Kamis, 18 Maret 2010

Penyansekertaan Jawa dan Pembahasajawaan Kisah Bharata

Oleh : S. Supomo

Tulisan ini memberikan penjelasan mengenai hubungan antara India dengan Indonesia berdasarkan prasasti pertama dari Kalimantan Timur dan Jawa. Tulisan ini juga menjelaskan mengenai perubahan sosial, agama, khususnya di Jawa. Juga dijelaskan tentang penyebaran kesusastraan dari India ke Indonesia yang diuji secara detail, dan sebuah perbandingan dengan hasil kesusastraan hasil Sriwijaya (Sumatra) dan pertumbuhan kesusastraan Hindu-Buddha dibuat. Orang-orang Jawa tidak hanya mengadopsi kesusatraan India saja tapi juga menyebarkannya.

Pendahuluan
Walau hubungan antar-ibukota di bagian Asia Tenggara dan India telah terjalin sejak zaman dulu, di mana peradaban Sansekerta India mulai menyebar secara cepat melintasi Laut Bengal ke belahan barat wilayah Austronesia, penjelasannya secara detail memang tidak ada. Namun, faktor-faktor berikut ini dapat dianggap sebagai penyebab utama perkembangan baru ini.

Pertama adalah perluasan pasar/jual-beli, yang telah terjadi sekitar 2.000 tahun silam, serta peningkatan besar jumlah pedagang dan pengembara yang bepergian dari India ke Asia Tenggara. Kemampuan navigasi merupakan suatu hal yang dimiliki oleh bangsa Austronesia sejak zaman dulu. Keberadaan sebuah bahasa Polinesia-Melayu Barat di Madagaskar yang menunjukkan bahwa bahasa Sansekerta dibawa melalui Melayu adalah sebuah bukti bahwa bangsa Austronesia telah berlayar hingga pantai timur Afrika, setelah menyebarkan bahasa Sansekerta ke Asia Tenggara. Kemudian sebuah sumber dari Cina menunjukkan bahwa bangsa Austronesia Barat telah menyuplai fasilitas transportasi untuk perdagangan dan barang dari berbagai belahan benua Asia.

Faktor kedua adalah penyebaran agama Buddha di dalam dunia agama dan kebangkitan agama Hindu, khususnya kebangkitan pergerakan bhakti (loyalitas terhadap para dewa) yang memberikan dorongan bagi para biksu Buddha dan kasta Brahmana Hindu untuk pergi ke negara lain untuk menyebarkan keyakinan mereka. Telah diakui bahwa peranan para raja dan ksatria (kasta Ksatria) dan pedagang (Waisya) telah menjadi sumbangsih besar dalam pengaruh bangsa India terhadap negara lain, dan kasta Brahmana merupakan penyebar utama dalam penyebaran ajaran Sansekerta.

Pada abad ketiga, kerajaan-kerajaan yang diatur berdasarkan peraturan kerajaan India telah muncul di beberapa kota di Asia Tenggara, pertama-tama di ibukota (India) dan kemudian di Kepulauan Indonesia. Peraturan kerajaan-kerajaan ini memegang teguh agama yang berasal dari India, baik Hindu maupun Buddha, dan mengadopsi bahasa Sansekerta sebagai bahasa negara, sekurang-kurangnya digunakan dalam acara ritual. Kesusastraan Sansekerta, khususnya cerita pahlawan Mahabharata dan Ramayana serta Puranas, menyuguhkan sumber-sumber mitologi.

Awal Mula Negara Indic: Kutai
Prasasti tertua yang paling terkenal di Kepulauan Indonesia adalah yang ada pada tujuh pilar batu, atau yupa (tempat pengorbanan), ditemukan di daerah Kutai, Kalimantan Timur, sekitar 20 mil dari pelabuhan Makassar. Ditulis menggunakan huruf Pallawa, prasasti Sansekerta ini dibuat untuk mengenang pengorbanan-pengorbanan yang dilakukan oleh Raja Mulawarman. Prasasti tersebut pendek hanya sekitar 50 baris; bagian yang paling panjang terdiri dari tiga stanza dengan masing-masing stanza memiliki empat baris. Bagian tersebut menjadi bagian terpenting yang telah menggambarkan bukti-bukti kemunculan pengaruh India di Kepulauan Indonesia dulu sekitar tahun 400 M.

Prasasti-prasasti tersebut tidak menjelaskan nama kerajaannya, tapi kita memiliki nama-nama dari tiga generasi pemerintahan dari salah satu prasasti tersebut. Mereka adalah Mulawarman, raja penguasa, yang bergelar “raja para raja” (rajendra); ayahnya yaitu Aswawarman, dikenal sebagai “pendiri dinasti tersebut” (vansa-karti); dan kakeknya yaitu Kundungga, “raja pendiri” (narendra). Telah disepakati bahwa nama Kundungga bukan merupakan bahasa Sansekerta, karena itu ia lebih mirip sebagai orang asli Indonesia. Petunjuk bahwa nama Kundungga bukan merupakan bahasa Sansekerta dapat diteliti dari nama kedua anaknya di mana Aswawarman sebagai garis keturunan pertama yang mengadopsi kepercayaan Hindu dianggap sebagai pendiri kerajaan “baru” (dalam hal keyakinan). Oleh karena itu, Aswawarman disebut sebagai pendiri kerajaan oleh generasi berikutnya. Dalam prasasti tersebut juga Aswawarman berhubungan dengan Ansuman, “dewa matahari”, yang dianggap sebagai pencipta alam ini dalam kepercayaan bangsa India. (Chhabra, 1965:51).

