena perpecahan yang mengarahkan fenomenea itu pada munculnya perbedaan linguistic sub kelompok Austronesia dan seperti Dayak Malayic dan Tanah Dayak. Jelas sekali keduanya tidak termasuk klasifikasi bahasa Asia Tenggara.

Catatan Kaki
1. Sejak diterbitkannya edisi final dari karya tulis ini di tahun 1991, Dr. Bernard Sellato mengajukan bahwa kosakata Tanah Dayak kɔbis ‘to die’ dan bentuk variasinya memiliki bahasa asal di banyak bahasa yang dituturkan masyarakat Punan di Kalimantan
2. Juga setelah diterbitkannya edisi final karya tulis ini, O.C. Dahl menulis buku tentang asal-muasal dari masyarakat Malagasi (Dahl 1991)

Referensi
Adelaar, K.A.
1988 More on Proto-Malayic. In Mohd. Thani Ahmad and Zaini Mohammed Zain (eds) Rekonstruksi dan cabang-cabang Bahasa Melayu induk, pp.59-77. Siri monograf sejarah bahasa Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

1989 Malay influence on Malagasy: linguistic and culture-historical inferences. Oceanic Linguistics 28(1):1-46.

1991a New ideas on the early history of Malagasy. In H. Steinhauer (ed.) Papers in Austronesian linguistics No.1, pp.1-22. Pacific Linguistics Series A No. 81. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1991b A phonological sketch of Salako. In Ray Harlow (ed.) VICAL 2 Papers from the fifth international conference on Austronesian linguistics, pp.1-19. Auckland: The Linguistic Society of New Zealand.

1992 Proto-Malayic: a reconstruction of its phonology and part of its morphology and lexicon. (Revised version of 1985 PhD thesis.) Pacific Linguistics Series C No. 119. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1994 The classification of Tamanic languages (West Kalimantan). In Tom Dutton and Darrell Tryon (eds) Language contact and change in the Austronesian world, pp.1-41. Trends in Linguistics. Studies and Monographs. Berlin: Mouton de Gruyter.
in press The nature of Malay and Javanese linguistic borrowing in Malagasy. (Paper presented at the 2nd Tamadun Melayu conference held in Kuala Lumpur in August 1989.)

Bellwood, Peter
1993 Cultural and biological differentiation in peninsular Malaysia: the last 10,000 years. Asian Perspectives 32:37-60.

Benjamin, Geoffrey
1976 Austroasiatic subgroupings and prehistory in the Malay peninsula. In Philip N. Jenner, Laurence C. Thompson and Stanley Starosta (eds) Austroasiatic studies Part I, pp.37-128. Honolulu: University of Hawaii Press.

1985 On pronouncing and writing Orang Asli languages: a guide for the perplexed. In Orang Asli Studies Newsletter No.4. Hanover (USA): Dartmouth College, Department of Anthropology; pp.4-16.

Blust, R.A.
1981 The reconstruction of Proto-Malayo-Javanic: an appreciation. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 137(4):456-469.

1988 The Austronesian homeland: a linguistic perspective. Asian Perspectives 26:45-67.
Cense, A.A. and E.M. Uhlenbeck
1958 Critical survey of studies on the languages of Borneo. Bibliographical series II of the Royal Institute of Languages and Cultures. The Hague: Nijhoff.

Dahl, Otto Christian
1951 Malgache et Maanyan. Une comparaison linguistique. Avhandlinger utgitt av Instituttet 3. Oslo: Egede Instituttet.

1977 La subdivision de la famille Barito et la place du Malgache. Acta Orientalia (Copenhagen) 38:77-134.

1991 Migration from Kalimantan to Madagascar. Oslo: The Institute of Comparative Research in Human Culture, Norwegian University Press.

Diffloth, Gérard
1976 Minor-syllable vocalism in Senoic languages. In Philip N. Jenner, Laurence C. Thompson and Stanley Starosta (eds) Austroasiatic studies Part I, pp.229-247. Honolulu: University of Hawaii Press.

Grimes, Charles E. and Barbara D. Grimes
1987 Languages of South Sulawesi. Pacific Linguistics Series D No. 78. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Hardeland, August
1858 Versuch einer Grammatik der Dajackschen Sprache. Amsterdam: Muller.

1859 Dajacksch-Deutsches Wörterbuch. Amsterdam: Muller.

Hogan, David W. (in collaboration with Stephen W. Pattemore)

1988 Urak Lawoi’: basic structure and dictionary. Pacific Linguistics Series C No. 109. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Hudson, Alfred B.
1970 A note on Selako: Malayic Dayak and Land Dayak languages in West Borneo. Sarawak Museum Journal 18:301-318.

1978 Linguistic relations among Bornean peoples with special reference to Sarawak: an interim report. In Sarawak. Linguistics and development problems, No.3, pp.1-45. Williamsburg, VA: Studies in Third World Societies.

Kähler, Hans
1960 Ethnographische und linguistische Studien über die Orang darat, Orang akit, Orang laut und Orang utan im Riau-Archipel und auf den Inseln an der Ostküste von Sumatra. Veröffentlichungen des Seminars für Indonesische und Südseesprachen der Universität Hamburg Band 2. Berlin: Dietrich Reimer.

Kern, H.
1889 Taalkundige gegevens ter bepaling van het stamland der Maleisch-Polynesische volkeren. Verslagen en mededeelingen der Koninklijke Akademie van Wetenschappen, Afdeeling Letterkunde (3rd Series) 6:270-287 (also published in H. Kern Verspreide Geschriften 6:105-121).

Mills, Roger F.
1975 Proto-South-Sulawesi and Proto-Austronesian phonology (2 volumes). PhD dissertation, University of Michigan, Ann Arbor (University Microfilms International 1978).
1981 Additional addenda. In R.A. Blust (ed.) Historical linguistics in Indonesia Part I. NUSA: Linguistic Studies in Indonesian and Languages in Indonesia Volume 10. Jakarta: NUSA, Universitas Atma Jaya.

Nothofer, Bernd
1988 A discussion of two Austronesian subgroups: Proto-Malay and Proto-Malayic. In Mohd. Thani Ahmad and Zaini Mohammed Zain (eds) Rekonstruksi dan cabang-cabang Bahasa Melayu induk, pp.34-58. Siri monograf sejarah bahasa Melayu. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Said, Ide M.
1977 Kamus bahasa Bugis—Indonesia. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengebangan Bahasa.
Sirk, Ülo

1989 On the evidential basis for the South Sulawesi language group. In James N. Sneddon (ed.) Studies in Sulawesi languages Part I, pp.55-82. NUSA: Linguistic Studies in Indonesian and Languages in Indonesia Volume 31. Jakarta: NUSA, Universitas Atma Jaya.

Skeat, Walter William and Charles Otto Blagden

1906 Pagan races of the Malay peninsula (Vol. II). London: Macmillan.

von Kessel, O.
1850 Statistieke aanteekeningen omtrent het stroomgebied der rivier Kapuas, Wester-afdeeling van Borneo. Indisch Archief (Tijdschrift voor de Indien, Batavia) I.2:165-204.

Wurm, S.A. and Shirô Hattori
1981-3 Linguistic atlas of the Pacific area. Pacific Linguistics Series C Nos. 66-67. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/99/541/kalimantan-sebagai-jalur-persimpangan-linguistik-komparatif-austronesia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar