Tampilkan postingan dengan label Arsitektur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Arsitektur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 18 April 2010

Arsitektur dalam Sejarah dan Budaya Nusantara

Apa yang kemudian muncul dalam benak kita ketika mebaca sebaris kalimat di atas?. Satu hal yang pasti adalah; pikiran kita akan melayang kepada bentuk-bentuk bangun ruang rumah-rumah adat dan peribadatan yang ada di seluruh Nusantara, benak kita kemudian akan memutar kembali semua memori yang berkaitan dengan bentuk-bentuk tersebut, sampai ke hal paling kecil yang mampu di ungkap kembali oleh ingatan kita. Tapi ada satu hal yang kurang apabila kita berbicara mengenai arsitektur dalam konteks Sejarah dan Budaya Nusantara, karena arsitektur dalam Sejarah dan Budaya Nusantara bukan hanya berupa sebuah bentuk rekayasa bangun-ruang saja, karena dari unsur-unsur bangun ruang yang terpapar dalam arsitektur di Nusantara diindikasikan mengandung berbagai aspek yang kemudian melatar belakangi munculnya bentuk bangun-ruang seperti yang kita kenal saat ini, dan aspek-aspek tersebut tidak hanya berbicara mengenai hukum konstruksi dan nilai estetis semata, melainkan juga nilai-nilai yang cakupannya lebih luas dan lebih dalam.

Untuk sekedar membuka ruang-ruang indikasi dari pemaknaan atas bangun-ruang arsitektur Nusantara masa lalu, saat ini dapat dilakukan dengan menggunakan parameter metodologi budaya yang baku digunakan saat ini. menurut ilmu sosial dan budaya, sebuah hasil kebudayaan dapat dilacak dari 2 (dua) unsur utama pembentuk kebudayaan, yaitu manusia dan alam. Irisan antara manusia dan alam kemudian membentuk sebuah ruang yang kemudian disebut sebagai ruang binaan, didalam ruang inilah kemudian budaya-budaya diciptakan untuk mengatasi masalah manusia dan alam, masalah antara manusia dengan manusia dan manusia dengan lingkungannya, bahkan sebuah budaya diciptakan untuk memecahkan masalah budaya yang muncul sehingga dalam masing-masing lingkaran kosmis tersebut kemudian muncul banyak parameter-pareameter yang menyertainya, seiring semakin bertambahnya pengetahuan manusia dalam mengindentifikasi parameter-parameter tersebut.

Yang menarik kemudian dari metodologi budaya tersebut dalam budaya nusantara adalah dengan ditambahkannya sebuah ruang kosmos yang meliputi ruang alam, manusia dan alam binaan. Dalam banyak hasil karya, karsa dan cipta manusia-manusia Nusantara masa lalu selalu menambahkan unsur transcendental, unsur ke-ilahian. Indikasi-indikasi ini dapat dilihat secara nyata dalam beberapa bentuk budaya yang masih tersisa hingga saat ini, salah satunya dari bangun ruang arsitektur Nusantara.

Pembagian ruang, konstruksi dan ragam hias dalam bangun ruang arsitektur di Nusantara selain menyatakan fungsi juga menyatakan ajaran-ajaran hidup. Ajaran-ajaran hidup yang berkenaan dengan kehidupan yang selaras dengan alam dan konsepsi ke-Ilahian tersebut terpapar sampai ke unsur-unsur terkecil dalam bangun ruang arsitektur Nusantara.

Ketika sebuah rumah panggung dibaca sebagai sebuah ruang binaan bentuk dari singgungan antara manusia dan alam untuk menghindari binatang buas, gempa, dan curah hujan yang tinggi, maka dalam arsitektur nusantara ada indikasi lain yang menyatakan bahwa bagian paling dasar dari rumah panggung merupakan representasi dari dunia bawah, sementara bagian badan rumah sebagai dunia tengah, dan atap rumah sebagai dunia atas, tempat bersemayamnya para leluhur dan dewa representasi puncak sebuah gunung yang diyakini sebagai tempat suci. Tempat-tempat suci dan peribadatan sejak dari jaman proto-sejarah pun memiliki struktur tersebut. Dan struktur dengan tingkatan-tingkatan dan tiap tingkatan memiliki makna tersebut tidak kemudian menjadi hilang, bahkan tetap dapat dikenali dengan jelas pada tempat-tempat peribadatan dan bangunan suci lainnya, pun terhadap candi yang diyakini merupakan kebudayaan yang datang dari India.

Hal lain yang menarik dan patut dicermati dalam kontruksi dan tata letak arsitektur di nusantara adalah selalu tersedianya ruang publik yang selalu muncul dalam berbagai bentuk dan tempat dalam bangun ruang arsitektur Nusantara. Tata kota, tata desa dan tata ruang dalam rumah di seluruh Nusantara selalu menyediakan sebuah ruang khusus yang kemudian disebut sebagai ruang publik, sebuah ruang dialog diantara para penghuninya. Disinyalir, pada ruang-ruang publik inilah budaya dialog dilahirkan dan dikembangkan yang merupakan embrio dari budaya tutur.

Kini, nilai-nilai tersebut telah mengalami pergeseran seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia. Sistem ekonomi, industri, teknologi dan informasi yang melanda dunia secara global perlahan namun pasti mulai menempati nilai-nilai terdahulu. Ruang kontemplasi, ruang publik kemudian digantikan dengan nilai baru. Dari efisiensi sampai argonomis konstruksi, dari kelayakan sampai menjangkau keindahan dan dari ketahanan hingga menyentuh nama keabadian itu sendiri.

Seperti halnya bentuk-bentuk kebudayaan lainnya yang ada di Nusantara, saat ini kita, sebagai bangsa pewaris Nusantara nyaris sudah kehilangan, apabila tidak mau disebut sebagai sebuah kehilangan yang sesungguhnya, nilai-nilai kearifan lokal yang memuat berbagai informasi mengenai berbagai macam aspek hidup dan kehidupan nenek moyang Nusantara hingga dalam konteks arsitektur pada masa lalu, diobrak-abrik dengan pisau bedah kebudayaan luar (barat). Lebih naas lagi kemudian kita disuguhi hasil keluaran pandangan-pandangan mereka, sadar atau tidak sadar kita mengiyakan dengan apa yang telah diungkapkan, karena sejatinya kita sendiri juga kebingungan. Apa yang ada sekarang hanyalah merupakan bentuk-bentuk kulit dari kearifan-kearifan yang sesungguhnya. Sebagai sebuah contoh, saat ini kita tidak mengenal cara membaca sebuah relief atau ragam hias dari sedikit jejak arsitektur Nusantara, yang dapat kita lakukan saat ini hanyalah sekedar menerka makna dari relief dan ragam hias tersebut, itupun dengan menggunakan perspektif keilmuan dari barat. Ironis, kita disuguhkan rendang Padang oleh koki dari luar negeri, cara mengolahnya, dan bahkan sebagian bahannya pun dari luar negeri dan kita dipaksa untuk meyakini bahwa makanan tersebut adalah rendang asli Padang.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/97/id/588

Sabtu, 20 Maret 2010

Arsitektur Tradisional Suku Bangsa Lore, (Sulawesi Tengah)

Oleh : Ali Gufron

Lore adalah salah satu suku bangsa yang ada di Sulawesi Tengah. Suku bangsa Lore mendiami daerah pegunungan di sebelah utara dan di sekitar Lembah Bada yang dikelilingi oleh pegunungan di sebelah selatan wilayah Kabupaten Poso, Provinsi Sulawesi Tengah. Masyarakatnya mengembangkan desain rumah yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Rumah bagi masyarakat Lore, tidak hanya berfungsi sebagai tempat berlindung dari dinginnya udara malam, teriknya sinar matahari, dan derasnya air hujan, tetapi juga memiliki fungsi lain yang sangat erat kaitannya dengan kondisi sosial-budaya mereka. Oleh karena itu, selaras dengan fungsinya, mereka mengenal dan mengembangkan berbagai jenis rumah. Tulisan ini mengetengahkan arsitektur tradisional orang Lore yang ada di Lembah Bada, Kecamatan Lore Selatan.

Jenis-jenis Rumah Tradisional orang Lore di Lembah Bada
Jenis-jenis rumah orang Lore yang ada di Lembah Bada, di antaranya adalah: rumah tempat tinggal, rumah ibadah, dan rumah tempat menyimpan. Berikut ini akan diuraikan ketiga jenis rumah tradisional tersebut.

a. Rumah Tempat Tinggal
Rumah tempat tinggal Suku Lore di Lembah Bada, baik tempat tinggal raja bangsawan maupun orang kebanyakan (rakyat biasa), disebut dengan tambi. Perbedaan antara tambi raja, bangsawan dan rakyat jelata terletak hanya pada bubungan rumah, yakni ada atau tidaknya kepala/tanduk kerbau. Tanduk kerbau yang ada di bubungan hanya ada pada tambi milik raja dan bangsawan saja, sedangkan pada rumah orang kebanyakan tidak dibenarkan memasang tanduk atau kepala kerbau.

Secara umum tambi yang ada di Lembah Bada ini berukuran antara 5x6 meter persegi hingga 6x9 meter persegi, bergantung dari kemampuan pemiliknya. Di dalam tambi hanya terdapat sebuah ruangan yang disebut lobona, dan tidak memiliki kamar-kamar. Lobona berfungsi sebagai ruang tamu di kalangan keluarga. Di sekeliling lobona, sepanjang dinding tambi terdapat asiri yang berfungsi serba guna. Selain dipergunakan sebagai tempat tidur yang dibatasi oleh sampiran, asiri dapat pula berfungsi sebagai wadah untuk menyimpan benda pusaka atau barang berharga lainnya.

Pada bagian tengah lobona terdapat rapu (dapur), berbentuk segi empat kecil berukuran 1x1,5 meter persegi. Selain sebagai tempat untuk memasak, rapu juga digunakan sebagai alat penerangan pada waktu malam hari atau alat pemanas ruangan pada saat musim dingin. Pintu tambi terbuat dari selembar papan yang tidak disambung, berukuran 90x120 sentimeter persegi yang tebalnya kadang-kadang hingga 5 sentimeter.

Tangga rumah tambi berbentuk segi empat. Jumlah anak tangganya antara 3, 4 atau 5, bergantung tinggi-rendahnya banggunan. Atap tambi berbentuk seperti piramida yang membentuk siku 45 derajat. Pada bagian depan tambi adakalanya terdapat serambi yang ukuran panjangnya sekitar 3 meter dan lebarnya mengikuti lebar tambi.

a. Rumah Ibadah
Rumah Ibadah yang terdapat di Lembah Bada adalah gereja dan masjid. Bangunan gereja yang ada di tempat itu bukanlah bangunan tradisional. Bangunan ini dahulu adalah rumah seorang Pendeta Belanda bernama Wundereght, yang menetap di Desa Boma. Setelah Pendeta Wundereght meninggal dunia, rumah kediamannya dipindahkan ke Gintu dan pada tahun 1955 diubah menjadi gereja. Susunan ruangannya terdiri dari serambi depan, ruang tempat beribadah dan konsistory.

Sebelum Pendeta Wundereght meninggal dunia, tempat ibadah umat Kristen yang merupakan mayoritas di Lembah Bada (97,7%) adalah di sekolah-sekolah darurat yang didirikan oleh missi Zending. Rumah ibadah ini diberi nama tambi ponemba, yang berarti “rumah pemujaan”.

Masjid yang ada di Lembah Bada, tepatnya di daerah Gintu didirikan pada tahun 1977. Masjid ini digunakan oleh umat Islam yang jumlahnya hanya sekitar 2,3% dan tersebar pada 14 desa di Kecamatan Lore Selatan.

b. Rumah Tempat Penyimpanan
Di daerah Lembah Bada, rumah tempat menyimpan (buho) tidak hanya dipergunakan sebagai lumbung padi saja, tetapi juga dapat dipakai sebagai tempat untuk menerima tamu dan sebagai tuana mahile (tempat persidangan untuk mengadili tindak pidana). Di tempat itu pula sering berlangsung upacara adat seperti peminangan.

Bangunan buho berbentuk panggung yang pada tiap ujungnya terdapat tiang penopang atap. Tiang tersebut umumnya terbuat dari kayu balimbi yang berbentuk bundar (delapa) dan berdiameter sekitar 10 sentimeter. Buho ini dibagi menjadi dua bagian (dua tingkat). Bagian atas dibuat berdinding dan digunakan sebagai tempat menyimpan padi (lumbung). Pintu masuk ke lumbung biasanya terdapat di bagian tengah atau samping bangunan. Sedangkan, bagian bawahnya tidak diberi dinding dan berfungsi sebagai tempat untuk menerima tamu, tempat tuana mahile, dan dapat pula sebagai tempat melaksanakan upacara adat seperti peminangan.

Sumber : http://uun-halimah.blogspot.com

Arsitektur Tradisional Rumah Adat Bangsa Melayu-Bengkulu

Oleh : Presty Larasati

Dalam bahasa Melayu-Bengkulu, rumah tempat tinggal dinamakan juga rumah. Rumah tradisional Bengkulu termasuk tipe rumah panggung. Rumah panggung ini dirancang untuk melindungi penghuninya dari banjir. Di samping itu, kolong rumah panggung juga dapat dipergunakan untuk menyimpan gerobak, hasil panen, alat-alat pertanian, kayu api, dan juga berfungsi sebagai kandang hewan ternak. Bentuk rumah panggung Melayu ini terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain:

Bagian Atas
Bagian atas rumah adat Melayu Bengkulu ini terdiri dari:

1. atap, terbuat dari ijuk, bambu, atau seng;
2. bubungan, ada beberapa bentuk;
3. pacu, plafon dari papan atau pelupuh;
4. peran, balok-balok bagian atas yang menghubungkan;
5. tiang-tiang bagian atas;
6. kap, kerangka untuk menempel kasau;
7. kasau, untuk mendasi reng;
8. reng, untuk menempel atap;
9. listplang, suyuk, penyunting.

Bentuk bagian atas ini akan terlihat pada bubungan yang dibuat. Beberapa jenis bubungan antara lain:

* bubungan lima

bubungan limas



bubungan haji (bubungan sembilan)




bubungan jembatan


bubungan gabungan lima dan jembatan



Bagian Tengah
Bagian tengah rumah adat Melayu Bengkulu ini terdiri dari:

1. kusen, kerangka untuk pintu dan jendela;
2. dinding, terbuat dari papan atau pelupuh;
3. jendela, bentuk biasa dan bentuk ram;
4. pintu, bentuk biasa dan bentuk ram;
5. tulusi (lubang angin), sebagai ventilasi, biasanya di atas pintu dan jendela, dibuat dengan berbagai ragam hias;
6. tiang penjuru;
7. piabung, tiang penjuru hal;
8. tiang tengah;
9. bendu, balok melintang sepanjang dinding.

Bagian Bawah
Bagian bawah rumah adat Melayu Bengkulu ini terdiri dari:

1. lantai, dari papan, bambu, atau pelupuh;
2. geladak, dari papan 8 dim dengan lebar 50cm dipasang sepanjang dinding luar di atas balok;
3. kijing, penutup balok pinggir dari luar, sepanjang keliling dinding;
4. balok (besar), kerangka untuk lantai yang memanjang ke depan;
5. tailan, balok sedang yang berfungsi sebagai tempat menempelkan lantai;
6. blandar, penahan talian, melintang;
7. bedu, balok diatas sebagai tempat meletakkan rel;
8. bidai, bambu tebal yang dipasang melintang dari papan lantai, untuk mempertahankan dari tusukan musuh dari bawah rumah;
9. pelupuh kamar tidur, sejajar dengan papan lantai (di atas bidai);
10. lapik tiang, batu pondasi tiang-tiang rumah;
11. tangga depan dan belakang.

Susunan Ruang
Rumah tempat tinggal memilki fungsi dalam kehidupan. Ada pun susunan dan fungsi ruang pada rumah adat Melayu Bengkulu ini adalah:



1. Berendo
Tempat menerima tamu yang belum dikenal, atau tamu yang hanya menyampaikan suatu pesan (sebentar). Selain itu juga dipergunakan untuk relaks pada pagi atau sore hari. Bagi anak-anak, berendo juga sering dipergunakan untuk bermain congkak, karet, dan lain-lain.

2. Hal
Ruang untuk menerima tamu yang sudah dikenal baik, keluarga dekat, atau orang yang disegani. Ruangan ini juga digunakan untuk tempat cengkrama keluarga pada malam hari, ruangan belajar bagi anak-anak, dan sewaktu-waktu ruang ini digunakan untuk selamatan atau mufakat sanak famili.

3. Bilik gedang
Bilik gedang atau bilik induk merupakan kamar tidur bagi kepala keluarga (suami-istri) serta anak-anak yang masih kecil.

4. Bilik gadis
Biasanya terdapat pada keluarga yang memiliki anak gadis, merupakan kamar bagi si anak gadis. Selain untuk tidur juga digunakan untuk bersolak. Bilik gadis biasanya berdampingan dengan bilik gedang, demi keamanan dan kemudahan pengawasan terhadap anak gadis mereka.

5. Ruang tengah
Biasanya dikosongkan dari perabot rumah, dan di sudutnya disediakan beberapa helai tikar bergulung karena fungsi utamanya adalah untuk menerima tamu bagi ibu rumah tangga atau keluarga dekat bagi si gadis. Di samping itu, ruang tengah sering dipakai sebagai tempat belajar mengaji. Bagi keluarga yang tidak memilki kamar bujang tersendiri, kadang-kadang dipakai untuk tempat tidur anak bujang.

6. Ruang makan
Tempat makan keluarga. Pada rumah kecil biasanya tidak terdapat ruang makan, mereka makan di ruang tengah. Bila ada tamu bukan keluarga dekat, maka untuk mengajak tamu makan bersama digunakan hal, bukan di ruang makan.

7. Garang
Tempat penyimpanan tempayan air atau gerigik atau tempat air lainnya, juga dipakai untuk tempat mencuci piring dan mencuci kaki sebelum masuk rumah atau dapur.

8. Dapur.
Ruangan untuk memasak.

9. Berendo belakang
Serambi belakang, tempat relaks bagi kaum wanita pada siang atau sore hari, melepas lelah setelah mengerjakan tugas, tempat mengobrol sambil mencari kutu.

Sebenarnya, selain rumah adat Melayu-Bengkulu, di Bengkulu juga terdapat rumah adat yang lain seperti rumah Umeak Potong Jang (Rumah Buatan Rejang) yang merupakan umeakan (rumah kuno) asli Rejang (salah satu suku di Bengkulu), rumah Kubung Beranak milik bangsawan Rejang Pesisir, rumah Patah Sembilan yang merupakan rumah tradisional rakyat biasa suku bangsa Rejang Pesisir.

Referensi
Achmad, Ramli, dkk. 1992. Koleksi Miniatur Rumah Tradisional Suku Bangsa Rejang dan Melayu Bengkulu Museum Negeri Provinsi Bengkulu. Bengkulu: Depdikbud Propinsi Bengkulu.

Museum Negeri Propinsi Bengkulu , 1993. Koleksi miniatur rumah tradisional suku bangsa Rejang dan Melayu Bengkulu, Museum Negeri Provinsi Bengkulu. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Pembinaan Permuseuman Bengkulu, Bengkulu,

Sumber : http://prestylarasati.wordpress.com

Arsitektur Tradisional Bali

Oleh : Wisnu Budiarso

Abstract
Traditional architecture in Bali originates from two sources. One is the great Hindu tradition brought to Bali from India via Java. The second is an indigenous architecture pre-dating the Hindu epic and in many ways reminiscent of Polynesian building. There is a developed Balinese science of geomancy written in the ancient palm leaf manuscripts. This is known as Kosala-kosali. The science of building is held to be a sacred knowledge and traditional Balinese architects who might also be rice farmers were known by the distinguished title of undagi. Using such natural materials as thatch roofing, bamboo poles, woven bamboo, coconut wood, mud and stone they are organic statements in complete harmony with the environment. Many of these are temporary such as the offering houses set up before harvest in the rice fields. Others use trees that will actually keep on growing as the bamboo rots and returns to the mother earth.

Pendahuluan
Manusia , Arsitektur, dan Alam Semesta
Manusia Bali dan alam semesta adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan, begitu pula dengan arsitekturnya. Manusia Bali tradisional tinggal di sebuah perkampungan yang ditata dengan pola-pola tertentu mengikuti kaidah-kaidah tertentu yang mengacu pada alam semesta, yaitu kaidah arah angin kaja-kelod, kauh-kangin, dan kaidah Sumbu Utama Gunung Agung yang diyakini sebagai tempat bersemayamnya para dewa dan leluhur suci mereka.

Makrokosmos dan Mikrokosmos
Masyarakat Bali sangat percaya bahwa dirinya hidup di dunia membawa misi hidup untuk membuat kebaikan di muka bumi, dan bila kebaikannya diterima oleh Sang Hyang Widi maka dirinya menyatu dengan alam semesta dan meninggalkan dunia yang fana untuk moksa menuju nirwana, alam semesta dan bersatu dengan dewanya untuk selamanya, itulah yang disebut dharma. Namun bila manusia Bali membuat suatu kesalahan maka ketika mati dia akan melakukan reinkarnasi untuk membersihkan dosanya kembali sampai kemudian diterima oleh Tuhannya. Inilah konsep kosmologi Bali yang juga dianut dalam arsitektur Bali yang mendasarkan arsitektur pada harmoni dan keselarasan kehidupan.

Kosmologi Bali merupakan suatu hierarki yang membagi hubungan manusia Bali dengan alam semesta dalam urutan seperti sebagai berikut:

1. Bhur, alam semesta, tempat bersemayamnya para dewa.
2. Bwah, alam manusia dan kehidupan keseharian yang penuh dengan godaan duniawi, yang berhubungan dengan materialisme.
3. Swah, alam nista yang menjadi simbolis keberadaan setan dan nafsu yang selalu menggoda manusia untuk berbuat menyimpang dari dharma.

Nawa Sanga
Nawa Sanga adalah konsep 9 mata angin yang menjadi pedoman bagi kehidupan keseharian masyarakat Bali. Seperti halnya dengan mata angin arah utara-selatan yang disebut kaja-kelod, dan timur-barat yang disebut kangin-kauh. Hal ini sangat penting karena orientasi orang Bali terhadap Gunung Agung dan arah terbit matahari menjadi pedoman bagi perletakan pola perumahan pada umumnya. Utara melambangkan Dewa Wisnu, selatan Dewa Brahma, timur Dewa Iswara, dan barat Dewa Mahadewa.
Metodologi Arsitektur Bali

Arsitektur tradisional Bali tidak terlepas dari keberadaan asta kosala-kosali yang memuat tentang aturan-aturan pembuatan rumah atau puri dan aturan tempat pembuatan ibadah atau pura. Dalam asta kosala-kosali disebutkan bahwa aturan-aturan pembuatan sebuah rumah harus mengikuti aturan-aturan anatomi tubuh sang empunya pemilik rumah dengan dibantu sang undagi sebagai pedande atau orang suci yang memunyai kewenangan membantu membangun rumah atau pura.

Dalam asta kosala-kosali terdapat ukuran-ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran atau dimensi yang didasarkan pada ukuran jari-jari si pemilik rumah yang akan menempati rumah tersebut. Seperti Musti, yaitu ukuran atau dimensi untuk ukuran tangan mengepal dengan ibu jari yang menghadap ke atas. Hasta untuk ukuran sejengkal jarak tangan manusia dewata dari pergelangan tengah tangan sampai ujung jari tengah yang terbuka. Depa untuk ukuran yang dipakai antara dua bentang tangan yang dilentangkan dari kiri ke kanan.
Arsitektur dan Status Sosial

Arsitektur tradisonal Bali tidak dapat dilepaskan dari kondisi status sosial asyarakatnya. Hal ini terjadi karena masyarakat Bali sangat erat hubungan kekerabatannya terutama pada masyarakat Bali tradisional.

Masyarakat Bali sangat menghormati model hierarki kasta yang merupakan sikap hidup mereka sesuai dengan agama yang mereka anut. Dan hal ini berpengaruh pada pola ruang dan arsitektur tradisional Bali. Pembagian kasta sebagai tingkatan hierarki dalam status sosial masyarakat Bali dimulai dari yang paling bawah yaitu Sudra, sebagai masyarakat umum biasa yang kehidupan sehari-harinya bekerja sebagai petani, abdi, pembantu dan pekerjaan-pekerjaan lainnya dalam kemasyarakatan. Masyarakat sudra umumnya hidup sedehana karena mereka tidak memunyai pengetahuan yang cukup dalam ilmu pengetahuan, ilmu dagang, dan ilmu pemerintahan.

Kemudian Weisya yaitu orang-orang yang berprofesi sebagai pedagang atau pengusaha. Masyarakat kelas ini cukup mapan karena usahanya dan pengetahuannya tentang perdagangan dan ilmu hitung, sehingga kehidupannya tercukupi.

Satria adalah strata yang cukup terhormat dengan profesi sebagai prajurit kerajaan atau pegawai pemerintahan. Mereka cukup berpendidikan karenanya mereka memunyai cukup ilmu keprajuritan atau pemerintahan, sehingga mereka juga termasuk kaum berpendidikan cukup, atau setidaknya dapat mempelajari tata kenegaraan. Kehidupan kaum satria cukup mapan karena posisinya dalam masyarakat yang cukup terhormat.

Kasta yang paling tinggi adalah Brahmana, sebuah penghormatan paling tinggi masyarakat Bali bagi seorang pemimpin agama atau orang yang dianggap mumpuni dalam agama, atau juga yang disebut Pedande.

Orang suci yang telah mencapai pencerahan Sang Hyang Widhi sehingga titahnya merupakan wahyu yang dibawa dari Mahadewa. Sistem hierarki ini bahkan tertranformasi dalam sistem pola ruang pada bangunan-bangunan rumah, umum mau pun pura. Seperti istilah jaba untuk bagian paling luar bangunan, kebudian jabajero untuk mendifinisikan bagian ruang antara luar dan dalam, atau ruang tengah. Dan kebudian jero untuk mendiskripsikan ruang bagian paling dalam dari sebuah pola ruang yang dianggap sebagai ruang paling suci atau paling privacy bagi rumah tinggal.

Teknik Konstruksi dan Material
Sistem konstruksi pada arsitektur tradisional Bali mempertimbangkan konsep yang dinamakan tri angga, yaitu sebuah konsep hierarki dari mulai nista, madya, dan utama.

Nista menggambarkan suatu hierarki paling bawah suatu tingkatan, yang biasanya diwujudkan dengan pondasi bangunan atau bagian bawah sebuah bangunan sebagai penyangga bangunan di atasnya, atau dalam tiang kolom. Materialnya dapat terbuat dari batu bata atau batu gunung. Batu bata tersebut tersusun dalam suatu bentuk yang cukup rapi sesuai dengan dimensi ruang yang akan dibuat pada permukaan batu bata atau batu gunung dibuat semacam penghalus sebagai elemen leveling yang rata. Atau plesteran akhir nista juga digambarkan sebagai alam bawah atau alam setan atau nafsu.

Madya adalah bagian tengah bangunan yang diwujudkan dalam bangunan dinding, jendela, dan pintu. Madya mengambarkan strata manusia atau alam manusia.

Utama adalah simbol dari bangunan bagian atas yang diwujudkan dalam bentuk atap yang diyakini juga sebagai tempat paling suci dalam rumah sehingga juga digambarkan tempat tinggal dewa atau leluhur mereka yang sudah meninggal. Pada bagian atap ini bahan yang digunakan pada arsitektur tradisional adalah atap ijuk dan alang-alang.

Sistem konstruksi yang lain adalah sistem kelipatan dari tiang penyangga atau kolom terutama bangunan rumah tinggal atau bangunan umum. Bale sakepat adalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah empat buah, dengan konstruksi tiang kolom yang disatukan dalam satu puncak atap. Jadi tidak terdapat kuda-kuda. Bale sakenam adalah bangunan dengan tiang penyangga berjumlah enam buah dalam deretan 2 x 3 kolom.

Bale tiang sanga adalah sebuah bale (balai: red.) dengan tiang penyangga berjumlah sembilan dan biasanya dalam formasi 3 x 3. Bale sakarolas atau bale gede adalah bale dengan tiang penyangga berjumlah dua belas dan biasanya dengan formasi 3 x 4. Sedangkan wantilan yang jumlah kolomnya berjajar dalam formasi 2 x 8 atau 2 x 12 sehingga bangunan memanjang mengikuti deretan kolomnya.

Hierarki Pola Ruang Rumah Tinggal
Rumah tinggal masyarakat Bali sangat unik karena rumah tinggal tidak merupakam satu kesatuan dalam satu atap tetapi terbagi dalam beberapa ruang-ruang yang berdiri sendiri dalam pola ruang yang diatur menurut konsep arah angin dan sumbu Gunung Agung.

Hal ini terjadi karena hirarki yang ada menuntut adanya perbedaan strata dalam pengaturan ruang-ruang pada rumah tinggal tersebut. Seperti halnya tempat tidur orang tua dan anak-anak harus terpisah, dan juga hubungan antara dapur dengan tempat pemujaan keluarga. Untuk memahami hierarki penataan ruang tempat tinggal di Bali ini, haruslah dipahami keberadaan sembilan mata angin yang identik dengan arah utara, selatan, timur, dan barat.

Bagi mereka arah timur dengan sumbu hadap ke Gunung Agung adalah lokasi utama dalam rumah tinggal, sehingga lokasi tersebut biasa dipakai untuk meletakkan tempat pemujaan atau di Bali disebut pamerajan. Untuk mengetahui pola ruang rumah tradisional Bali maka sebaiknya kita mengenali bagian-bagian ruang pada rumah tinggal tradisional Bali.

1. Angkul-angkul, yaitu entrance yang berfungsi seperti candi bentar pada pura yaitu sebagai gapura jalan masuk. Angkul-angkul biasanya terletak di kauh kelod.
2. Aling-aling, adalah bagian entrance yang berfungsi sebagai pengalih jalan masuk sehingga jalan masuk tidak lurus ke dalam melainkan menyamping. Hal ini dimaksudkan agar pandangan dari luar tidak langsung lurus ke dalam. Aling-aling terletak di kauh kelod.
3. Latar atau halaman tengah sebagai ruang luar.
4. Pamerajan, adalah tempat upacara yang dipakai untuk keluarga. Dan pada perkampungan tradisional biasanya setiap keluarga memunyai pamerajan yang letaknya di kaja kangin pada sembilan petak pola ruang.
5. Umah meten, yaitu ruang yang biasanya dipakai tidur kapala keluarga sehingga posisinya harus cukup terhormat yaitu di kaja.
6. Bale tiang, sanga biasanya digunakan sebagai ruang untuk menerima tamu yang diletakkan di lokasi kauh.
7. Bale sakepat, bale ini biasanya digunakan untuk tempat tidur anak-anak atau anggota keluarga lain yang masih junior. Bale sakepat biasanya terletak di kelod.
8. Bale bangin, biasanya dipakai untuk duduk-duduk membuat benda-benda seni atau merajut pakaian bagi anak dan suaminya. Bale dangin terletak di lokasi kangin.
9. Paon, yaitu tempat memasak bagi keluarga, posisinya berada pada kangin kelod.
10. Lumbung, sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen, berupa padi, dan hasil kebun lainnya.

Kesimpulan
Arsitektur tradisional Bali merupakan produk tatanan budaya dan tradisi masyarakat Bali yang sudah ada diyakini sejak kepindahan masyarakat Hindu Majapahit akibat desakan budaya Islam Kerajaan Demak. Pengaruh agama hindu yang menghormati semesta alam dan lingkungan membawa tradisi dan penghormatan pada arsitektur tradisional di mana material alam merupakan “zat hidup” yang harus diperlakukan dengan baik dan penuh penghormatan. Upacara untuk mengawali pemakaian material untuk membangun dan budaya keseimbangan antara arsitektur dengan alam sekitarnya merupakan tradisi kearifan yang akhirnya membawa arsitektur tradisional Bali bertahan hingga ratusan tahun, dan bersinergi dengan alam lingkungannya sehingga jarang didengar adanya bencana alam di Bali yang berhubungan dengan kesalahan tata ruang dan penataan arsitektur seperti yang sering kita jumpai di kota-kota besar mau pun di pedesaan di daerah lainnya di Indonesia, yang terjadi karena pembangunan yang memaksa daya dukung lahan dan alam lingkungan. Semoga kita dapat belajar dari kearifan tata laku dan budaya masyarakat Bali dalam membangun dan menata arsitektur dan lingkungannya.

Kepustakaan
Budihardjo, Eko. 1986. Architecture Conservation in Bali. Yogyakarta:Gadjah Mada University.
Covvarubbias, Miguel. 1937. The Island of Bali. London: Oxford University Press.
Eisemen, Fred. 1999. Bali Skala and Niskala. Hongkong: Periplus.
Sweellengrebel, J.L.1947. Een Vorstenwijding of Bali. Leiden.
http://jurnal.bl.ac.id/wp-content/uploads/2007/06/skets%20wisnu%20mei%202007.pdf

Penulis adalah akademisi Program Studi Teknik Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Budi Luhur

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/368/arsitektur-tradisional-bali



Arsitektur Rumah Tinggal pada Zaman Majapahit

Oleh : Pepeng

Semua bangunan ciptaan manusia yang dimaksudkan untuk tempat berteduh, beribadah atau untuk kegiatan lainnya, sesungguhnya adalah simbol penciutan ruang yang semula dibatasi oleh bumi di bawah, langit di atas dan gunung di sisi-sisinya. Jika ciptaan alam itu maha besar maka ciptaan manusia boleh disebut maha kecil. Sebagai simbol ruang maka tiap bentuk yang diciptakan oleh manusia selalu mengandung makna tertentu. Semua ini adalah hasil ari penguasaan akan ilmu dan atau seni bangunan yang dalam bahasa asing disebut arsitektur.

Bangunan dari zaman Majapahit yang banyak ragamnya juga merupakan simbol dari zamannya, tetapi di sini hanya akan dibahas bentuk bangunannya saja; pembahasannya pun dibatasi pada bangunan rumah tinggal saja.

Sumber Penelitian Arsitektur Jawa Kuna
Untuk mengetahui bangunan kuna tersebut diperlukan sumber-sumber penelitian yang antara lain berupa:

1. Tinggalan arkeologis berupa prasasti, relief, miniatur bangunan, pondasi bangunan, masjid kuna, keraton kuna dan lain-lain.

2. Karya sastra
Naskah: Nagarakertagama tulisan Mpu Prapanca, Arjunawijaya dan Sutasoma tulisan Mpu Tantular, Lubdhaka tulisan Mpu Tanakung, Kunjarakarna tulisan Mpu Dusun, Sudamala dan Sri Tanjung (tak diketahui penulisya). Naskah dari jaman sebelum Majapahit, ialah Ramayana ditulis oleh Mpu Triguna, Sumanasantaka ditulis oleh Mpu Monaguna, Hariwangsa ditulis oleh Mpu Panuluh dan Wrttasancaya ditulis oleh Mpu Tanakung.

Berita asing: huruf musafit Cina (Ma Huan tahun 1416 menerbitkan buku Ying-yai Sheng-lan; antara lain berisi deskripsi rumah-rumah di Tuban dan penulis Eropa (Maclaine Pont, G.P. Rouffaer dan Rijkloff van Goens).

Semua sumber sastra tersebut telah memberikan deskripsi tentang bentuk rumah di Jawa. Nama bentuk rumah-rumah itu diberi istilah: umah (rumah rakyat), grha (rumah pembesar), wesma (rumah dengan dinding bambu), mahanten (rumah di pegunungan beratap meru dari bahan ijuk dan bertiang empat atau enam untuk nyepi atau memadu kasih), yasa (balai pertemuan, dindingnya berhias lukisan dan lain-lain) dan rangkang (rumah kecil untuk tempat pertemuan.

Sumber prasasti menyebut nama bangunan waruga (semacam balai; lihat teks prasasti Hantang tahun 1135 M) dan baganjing (bangunan keagamaan; lihat prasasti Plumbangan tahun 1140 M). Selain nama bangunan, prasasti juga menyebut bangunan bertiang 8 (lihat prasasti Jaring tahun 1181 M) dan bangunan bertiang 8 dari kayu kuning serta bertirai dari kain halus (prasasti Kemulan tahun 1194 M).

Bentuk Rumah
Sesungguhnya bentuk dan ukuran rumah dapat menunjukkan kelas masyarakat penghuninya. Rumah di lingkungan keraton berbeda dengan rumah untuk keagamaan dan rumah rakyat kecil. Rumah-rumah di zaman Majapahit masih memiliki bentuk sederhana. Melalui analogi perbandingan dengan relief dan bangunan lama, dapat disimpulkan bahwa bentuk dasarnya ada tiga macam yaitu tajuk, limasan dan kampung. Adapun rumah bentuk tajuk mempunyai empat tiang dan atap tajuk, rumah ini sering dipakai untuk tempat suci atau tempat ibadah. Adapun bentuk limasan dan kampung akan dibahas di bagian lain.

Rumah Tinggal
Ada dua bentuk rumah tinggal, yaitu limasan dan kampung yang datanya tampak pada relief. Penjelasan tentang bentuk rumah tinggal itu demikian:
1. Bentuk limasan ada lima macam yaitu:
limasan pokok: bertiang empat.
Limasan apitan: bertiang empat.
L;imasan bapangan: bertiang empat
Limasan traju mas: bertiang enam
Limasan sinom: bertiang delapan
2. Bentuk kampung: bertiang empat dengan atap kampung. Rumah ini umumnya dimiliki oleh rakyat.

Rumah Tradisional
Rumah tradisional Jawa yang mengandung unsur arsitektur kuna dan banyak dibuat ialah bentuk limasan dan joglo. Jika rumah ini tanpa dinding atau terbuka, maka fungsinya sebagai pendapa, yaitu tempat pertemuan. Sebelum tahun 1950 semua Lurah, Camat hingga Bupati di Jawa mempunyai rumah joglo yang terbuka untuk tempat pertemuan dengan warganya atau tempat menjamu tamu-tamu yang datang. Pada masa sekarang bangunan semacam ini masih ada di daerah-daerah kabupaten di Jawa.

Penutup
Kajian akan arsitektur rumah tinggal zaman Majapahit memang menarik, tetapi hasilnya masih bersifat hipotesis karena tidak ada bukti, atau contoh rumah Majapahit yang masih selamat hingga kini. Mengingat bahwa secara tradisional bentuk rumah itu diwariskan secara turun-temurun, maka melalui kajian etno-arkeologis atas bentuk rumah pedesaan, keraton dan masjid di Jawa, hipotesis tersebut di atas tidak akan meleset terlalu jauh.

Sumber:
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kabudayaan.

Sumber : http://aligufron.multiply.com

Arsitektur Raja Naga


Ular naga dalam arsitektur banguanan kuno umumnya dijadikan pola hias bentuk makara, yaitu pipi tangga di kanan dan kiri tangga naik ke bangunan candi yang dibentuk sebagai badan dan kepala naga: mulut naga digambarkan terbuka lebar dan lidahnya menjulur keluar dalam wujud untaian manik-manik atau mutiara. Sering pula wujud naga dipahat di bawah cerat yoni karena yoni selalu dipahat menonjol keluar dari bingkai bujur sangar sehingga perlu penyangga di bawahnya. Dari tiga peran naga yang dicontohkan di atas fungsi naga pada bangunan candi atau pada yoni tampaknya erat kaitannya dengan tugas penjagaan atau perlindungan.


Lingga-yoni

Menurut tradisi, ular naga termasuk hewan suci yang dipuja-puja oleh kelompok masyarakat Dravidia (1.500-600 SM) di India. Dalam pemujaan kepada kekuatan atau unsur alam dan hewan-hewan kekuatan air atau jiwa air diwujudkan dalam bentuk ulat, tetapi kemudian diwujudkan dalam bentuk badan manusia dengan kepala ular kobra (lihat Benjamin Rowland: The Art and Architecture of India, 1970: 49). Karena kepercayaan ini maka pada awal kebangkitannya kesenian yang bercorak Buddhis semua bangunannya dihias dengan naga dan juga yaksha yaitu raksasa sebagai penjaga candi. Bangunan candi yang dihias dengan banyak naga ialah Candi Sanchi yang dibangun oleh Dinasti Maurya (322-185 SM) dan Candi Amarawati (lihat James Ferguson: Tree and Serpent Worship in India. Delhi, 1868: 68 foto no. 4; 187 plate LXVIII – LXX.LXXVI – LXXVII.XCI – XCII).

Kepustakaan
Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1995. Aneka Ragam Khasanah Budaya Nusantara VI. Jakarta: Departeman Pendidikan dan Kebudayaan.

Sumber Foto:
http://www.thetraveladdicts.com/BlogPhotos/2000-08-31-My-Son/MVC-520S_2.JPG
http://www.geocities.com/ecovisi/YONINAGA.GIF

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/94/arsitektur-raja-naga