Pada prasasti tersebut tidak disebutkan apakah Aswawarman melakukan kebijakan perluasan kekuasaan ke daerah lainnya. Sebagai seorang pendiri dinasti, dapat dimungkinkan bahwa anaknya menerapkan kebijakan tersebut. Pada salah satu prasasti tesebut dikatakan bahwa Mulawarman telah “menaklukkan kerajaan lain dalam peperangan, dan membuat mereka hancur, seperti yang dilakukan oleh raja Yudistira”. Sebuah sumber tepercaya dari episode "Digvijaya" dalam Mahabharata (buku kedua), yang menggambarkan penaklukan berbagai negara oleh Pandawa, setelah penaklukan tersebut sebuah pengorbanan rajasurya digelar, dan Yudhistira menjadi penguasa dunia. Bersamaan dengan hal tersebut, kakeknya (Nalendra) hanya digelari “Raja Manusia”, Mulawarman digelari Rajendra (raja para raja), di mana para kerajaan yang telah ditaklukkan harus membayar upeti kepada mereka.

Tapi siapakah mereka yang ditaklukkan oleh Mulawarman dalam peperangan? Apakah mereka seperti Mulawarman itu sendiri yang memerintah Negara-negara India, atau memerintah suku-suku di daerah tetentu? Sebenarnya kita tidak alam posisi untuk menjawab pertanyaan tersebut. Di Kutai ditemukan bebeberapa peninggalan arkeologi dari gambar/relief Hindu-Budha., yang menunjukkan tidak adanya bukti baik dari prasasti maupun sumber-sumber China, bahwa pernah ada beberapa kerajaan yang pernah muncul di daerah tersebut.

Pada prasasti, mereka “raja-raja lainnya” disebut parthiva, dan Kulke telah menyarankan, menurut etimologi bahasa sansekerta, bila dibandingkan dengan prasasti Rakai yang tertua di Jawa mereka merupakan para penguasa. Kita tidak mengetahui apa yang terjadi dengan kerajaan Kutai setelah desas-desus prasasti Mulawarman, para parthiva tersebut dapat meraih kembali status mereka sebagai pemimpin yang merdeka bagi sukunya.

Beberapa nama kerajaan bermunculan di wilayah ini. Kita mendapatkan nama Tunjung Kute sebagai salah satu cincin kerajaan, di bawah perlindungan Majapahit yang disebutkan dalam kitab negarakertagama (Tanjung Kute ada pada stanza/bait ke 14.1). Dapat diyakini bahwa Tanjung Kute merupakan nama sebulmnya dari kerajaan Kutai, karena namanya muncul dalam daftar Mandala berlokasi di pulau Tanjung Negara (Kalimantan). Ada kemungkinan bahwa nama Tanjung Kute atau salah satu sinonimnya berasal dari nama kerajaan Mulawarman. Jika nama Kute (Kutai masih dipakai di Indonesia hari ini, tidak ada alas an yang kuat mengapa nama yang muncul dalam puisi ini tidak sama dengan kerajaan di masa lalu. Banyak nama desa, distrik, dan kerajaan ditemukan masih ada hingga hari ini walaupun dengan sedikit perubahan.


Sriwijaya: Pusat Pembelajaran?
Agar suatu komunikasi dapat berjalan lancar, bahasa dari suatu pesan yang disampakain seorang pembicara harus dapat dipahami engan mudah oleh penerima pesan. Tulisan merupakan sebuah alat untuk berkomunikasi tidak akan berguna bila bahsa yang digunakan tidak mudah dimengerti oleh para pembaca. Oleh karena itu, penyebaran budaya tulis-menulis pastinya harus membawa kerangka bahasa dari suatu teks.

Ini bukan sebuah kebetulan, dimana beberapa prasasti tertua yang ditulis dalam rumpun khas bahasa Austronesia dihasilkan oleh peraturan Sriwijaya, kerajaan pertama yang paling terkenal yang kekuasaan rajanya berada pada masa puncak-puncaknya, tekenal luas kekuasaannya di wilayah barat kepulauan Malaya-Indonesia, mengabari kepada kerajaan Sung pada tahun 1017 dan dengan bangganya mengikrarkan kerajaan Sriwijaya sebagai ”raja dari kepulauan maritim” (Wolte 1970:1).

Enam prasasti yang berasal dari peninggalan Sriwijaya (Sekitar tahun 687 dan 686) telah diketemukan di wilayah Sumatra selatan – tiga di Palembang, satu di Jambi, saru di pulau Bangka, dan yang lainnya di Lampung _ dan hal ini mungkin mengindikasikan pelebaran area kekuasaan di bawah control yang efektif pada masa lampau terkait sejarahnya yang panjang (Coedes 1968: 82-85; Naersenn 1977:31-36). Semua prasasti ini ditulis dalam bahasa Melayu Kuno, menggunakan huruf Pallawa yang berhubungan dengan tulisan yang digunakan pada prasasti Kutai. Beberapa adaptasi tentu saja ada. Untuk lebih jelasnya, walaupun alphabet yang digunakan dalam Sansekerta banyak menggunakan Tanda daripada yang dipakai oleh Melayu Kuno dan bahasa Austronesia lainnya, pada bahasa melayu kuno tidak terdapat symbol untuk fonem ê. Untuk menjawab masalah ini, para cendikiawan Sriwijaya menggunakan symbol yang sederhana yaitu “tanpa simbol”, menggunakan dua konsonan diantara keduanya yang symbol ě – nya dibunyikan sebagai pengikat, sebagai contoh tulisan “tmu” untuk těmu (to meet). Siapapun yang menciptakan symbol ini haruslah seorang cendikiawan (orang yang pintar) karena digunakan oleh prasasti kerajaan Sriwijaya kemudian dilanjutkan dan digunakan oleh generasi berikutnya oleh para juru tulis prasasti dan naskah dari suku Jawa kuno dan Bali Kuno.

Pada saat yang sama ketika prasasti tersebut diberitakan juga I Tsing (yang berasal dari China) berlabuh di Sriwijaya untuk enam bulan pada tahun 671 untuk belajar struktur bahasa Sansekerta sebelum berangkat ke India, dan untuk empat tahun antara 685 dan 689, selama masa itu dia menjiplak dan menerjemahkan naskah agama Budha ke dalam bahasa Cina. I Tsing menceritakan bahwa: “Di kota yang kokoh pertahanannya di Fo-Shih, ada lebih dari seribu pendeta Budha yang berbakat dalam belajar dan hasil karya-karyanya. Mereka mempelajari dan meneliti semuasubjek yang memungkinkan seperti ketika ia berada di Madhyadesa [India]” (Coede 1968:81; Takasusu 1966: xxxxiv). I Tsing bahkan menceritakan bahwa dia pernah berada di Sriwijaya, sakyakirti, satu dari empat pendeta Budha yang berbeda terdapat disana (Takasusu 1966:184). Jelas sekali dari sumber I Tsing tersebut dan dilengkapi oleh beberapa prasasti bahwa kemudian Sriwijaya bukan hanya sebuah kerajaan berkuasa yang berada diantara Selat Malaka tapi juga merupakan sebuah pusat pembelajaran yang terkenal.

Jika I-Tsing mampu untuk menyelesaikan “sebuah pengalih bahasaan dari sutras dan sastras kedalam bahasa Cina selama dia tinggal di Sriwijaya, seseorang pastilah berharap bahwa para pelajar Malay juga telah melakukan hal yang sama ke dalam bahasa Melayu, atau bahkan menciptakan karya sastra yang asli buatan sendiri. Tidak ada karya yang seperti kita harapkan tercipta. Hal ini mungkin tidak mengagetkan jika memahami bahwa Sriwijaya tidaklah seperti Bali, pulau kecil dimana kesuasteraan Jawa Kuno berhutang kepadanya hingga hari ini. Tapi bahkan dalam kesusteraan Melayu selanjutnya, karya dari Istana Malaka Melayu dan para penggantinya yang dianggap sebagaipara pewaris tradisi budaya Melatu (Wolters 1970: 1982:22-24) – kita tidak dapat menemukan satu jejakpun dari kesusasteraan Melayu Kuno. Pada bagian yang berbeda, hal ini menjadi sebuah bukti pengaruh tradisi budaya Jawa Kuno yang kita temukan dalam Kesusasteraan Melayu selanjutnya. Dalam daftar karya yang banyak yang terdapat pada Bab III (Periode Hindu) dalam karya Winstedt yang berjudul “Sebuah Sejarah dari Kesusasteraan Melayu Klasik”, kebanyakan diperoleh dari sumber-sumber di Jawa seperti puisi Jawa Kuno dari abad ke dua belas yang berjudul Bharatayuddha dan Bhomakawya (Bhomantaka), dan yang lainnya dari tradisi lisan, sebagai contoh, Hikayat Seri Rama (Winstedt 1977:24-27).

Sekarang, berbeda dari ketiadaan jejak karya-karya kesusasteraan Melayu Kuno, kita juga susah menemukan peninggalan-peninggalan arsitek dari periode Sriwijaya. Suatu penjelasan yang ditawarkan untuk hal ini adalah, meskipun kekayaannya melimpah, seperti kekuatan maritime, Sriwijaya tidak memerlukan kekuasaan untuk membangun bangunan hebat bila dibandingkan dengan sebut saja Borobudur, sebuah tempat agricultur di Jawa, telah mampu untuk memobilisasi kebutuhan tenaga pekerja dari para petani yang setianya (lihat Van Leur 1967:96-97).

Sepertinya kekurangan tenaga pekerja bukanlah alasan utama untuk ketiadaan aktivitas bangunan di Sriwijaya dalam sejarah yang cukup panjang. Penguasa Sriwijaya memiliki kecenderungan untuk membangun monument-monument keagamaan yang besar sehingga kecil kemungkinan jika mereka tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan tenaga pekerja untuk membangunya. Kita ketahui dari prasasti Kedukan Bukit dari tahun 683, bahwa raja memiliki sejumlah pasukan lebih dari dua puluh ribu prajuritmelalui pembagiannya untuk mengawalnya dalam Siddhayatra (sebuah perjalanan untuk memperoleh kekuatan supernatural). Seperti yang Hall telah kemukakan, sebuah penekanan pada aspek maritime di Sriwijaya, di sisi lain terkesan menyepelekan pentingnya hubungan antara pelabuhan dengan wilayah kekuasaan dalam (pedalaman), dimana pasukan yang besar yang berjumlah sekitar dua puluh ribu pasukan ini telah dapat direkrut (Hall 1985:79-80).

Kekurangan tenaga kerja kemudian tidak dapat dipakai untuk menjelaskan mengapa tidak terdapatnya peninggalan arsitek dari seluruh periode Sriwijaya, dalam jangka waktu sekurang-kurangnya empat abad ( dari abad ke tujuh s.d. 11), atau bahkan tujuh abad (hingga abad ke empat belas). Mengingat bahwa tidak ada pula jejak peninggalan kesusasteraan dari kerajaan besar ini, kesimpulannya adalah bahwa Kebesaran Sriwijaya merupakan mitos lain, diandingkan dengan Prapanca yang berasal dari Majapahit (Supomo 1979), atau para penguasa Sriwijaya memiliki prioritas lain dari rival mereka yatiu Jawa.

Setelah memiliki sebuah kekuatan ekonomi yang besar, Sriwijaya terlihat menyepelekan nilai-nilai spiritual yang mearik seorang pengembara Cina yaitu I-Tsing pada abad ke tujuh. Kenyataannya, dimana raja-raja Jawa membungkus pulaunya dengan bangunan-bangunan keagamaan, raja-raja berkuasa di Sriwijaya lebih memilih untuk berlayar daripada membangun monument-monumen abadi, dan mereka hanya meninggalkan kita batu-batu yang tidak penting dan beberapa prasasti dalam jmlah yang kecil (1968:131; cf. van leur 1967:106-107).

“Candi Bahasa” Jawa Kuno
Para penguasa Jawa, bagaimanapun, tidak hanya mencakup pulau mereka dengan candi sila, “Candi bahasa”, tapi mereka juga membuat sejumlah puisi dan kesusasteraan lainnya untuk membuat apa yang mereka sebut candi bhasa, “candi bahasa”. Bangunan “candi bahasa” berubah menjadi sebuah keputusan yang lebih bijak daripada menutupi seluruh Yawabhumi dengan “andi-andi batu”, dan bahkan menimbun banyak sekali kekayaan seperti yang Sriwijaya lakukan di Suwarnabhumi (“Pulau Emas”, Sumatra).

Prasasti tertua Jawa kuno yang diketahui berasal dari tahun 804, sekitar satu setengah abad setelah prasasti melayu kuno dari Sriwijaya. Tapi tidak seperti dimana tidak banyak prasasti melayu kuno diketemukn, meliputi periode lebih dari enam abad. Banyaknya prasasti dari jawa kuno haruslah menjadi pertanda dari perluasan kesuasteraan pada abad ke Sembilan di Jawa. Selama abad ke tujuh, Walaing (Cina: Holing) telah menjadi sebuah pusat pembelajaran yang terkenal dimana seorang pelajar dari Cina pergi kesana untk mengalih bahasakan naskah Budha ke dalam bahasa Cina di bawah bimbingan seorang guru Jawa. Pembangunan candi sivaet Prambanan dan Borobudur yang rumit, kemungkinan sekitar abad Sembilan (Soekmono 1979:457-472; de Casparis 1956:309-311), menunjukkan bahwa perubahan dinasti yang terjadi di jawa tengah setelah jalan masuknya Sanjaya ke tahta kerajaan tidak mengurangi keutamaan wilayahnya sebagai pusat pembelajaran. Sejumlah patung pahatan do Borobudur yang didasarkan pada berbagai teks Budha (Krom 1927; Bernet Kempers 1980), dan Prambanan didasarkan pada sebuah versi hikayat Rama (Stutterheim 1989), merupakan kesaksian yang jelas dari keberlangsungan semangat belajar teks-teks kesusasteraan.

Tidak mengagetkan bahwa “candi bahasa” tertua yang telah sampai kepada kita, kakawin Ramayana, juga merupakan karya dari periode jawa tengah. Mengagetkannya, puisi ini tidak didasarkan baik pada versi terkenal Hikayat Rama, yang disebut cerita pahlawan Valmiki, atau versi yang digambarkan di dalam pahatan Candi Prambanan, melainkan diambil dari Ravanavadha, sebuah puisi dari abad keenam atau tujuh oleh seorang penyair India bernama Bhati. Pemilihan puisi karya Bhati daripada cerita epik Valmiki, untuk dijadikan sebagai model penulisan puisi adalah penting. Yang belakangan bukan hanya versi yang paling dikenal dari hikayat Rama, tapi bahasanya juga lebih mudah dibaca daripada pendahulunya. Bhati sendiri mengatakan bahwa karyanya ini “dapat dimengerti hanya melalui penjelasan, cukup bahwa puisi ini merupakan kebahagiaan bagi yang pintar dan yang bodoh menjadi sedih sebagai hasil dari kasih sayang saya untuk belajar” (Keith 1956:116). Apapun pilihan alasannya yang tepat, bagaimanapun, hasil lengkapnya merupakan sebuah Karya Agung, sebuah mutiara yang telah dibuat oleh Jawa Kuno, kawi “puisi”. Pada generasi selanjutnya kawi disebut adikakawin, yaitu puisi pertama diantara puisi-puisi Jawa Kuno (Hooykaas 1958). Kemampuan seorang penyair untuk berguat dengan sebuah teks yang merupakan masalah besar menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai Sansekerta haruslah dipahami dan dia harus sudah menguasai dengan sempurna bahasanya sendiri untuk menjadi mampu dalam menterjemahkan kesulitan bentuk dasar Sansekerta secara memuaskan. Dengan pembuatan kedua candi baik itu candi batu dan candi bahasa dari besarnya Borobudur dan Ramayana Jawa kuno, tidak mengherankan bahwa Jawa pada abad ke Sembilan melanjutkan untuk menarik orang dari Negara-negara lain. Dan prasasti dari Champa, dengan jelas memberitahu kita bahwa seorang pejabat tinggi dari ibu kota yang hari ini dikenal sebagai Vietnam pergi berkunjung ke Jawa “untuk mendapatkan pengetahuan magis”. “pencarian si petualang”, menurut Wolters (1982:27), “dapat melambangkan reputasi Jawa untuk memperoleh pengetahuan bagi orang-orang tertentu saja”.

Keuntungan yang jelas dari “candi bahasa” melebihi “candi batu” tentunya adalah transportabilitasnya. Satu penyelesaian , sebuah buku, atau lebih banyak salinan, dapat ditransferkan ke bagian terpencil dari Negara ini. Bahkan pada masa tersebut jelas sekali bukan suatu hal yang lumrah untuk membeli buku-buku dan membangun sejenis perpustakaan disebuah daerah. Prapanca memberitahu kepada kita dalam Negarakertagama 29.2 memiliki teman, Krtayara, yang tinggal di sebuah desa yang berjarak cukup jauh dari ibu kota, telah menempatkan dirinya “dengan pengharapan buku-buku kirti (berharga). Setelah dibeli mereka sangat menjaga danmenyimpan buku pada tempat yang aman” (Pigeaud 1960-63). Pada kenyataannya, seseorang tidak harus untuk mentransfer kesusasteraan dalam bentuk fisik (karya) untuk menyampaikan pesannya. Ketika isi-isinya telah dikuasai, orang tersebut dapat mengesampingkan bukunya itu dan menyampaikan pesan-pesannya secara oral kepada para pendengar dimanapun. Selama masa sejarah yang panjang dari Pensansekertaan, kesusasteraan telah menjadi alat yang paling potensial dalam penyebaran budaya Sansekerta. Cerita epic Ramayana dan Mahabarata dalam hal-hal tertentu memainkan peranan penting dalam penyebarluasan budaya ini dari benteng perbatasan kraton sampai ke luar kota. Seperti Srinivas (1989:61) meneliti sebuah teks sansekerta di India, cerita epic “tidak hanya menyebarkan pengetahuan kepada orang tentang Dewa-dewa Hindu dan ide-ide dasar teologi tertentu, tapi juga telah membantu menyebarkan budaya umum selama berabad-abad. Cerita epic dan tidak terkira banyaknya cerita yang terkandung di dalamnya, merupakan dasar dari kesusasteraan dalam setiap bahasa India. Fakta bahwa institusi harikatha, atau pembacaan public terhadap cerita epic dan Puranas dengan dilatih para ahli seni, merupakan sebuah masa lalu yang penuh kenangan memungkinkan bagi Sansekerta Hindu untuk dicapai bahkan oleh orang-orang yang buta huruf”.

Bukti terdahulu dari penetrasi cerita epic sansekerta ke dalam area pedalaman ditemukan pada peninggalan piring tembaga Sanggang diberitakan nama Raja Balitung pada th. 907 untuk menkorfimasi bantuan ke biara di Dalinan (Sarkar 1971-72:II, 85-98). Untuk merayakan kejadian/kegiatan apa yang paling penting selama satu tahun atau satu decade, untuk semua wilayah, sejumlah pertunjukkan dihadirkan pada kesempatan itu. Selain nyanyian (mamidu), tarian (mangigal), tarian Kicaka, seni peran (mamirus) dan melawak (mabanol), prasasti juga menyebutkan sebuah pertunjukkan wayang (mawayang) dari cerita “Bhimaya-kumara”, dan sebuah mendongeng (macarita) dari cerita “Bhima-kuara” dan “Ramayana”. Kedua “Kicaka” maupun “Bhima-kumara” secara jelas merujuk pada sebuah episode tertentu dari Wira Taparwa, buku keempat dari Mahabarata (Zoetmulder 1974:208-209). Sejak tidak adanya bukti bahwa sebuah pengalih bahasaan atau adaptasi bahasa Jawa dari Mahabarata pernah ada pada saat itu, hal ini terlihat seperti bahwa narrator dari episode Bhima-kumara membacakan teks sansekerta dan kemudian seperti dalam harikatha yang menjelaskan hal tersebut kepada pendengarnya dalam bahasa jawa. Mabasan di Bali pada saat ini, dimana banyak orang berkumpul untuk mendengarkan sebuah pembacaan puisi Jawa Kuno dan interpretasinya di Bali, tidak diragukan lagi berasal dari sejenis macarita.

Pembahasajawaan Mahabarata
Sekitar sembilan puluh tahun setelah macarita di atas yang mengubah Mahabarata ke dalam bahasa Jawa ditangani dibawah perlindungan Raja Dharmawangsa Teguh (990-1016) sekitar enam puluh tahun setelah pusat kekuasaan telah bepindah dari tengah ke wilayah timur pulau. Peristiwa paling penting yang berhubungan dengan penyampaian cerita epic adaalah penyampaian cerita di istana Dharmawangsadimana orang-orang berkumpul untuk mendengarkan cerita Wirataparwa untuk satu bulan kurang satu malam dimulai 14 Oktober dan berakhir pada 12 November 996. Pentingnya acara tersebut adalah sebuah bukti dari fakta bahwa raja sendiri menghadiri acara tersebut sampai akhir, kecuali satu, “ketika raja berhalangan karena ada urusan lain” (Juynboll 1912:97-98); Zoetmulder 1974:95). Peristiwa itu diyakini sebagai suatu acara penyampaian cerita perdana seperti yang dikemukakan Zoetmulder, yaitu penyelesaian penyempaian cerita delapan buku Mahabarata. Hal ini benar tentunya bahwa Wirataparwa bukan buku pertama dari Mahabarata tapi, sepeti pendapatnya Raghu Vira, “Pendongeng Mahabarata memulai sesi pertamanya dengan Virata bukan dengan Adi (parvan pertama)”, karena “Virata merupakan salah satu bagian terpendek dari parvan utama, penuh kekuatan dan kebahagiaan” (Raghu Vira 1936:xvii). Tentu saja delapan buku yang ada dalam Mahabarata, telah disampaikan juga. Dalam sejumlah kasus, pada Jawa Kuno menggunakan istilah parwa mencakup bukan hanya delapan parwa dari Mahabarata, tapi juga kisah klasik jawa kuno Uttarakanda, bagian terakhir dari cerita epic Valmiki yang tidah ditemukan pada Ramayana jawa kuno.

Dalam bagian pendahuluan dari Wirataparwa kita menemukan sebuah ekspresi yang digunakan oleh seorang penulis yang tidak diketahui namanya untuk menunjukkan tujuan usahanya, yaitu mangjawakeun Byasatama – secara harfiah “ke dalam pemikiran Byasa Jawa”. Ekspresi lainnya yang ada dalam epilog adalah pinrakrta, sebuah bentuk pasif dari mrakrta, “untuk menterjemahkan certita ke dalam bahasa setempat”. Jelaslah setelah membandingkan Wirataparwa dan parwa lainnya dengan bahasa sansekerta aslinya bahwa itu semua bukanlah terjemahan, tapi agak mirip adaptasi dari teks Sansekerta, tapi secara umum para penullis Jawa menggunakan sebuah bentuk singkatan dari metrical prosa epic pada jawa kuno yang secara tepat mengikuti inti dari cerita epic tersebut”. Kecuali beberapa baris dalam prolog dan epilog, penulisan parwa tidak memasukkan tambahan lainnya ataupun membuat perubahan besar yang mengarahkan sebuah sikap independen dalam pemeliharaan mereka terhadap sumber- sumbernya.

Bagaimanapun, penulisan parwa bukanlah akhir dari pembahasa-jawaan cerita epic India. Segera setelah itu diikuti oleh proses “pembahasa-jawaan”, yang lebih dikenal Kakawin di Jawa Timur dan karya kesusasteraan lainnya dari periode yang sama. Penulisan tema kakawin diambil dari parwa merupakan suatu yang pastinya tugas yang paling terkenal untuk para penyair di Jawa timur dan setelah keruntuhan Majapahit, bagi para penyair Bali juga sama halnya. Daftar kakawin dalam catatan Pigeaud menunjukkan bahwa lebih dari setengahnya merupakan cerita pahlawan laki-laki dan perempuan dari India sebagai tokohnya (Pigeaud 1967:157-197). Bagaimanapun terdapat sebuah perbedaan besar dalam hal pemeliharaan meteri cerita dalam kakawin dan parwa. Dalam kakawin, pembahasa-jawaan hanya sebuah penggantian dari bahasa asli sansekerta seperti yang terdapat dalam parwa dan pada tingkatan yang lebih rendah Ramayana jawa kuno. Hal ini memsukkan sebuah perubahan yang lebih mendasar: perubahan dari bahasa asli India ke dalam Jawa. Semua nama raja dan tempat dimana sejarah terjadi, dan para pahlawan laki-laki maupun perempuan dalam cerita pastinya menggunakan bahasa India dan dikenal berasal dari cerita epic India. Demikian kita menemukan bahwa pada abad ke 12, kakawin Bharatayuddha pandawa dan kurawa yang sedang bertarung dalam akhir perang sodara untuk kerajaan Hastina di medan perang Kuruksetra, dan bahwa pada abad ke empat belas kakawin Arjuna, Arjuna Kartawirya sedang bertarung dengan dahsyat melawan Rawana di pinggir sungai Narmada. Zoetmulder mengatakan:

Walaupun begitu, seseorang tidak dapat keluar dari fakta bahwa cerita-cerita ini berada pada setting yang pastinya Jawa ketika membaca kakawin. Di bawah nama-nama tokoh samaran Sansekerta dan nama-nama tempat pada puisi menampilkan sebuah gambar Negara dan masyarakatnya sendiri. Laki-laki dan perempuan dengan nama-nama India ini sebetulnya adalah orang-orang jawa, berakting seperti orang Jawa, berpikir seperti orang Jawa dan hidup di dalam lingkungan orang Jawa (1974:187 – 188).

Dengan demikian mungkinlah untuk seorang penyair untu membuat sebuah puisi yang temanya diambil dari parwa, tapi pada kenyataannya, menyempaikan cerita oleh Mpu Karwa sekitar th.1030, pada umumnya diterima sebagai sebuah alusi terhadap kehidupan Raja Erlangga, seorang penguasa kerajaan Kahuripan, yang menjadi pendorong para penyair (Berg 1938). Demikian juga, para penyair lainnya mungkin telah menulis kakawin dengan pangeran tertentu, yang menjadi inspirasi dalam imaginasinya (Robson 1983:302-309). Pada jamannya tidak diragukan lagi tentang kemampuan untuk mengidentifikasi para pahlawan laki-laki dan perempuan pada kakawin dengan para raja dan putrid dimana hal ini sudah tidak mungkin lagi bagi generasi sekarang untuk mengetahui kepada siapakah para penyair itu bermaksud. Pada kenyataannya, hal ini kelihatan tidak mungkin bagi para pembaca Arjunawiwaha dari katakanlah Kadiri 1150, akan mengidentifikan Arjuna dengan Erlangga, yang oleh karenanya telah meninggal sekitar satu abad. Sepertinya lebih mungkin bagi para pembaca akan mengidentifikasi Arjuna dengan Raja Jayabhaya, penguasa Kadiri pada zamannya. Dengan demikian, para pembaca dari dua abad selanjutnya akan mengidentifikasi Arjuna dengan Raja Rajasanagara, penguasa besar pada abad ke empat belas di Majapahit. Pendek kata, Arjuna dan semua pahlaan dan musuh besar dari Bharata yang Agung dan karya kesusasteraan India lainnya berlanjut untuk dihubungkan dengan kehidupan orang Jawa pada zaman tersebut. Dalam hal ini karya-karya kesusasteraan jawa kuno menyisakan bagian upacara-upacara harian untuk waktu yang panjang setelah “candi bahasa pertama” didirikan lebih dari seribu tahun yang lalu, pada kenyataannya berlanjut seperti itu di Bali pada saat sekarang ini.

Pendirian “candi-candi bahasa” merupakan keputusan yang lebih bijak dari para penguasa Jawa daripada pembangunan “candi-candi batu”, dan bahkan lebih dari mendirikan “candi-candi emas”. Lama setelah kekayaan yang melimpah yang dikumpulkan oleh para penguasa Sriwijaya, telah lenyap, baik itu candi batu maupun candi bahasa selanjutnya untuk memfungsikan misalnya tempat untuk mencari perlindungan dan ridha dari dewa. Dan lama setelah ratusan batu candi yang meliputi pulau Jawa menjadi reruntuhan; dihancurkan oleh gempa bumi, letusan gunung berapi, kemudian menjadi tidak terawatt ditambah lagi setelah masa kedatangan Islam, sejumlah karya-karya kesusasteraan jawa kuno berlanjut menjadi sebuah sumber etika dan pembimbing spiritual bagi umat muslim kraton Jawa dan untuk penduduk jawa pada umumnya. Sudah diyakini barang tentu bahwa Candi Borobudur merupakan karya teragung dari “candi batu”, pernah terendam lumpur lebal dan pertumbuhan tropis pada abad ke Sembilan belas (Soekmono 1976:5), Raffless mengisahkan bahwa pada saat Bharatayuddha, salah satu karya besar yang paling terkenal dari jawa kuno, merupakan “puisi paling terkenal dan dihargai dalam bahasa jawa” (1965:410). Hal ini masih sama keadaannya di Bali pada saat ini, dimana orang-orang masih bermeditasi di dalam “candi-candi bahasa”.

Kepustakaan
Ardika, I.W. and P.S. Bellwood 1991 Sembiran: the beginnings of Indian contact with Bali. Antiquity 65:221-232.

Barret Jones, A.M.1984 Early tenth century Java from the inscriptions: a study of economic, social and administrative conditions in the first quarter of the century. Verhandelingen van het Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde 107. Dordrecht-Holland: Foris Publications.

Bellwood, P.S.1985 Prehistory of the Indo-Malaysian archipelago. Sydney: Academic Press.

Berg, C.C.1938 De Arjunawiwaha, Er-langga’s levensloop en bruiloftslied? Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 97:19-94.

Bernet Kempers, A.J.1980 The reliefs and the Buddhist texts. In Proceedings of the International Symposium on Chandi Borobudur, pp.92-105. Tokyo: Executive Committee for the International Symposium on Chandi Borobudur.

Blust, R. 1980 Early Austronesian social organization. Current Anthropology 21:203-247.

Casparis, J.G. de 1950 Inscripties uit de cailendra-tijd. Bandung: A.C. Nix.

1956 Prasasti Indonesia II: selected inscriptions from the 7th to the 9th century A.D. Bandung: N.V. Masa Baru. 1975 Indonesian palaeography: a history of writing in Indonesia from the beginning to c.A.D. 1500. Leiden: E.J. Brill. 1990 Some notes on relations between central and local government in ancient Java. In D.G. Marr and A.C. Milner (eds) Southeast Asia in the 9th to 14th centuries, pp.49-63. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies and Canberra: Research School of Pacific Studies, The Australian National University, Canberra.

Chhabra, B.Ch. 1965 Expansion of Indo-Aryan culture during Pallava rule (as evidenced by inscriptions). Delhi: Munshi Ram Manohar Lal.

Coedès, G. 1968 The Indianized states of Southeast Asia. Canberra: Australian National University Press.

Damais, L.C. 1949 Epigrafische aantekeningen: centraal gezag of koninkrijkjes? Tijdschrift voor Indische Taal-, Land-, en Volkenkunde 83:1-26.

Fox, J.J. 1990 The ordering of generations: change and continuity in Old Javanese kinship. In D.G. Marr and A.C. Milner (eds) Southeast Asia in the 9th to 14th centuries, pp.315-326. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies and Canberra: Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Gonda, J. 1973 Sanskrit in Indonesia. New Delhi: International Academy of Indian Culture. [2nd ed.]

Goody, J. 1968 Introduction. In J. Goody (ed.) Literacy in traditional societies, pp.1-26. Cambridge: Cambridge University Press.

Goris, R. 1954 Prasasti Bali, 2 vols. Bandung: N.V. Masa Baru.

Gough, K. 1968 Implications of literacy in traditional China and India. In J. Goody (ed.) Literacy in traditional societies, pp.70-84. Cambridge: Cambridge University Press.

Hall, D.G.E. 1981 A history of South-east Asia. 4th ed. London: Macmillan.

Hall, Kenneth R. 1985 Maritime trade and state development in early Southeast Asia. Honolulu: University of Hawaii Press.

Holt, Claire 1967 Art in Indonesia: continuities and change. Ithaca: Cornell University Press.

Hooykaas, C. 1958 The Old Javanese Rāmāyaṇa: an exemplary kakawin as to form and content. Verhandelingen der Koninklijke Nederlandse Akademie van Wetenschappen, Afdeeling Letterkunde, vol. 65, no. 1.

Juynboll, H.H.
1912 Wirāṭaparwa: Oudjavaans prozageschrift. ’s-Gravenhage: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Martinus Nijhoff.

Keith, A.B. 1956 A history of Sanskrit literature. London: Oxford University Press.

Krom, N.J. 1927 Barabudur: archaelogical description. 2 vols. The Hague: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Martinus Nijhoff.

Kulke, H. 1990 The early and the imperial kingdom in Southeast Asian history. In D.G. Marr and A.C. Milner (eds) Southeast Asia in the 9th to 14th centuries, pp.1-22. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies and Canberra: Research School of Pacific Studies, The Australian National University.

Leur, J.C. van 1967 Indonesian trade and society: essays in Asian social and economic history. The Hague: W. van Hoeve Publishers.

Mabbett, I.W. 1977 The ‘Indianization’ of Southeast Asia: reflection on the historical sources. Journal of Southeast Asian Studies 8:143-160.

Naerssen, F.H. van 1977 The economic and administrative history of early Indonesia. In F.H. van Naerssen and R.C. de Iongh (eds) The economic and administrative history of early Indonesia. Leiden: E.J. Brill.

Pigeaud, Th.G.Th. 1960-63 Java in the fourteenth century: a study in cultural history, 5 vols. The Hague: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Martinus Nijhoff.

1967 Literature of Java: catalogue raisonné of Javanese manuscripts in the Library of the University of Leiden and other public collections in the Netherlands, vol. I. The Hague: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Martinus Nijhoff.

Raffles, T.S. 1965 The history of Java. Kuala Lumpur: Oxford University Press [reprint of 1817].
Raghu Vira 1936 The Virāṭaparvan, being the fourth book of the Mahābhārata. Poona: Bhandarkar Oriental Research Institute.

Robson, S.O. 1980 The Rāmāyaṇa in early Java. South East Asian Review 5:5-19.

1983 Kakawin reconsidered: toward a theory of Old Javanese poetics. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 139:291-319.

Sarkar, H.B. 1971-72 Corpus of the inscriptions of Java, 2 vols. Calcutta: Firma K.L. Mukhopadhyay.

Soekmono, R. 1976 Chandi Borobudur: a monument of mankind. Assen/Amsterdam: van Gorcum. 1979 The archaeology of Central Java before 800 A.D. In R.B. Smith and W. Watson (eds) Early South East Asia: essays in archaelogy, history and historical geography, pp.457-472. New York: Oxford University Press.

Srinivas, M.N. 1956 A note on Sanskritization and westernization. The Far Eastern Quarterly 15:481-496.

1966 Social change in modern India. Berkeley: University of California Press.

1989 The cohesive role of Sanskritization and other essays. Delhi: Oxford University Press.

Stutterheim, W. 1933 Iets over raka en rakryan naar aanleiding van Sindok’s dynastieke positie. Tijdschrift voor Indische Taal-, Land- en Volkenkunde 73:159-171.

1989 Rāma-legends and Rāma-reliefs in Indonesia. New Delhi: Indira Gandhi National Centre for the Arts/ Abhinav Publications [translation of 1925].

Supomo, S. 1977 Arjunawijaya: a kakawin of mpu Tantular. The Hague: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Martinus Nijhoff.

1979 The image of Majapahit in later Javanese and Indonesian writing. In A. Reid and D.G. Marr (eds) Perceptions of the past in Southeast Asia, pp.171-185. Singapore: Heinemann Educational Books (Asia).

Takakusu, J. 1966 A record of the Buddhist religion as practised in India and the Malay Arhipelago (A.D. 671-695) by I-tsing. Delhi: Munshiram Manoharlal. [reprint of 1896].

Vogel, J.Ph. 1918 The yūpa inscriptions of King Mūlavarman from Koetei (East Borneo). Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 74:216-218.

Wheatley, P. 1961 The golden Khersonese: studies in the historical geography of the Malay Peninsula before A.D. 1500. Kuala Lumpur: University of Malaya Press.

Winstedt. R.O. 1977 A history of classical Malay literature. Kuala Lumpur: Oxford University Press (Oxford in Asia Historical Reprints edition).

Wisseman Christie, J. 1983 Raja and rama: the classical state in early Java. In L. Gessick (ed.) Centres, symbols and hierarchies: essays on the classical states of Southeast Asia, pp.9-44. Yale University Southeast Asia Studies: Monograph Series 26.

1990 Negara, mandala, and despotic state: images of early Java. In D.G. Marr and A.C. Milner (eds) Southeast Asia in the 9th to 14th centuries, pp.65-93. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies and Canberra: Research School of Pacific Studies, Australian National University, Canberra.

Wolters, O.W. 1970 The fall of śrīvijaya in Malay history. London: Lund Humphries.

1982 History, culture, and region in Southeast Asian perspectives. Singapore: Institute of Southeast Asian Studies.

Zoetmulder, P.J. 1974 Kalangwan: a survey of Old Javanese literature. The Hague: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en Volkenkunde, Martinus Nijhoff.

1982 Old Javanese-English dictionary. ’s-Gravenhage: Koninklijk Instituut voor Taal-, Land- en-Volkenkunde, Martinus Nijhoff.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/99/397/penyansekertaan-jawa-dan-pembahasajawaan-kisah-bharata

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar