Minggu, 18 April 2010

Apa yang Terjadi pada Majapahit?

Hari pertama di Trowulan, Mojokerto Jawa Timur. Sore ini matahari pulang dalam kesempurnaan. Cahayanya lembayung. Di antara siluet gubug-gubug pembakaran batu bata, senjakala meredup berganti malam. Apa yang terjadi pada Majapahit? Pertanyaan ini muncul manakala kami tiba di Trowulan. Tempat kami berdiri adalah sebuah tempat, Watesumpak. Kami bertemu dengan Pak Maksun, Pak Kahar, Pak Kuswari, mereka adalah penemu dan penjaga situs ini. Pak Maksum baru saja selesai menyapu halaman situs. Sebuah tempat, yang terdapat reruntuhan bangunan terakota, sejenis keramik atau gerabah yang dibuat dari tanah merah, bahan baku batu bata. Pada bangunan reruntuhan itu terukir hiasan.

Mas Paidi adalah satu di antara yang kami temui. Dia pemuda asal Mojokerto, Mas Paidi lah yang mengantar kami sampai di situs Watesumpak. Ada yang unik dari pemuda ini, ke mana-mana dia selalu membawa “pacarnya” sebuah kamera video merk Panasonic type MD 9000. Pada kesempatan ini, mas Paidi juga membawa serta sahabatnya, Mbak Widya, fotografer lulusan IKIP Mojokerto. Mbak Widya lulus dari Fakultas Olahraga, tetapi kecintaan pada Fotografi membawanya pada kegiatan-kegiatan pendokumentasian situs Trowulan bersama Mas Paidi.

Pertemuan pertama ini menciptakan banyak obrolan. Terutama berkaitan dengan situs Watesumpak. Situs ini ditemukan oleh pak Maksum dan kawan-kawannya pada Selasa Wage, 28 Oktober 2008 pukul 16.00 wib. Pak Maksum sempat bercerita perihal awal penemuan situs ini. Biasanya penemuan Candi atau bangunan bersejarah selalu diawali dari ketidak sengajaan. Mas Kahar menceritakan sumur-sumur yang terdapat di sekitar Watesumpak. Mas Kahar Pak Maksum dan orang-orang yang kami temui di Watesumpak adalah pembuat batu bata di Trowulan. Dan Tempat yang kami kunjungi itu adalah “studio” mereka.

Watesumpak awalnya adalah pemakaman, yang terlihat sebagai gundukan bukit kecil. Orang-orang di sekitarnya mengkeramatkan areal pemakaman semacam itu. Dan di Trowulan ini, banyak sekali gundukan-gundukan tanah yang dikeramatkan. Pada hari-hari tertentu banyak orang datang untuk ngalap berkah, mencari wangsit dan laku spiritual. Mereka datang dari berbagai kota. Bahkan dari luar Jawa. Nampak bunga-bunga bertebaran di sekitar situs.

Bau klenik terasa sekali di tempat seperti ini. Sebelum tiba di tempat ini, kami sempat datang ke Kolam Segaran, Candi Tikus, Candi Bajang Ratu, Candi Kedaton dan PIM (Terimkasih atas sambutannya yang lumayan membuat kami bingung). Di Candi Kedaton kami sempat melihat lokasi penelitian dan pemugaran situs Candi Kedaton. Bahkan kami diberikan kesempatan untuk melihat dan memotret kerangka manusia yang ditemukan di petilasan Kedaton. Ada tiga tengkorak dan pecahan-pecahan terakota serta keramik. Kondisinya mengenaskan. Hanya ditumpuk di gudang yang terbuat dari seng. Bau klenik juga terasa di tempat ini. Tumpukan bunga kering terdapat di atas kotak kayu darurat yang dibuat untuk tiga kerangka itu. Ada kain Mori yang sudah lusuh. Penjaga situs menuturkan kepada kami, mengapa penggalian tersebut tidak diteruskan.Sungguh mengenaskan. Para peneliti tidak lagi memiliki dana untuk melanjutkan penggalian dan peneltian. Hampir dua tahun ini situs terbengkalai.

Malam hari, bulan sabit menggantung di atas langit Trowulan. Kami sempatkan untuk keluar sejenak dari situs Trowulan. Kami bertemu dengan Mas Yogi, seorang pengiat 'Swara Majapahit'. Pertemuan kami berlangsung di komunitas Girilaja (Baca: Giri Laya) yang dikepalai oeh mas Irwan. Sebuah Warung kopi yang enak untuk duduk ngobrol dan berdiskusi.

Mas Yogi menyampaikan kondisi Trowulan. Persoalan-persoalan yang sering dihadapi komunitas penggiat sejarah dan kebudayaan di Trowulan adalah menghadapi sistem birokrasi yang membingungkan. Tetapi yang menarik adalah cerita mas Yogi berkaitan dengan Swara Majapahit-nya. Untuk memaknai dan menyelamatkan sejarah Majapahit adalah sama dengan ntrepeske sandal, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan butuh perjuangan luar biasa. Pertemuan mas Yogi dan Mas Paidi melahirkan semangat baru bagi mas Yogi. Memang menjadi perjalanan panjang ketika Mas Yogi dkk melahirkan Swara Majapahit, kuncinya harus sabar dan kuat membekali diri dengan semangat dan niat baik. Dari cerita kawan-kawan yang kami temui itu, kami menjadi heran. Kenapa peneliti-peneliti harus bingung untuk melanjutkan penelitan akademiknya? Hanya karena tiada dana? Sementara beberapa anggota masyarakat di Trowulan ini, bermodal kesadaran dan semangat mulai menjalani kata hati untuk terus bergerak menyelamatkan apa saja yang dapat mereka dokumentasikan dan sampaikan ke masyarakat luas.

Kami kembali ke situs Watesumpak untuk berkemah di hamparan padang yang tersebar gubug-gubug pembuatan batu bata. Di bawah perkemahan kami, terkandung berjuta kubik terakota peninggalan Majapahit. Kami termenung, jika situs Trowulan yang terdata merupakan situs besar berukuran 11 x 9 kilometer persegi, berapa juta kibik batu bata yang dibutuhkan untuk membangun kota Trowulan di masa Majapahit? Berapa tanah yang dibutuhkan untuk membangun kota ini? Berapa manusia kreatif, tukang dan arsitek, ahli tata kota dan cerdik pandai yang terlibat dalam pembangunan kota ini? Situasi macam apa yang terjadi pada masa itu? Pernah terdengar sebaris kalimat, gemah ripah loh jinawi adil makmur kerta raharja, betulkah itu terjadi pada masa itu sehingga ada sebuah negara yang mampu mendirikan kota semacam ini? Lantas dari mana dan berapa biaya yang dikeluarkan untuk membangun kota besar pada abad itu? Bukan hanya Trowulan, ekspedisi Pamalayu berhasil mempersatukan kepulauan Nusantara. Majapahit tentunya menjadi cerita besar, tidak mustahil mencapai masa kejayaan seperti itu. Sebab tanah Jawa adalah tanah yang subur, budaya agraris dan kelautan menjadi pilar utama ekonomi, mengidupi relasi sosial dan kebudayaan. Menguatkan tatanan politik dan hubungan internasional.

Tetapi kami masih gelisah di tanah lapang pembelajaran ini. Satu pertanyaan besar kembali muncul, menggantung bersama bulan sabit di atas langit Trowulan. Apa yang terjadi pada Majapahit? Kini kami hanya menjumpai reruntuhan. Maka kami mencari jawabannya dengan ngobrol asyik dengan batu-batu andesit dan terakota yang tersebar di Trowulan ini...

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/98/id/495

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar