Kamis, 18 Maret 2010

Masa Pra-Sejarah Bahasa Oceanik: Pandangan Terkini

Oleh : Andrew Pawley, Malcolm Ross

Dokumen ini menguraikan metode linguistic komparatif dan laporan mengenai hasil terkini dari penerapannya terhadap bahasa-bahasa Austronesia dari grup Oseanik. Kami memberikan uraian singkat tentang kebudayaan penutur bahasa Proto-Oceanic (Oseanik kuno), kemudian menggambarkan pandangan terkini atas pengelompokan Oseanik, menjelaskan lokasi dari Proto-Oceanic dan persebaran penutur bahasa Oseanik ke Pasifik. Kami meneliti pola yang terlihat dalam persebaran tersebut, dan menanyakan kenapa bahasa Melanesia telah berubah lebih dari bahasa yang lainnya.

Beberapa Pertanyaan
Proto-Oceanic (Poc)merupakan nenek moyang dari 450 bahasa Austronesia Melanesia, Mikronesia dan Polinesia. Darrel Tyron dalam tulisannya untuk edisi ini telah menggambarkan asal-muasal dan posisi kelompok Oseanik didalam keluarga bahasa Austronesia yang lebih luas. Perhatian kami terpusat pada yang harus Linguistik Sejarah (Historical Linguistik) harus lakukan terhadap perkembangan bahasa Oseanik dan kebudayaan penutur bahasa tersebut dari masa Proto-Oseanic ke depan.

Inilah pertanyaan-pertanyaan yang kami miliki:

1. Seberapa kuat kesatuan kelompok Oseanik?
2. Seperti apa kebudayaan penutur bahasa Proto-Oceanic?
3. Bagaimana susunan pembelahan genetic diantara sub kelompok Oseanik?
4. Dimanakah bahasa Proto-Oceanic dan bahasa-bahasa interstage dituturkan?
5. Bagaimana bahasa Proto Oceanic dan bahasa-bahasa interstage terpecah? Apakah ada sebuah pola yang terulang?
6. Mengapa banyak bahasa Oseanik Melanesia berubah lebih dari bahasa-bahasa lainnya?
7. Bagaimana dan mengapa kebudayaan Proto-Oceanic berubah dalam komunitas anang (daughter community)?

Metode Komparatif
Alat utama ahli linguistik sejarah adalah metode komparatif. 2 harus ditekankan bahwa metode tersebut benar-benar berbeda dari metode-metode komparatip yang digunakan dalam rekonstruksi ethnologi, yang berdasarkan typological similarities.

Metode linguistik komparatif berakar dari empat kenyataan yang berhubungan dengan system suara/bunyi-bunyian dalam bahasa atau dengan hubungan antara bunyi dan makna. Pertama-tama, setiap kata atau morfem dalam bahasa terdiri dari rangkaian bunyi yang tidak memiliki makna. Kedua, asosiasi makna dan rangkaian bunyi dalam bahasa tertentu kebanyakan berubah-ubah (arbitrary). Yang ketiga, perubahan suara terjadi dalam semua bahasa dan yang keempat, perubahan-perubahan ini biasanya bersifat tetap atau teratur (regular). Sifat beraturan dari perubahan baunyi berarti bahwa didalam suatu komunitas bahasa, pelafalan berubah secara sistematis, seperti bunyi x menjadi suara y dibawah sebuah kondisi fonologis stabil tidak hanya dalam beberapa kata tetapi dalam semua kata yang terkondisikan seperti itu. Fakta-fakta ini memaksa kita mengidentifikasi bahasa-bahasa yang berhubungan secara genetic dan untuk mengenali morfem-morfem yang juga terhubung secara genetic atau cognates (bahasa-bahasa yang sama asalnya), kebalikan dari morfem pinjaman dan kemiripan yang tidak disengaja.

Ahli linguistic komparatip mengambil set kata-kata dan mencari bunyi beraturan yang saling berkorespondensi. Sebagai contoh, diantara set bahasa cognate dari bahasa-bahasa Oseanik yang tersebar luar di gambar 1, kita melihat bunyi-buni yang berkorespondensi terulang pada posisi tengah dari kata untuk ‘paddle’, ’rain’, dan ‘name’ diantara Manam -r-, Takia -Ø-, Mangap ­ -z-, Motu -d- , Mekeo -k- ,Bali-Vitu -z-, Tolai -Ø-, Nyindrou -r-, Gela -h-, Lau -t-, Bauan -∂-, and Tongan -h-. dalam perbandingan-perbandingan ini dan seterusnya Ø mengindikasikannol, hilangnya bunyi pada tahap awal.

Set lainnya ditunjukan oleh inisial v- dalam kata-kata Gela untuk ‘full’, ‘’turtle’, dan ‘paddle’. Kami menemukan Manam Ø-, Takia f-, Mangap p-, Motu h-, Mekeo p-, Bali-Vitu v-, Nyindrou b-, Gela v-, Lau f-, Bauan v- and Tongan f-. perhatikan bahwa inisial –v juga muncul dalam kata-kata untuk ‘woman’, dan ‘stone’, namun disini penyesuaian bahasa Takia adalah p-, bukan f-. hal ini merupakan hasil dari pengkondisian fonologis. Takia memiliki f- sebelum apa yang dulu menjadi ­ -o-, dan -p- sebelum -a-. Sama seperti -v- dalam vaivine Gela berarti ‘woman’ yang berkorespondensi dengan Takia -Ø- dalam pein, karena POc *p menghilang diantara vocal dalam Takia.

Dimana suara berkorespondensi seperti apa yang dicontohkan dalam gambar 1 muncul kembali melalui perbendaharaan kata-kata dari bahasa yang bersangkutan. Seperti yang kita tahu, bahasa bahasa terhubung secara genetic satu sama lain. Sehingga kita dapat menunjukan bahwa kata-kata yang saling terhubung sebenarnya secara formal dipinjam dari sebuah bahasa yang berasal dari nenek moyang.

Gambar 1. Beberapa set bahasa Oseanik.(a)

‘full’
‘turtle’
‘paddle’
‘woman’
‘rain’
‘stone’
‘name’
POc
*ponuq
*poñu
*pose
*papine (b)
*qusan
*patu
*qasan (c)
Pantai Utara Papua Nugini
Manam
uni
ore
aine
ura
ara-
Takia
fon
fei
pein
ui
pat
Mangap
pin
pen
peze
(waine)
pat
za-
Pantai Selatan Papua Nugini
Motu
honu
hode
hahine
lada-
Mekeo
poŋu
poke
papie
aka-
Kepulauan Bismarck
Bali-Vitu
Vonuku
Bonu
vozere
(tavine)
γuzaŋa
vatu
iza-
Tolai
pun
vo
vavina
vat
iaŋ
Nyindrou
boi
bos
ur
bek
ñara-
Kelompok Pulau Southeast Solomon
Gela
vonu
vonu
vohe
vaivine
uha
vatu
aha-
Lau
fuŋu
fonu
fote
uta
fou
hata-
Pasifik Tengah
Standar
vonu
i-vo∂e
u∂a
vatu
ya∂a-
Fijian
Tongan
fonu
fonu
fohe
fefine
?uha

Catatan
(a)bagian tabel yang kosong menunjukan bahwa cognate yang sesuai tidak muncul dalam data linguistic, mungkin karena data tersebut digantikan oleh kata-kata yang lain, atau mungkin karena ahli linguistic gagal mengumpulkan bahasa tersebut disebabkan oleh pergantian makna atau beberapa alasan lainnya.

(b)berdasarkan data dari bahasa lainnya, kita mengetahui bahwa kata waine Mangap dipinjam dari *wapine, Bali-Vitu tavine dari *tapine.

(c)kebanyakan kata untuk menunjukan ‘name’ memiliki tanda hubung (hypen) pada bagian akhir: hal ini mengindikasikan bahwa mereka secara normal muncul dengan sebuah sufiks yang menandakan orang dan jumlah dari pemilik: ‘my’, ‘thy’, ‘our’, ‘their’, dan sebagainya.

Setelah bunyi-bunyi tersebut dipetakan, seseorang dapat menduga system suara pada system yang didasari oleh prosedur-prosedur yang bervariasi, contohnya, mencatat bahasa yang menyimpan perbedaan dalam set kata-kata yang tidak dapat dijelaskan kecuali dengan cara memposisikan pembeda yang asli. Data table satu hanya memberikan contoh kecil bagaimana ahli linguistic Oseanik berhasil merekonstruksi kata-kata3 *ponuq ‘full’, *poñu ‘turtle’, *pose ‘paddle’, *papine ‘woman’, *qusan ‘rain’, *patu ‘stone’ and *qasan ‘name’ for POc.

Pada saat yang bersamaan, dimana asebuah kata menunjukan sebuah penyesuaian baunyi tidak beraturan, ahli lingusitik harus memeriksa apakah hal ini adalah hasil dari sebuah keteraturan yang tidak dikenali, atau mungkin hal itu merupakan hasil dari peminjaman dari bahasa yang telah mengalami beberapa perubahan bunyi yang berbeda. Pembaca yang teliti akan memperhatikan bahwa Nyindrou*bos ‘paddle’ tidak menyesuaikan diri pada plola yang ditunjukan pada set bahasa lainnya—sebuah indikasi bahwa materi ini mungkin merupakan pinjaman dari bahasa Oseanik lainnya dari pada sebuah kelanjutan langsung dari bentuk bahasa kuno. Terdapat sejumlah kasus ketidak-beraturan yang berpola di Pasifik, dimana sebuah bahasa menunjukan dua atau lebih dari set korespondensi, masing-masing merefleksikan system bunyi POc yang terekonstruksi. Sebuah contoh klasik dari kasusu ini adalah Rotuman, yang dipelajari oleh Biggs (1965), dimana tiga set bahasa yang berkorespondensi: satu set muncul sebagai kata-kata yang merupakan warisan langsung bahasa terdahulu, sisanya adalah kata-kata yang dipinjam dari bahasa Polinesia. Kasus lainnya adalah Wagawaga di Papua Tenggara, yang memiliki perbendaharaan kata yang berasal dari dua sumber yang berbeda.

Pengelompokan biasanya merupakan sebuah tugas yang lebih berat dari pada menetapkan hubungan genetic. Dalam metode komparatip, pengelompokan dilakuakan dengan cara meneliti bahasa mana yang berbagi fitur-fitur inovasi yang berhubungan dengan nenek moyang yang sebelumnya. (4)Sebagai contoh, kita melihat dalam gambar satu bahwa fote Lau ‘paddle’ dan uta ‘rain’, turunan dari POc *pose dan *gusan secara berturut-turut telah mengalami sebuah inovasi dimana POc* -s- telah menjadi Lau -t-. Perubahan ini merupakan salah satu dari beberapa perubahan bunyi yang ada pada bahasa-bahasa Pulau Malaita dan San Cristobal (Makira) dibagian tenggara Solomon—hal itu mengindikasikan bahwa mereka membentuk sebuah sub kelompok genetic, dengan kata lain mereka mungkin adalah keturunan dari nenek moyang yang lebih baru, ‘Proto-Cristobal-Malaitan’, dimana perubahan ini mengambil tempat.

Rekonstruksi dan pengelompokan terhubung secara dengan baik: bila kita merekonstruksi POc *-t- alih-alih *-s- sebagai bentuk korespondensi, kemudian bahasa Malaitan tidak akan menjadi innovator dalam kasus ini, akan tetapi bahasa lain yang dalam gambar 1. Linguistic komparatip menggunakan berbagai macam teknik untuk menentukan arah dari perubahan fonetik: beberapa perubahan bunyi biasanya dikenal searah secara umum (misalnya, Manam -r- dari -s- sebagai contoh perubahan wajar dalam bahasa manusia, yang juga direfleksikan dalam bahasa Latin operis, bentuk genitive opus ‘work’), dan rekonsruksi POc *s juga didukung oleh bahasa Non-Oseanik yang mengindikasikan kehadirannya dalam bahasa kuno yang memiliki kedudukan lebih tinggi dari POc.

Pengelompokan pada metode komparatif dapat diaplikasikan berulang-ulang untuk mengenali sub kelompok dalam sub kelompok, yaitu, untuk membangun apa yang disebut “family tree” dari set bahasa-bahasa yang terhubung secara genetic.

Metode komparatif menghasilkan beberapa macam tambahan pada proses pengelompokan. Pertama (dan kami kembali pada bagian macam-macam pengelompokan) sub kelompok yang berbeda-beda, dengan bermacam-macam jenis sejarah, dapat diidentifikasi. Kedua, merekonstruksi perbendaharaan kata, terutama merekonstruksi terminology yang dapat menjelaskan kebudayaan dan lingkungan dari masyarakat penggunanya. Dan yang ketiga, ahli linguistic memperkirakan pusat dari penyebaran kemungkinan besar berada di area dengan keberagaman genetic yang paling besar. Demikian juga, bila terdapat dua sub kelompok utama dalam sebuah keluarga bahasa yang menempati daerah geografis yang berdampingan, kemungkinan besar pusat penyebaran berada disekitar seam geografik.

Satu hal yang ahli linguistik komparatif tidak dapat lakukan adalah memberikan tanggal pasti dari pembagian lingusitik dalam hipotesis “family tree” . pembangunan ulang bagian dari potongan tersebut menyediakan beberapa kronologi yang saling berhubungan. (5)Untuk menyediakan penanggalan pasti kejadian-kejadian bersejarah linguistic, kita harus dapat menghubungkan mereka pada kejadian-kejadian arkeologis.

Sub-kelompok Oseanik dan Kebudayaan Oseanik Kuno
Bukti-bukti linguistik menunjukan bahwa dulu hanya terdapat satu pergerakan penutur bahasa Austronesia ke barat laut Melanesia yang kemudian meninggalkan jejak linguistik.

Kebutuhan untuk mengenali apa yang kita sebut sekarang sebagai sub kelompok Oseanik Austronesia pertama dicetuskan oleh ahli linguistik Belanda Hendrik Kern (1886) dalam diskusi tentang hubungan bahasa Fiji dengan beberapa bahasa Polinesian dan di Indonesia, namun pondasi dari karya komparatif Oseanik modern tidak benar-benar ada sampai 1930-an, ketika ahli linguistic Jerman, Otto Dempwoff mempublikasikan karya besarnya (1934, 1937, 1938) mengenai keluarga bahasa Austronesia.dalam edisi kedua dari karyanya, Dempwolff merekonstruksi sebuah sistem bunyi untuk bahasa leluhur Polinesia dan sampel 82 bahasa Melanesia dan ditemukan bahwa semua bahasa dalam sampel yang dibawany-a mencerminkan sebuah set perubahan suara kearah Sistem Proto-Malayo-Polynesia (“Uraustronesisch”)- yang telah ia susun sebelumnya. Kuantitas dari inovasi fonologis mengarahkan Dempwolff untuk menyimpulkan bahwa “Melanesia” dan bahasa Polinesia membentuk sebuah sub-grup yang terpisah dari bahasa Austronesia di bagian Barat, di kepulauan Indo-Melanesia. Dempwolff menamai bahasa interstage kuno ini lebih kearah sub-grup “Urmelanesisch”. Ahli berkebangsaan Jerman lainnya, Wilhelm Milke menemukan istilah “Proto-Ozeanish” yang lebih cocok di tahun 1961, dan sejak saat itu istilah “Proto-Oceanic” telah digunakan. Walaupun beberapa inovasi fonologis putative Dempwolff telah dieliminasi sebagai hasil hasil dari penelitian selanjutnya, bukti dari Oseanik secara keseluruhan telah diperkuat dan presisi fonologi, tata bahasa dan leksikal telah di perbaharui.

“Oseania” dalam konteks ini meliputi wilayah Pasifik bagian Timur dari garis yang ditarik dari Utara ke Selatan dan membagi Chamorro (Kepulauan Mariana) dan Belau ( Dulunya Palau) dari sisa daerah Mikronesia dan menyeberangi pantai utara Irian Jaya pada garis bujur 138°Timur. Hal ini berate bahwa lapisan antara Oseanik dan keluarga Austronesia terdekatnya berada di bagian barat Papua Nugini antara Bird’s Head dan Pantai Sarmi. Sub-grup Oseanik termasuk Bahasa Austronesia untuk semua masyarakat Melanesia kecuali bagian paling selatan Papua Nugini, semua Polinesia dan hampir semua Mikronesia (lihat peta 1). Terlepas dari bahasa-bahasa yang dibawa oleh para kolonialis, bahasa Oseania yang bukan merupakan Austronesia ditemukan hanya di Papua Nugini dan kepulauan yang ada didekatnya. Mereka ini yang disebut bahasa non-Austronesia atau bahasa Papua oelh banyak masyarakat Papua Nugini dan beberapa orang pulau di timur jauh seperti Savo di Kepulauan Solomon (dan mungkin area luar di Reef Island).

Terminologi Oseanik tersusun memberikan gambaran tentang kebudayaan penutur Poc dan penutur bermacam-macan bahasa interstage. [7]Sudah jelas bahwa penutur POc menjaga sebuah proporsi besar istilah Proto Melayu-Polinesia dan Proto Melayu-Polinesia Timur untuk sejumlah bidang kebudayaan yang penting. Dapat disimpulkan kalau dulu terdapat sebuah kontinuitas dalam banyak komponen cara hidup penutur bahasa Austronesia dari pusat penyebaran Proto Melayu-Polinesia di pulau-pulau Asia Tenggara menuju ke pusat penyebaran POc di Melanesia Baratlaut, selama beberapa periode yang tidak menentu, mungkin selama seribu tahun. Rekonstruksi leksikal merujuk pada apa yang beberapa arkeologis (seperti Bellwood 1989) sebut sebagai “penemu tempat tinggal” yang asli dari masyarakat Melanesia Baratlaut oleh penutur Austronesia.

Elaborasi terminologi untuk pelayaran dan penagkapan ikan dan untuk bercocoktanam dan pembuatan gerabah mengindikasikan bahwa system ekonomi penutur POc berbasis baik pada laut dan darat, dan bahwa beberapa orang atau beberapa kelompok local adalah pemancing, petani datau pembuat gerabah (pawley 1981; Pawley dan Green 1984). Tabel 2, sebagai contoh, daftar istilah rekonstruksi POc untuk bagian kano, pelayaran dan laut (kebanyakan berasal dari Pawley dan Pawley 1994). Istilah itu dapat juga direkonstruksi untuk bermacam-macam nama angin (Ross 1994d) dan untuk beberapa jenis ikan dan mahluk laut (Walter 1989; Pawley 1993). Tabel 3 menunjukan bahwa bentuk rekonstruksi untuk tahap pertumbuhan kelapa dan bagian dari kelapa, sementara table 4 memberikan contoh istilah tumbuhan pangan selain kelapa dan juga beberapa istilah holtikultural (istilah dari kedua table berasal dari French-Wright 1983 dan Ross 1993). Litchenberk (1994) telah merekonstruksi istilah yang berhubungan dengan cara penyiapan makanan (seperti *tabiRa ‘piring kayu’, *qumun ‘oven dari batu’) dan Ross (1994c) istilah untuk cerek dan gerabah; beberapa istilah ini terdapat di table 5. Kita juga dapat merekonstruksi nama bermacam-macam hewan darat (*boRok ‘babi lokal’, *bawe mungkin ‘babi liar’, *kadroRa ‘Kus Kus’, *mwaj[oa] ‘bandicoot, tikus marsupial’ *kasuari’cassowary’). Terminologi juga dapat menyingkap organisasi sosial, memberikan contoh oleh terminology pertalian di tabel 6 (berdasarkan Milke 1958; Chowning 1991): patut diperhatikan bahwa terdapat sebuah gap dalam sistem ‘father’s sister’ dan bahwa hanya terdapat dua istilah affinal yang sejauh ini telah direkonstruksi.

Peta 1: Batasan sub-grup Oseanik Bahasa Austronesia.



Tabel 2. Rekonstruksi istilah Proto-Oseanik untuk bagian kano dan pelayaran. (a)
Jenis kapal:
*waga
Kano besar berlayar; kano bergandung
*katiR
Kano besar bergandung (?) atau lambung kano
Bagian kano:
*baban, *bapan
papan; papan kano atau strake
*soka(r)
thwart; collar-beam in house
*(q)oRa
strake, probably topstrake (washstrake)
*pataR
platform of any kind, inc. one erected on outrigger framework
*saman
outrigger float
*kiajo
outrigger boom
*patoto
connective sticks attaching float
*kata(q)e, kate(q)a(b)
free side of canoe, opposite the outrigger
*layaR
Sail
*qeba
mat; matting sail
*jila
boom or yard of (triangular) sail
*muri-
rear, stern; back of any object
*muqa-
front, bow of boat; front of any object
*isu-
nose; projecting headboard of prow(c)
*ŋuju-
snout; projecting headboard of prow(c)
Canoe accessories:
*pose
Dayung (kano)
*paluca
Untuk mendayung
*lima(s), nima(s)
gayung
*asu
scoop or ladle out; ladle, bailer
*laŋon
bingkai penggulung
*laŋon-i
place rollers under a boat
*ujan, *lujan
Untuk mengangkut, kargo, muatan
*quliŋ
Utnuk mengendalikan, kemudi
*jau(q)
Berlabuh, dijangkarkan
Canoe making:
*kiRam
Kapak
*taRaq
Kapak
*taRaq-i
Mengukir, membelah

Catatan
(a) Dalam tabel ini dan tabel selanjutnya, rekonstruksi yang diberikan dalam ortografi Ross (1988), dengan tambahan fonem *pw. Konvensi dalam bentuk proto diantaranya:

(x) tidak dapat ditentukan apakah x adalah bentuk waktu sekarang;
(x, y), xx/yy baik y atau y;
[x] artikel direkonstruksi dalam dua bentuk, satu dengan x dan satu lagi tanpa x;
[x, y] artikel direkonstruksi dalam dua bentuk, satu dengan x dan satu dengan y;
xx, yy baik x dan y.
-xx xx selalu berbentuk suffiks (dalam kebanyakan kasus dibentuk oleh suffiks bentuk pemiliki yang tidak dapat dilepaskan)
(b) Tanda Kurung mengindikasikan bahwa *-q- tidak tercerminkan dalam data kami, namun dibutuhkan oleh peraturan yang mengatur bentuk resmi perbendaharaan kata POc.
(c) Seringkali dengan banyak hiasan figurehead berukir.

Tabel 3. Rekonstruksi Bentuk Proto-Oseanik yang berhubungan dengan kebudayaan kelapa
The coconut and its stages of growth:
*niuR
coconut (generic); growth stage: ripe, brown but not fallen yet
*(q)abwaji
growth stage: fruit bud
*kubo/*kubwa
growth stage: young, green
*karu
growth stage: green, drinkable
*matuqu
growth stage: ripe, brown but not fallen yet
*maRaŋo, *goRu
growth stage: dry and ready to fall
*tabwa
growth stage: sprouted
Parts of the coconut palm and of the coconut:
*polo
coconut water
*bwilo, lasa
coconut shell used as liquid container or cup
*paraq
coconut embryo
*puto-
spongy centre of a sprouting coconut
*punut, *penut
coconut husk, fibres on coconut husk
*kojom[-i]
to husk a coconut
*[pa]paq[a-]
frond of a palm
*palapa(q)
palm branch
*suluq
dry coconut leaf torch
*Runut, *nuRut
sheath around base of coconut frond, used as a strainer

Tabel 4. Rekonstruksi Istilah Proto-Oseanik untuk Holtikultur dan tanaman pangan (selain kelapa)
Tubers and their culture:
*mwapo(q)
taro (possibly all Araceae)
*talo(s)
taro, Colocasia esculenta
*piRaq
giant taro, elephant ear taro, Alocasia macrorrhiza
*bulaka
swamp taro, Cyrtosperma chamissonis
*kamwa
k.o. wild taro (?)
*qupi
greater yam, Dioscorea alata; yam (generic)
*pwatik
potato yam, aerial yam, Dioscorea bulbifera
*(s,j)uli(q)
banana or taro sucker, slip, cutting, shoot (i.e. propagation material)
*wasi(n)
taro stem (used for planting)
*bwaŋo
new leaves or shoots, or taro tops for planting
*up(e,a)
taro seedling
*pasoq[-i]
to plant (tubers)
*kotiŋ
to cut off taro tops
Bananas:
*pudi
banana, Musa cultivars
*joRaga
banana, Australimusa group
*sakup
k.o. cooking banana: long with white flesh (presumably Eumusa group)
Jenis tanaman lain:
*topu
sugar cane, Saccharum officinarum
*pijo
a kind of edible wild cane or a reed, Saccharum spontaneum
*[ka]timun
cucurbit (generic); cucumber, Cucumis sativus
*laqia
ginger, Zingiber officinale
*yaŋo
turmeric, Curcuma longa
*kuluR
breadfruit, Artocarpus altilis
*baReqo
breadfruit fruit (?)
*padran
pandanus (generic); coastal pandanus, Pandanus tectorius
*kiRe
coastal pandanus, Pandanus tectorius
*pakum
Pandanus dubius
*ima
k.o. pandanus with useful leaves
*Rabia
sago, Metroxylon spp., mainly Metroxylon sagu
*sag(u)
sago starch
*qatop
sago fronds, thatch
*talise
Java almond, Indian almond, Terminalia catappa
*qipi
Tahitian chestnut, Pacific chestnut, Inocarpus fagifer
*[ka]ŋaRi
canarium almond, Canarium spp.
*molis
citrus fruit or citrus-like fruit
*pau(q)*
mango, probably Mangifera indica
*wai, *waiwai
mango (generic)
*kapika
Malay apple and rose apple, Eugenia spp.
*ñonum
Morinda citrifolia
*tawan
Pometia pinnata
*wasa
edible greens, Abelmoschus manihot
*m(w)asoku
wild cinnamon, Cinnamomum spp.
*quRis
Polynesian plum, hog plum, Tahitian apple, Spondias cytherea
*ñatu(q)
k.o. tree with avocado-like fruit and hard wood, Burckella obovata
*raqu(p)
New Guinea walnut, Dracontomelon dao
*buaq
areca palm, Areca catechu
Gardening practices:
*quma
garden
*tanoq
soil, earth
*poki
to clear ground for planting
*sara
to dig a hole
*tanum[-i]
to plant

Beberapa ahli pra-sejarah secara kebetulan menemukan metode sejarah lingusitik sangatlah rahasia atau ide dari rekonstruksi dari rekonstruksi leksikal terinci yang sangat menakjubkan, bahwa mereka lebih memilih untuk menghiraukan atau memotong bentuk rekonstruksi yang menyimpang pada masa pra-sejarah. Sikap semacam ini tidak lagi dapat dimaklumi dibandingkan dengan para ahli linguistik yang akan menghiraukan penanggalan C14 untuk kumpulan artefak karena mereka tidak mengerti bagaimana penanggalan semacam itu muncul atau siapa yang akan memotong penanggalan kumpulan artefak berkaitan dalam situs arkeologis manapun dalam perkiraan bahwa, cacing, manusia atau gempa bumi telah merusak lapisan tanah artefak.

Tabel 5. Rekonstruksi istilah Proto-Oseanik yang berhubungan dengan belanga dan tembikar.
Types of vessel:
*kuron
cooking pot, pot (generic)
*palaŋa
frying pan
*bwaŋa
k.o. large pot
Parts of vessel:
*tupa((n, ŋ))
lid, cover
*joŋa(n, ŋ)
plug, bung, stopper
*mwati
herringbone pattern
Pottery manufacture:
*raRo(q)
clay
*buli
mould (clay etc.)
*tapi
paddle for beating clay into shape
*pilit
coil around, encircle; add strip of clay around top of pot
Pottery use:
*tunu
roast in the fire, fire (pot)
*nasu
cook by boiling
*napu
steam, boil
*rapu
fireplace

Tabel 6. Rekonstruksi istilah kekeluargaan Proto-Oseanik.
Consanguineal terms:
*t[i,u]bu-
grandparent, grandchild
*makubu
grandchild
*tama-
father, father’s brother
*tina-
mother, mother’s sister
*matuqa
mother’s brother
*(qa)lawa
mother’s brother, sister’s child
*natu-
child, same-sex sibling’s child
*tuqaka-
older same-sex sibling
*taci-
younger same-sex sibling
*mwaqane
brother (woman speaking)
*(pa)pine
sister (man speaking)
Affinal terms:
*qasawa-
spouse
*qipaR
spouse’s opposite-sex sibling

Catatan: Masalah dalam proses rekonstruksi dua istilah untuk ‘ibu dari saudara’ dibahas oleh Chowning (1991: 65)

Penyebaran dan Diversivikasi Bahasa Oseanik
Sub-grup: bagian dari pemisahan genetika di Oseanik

Jenis dari Sub-Grup
Inovasi muncul dalam dua pola dasar lintas bahasa, memudahkan ahli linguistic untuk mengidentifikasi sub-grup. Dalam pola pertama, semua anggota bahasa dari sub-grup secara ekslusif berbagi sebuah set perubahan yang sama. Dalam pola kedua, bentuk inovasi membentuk pola yang saling tumpang-tindih, contohnya, bahasa A, B dan C mencerminkan serangkaian inovasi, bahasa C, D dan E pada rangkaian lainnya, bahasa D, E, F dan G adalah rangkaian lainnya, dan bahasa G dan H masih merupakan rangkaian perubahan yang berbeda. Sebuah sub-grup yang merefleksikan pola pertama mungkin saja diberi label sub-grup “perubahan-tetap”. Salah satu merrefleksikan pola kedua yang dapat disebut sub-grup “perubahan-terhubung”. [8]

Dua pola tersebut memudahkan ahli linguistic menciptakan kesimpulan tertentu tentang bagaimana bahasa telah menyimpang. [9]

Dalam kasus sub-grup perubahan-tetap, kami menduga bahwa semua anggota bahasa dari sub-grup secara khusus berbagi sebuah set perubahan karena perubahan-perubahan ini muncul pada bahasa yang berasal dari nenek moyang bagi mereka. Yaitu, sub-grup telah dibentuk karena komunitas penutur berbicara satu bahasa yang telah terpisah secara geografis dan/atau secara sosial menjadi dua komunitas atau lebih; setelah pemisahan, perubahan muncul dalam tuturan dari setiap komunitas baru sampai apa yang asalnya merupakan satu bahasa menjadi dua bahasa atau lebih.

Kesimpulan yang dapat ditarik mengenai sub-kelompok perubahan-terhubung tersusun dalam urutan yang berbeda. Disini, hal itu dapat berarti bahwa pola inovasi overlap mencerminkan fakta bahwa bahasa dari sub-grup pernah membentuk sebuah jaringan dialek terkait. Selama taap ini, inovasi muncul di berbagai tempat di dalam jaringan, menyebar dari dialek asli mereka menuju ke dialek tetangga, namun tanpa mempengaruhi keseluruhan jaringan. Setelah beberapa waktu, dialek telah menyimpang sampai mereka menjadi bentuk yang secara mutal tidak dapat terpisahkan untuk tujuan praktikal, akan tetapi mereka terus merefleksikan pola perubahan dari faringan sebelumnya.[10]

Sub-kelompok perubahan-tetap dan perubahan-terhubung tidaklah ekslusif satu sama lain. Sebuah sub-grup mungkin saja baik: perubahan-tetap dalam artian bahwa terdapat perubahan yang disebabkan oleh semua naggota dari sub-grup, dan perubahan-terhubung karena terdapat juga pola inovasi yang saling overlapping. Di dalam kasus semacam ini, kedua set kesimpulan dapat diterapkan. Sub-grup tersebut adalah sub-grup perubahan-tetap karena anggota bahasa kelompok itu merupakan turunan dari satu bahasa interstage, dan perubahan-terhubung karena bahasa interstage tersebut terpecahmenjadi sebuah jaringan dialek yang kemudian hari berevolusi menjadi bahasa masa kini.

Dengan jumlah yang kecil dan isolasi geografis kesatuan politik di Oseania, jaringan dialek telah menjadi sub-grup perubahan-terhubung dari sebuah bahasa yang tidak dapat dipecah. Hasilnya adalah senuah sub-grup perubahan-terhubung yang berperan penting di dalam sejarah linguistic Oseania. Tapi, mereka juga sangatlah problematic. Struktur internal dari sebuah sub-grup inovasi-terhubung dikenal melalui pola inovasinya, tapi, kecuali sub-grup itu juga adalah perubahan-tetap, kami tidak memiliki bukti langsung yang menunjukan asal-muasalnya: hal ini merupakan turunan dari bahasa interstage tersendiri yang tidak mengalami perubahan yang bisa diidentifikasi, atau hal ini hanya merupakan turunan dari sebuah bagian lepas dari jaringan dialek sebelumnya.

Pada tahun 1950-an dan tahun 1960-an, karya linguistik komparatif dalam bidang Austronesia melihat tugas utama mereka sebagai klasifikasi genetic dan rekonstruksi, dan mengaplikasikan sebuah model pohon keluarga sederhana dimana semua pecahan bahasa dianggap sebagai sesuatu hal yang tiba-tiba dan sempurna. Tapi sebuah model pohon keluarga seringkali tidak masuk akal dan tidak merepresentasikan hubungan sejarah diantara bahasa. Satu alasan adalah karena fenomena tersebut memaksa hubungan linguistic semacam itu diproduksi oleh diferensiasi dialek (dan perpecahan jaringan sesudah itu) menjadi scenario menyimpang oleh model pemisahan—dan dimasa awal Oseanik, diferensiasi dialek dan perpecahan-jaringan merupakan aturan daripada sebuah pengecualian. Sejak awal tahun 1970an, ahli bahasa Austronesia menganggap permasalahan difusi dialek sebagai hal yang penting dalam bahasa prasejarah. Pada bidang bahasa Oseanik, studi yang paling berpengaruh dilakukan oleh Gerathy (1983) yang meneliti hubungan tradisi tuturan masyarakat Fiji satu sama lain dan terhadap Polinesia. Studi lainya yang menentang difusi dialek dalam wilayah tertentu termsuk studi yang dilakukan oleh Pawley (1975) dan Ross (1994b) di Papua Tengah; Ross (1988) pada berbagai wilayah di Melanesia Barat; Lichtenberk (1988) pada Malaita; Clark (1985) dan Tyron (1976) pada Vanutu; Pawley dan Sayaba (1971) pada Fiji; Pawley (1979) pada Fiji dan Rotuma; Biggs (1980), Dyen (1981) dan Rencsh (1987) pada Polinesia Barat; Jackson (1983) dan Marck (1986) pada inti Mikronesia.

Urutan Sub-Grup Teratas
Urutan sub-grup Oseanik teratas yang tampak cukup tersokong [11]
1. Kepulauan Admiralty
2. Kepulauan St Matthias
3. Oseanik Barat
4. Solomonik Tenggara
5. Vanuatu Utara/Tengah
6. Vanuatu Selatan
7. Oseanik Selatan
8. Pasifik Tengah
9. Inti Mikronesia

Wilayah yang meliputi kelompok ini ditunjukkan dip eta 2. Kami tidak berniat untuk menyatakan bahwa POc mengalami pemisahan sembilan-jalan utama, namun dalam pandangan kami, pendapat persuasive sekarang menjadi representasi pengelompokkan kelompok urutan tertinggi.[12] Kita harus mengetahui bahwa kelompok 3, 5 dan 8 adalah kelompok perubahan-terhubung: tidak terdapat perubahan apapun dimana semua anggutanya berbagi hubungan POc.

Grup Admiralties adalah sub-grup perubahan-tetap (Blust 1978b; Ross 1988: ch. 9). Grup St. Matthias juga merupakan sub-grup perubahan-tetap, dengan kemungkinan kalau grup ini berhubungan dengan grup Admiralties; kelompok ini sudah pasti tidak berhubungan dengan tetangganya di Selatan, yaitu bahasa New Ireland (Ross 1988:ch. 9).

Pengelompokan Oseanik Barat diusulkan sebagai sub-grup perubahan-terhubung oleh Ross (1988:386-389). Kecuali dalam wilayah relik kecil dimana bahasa dari POc*r dan *R wilayah itu bergabung, berbagi refleksi kata ganti berlawanan inovatif *idri[a] ‘mereka’ (sebaliknya dalam POc *(k)ira), dan secara sporadis memberikan gambaran fitur lainnya yang mengimplikasikan bahwa bahasa wilayah ini adalah keturunan dari jaringan dialek yang memiliki sejarah terpisah dari kelompok bahasa Oseanik lainnya.

Grup Solomonik Tenggara termasuk kedalam kelompok perubahan-tetap dan tampaknya merupakan sebuah kelompok yang sangat konservatif, terbagi pada akhirnya menjadi sub-kelompok Guadalcanal/Gela dan Malaita/Makira (Pawley 1972; Levy 1979, 1980; Tyron dan Hackman 1983; Lichtenberk 1988).

Vanuatu Utara/Tengah termasuk kedalam sub-grup perubahan-terhubung yang didokumentasikan oleh Pawley (1972), Tyron (1976) dan Clark (1985). Clark melihat masalah ini sebagai hasil dari sebuah jaringan dialek yang secara bertahap mengalami proses diferensiasi menjadi bahasa local. Dia mengenali divisi besar antara Vanuatu Utara dan Vanutau tengah, “dengan pembatas terbentang antara Santo dan Malekula dan antara Raga dan sisa dari Pentecost” (1985:221).

Kelompok Vanuatu Selatan merangkul bahasa dari pulau-pulau Erromanga, Tanna dan Aneityum, dan merupakan sub-grup perubahan tetap yang didokumentasikan oleh Lynch (1978).

Geraghty (1989) telah mengusulkan kelompok Kaledonian Baru (dia menyebutnya “Oseanik Selatan) yang mencakup semua bahasa Kaledonia Baru dan Pulau Loyalty. Dia juga menyarankan kemungkinan Kaledonian masuk kedalam satu kelompok sama dengan sub-grup Vanuatu Selatan, dan mengimplikasikan kalau pengelompokan ini mungkin saja membentuk sebuah sub-grup perubahan-terhubung dengan Vanuatu Utara/Tengah. [13] Namun bagaimanapun juga, bukti untuk pengelompokan ini terbatas dan dalam pandangan kami belumlah cukup persuasif.

Pengelompokan Pasifik tengah telah diteliti dengan baik (Grace 1959; Pawley 1972; Geraghty 1983, 1986, 1990). Proto-Pasifik Tengah jelas terletak di busur kepulauan Fiji, dimana hal itu mengalami proses diferensiasi menjadi jaringan dialek dengan berbagai macam bentuk dari timur ke barat. Penutur dialek timur terpisah, mungkin dengan cara bermigrasi ke Tong dan pulau lainnya ini Polinesia Barat dimana Polinesia kuno berkembang (Geraghty 1983; Green 1981). Penutur dialek barat bermigrasi ke Rotuma, dimana bahasa berbeda berkembang (Pawley 1979). Selanjutnya dialek yang bekembang di Fiji tetap berinteraksi, sehingga dialek itu sekarang membentuk sebuah kelompok perubahan-terhubung, didalam sub-grup barat dan timur jelas terlihat berbeda (Pawley dan Sayaba 1971; Geraghty dan Pawley 1981; Geraghty 1983). Polinesia kuno telah terdiversifikasi menjadi bahasa-bahasa kelompok Polinesia, sebuah sub-grup Oseanik yang tetap (Pawley 1966, 1967; Biggs 1971).

Peta 2: Urutan Sub-Grup Teratas bahasa Austronesia Oseanik


Mikronesia Asli termasuk semua bahasa Mikronesia kecuali Belau, Chamorro dan mungkin Yapese (Bender 1971; Jackson 1983; Bender dan Wang 1985). [14]

Sub-grup Oseanik Barat
Ross (1988) mengusulkan bahwa grup Oseanik Barat terdiri dari tiga sub-grup atau “kluster”: Meso-Melanesian, Papuan Tip dan Papua Nugini Utara (lihat peta 3). [15] Dua kelompok pertama dari kelompok ini adalah sub-grup perubahan-tetap, dan pada kedua kasus bahasa kuno interstage atau sebuah bentuk awal bahasa interstage dengan jelas dibedakan menjadi jaringan yang luas. Pengelompokan kategori Papua Nugini Utara, bagaimanapun juga, adalah sebuah sub-grup perubahan-terhubung, dimana tidak terdapat bentuk perubahan yang dibagi dengan bahasa-bahasa kluster yang berhubungan dengan POc (Ross 1988: \120). Alih-alih, kluster bahasa itu terdiri dari tiga kelompok perubahan-tetap (Ngero/Vitiaz, Huon Gulf dan Schouten), setiap kelompok ditentukan oleh set perubahan bersama dan setiap kelompok termasuk sub-grup urutan bawah (lihat peta 4). Satu atau lebih sub-grup didalam setiap grup perubahan-tetap juga memiliki beberapa perbedaan yang terbagi dalam satu sub-grup atau lebih dari dua grup perubahan-tetap yang berbeda, bergabung dengan grup yang ketiga dalam sebuah jaringan.

Peta 3: Sub-grup Oseanik dalam Melanesia Barat


Peta 4: Pengelompokan New Guinea utara dan sub-grup









Peta 5: Pengelompokan Meso –Melanisia dan sub-grup


Struktur dalam dari sub-grup Meso-Melanesian (Peta 5) sangat kompleks. Pembagian tiga-jalur pokok kedalam bahasa Bali-Vitu, rangkaian Willaumez, dan pautan Irlandia Baru/ Solomonik baratlaut. (melebar dari Hanover baru ke Santa Isabel) terlihat nyata. Urutan berikutnya adalah grup Madak, Tabard an Lavongai/Nalik yang menempati Irlandia baru pusat dan utara dan sepanjang pautan Irlandia Baru bagian selatan/Solomonik bagian baratlaut. Akan tetapi, sejak keberangkatan dari Irlandia baru bagian selatan (kita berpendapat demikian)yang mana keturuna-keturunan mereka menjadi bahasa Solomonik baratlaut, bahasa dari keseluruhan wilayah di Irlandia Baru telah berinteraksi dan membentuk grup perubahan-terhubung. Irlandia baru cummunalects telah bersikap

Peta. 6 Pengelompokan Ujung Papua and sub-group



Struktur dari sub-group Ujung Papua (Peta 6) lebih sedikit kompleks. Ada kemungkinan (Tetapi tidak didukung dengan baik) Pada awalnya terbagi menjadi “Nuklir” dan “Periferal” pautan Ujung Papua. Bahasa dari jaringan Nuklir ini terbagi kedalam rantai Suauic (kebanyakan berlokasi di daerah bagian tenggara- bagian terbanyak dari daratan)dan Daratan Utara/jaringan D’Entrecasteaux, membentuk busur kasar yang memanjang dari Pulau Normanby, melalui pulau Fergusson dan Goodenough kearah daratan pesisir di Pantai Collingwood, kemudian sepanjang arah tenggara dan pantai disekeliling pantai (Ross 1988:191, 1992).

“ Melanesia”. Pembaca akan memperhatikan disini bahwa kita tidak berbicara bahasa “Melanisia” atau tergabung dalam kelompok “Melanisia”. Dalam menggambarkan lokasi dari bahasa-bahasa Oseanik, seseorang tidak dapat menghindari kata “Melanisia” sebagai suatu istilah dalam geografi. Akan tetapi saat ini para ahli bahasa komparatif menunjuk kepada pengelompokan genetic pada bahasa, menyadari bahwa kata “Melanisia’ tidak termasuk kedalam kata sifat. Melanisia sendir telah diakui, seperti yang sudah kita tulis sebelumnya, baik oleh penduduk asli yang menggunakan bahasa Papua dan Melanisia, akan tetapi bahkan didalam bahasa Austronesia sendiri tidak ada istilah kata kelompok “Melanisia”. Sebagai gantinya beberapa bahasa yang di tuturkan di Melanisia lebih berkaitan erat pada Polynesia.

Menempatkan komunitas bahasa POc dan tujuan dari penyebaran.
Sebuah metode untuk menempatkan pusat penyebaran yang paling cocok ( atau ”tanah air”) dari sebuah rumpun adalah secara distibutif. Pandangan yang menyatakan bahwa pusat penyebaran yang paling cocok untuk sebuah rumpun bahasa berada dalam perbedaan genetik mereka yang paling besar dikemukakan oleh Sapir (1916) beberapa tahun setelah Vavilov menggunakan sebuah pemikiran paralel untuk mengolah tanaman. Baru-baru ini, penerapan linguistik dari rumpun bahasa tersebut telah disaring hingga menjadi pokoknya saja oleh Dyen (1956). Menggaris bawahi prinsip penyerhanaan, yang membutuhkan seseorang yang memiliki langkah yang sedikit dan pendek untuk menjelaskan mengenai distribusi geografis dari sub-kelompok. Dapat dilihat bahwa metode ini bergantung dari pengelompokan sub-kelompok, dikarenakan perbedaan genetik dalam sub-kelompok tersebut.

Seseorang perlu untuk melihat baik kepada hubungan luar dan pengelompokan dalam sub-kelompok dari bahasa tersebut dalam pertanyaan. Kita menerima kesimpulan dari Blust’s (1978a,1983-84, 1993) bahwa Oceanic termasuk dalam kelompok Melayu-Polynesia Timur yang mana kelompok tersebut ditemukan disekitar Teluk Cendrawasih di Nugini barat laut dan di Halmahera Selatan, dan keluarga terdekat dari Melayu-Polynesia Timur juga tinggal di Indonesia. Dengan ini, metode tersebut membutuhkan kita untuk menyimpulkan bahwa Melayu-Polynesia Timur kuno kemungkinan tinggal disekitar Teluk Cendrawasih, dan pemisahan dari cabang Oseanik dimulai dengan sebuah gerakan dari penutur Melayu-Polynesia Timur yang berasal dari Teluk Cendrawasih timur sepanjang Pesisir utara Papua Nugini.

Tetapi dimanakah pergerakan pre-Oseanik ini berakhir? Apakah pusat penyebaran dari POc itu sendiri? Sub-kelompok dalam menguraikan bagian dalam pengelompokan tersebut menjadi dua kemungkinan, keduanya berlokasi di Melanisia barat laut.(Peta 2 memberikan lokasi dari sub-kelompok tingkat tinggi dari Oseanik) Sebuah kemungkinan adalah bahwa penutur pre-Oseanik bergerak hanya sejauh Pesisir Sarmi atau Jayapura, ini dikarenakan kita menemukan dua kelompok Oseanik yang baru dipelajari sedikit yang mungkin menjadi cabang tingkat pertama dari Oseanik.

Tetapi, dikarenakan terbatasnya fakta-fakta yang tersedia, kelompok ini termasuk ke Oseanik Barat., lalu POc berkembang jauh ke timur, dimana beberapa sub-kelompok tingkat tinggi yang berkedudukan kuat bertemu. Di garis busur Bismarck kita menemukan dua kelompok tingkat utama dari Oseanik. Departement Angkatan Laut Inggris dan Oseanik Barat, dan kemungkinan yang ketiga, St Matthias. Oseanik barat pada gilirannya terbagi kepada tiga kelompok tingkat dua yang besar, dua dari mereka mewakili Britania Baru: Kelompok Nugini utara dan kelompok Meso-Melanisia.

Tata cara yang lain untuk menempatkan pusat penyebaran sering kali disebut Wörter und Sachen, metode(”kata dan benda”), hal ini dikarenakan metode tersebut tergantung dari rekonstruksi kata untuk hal yang berhubungan dnegan budaya danl lingkungan nyata. Untuk POc, sebagai contoh, perlu untuk merekonstruksi istilah-istilah dari beberapa hewan. Kasuari, tupai, hewan berkantung yang ditemukan di Nugini dan di busur kepulauan Bismarck dan Solomon, yang pergi meninggalkan Melanisia selatan, Micronesia dan Polynesia. Rekonstruksi ini diperlukan bukan hanya karena perangkat garis kekeluargaan diwakilkan di lebih dari satu sub kelompok utama dari Oseanik, tetapi juga karena garis kekeluargaan ditemukan di dalam bahasa bukan Oseanik di Indonesia timur (Blust 1982). Penting juga untuk merekonstruksi kata-kata dari banyak hewan laut dan juga hal lainnya yang berhubungan dengan laut. Bagaimanapun juga, beberapa petunjuk ini sukar untuk menghasilkan kesimpulan yang lebih rinci dari penutur POc yang hidup didekat pantai di suatu tempat di bagian Indonesia timur, Nugini atau busur kepulauan Bismarck.

Mari beralih kepada perpecahan POc. Terutama pada dasar penyaluran dari sub-sub kelompok, kita telah menempatkan kemungkinan pusat penyebaran di busur kepulauan Bismarck, tanpa menyokong keterangan khusus dari wilayah ini. Penyebaran dari sub kelompok tingkat pertama menunjukan bahwa kurang lebih pergerakan sejaman dari penutur POc di berbagai arah didalam daerah yang luas di Melanisia. Mengumpamakan bahwa POc bukan bertempat di Departemen Angkatan Laut Inggris (sebuah anggapan yang membutuhkan penelitian yang lebih lanjut) terdapat pergerakan permulaan ke daerah tersebut, sejalan dengan perpecahan POc. Hal yang sama dapat dikatakan pada kelompok St Matthias dan Britania Baru, yang masing-masing berisi sebuat sub kelompok tingkat tinggi dari Oseanik. Pada waktu yang sama ketika satu lebih pergerakan ke Solomon dan ke Oseania terpencil, mendorong kearah perbedaan dari Solomonik tenggara, Vanuatu pusat/utara, Vanuatu selatan, Oseanik selatan, Pasifik pusat dan kelompok Micronesia inti.

Britania baru adalah pusat kemungkinan penyebaran dari kelompok Oseanik barat (Ross 1989). Oseanik barat adalah sub kelompok perubahan-terhubung, tetapi dua perubahan sebelumnya terbagi oleh mayoritas yang luas dari rumpun bahasa, mengusulkan bahwa perubahan tersebut diturunkan dari jaringan dialek yang suatu ketika menempati daerah yan yang terbatas (sebaliknya, perubahan tersebut tidak akan menyebar melalui jaringan apapun). Fakta-fakta yang ada menunjukan bahwa daerah ini berada di sepanjang pesisir utara dari Britania baru, mungkin mengakang semenanjung Willaumez, yang merupakan lapisan dua divisi utama dari Oseanik barat, kelompok Meso-Melanisia dan Nugini utara. Selanjutnya, tempat dimana terdapat perbedaan terbesar dari Meso-Melanisia ditemukan di daerah ini. Dua dari tiga kelompok utama (Bali-Vitu dan jaringan Willaumez) diletakan di sekitar semenanjung Willaumez.

Apabilla tanah air Oseanik barat berada di pesisir utara Britania baru, penutur Oseanik barat meluar di dua arah utama. Terdapat pendudukan yang progesip dari pesisir Britania baru, dari Inrlandia baru (dari Selatan ke Utara) dan dari daerah Solomonik barat laut untuk membentuk kelompok Meso-Melanisia. Petunjuk kedua dari perluasan tersebut berada di sepanjang selat Vitiaz ke arah pesisir daratan Nugini. Pergerakan yang terakhir ini kemudian diikuti oleh perpecahan antara kelompok Nugini utara, mendiami bagian pesisir utara kelompok ujung Papua dan pulau lepas pantai di Morobe, Madang dan propinsi Sepik, dan kelompok ujung Papua, berisikan teluk Milne dan bahasa propinsi pusat. Dalam waktu singkat keturunan dari jaringan Nugini utara terpecah menjadi Schouten, Ngero/Vitiaz dan kelompok teluk Huon. Rangkaian dari pembaharuan ini secara khusus mendukung pemukiman dari selatan ke utara dari penduduk Irlandia utara dan pemukiman dari timur ke barat dari penduduk kepulauan Schouten.

Bobot sub-pengelompokan fakta-fakta ini, lalu menunjuk kepada diaspora yang cepat dari penutur Austronesia ke seberang Melanisia dan kedalam Pasifik tengah. Kita telah mencatat fakta-fakta ddistribusional untuk pendudukan rata-rata pada saat itu oleh penutur Oseanik dari Britania baru, Santa Matthias, Departemen Angkatan Laut Inggris, Solomon tenggara dan beberapa daerah dari ”Oseania terpencil” (kelompok dari pulau-pulau yang terbagi secara luas dan pulau terasing dari Pasifik melewati rangkaian Solomon).

Apakah tanggal dari penyebaran ini akurat? Sebuah Perkumpulan antara penyebaran dari bahasa Oseanik dan barang tembikar Lapita dan perkumpulan perkakas kuno yang terkait di Pasifik tengah telah diperdebatkan oleh para pelajar sejak tahun 1960, tetapi Shutler dan Marck (1975) mungkin yang pertama kali memperdebatkan bahwa perpecahan dari Poc itu sendiri seharusnya terkait dengan pergerakan dari pembawa Lapita, sebuah pemikiran yang menerima banyak dukungan (Pawley dan Green 1984; Spriggs 1984, 1993; Kirch 1984, 1992; Bellwood 1989; Green 1994). Barang tembikar Lapita muncul di busur kepulauan Bismarck sekitar 1600 sebelum masehi (Kirch dan Hunt 1988; Soriggs 1989, 1990, jilid ini) lalu kemudian di beberapa daerah di Oseania terpencil. Tanggal kepurbakalaan untuk perkumpulan Lapita pertama di Caledonia baru, vanuatu, Fiji, Tonga, dan Samoa adalah antara 1300 dan 1000 sebelum masehi. Tanggak kepurbakalaan yang terbaru menunjukan bahwa pemukiman di daerah ujung Papua mungkin terjadi agak belakangan, mencapai Papua tengah sekitar 2000 tahun yang lalu (Vanderwal 1973; Allen 1977a, 1977b; Bulmer 1982). Saat ini, tanggal yang paling baru yang dapat dikaitkan dengan yakin oleh penutur Nugini utara ( yang berada di pesisir barat Britania baru utara dari semenanjung Willaumez, pulau-pulau, dan pesisir daratan dari selat Vitiaz) yang hanya berkisar 1500 tahun yang lalu (Lilley 1988, 1990)

Kecepatan dari pemukiman ini berhubungan dengan teka-teki akan bagaimana Polynesia dan Micronesia, dengan jenis fisik Mongoloid selatan mereka, ditandai dengan rambut keriting kaku, kulit gelap, dan gigi mereka yang relatip besar, yang menurut dugaan orang menonjol.

Jawaban yang muncul bahwa mereka tidak ’keluar dari’ Melanisia: beberapa penutur Oseanik bergerak melewati Melanisia ke arah Pasifik tengah, dan meraka bergerak dengan cepat untuk menahan phenotip Mongoloid selatan mereka. Penutur Austronesia di Melanisia saat ini telah memperoleh karakteristik Melanisia dalam tingkat yang bermacam-macam dengan melakukan perkawinan campuran oleh campur tangan milenia dan oleh aliran gen bawaan setelah awal penyebaran dari penutur Oseanik. Akan tetapi, bahkan di Melanisia barat, format dari penutur Austronesia luaran ciri-ciri Mongoloid selatan masih ditemukan, misalnya di kebanyakan daerah Papuas tenggara, Wuvulu, dan Aua. Penelitian terbaru di bidang antropologi biologis (mengacu pada Green 1994:38) menyatakan bahwa populasi penutur-Austronesia yang lain juga memperlihatkan hubungan genetik mereka dengan orang-orang Mongoloid selatan dari Asia tenggara dan Polynesia.

Ragam dari penyebaran Oseanik
Fakta bahwa terdapat banyak sub-kelompok Oseanik dari barat sejak Fiji membentuk pertalian dan bukan kekeluargaan memberi kesan bahwa didalam setiap kelompok pulau utama, ragam utama dari penyelesaian adalah ekspansi yang berkelanjutan ke daerah kekuasaan tetangga yang muncul lagi danlagi dalam bentukan rantai dialek dan jaringan. Setiap desa yang baru melakukan koneksi dengan desa orangtua mereka, dan hanya sekali-kali melakukan himpunan pidato desa membedakan keluar dari bahasa yang terpisah. Perbadaan yang utama didalam pola ini disebabkan oleh faktor yang merintangi hubungan, baik secara geografis (jurang pemisah samudera yang besar atau sebuah sawar daratan seperti pegunungan) atau secara sosial (campur tangan dari sekelompok penutur bahasa Papua). Kasus Solomonik barat laut mengandung pelajaran. Choiseul, kelompok Georgia baru, dan Santa Ysabel masing-masing ditempati oleh pertalian, yang mana tidak terdapat perpecahan yang radikal, juga perpecahan antara setiap jaringan, bersamaan dengan campur tangan laut, cukup adil. Di pulau Bougainville, sebaliknya, bahasa Austronesia menunjukan perbedaan yang besar diantara diri mereka, sebuah hasil dari perpecahan mereka oleh penutur bahasa Papua.

Tidak banyak terdapat pengecualian khusus dalam pola ini. Sebagai contoh, didalam kelompok Nugini utara, rantai Schouten cukup berbeda dari negara tetangga mereka yang di timur, dan anggota mereka yang paling timur cukup kolot dalam fonologi dan morfologi lisan mereka (Ross 1988: 122-132) untuk menyatakan bahwaProto-Schoute adalh keberangkatan awal mereka dari jaringan bahasa daerah dan menjadi benar-benar tertutup dari .....

Perubahan dalam Lexicon dan budaya dari penutur Oseanik
Pada masa perpecahan Poc, mungkin 3500 tahun yang lalu, banyak dari keturunan dari POc telah mengalami perubahan yang radikal, sementara yang lainnya belum berubah banyak. Bahasa yang paling konservatif, menurut kamus, kemungkinan merupakan anggota dari kelompok Meso-Melanisia, terutama Bali-Vitu dan rantai Willaumez, semua bahasa ini bertempat di separuh timur paruh akan rantai pulau Salomon dari Santa Isabel Timur dan Guadalcanal ke Santa Ana, bagian dari Vanuatu tengah dan utara, semua bahasa Fiji dan beberapa bahasa Polynesia (terutama Tongan). Kebanyakan dari bahasa ini terpakai secara refleks dari 35-45 persent dari beberapa 250 perbendaharaan kata dasar Melayu-Polynesia kuno yang di rekonstruksi oleh Blust (1981, 1993). Pada hal yang berbeda, bahasa hanya terpakai dalam persentase yang kecil - di beberapa kasus yang ekstrim, tidak kurang dari 10 persen, dari etima yang terekonstruksi. Kebanyakan bahasa berada disuatu tempat antara ekstrim ini. Diantara bahasa Oseanik terdapat bahasa kasar, tanpa maksud sebenarnya, hubungan antara tata bahasa secara kamus dan kekolotan secara tatabahasa dan lebih sedikit hubungan antara yaya bahasa secara kamus dan kekolotan secara fonologis. Dengan segenggam penuh pengecualian semua inovasi bahasa menurut tata bahasa kamus ditemukan di daerah tanah daratan Nugini dan Britania baru.

Para ahli bahasa selama beberapa generasi telah dirumitkan dengan inovasi bahasa yang tinggi ( kadang disebut ’aberan’). Diantara penjelasan-penjelasan yang telah diberikan untuk mempertanggung jawabkan akan penggantian pembedaharaan kata yang tinggi adalah: (i) Tambahan yang tidak sempurna dari bahasa Oseanik oleh satu komunitas suara bukan Austronesia (Papua), (ii) bilingualisme jangka panjang antara negara tetangga Oseanik dan Papua, didukung oleh perdagangan dan pernikahan campuran, (iii) sangat sedikitnya jumlah komunitas suara, dikarenakan migrasi, struktur politik, dan lain lain., (iv) Tekanan sosial untuk membangun sebuah bahasa yang berbeda dari tetangga mereka, (v) Larangan untuk menggunakan kata yang berasal dari nama ketua atau orang yang sudah meninggal, (vi) Perubahan dari lingkungan fisik berikut migrasi, (vii) Perubahan kebudayaan yang terjadi secara internal, (viii)Perubahan kebudayaan yang timbul dengan hubungan, dan (ix) Perubahan fonologis yang menciptakan keraguan bentuk kata (terutama ambigu).

Yang paling diperdebatkan dari proposal-proposal ini, karena konfliknya dengan hipotesa dari penemu pemukiman, yang disebut hipotesis ’pidginisasi’, di teliti oleh Ray (1926) dan Capel (1943). Kesepakatan yang paling baru hanyalah seidkit, bila pun ada, bahasa Oseanik menunjukan bukti dari pembelajaran yang tidak sempurna dan sisa substrat yang berat yang akan menunjukan pengambilan alih oleh sebuak komunitas yang bahasa sebelumnya adalah bahasa Papua. Untuk menjelaskan kasus kebanyakan, kita perlu untuk melihat kepada sebuah kombinasi dari faktor yang lain.

Pada bagian-bagian dari Melanisia sedikitnya sepanjang timur Solomon tengah, telah terjadi interaksi antara komunitas bahasa Oseanik dan Papua, terhubung melalui perdagangan dan perkawinan campuran. Bilingualisme yang dihasilkan berada dalam jumlah kasus yang disebabkan oleh restrukturisasi yang radikal, terutama pada tatabahasa pada bahasa Oseanik. Lynch (1981) membantah bahwa urutan subyek-obyek-kata kerja dan posisi dari kelompok ujung Papua diakibatkan pengaruh penduduk Papua pada penduduk Papua kuno. Sebuah bahasa ujung Papua, Maisin, telah melalui banyak proses ’Papuanisasi’ sehingga komentator sebelumnya tidak dapat memutuskan apakah Maisin termasuk kedalam bahasa Papua atau Austronesia ( Buku Ross mendatang). Dutton (1982) telah menganalisa perbendaharaan kata yang dipinjam di Magori, yang juga merupaka bahasa ujung Papua. Bahasa Bel dari kelompok Nugini utara menunjukan proses papuanisasi yang berarti dalam struktur tatabahasa mereka (Buku Ross 1987, yang akan datang), dan Lincoln (1976) menggambarkan perbedaan antara Piva yang terPapuanisasi dan Banono yang tidak terPapuanisasi, kedua bahasa ini sebaliknya berhubungan erat dengan Bougainville. Tetapi, ketika kontak bahasa yang didukung dan bilingualis mempunyai perubahan linguistik yang maju, nampaknya sulit untuk mendorong kepada pemakaian dari bahasa Austronesia oleh penutur bahasa Papua yang mana telah diperdebatkan oleh Ray dan Capeel. Yang belakangan ini terjadi, kemungkinan melalui perubahan dalam fonologi bukannya melalui struktur tatabahasa (Ross 1994a).

Tidaklah mengherankan bahwa perubahan dari lingkungan fisik atau kebudayaan membawa beberapa komunitas bahasa Oseanik kehilangan kata-kata Poc mereka dan perubahan dari kata lainnya. Terkadang mungkin untuk mengembangkan hampiran masa Dalam sejarah bahasa-bahasa ini, ketika cakupan pertanyaan tersebut hilang.

Sebagai contoh, meskipun Maori Selandia Baru tidak lagi mempunyai istiah untuk tanaman dan binatang dari lingkungan tropis Pasifik. (Biggs 1994), kita yakin bahwa istilah tersebut ada pada leluhur Maori, Rarotongan, Tahitian dan Tuamotuan, karena yang terakhir memakai istilah Polynesia kuno untuk banyak materi, kita dapat berpendapat bahwa kehilangan-kehilangan tersebut terjadi hanya setelah Maori terpisah dari bahasa yang lain. Dengan cara yang sama, meskipun di Pasifik tengah, megapod, atau kalkun semak saat ini tidak hanya ditemukan di salah satu pulau terpencil (Niuafo’ou, antara Tonga dan Samoa), kita tahu bahwa penutur bahasa Polynesia kuno memakai kata Poc ( dan juga Melayu timur-Polynesia kuno) untuk kata megapod dan istilah tersebut hilang pada bahasa anang hanya setelah perpecahan dari Polynesia kuno. Dapat disimpulkan bahwa bahasa Niuafo’ou (bahasa Polynesia yang diucapkan di pulau Niuafo’ou antara Tonga dan Samoa) menggunakan istilah Poc, *malau. Hal ini didukung oleh penemuan mutakhir dari tolang megapod pada situs purbakala di Fiji. Dalam beberapa bahasa Oseanik pedalaman pada pulau-pulau besar di Melanisia, istilah-istilah yang hilang untuk lingkungan bahari terlihat relatip baru, karena masalah bahasa berhubungan erat pada bahasa pantai yang memakai banyak istilah Poc yang berkaitan dengan bahari.

Kesimpulan
Sisanya adalah menjumlahkan implikasi dari fakta-fakta linguistik yang di tinjau disini untuk merekonstruksi Pasifik pra-sejarah.

1. Distibusi dari sub-sub kelompok menyatakan bahwa Poc berkembang sebagai tradisi berbicara yang khusus mengikuti pergerakan dari penutur Melayu-Polynesia Timur dari Nugini Bird Head ke sebuah wilayah yang lebih timur di Melanisia barat laut. Kemungkinan pergerakan tersebut terjadi sebelumnya di pesisir Sarmi dan/ atau wilayah timur Jayapura dari Bird Head. Akan tetapi, titik penyebaran yang paling memungkinkan untuk semua sub-kelompok Oseanik sub-kelompok barat dari Irian jaya adalah busur kepulauan Bismarck, dimana terdapat beberapa sub-kelompok tingkat tinggi berdampingan.

2. Setelah masa perkembangan terpadu (kemungkinan tidak lebih dari beberapa abad) di Melanisia barat laut penutur POc menyebar dengan cepat di kebanyakan pulau di Melanisia, Polynesia barat dan Micronesia. Bila kita menerima hubungan antara penyebaran yang cukup luas dari kebudayaan Lapita dan penyebaran dari Oseanik, awal penyebaran melewati pulau Melanisia berlokasi pada paruhan kedua dari millenium kedua sebelum masehi. Pada waktu yang sama, penutur Oseanik mungkin telah mulai mendiami pulau-pulau yang berada di dekat tanah daratan Nugini disekitar semenanjung Huon. Pemukiman di pesisir utara dari tanah daratan dan Teluk Huon mungkin terjadi agak belakangan. Mengikuti pemukiman di wilayah Papua tenggara, penutur dari bahasa ujung Papua bergerak menuju kearah barat sepanjang pesisir selatan wilayah Papua. Pada pergerakan terakhir dapat dihubungkan dengan kemunculan dari kebudayaan bantalan tembikar di provinsi tengah sekitar 200 tahun yang lalu.

3. Rekonstruksi sebagian dari istilah Poc yang beragam menunjukan terminologi daerah dan kelompok struktur sosial dan kebudayaan pokok adalah mungkin. Pada rekonstruksi yang terlihat, sangat jelas bahwa penutur POc melindungi sepenuhnya Melayu-Polynesia kuno dan istilah Melayu-Polynesia timur kuno untuk banyak daerah kebudayaan, misalnya kompleks kano, kehidupan laut, teknik memancing, menanam tumbuhan, dan pertalian keluarga Sedikitnya lima istilah barang tembikar Melayu-Polynesia kuno telah digunakan. Bagaimanapun juga, penutur POc tidak dengan jelas memelihara istilah untuk budaya pangan.

4. Beberapa komunitas Oseanik telah menggunakan lebih banyak jumlah kosakata dari yang lainnya. Bila kita mengukur konservatisme kebudayaan yang berkaitan dengan derajat retensi dari istilah untuk bermacam daerah tertentu pada struktur teknologi dan sosial, terdapat (tidak mengejutkan) korelasi yang cukup tinggi antara linguistik dan konservatisme kebudayaan.

Referensi
Allen, Jim
1977a Fishing for wallabies: trade as a mechanism of social interaction, integration and elaboration on the Central Papuan coast. In J. Friedman and M.J. Rowlands (eds) The evolution of social systems, pp.419-455. London: Duckworth.

1977b Management of resources in prehistoric coastal Papua. In John H. Winslow (ed.) The Melanesian environment, pp.35-44. Canberra: Australian National University Press.

Bellwood, Peter S.
1989 The colonization of the Pacific: some current hypotheses. In A. V. S. Hill and S. W. Serjeantson (eds) The colonization of the Pacific: a genetic trail, pp.11-59. Oxford: Clarendon Press.

Bender, Byron W.
1971 Micronesian languages. In Thomas A. Sebeok (ed.) Current trends in linguistics 8: Linguistics in Oceania, pp.426-465. The Hague: Mouton.

Bender, Byron W. and Judith W. Wang
1985 The status of Proto-Micronesian. In Andrew K. Pawley and Lois Carrington (eds) Austronesian linguistics at the 15th Pacific science congress, pp.53-92. Pacific Linguistics Series C No. 88. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Biggs, Bruce G.
1965 Direct and indirect inheritance in Rotuman. Lingua 14:383-415.
1971 The languages of Polynesia. In Thomas A. Sebeok (ed.) Current trends in linguistics 8: Linguistics in Oceania, pp.466-505. The Hague: Mouton.

1980 The position of East ’Uvean and Anutan in the Polynesian language family. Te Reo 22-23:115-134.

1994 New words for a new world. In Andrew Pawley and Malcolm D. Ross (eds) Austronesian terminologies: continuity and change. Pacific Linguistics Series C No. 127, pp.21-29. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University.

Blust, Robert A.
1978a Eastern Malayo-Polynesian: a subgrouping argument. In S.A. Wurm and Lois Carrington (eds) Second international conference on Austronesian linguistics: proceedings, pp.181-234. Pacific Linguistics Series C No. 61. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1978b The Proto-Oceanic palatals. Journal of the Polynesian Society Monograph 43. Auckland: The Polynesian Society.

1981 Variation in retention rate among Austronesian languages. Paper presented to the Third International Conference on Austronesian Linguistics, Denpasar.

1982 The linguistic value of the Wallace line. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 138:231-250.

1983-84 More on the position of the languages of Eastern Indonesia. Oceanic Linguistics 22-23:1-28.

1993 Central and Central-Eastern Malayo-Polynesian. Oceanic Linguistics 32: 241-293.
Bulmer, Susan

1982 West of Bootless Inlet: archaeological evidence for prehistoric trade in the Port Moresby area and the origins of the hiri. In T.E. Dutton (ed.) The hiri in history: further aspects of long-distance Motu trade in central Papua, pp.117-130. Pacific Research Monograph No. 8. Canberra: The Australian National University.

Capell, Arthur
1943 The linguistic position of South-Eastern Papua. Sydney: Australasian Medical Publishing Company.

Chowning, Ann
1963 Proto-Melanesian plant names. In Jacques Barrau (ed.) Plants and the migrations of Pacific peoples: a symposium, pp.39-44. Honolulu: Bishop Museum Press.

1989 The ‘Papuan Tip’ languages reconsidered. In Ray Harlow and Robin Hooper (eds) VICAL 1: Oceanic languages. Papers from the fifth international conference on Austronesian linguistics, pp.113-140. Auckland: Linguistic Society of New Zealand.

1991 Proto Oceanic culture: the evidence from Melanesia. In Robert Blust (ed.) Currents in Pacific linguistics: papers on Austronesian languages and ethnolinguistics in honour of George W. Grace, pp.43-75. Pacific Linguistics Series C No. 117. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Clark, Ross
1982 Proto-Polynesian birds. In Jukka Siikala (ed.) Oceanic studies: essays in honour of Aarne A. Koskinen, pp.121-143. Helsinki: Suomen Antropologinen Seura/The Finnish Anthropological Society.

1985 Languages of north and central Vanuatu: groups, chains, clusters and waves. In Andrew Pawley and Lois Carrington (eds) Austronesian linguistics at the 15th Pacific science congress, pp.199-236. Pacific Linguistics Series C No. 88. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1991 Fingota/Fangota: shellfish and fishing in Polynesia. In Andrew Pawley (ed.) Man and a half: essays in Pacific anthropology and ethnobiology in honour of Ralph Bulmer, pp.78-83. Auckland: The Polynesian Society.

1994 The word is the bird: evolution, migration and extinction of Oceanic ornithonyms. In Andrew Pawley and Malcolm D. Ross (eds) Austronesian terminologies: continuity and change. Pacific Linguistics Series C No. 127, pp.73-86. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University.

Dempwolff, Otto
1934 Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes, Band 1: Induktiver Aufbau einer indonesischen Ursprache. Beihefte zur Zeitschrift für Eingeborenen-Sprachen 15. Berlin: Dietrich Reimer.

1937 Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes, Band 2: Deduktive Anwendung des Urindonesischen auf Austronesische Einzelsprachen. Beihefte zur Zeitschrift für Eingeborenen-Sprachen 17. Berlin: Dietrich Reimer.

1938 Vergleichende Lautlehre des Austronesischen Wortschatzes, Band 3: Austronesisches Wörterverzeichnis. Beihefte zur Zeitschrift für Eingeborenen-Sprachen 19. Berlin: Dietrich Reimer.

Dutton, T.E.
1982 Borrowing in Austronesian and non-Austronesian languages of coastal south-east mainland Papua New Guinea. In Amran Halim, Lois Carrington and S.A. Wurm (eds) Papers from the third international conference on Austronesian linguistics 1: Currents in Oceanic, pp.109-177. Pacific Linguistics Series C No. 74. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Dutton, Tom and Darrell Tryon (eds)
1994 Language contact and change in the Austronesian world. Berlin: Mouton de Gruyter.

Dyen, Isidore
1956 Language distribution and migration theory. Language 32:611-626.

1981 The subgrouping of the Polynesian languages. In K.J. Hollyman and Andrew Pawley (eds) Studies in Pacific languages and cultures, in honour of Bruce Biggs, pp.83-100. Auckland: Linguistic Society of New Zealand.

French-Wright, Renwick
1983 Proto-Oceanic horticultural practices. M.A. thesis, Department of Anthropology, University of Auckland.

Geraghty, Paul
1983 The history of the Fijian languages. Oceanic Linguistics special publication No. 19. Honolulu: University of Hawaii Press.

1986 The sound system of Proto-Central-Pacific. In Paul Geraghty, Lois Carrington and S.A. Wurm (eds) FOCAL II: papers from the fourth international conference on Austronesian linguistics, pp.289-312. Pacific Linguistics Series C No. 94. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1989 The reconstruction of Proto-Southern Oceanic. In Ray Harlow and Robin Hooper (eds) VICAL 1: Oceanic languages. Papers from the fifth international conference on Austronesian linguistics, pp.141-156. Auckland: Linguistic Society of New Zealand.

1990 Proto-Eastern Oceanic *R and its reflexes. In J.H.C.S. Davidson (ed.) Pacific island languages: essays in honour of G.B. Milner, pp.51-93. London and Honolulu: School of Oriental and African Studies and University of Hawaii Press.

1994 Proto Central Pacific fish-names. In Andrew Pawley and Malcolm D. Ross (eds) Austronesian terminologies: continuity and change. Pacific Linguistics Series C No. 127, pp.141-169. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University.

Geraghty, Paul and Andrew K. Pawley
1981 The relative chronology of some innovations in the Fijian languages. In Jim Hollyman and Andrew Pawley (eds) Studies in Pacific languages and cultures in honour of Bruce Biggs, pp.159-178. Auckland: Linguistic Society of New Zealand.

Grace, George W.
1959 The position of the Polynesian languages within the Austronesian (Malayo-Polynesian) language family. Bloomington: Indiana University Publications in Anthropology and Linguistics, Memoir 16, supplement to International Journal of American Linguistics 25.

1971 Notes on the phonological history of the Austronesian languages of the Sarmi coast. Oceanic Linguistics 10:11-37.

Green, Roger C.
1963 A suggested revision of the Fijian sequence. Journal of the Polynesian Society 72:235-252.
1981 Location of the Polynesian homeland: a continuing problem. In Jim Hollyman and Andrew Pawley (eds) Studies in Pacific languages and cultures in honour of Bruce Biggs, pp.133-158. Auckland: Linguistic Society of New Zealand.

1994 Changes over time: recent advances in dating human colonisation of the Pacific area. In D.G. Sutton (ed.) Origins of the first New Zealanders, pp.19-51. Auckland: Auckland University Press.

Hooper, Robin
1985 Proto-Oceanic /*qi/. In Andrew K. Pawley and Lois Carrington (eds) Austronesian linguistics at the 15th Pacific science congress, pp.141-167. Pacific Linguistics Series C No. 88. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1994 Proto-Polynesian fish names. In Andrew Pawley and Malcolm D. Ross (eds) Austronesian terminologies: continuity and change. Pacific Linguistics Series C No. 127, pp.185-229. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University.

Jackson, Frederick H.
1983 The internal and external relationships of the Trukic languages of Micronesia. Honolulu: University of Hawaii.

Kern, Hendrik
1886 De Fidji-taal vergeleken net hare verwanten in Indonesië en Polynesië. Verhandelingen der Koninklijke Akademie van Wetenschappen, afdeeling Letterkunde 16:1-242.

Kirch, Patrick V.
1984 The evolution of the Polynesian chiefdoms. Cambridge: Cambridge University Press.

1992 The Lapita culture of western Melanesia in the context of Austronesian origins and dispersals. Paper presented to the International Symposium on Austronesian Studies relating to Taiwan, Academia Sinica, Nankang, Taipei.

Kirch, Patrick V. and T.L. Hunt (eds)
1988 Archaeology of the Lapita cultural complex: a critical review. Thomas Burke Memorial Washington State Museum Monograph 5. Seattle: Burke Museum.

Levy, Richard S.
1979 The phonological history of the Bugotu-Nggelic languages and its implications for Eastern Oceanic. Oceanic Linguistics 18:1-31.

1980 Languages of the southeast Solomon Islands and the reconstruction of Proto-Eastern-Oceanic. In Paz Buenaventura Naylor (ed.) Austronesian studies: papers from the second eastern conference on Austronesian languages, pp.213-222. Ann Arbor: University of Michigan, Center for South and Southeast Asian Studies.

Lichtenberk, Frantisek
1986 Leadership in Proto Oceanic society: linguistic evidence. Journal of the Polynesian Society 95:341-356.

1988 The Cristobal-Malaitan subgroup of Southeast Solomonic. Oceanic Linguistics 27:24-62.

1994 The raw and the cooked: Proto-Oceanic terms for food preparation. In Andrew Pawley and Malcolm D. Ross (eds) Austronesian terminologies: continuity and change. Pacific Linguistics Series C No. 127, pp.267-288. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University.

Lilley, Ian
1988 Prehistoric exchange across the Vitiaz Strait, Papua New Guinea. Current Anthropology 29:513-516.

1990 Final report: Prehistoric settlement and trade in northwest New Britain, Papua New Guinea. Typescript. University of Western Australia.

Lincoln, Peter C.
1976 Banoni, Piva and Papuanization. In Ger P. Reesink, Lillian Fleischmann, Sinikka Turpeinen and Peter C. Lincoln (eds) Papers in New Guinea linguistics No. 19, pp.77-105. Pacific Linguistics Series A No. 45. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Lynch, John
1978 Proto-South Hebridean and Proto-Oceanic. In S.A. Wurm and Lois Carrington (eds) Second international conference on Austronesian linguistics: proceedings, pp.717-779. Pacific Linguistics Series C No. 61. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1981 Melanesian diversity and Polynesian homogeneity: the other side of the coin. Oceanic Linguistics 20:95-129.

Lynch, John and D.T. Tryon
1985 Central-Eastern Oceanic: a subgrouping hypothesis. In Andrew K. Pawley and Lois Carrington (eds) Austronesian linguistics at the 15th Pacific science congress, pp.31-52. Pacific Linguistics Series C No. 88. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Marck, Jeffrey C.
1986 Micronesian dialects and the overnight voyage. Journal of the Polynesian Society 95:253-258.

1994 Proto-Micronesian terms for the physical environment. In Andrew Pawley and Malcolm D. Ross (eds) Austronesian terminologies: continuity and change. Pacific Linguistics Series C No. 127, pp.301-328. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University.

Milke, Wilhelm
1938 Die Benennungen der Geschwister in den austronesischen Sprachen Ozeaniens. Zeitschrift für Eingeborenen-Sprachen 70:51-66.

1958 Zur inneren Gliederung und geschtichtlichen Stellung der ozeanisch-Austronesischen Sprachen. Zeitschrift für Ethnologie 83:58-62.

1961 Beiträge zur ozeanischen Linguistik. Zeitschrift für Ethnologie 86:162-182.

Osmond, Meredith
1993 Proto Oceanic terms for fishing and hunting implements. Paper presented to the First International Conference on Oceanic Linguistics, Vila, Vanuatu.

Pawley, Andrew K.
1966 Polynesian languages: a subgrouping based on shared innovations in morphology. Journal of the Polynesian Society 75:39-64.

1967 The relationships of Polynesian Outlier languages. Journal of the Polynesian Society 76:259-296.

1972 On the internal relationships of eastern Oceanic languages. In R.C. Green and M. Kelly (eds) Studies in Oceanic culture history, vol. 3, pp.1-142. Honolulu: Bernice Pauahi Bishop Museum.

1975 The relationships of the Austronesian languages of Central Papua. In T.E. Dutton (ed.) Studies in languages of Central and South-East Papua, pp.3-106. Pacific Linguistics Series C No. 29. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1977 On redefining ‘Eastern Oceanic’. Mimeo.
1979 New evidence on the position of Rotuman. Working Papers in Anthropology, Archaeology, Linguistics and Maori Studies 56. Department of Anthropology, University of Auckland.

1981 Melanesian diversity and Polynesian homogeneity: a unified explanation for language. In Jim Hollyman and Andrew Pawley (eds) Studies in Pacific languages and cultures in honour of Bruce Biggs, pp.269-309. Auckland: Linguistic Society of New Zealand.

1982 Rubbish-man commoner, big man chief? Linguistic evidence for hereditary chieftainship in Proto-Oceanic society. In Jukka Siikala (ed.) Oceanic studies: essays in honour of Aarne A. Koskinen, pp.33-52. Transactions of the Finnish Anthropological Society 11. Helsinki: Suomen Antropologinen Seura/The Finnish Anthropological Society.

1993 Proto Oceanic terms for reef and shoreline invertebrates. Paper presented to the First International Conference on Oceanic Linguistics, Vila, Vanuatu.

Pawley, Andrew and Kaye Green
1971 Lexical evidence for the Proto-Polynesian homeland. Te Reo 14:1-35.

Pawley, Andrew K. and Roger C. Green
1984 The Proto-Oceanic language community. Journal of Pacific History 19:123-146.

Pawley, Andrew K. and Medina Pawley
1994 Early Austronesian terms for canoe parts and seafaring. In Andrew Pawley and Malcolm D. Ross (eds) Austronesian terminologies: continuity and change. Pacific Linguistics Series C No.127, pp.329-361. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University.

Pawley, Andrew K. and Malcolm D. Ross
1993 Austronesian historical linguistics and culture history. Annual Review of Anthropology 22:425-459.

Pawley, Andrew and Timoci Sayaba
1971 Fijian dialect divisions: Eastern and Western Fijian. Journal of the Polynesian Society 80:405-436.

Ray, Sidney H.
1926 A comparative study of the Melanesian island languages. Cambridge: Cambridge University Press.

Rensch, Karl
1987 East Uvean, Nuclear Polynesian? Reflections on the methodological adequacy of the tree model in Polynesia. In Donald C. Laycock and Werner Winter (eds) A world of language: papers presented to Professor S.A. Wurm on his 65th birthday, pp.565-581. Pacific Linguistics Series C No. 100. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Ross, Malcolm D.
1987 A contact-induced morphosyntactic change in the Bel languages of Papua New Guinea. In Donald C. Laycock and Werner Winter (eds) A world of language: papers presented to Professor S.A. Wurm on his 65th birthday, pp.583-601. Pacific Linguistics Series C No. 100. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1988 Proto Oceanic and the Austronesian languages of western Melanesia. Pacific Linguistics Series C No. 98. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1989 Early Oceanic linguistic prehistory: a reassessment. Journal of Pacific History 24:135-149.
1992 The position of Gumawana among the languages of the Papuan Tip cluster. Language and Linguistics in Melanesia 23:139-165.

1993 *kanaŋ ma wasa: reconstructing food plant terms and associated terminologies in Proto Oceanic. Paper presented to the First International Conference on Oceanic Linguistics, Port Vila, Vanuatu.

1994a Areal phonological features in north central New Ireland. In Tom Dutton and Darrell Tryon (eds) Language contact and change in the Austronesian world, pp.551-572. Berlin: Mouton de Gruyter.

1994b Central Papuan culture history: some lexical evidence. In Andrew Pawley and Malcolm D. Ross (eds) Austronesian terminologies: continuity and change. Pacific Linguistics Series C No. 127, pp.389-479. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific and Asian Studies, The Australian National University.

1994c Pottery terms in Proto Oceanic. Typescript. The Australian National University, Canberra.

1994d Proto Oceanic terms for meteorological phenomena. Paper presented to the Seventh International Conference on Austronesian Linguistics, Leiden.

Forth-coming Contact-induced change and the comparative method: cases from Papua New Guinea. In Mark Durie and Malcolm D. Ross (eds) The comparative method reviewed: irregularity and regularity in linguistic change. New York: Oxford University Press.

Sapir, Edward
1916 Time perspective in aboriginal American culture. Memoir 90, Anthropological series 13. Ottawa: Geological Survey, Department of Mines. Reprinted in David T. Mandelbaum (ed. 1949) Selected writings of Edward Sapir in language, culture and personality, pp.389-462. Berkeley: University of California Press.

Shutler, Richard and Jeffrey C. Marck
1975 On the dispersal of the Austronesian horticulturalists. Archaeology and Physical Anthropology in Oceania 10:81-113.

Spriggs, Matthew J.T.
1984 The Lapita cultural complex. Journal of Pacific History 19:202-223.

1989 The dating of the Island Southeast Asian Neolithic: an attempt at chronometric hygiene and linguistic correlation. Antiquity 63:587-612.

1990 Dating Lapita: another view. In M. Spriggs (ed.) Lapita design, form and composition, pp.6-27. Canberra: Department of Prehistory, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

1993 Island Melanesia: the last 10,000 years. In M. Spriggs, D. Yen, W. Ambrose, R. Jones, A. Thorne and A. Andrews (eds) Community of culture: the people and prehistory of the Pacific, pp.187-205. Canberra: Australian National University Press.
Thurston, William R.
1987 Processes of change in the languages of north-western New Britain. Pacific Linguistics Series B No. 99. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Tryon, D.T.
1976 New Hebrides languages: an internal classification. Pacific Linguistics Series C No. 50. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Tryon, D.T. and B.D. Hackman
1983 Solomon Islands languages: an internal classification. Pacific Linguistics Series C No. 72. Canberra: Department of Linguistics, Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Vanderwal, R.
1973 Prehistoric studies in central coastal Papua. PhD dissertation, The Australian National University, Canberra.

Walter, Richard
1989 Lapita fishing strategies: a review of the archaeological and linguistic evidence. Journal of Pacific Studies 31:127-149.

Wurm, S.A.
1967 Linguistics and the prehistory of the south-western Pacific. Journal of Pacific History 2:25-38.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/99/546/masa-pra-sejarah-bahasa-oceanik:-pandangan-terkini

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar