Jumat, 19 Maret 2010

Tondowongso Vs Gurah: Perbandingan Ikonografis Arca

Oleh : Lisa Ekawati

1. Lokasi
Di wilayah Kecamatan Gurah terdapat dua lokasi temuan arkeologi yang cukup penting dan letak kedua lokasi tersebut tidak berjauhan. Di Dusun Tondowongso, Desa Gayam, Kecamatan Gurah (Kediri – Jawa Timur) pada awal tahun 2007 telah dihebohkan dengan temuan sejumlah arca dan struktur bata yang berukuran cukup panjang. Temuan tersebut ditemukan di lahan milik tiga orang warga desa Gayam, yaitu pak Kiran (warga Desa Adan-Adan), Pak Munawar (Sekdes. Gayam), dan bapak H. Suryani (warga Desa Gayam). Sebagian situs berada di wilayah Dusun Tondowongso yang terletak di sebelah selatan, dan sebagian lagi di sebelah utara yang masuk wilayah Dusun Sumber Petung.

Secara geografis letak Dusun Tondowongso ini dibatasi oleh Desa Tiru Lor yang terletak di sebelah selatan, Desa Semanding di sebelah barat, dan Desa Adan-Adan yang terletak di sebelah utara dan timur. Atau pada koordinat 0,7º47’25,4’’ L.S dan 112º0,8’32,8’’ L.S. pada ketinggian 320 meter dengan akurasi 7 meter. Sementara itu 200 meter ke arah selatan dari Dusun Tondowongso ini pada tahun 1957 di Dusun Sentul, Desa Tiru Lor pernah juga ditemukan sejumlah arca dan struktur bata di lahan milik pak Said.

Dalam artikel singkat ini akan diuraikan adanya arca-arca dari kedua tempat tersebut yang memiliki kemiripan, yaitu Brahmā, Candra, Sūrya, dan Nandi dan Yoni. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut:



2.1 Arca-arca dari Candi Tondowongso
2.1.1 Brahmā
Brahmā inidigambarkan duduk sila di atas padmāsana ganda. Bertangan empat, kedua tangan depan masing-masing diletakkan di atas lutut. Ibujari dan kelingking tangan kanan saling bertemu dan ketiga jari tangan yang lain lurus, sedang telapak tangan kiri terdapat padma. Dua tangan yang di belakang, tangan kanan belakang memegang aksamala dan tangan kiri memegang camara.

Arcaberkepala 4 ini memakai jaţāmakuta dan terdapat hiasan berupa candrakapāla. Jamang berupa pita lebar yang dihias dengan motif persegi berderet dengan hiasan simbar. Memakai anting panjang hingga bahu dengan hiasan yang menggantung berupa ceplok bunga. Perhiasan kalung susun dua berupa untaian manik-manik dan kalung bermotif sulur-sulur melebar dan meruncing ke tengah dada, menggantung hingga dada. Selempang menggantung di bahu kiri berupa kain, dan untaian manik-manik yang menggantung hingga pangkuan dan terdapat gesper di dada sebelah kiri. Ikat dada yang dipakai berupa tali dan untaian mutiara yang melebar ke tengah. Uncal tergerai di samping badan tokoh dan disimpulkan berupa pita. Kelat bahu dihias dengan ceplok bunga, gelang tangan berupa tali dan untaian mutiara, serta memakai dua buah gelang berupa untaian mutiara. Arca ini dibuat dari batu dan berukuran tinggi keseluruhan 82 cm, tinggi arca 65 cm, lebar 53 cm, dan tebal 40 cm.

Keadaan arca tidak utuh, pada lutut dan bagian bahu sebelah kiri, pipi kiri kepala arca pecah, raut muka bagian belakang tampak seperti belum selesai dikerjakan. Alis hanya berupa goresan, mata agak terbuka, hidung mancung dan bibir tertutup. Sandaran arca berbentuk persegi hingga bahu.



2.1.2 Candra
Candra atau dewa bulan dianggap sebagai lambang kesuburan Di dalam mitologi diceritakan bahwa Candra dihubungkan dengan Soma dalam pengadukan air susu/amerta. Arca Candra di Situs Tondowongso ini ada dua buah. Salah satu diantaranya terletak di dekat arca Suryā dan Nandi, dan yang lain terletak di dinding pagar keliling sebelah timur.

2.1.2.1 Candra 1
Arca digambarkan duduk sila dengan kaki kiri di atas kaki kanan pada padmasana ganda. Bertangan dua, tangan kanan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka dan terdapat kuncup padma, sedang tangan kiri di atas lutut kiri. Mempunyai rambut ikal dan panjang rambut sampai bahu. Hiasan kepala berupa jaţāmakuta dengan hiasan sulur-sulur dan ceplok bunga berbentuk oval dan bulat yang ditempatkan selang-seling. Jamang agak lebar berupa untaian mutiara dan dihias dengan roset. Memakai anting panjang hingga bahu dan ujungnya terdapat ceplok bunga.

Kalung agak lebar berupa sulur-sulur meruncing ke tengah dan dibawahnya terdapat hiasan untaian mutiara yang menggantung. Untaian ini juga terdapat pada kelatbahu. Kelatbahu berbentuk pita dengan simbar yang dihias sengan motif sulur. Gelang siku agak lebar juga berupa untaian mutiara dihias dengan ceplok bunga, dan sebuah gelang tangan dari untaian mutiara. Selempang kain menggantung di bahu sebelah kiri hingga pinggang. Selain itu juga terdapat untaian mutiara yang menggantung hingga lapik dan pada untaian tersebut terdapat motif ceplok bunga serta gesper memanjang berupa sulur-sulur terletak di dada kirinya.. Uncal tergerai di atas pangkuan dan sampur yang berbentuk pita yang diikatkan di pinggang. Wajah tampak tenang, mata agak terbuka alis tipis, hidung mancung dan bibir biasa agak tersenyum.
Di belakang arca terdapat hiasan bulan sabit dan pita yang ujungnya mengarah ke atas. Selain itu juga terdapat prabha berbentuk agak oval, dan sandaran arca yang sisinya sejajar agak mengecil ke bawah dan bagian atas agak melengkung. Arca dibuat dari batu dengan ukuran tinggi keseluruhan 77 cm, tinggi arca 59 cm, lebar 49 cm dan tebal 30 cm.

2.1.2.2 Candra 2
Arca Candra yang terletak di dinding pagar langkan sebelah timur ini digambarkan duduk sila dengan kaki kiri di atas kaki kanan pada lapik padma ganda. Mempunyai dua tangan, tangan kanan di atas pangkuan dan di atasnya terdapat kuncup padma dan tangan kiri di atas lutut kiri. Wajah tenang, alis tipis agak dikerut, hidung mancung, dan bibir biasa. Memakai jaţāmakuta, dan jamang dihias dengan untaian mutiara dan motif roset. Rambut ikal terurai hingga lengan. Anting panjang dengan hiasan yang menggantung berupa ceplok bunga. Kalung susun dua berupa untaian mutiara dan sulur-sulur agak lebar meruncing ke tengah.

Selempang kain bermotif dan agak lebar menggantung di bahu sebelah kiri hingga pinggang. Ikat dada berupa untaian mutiara susun dua dengan motif ceplok bunga di tengah. Kelat bahu dengan hiasan ditengah berbentuk antefiks dengan motif suluran, gelang siku berbentuk tali dihias dengan ceplok bunga dan dua susun gelang tangan dari untaian mutiara. Uncal tergerai di atas kedua kaki dengan hiasan ceplok bunga di bagian ujungnya. Sampur diikat berbentuk pita di pinggang. Memakai kain polos dan panjang kain hingga mata kaki. Arca ini juga memakai penutup kemaluan (badong) berupa sulur. Di belakang arca terdapat hiasan bulan sabit agak lebar dibanding dengan arca Candra yang terdapat di dekat Surya. Sandaran arca berbentuk agak bulat dan sandaran arca pada bagian atas berbentuk bulat telur menyatu dengan arca. Ukuran arca yang dapat diketahui : tinggi keseluruhan 80 cm, tinggi arca 60 cm, lebar 48 cm, tebal 19 cm.




2.1.3 Sūrya
Sūrya yang juga dikenal dengan nama dewa matahari yang dalam kitab Weda disebut sebagai sumber panas dan sinar. Seringkali Sūrya disamakan dengan Sawitri atau Aditya. Di India, Sūrya dipuja sebagai dewa kesuburan yang diberi lambang swastika sebagai prototipe cakra atau roda. Menurut kitab Purana, Sūrya digambarkan bertangan dua, masing-masing tangan memegang teratai dan duduk di atas padmasana. Mengendarai kereta yang ditarik oleh tujuh ekor kuda yang dikendalikan oleh Aruna di sebelah kanan Sūrya. Sūrya juga ada yang digambarkan bertangan empat, salah satu tangannya memegang tali kekang, 2 tangan diantaranya memegang teratai dan tangan lainnya dalam sikap varadahasta.

Namun penggambaran arca Sūrya dari Tondowongso ini tidak mengendarai kereta. Ia digambarkan duduk bersila di atas padmasana ganda. Kedua tangan diletakkan di atas kedua lutut, dan telapak tangan kanan terbuka dan di atasnya terdapat padma, sedang tangan kiri dengan jari-jari ditekuk memegang sampur. Memakai jaţāmakuta dengan hiasan roset. Rambut ikal terurai di lengannya. Anting menggantung hingga bahu dengan hiasan roset. Kalung berupa sulur-sulur agak lebar meruncing ke tengah dan menggantung hingga dada. Ikat dada berupa sulur-sulur agak lebar di tengah. Hiasan tangan berupa kelatbahu dengan hiasan roset berbentuk segitiga tinggi, gelang lengan berupa untaian mutiara dengan roset, serta tiga susun gelang mutiara. Uncal tergerai di atas pangkuan dan pada bagian ujungnya terdapat hiasan roset. Di belakang arca terdapat śiraścakra dengan sisi sejajar dan prabha berbentuk bulat telur. Sandaran arca dengan sisi-sisi sejajar melengkung di bagian atas. Tokoh ini mempunyai ukuran tinggi keseluruhan75 cm, tinggi lapik 14 cm, lebar 47 cm, dan tebal 30 cm.

2.1.4 Nandi
Di Situs Tondowongso ini terdapat dua buah arca Nandi yang lokasi penemuannya berbeda. Salah satu di antaranya letaknya dekat dengan arca Candra dan Sūrya; sedang Nandi yang lain berada pada deretan arca-arca yang ditemukan di dinding pagar keliling sebelah timur.

2.1.4.1 Nandi 1
Arca Nandi yang terletak dekat arca Candra dan Sūrya digambarkan duduk dengan kedua kaki bagian depan dilipat ke belakang di atas lapik padma ganda. Tanduk berdiri agak ke belakang dan daun telinga berbentuk agak bulat. Kepala tegak ke depan dan mata terbuka. Ekor terlipat ke depan dengan ujung rambut ekor mengarah ke atas menempel di paha sebelah kanan. Pada bagian mulutnya dihias dengan untaian berbentuk persegi dengan motif ceplok di bagian atas. Memakai ikat perut berupa rantai dengan untaian ceplok bunga. Nandi tersebut dibuat dari batu putih dan berukuran tinggi 63 cm, panjang 90 cm, tinggi arca 47 cm, lebar arca 45 cm. Arca dalam keadaan utuh dan halus sekali penggarapannya. Posisi arca ini waktu ditemukan menghadap ke selatan.

2.1.4.2 Nandi 2
Nandi ini merupakan salah satu arca yang ditemukan di dinding pagar keliling yang terletak di sebelah timur. Arca digambarkan duduk di atas lapik padma ganda (tipis) dengan kaki kanan ditekuk ke depan dan kaki kiri depan ke belakang. Berpunuk agak tinggi dan daun telinga agak panjang, dan bagian bawah daun telinga bergelombang. Memakai ikat pada bagian mulut berupa untaian mutiara dan ikat perut berupa suluran. Ekor dilipat ke kanan dengan ujung rambut menempel di paha sebelah kanan. Nandi ini dibuat dari batu andesit dan berukuran panjang 87 cm, lebar 40 cm dan tinggi 42 cm. Kerusakan arca terdapat pada bagian kepala dan tanduk sebelah kanan hilang



2.1.5 Yoni
Yoni di Tondowongso ini ditemukan di dalam suatu bilik yang dibuat dari batu putih dan penggarapannya sangat rapih dan halus sekali. Cerat Yoni menghadap ke timur dan di bawah cerat terdapat hiasan kepala naga. Di bagian leher naga terdapat kalung berupa untaian biji-biji yang melebar di tengah dan di atas kepala terdapat hiasan suluran. Yoni ini berukuran tinggi 28 cm dan panjang sisi-sisinya berukuran 31 x 31 cm; di bagian tengah Yoni berbentuk agak bulat dan sandaran arca pada bagian atas berbentuk bulat telur menyatu dengan arca terdapat lubang berukuran 10 x 10 cm dan dalam lubang 16 cm. Pada umumnya Yoni sebagai salah satu unsur bangunan candi diletakkan di dalam bilik candi, dan sebagai pasangannya biasanya diletakkan lingga di atas lubang Yoni.



2.2 Arca-arca dari Candi Gurah
2.2.1 Brahmā
ArcaBrahmā ini ditemukan dalam bilik candi yang berukuran 3,20 x 3 meter. Arca dalam keadaan utuh ini berukuran tinggi 76 cm, lebar 50 cm dan tebal 42 cm. Digambarkan dalam sikap duduk bersila di atas padmasana ganda. Memiliki empat wajah yang digambarkan dalam keadaan santa,mata agak tertutup, hidung mancung, bibir sedang, alis tipis-lurus dan berjenggot. Bertangan empat, dua tangan di depan di atas lutut dengan telapak tangan terbuka, di atasnya terdapat ceplok bunga; sedang kedua tangan yang di belakang masing-masing memegang tasbih di sebelah kanan dan camara di sebelah kiri.

Hiasan kepalanya berupa jaţāmakuta yang dihias dengan motif suluran dan memakai jamang berupa pita lebar dihias dengan untaian manik-manik dan antefiks yang distilir. Juga memakai hiasan telinga berupa anting panjang dengan motif ratnakundala. Rambut ikal tergerai hingga lengan atas. Memakai kalung dengan hiasan suluran melebar ke tengah, kelat bahu berupa untaian manik-manik dengan hiasan antefiks bermotif roset. Memakai gelang siku berupa untaian manik-manik yang dihias dengan bentuk simbar yang distilir. Gelang tangan (2 buah) berupa untaian manik-manik dan tali polos. Memakai upawita dengan gesper di dada dan menggantung hingga paha, memakai ikat perut dan sampur yang diikat berbentuk pita di tengah dan di tata rapih di atas pangkuannya.

2.2.2 Sūrya
Arca ini berukuran tinggi 77 cm, lebar 50 cm, dan tebal 40 cm yang ditemukan di dalam candi perwara dua. Keadaan arca utuh, digambarkan dengan wajah santa mata agak tertutup, alis melengkung, hidung mancung, dan mulut biasa. Arca Sūrya ini digambarkan duduk bersila di atas padmasana ganda menempel pada sandaran arca dan di belakang kepala arca terdapat prabha. Memiliki dua tangan yang diletakkan di atas lutut dengan telapak tangan menghadap ke atas, dan di atas telapak tangan terdapat ceplok bunga. Memakai jaţāmakuta yang dihias dengan motif suluran, memakai jamang berupa pita lebar dengan hiasan untaian manik-manik dan antefiks dengan motif roset. Kedua telinganya memakai anting panjang berupa patrakundala.

Rambut ikal tergerai di belakang punggung. Perhiasan yang dipakai berupa kalung melebar ke tengah dan menutupi dada. Ikat dada berupa untaian tali polos, dibawahnya terdapat hiasan girlande untaian manik-manik dengan gesper berupa roset di tengah. Ikat pinggang berupa tali polos. Kelatbahu berupa untaian tali dan manik-manik di bawahnya terdapat girlande untaian manik-manik dan dihias dengan bentuk simbar berhias roset. Juga memakai gelang siku berupa untaian tali polos terdapat hiasan untaian manik-manik yang menggantung dan hiasan roset. Gelang tangan dan gelang kaki berupa untaian manik-manik. Kain yang dipakai tebal dan panjang kain hingga mata kaki. Uncal menggantung di atas kedua pahanya. Sampur disimpulkan di samping (belakang pinggang) dan ujung sampur tergerai di atas padmasana. Arca Sūrya ini juga tidak mengendarai kuda.

2.2.3 Candra
Arca Candra ini juga dalam keadaan utuh, wajah tenang, mata setengah terbuka, alis tipis, hidung mancung, dan mulut biasa. Ukuran arca tinggi 80 cm, lebar 50 cm, dan tebal 40 cm. Digambarkan duduk bersila di atas padmasana ganda berbentuk lonjong. Memiliki dua tangan, yang sebelah kanan diletakkan di atas pangkuan dengan telapak tangan terbuka dan di atas telapak tangan terdapat padma, sedang tangan kiri diletakkan di atas lutut kiri dengan telapak tangan terbuka dan di atas telapak tangan juga terdapat padma. Arca tersebut memakai jaţāmakuta yang dihias dengan motif suluran. Memakai jamang berbentuk pita lebar yang dihias dengan untaian manik-manik dan hiasan simbar yang distilir.

Hiasan telinga berupa anting panjang berupa patrakundala. Hiasan kalung melebar ke tengah dihias dengan motif suluran dan roset di tengah. Upawita berbentuk untaian manik-manik menggantung di bahu sebelah kiri hingga paha. Ikat dada berupa tali polos yang dihias dengan girlande untaian manik-manik. Ikat perut berupa tali polos. Kelatbahu berupa untaian manik-manik dengan hiasan simbar berupa suluran dan hiasan girlande untaian manik-manik. Gelang tangan dan gelang siku juga berupa untaian manik-manik, tetapi pada gelang siku terdapat hiasan simbar yang distilir. Gelang kaki juga berupa untaian manik-manik dan terdapat hiasan simbar yang distilir.

Kain panjang tebal dan panjang kain hingga mata kaki. Uncal tergerai di atas paha, dan sampur disimpulkan di samping badan dan ujung sampur tergerai di atas padmasana. Sandaran arca melengkung pada bagian atas dan sisi-sisinya sejajar.

2.2. 4 Nandi
Arca Nandi ini juga ditemukan dalam candi perwara dua berukuran panjang 90 cm, tinggi 50 cm dan lebar 43 cm. Arca tersebut digambarkan duduk (jerum) di atas lapik padmasana ganda berbentuk persegi panjang. Kedua kaki depan masing-masing dilipat ke belakang. Tanduk agak condong ke depan dan berpunuk. Ekor dilipat ke depan dengan ujung ekor di samping kanan. Telinga mendatar dan agak kecil. Pada moncong dan perutnya terdapat hiasan berupa pita lebar yang dihias dengan motif simbar yang distilir.

3. Pembahasan
Lokasi Candi Gurah tidak jauh dari lokasi penemuan arca-arca Tondowongso sekitar 200 meter ke arah selatan. Pada tahun 1957 tinggalan arkeologi di Candi Gurah ini ditemukan ketika seorang penduduk bernama bapak Said sedang menggali tanahnya untuk membuat sumur. Kemudian ekskavasi di candi tersebut dilakukan pada tahun 1958 dan tahun 1959. Dari hasil penelitian ini di antaranya telah ditemukan struktur bata yang terdiri dari candi induk menghadap ke barat dan tiga buah candi perwara di depannya menghadap ke timur, candi patok, dan fragmen prasasti.

Temuan arca dari kedua lokasi tersebut yang mempunyai persamaan adalah arca Brahmā, Candra, Sūrya, Nandi, dan Yoni. Arca Brahmā dari Gurah ditemukan dalam bilik candi perwara paling utara. Arca Candra, Sūrya, dan Nandi dari Gurah terdapat di dalam bilik candi perwara tengah; sedang Yoni terdapat di dalam bilik candi perwara paling selatan. Arca Brahmā di Tondowongso juga terdapat dalam fondasi berukuran kecil yang terletak di sisi utara. Arca Candra dan Sūrya terletak berjajar menghadap ke timur, dan di belakang kedua arca tersebut terdapat Nandi dengan kepala menghadap ke selatan. Kemungkinan ketiga arca ini juga terdapat dalam satu candi kecil/perwara yang terletak di tengah. Sedang Yoni tampak masih utuh berada di dalam bilik candi perwara dengan cerat menghadap ke timur, terletak di sebelah selatan. Cara penempatan arca-arca di kedua lokasi tersebut dapat dikatakan sama, meskipun bangunan tempat arca Candra, Sūrya, dan Nandi dari Tondowongso ini belum jelas bentuknya.

Penggarapan arca Tondowongso pada umumnya halus dan arca-arca tersebut dapat dikategorikan raya seperti halnya dengan arca-arca yang ditemukan di Candi Gurah. Namun arca-arca dari Tondowongso dan Gurah berbeda dalam penggarapannya. Pada arca Brahmā dari Candi Gurah secara keseluruhan sempurna dan halus, sedang pada arca Brahmā dari Situs Tondowongso kepala bagian belakang belum selesai dikerjakan. Hiasan makuta pada arca Brahmā dari Candi Gurah dihias dengan motif ceplok bunga dan pada arca dari Situs Tondowongso terdapat hiasan candrakapāla. Bentuk hiasan candrakapāla pada makuta biasanya dijumpai pada perwujudan dewa Siwa sebagai Harihara dan Ardhanari. Yang menarik dari arca ini adalah sikap tangannya. Tangan kanan arca Brahmā dari Tondowongso diletakkan di atas lutut dengan ibu jari dan jari kelingking saling bertemu, sedang ketiga jari tangan yang lain lurus; dan tangan kiri membawa padma (teratai mekar). Sikap tangan seperti ini belum pernah dijumpai pada arca-arca yang lain.

Arca Brahmā dari Candi Gurah keduanya diletakkan di atas lutut dan masing-masing tangan membawa padma. Selain itu yang menarik lainnya adalah jenggot yang tampak pada arca Brahmā Candi Gurah, sedang pada arca Brahmā Tondowongso tidak ada. Satu lagi perbedaan pemahatan dari kedua arca ini adalah bentuk kuņdikānya. Kuņdikā pada arca Brahmā Candi Gurah berbentuk silinder, sedang kuņdikā Brahmā dari situs Tondowongso membulat dengan cerat menghadap ke depan dan di sekeliling cerat dihias dengan kelopak bunga.

Mengenai arca Brahmā yang berjenggot dari Gurah ini, Soekmono menganggap sebagai arca Agastya. Ia telah membandingkan dengan arca Mahayogi yang diduga sebagai Agastya dari Candi Merak (Soekmono 1998: 17). Namun pendapat ini tidak disetujui oleh Satyawati Suleiman, dikatakan bahwa arca Agastya tidak pernah berlengan atau berkepala empat, jadi arca tersebut tetap sebagai Brahmā. Ia juga keberatan bila Brahmā yang dikenal sebagai salah satu dari dewa Trimurti ditempatkan di dalam bilik candi perwara ( Suleiman 1985: 211-212).

Salah satu arca Candra yang terletak dekat arca Sūrya di belakang kepalanya terdapat hiasan pita yang berkibar ke atas. Bentuk hiasan ini mengingatkan pada arca-arca Singasari. Perbedaan pemahatan arca Candra dari situs Tondowongso dengan Candra dari Candi Gurah adalah pada padmanya. Pada arca Candra dari Tondowongso padmanya hanya diletakkan di tangan sebelah kanan saja, sedang di Candi Gurah terdapat pada kedua telapak tangannya. Posisi tangan sebelah kiri arca Candra dari Tondowongso diletakkan di atas lutut (salah satu diantaranya memegang sampur); sedang yang dari Gurah tangan kirinya diletakkan di atas lutut dengan telapak tangan menghadap ke atas dan di atasnya terdapat padma.

Hiasan padma pada arca Sūrya dari Tondowongso hanya pada tangan sebelah kanan, tangan sebelah kiri diletakkan di atas lutut dan memegang sampur. Arca Sūrya dari Gurah hiasan padma terdapat pada kedua telapak tangan yang diletakkan di atas lutut. Hiasan bunga mekar/kuncup yang terdapat di tangan arca-arca tersebut melambangkan pelepasan jiwa. Kedua arca Nandi dari Tondowongso mempunyai perbedaan pada daun telinganya. Nandi yang diletakkan dekat dengan candi berdaun telinga agak membulat, sedang yang terdapat di dinding sebelah timur berdaun telinga memanjang dan bagian bawah daun telinganya bergelombang. Nandi dari Candi Gurah daun telinganya agak membulat. Bentuk tanduk arca Nandi Candi Gurah condong ke depan, sedang di Tondowongso condong ke belakang. Bentuk badan Nandi dari Tondowongso agak tambun sedang dari Candi Gurah memanjang.

Yoni dari Tondowongso memiliki cerat agak panjang dan ramping. Pada bagian tubuh Yoni di bagian tengah ramping dan ada bidang yang agak lebar. Hiasan naga di bawah cerat Yoni agak ramping dan panjang, mata kecil, daun telinga kecil, bermahkota dan memakai kalung. Rambutnya ikal dan panjang. Yoni dari Candi Gurah memiliki cerat lebih pendek dan gemuk. Pada bagian tubuh tambun, tidak ada bidang yang melebar, dan banyak pelipitnya. Naga yang terdapat di bagian bawah cerat pendek, mata besar, daun telinga besar, memakai anting, dan kalung.

4.Penutup
Perbedaan dalam pemahatan arca itu menunjukkan adanya peran serta si seniman/pemahat dalam mengekspresikan kreativitasnya. Disinilah jatidiri si seniman tampak. Namun apa makna dari perbedaan itu yang perlu dicari jawabannya. Ada beberapa hal yang menunjukkan persamaan ciri-ciri arcanya, yaitu penggarapan arca sangat halus, rambut ikal dan panjang rambut hingga punggung atau lengan, perhiasan yang dikenakan raya, sampur yang disimpulkan di samping badan tokoh berbentuk pita, juga hiasan padma mekar di tangannya. Padma yang mekar dianggap sebagai pelepasan jiwa.

Adanya persamaan dan perbedaan beberapa arca yang ditemukan di kedua lokasi tersebut, yang perlu diketahui adalah bagaimana susunan arca-arca itu dalam tata ruang masing-masing bangunan. Juga bagaimana hubungan antara arca-arca dan bangunan yang ada di Candi Tondowongso dengan yang ada di Candi Gurah. Mengingat letak antara kedua candi tersebut berdekatan tidak menutup kemungkinan kedua candi yang ditemukan di Kecamatan Gurah tersebut merupakan sebuah bangunan yang luas dari jaman kerajaan Kadiri. Namun pada masa pemerintahan raja siapa yang belum dapat diungkapkan.

Oleh karena itu kedua lokasi tersebut sangat penting dilakukan penelitian, dan perlu kerjasama yang lebih intensif antara berbagai instansi terkait untuk bersama-sama mengungkap warisan sejarah kerajaan Kadiri yang tampaknya sekarang mulai bermunculan, khususnya di wilayah Kecamatan Gurah. Potensi tinggalan arkeologi di wilayah Kecamatan Gurah ini tampak sekali cukup tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan pendataan kembali tentang benda-benda cagar budaya khususnya di wilayah tersebut. Pendataan ini juga dapat dilakukan melalui penginderaan jarak jauh (foto udara). Manfaat dari pendataan ini dapat melihat seberapa luas wilayah kerajaan Kadiri yang ada di Kecamatan Gurah tersebut.

Daftar Pustaka
Bernet Kempers, A.J., 1959. Ancient Indonesian Art. Amsterdam: C.P. J. van der Peet.

Gupte, R.S. ,1972. Iconography of the Hindhus, Buddhists and Jains. Bombay. D.B. Taraporevala Sons & Co. Private Ltd.

Hardiati, Endang Sri, 1990. Laporan Penelitian Situs Kepung, Kediri Jawa Timur. No. 40. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

----------------------- 2005. Candi Singosari Sebuah Peninggalan Masa Singasari. Museum Nasional.

Maulana, Ratnaesih, 1977. Ikonografi Hindu. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.

Rao, T.A. Gopinatha 1968., Elements of Hindu Iconography. 2. N.D.: Motilal Banarsidas.


Sumber : http://arkeologijawa.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar