Kamis, 18 Maret 2010

Nilai-Nilai Edukatif Ceritera Panji dalam Perspektif Budaya Nusantara

Oleh : Aminuddin Kasdi

Purwa Wicara
Siapapun tahu, bahwa yang pernah belajar sastra atau sejarah Indonesia periode Kediri (1080-1222) akan tokoh Panji Asmarabangun dan putri Galuh Candrakirana yang menjadi tokoh utama dalam ceritera Panji. Kedua pasangan ini biasanya diidentikkan dengan raja Kameswara I dan permaisurinya Galuh Candrakirana yang dianggap sebagai reingkarnasi dewa cinta kasih : Kama-Ratih seperti dikisahkan dalam kakawin Smaradahana. Cerita panji dalam bentuk sastra semula berkembang dari lingkungan kebudayaan Jawa, khususnya berinduk dari kisah cinta tokoh kerajaan Janggala : Raden Panji Inukartapati atau Panji Asmarabangun dari Kerajaan Mamenang atau Daha atau Kediri. Dalam perkembangannya ceritera panji menyebar luas tidak hanya di Nusantara, bahkan sampai ke Malaysia, Thailand dan Kamboja. Cerita panji yang berbentuk naskah kemudian mengalami penggubahan dalam bahasa yang dikuasai oleh masyarakat setempat, bahkan ada juga yang tersebar melalui tradisi lisan. Cerita panji yang digubah itu kemudian melahirkan genre baru sastra Indonesia (Melayu) yang disebut sastra Panji.

Penyebaran cerita panji juga melalui jalur berbagai seni pertunjukan. Di lingkungan raja–rajapun cerita panji dirujuk sebagai sumber lakon pergelaran wayang, baik wayang kulit maupun wayang orang. Jenis seni pertunjukkan wayang yang bertemakan cerita panji antara lain wayang beber wayang gedhog dan wayang topeng.

Cerita panji bentuk sastra yang berasal dari Jawa terus mengalami proses perkembangan masa ke masa dalam rentang waktu yang panjang. Bentuk asal ceritera Panji adalah metrum kidung atau macapat. Ketika mengalami penggubahan sering disertai dengan penambahan, pengurangan dan pengubahan, sehingga melahirkan berbagai macam versi. Namun cerita panji masih dapat dikenali berdasarkan kajian tema.

Besarnya jumlah versi cerita panji menunjukkan bahwa cerita panji selain digemari masyarakat juga menunjukkan kuatnya kreativitas para sastrawan. Semua itu merupakan hal positif sebagai usaha kesusastraan Jawa khususnya, dan karya sastrapada umumnya. Sebagian hasil gubahan baru itu ada bertahan, tetapi sebagian juga punah. Bila sekarang masih dapat dijumpai cerita Panji, baik dalam sastra tulis maupun cerita lisan ataupun berupa seni pertunjukan, dapatlah disimpulkan bahwa cerita Panji masih memiliki daya dalam masyarakat. Cerita panji yang digubah dalam bentuk kidung atau tembang macapat dengan bahasa sastranya yang menarik, selain memberikan kepuasan sebagai pemenuhan harapan estetis masyarakat, juga memiliki fungsi sebagai acuan hidup karena di dalamnya sarat dengan nilai – nilai moral, penuh dengan suri tauladan lewat penampilan tokoh utamanya : Raden Panji dan – Putri Galuh Candrakirana.

Tokoh utama dalam cerita panji bernama Inu Kartapati yang menjalin cinta dengan Candrakirana. Inu Kartapati adalah seorang putra mahkota kerajaan Janggala, dan Candrakirana adalah putri raja kerajaan Daha. Nama-nama lain dari Inu Kartapati adalah Panji Kudawanengpati, Panji Asmarabangun, Panji Kudalalean, Panji Jayengtilam, Raden Putra, dan sebagainya. Adapun sebutan lain dari Candrakirana adalah Galuh, Sekartaji, dan lain – lain.

Dalam cerita Panji tokoh Inu Kartapati digambarkan sebagai Arjuna, tampan, bagus seperti Bhatara Kamajaya, memiliki kesaktian dan selalu unggul dalam setiap pertarungan dan peperangan. Tidak berbeda dengan Arjuna, Inu Kartapati juga tampil sebagai tokoh kesatria yang menjadi pujaan wanita, dan sebaliknya juga mampu memikat hati para kekasihnya. Namun kesetiaannya kepada Candrakirana sebagai kekasih sejati tidak pernah luntur, meskipun ia berulang kali terpaksa berpetualang dengan putri-putri lain.

Candrakirana pun tidak jauh berbeda tokoh Sumbadra dalam wayang purwa. Ia memiliki kecantikan bagaikan Bhatari Ratih, bahkan sering dilukiskan tiada ubahnya seperti Supraba yang mengungguli kecantikan semua bidadari di kayangan. Sikapnya terhadap istri-istri Panji yang lain juga selalu, semuanya diterima dengan rasa penuh kasih sayang.

Cerita panji sangat populer di kalangan masyarakat Jawa, dan sering didongengkan kepada anak-anak cucu sebagai penglipur lara. Cerita panji juga merupakan sumber tiada kering bagi lakon wayang gedhog. Selain itu juga sering dipentaskan sebagai lakon dalam pertunjukan drama tradisional kethoprak . Di lingkungan kraton cerita Panji menjadi garapan para sastrawan istana untuk berkreasi dalam karya sastra yang tebalnya sampai berjilid-jilid. Bagi abdi dalem penata tari cerita Panji juga menjadi kreasi tari klasik yang seninya bermutu tinggi, dan menjadi kebanggaan kraton, dan masyarakat diluar kraton umumnya.

Ceritera Panji dalam Kajian Sarjana-sarjana.
Cerita panji yang digubah dalam bentuk karya sastra atau sastra Panji. Telah banyak penelitian tentang sastra Panji dengan pendekatan yang sesuai dengan bidang keahliannya masing – masing. Hasil penelitian itu dimuat dalam berbagai publikasi sebagai karya ilmiah, baik berupa buku atau artikel.

Sarjana yang mengawali pembahasan tentang cerita Panji adalah Cohen Stuart. Sastra panji yang ditelaahnya berjudul Jayalengkara termuat dalam Bijdragen tot de Taal-, Land, en Volkenkund (BKI) tahun 1854. Teks yang dibicarakan Cohen Stuart kemudian diterbitkan oleh Roorda tahun 1869, disertai dengan dua cerita wayang purwa. “ De Wayang Verhalen van Palasara, Pandoe en Raden Panji “, Penerbitan Martinus Nijhoff, Den Haag. Rintisan kajian Cohen Stuart ternyata membangkitkan minat pakar lainnya sehingga penelitian terhadap sastra Panji semakin marak dan menghasilkan karya sastra ilmiah yang sangat menggembirakan.

Pada tahun 1928 C.C. Berg melakukan penelitian tentang waktu tejadinya cerita Panji dan hasilnya ditulis dalam buku Inleiding tot de Stude van hed oud – Javanese. Berg berpendapat bahwa tahun penyebaran cerita Panji di Nusantara terjadi pada zaman Pamalayu 1275 M. dan berlanjut sekitar tahun 1400 M. Ini berarti masa penciptaan sastra Panji tentulah lebih tua lagi. Menurut Berg, cerita Panji pada awalnya ditulis dalam bentuk bahasa Jawa kuna, kemudian diterjemahkan atau disadur ke dalam bahasa Melayu (Berg, 1928 71).

Dalam karya lainnya Berg berpendapat bahwa cerita Panji yang bertema kepahlawanan berasal dari Jawa dan sudah populer di lingkungan keraton Raja – Raja Jawa Timur. Sastra Panji ini kemudian terdesak oleh kesusastraan Jawa kuno yang bersumber dari kesusastraan sansekrta dari India, namun sastra Panji terus berkembang secara bebas di daerah Bali (Berg , 1930 : 259).

Teori Berg itu mendapat tanggapan dari R.Ng. Poerbatjaraka yang menyatakan bahwa cerita Panji mengalami penyebaran pada masa Pamalyu. Keberatannya adalah bahwa pada Pamalayu ingatan orang tentang Singasari masih segar, dan bila pada waktu itu orang menulis tentang Singasari yang diceritakan dengan Kediri atau Daha, meskipun karyanya dalam bentuk sastra roman tentu akan dikecam para pembacanya. Menurut Poerbatjaraka cerita Panji ditulis ketika ingatan orang tentang Singasari sudah agak memudar dan samar-samar, sehingga apabila dalam cerita Panji kerajaan Singasari disebutkan sezaman dengan dengan Kediri atau Daha, maka hal itu bisa dimungkinkan, karena peristiwanya sudah lewat beberapa abad. Berdasarkan pertimbangan itu Poerbatjaraka berpendapat bahwa penulisan cerita Panji paling awal adalah pada zaman kejayaan kerajaan Majapahit dan terus berlanjut sampai pada masa sesudahnya. Cerita Panji kemudian mengalami penyebaran ke pulau-pulau lain di Nusantara. Jadi pendapat Berg bahwa cerita Panji ditulis sejak zaman Jawa Kuno, menurut Poerbatjaraka tidak bisa diterima.

Pada zaman Majapahit kesusastraan Jawa Kuno mengalami kemunduran karena masyarakatnya sudah merasa bosan dengan karya sastra Jawa kuno yang meniru corak kesastraan India kakawin (ka-kawya-an). Bahasa Sansekrta tidak begitu dipahami oleh masyarakat dan sebagai penyaluran seni sastranya berkembanglah karya sastra baru dalam bahasa Jawa yang kemudian dikenal dengan bahasa Jawa pertengahan, bentuk metrumnya pun diperbarui disesuaikan dengan bahasa. Karya sastranya dengan kidung. Sastra kidung ini merupakan peralihan kebudayaan Jawa asli (sebelum kena pengaruh Hindu), tetapi pudar selama beberapa abad, terdesak oleh sasttra kakawin dari India. Pada zaman Majapahit sastra merum kidung itu muncul lagi.

Jadi menurut Poerbatjaraka, cerita Panji sebagai karya sastra ditulis pada zaman Majapahit dengan menggunakan bahasa Jawa tengahan dalam bentuk kidung atau macapat, bukan dalam bahasa Jawa kuna dari periode Singasari. Sampai sekarangpun tidak pernah dijumpai cerita Panji dalam bentuk bahasa Jawa kuna.

Faktor lain yang memperkuat kesimpulan Poerbatjaraka bahwa cerita Panji berkembang pada zaman Majapahit adalah, bahwa nama–nama tokoh dalam ceritera Panji banyak yang memakai julukan lembu, mahisa, kebo, jaran, undakan dan lain-lain. Hal ini sesuai dengan nama-nama tokoh yang terdapat dalam karya sastra zaman Majapahit lainnya, antara lain: Nagarakrtagama dan Pararaton. Selanjutnya Poerbatjaraka juga mengutarakan penilaiannya terhadap cerita Panji sebagai suatu revolusi kesusastraan yang cepat sekali terkenal dan menyebar luas, telah memudarkan kesusastraan kakawin Jawa Kuna (Poerbatjaraka, 1960 : 409)

Menurut Poerbatjaraka, latar belakang cerita Panji adalah sejarah kerajaan Kediri. Penelitian Poerbatjaraka didasarkan pada delapan ceritera Panji, baik berasal dari Jawa maupun dari luar Jawa. Ceritera-ceritera tersebut, setelah diperbandingkan, selain memiliki banyak persamaan, tetapi juga ada perbedaannya. Berdasarkan strukturnya, cerita Panji selalu menampilkan empat orang raja bersaudara, saudara tertua menjadi seorang pendeta, bernama Kili Suci. Pada cerita Panji dari Jawa empat kerajaan yang disebutkan adalah Jenggala atau Kuripan, Daha atau Kedhiri atau Memenang, Gagelang atau Urawan, dan Singasari (Poerbatjaraka 1952 : 22).

Adapun isi ceritera Panji adalah kisah tentang petualangan Inu Kertapatisebagai tokoh utama dengan Candrakirana. Sebelum diperjodohkan dengan Candrakirana, Panji telah menjalin cinta dengan Angreni, putri patih Kudanawarsa dari kerajaan Jenggala. Agreni kemudian mati bunuh diri sebelum dibunuh oleh utusan dari Raja karena dianggap menjadi perintang bagi perencanaan perkawinan antara Inu Kartapati dan Candrakirana.

Panji yang dirundung kesedihan karena kehilangan kekasihnya itu lalu pergi berkelana dalam petualangan. Selama bertualang Panji melakukan penyamaran diri, antara lain dengan nama Klana Jayengsari. Selama penyamaran itu ia sering terlibat dengan peperangan dengan kerajaan lain, tetapi ia selalu unggul.

Selama Panji dalam pengembaraan, Candrakirana merasa sangat kehilangan lalu ia pergi meninggalkan kerajaan dengan menyamar sebagai seorang pria dan terus berupaya agar dapat bertemu dengan Panji Inu Kartapati. Petualangan Candrakirana ini menjadi daya Tarik tersendiri bagi para pembaca cerita Panji. Akhirnya Candrakirana dan Inu Kartapati dapat bertemu dan keduanya menjalin perkawinan.

Penelitian lain juga dilakukan oleh Teeuw (1960) berdasarkan naskah Melayu yang berjudul Syair ken Tambuhan. Cerita itu tergolong cerita Jawa Melayu dengan penampilan Panji, Putra Raja Koripan sebagai tokoh utamanya, yang menjalin cinta dengan Candrakirana, Putri Raja Daha. Keduanya sering berpisah dan terllibat dalam berbagai peristiwa dan pada akhirnya kedua kekasih itu bertemu kembali. Dalam pengembaraan itu keduanya sering melakukan penyamaran diri, namun, keduanya dapat berkumpul lagi dan mengikat tali perkawinan.

Di luar Jawa Cerita Panji juga melahirkan karya sastra baru, antara lain dalam bahasa Bali, Sunda, Melayu, dengan penyesuaian-penyesuaian sesuai dengan corak kebudayaan setempat. Dalam dunia pewayangan, cerita Panji juga menjadi acuan untuk membangun lakon wayang sesuai dengan citarasa para penggemar wayang. Di Malaysia terdapat wayang Kelantan yang bertemakan cerita Panji. Demikian pula wayang bertemakan ceritera Panji juga terdapat di Malaka, Palembang, Banjarmasin Bali, Lombok bahkan sampai ke Kamboja dan Thailand. Cerita Panji yang asalnya dari Jawa itu menjadi populer dan digemari masyarakat di seluruh wilayah Nusantara dan di negeri-negeri Asia Tenggara lainnya. (Teeuw, 1966).

Penelitian Panji yang dilakukan oleh Robson menghasilkan kesimpulan menarik. Kajiannya berdasarkan karya sastra Jawa pertengahan berjudul Wang bang Wideha dan karya sastra Melayu yang berjudul Hikayat Andaken Panurat. Menurut Robson, yang disebut cerita Panji adalah cerita yang memanfaatkan tema Panji. Setiap ceritera meskipun memliki tema bersama, namun merupakan cerita yang berdiri sendiri sehingga tidak tepat jika digunakan istilah siklus untuk cerita Panji.

Istilah Jawa pertengahan menurut Robson (1971), mengandung pengertian periode kesastraan Jawa diantara Jawa kuna dan Jawa baru. Sastra Jawa pertengahan merupakan kalanjutan dari sastra Jawa kuna berbentuk kidung atau macapat. Sastra ini, ditulis di Bali setelah kerajaan Majapahit runtuh, akan tetapi kebudayaannya berlanjut di Bali, terutama di daerah Gelgel. Sastra kidung yang lahir pada zaman itu, antara lain adalah Wangbang Wideha yang digubah sekitar tahun 1600 M.

Rassers (1922) juga membahas ceritera Panji dengan pendekatan antropologis. Menurut Rassers, cerita Panji berasal dari mitos asal-usul suku Jawa, berkaitan dengan upacara inisiasi sebelum pasangan muda–mudi menginjak jenjang perkawinan. Ceritera Panji dan ceritera Jawa lainnya disusun berdasarkan pola cerita tertentu yang sangat tua usianya. Sebagai perbandingan Mahabharata dan Ramayana dari kebudayaan India setelah sampai dan menyebar di Jawa juga mengalami adaptasi disesuaikan dengan pola cerita asli Jawa. Itulah sebabnya cerita wayang Jawa sering kelihatan menyimpang dari sumber aslinya di India karena kuatnya pengaruh pola ceritera asli Jawa itu.

Pengkajian ceritera Jawa dengan pendekatan filologis juga pernah dilakukan oleh J.J. Ras pada tahun 1973, dengan tujuan untuk memahami hakekat cerita panji yang sebenarnya. Hasil kajiannya menyimpulkan bahwa cerita Panji digubah dalam kaitannya dengan peristiwa perkawinan kerajaan di zaman pra-Islam. Identifikasi perkawinan Panji-Galuh Candrakirana dengan dewa Wisnu–dewi Sri menunjukkan unsur kiasan yang khas untuk menggambarkan peristiwa perkawinan kerajaan. Hal ini terbukti dari besarnya jumlah naskah Panji yang ada sampai sekarang sebagai pengungkapan fungsi sosial dan konvensional tanpa memperhatikan latar belakang mitos dan ritualnya. Tokoh–tokoh lakon wayang dengan ceritera Panji sering diidentifikasikan dengan tokoh Wisnu dan, analogi dengan Ramayana dan Mahabarata di India sebagai sumber ceritera wayang. Pada ceritera Panji yang tidak bersumber pada karya sastra India, jika tokoh utamanya kemudian diidentifikasi dengan Wisnu dan Sri, maka hal itu tentulah melalui cerita wayang yang telah lama dikenal di kalangan masyarakat sejak zaman Jawa kuna. Selanjutnya, Ras (1973 : 439) berkesimpulan bahwa di dalam ceritera Panji terkandung mitos perkawinan para penguasa Jawa purba sebagai awal terbentuknya (cikal-bakal) masyarakat Jawa.

Cerita Panji dalam Perspektif Perkembangan Sastra & Budaya Jawa
Setelah melalui berbagai proses perkembangan pada masa sastra Jawa tengahan, lahirlah sejumlah karya sastra Panji yang ditulis dalam bahasa Jawa baru dalam bentuk macapat. Versi-versi ceritera Panji dalam sastra Jawa baru yang sangat bervariasi. Sejumlah cerita Panji yang digubah dalam bentuk karya sastra Jawa, antara lain; Panji Jayeng tilam, Panji Kudawanengpati, Panji Dadap, Panji Madubrangta, Panji Joko Sumilir, dan Panji Bayan Pethak. Akantetapi pada umumnya karya sastra itu hampir sama tema dengan kisah Panji yang telah dipaparkan di atas. Oleh karena itu sastra sekadar sebagai ilustrasi kiranya cukup dengan beberapa ceritera saja. Berikut ini adalah beberapa bentuk karya sastra Jawa yang bertemakan ceritera Panji.

Panji Jayakusuma
Mengisahkan petualangan Raden Panji dalam mencari kekasihnya yang hilang dengan jalan menyamarkan diri dengan nama Jayakusuma. Setelah sampai di sebuah kerajaan ia mengabdi kepada Raja Bauwarna dan diangkat sebagai punggawa dengan pangkat tumenggung. Pada suatu hari Tumenggung Jayakusuma mendapat perintah dari Raja untuk pergi ke Bali dengan tugas menaklukkan raja Srijaya Lengkara.

Sebelum berangkat Tumenggung kedatangan dua orang ksatria muda dan mengaku bernama Gunungsari dan Undakan Sastramiruda. Sebenarnya keduanya adalah putra Raja dari Kedhiri. Mereka pergi dari kerajaan untuk mencari putri Candrakirana yang telah lama hilang. Menurut petunjuk dewata hanya dengan jalan mengabdi kepada Tumenggung Jayakusuma mereka akan dapat bertemu kembali dengan Candrakirana.

Ketiganya kemudian berangkat ke Bali dengan disertai dengan sejumlah laskar. Setelah tiba di kerajaan Bali, mereka langsung melakukan penyerbuan. Terjadilah pertarungan antara Tumenggung Jayakusuma dan Raja Jaya Lengkara, pada akhirnya Raja Bali Sri Jaya Lengkara dapat ditaklukkan setelah panah Jayakusuma mengenai pakaian lawannya sampai terlepas dan terungkaplah bahwa Sri Jayalengkara tidak lain adalah Candrakirana. Jayakusuma pun menyatakan dirinya sebagai Raden Panji. Patih kerajaan Bali juga dapat dilumpuhkan dan berubah rupa kembali menjadi wujud asalnya yaitu Ragil Kuning. Kemudian mereka kembali ke negrinya. Akan tetapi Kerajaan Kedhiri diserbu oleh Raja Nusa Tembini dari seberang dan berhasil didudukinya. Raden Panji kembali menyamar sebagai Tumenggung Jayakusuma dan bersama–sama dengan pasukan Kerajaan Jenggala, Urawan, dan Singasari akhirnya dapat membebaskan Kediri dari kekuasaan Raja Tembini (Poerbatjaraka 1968 : 119 – 177 ).

Panji Anggreni
Mengisahkan Panji Inu Kartapati, putra mahkota Kerajaan Jenggala yang jatuh cinta kepada Angreni, putri Kudanawarsa, patih kerajaan Jenggala. Sebenarnya Panji telah dipertunangkan dengan Galuh Candrakirana, putri Raja Kedhiri, namun Panji terlanjur mencintai Angreni dan tidak mau berpisah dengan kekasihnya. Padahal Raja Jenggala dan Raja Kediri menginginkan perjodohan Panji dan Galuh sebagai perkawinan kerajaan, dan kelak keturunannya dapat melanjutkan tahta kerajaan Jenggala.

Sejak terjalin hubungan asmara dengan Angreni, Panji tidak lagi menaruh perhatian lagi terhadap Candrakirana, tunangannya. Bahkan akhirnya Panji memperistri Angreni tanpa persetujuan ayahandanya. Melihat kenyataan itu Raja Jenggala sangat cemas dan prihatin apabila rencana perkawinan kerajaan antara Panji dan Galuh menjadi gagal. Angreni dianggapnya sebagai biang keladi dan penyebab kegagalan perkawinan kerajaan itu. Raja Jenggala lalu mengutus Brajanata salah seorang kakak Panji untuk membunuh Angreni, ketika Brajanata bertemu dengan Angreni disampaikanlah maksud kedatangannya sebagai duta Raja untuk menghabisi nyawa Angreni. Pada saat Brajanata mengarahkan kerisnya yang sudah terhunus kepada Angreni, tanpa diduga sama sekali Angreni menubruk ujung keris itu sehingga dadanya tertembus. Angreni menemui ajalnya. Brajanata sangat menyesal akan kecerobohannya dan siap menerima hukuman dari Raja.

Meninggalnya Angreni menyebabkan Panji Inu Kartapati sangat sedih, bahkan sampai terganggu ingatannya. Untuk menghibur hatinya Panji lalu meninggalkan kerajaan dan bertekad mencari putri penjelmaan Angreni. Dalam petualangannya Panji sering terlibat peperangan dengan kerajaan lain namun berkat kesaktiannya ia selalu unggul.

Sementara itu Candrakirana yang merasa ditinggalkan Panji, tunangannya, lalu pergi mengembara dan menyamar sebagai seorang pria. Akhirnya Panji dan Candrakirana dapat bertemu kembali setelah masing–masing melepaskan penyamarannya. Kisah keduanya dalam cerita Panji berakhir dengan perkawinan, sesuai denngan idaman dan harapan kedua orang tuanya, beserta seluruh masyarakat kerajaan Jengggala dan Kadhiri.(Saputra, 1988: 1-221).

Panji Kudanarawangsa
Mengisahkan tentang Candrakirana yang diculik oleh Durga dan dibuang di tengah hutan belantara. Dewa Narada menemuinya dan mengubahnya menjadi seorang pria yang diberi nama samaran Panji Kudanarawangsa. Narada memberitahukan bahwa sepeninggal Candrakirana dari istana, Panji sangat sedih hatinya. Sementara itu datang seorang wanita yang sangat buruk wajahnya dan memasang guna–guna pada Panji, ia mengaku dirinya sebagai putri Candrakirana. Panji yang sudah terkena guna–guna itu melihat wanita yang berwujud raksasa itu tak ubahnya seperti Candrakirana, istri terkasihnya. Semua saudara Panji yang menyaksikan betapa buruknya wanita itu, mengingatkan Panji bahwa perempuan itu adalah Candrakirana palsu. Namun, Panji tetap tidak percaya karena yang dilihatnya tampak sebagai istrinya yang tercinta, dan bahkan ia menjadi marah kepada saudara–saudaranya yang dianggapnya telah memfitnah.

Panji Kudanarawangsa disuruh oleh Narada kembali ke Kerajaan untuk membongkar kepalsuan yang selama ini terjadi di istana Jenggala. Hanya dengan jalan itulah Candrakirana dapat kembali berkumpul dengan suaminya, Panji Inu Kartapati. Setiap hari Candrakirana palsu terus berusaha mempercantik diri, namun makin keras usahanya makin bertambah buruk wajahnya, dan tidak ada busana di keputrian yang dapat dipakai karena ukurannya terlalu kecil untuknya.

Panji Kudanarawangsa, setelah sampai di Jenggala lalu menghadap sang Panji Inu Kartapati dan menyatakan keinginannya untuk mengabdi. Panji Inu Kartapati menerima pengabdiannya dan makin lama keduanya makin akrab sebagai sahabat. Kudanarawangsa setiap bertemu dengan Panji selalu mengejek dan menyindir Panji yang sudi memperistri wanita yang buruk wajah dan mirip raksasa itu. Oleh karena Panji tidak memperdulikan ejekan dan sindiran yang disebabkan oleh kuatnya guna–guna, Kudanarawangsa lalu memberikan sekapur sirih kepada Panji dan sesudah itu ia menghilang dan meningggalka istana.

Panji sangat kehilangan ditinggalkan abdi kesayangannya itu, lalu pergi untuk mencari bersama para pengiringnya. Mereka sampai di bawah pohon nagasari dan menemukan pakaian pria yang biasa digunakan oleh Kudanarawangsa, abdinya. Selain itu juga didapatinya sepucuk surat yang isinya mengutarakan bahwa sebenarnya Kudanarawangsa adalah penyamaran dari Putri Candrakirana, istri Panji yang sebenarnya, sedangkan yang ada di istana dan mendampingi Panji selama ini adalah Candrakirana palsu. Panji segera kembali ke istana dan dengan keris terhunus Candrakirana palsu itu akan ditikamnya, namun seketika itu juga raksasa itu menghilang dan kembali ke tempat asalnya di tengah hutan. Ia sebenarnya adalah wadal werdi, seorang raksasa pengikut Durga. Akhirnya putri Candrakirana setelah mengakhiri penyamarannya, kembali ke Kerajaan Jenggala berkumpul lagi dengan suaminya, Panji Inu Kartapati.

Panji Angkronakung
Mengisahkan Panji Inu Kartapati yang pergi berkelana untuk mencari Candrakirana, kekasihnya yang telah lama hilang dari istana. Selama pergi Panji diikuti oleh para selir dan beberapa orang saudaranya. Panji menyamar sebagai Panji Angkronakung, demikian pula para pengiringnya juga ikut menyamar. Panji mengabdi pada Raja Urawan, dan beberapa waktu lamanya ia menjadi kesayangan Raja.

Selama dalam masa pengabdian Panji tertarik dengan anak Demung Wengker, yang bernama Nawangresmi. Demikian pula pula Nawangresmi juga mengimbangi cinta Panji. Keduanya lalu diperjodohkan oleh Demung Wengker.

Pengabdian Panji Angronangkung di istana dianggap sangat banyak jasanya. Oleh karena itu ia dianugerahi salah satu anak Raja Urawan. Sejak itu Panji tinggal di istana dan berpisah dengan Nawangresmi. Akhirnya Nawangresmi bunuh diri dan beritanya seketika sampai pada Panji Angronangkung. Panji datang ke Wengker dan dengan penyesalan yang tak terhingga Panji menubruk mayat istrinya. Tetapi, tanpa diduga mayat Nawangresmi lenyap tanpa meninggalkan jejak.

Di Kerajaan Mamenang (Kedhiri) tersiar berita bahwa Putri Candrakirana yang semula hilang telah kembali ke istana. Karena selama ini Panji Inu Kartapati, suaminya, juga telah lama tidak ada kabar beritanya, Raja Mamenang lalu mengadakan sayembara untuk sang putri . banyak raja dan pangeran mengikuti sayembara untuk mempersunting putri Sekartaji (Candrakirana). Panji Angkronangkung juga datang mengikuti sayembara untuk mengadu untung. Dalam pertarungan di gelanggang sayembara, Panji Angkronangkung keluar sebagai pemenang, semua lawannya dapat dikalahkan. Akhirnya Panji Angkronangkung melepaskan penyamarannya, tampil sebagai Panji Inu Kartapati, dan dipertemukan kembali dengan putri Sekartaji, kekasihnya (Poerbatjaraka, 1968 : 107 --117 ).

Ceritera Panji dalam Seni Pertunjukan
Sejak dahulu seni pertunjukan dan seni sastra dalam kebudayaan Jawa telah berkembang berdampingan dan hubungan saling mempengaruhi antara keduanya. Banyak karya sastra yang lahir dan mengacu pada cerita sebagai lakon yang dipentaskan dalam seni pertunjukan berdasarkan karya sastra tertentu. Demikian pula yang terjadi dalam cerita Panji, ada yang digubah dalam bentuk karya sastra dan banyak pula seni pertunjukan yang menampilkan lakon berdasarkan cerita Panji (Pigeaud, 1938).

Baik di lingkungan kraton maupun masyarakat, bahkan di pedesaan tumbuh seni pertunjukan wayang Gedhog dengan lakon ceritera Panji. Persebaran wayang gedhog di Jawa cukup luas dan tiap daerah mengenal versi dan tradisinya masing-masing. Para seniman kraton berhasil mengembangkan wayang gedog sebagai seni klasik yang tinggi mutunya, meliputi bentuk wayang, karawitan, bahasa sastra, sanggit cerita, teknik pakeliran, dan segala perangkat peralatan yang semuanya di garap dengan serba indah hingga menjadi karya seni yang mengagumkan.

Berpuluh-puluh lakon wayang gedhog berhasil dihimpun, baik sebagai pakem balungan ataupun sebagi pakem jangkep. Pakem balungan hanya perupakan garis besar pagelaran, sedangkan pakem jangkep memuat segala narasi dan dialog wayang, berikut gendhing dan suluknya. Keduanya sangat diperlukan untuk pembinaan seni pedalangan dan sangat membantu para calon dalang untuk mengembangkan bakat kemahiran mendalang wayang gedhog.

Tidak jarang lakon wayang gedhog yang bertema cerita panji digubah menjadi lakon wayang purwa setelah mengalami penyesuaian dengan kaidah–kaidah yang berlaku. Sebagai contoh adalah lakon Semar mbarang Jantur, sebagai hasil gubahan lakon wayang gedhog Bancak Doyok mbarang Jantur. Demikian juga, lakon wayang purwa Widoretno larung merupakan gubahan dari lakon wayang gedhog Panji Anggraeni. Selain itu masih banyak prototipe aslinya dari lakon wayang gedog kemudian diterapkan untuk lakon wayang purwa. Sebaliknya, ada lakon wayang purwa yang digarap menjadi lakon wayang gedhog. Semuanya itu tiada lain adalah berkat kreativitas para dalang dan sastrawan yang ingin memperkaya khasanah seni pedalangan.

Di kalangan masyarakat pedesaann cerita Panji juga digarap dalam bentuk seni pertunjukan rakyat dan dipertontonkan di pinggir–pinggir jalan sebagai mata pencaharian oleh para pengamen. Mereka berkeliling dan berpindah–pindah dari desa ke desa, bahkan mereka sering pula mengamen di kota-kota kecamatan, atau kabupaten. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sebagai contoh dapat ditampilkan seni pertunjukan rakyat dengan lakon cerita Panji, yaitu dikenal dengan nama Andhe – Andhe Lumut dan Kethek Ogleng. Ringkasannya sebagai berikut.

Andhe – Andhe Lumut
Mengisahkan seorang janda yang mempunyai tujuh orang anak, namanya Kleting Abang, Kleting Ijo, Kleting Biru dan lain – lain. Yang bungsu bernama Kleting Kuning. Bukan anaknya sendiri tetapi anak angkat, yang sebenarnya adalah samaran dari putri Kediri, Candrakirana ( Sekartaji ). Saudara-saudaranya sangat benci kepadanya, dan oleh ibunya ia diberi pakaian yang buruk dan makanan yang tidak enak. Tugas yang diserahkan kepadanya pun yang paling berat.

Di desa Dhadapan ada seorang janda yang memiliki anak laki – laki yang tampan bernama Andhe-Andhe lumut. Sebenarnya anak laki-laki itu adalah Panji Inu Kartapati yang menyamarkan diri sebagai anak desa Dhadapan. Banyak gadis yang mendambakan menjadi istrinya dan berdatangan ke rumahnya untuk melamar (Jawa : Ngunggah-unggahi).

Gadis-gadis kleting itu juga disuruh ibunya untuk mengadu untung, barangkali saja ada yang beruntung dipilih menjadi istri Andhe-andhe lumut. Lalu mereka bersolek dan mengenakan busana yang paling indah yang mereka punyai. Mereka tidak menghendaki Kleting Kuning untuk ikut bersama mereka ke Dhadapan. Karena itu, ibunya lalu menugasi Kleting Kuning membersihkan sebuah priuk tembaga yang sudah berkarat di sungai. Selain itu ia juga disuruh memetik sayuran sebanyak – banyaknya di tengah sawah.

Sampai di sungai Klenting Kuning berupaya sekeras-kerasnya agar karat pada priuk itu dapat hilang setelah digosok dengan pasir, tetapi sia-sia. Melihat keadaan menyedihkan itu, datanglah seorang dewa dari Kahyangan yang menyamar sebagai burung bangau. Priuk itu dipatuk-patuknya dan dalam sekejap priuk tembaga itu jadi bersih dan mengkilat, setelah itu si burung bangau menolong memetikkan sayuran yang amat banyak dan diberikan kepada Kleting Kuning. Sebagai imbalannya, burung bangau meminta pada Klenting Kuning menjadi istrinya. Kleting Kuning terkejut, tetapi lalu pura-pura sanggup asalkan si bangau mau memberikan daging paha dan lehernya. Pada saat leher burung itu dipotong seketika ia berubah menjadi dewa, dan memberi pesan pada Kleting Kuning agar pergi ke Dhadapan untuk melamar Andhe-andhe lumut. Dewa memberikan tongkat sakti kepadanya kalau-kalau di perjalanan Kleting Kuning menemui rintangan.

Sementara itu, Prabu Kelana dari tanah seberang yang mendambakan dapat mempersunting Candrakirana yang menyamar sebagai gadis desa dan tinggal di dekat sungai. Prabu Kelana lalu menyamar sebagai Ketam besar (Jawa : yuyu kangkang), dengan harapan dapat bertemu dengan Candrakirana. Para Kleting ketika sampai di tepi sungai, kebetulan sedang banjir besar. Muncullah ketam besar penjelmaan Prabu Kelana yang menawarkan jasanya menyeberangkan para gadis Kleting itu, dan ia minta ciuman sebagai imbalannya. Karena terpaksa gadis-gadis Kleting itu mengiakan permintaan ketam raksasa itu. Sampai di Dhadapan, lamaran mereka di tolak oleh Andhe-andhe lumut karena mereka itu tidak suci lagi, bekas ciuman oleh ketam raksasa. Mereka pulang dengan hati yang masygul dan sangat kecewa.

Setibanya di rumah, Kleting Kuning menanyakan kepada ibunya ke mana kakak-kakaknya pergi. Ibunya menjawab dengan jujur. Kleting Kuning lalu bersiap menyusul kakak-kakaknya ke Dhadapan, sebelum berangkat Kleting Kuning diberi pakaian daun-daun kering dan diolesi kotoran ayam yang sangat menyengat bau busuknya.

Ketika sampai di tepi sungai, ia bertemu dengan ketam raksasa dan meminta untuk diseberangkan. Ketam menolaknya karena tidak tahan dengan bau busuknya. Kleting Kuning pun marah, air sungai itu dipukulnya dengan tongkat sakti pemberian Dewa. Seketika itu pula sungai menjadi kering dan raksasa yang menderita kekeringan itu mengiba-iba minta diampuni. Karena ketam raksasa telah gagal untuk mencapai keinginannya, ia berubah menjadi ke wujudnya semula menjadi Prabu Kelana dan kembali ke kerajaannya. Kleting Kuning dengan mudah menyeberangi sungai yang telah kering untuk melanjutkan perjalanannya.

Ketika Kleting Kuning itu tiba di rumah Andhe-andhe Lumut, ia disambut dengan penuh kemesraan karena Andhe-andhe lumut tahu itulah Putri Sekartaji, kekasihnya yang menyamar diri. Sedangkan ibu angkatnya kesal hatinya karena Andhe-andhe Lumut menolak putri-putri yang cantik dan justru mau menerima anak bungsunya yang sangat jelek dan berbau busuk sebagai istrinya.

Kleting Kuning kemudian dimandikan dan diberi pakaian baru. Tampillah seorang putri cantik jelita yang tiada lain adalah Candrakirana, putri Kediri. Andhe-andhe Lumut lalu berterus terang kepada ibu angkatnya bahwa dirinya adalah Inu Kertapati, putera mahkota kerajaan Jenggala. Keduanya lalu berpamitan untuk kembali ke kerajaan. Kedatangan mereka di Jenggala disambut oleh Raja dan keluarga (Poerbatjaraka, 1968:416 - 419).

Kethek Ogleng
Mengisahkan Candrakirana (Sekartaji) yang pergi mengembara dengan nama samaran Nyi Limaran. Di tengah hutan ia tersesat dan menumpang di rumah seorang janda tua dan sangat miskin. Pekerjaan setiap harinya mencari kayu bakar dan dijualnya keluar desa yang terdekat.

Ada seekor monyet besar yang melintas di dekat rumah janda itu, dan terlihat sekilas olehnya Nyi Limaran sedang duduk di depan gubuk. Monyet itu sangat mengagumi kecantikan Nyi Limaran dan seketika itu ia jatuh cinta kepadanya. Tiap hari monyet itu datang mengunjungi Nyi Limaran dengan membawa buah-buahan sangat banyak. Lama kelamaan Nyi Limaran mencium niatan yang tidak baik dari si monyet, dan untuk menghindarinya, Nyi Limaran lalu pergi meninggalkan rumah dengan diam-diam. Si monyet merasa sangat kehilangan dan berusaha untuk mencarinya.

Akhirnya si monyet berhasil menemukan Nyi Limaran di tengah hutan, jauh dari rumahnya. Monyet ingin memperkosanya, tetapi Nyi Limaran dengan segala akalnya mencoba untuk mencegah maksud jahat si monyet itu. Ia pura-pura menanggapi cinta si monyet dan melontarkan puji-pujian yang berlagu, tetapi isinya penuh sindiran. Misalnya dahinya terlalu menonjol, ekornya terlalu panjang, telinganya terlalu kasar, tetapi si monyet yang tergila-gila dengan Limaran selalu dapat mengelak sindiran itu, misalnya dahi menonjol justru tampak gagah, dan tangan terlalu kasar disebabkan lupa cuci tangan setelah memakan ketan, ekor panjang karena ingin menyamai pakaian punggawa istana, dan seterusnya.

Kebetulan pada waktu itu Panji Inu Kartapati sedang berburu dan melintas di dekat mereka. Dari kejauhan ia melihat ada seorang wanita yang menghadapi bahaya diganggu seekor monyet besar, Panji segera melepaskan anak panahnya dan tepat menembus dada hewan itu. Si monyet rebah ke tanah dan menemui ajalnya. Akhirnya Panji mengetahui bahwa Nyi Limaran tiada lain adalah Putri Candrakirana, kekasihnya sendiri yang menyamar sebagai orang desa dalam pengembaraan mencari suaminya. Keduanya lalu kembali ke kerajaan (Poerbatjaraka, 1968: 419 - 420).

Kedua cerita Panji di atas menjadi populer di kalangan masyarakat, berkat sering di pentaskan sebagai seni pertunjukan rakyat. Di samping itu juga menjadi cerita dongeng yang sering dituturkan kepada anak-anak sebelum tidur oleh orangtuanya. Cerita Panji yang menjadi sebuah dongeng seperti itu yang juga berkembang di kalangan masyarakat, antara lain;

Panji Laras
Ringkas ceritanya sebagai berikut.
Ada seorang raksasa yang bernama Wadal Kardi yang menginginkan menjadi istri Panji Kertapati. Ia lalu menyamar sebagai Putri Sekartaji dan masuk ke dalam istana Jenggala. Oleh karena kekuatan ilmunya, Panji menganggap dialah Sekartaji yang sebenarnya. Melihat kejadian seperti itu, Putri Sekartaji yang sebenarnya merasa tidak tahan dan pergi mengembara ke tengah hutan. Ketika itu Sekartaji yang sesungguhnya sedang mengandung. Tiap hari ia mengadakan tapa dan memohon kepada dewata agar Panji, suaminya, terhindar dari malapetaka yang sedang mengancamnya. Selama tinggal di hutan, ia mendapat perlindungan dari seorang petapa. Menjelang saat melahirkan, tiba-tiba ada seekor burung elang dan menjatuhkan sebutir telor ayam di depan Putri Sekartaji. Telor itu lalu dipungut lalu dirawat, dengan sebaik-baiknya sampai menetas. Anak ayam itu lalu dipelihara dan lama kelamaan menjadi seekor ayam yang indah bulunya.

Tiada lama kemudian sang putri melahirkan seorang bayi laki–laki dan diberi nama Panji Laras (nama lain adalah Chinde Laras). Semakin besar kesukaan Panji Laras setiap hari hanya bermain-main dengan ayam jantan peliharaannya. Setelah berumur delapan tahun, Panji Laras bertanya pada ibunya siapa sebenarnya ayahnya. Ibunya tidak sampai hati untuk menjawab dan mengatakan bahwa Panji Laras tidak berayah. Tetapi ayam jantan kesayangannya berkokok dan berucap seperti manusia, “ ibumu mengasingkan diri di hutan, ayahmu adalah Raden Putra di Jenggala.” Sementara itu, Sekartaji palsu (raksasa Wadal Kardi) juga telah melahirkan seorang bayi laki – laki yang wujudnya seperti raksasa. Setelah besar kegemarannya adalah adu ayam. Ia sering ikut adu ayam di gelanggang.

Pada suatu hari, ketika di Jenggala diadakan lagi sabung ayam di gelanggang, Panji Laras meminta izin kepada ibunya untuk mengadu ayamnya ke Jenggala. Dengan berat hati ibunya mengizinkannya karena tidak sampai hati mengecewakan anaknya.

Di tengah gelanggang berkali-kali ayam sabungan Panji Laras dapat mengalahkan lawan-lawannya, hal ini menarik perhatian Pangeran Raksasa (putra Panji denngan Sekartaji palsu). Panji Laras ditantang dengan uang yang besar jumlahnya, karena Panji Laras tidak mampu bertaruh uang, ia lalu mempertaruhkan lehernya. Pangeran Raksasa menerima taruhan itu. Sabunganpun dimulai dan terjadi pertarungan yang sangat hebat dan mempesona penonton. Tetapi ayam Pangeran Raksasa mati terkapar kena taji ayam Panji Laras. Pangeran Raksasa menjadi marah dan seketika itu juga menyerang Panji Laras. Terjadi pertikaian antara keduanya, dan akhirnya Pangeran Raksasa mati tertusuk oleh keris Panji Laras. Sebelum ditangkap oleh para pungggawa kerajaan, Panji Laras segera masuk ke hutan dan pulang ke rumahnya.

Mendengar berita kematian Putranya, Panji Inu Kertapati menjadi gusar, lalu mengejar pembunuhnya. Panji Inu Kertapati berhasil menemukan rumah Panji Laras, dan anak itu sedang duduk meratap di sisi ibunya. Panji mengenali wanita itu yang tiada lain adalah istrinya yang telah lama menghilang. Panji merasa berbahagia dapat bertemu kembali dan bangga sekali kepada anaknya yang kini sudah tumbuh menjadi besar. Mereka bertiga lalu kembali ke kerajaan.

Sekartaji palsu, yang sebenarnya adalah raksasi Wadal Kardi, telah mendengar berita bahwa Panji telah menemukan kembali istrinya yang sebenarnya dan akan segera kembali ke istana. Karena sedih kehilangan putranya, yaitu Pangeran Raksasa dan cemas bahwa tipu dayanya selama ini akan segera terbongkar, raksasi Wadal Kardi lalu meninggalkan istana dengan diam-diam, masuk ke dalam hutan belantara, dan pada akhirnya binasa dimangsa oleh binatang buas.

Raja Jenggala menyambut kedatangan Panji Inu Kartapati bersama istri dan anaknya dengan pesta perayaan besar–besaran. Selanjutnya Panji dinobatkan sebagai raja di Jenggala menggantikan tahta ayahandanya (Poerbatjaraka, 1968 : 812 - 415 )

Misi atau Amanat Sastra Panji
Naskah sastra Panji, sejak digubah sampai sekarang telah meliputi jumlah sangat besar, serta mengalami proses transformasi semakin jauh dari bentuk aslinya. Namun, bagi karya sastranya tentulah setiap penulis sastra Panji tidak hanya semata-mata puas dengan menulis bentuk metrum tertentu dan menggunakan bahasa sastranya. Upaya mengubah karya sastra Panji dengan nilai seni sangat optimal, tentunya juga menaruh harapan agar dapat dinikmati orang lain. Selain memberikan kenikmatan pada pembaca, penulis Panji pun berusaha menyampaikan pesan moral yang dapat digunakan sebagai rujukan sikap, perbuatan dan tingkah laku bagi masyarakat secara umum. Tiap penulis berharap agar karyanya dapat memberikan manfaat bagi kehidupan manusia, meningkatkan harkat dan martabat dengan penyampaian pesan-pesan moral itu. Dalam ilmu sastra pesan moral yang disampaikan disebut amanat.

Sastra Panji dengan nama tokohnya Panji Inu Kartapatijuga sarat dengan amanat yang mengandung nilai–nilai kehidupan yang sangat berharga bagi dirinya dan pembacanya. Nilai budaya yang tampak paling menonjol dalam sastra Panji adalah nilai Kepahlawanan. Dalam karya sastra Panji Jawa yang secara ringkas telah dipaparkan di atas, dan nilai kepahlawanan Panji juga tampak jelas. Panji Inu Kartapati berkali-kali tampil untuk menyelamatkan negara, baik negerinya sendiri maupun kerajaan lain. Raja yang sedang menghadapi ancaman bahaya musuh dari luar kemudian meminta bantuan Panji untuk mengusir musuh. Berkat keperkasaan dan kesaktiannya, Panji selalu ungggul dalam menghadapi musuh-musuh itu.

Selain itu, Panji juga memiliki sifat dan kepribadian yang dapat dijadikan suri tauladan bagi kaum pria pada umumnya. Melalui tokoh Panji, sang penulis ingin menyampaikan amanat yang bersifat abadi. Artinya, biarpun amanat dalam sastra Panji itu dibaca berkali-kali dan selang beberapa tahun kemudian diulangi lagi, bahkan pada saat kapanpun amanat itu akan tetap berlaku. Amanat tetap amanat, tergantung dari kepekaan penerima dan mencamkan dalam hati dan melaksanakannya dalam perbuatan sehari-hari.

Bagi pembaca penyampaian amanat menjadi sangat menarik, apabila tidak semata-mata bersifat menggurui, tetapi dijalin secara terpadu dalam narasi dan dialog tokoh-tokoh ceritanya dengan latar adegan dan juga situasi yang mengasyikkan Penyampaian amanat itu ada yang langsung dan ada yang secara simbolis. Dalam hal ini pembaca dituntut untuk memahami kode-kode tata kehidupan yang berlaku, meliputi kode bahasa, kode sastra, dan kode budaya (Teeuw, 1988:76).

DalamsastraPanjipenampilan Panji Inu Kartapati selalu setia dan sekata dengan saudara-saudaranya. Di sini nilai kerukunan yang diutamakan. Bila Panji dalam kesulitan saudara-saudaranya selalu memberikan pertolongan, dan sebaliknya bila saudaranya yang berada dalam bahaya, Panji selalu datang dan menyelamatkan. Nilai kesetiaan Panji terhadap Candrakirana, istrinya juga menonjol. Meskipun berkali-kali Panji terlibat dalam kisah asmara dengan putri-putri lain, namun akhirnya Panji kembali dengan Candrakirana.

Panji juga bukan tipe tokoh yang mementingkan dirinya sendiri. Setiap kali ia berhasil menaklukkan kerajaan lain yang semula berbuat jahat pada negaranya, selalu dimaafkannya. Negeri yang sudah takluk diserahkan kembali kepada raja atau penguasanya dengan pesan agar dapat membangun kerajaannya kembali dengan sebaik-baiknya, jauh dari sifat permusuhan dengan negara tetangga. Setelah berhasil membantu Raja negara lain dalam menghadapi bahaya dan bencana, Panji selalu menolak hadiah berupa harta yang melimpah yang diberikan kepadanya dan menjelaskan bahwa bantuan yang diberikan itu adalah tanpa pamrih. Selain itu, juga untuk menjaga agar dirinya jangan sampai mengurangi kemakmuran rakyat negri itu.

Selain Panji Inu Kartapati, tentulah banyak tokoh lain dalam sastra Panji yang juga tampil sebagai tokoh yang patut diteladani, sesuai dengan tugas penulis dalam mengubah sastra Panji. Tokoh itu antara lain Brajanata, Kartala, Gunugsari, Simon Pradapa, sedangkan tokoh-tokoh yang jahat selalu mendapatkan balasan setimpal dengan kejahatannya. Misalnya para pengikut Durga yang tampil untuk mengacau kehidupan manusia, seperti Retna Cindaga, Wadal Kardi. Prabu Kelana Raja negeri seberang yang biasa tampil sebagai tokoh yang tergila-gila pada Candakirana, akhirnya gagal menyunting sang Putri, bahkan menemui kematiannya terbunuh oleh Panji.

Jurudyah Prasanta sebagai tokoh panakawan dalam sastra Panji selalu tampil sebagai pendamping dan penasihat Panji. Kedudukan dan fungsinya tidak berbeda, dengan panakawan Semar dan lain-lain. Dalam lakon wayang purwa. Banyak nasehat sarat dengan nilai moral yang luhur terucap dari para pendamping Panji ini merupakan amanat yang terkandung dalam sastra Panji, Candrakirana, putri kerajaan Daha, kekasih Panji yang dalam wayang purwa disamakan dengan tokoh Sumbadra, dalam sastra Panji juga terkenal sebagai tokoh yang berbudi luhur, kokoh dalam watak dan kepribadiannya sehingga patut dijadikan suri tauladan bagi kaum wanita.

Dalam cerita Panji yang tergolong dongeng pun, antara lain Andhe-Andhe Lumut, Kethek Ogleng, dan Panji Laras seperti dipaparkan di atas, jika dicermati isi dongeng-dongeng juga mengandung amanat yang bermanfaat bagi pembentukan watak dan kepribadian seseorang. Amanat pada cerita Andhe-andhe Lumut, antara lain mengingatkan agar jangan bersikap semena-mena terhadap sesama manusia seperti perlakuan yang diperoleh Kleting Kuning dari saudara-saudaranya. Demikian pula dalam mencapai tujuan hendaknya jangan sampai berbuat hal yang tercela, agar tidak mengalami kegagalan seperti ulah para Kleting yang hina, karena mau diciumi ketam raksasa, mereka akhirnya ditolak oleh Andhe-andhe Lumut. Dalam cerita Kethek Ogleng, terkandung pesan bahwa maksud jahat dan perbuatan semena-mena terhadap orang lain yang lemah tidak berdaya akan menemui balasan setimpal, seperti Kethek Ogleng yang dibunuh oleh Panji ketika hendak memperkosa Limaran.

Dalam dongeng Panji Laras, terkandung amanat barangsiapa berbuat jahat akan memetik perbuatannya dan yang berbudi baik juga akan menemui kebahagiaan hidup. Wadal Kardi yang menyamar sebagai Sekartaji palsu dan mencelakakan orang lain akhirnya hidup merana dan binasa di tengah hutan, sedangkan Sekartaji yang menyamar sebagai Nyi Limaran dengan hidup penuh keprihatinan di tengah hutan akhirnya dapat bertemu kembali di istana dengan Panji kekasihnya.

Sastra Panji sebagai salah satu bentuk karya sastra mampu memberikan kenikmatan dan kemanfaatan pada pembaca dan penggemarnya ternyata memiliki daya kekuatan luar biasa untuk bertahan hidup dari masa ke masa, berkembang dan menjelma dalam berbagai bentuk karya sastra, seni perunjukan dan pedoman perilaku manusia.

Wasana Kata
Berdasarkan uraian diatas dapat simpulkan seperti berikut.
1. Cerita Panji adalah cerita yang menampilkan tokoh-tokoh Panji dengan latar belakang sejarah Kerajaan Jawa kuna di Jawa Timur, yaitu Kerajaan Janggala dan Kediri.
2. Cerita Panji sebagai karya sastra pada awalnya digubah pada zaman Kerajaan Majapahit dengan menggunakan bahasa Jawa tengahan dalam bentuk kidung atau metrum macapat.
3. Cerita Panji yang asli dari Jawa, kemudian menyebar ke berbagai wliayah bahkan ke luar wilayah Nusantara.
4. Cerita Panji telah menarik perhatian para pakar sebagai obyek penelitian dengan pendekatan sesuai dengan keahlian masing-masing, melalui pendekatan filologis, antropologis, arkeologis, historis dan linguistiks. Hasil penelitian itu dalam bentuk karya ilmiah merupakan sumbangan besar bagi perkembangan ilmu pemgetahuan, khususnya sastra Indonesia.
5. Cerita Panji yang digubah dalam bentuk karya sastra lebih tepat bila disebut dengan Sastra Panji.
6. Cerita Panji merupakan bahan penciptaan karya sastra Jawa yang sangat kaya sehingga dapat menyuburkan kesusastraan Jawa.
7. Cerita panji juga memperkaya sumber lakon seni pertunjukan, baik di lingkungan keraton maupun di luar lingkungan keraton, bahkan juga mengembangkan seni pertunjukan rakyat di pedesaan.
8. Banyaknya karya sastra Jawa yang bertema Panji membuktikan bahwa cerita Panji pernah populer, dan disenangi oleh masyarakat.
9. Cerita Panji yang lahir bersamaan dengan lahirnya bahasa ”Jawa tengahan” dalam perkembangannya sebagai karya sastra Jawa terus menerus mengalami perkembangan sepanjang masa sehingga memperkaya khazanah sastra Jawa.
10. Sastra Panji Jawa yang digubah menjadi metrum macapat mengandung amanat yang sarat dengan nilai – nilai kehidupan, juga telah mampu memberikan kenikmatan estetis dan kemanfaatan bagi masyarakat, karena itu juga mampu bertahan dari masa ke masa dalam berbagai bentuk transformasinya.


Catatan Penulis :
Aminuddin Kasdi adalah Guru Besar Sejarah Indonesia Unesa/ Ketua MSI Jawa Timur.
Makalah Nilai-Nilai Edukatif Ceritera Panji dalam Perspektif Budaya Nusantara disampaikan pada Diskusi dengan Tema KONSERVASI BUDAYA PANJI yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jawa Timur di Pusat Kebudayaan Prancis pada tanggal 2 April 2009 Jl. Darmokali Surabaya.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/99/615/nilai-nilai-edukatif-ceritera-panji-dalam-perspektif-budaya-nusantara

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar