Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesenian. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Maret 2010

Gamelan, Orkestra ala Jawa

Oleh : Yunanto Wiji Utomo

Gamelan jelas bukan musik yang asing. Popularitasnya telah merambah berbagai benua dan telah memunculkan paduan musik baru jazz-gamelan, melahirkan institusi sebagai ruang belajar dan ekspresi musik gamelan, hingga menghasilkan pemusik gamelan ternama. Pagelaran musik gamelan kini bisa dinikmati di berbagai belahan dunia, namun Yogyakarta adalah tempat yang paling tepat untuk menikmati gamelan karena di kota inilah anda bisa menikmati versi aslinya.

Gamelan yang berkembang di Yogyakarta adalah Gamelan Jawa, sebuah bentuk gamelan yang berbeda dengan Gamelan Bali ataupun Gamelan Sunda. Gamelan Jawa memiliki nada yang lebih lembut dan slow, berbeda dengan Gamelan Bali yang rancak dan Gamelan Sunda yang sangat mendayu-dayu dan didominasi suara seruling. Perbedaan itu wajar, karena Jawa memiliki pandangan hidup tersendiri yang diungkapkan dalam irama musik gamelannya.

Pandangan hidup Jawa yang diungkapkan dalam musik gamelannya adalah keselarasan kehidupan jasmani dan rohani, keselarasan dalam berbicara dan bertindak sehingga tidak memunculkan ekspresi yang meledak-ledak serta mewujudkan toleransi antar sesama. Wujud nyata dalam musiknya adalah tarikan tali rebab yang sedang, paduan seimbang bunyi kenong, saron kendang dan gambang serta suara gong pada setiap penutup irama.

Tidak ada kejelasan tentang sejarah munculnya gamelan. Perkembangan musik gamelan diperkirakan sejak kemunculan kentongan, rebab, tepukan ke mulut, gesekan pada tali atau bambu tipis hingga dikenalnya alat musik dari logam. Perkembangan selanjutnya setelah dinamai gamelan, musik ini dipakai untuk mengiringi pagelaran wayang, dan tarian. Barulah pada beberapa waktu sesudahnya berdiri sebagai musik sendiri dan dilengkapi dengan suara para sinden.

Seperangkat gamelan terdiri dari beberapa alat musik, diantaranya satu set alat musik serupa drum yang disebut kendang, rebab dan celempung, gambang, gong dan seruling bambu. Komponen utama yang menyusun alat-alat musik gamelan adalah bambu, logam, dan kayu. Masing-masing alat memiliki fungsi tersendiri dalam pagelaran musik gamelan, misalnya gong berperan menutup sebuah irama musik yang panjang dan memberi keseimbangan setelah sebelumnya musik dihiasi oleh irama gending.

Gamelan Jawa adalah musik dengan nada pentatonis. Satu permainan gamelan komplit terdiri dari dua putaran, yaitu slendro dan pelog. Slendro memiliki 5 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 5 6 [C- D E+ G A] dengan perbedaan interval kecil. Pelog memiliki 7 nada per oktaf, yaitu 1 2 3 4 5 6 7 [C+ D E- F# G# A B] dengan perbedaan interval yang besar. Komposisi musik gamelan diciptakan dengan beberapa aturan, yaitu terdiri dari beberapa putaran dan pathet, dibatasi oleh satu gongan serta melodinya diciptakan dalam unit yang terdiri dari 4 nada.

Anda bisa melihat gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri maupun sebagai pengiring tarian atau seni pertunjukan seperti wayang kulit dan ketoprak. Sebagai sebuah pertunjukan tersendiri, musik gamelan biasanya dipadukan dengan suara para penyanyi Jawa (penyanyi pria disebut wiraswara dan penyanyi wanita disebut waranggana). Pertunjukan musik gamelan yang digelar kini bisa merupakan gamelan klasik ataupun kontemporer. Salah satu bentuk gamelan kontemporer adalah jazz-gamelan yang merupakan paduan paduan musik bernada pentatonis dan diatonis.

Salah satu tempat di Yogyakarta dimana anda bisa melihat pertunjukan gamelan adalah Kraton Yogyakarta. Pada hari Kamis pukul 10.00 - 12.00 WIB digelar gamelan sebagai sebuah pertunjukan musik tersendiri. Hari Sabtu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring wayang kulit, sementara hari Minggu pada waktu yang sama digelar musik gamelan sebagai pengiring tari tradisional Jawa. Untuk melihat pertunjukannya, anda bisa menuju Bangsal Sri Maganti. Sementara untuk melihat perangkat gamelan tua, anda bisa menuju bangsal kraton lain yang terletak lebih ke belakang.

Sumber : http://www.yogyes.com

Gamelan Sekati dari Masa ke Masa

Gamelan Sekati merupakan alat musik tabuh yang memiliki nilai sejarah panjang dan sarat akan makna. Dari masa ke masa gamelan ini setia mengiringi jejak langkah para raja di tanah Jawa. Menjadi saksi kejayaan dan keruntuhan kerajaan demi kerajaan. Menghibur manusia dari generasi terdahulu hingga kini dengan nada-nada.
Gamelan Sekati terdiri dari:

* Satu bonang (10-14 pencon) dimainkan oleh tiga perawit (pemusik).
* Satu atau dua pasang demung (sejenis saron bernada rendah).
* Empat saron panerus (saron kecil bernada tinggi), dimainkan oleh dua pengrawit.
* Satu bedug untuk tanda perubahan tempo.
* Satu set kempyang (beberapa pasang pencon).

Latar belakang permulaan Sekaten berasal dari tradisi ciptaan para raja di jaman Jawa – Hindu. Tradisi yang berupa upacara selamatan tersebut terdiri dari dua macam, yaitu: Acmavedha dan Smaradahana. Pada saat upacara Acvamedha-lah gamelan Sekati dibunyikan.

Menurut etimologi, kata ‘Sekati’ berasal dari kata ‘Sukati’ yang berarti senang hati atau bahagia. Sekati juga dapat diartikan ‘satu kati’ yaitu ukuran berat satu wilahan saron gamelan sama dengan 680 gram. Perayaan pada saat gamelan Sekati dibunyikan dinamakan Sekaten. Perayaan upacara tradisi tersebut lamanya enam hari. Pada hari ke tujuh disambung dengan upacara Sramadahana.

Pada masa Majapahit, Sekati merupakan nama dari sebuah gamelan pusaka keraton. Pada masa itu, Sekati berasal dari kata ‘sesek’ dan ‘ati’ yang berarti hati yang sedang susah. Hal ini didasarkan pada situasi kerajaan pada masa R. Angkawijaya yang bergelar Prabu Brawijaya V sebagai raja terakhir Majapahit yang sedang resah hatinya dikarenakan salah satu puteranya yang akan meruntuhkan kerajaan Majapahit yang bertujuan mendirikan kerajan Islam.

Nama putra tersebut adalah R. Praba atau R. Kasan yang setelah merapat ke Demak kemudian dikenal dengan julukan R. Yusuf atau R. Fatah. Setelah dinobatkan sebagai raja Demak, kemudian R. Fatah diberi gelar Sultan Syah Alam Akbar Sirrollah Kalifatullah Amirilmukmin Tajuddin Abdul Hamid, atau disebut Sultan Adil Surya Alam.

Kekeras-kepalaan anaknya ini membuat Prabu Brawijaya V menjadi sedih dan bimbang karena harus menghadapi anaknya sendiri sebagai lawan perang, melawan darah daging sendiri. Walaupun telah diajak berunding, R. Fatah tetap bersikeras dengan pendiriannya. Prabu Brawiaya V kemudian bertapa selama 12 hari untuk memohon petunjuk Sang Pencipta agar anaknya tidak melawan kepada bapaknya dan agar dia dapat bersama-sama menjaga situasi Negara yang sedang dilanda banyak cobaan.

Kegelisahan hati Sang Prabu diketahui oleh pejabat kerajaan. Pejabat kerajaan kemudian menyuruh para Pujangga Keraton untuk menghibur Sang Prabu dengan memainkan gamelan. Setelah dimainkan ternyata kegelisahan hati Sang Prabu kian bertambah. Oleh karena itu, Pejabat kerajaan menyuruh para pujangga untuk memukul gamelan dengan lebih keras dan iramanya lebih dinamis sehingga dapat menggugah hati Sang Prabu.Oleh karena itu, seperti yang dapat dilihat dan didengar saat ini, gamelan sekati seringkali ditabuh dengan keras dan kadang-kadang menurun merdu.

Setelah pasukan Islam Demak menyerang dan meruntuhkan Majapahit pada tahun 1478 M atau pada perhitungan candra sengkala “sirna ilang kertaning bhumi’ yang berarti sirna = 0, ilang = 0, kertaning = 4, bhumi = 1, dibaca dari belakang yang menunjukkan angka tahun 1400, gamelan Sekati pun ikut dirampas sebagai pusaka kerajaan Islam Demak oleh R. Fatah.

Tradisi sekaten kemudian dilanjutkan pada masa kerajaan Islam Demak. Perbedaannya adalah jika pada masa Majapahit dan sebelumnya, gamelan Sekati dimainkan pada upacara Hindu, maka pada masa kerajaan Islam Demak dimainkan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad dan juga untuk syiar Islam di tanah Jawa.

Setelah Demak runtuh, gamelan Sekati jatuh pada Sultan Agung Hanyakrakusuma di Mataram. Lalu diberi nama Kyai Guntur Madu yang artinya jatuhnya anugerah, (Guntur = jatuh, Madu = anugerah). Selanjutnya, ketika gamelan Sekati berada di tangan Hamengku Buwana I di Yogyakarta, sang Sultan membuat tiruan gamelan Sekati (dipun puterani) yang diberi nama Kyai Naga Wilaga yang berarti kemenangan abadi, (Naga = abadi, Wilaga = unggul dalam perang).

Pada masa ini, Sekati diartikan sebagai “syahadatain” yang artinya dua kalimat syahadat. Alur perjalanan panjang sejarah gamelan Sekati naik turun seiring situasi. Masing-masing masa diekspresikan dalam bahasa nada. Gamelan Sekati, penghibur hati para raja dan manusia-manusia Nusantara.

Kepustakaan
Yudoyono, Bambang. 1984. Gamelan Jawa: Awal Mula Makna Masa Depannya. PT.Karya Unipress: Jakarta.
Soebadyo, Haryati dkk. 2002. Indonesian Heritage: Seni Pertunjukkan. Buku Antar Bangsa: Jakarta

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/538/gamelan-sekati-dari-masa-ke-masa

Deret Kempyung dari Bandung

Oleh : Putut Tri Husodo

Priadi dwi hardjito, dosen asti bandung, menemukan kunci untuk membuka bermacam nada dari berbagai sistem musik. teori jaap kunst, gugur. berwujud sebuah rumus dalam sebuah formula deret.

GENDING Sendhon Tlutur mengalun terpatah-patah, dalam nada laras barang miring. Suara itu bukan muncul dari siter atau gambang, melainkan lewat pengeras suara sebuah komputer. Nada-nada yang muncul dari mesin pintar itu persis denting Kyai Kancil Belik gamelan tua yang tersimpan di Keraton Yogyakarta.

Sejurus kemudian, beberapa perintah baru dimasukkan. Lalu tuts komputer dimainkan. Maka, mengalunlah tembang Bubuy Bulan dalam laras pelog. Frekuensi nada yang tampil kali ini menirukan suara si Bloem, gamelan Sunda yang tersimpan di Cianjur.

"Ketepatan frekuensi nada-nadanya hampir 100 persen," kata Ir. Priadi Dwi Hardjito, yang memainkan keyboard komputer itu. Dosen Akademi Seni Tari (ASTI) Bandung itu memang punya "kunci" untuk membuka bermacam nada dari berbagai sistem musik.

Kunci yang dimiliki Priadi, 36 tahun, berwujud sebuah rumus matematik dalam suatu formula deret. Formula matematik ini mampu mempolakan interval nada berbagai sistem musik tersebut. Rumus seri nada itu, oleh Priadi, dinamakan Deret Interval Kempyung Bedantara (DIKB). "Ini karya fisika tentang bunyi," ujar alumnus Teknik Mesin ITB 1979 ini.

Formula deret Priadi itu kini sedang diuji di Laboratorium Akustik Puslitbang KIM (Pusat Penelitian dan Pengembangan alibrasi-Instrumentasi-dan Metrologi) LIPI, Serpong, Tangerang. "Sedang dimintaan pengakuan keabsahan ilmiah dan orisinalitasnya," ujarnya. Pekan lalu, DIKB itu dibawa Priadi ke forum seminar KIM di Balai Sidang, Senayan, dan mendapat perhatian besar.

Rumus deret itu memang rumit. Priadi merekrut empat parameter musik sebagai eubah (variabel) bebas untuk formula deretnya. Dengan memberikan bilangan tertentu pada formula tadi, satu oktaf nada siap dimainkan pada tuts-tuts komputer.

Pri menetapkan frekuensi nada tonika nada dasar pada sebuah oktaf, sebagai peubah bebas pertama. Nomor oktaf yang dikehendaki diangkat sebagai variabel kedua. Oktaf pertama sebuah peubah bebas untuk membangun formula deret. Lalu, nilai segmen laras slendro dan segmen Kodhok Ngorek dipasang sebagai peubah ketiga dan keempat.

Dua parameter terakhir ini memang tak akan ditemukan dalam buku musikologi mana pun. Istilah itu memang buatan Priadi sendiri. Nilai kedua peubah bebas ini diturunkan dari perhitungan jumlah interval nada pada setiap oktaf. Sistem musik pada umumnya, kata Priadi, memiliki dua segmen interval. "Ini sifat yang universal," tuturnya.

Gamelan Jawa atau musik barat, umpamanya, menurut Pri, mematuhi aturan ini. Gamelan Jawa punya lima segmen interval slendro dan dua interval pelog. Jadi, untuk memindahkan suara Kyai Kancil Belik oktaf pertama, misalnya, angka-angka yang menjadi sifat sang Kyai dimasukkan dalam perintah.

Oktaf pertama berarti nilai peubah pertama adalah satu. Peubah ketiga dan keempat, seperti lazimnya gamelan Jawa, punya nilai lima dan dua. Lalu nada tonika Kancil yang 295 Hertz disertakan. Beberapa detik setelah dimasukkan, komputer siap menirukan suara Kyai Kancil Belik dengan tujuh nada dalam satu oktafnya. Kelebihan komputer ketimbang gamelan aslinya ialah dalam jumlah oktaf. Mesin canggih ini bisa memainkan beroktaf-oktaf nada.

Pengujian tahap pertama atas formula deret itu telah dilakukan sekitar Juli-Agustus silam. Dalam uji coba itu, nada-nada produksi deret Priadi disetarakan dengan dua buah alat musik baku: sintesaiser dan gitar Ermack 17, yang memiliki 17 ruas.

"Hasilnya cukup memuaskan," kata Ir. Margana Koesoemadinata, Kepala Lab Akustik KIM. Derajat akurasi deret terhadap nada-nada sintesaiser Yamaha, yang memiliki jangkauan empat oktaf itu, mencapai 99%.

Tapi, "Untuk memperoleh keabsahan yang lebih tinggi, deret itu perlu diuji dengan musik-musik lainnya," tambah Margana. Pengujian matematis memang telah dilakukan Priadi terhadap musik Muangthai dan Burma, tapi hanya dengan data sekunder yang dihimpun pendahulunya Jaap Kunst, musikolog Belanda yang ahli dalam ilmu perbandingan musik antarbangsa.

Priadi memang berharap bahwa penemuannya itu memperoleh pengesahan ilmiah secara luas. "Saya juga menginginkan hak paten atas penemuan ini," ujarnya. Sebab, tak mustahil, deret itu bisa digunakan untuk merancang sebuah instrumen musik elektronik yang bisa merepresentasikan ratusan, bahkan ribuan sistem musik dari berbagai penjuru dunia.

Pengkajian deret yang dilakukan lebih dari 10 tahun ini rupanya memberikan hasil ikutan. Priadi menolak teori Jaap Kunst, yang meninggal 28 tahun silam. Musikolog Belanda ini, dalam teorinya, mengatakan bahwa musik Asia Tenggara -- termasuk musik Jawa, Sunda, dan Bali tak lain adalah turunan musik Cina, yang memiliki 23 nada per oktaf.

Jaap Kunst pada 1930-an membangun teori tadi dengan membandingkan nada-nada Cina terhadap 48 set gamelan slendro dan 19 set pelog, dari Sunda, Jawa, dan Bali.

Nada pertama, laras pelog Kyai Munggang gamelan koleksi Pakualaman Yogya, misalnya, memiliki frekuensi 399 Hertz. Dekat dengan nada kedua musik Cina yang 400,5 Hertz. Tapi, "Jaap Kunst mengabaikan interval antarnada," ujar Priadi. Maka, dia membuat koreksi dengan pengujian statistik baru. Ternyata, hanya 14% sampel nada dari 67 gamelan itu yang bisa digolongkan dekat dengan musik Tiongkok.

Bahkan kini Priadi yakin bahwa justru laras slendro sistem musik Sunda-Jawa-Bali merupakan induk sistematika akustik berbagai tata musik. Buktinya? Tata musik Barat, Cina, Muangthai, dan Burma bisa terangkum dalam deret yang bersandar pada laras slendro itu, "Dengan ketepatan 99%," ujar Pri.


Sumber : http://majalah.tempointeraktif.com

Sabtu, 20 Maret 2010

Bali: Modernitas v.s. Budaya Lokal

1.Pendahuluan
Dari banyaknya pulau-pulau yang tersebar di kepulauan Indonesia, Bali merupakan pulau yang paling terkenal di dunia internasional. Pulau yang terletak di sebelah Selatan garis khatulistiwa ini memiliki luas wilayah sekitar: panjang 80 km dan lebar 150 km yang menyerupai bentuk ikan. Peradaban mencatat bahwa Bali memiliki mikrokosmos yang luar biasa tentang sejarah, legenda, kesusasteraan, seni, alam, dan manusianya itu sendiri.

Bali merupakan rantai terakhir dari jajaran pulau-pulau tropis yang subur di Indonesia. Di sebelah Timur pulau Bali, sepanjang selat Lombok yang memisahkan Bali dengan pulau Lombok, terlihat garis perbedaan dimana flora dan fauna dari ras sub-tropis berganti menjadi beragam flora dan fauna dari ras Australasia.Dari sisi ekologi, "Australasia" adalah sebuah kawasan yang mempunyai sejarah evolusi yang seragam dan sejumlah flora dan fauna yang hanya dapat ditemukan di kawasan Australia, Pulau Irian dan pulau-pulau di sekitarnya, termasuk Pulau Lombok dan Sulawesi serta pulau-pulau di Indonesia yang berada di sebelah timur kedua pulau tersebut.. Garis bayangan pemisah Australasia dengan Asia adalah Garis Wallace – Kalimantan dan Bali berada di sebelah barat, yaitu di Asia.

Di satu sisi tanah hijau yang subur, di sisi lain tanah coklat; di satu sisi terdapat kera, tupai, berbagai macam burung, di sisi lain terdapat reptil besar dan kakatua. Pulau yang menawan hati ini dibelah oleh sungai, kanal, dan lembah yang dibungkus oleh hutan dan hamparan sawah dengan ujung pantai-pantai yang indah; dihiasi oleh danau yang mengisi sisa kawah gunung berapi, keindahan-keindahan tersebut memperlihatkan sebuah dataran dimana khayalan berpadu dengan kenyataan.


Masyarakat Bali dalam salah satu perayaan keagamaan

Pada abad ke-15 M, ketika kerajaan Majapahit dikalahkan oleh kerajaan Mataram yang bercorak Islam, ratusan orang Jawa-Hindu dari berbagai kelompok; bangsawan, rohaniawan, seniman, cendekiawan dan rakyat biasa yang notabene orang-orang setia Majapahit mengungsi ke pulau tetangga yaitu Bali.
Hal yang menonjol di Bali adalah visi keyakinan yang menginspirasi setiap jiwa yang hidup di Bali untuk memanfaatkan alam dengan bijak; kreatifitas manusianya dalam berbagai bidang seperti: teknik mematung, tarian, arsitektur, musik dan berbagai ekspresi kesenian lainnya.

2. Kehidupan Sosial dan Budaya


Pandita sebagai strata tertinggi

Tatanan sosial di Bali dibangun atas pembagian strata sosial yang dibagi ke dalam:
1. Brahma, merupakan strata tertinggi yang diisi oleh para rohaniawan.
2. Ksatria, merupakan strata yang diisi oleh para bangsawan dan pejabat kerajaan
3. Waisya, merupakan strata yang diisi oleh para prajurit dan pedagang
4. Sudra, strata untuk masyarakat biasa.

Meski bergelut dengan hantaman arus globalisasi yang dibawa bersamaan dengan para turis dan pedagang asing, serta derasnya informasi dan teknologi yang masuk, kebudayaan khas yang telah lama mengakar tetap kokoh sebagai ciri khas mereka. Nama masing-masing individu dapat dilihat sebagai penunjuk strata sosial sekaligus eksistensi budaya yang ada di Bali, misal: Ida Bagus atau Ida Ayu merupakan nama yang dipakai oleh para Brahmana, Anak Agung Cokorda atau Dewa merupakan nama yang digunakan oleh para Ksatria, I Gusti merupakan nama yang digunakan bagi para Waisya, dan Wayan, Made, Nyoman, Ketut digunakan oleh para Sudra.

2.1.Upacara Kelahiran (Jatakarma Samskara)
Berbagai upacara dimulai sejak hari sebelum kelahiran, serangkaian larangan bagi ibu yang sedang hamil semisal: tidak boleh makan makanan yang berdarah segar, hukumnya tidak boleh seperti ketika seorang wanita yang sedang menstruasi memasuki kuil; ibu yang sedang hamil tidak diperbolehkan untuk memakan daging kerbau atau babi; ibu yang sedang hamil tidak boleh melihat orang yang terluka atau darah apalagi melihat orang yang meninggal; tapi ibu yang sedang hamil harus diam di rumah dengan upacara penyucian yang memungkinkan kelahirannya berjalan normal. Bapak dari sang bayi diharapkan untuk hadir pada saat hari kelahiran sang bayi untuk menemani sang istri. Ketika sang bayi lahir, sang bapak harus memotong ari-ari dengan menggunakan pisau bambu dan dimasukkan ke dalam kantung yang kemudian dilingkarkan di leher sang bayi di kemudian hari.

Pada hari ke 21 setelah kelahiran sang bayi, menurut kalender Bali, sang bayi akan dipakaikan pakaian, gelang dari emas atau perak sesuai dengan sistem sosial yang ada. Ukuran kedewasaan bagi wanita ditentukan dari waktu pertama kali mengalami menstruasi dan kesiapan untuk menikah.

Upacara kelahiran dan pubertas hanya merupakan pembuka dari serangkaian upacara dan perayaan yang menemani perjalanan setiap kegiatan keseharian masyarakat Bali dari makan sampai menjelang tidur, dari berjalan sampai dengan bertutur kata.

2.2. Upacara Potong Gigi (Mepandes)
Diantara upacara transisi yang dijalankan oleh masyarakat Bali yaitu upacara potong gigi atau disebut juga mepandes, yaitu mengikis gigi bagian atas yang berbentuk taring. Tujuan upacara ini adalah untuk mengurangi sifat buruk (sad ripu). Upacara potong gigi dilaksanakan oleh Pandita/Pinandita dan dibantu oleh seorang sangging (sebagai pelaksana langsung).

2.3. Upacara Perkawinan (Pawiwahan)
Upacara transisi penting lainnya adalah pernikahan yang dalam bahasa Bali disebut Pawiwahan. Pawiwahan merupakan upacara persaksian ke hadapan Sang Hyang Widi dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.
Adapun persiapan-persiapan yang perlu dipersiapkan untuk upacara adalah sebagai berikut:

Sarana
· Segehan cacahan warna lima.
· Api takep (api yang dibuat dari serabut kelapa).
· Tetabuhan (air tawar, tuak, arak).
· Padengan-dengan/ pekala-kalaan.
· Pejati.
· Tikar dadakan (tikar kecil yang dibuat dari pandan).
· Pikulan (terdiri dari cangkul, tebu, cabang kayu dadap yang ujungnya diberi periuk, bakul yang berisi uang).
· Bakul.
· Pepegatan terdiri dari dua buah cabang dadap yang dihubungkan dengan benang putih

Waktu: Biasanya dipilih hari yang baik, sesuai dengan persyaratannya (ala-ayuning dewasa).

Tempat: Dapat dilakukan di rumah mempelai Iaki-laki atau wanita sesuai dengan hukum adat setempat (desa, kala, patra).

Pelaksana: Dipimpin oleh seorang Pendeta / Pinandita / Wasi / Pemangku.

Tata cara:
· Sebelum upacara natab banten pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita.
· Kemudian mempelai mengelilingi sanggah Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki.
· Sebagai acara terakhir dilakukan mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan.

2.4. Upacara Kematian (Ngaben)
Upacara kematian yang dilakukan dengan cara kremasi merupakan upacara yang spektakuler dan dramatis karena merupakan rangkaian akhir dari roda kehidupan di bumi. Menurut ajaran Hindu, roh bersifat immortal (abadi) dan setelah bersemayam dalam jasad manusia, akan bereinkarnasi, tapi sebelum bereinkarnasi, roh akan melewati sebuah fase di nirwana dan akan disucikan; dan sesuai dengan catatan kehidupan seseorang di bumi (karma) maka roh akan dikirim ke kasta rendah atau tinggi, dan kremasi merupakan proses penyucian roh dari dosa-dosa yang telah lalu.


‘Bade’, tempat kremasi jenazah berbentuk lembu/sapi

Secara filosofis, di Bali ada beberapa sarana utama yang dipakai dalam upacara kematian (ngaben) sesuai naskah Yama Purwwa Tattwa, di. antaranya : pisang jati sebagai warna, asep sebagai mata, nasi angkeb sebagai mulut, bubur pirata sebagai suara, dukut lepas sebagai dubur, cawan sebagai dahi, daun kayu sugih sebagai hidung, kusa sebagai bulu mata, jawa sebagai alis, pili-pili sebagai ulu hati, panjang ilang sebagai lidah, ending sebagai bibir, don rotan sebagai punggung, asep sebagai gusi, pengawak sebagai tulang belakang, tebu sebagai lengan, cendana sebagai tulang kelingking, rempah-rempah sebagai inti atau sebagai atma. Panyugjug sebagai jalan, panyugjug mameri sebagai penuntun yang paling depan, baju (wastra) sebagai kulit, kain wangsul sebagai telapak kaki, topi sebagai lutut, ganjang/ganjaran berisi uang sebagai tulang lutut, sangku sebagai kantung kemih, kipas sebagai nafas, kotak sebagal daging, tiga sampir sebagai urat, dan gagadhing, emba-embanan sebagai kepala.

Oleh karena itu, masyarakat Bali tidak menganggap kematian sebagai akhir dari segala-galanya namun merupakan sebuah fase kehidupan baru, dan mereka oleh karenanya sering mengucapkan pesan seperti yang tercantum dalam Bhagavadgita yaitu, “the end of birth is death, the end of death is birth” yang berarti akhir dari keidupan adalah kematian dan awal dari kematian adalah kehidupan.

3. Kesenian
Musik, Tarian, dan Patung merupakan tiga bidang kesenian yang menjadi pusat konsentrasi eksplorasi kreatifitas seni masyarakat di Bali.

3.1. Musik
Dalam hal seni musik, suara gamelan hampir berdengung di seantero tanah Bali; di pura, alun-alun, istana, dsb. Alat musik tersebut ditemani oleh kelengkapan instrumen musik lainnya seperti: gong, ceng-ceng, saron, gambang, dll. Komposisi instrumen tersebut dapat berubah sesuai dengan wilayah dan peruntukan pertunjukkan yang digelar.


Pemusik tradisional memainkan gamelan

3.2. Tarian
Selain seni musik, tarian-tarian khas Bali merupakan pertunjukkan seni yang menarik perhatian. Terdapat berbagai jenis tarian dengan fungsi yang berbeda-beda sesuai dengan peruntukannya semisal: untuk upacara keagamaan, pertunjukkan drama atau musikal, upacara peperangan, dan masih banyak lagi.


Para penari Legong Keraton

Diantara tarian tersebut yang paling terkenal adalah tari Legong Keraton. Kata Legong berasal dari kata "leg" yang artinya luwes atau elastis dan kemudian diartikan sebagai gerakan lemah gemulai (tari). Selanjutnya kata tersebut dikombinasikan dengan kata "gong" yang artinya gamelan, sehingga menjadi "Legong" yang mengandung arti gerakan yang sangat terikat (terutama aksentuasinya) oleh gamelan yang mengiringinya. Adakalanya tarian ini dibawakan oleh dua orang gadis atau lebih dengan menampilkan tokoh Condong sebagai pembukaan dimulainya tari Legong ini, tetapi ada kalanya pula tari Legong ini dibawakan satu atau dua pasang penari tanpa menampilkan tokoh Condong lebih dahulu. Ciri khas tari Legong ini adalah pemakaian kipas para penarinya kecuali Condong.

Gamelan yang dipakai mengiringi tari Legong dinamakan Gamelan Semar Pagulingan. Lakon yang biasa dipakai dalam Legong ini kebanyakan bersumber pada:
· cerita Malat khususnya kisah Prabu Lasem,
· cerita Kuntir dan Jobog (kisah Subali Sugriwa),
· Legod Bawa (kisah Brahma Wisnu tatkala mencari ujung dan pangkal Lingganya Siwa),
· Kuntul (kisah burung),
· Sudarsana (semacam Calonarang),
· Palayon,
· Chandrakanta dan lain sebagainya.

Beberapa daerah mempunyai Legong yang khas, misalnya:
· Didesa Tista (Tabanan) terdapat jenis Legong yang lain, dinamakan Andir (Nandir).
· Di pura Pajegan Agung (Ketewel) terdapat juga tari Legong yang memakai topeng dinamakan
Sanghyang Legong atau Topeng Legong.

Selain tari Legong Keraton, tarian lainnya yang tak kalah terkenal adalah tari Kecak, juga tari Pendet yang pada tahun 2009 ini menjadi sorotan media dalam dan luar negeri terkait dengan pengklaiman tari Pendet sebagai warisan budaya negeri Jiran, negeri tetangga Indonesia yang sedang memulai pembangunan jati diri bangsanya.

4. Keyakinan
Keyakinan masyarakat Bali atau Hindu Bali merupakan fenomena kompleks yang dibangun dari berbagai aspek; Hindu Siwa dan Budha serta berpadu dengan tradisi leluhur dan alam. Dalam beberapa upacara adat dan ritual keagamaan terdapat perbedaan dari satu wilayah dengan wilayah lain.

Dalam keyakinan masyarakat Bali, gunung Mahameru/ Meru mempunyai kedudukan yang istimewa di hati mereka. Mahameru menggambarkan titik penting atau sebagai Rama (Bapak) dari kehidupan; darisanalah para Dewa mengatur kehidupan. Di pulau Bali, gunung sebagai kosmos merupakan sesuatu yang dominan dalam keyakinan dan arsitektur. Bagian penting dari ritual keagamaan dalam masyarakat Bali adalah upacara yang dilakukan di gunung tertinggi di Bali yaitu gunung Agung yang dianggap sebagai ‘puser bumi’, dimana di kaki gunung Agung tersebut terdapat Pura Besakih.


‘Meru’ di Pura Besakih

Di Pura Besakih, selain perayaan dan upacara tahunan yang diatur oleh kalender keagamaan, ada juga upacara besar untuk penyucian alam semesta yang disebut Eka Dasa Rudra, yang digelar setiap 100 tahun sekali.

Di abad 20 yang lalu tepatnya di tahun 1963, gunung Agung meletus setelah bangun dari tidur selama beberaba abad dan merenggut kurang lebih 1200 orang serta menghancurkan banyak desa. Masyarakat Bali melihat tragedi tersebut sebagai sebuah simbol kemarahan dari para Dewa dan oleh karenanya upacara tersebut kembali digelar pada tahun 1979 atau 1900 berdasarkan perhitungan Saka.

Simbolisasi dari kosmologi gunungan dapat dilihat pada struktur arsitektur Candi Bentar atau karakteristik gerbang yang membentuk sebuah menara yang berlekuk menyerupai dua bagian piramida yang terpisah menjadi dua, yang menggambarkan dua bagian gunung keramat, satu bagian gunung Agung dan satu bagian gunung Batur. Simbol umum lainnya adalah meru; ratusan pagoda yang berdiri di tempat-tempat suci, dan di pelataran candi dibangun pada lapisan batu yang memiliki serangkaian bentuk atap yang menyerupai piramida yang ditutup oleh daun palem hitam dengan jumlah sebelas (jumlah yang ditetapkan berdasarkan keyakinan Hindu terkait dengan tatanan alam semesta).

Keyakinan, upacara, dan perayaan keagamaan membimbing kehidupan masyarakat Bali sejak dilahirkan dan membentuk paduan dalam kehidupan berkeluarga dan sosial. Peraturan agama menentukan tata ruang desa, bentuk candi, struktur rumah, dan sederet hak dan tanggung jawab di desa. Dalam pandangan kalender keagamaan, hari libur, perayaan dan sistem ditetapkan.

5. Penutup
Seluruh kekayaan dan keindahan budaya Bali yang telah diwariskan para leluhurnya sejak zaman dulu masih terjaga dan dilestarikan hingga hari ini oleh para generasi penerusnya. Hal ini tentu saja menjadi contoh yang luar biasa bagi daerah lainnya di Indonesia untuk mengambil sebuah pelajaran yang bermakna dalam mensinergikan kehidupan modern dengan tanpa menyisihkan kearifan lokal yang ada di setiap daerah.

Bila pelestarian nilai-nilai budaya lokal/ kearifan lokal di setiap daerah dapat dijaga dan dilestarikan, maka hal ini tentu saja dapat menjadi benteng kokoh persatuan dan kesatuan bangsa dalam mengurangi efek budaya negatif dari luar yang bersifat destruktif terhadap kelangsungan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kepustakaan
Morabito, Antonio.1994. Indonesia Archipelago of Wonders. Jakarta: PT. Prajnawati.
Soebadyo, Haryati, dkk. 2002. Indonesian Heritage: Seni Pertunjukan. Jakarta: Buku Antar Bangsa.
Soebadyo, Haryati, dkk. 2002. Indonesian Heritage: Agama dan Upacara. Jakarta: Buku Antar Bangsa.
Soebadyo, Haryati, dkk. 2002. Indonesian Heritage: Seni Rupa. Jakarta: Buku Antar Bangsa.

Sumber Tambahan:
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2003/3/9/ap6.html 20-11-2009
http://majalah.tempointeraktif.com/id/cetak/1979/03/17/DH/mbm.19790317.DH55988.id.
html 20-11-2009
http://www.babadbali.com/canangsari/banten/mepandes.htm 21-11-2009
http://www.parisada.org/index.php?option=com_content&task=view&id=996&Itemid=29 21-11-2009
http://id.wikipedia.org/wiki/Australasia 20-11-2009.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/555/bali:-modernitas-v-s--budaya-lokal

Babad Nitik

Naskah asli Babad Nitik tersimpan di Perpustakaan (Widyabudaya) keraton Yogyakarta. Babad ini ditulis di atas kertas berukuran folio, dengan tinda hitam, berhuruf Jawa dengan bahasa Jawa bercampur Kawi, digubah dalam bentuk tembang macapat. Penulisnya tidak diketahui, tetapi diterangkan bahwa ditulis atas perintah Sultan Hamengku Buwono VII. Waktu penulisannya disebutkan dengan Sengkalan “Resi nembah ngesthi tunggal” (1867 J/1936 M).

Babad Nitik yang seluruhnya terdiri dari tiga puluh lima pupuh tembang itu berisikan pengalaman Sultan Agung sejak masih menjadi putra mahkota, pelantikannya sebagai sultan, dan masa pemerintahannya yang berpusat di keraton Kerto. Diceritakan bahwa sewaktu masih menjadi putra mahkota, ia mengadakan perjalanan ke seluruh Jawa, Asia Tenggara, Timur Tengah, bahkan ke dasar laut dan alam kedewataan. Semua perjalanan itu dilaksanakan secara gaib.

Seperti kita ketahui pada zaman dahulu keyakinan yang hidup dalam masyarakat kita bahwa raja itu bukan manusia biasa, melainkan manusia dewa yang memiliki kelebihan-kelebihan dari manusia biasa. Pada zaman Sultan Agung berkuasa, agama Islam sedang berkembang pesat di atas dasar budaya Jawa sebelum itu. Seorang raja yang berwibawa dan berpredikat “Gung Binathara” adalah raja yang berkualitas manusia-dewa sekaligus Khalifatullah. Dalam babad tersebut diceritakan bahwa Sultan Agung pergi ke Mekkah untuk minta pengakuan sebagai Khalifatullah. Perjalanan putera mahkota Mataram (sebelum dinobatkan) ke seluruh Nusantara dan Asia Tenggara dalam rangka “nitik” atau menjajagi keadaan daerah yang dikunjungi tersebut, dalam upaya pengembangan kekuasaan kelak jika telah memegang tampuk pemerintahan. Rupanya dengan alasan itulah maka babad ini dinamakan Babad Nitik.

Sang putera mahkota Mataram yang bergelar Pangeran Adipati itu selalu mampu menundukkan negara-negara yang dikunjungi dengan kesaktiannya sendiri. Kemudian raja dan rakyat dari negara yang sudah tunduk itu bersedia masuk Islam. Cerita ini mirip dengan hikayat Amir Hamzah (di Jawa terkenal dengan nama Wong Agung Menak) dalam menyebar atau mengembangkan Islam. Hal ini untuk membuktikan atau menunjukkan bahwa Sultan Agung adalah Khalifatullah.

Di samping itu Babad Nitik juga berisi hal-hal yang berbau mistik, seperti: Sulatan Agung kawin dengan Dewi Ratu Kidul. Begitu juga Sultan dapat terbang ke Kadewataan (Surga) dan bertemu dengan tokoh-tokoh dari dunia pewayangan, yakni Pandawa yang dipandang sebagai leluhur. Pergi ke Mekkah hanya dalam beberapa menit dan sebagainya. Hal itu semuanya untuk menunjukkan bahwa beliau berkualitas Raja-Dewa-Khalifatullah. Biasanya Babad memang diwarnai oleh hal-hal yang berbau mistik seperti itu.

Babad Nitik juga sebenarnya banyak berisi informasi kebudayaan dan kesejarahan. Akan tetapi informasi kesejarahan yang terdapat dalam babad harus diuji betul-betul kebenarannya, dengan cara membandingkan dengan sumber-sumber lain sebab dalam babad banyak sekali hal-hal yang bersifat fiktif.
Beberapa informasi yang dapat dipertimbangkan untuk dikaji lebih jauh sebagai data sejarah dan kebudayaan, diantaranya:

1. Tentang sifat seorang raja yang baik adalah: (a) pandai memikat para prajurit dengan penghasilan yang cukup, dan tidak menyakiti hatinya; (b) tidak membuat sakit hati rakyat; (c) bijaksana, hati-hati, cepat dalam mengambil keputusan; (d) pandai mendidik rakyat; (e) selalu waspada terhadap tingkah laku rakyatnya; (f) bertanggung jawab; (g) berbudi halus dan luhur; (h) taat beragama dan beribadah; (i) sabar berdasarkan kearifan huum; (k) teguh pendirian; (l) dapat mengelakkan segala godaan; dan (m) menyebarluaskan agama.

2. Sebagai seorang seniman, beliau menciptakan: (a) tari serimpi; (b) menyempurnakan gamelan dengan menambah instrumen bedug dan saron ricikan; (c) menciptakan gending Andong-andong, Madubrata, Kodok Ngore dan Monggang; dan (d) menciptakan Wayang Gedhog dalam cerita siklus Panji.

3. Sultan Agung naik tahta tahun 1617. Dalam catatan sejarah, Sultan Agung naik tahta pada tahun 1613, tetapi menurut Babad Nitik baru tahun 1617 karena pada waktu Prabu Hanyakrawati (Raja Mataram II) mangkat belitu tidak ada di tempat dan tidak diketahui sedang berada di mana. Oleh karena itu diangkatlah adiknya yang bernama Pangeran Martopuro. Baru pada tahun 1617 beliau muncul. Pangeran Martopuro turun tahta, lalu pergi ke Bagelen, tidak lama mangkat dan dimakamkan di bukit Sela Bagelen.

4. Semasa pemerintahannya, beberapa kali ganti pejabat tinggi: (a) Patih: Tumenggung Mandaraka (1617-1623), Tumenggung Singaranu (1623-1645); (b) Pengulu: Wanatara (1617-1619), Pangeran Kepodang (1619-1620), Kyai Serang (1620-1622), Ahmad Kategan (1622-1645); (c) Jaksa: Juru Mayemditi (1617-1623), Kyai Mas Sutamarta (1623-1645).

5. Sultan Agung memugar makam Tembayat. Pada tahun 1620 Sultan Agung memugar pemakaman Tembayat (Kabupaten Klaten) di mana terdapat makam Pangeran Pandanaran yang telah mengajar Ilmu Paramawidya kepada Sultan Agung dan menjadikan daerah Tembayat bebas pajak (perdikan).

6. Membangun pemakaman Imagiri. Sultan Agung membangun pemakaman untuk dirinya di bukit Girilaya, sebelah utara-timur Imagiri. Sewaktu pembangunan makam belum selesai Pangeran Juminah (pamannya) meninggal di tempat itu dan dimakamkan di tempat itu juga. Kemudian Sultan Agung membangun pemakaman Imagiri seperti yang masih ada sampai sekarang.

7. Sultan Agung tidak gagal menyerang Kumpeni. Hasil utamanya adalah semangat juang yang terus berkobar.

8. Keraton Sultan Agung di Kerto menjadi model. Sultan Agung setelah naik tahta memindahkan keratonnya ke Kerta (sebelah selatan Yogyakarta), keraton itu bagus tetapi tidak berpagar benteng, melainkan hanya berpagar korden dari kain sutera karena Sultan merasa tidak perlu, tidak ada orang yang berani mengganggu keraton raja yang sakti itu.
Kiranya Keraton Kerto inilah yang menjadi model Keraton Surakarta dan Yogyakarta yang masih ada hingga sekarang ini, kecuali bentengnya.

Serat Babad Nitik Sultan Agung
(Serat Cariyosipun Dewi Ambarini)
Serat Babad Nitik kangjeng Sultan Agung, nyariyosaken wiwit
Dewi Ambararini, putrinipun ratuning jim linamar raja wolung nagari
ngantos dhaupipun sang Dewi kaliyan Bambang Ernawarya.
1. Duk manitra tinembang artati, Slasa Wage lek salikur wulan.
2. Sri Narendra sampun lenggah, aneng bangsal kencana kinen nitik.
3. Genti ingkang kacarita, nagari Daksinatasik.
4. Kuneng genti kang winuwus, nagari Daksinatasik.
5. Sinegeg Daksinatasik, genti cinarita.
6. Genti kocap ing Daksinatasik, wau sang akatong.
7. Cinarita dutane para raja, kang sami angulati.
8. Sapraptene kapatihan kyai patih, Bambang Ernawarya.
9. Genti kocap nerendra Matawis, kangjeng Sutan Agung kitha Karta.
10. Ginenti kang cinarita, lampahira Bambang Ernawaryeki.
11. Sampun sami angandika, lenggah bangsal Sri Bupati.
12. Bambang Ernawarya muwus, andika langkung prayogi.
13. Sang nata duk amiyarsi, sungkawa anemu suka.
14. Enjing praptaning ubaya ari, Sri Narendra miyos.
15. Angandika wau Dyah Ambararini, eh Arya Nirbawa.
16. Sapraptaning wisma Arya Adipatya, tandya karya kinteki.
17. Kawarnaa arya Adipati, sang Udarapati Pramasadha.
18. Tengara bendhe tinembang, sinauran tabah-tabahan juri.
19. Wus bibar kang prang tandhingan, rajeng sadhaha sadasih.
20. Lampahira rajasunu, radyan Matyuna sarakit.
21. Kalamarcu Sri Bupati, sampun mangsah ing ranangga.
22. Catur raja sawusnya miyarsi, saraseng pamaos.
23. Wau sang Dyah dayita umatur aris, inggih putra tuwan.
24. Kawuwusa nengih kyai patih Puyika, umarek ngarsa aji.
25. Genti kocap nengih duta aji, kang lumampah maring Tasikdaksina.
26. Putra paduka sang retna, neng Daksinatasik langkung mukti.
27. Kocap ing Tasikdaksina, sang prabu Udayanamurti.
28. Nateng Kismaka amuwus, pami wahanira benjing.
29 Ing wetan samburat abrit, praptaning wisma dadakan.
30. Sanak-sanak manira aji, reh katemben tumon.
31. Sri Narendra duk myarsa aturing siswi, suka ing wardaya.
32. Kula asung uninga mring pra kakendra, inggih bade lumintit.
33. Kawarnaa enjing Sri Bupati, Soma Manis miyos siniwaka.

Kepustakaan
Alang Kumintir (2008) Serat Babad Nitik Sultan Agung. [online] http://alangalangkumitir.wordpress.com/category/serat-babad-nitik-sultan-agung/. Februari 2009

Andisopiyan (2008) SERAT BABAD NITIK SULTAN AGUNG [online] http://andisopiyan.multiply.com/journal/item/125/SERAT_BABAD_NITIK_SULTAN_AGUNG. Februari 2009

Uun Halimah. (2008). Babad Nitik. [online] http://uun-halimah.blogspot.com/2008/01/babad-nitik.html. Februari 2009

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/155/babad-nitik

Babad Cirebon

Oleh : Tim Kraton Kasepuhan Cirebon

Dandanggula

Pan Sinegeg wau hingkang banting diri
ingkang kocap ingkang para Oliya
woes prapta hing Goenoeng Cerme
sampun musti hing pangestu
tanpaliyan dinungnung kapti
anging Allah tangala
tarkinning pandulor
Sultan Demak dadya ika
peteng ribet hing wengi kaliwat dening
tingkah anjandung mratuwa.

Sunan Jati tan samar lamonning
ingkang mantu anjangdung mastaka
adan mijos kadikane
luwih becikking tuwu
ja mati sahid angulatti
pati apa pan iku kang bagus
lan ning mau pan wus ana
manusa yen ora nahurra.

Sultan Demak ing kalangkunging
sapanigan tan kang kataturan
kalangkung dedet imanne
dupi dangu pakemut
yen moliya ana amawi
pindo ping telu ujar
babar bener luput
adan wijilling aturran
langkung kasuhunan hing rama andawuhi
kula darma lumampah.

Sampunira ingkang sami tarki
pan awangun tanajul paningal
tumurun sing Gunung Cerme
prapta hing susukunipun
bani bala sikep ngebekti
ana hing tanah Jawa
marmane hing ngaku
sakabehe kakasih Hingyang
wusti narima iman islame dening
ajallawangajan.

Sigra luwaran ya punika nuli
Sunan Jati hing panatukkira
sarta wali kabeh
ika pan sami rawuh
pan sadaya lumampah aris
warna-warna kaisanira
lunta lampah sampun
pinayungan dening mega
ya Sang Jati uning binarissan dening
teja lan kukuwungan.

Sunan Kali niti kuda lumping
ginentanan reme swaranira
sarta samuride kabeh
dadi uparyara anut
angebeki hing marganeng ngapit
asring wane kang sepak
wane larad-larud
Sunan Bonang lampahira
Ngentiring angin
Leler kadi sisilir
Susulur rampak-kampak.

Sunan Kudus angentir ring wari
lagelurran kaja sangkar katapak
hing banjir bena banyune
Sunan Giri rumasuk
hing sapancorongeng Yang rawi
Syeh Katim lumempat
kadi kilat mabur
niber alepas sing paran
Syeh Mulana Magrib anitihi keris
meber hing ngawang-ngawang.

Syeh Maja gung amendemming bumi
ya Syeh Bentong ingkang awor lan mega
Sultan Demak lampanya lon
lumiring hing Sinuhun
lampa liri hing ngiring dening
lampah bala wurahham
ngebeki madya gung
sampun prapta hing pakud yan
wau wonten ingkang winuwus mali.

Gedeng Tegal gubung sira
matur alon hing Jeng Suhunan Jati
karsanira wau ngideppenna
Sindangkasi masimogu
munggiya Jeng Sinuhun
amaringi idin Jeng Gusti
Sunan Jati patarossan
hing Pati Kerring wau
sapira baya ta sira
hing rempuge iku Dalem Sindangkasih
matur kang dinukking sabda.

Inggih rempag yaktos Sidangkasih
dereng idep wau gama Islam
mengga balane sakabeh
Jeng Sunan mala sampun
wus maringi idin sireki
amangkat Ki Gedeng Tegal
gubug mintar sampun
samaptaning wong ayuda
wus angrasuk sakaprabonningajurit
sinigeg hing lampahira.

Kamal

Akocap hing Masjid besar
para wali riset denging
arah mangkat jumah
wus adan Sang Datukkafi
Syeh Katim nyekel cin
wus tampi mawacanipun
Sunan Jati sakala
eca-eca gennya linggih
Sunan Kali wus tampa yen Sunan Purba.

Akutbah kang sarta imamma
mangka enggal Sunan Kali
maos kutbah mangka enggal
lalagon kutbahe kadi
wong agodungn kakawin
marmane kaya puituniku
Sunan Kali uninga
yen bakale den pojokke
setelah katam kutbah.

Pangeran Makdum memberi ikamat
Sunan Kali sampun imam
amaos fatehah kadi
panggalekking dangdang ngelak
anggalek galajem gosti
tan nan liyan mali
amung Pangeran ngami-ami
kenang ngapa iki bae kenang ngapa.

Sunan Kali wis uninga
hing sakarep teging ngati
mangka aningsat kang sinjang
dumadi emmase kesti
sampuning salam nuli
kamat mali arya Makdum
Sunan Kali anabda
parangsa ta hing sasepi sesepi Syeh Majagung diko jogjana
Imbang.

Pandingin duk musawara
wus kamotting para wali
ana jalma murakabah
hing liyan masingupeni
ca bawaning liyan mungkin mangkana Pangeran Makdun
lunta hung salattira
luhur asad ya muparid
sampun bada asalam majemuhan.

Sunan Kudus angandika
pinasti tan dugi iki
sasanga mali sampurno
Sunan Bonang anambungi
sabda sumang kina makin tan nan luhung saestu
Sunan Giri ngandika
Akeh-akeh jaman akir
Ya manungsa kang luhung
Ya owah-owah.

Sunan Jati angandika
kari angko jaman akir
laksanane ora nan angandika Sunan Kali
ilanga pisan mangkin
mangsa anaha kang punjul
saking wali sasanga
aneng nusa Jawa iki
Sunan Jati dumuluring hing Syeh Mulana
tampi saking dukking tingal
Pangeran Kajaksan mangkin
kandikane ela dala
angopenni hing liyanning
sarta karsaning widi
jan dikamangke kalangsur
hing wali sanganga mankin
kang katela nama wali iku ora.

Hidepe bawaning liyan kala ning salat sayakti
Ikram miraj lan munajad
sami amangkin tubadil
Pangeran Makdum adi wus tampi karananipun
anarima hing candah kula nuhun inggih
tedakaken pan inggih jasad kauloa.

Darma lumampah hing karsa
mingga tumurunning ngasil
boten darbeni karkat
hung sagunging para wali
kang mawa luta mangkin
yen Pangeran hing Makdum
wurung daja oliya
amungia Mukmin utami
risedenging abukar wali sahasta.

Kocapa Suhunan Purba
hing purta tebing alinggih
tan liyan hing ngarsanira
amung Mulana Magrib
tuhu ingkang pracayaning Sinuhun hing kinadawu
anyepengi katandan
sing akokuman pasti
Pangeran Kajaksan sakahommira.

Ingkang ngukummi hinh kana
hing karsane Sunan Jati
tan jumeneng kukum rajam
rehing laipping nagari
beda lan panapri Demak
Bonang Gresik Kudus
genggenging Panagara
prandene tan den tapaki
mung warninig kukumman hingkang den tapak
dupi hing Cerbon nagara
yen dosa satengah mati
kaya maling lan wong ala mung den belok kinunci yen dosa
iku pati
matenni padane makluk
tinelassan pinatennan
wong Kajaksan kang duweni gih Mulana Magrib ku
imammira.

Ika sadeng makumpullan
ana hing Made sakundi
Pangeran hing Karangkendal
Gedeng Panguragan istri
miwah Jeng Sunan Kali
kang reka kuta pikuku
hing Cerbon panagara mangkana nabda Sunan Kali
kita diddel kula kang bandawasan.

Kula pendemmi emas sinangling laksana luwi
Jalma mara jalma pejah
Singamara singamati
Yen ana musuh sakti
Saking kidul den sareju
Jaganan aja weja
Pon tan nana giri rusik ya hing musuh sirna sampurna
Salamet sira.

Sabda Arya Karangkendal
gih kula anyanggemi
kuta hing ngeler punika
dadar kula pendemi
candana wulung wangi
peteng ribut buana
yen ana musuh nekanni
saking ngeler den sarejo saponnana.

Pon tan nana baya teka
hing musuh sirna sajati
salamet rahayu sira nabda Gedeng Rara Muning
kula anyanggemi
kita kilen kula bangun
emas ingkang kinarya
warni kodok amandemmi
bumi laksana teguh rahayu tan pasah.

Yen nana musuh tumeka
sing kulon guna asakti
den sreju sangganen rampak
pon tan nana giri rusit
hung musuh ku sirna di
salamet sira rahayu
Sunan Jati ngandika
Isun ingkang anyanggupi
Kuta wetan banguning wesi wasana.

Purasani pinendeman
hing bumi laksana luwi
tegu ya tan kena owah
yen ana musuh nekaning
saking wetan yakti
iku cangkolana den sareju
tan ana durga baya
salamet sira sajati
besuk uga reba hing kuta kang papat.

Lawan kang karya wus sirna
sakarna dengging kuta iki
pakarepane wong papat
ingsun darma angrempugi
siji Syeh Datuk Kapi
kapindo mas Ayu rangkung kaping telu Siti Bagdad kaping patte
iku maringkang Pangeran Panjunan iku si wongge ana.

Sunan Kali mangkyan ngandika
Sunan Jati dela maning
kaping do pinolar putra
sareng cep hing ngangling
abus potusan saking
angaturi atur
putra Jeng Sunan Demak
dadapur ngaturi uning
inggih Pangeran Pasareyan wus sumalah
dalah sampun kaulessan menggantu
gusti ngariki
enggal kesah Sunan Purba
hing ngiring hing Sunan Kali
ika lakuning wali.

Tan nagangu nulya rawu
maring nagari Demak
Ratu nyawa anyungkemi
krona bangetingpadane Jeng Suhunan.

Sapinten baya kaula
rumihin tuwan nyanggemi
kaken hinen kang hubaya kulopun makaten malih
angandika Sunan Jati
aja nangis kaji Ratu
lakinira tan seda pok delengen iku urip
sareng layon musik sarwi angandika.

Rayi aja nangis sira
pan si kakang ora mati
tan lawas tinemu uga
kalawan si raka maning
balik yen sira nangis
hing wong tuwa naenutu
besuk tan panggih pisan kalawan si kakang toli Suhunan Demak
ngandika maring Suhunan.

Girikadaton punika tuwan tinggali
Sunan Jati tebeng nyoba karamate mala mayit sirna kinubur
tumuli mangkana Suhunan Ratu gewuya mantu babahita
kalawan Suhunan Kali nabda hidung sisilir paparahu mancung
lastari lumarap.

Mangkana nitihi palwa meh kiren
dan Sunan Kali malah miring kang
palwa ana bancana nilihi nabda kidung sisilir
miring-miring paparahu
baita alit wonowottan pinan ngantennaken toli
Syeh Lemahbang wong sajati wahessi ala
ana wong binajang kara pinangantenaken toli.

Malesse nungang titiyan
keremming prau denneprih
enggal ical tumuli kang tumut niti parahu
lampahira wus prapta
hing Cerbon wali sakalih
kang kapungkur watek Sangyang binabaran.


Pangkur

Kocap Gedeng Susukan
sad ja nipun purwane andingini
lakune wong Tegal guso ya
enggon lumakuhing prang
seja nira Sindangkasih kan jinujug
dalem digja wus uningnga
den arah hing idep Muslim.

Mangka dalem digja sira
sinewaka sagongging para Mantri
dalame digja mangke maewus
lah sira den prayetna
hing tekane musuh mosset aja cenguk
sedenge babarana banteng ulu Sindangkasih.

Iling wawakidding wong kuna
hing bedahe iki balabar waring
dadi rimbagan kang estu
bedahing praja kita
jaitan ganti wedaling waring sing datun
nemba matur kang tinita
hing sabda pakonning gusti.

Sumangga jiyad Sang Nata
Mantri pitu saragep atampi
kang warring sampun ning ngulor
binakta hing pawates san hing watesse sampun pinanjer
luhur
kababar kubenging praja
tampinge wus kinemitti.

Tan nadangu praptanira
Gedeng Susukan
sabalanira ngiring
anuju Prawata sampun
warring sampun kalembak
datan angsak wau dateng marginipun

Gedeng Susukan tan bisa
amiyak balabar waring
lir kuta wesi ika
pan ategu keker hing waring
wing Sindangkasih kalang kung
gumentur swaranira
yen Susukan amimpes hin jayanipun
wong Susukan mere saja
monongtonalaju hari.

Munggu Purba wicaksanan
melehaken ingkang sanggup angidepi
kocappa salajuhipun
Gedeng Tegalgubug sira
moiwa ingkang saka wula bala nipun
kang waring sampun winiyak
larutte wong Sindangkasih.

Lumajeng Sang Dalem Digja
pankalangkung wau giris hing gali
sidakep emutte ulun
bedahe kang wasiyat
nulya muja hing Dewa nuhun pitulung
kumpuling garwa santana
arah ambles maring bumi.

Muwa kang subawa putra
sigra musuh kang subawa prapti
Sangyang Dalem sirandulu
hing musuh ora bisa ya
pedekkan wara Dalem samya tumut
Putri loro kang kacandak
nama Raros lawan Riris.

Kacandak sakalihora
wau dateng Tegalgubug sami
ana guru swaranipun
aja tambu besuk ana
bumi jebug ya hing Sidangkasih iku
apesse kang watek jaya
duriyat ting wong lino ewih.

Dumadi salin paparab
nganggo ambek bidakwalaka nuli
tan paji nganak putu
darmane kang kelingan
mung samono iku hing wawangsis ipun
wong Tegalgubug miharsa
agung gegetunning ngati.

Sigra mangkat wangsulliran
Tegalgubug hing sabalaniki
wong Susukan ngiring sampun
lampanya duduluran
wong Sindangkasih sakabih tan nana kantun
den kerid arsa ngaturena
maing Kanjeng Susuhunan Jati.

Tenga wengi alalampah
sarta sira den gege lampah neki
Sunan Jati kang jina ejug
ya Sang Putri kang sapasang
angreb hing Gubug sawah tanna dangu
kaslir daya mingetan
gumanten asmara guling.

Gedeng Tegal orang kangkat
Putri roro ika wus den karoni
ingkang pinara hing wuyung
ora kangkat langgana
sampun tutug hing ngadep pinangku lulut
sakoro sang ngadi warna
pan samya gegetun ning kaptin.

Wonten carita winarna
Sunan Jati kalawan Sunan Kali
Tebeng hing waringin pitu
sinare hing Gunung Jati punika
Pangeran Majagung saja
ingkang nuwunnu sajati.

Katelah pala langounnan
ya winangun kali kasaru kang prapti
Gedeng Susukan umatur
nuhun duka sampeyan
gih kaula angsal damel supaya karebut
purwanipun Dalem Digja
pejah kaulena pademmi.

Raja dunnya kula jara
mala angsal kula Putri kakali
inggih ingkang bade katur
dateng ngayun sampeyan
wasanane hing marga wonten kang rebut
inggih yaktos
Gedeng Tegalgubug awon
begal margi.

Kanjeng Susuhunan ngandika
aja matur sira pangucap ngisis
cela hing wing padading makluk
bok sira kawalessan
najan Tegalgubug make iku
den wehaken mangko uga
maring isun ngalap rahi.

Layen gede gawenira
Dalem digja kongsi sira jarahi
sun ganjar sira satuhu
sun jenengaken sira
Pati umyang matur nuhun kang liningan wau
tan dangu praptanira
Gedeng Tegalgubug mangkin
Nembah ngaturri boyongan
Jeng Sinuhun ngandika hing saiki
ya si Gedeng Tegalgubug
sun jenengaken sira
Pati Rusu ana dening Putri iku
roro iku sun tarima
nanging kanggo sun paparing.

Maring sira raben nana
mung kaula bala hing Sidangkasih
sing sakahe isun pundut
daja ha angabde amat
isun muwa anak putu kang dadi Ratu
Pati Rusa matur nembah
kator sumangga wondening.

Paparing kasuhun pisan
Sunan Jati angandika sarwi
gumujeng tenganne iku ambeler kenang ngapa
ngaturaken pepesan kosong ya iku
Pati Rusu ara tampa
Sunan Kali mimiringi.

Henggal sampun apamitan
tekang marga ika mangkan pikir
yen dewekke babarujul
putri hing gubug sawah
sigra wangsul tumanduk maring Sinuhun
satus sewu nuhun marga
sapura Sinuhun Gusti.

Putri paparing sampeyan
sampuning kula nuhun inggih
katurmalih hing Sinuhun
Sunan Purba nandika
Pati Rusu isun tampi aejar luput
ya sapisan ujar ingwang
tan ana ujar kakalih.

Lawan isun angapura ingkang
luput anjimah hing Sang Putri
lan samangke wus lulus
dumadi rabinira
matur nuhun inggih sang Pati Rusu
dumadya hing pamit sira
kapungkur Sunan Jati.

Tumuli sang Pati Sumyang
matur nembah nuhun palamarta ugi
bebendu dalem sasuhun Putri ingkang satunggak
kula kaehun pedahe hing wau nipun
sakalih angsal kula
nuhunaken waris wiji.

Ngandika Sunan Prabu
kenang ngapa hinmg maune ora muni
hing sadurunge iku mau
dak wenehaken nesak
sok jaluken dewek sira iku
suka atine iku iya
maring sira isun idin.

Pamit enggal Pati Sumyang
sigra waole mala pinanggi
hing marga wau den bellik
Pati Rusu mandega
sun tuturi ora karsa Sinuhun
Putri siji iku baya
pinaringaken ning mami.

Sang Pati Rusu garjita
ora suka isun den jaluk iki
kasingane sira iku
sing maune ya wis salah
dora cana supaya mungguh Yang Ngagung
ora kilap ingkang ala
kalawan ingkat acik.

Kalesan Pati Sumyang
sigra mantuk tur sarwi madingcing
sareng lamining tumuwu
Pati Rusu kekesahan
ing Mataram nembe dateng wonten Mudu
congkewak balik karasa
ana durjana nekani.

Maring tuhu wisma nira
sareng malebet hing wisma anemoni
Pati Sumyang babarujul
mangka enggal jarangang
jogol banting binanting samya asureng
tuja tinuja sira
Pati Rusu kasuliring.

Kasaleyo saerung tiba mangka Pati Sumyang sareng ningali
musuhe tiba arubu
linggar hing candakira
iku ina musuh lawan kangwis rubuh
lepas katilar kang yuda.

Pati Rusu enggal tangi
ngucap dening kanihaya
kiyong ngiki sun puja hing Yang Widi
ajana kiyong tumuwu
ana hing sawah kita
lan pumali sakehe wong Tegalgubug
jojodon lawan wong Susukan aturung tumedak ngakir.


Kinanti

Wonten kocapa winuwus
kang wau lagya alinggih
wonten hing Ardi Amparan
sakawula warga sami
wau samya wirahos
kalayan kang abdi neki.

Sigra ngandika Sinuhun
maring ingkang abdi sami
Gedeng Panderes san ingkang
cepeng gendis hing nagari
saking lahang gendis jawa
wus datan nana kang kali.

Dupi mangke tanem tuwu, pala wija tuwin pari
undikaning teja
punika Kuwu Dipati
kanti lan Gedeng Dawuhan
baktine Kuwu Dipati.

Yen ambedo eng hing banyu
pyambake kang dumadi
antru hing banju kudu ega
matok patang puluh bengi
saumuring wong sasawah
kaduga den samber dening
gelap teka ora pasah duga kapendeming siti.

Lah iku ing purwanipun
Kyai Kuwu Dipati
darbe sapa poma-poma
anak putu hing sawuri
aja pada anganggowa
kulambi kadut pumali.

Embok ora kaya isun
nuli tan antara lami
putra Sinuhun kang nama
Pangeran Jaya kalanaiki
karsane kesah adagang
nyabrang tiwa-tiwa dadi.

Nilad putu sabrang wau
adagange mring di endi
angambangaken baita
sigra alayar tumuli.

Dugi maja ning laut
katampeking angin dade
dumanja kerem baita
Pangeran satitik maning
karungkeb kang palma nira
tan dangu kombak aminggir.

Pangeran langkung gegetun
kang ibu Nyai Rara Jati
sabdane aja gagabah
wong dadi duriyat wali
ora kena laku dagang
drawaka kaduli-duli.

Kudu nganggamanah sukur
aja tiru-tiru kadi
putra Sabrang wus lumahar
Pangeran eng ngetting kapti
dadi kang dunya den hina
prasami dipun buwangi.

Telas dipun rawur-rawur
dadi babali amiskin
kapiluyu angumbara
milu lawan wong birahi
karem byangan aneng guwa
anitihi kuda lumping.

Angigel lumaju-lumaju
tur mawi den kulintingi
ana kang sawane genta
tarebangan siyang latri
pohal pahil munggang arga
tumurun gunung colak-calik.

Sareng manjing guwa siyuk
Pangeran kasadah dening
walirang upas tan gagap
kasirep dangu tan eling
kantos telas hing sadino
Pangeran dereng anglilir.

Prasami den gotong mantuk
Nyi Rara Jati anangis
sambat-sambat anaking wang
keneng ngapa maning iki
ya Allah Tuwan Pangeran
nulya Pangeran anglilir.

Ing ngentuing ibu nipun
kenang ngapa gumalidig
anak puton Waliyullah
ora kena angunggahi
gunung Cerme bok dan kaya
rama-rama dika Wali.

Pangeran dumadi emut
jaran lumping den buwangi
trebange den buwang-buwang
gentane dipun goceki
dadi ababalik agaman
lampah ekas lampah santri.

Diyang dalu rabang rubung
salat ngaos lawan dikir
nunten numaking wong dagang
penejane tumut kaji
kang praone nengah lautan
kabiyar kagawang angin.

Prau katung kebing banyu
akeh bandega kang mati
Pangeran nitihi bahan
aneng laut nuli minggir
kantos kawan dasa dina
tan weruh talata minggir.

Den sara dening wong prahu
katur maring Nyai Rara Jati
kang ibu sanget karuna
kenag ngapa dikasihi
mancalo sing kadang dika
polahe sabagi-bagi.

Daja balahine agung
bok ta anak putu Wali
ing Cerbon bok ora kongang
kesah kaji dipun eling
mapan rama jengandika
hing Cerbon wangun masigit.

Kang minangko kajinipun
wong pekiruna hing riki
dika aja ilok murka
aja akeh pohal pahit
gugen nana tapak yasa
rama ramandika wali.

Tumuli Pangeran emut
akulima hing masigit
angramihaken Jumurah
maos kutbah angimami
hing salami-lami nira
sareng hing kana tumuli.

Pangeran kutbah ne gugur geger hing wong sa masigit
yen putra Dalem atiwas
waktu iku Sunan Jati
siweg kesah datang Pajang
hing kono dadi ariri.

Gugatti Pangeran Makdum
peki Abdullah Mujahid
hing Astana Palakaran
lawan Pangeran Darajat
kalawan Tuwan Syeh Katim.

Saking Kalijaga kumpul
sami amirahos tejar
Syeh Datukafi Kewedan
hing manah dados atari
matur hing Pangeran Drajat
sapinten baja puniki.

Pangeran Drajat umatur
hing wong salah dan pinilih
najan putra hing Nalendra
kukum ora pilih kasih
ya duku bae kokuman
amung si sabar rumihin.

Sami ngantosa hing rawee
ipun kang lungguk Narpati
aja kurang taha krama
najan ga sampunnu wakil
nanging prayoga ngantosan
sapira tala hing mangkin.

Asmarandana

Yata kampo ingkang sami
mirahos ingkang kukuman
tan nancara hing lamine
sarawu he Jeng Suhunan
saking nagari Pajang
Syeh Datukkafi umatur
yen putra dalem Kalana.

Tiwas gugur gennya wangil
gugating para Ngulama
anengge wonten takjire annunten Kanjeng Suhunan
ngumpullaken kang para
Pangeran gegedenipun
kang aneng Cerbon nagara.

Pangeran Drajat wus prapti
miwah Jeng Tanda
Pangeran Luwung salawe

Pangeran Ugyannapora
Pangeran Sidangbarang
miwah Jeng Pangeran Parung
Pangeran Hing Kedungsoka.

Pangeran Pase sumanding
miwa ika Raja Cempa
lana Pangeran Sindanglampre
Pangeran hing Cerbon girang
Kyai Gede Kedokan
Gedeng Jati Gedeng Sembung
miwah kang para Ariya.

Pandeleg gan Wandu kaji
Jugusatru Kandurun
Pencattanda Andamur Ander
sadaya pinatarossan
tan kangkat anglangkungana.

Angandika Suhunan Jati
dateng Pangeran Ugyanna
mara metok kena age
dinar ingkang kira-kira
sabobotte si Kalana
wuring sira timbangan iku
nuli para ngedumena.

Maring saking pekir miskin
nuli ika si Kalana
prasmya buwangen age
maring gonning kang simpar
ika hing Sagraherang
wangen patang puluh dalu
lawan uwis arya ana.

Para Pangeran lumiring
kalakuwanning jumahat
endahing wong cilik bae
kon njekel kutbah Jumah
dugiya akir jaman
duriyakajana melu
hing laku imam lan kutbah.

La miarsa sagunging
ingkang sami hing ngayunan
wus anut hina sakarsane
ingkang amandita Raja
hing cerbon Waliyullah
hing tita muslika ipun
sampun laksana sadaya.

Wus tutug sapangandikaning
wau Jeng Suhunan Prabu
sadaya kula wargane
miyarsa konjeming kesma
miyarsa kang pangandika
samya wedi asihipun
lir lata kada wuhan warsa.

Ladrang

Risedenging panylongkang utama siji siji
ingkang waraga, dening dad jatining Wali
ya Syeh Bentong hing kamu sirna sumala.

Sunan jati Sunan Kali anjenegi
hing layoning
Ohya Karangguyammi
guriyangging Pandita Sekar Dwija.

Sunan Jati lalurme saking dingin
sami kesah
mring ngetan lan Jeng Sunan Kali
dateng Gresik amanggih adining tinggal.

Hing sedane Sunan Giri pinang kaning
Wali Jawa, sirna panetek abecik
wus minulya pinangka Gresik Astana.

Ginandikaken ingkang putra Sunan giri
kang paparab Raden Akbar ing ngistrenan
Panembahan Ratu aneng Girigaja
hing luntahe Sunan jati Sunan Kali
mring Surabaya
lampah ningid kang sinajang kapti
Sunan Ampeldenta mangkana kukilan.

Kokok beluk nama Sang Duda wus prapti
bakta surat
sampun mapag hing lampahe
Wali kali angatoraken serat punika.

Dereng winaos ingkang serat punika
wus uninga
hing sawirasaning tulis
Wali kali sampun aniti iku kilan.

Malah prapta dalem Surapringga pati
pinunjungan
dening Sunan Ampeldenta
mapan sampun wedi asih ing Suhunan.

Mala lami hing hana wau amungkin
wangun yasa
babalongan kineduk tengah wengi
dereng number paninjiling medal wulan.

Pan katinggal bicak-bicak ingkang siti
pangarjito
Sunan Jati kang murugi
Sareng pedek katingal rareng sapasang.

Wus cikangking hing ngasta kanan lan kiri
sampun mentas
kang Balong kabeking wari
sampun pajar aremme ingkang jamahat.

Baya subuh Sunan Ampel amedeki
dereng lisan
wus wruh Jeng Sunan Jati
bareng kang den sambat dening asta kiwa.

Sinungaken wau dateng Sunan Ori
Ampeldenta
langkung suka hing manahe
langkung nuhun kaula hing Ampeldenta.

Pan Si Beluk punika katuring Gusti
Sunan Purba
wus narima malah pamit
Sunan Jati Sunan Kali kaduluran.

Hing karsane Sunan Ampel ika taklim
dadya bakta
kukila lawan bareng siji
duk binadi oloyoli kang ning umah.

Pinaparak wau dateng Sunan Kali
kaki Bicak
krananipun saking wari
kahalape si Bicak kebeking toya.

Wonten mali gantiyan kang pinadika
Suhunan Jagapati
ing Kudus nagara
tuhu Oliya pugal
ya tur dusta, tanpa liyan kang medeki.

Arya Jipang ika kang katimabalan
temah ingkang mejahi
maha Sultan hing Demak
rehing salah hing tekad
sampun kawas kita dening
Oliya Allah
Saking Kudus nagari.

Iya kupur Demak besuk mati deng sira
estu sira dumadi
bawahing parentah
ana hing nagara Demak
Arya Jipang anangupi
pan sampun pamitan
sigra kesah hing giring.

Wadyabala samapta gagamanira
ing wanci tengah wengi
praptane hing Demak
ana barangkot nekani
kagila-gila tan kena den musuhi
lah hing kana sumalahe Sultan Demak
benca jaya mineki
dening Arya Jipang
wong sakadatong bubar.

Burak sami ngunsi urip
wane susupan
sarpin bubar angngili
apa maning Pangeran Rajanagara
maring warna aningkir
muwa Ruta Jawa
sarta putra titiga
Pangeran Agung duk maksi
titiga warsa, Pangeran Wirya nengi.

Yuswanipun satahun lan pitung wulan
Pangeran Ruju mangkin
yuswa tigang wulan
tanopen ingkang garwa
Sultan Demak agung ningkir
Putra Suhunan Purba
Ratu Ajukang linuwi.

Kisah tebah saking Demak
malah saja mantuking Gunung Jati
kocap Sunan Purba
lan Sunan Kalijaga
sakalihe angrawuhi
maring nagara
kang layon sampun binecik.

Binecik-binecik den nira Sang Arya Jipang
ali kali anjenengi
muwa Sunan Bonang
Sunan Kudus hing rika
kang layon wus pinetekking
rolassaripa
pada anduming waris.

Sakukume Raja Barana sang Nata
anging datan kawaris warni karajahan
ika pinaringenna
maring Arya Jipang nenggih
wus hing ngistrennan
Arya Jipang dumadi.

Dalem Tumenggung pangaraning wisesa
aneng Demak nagari
rempaging Oliya
samana duking karsa
Sunan Jati ora salib
Kang mantu Sultan dingin kinarsa sahid.

Wus pariyat ingkang tata pranata
ning agama kang muslim
watek Sunan Purba
mantuk maring Cerbon kali
putra wanoja, Ratu Pangayu Dewi.

Ingkang rangda Kanjeng Sultan, ing Demak puniki
lawan nraja wawarisan
dunya brana ika
lan gamelan sukati gamelan
kawaris hing Cerbon iki
hing kukum mula
mangkana waja sawiji.

Ingkang nama Pangeran Agung binakta
Maring Cerbon nagari
katela kang nama
Pangeran Cerbon ika
dupi kang sawiji mali
Pangeran Wirya
pinupu ika dening.

Gedeng Demang anang Losari kang parnan
sangeting kinasihi
katela Pangeran Losari ingkang nama
Pangeran Ruju ana hing
kang arana uwa
Pangeran Rajan egaris.

Kali kang ibu Ratu Mas Nyawa
wonten gantining gurit
Kanjeng Sunan Bonang
mantuk ing Karamatullah
Sunan Jati Sunan Kali wus aneng kana
muwa Syeh Jagapati.

Sampun sirna sumala hing kang aseda
pinetek gunabecik
ana kang kinarsa
dening Wali titiga
putra Sunan Bonang nami
Pangeran Dipa
ing ngistrenan sayakti.

Pan jumeneng Panembahan Ratu ing Bonang
anika panata gami
ing sapraja Bonang
tan nana langganaha
ing ngarsane sangatbecik
tita wisesa dino elunrang deng Hyang Widi.


Dandanggula

Wonten malih kang kocapong gurit
mangka wong sabrang ngaja
kang nama Tu Bagus Pase
nengge babaktanipun.

Waja gagaman hing sangunging
prajurit kawan dasa
duking sajan nipun
arsa ngayomi wong jawa
ing ngilmune hing ngamale kang sayakti
maring Cerbon nagara.

Mangka ana karamate Sang Jati
sarawuhe wong Agung sing sabrang
dadi sirna pijangkowe
andap asor tumungkul
daja sira wekas badami
sasahat ngemumana
dateng Ratu Ayu
randaning Sultan ning Demak
kang Sinuhun dening kang osiking ngati
nuten naros kang putra.

Ratu Ayu masi mingkung nuli
dangu-dangu anderek hing karsa
kang rama hing kandikane
nabda wau hing Tubagus
anakda bawa isun iki
amba ngamal jariyah
suka laki maring bawa
mas kawine anak wadon mati sahid
Tubagus wus narima.

Rama ingiku ela angobuli
ing pinangkahe ingkang putra rama
mas kawine sakandikane
inggih rama ing mau
sampun nira sinaksenan dening
Suhunan Kalijaga
lan Pangeran Makdum
Tubagus wus aningka
jatukrama ika sedeng amutrani
istri suteja warna.

Pinarab Ratu Wanawati
langkung sihe wau kang rama
Pangeran Tubagus Pase
mala ing salaminipun
Ratubagus lajar aprapti
kesa dateng karana
titinjo praptanipun
yen kala rawuh hing sabrang
kacarita manuk pasek ika ngiring
yen wus nrawuh hing Jawa.

Manuk Pase asanak badani
lan kokobeluk Ki Dudaraga
malah sami bamine
mangkana duking temu
wonten malih kang kocap maning
Pangeran ning kajaksan
Syeh Mulana guru
tebengira mamariksa
wong kataton tan bisa aba ananing
hing waringin pitu panta.

Sampuning atra pariksade ki
pan dumeter dawuh Sang Saliyullah
dumugi maring sedah
ya tan ganti araweh
Sunan Jati lan Sunan Kali
ambeciki kang seda wus sirna kinukur
ana hing lalangan kormat
lah ing kono marmanya Sunan Jati
ajenengken kang nama.

Tanda Wari ika kang gantosi ing cepenge Pangeran Kajaksan
Mulana Magrib tandane
malah wis kasuhur
hing sapraja Kajaksan Pati
kumolko ing Pangeran
Kajaksan pangrantun
lan anjenengaken nama Janapura
cekelane-cekelane wangun picis
timah ingkang kinarya.

Ingnganggite kang Sunan Jati
lahip praja ing Cerbon nika
cepeng mikrab hari roro
Sunan Jati kalihipun
Sunan Kali hing pramilaning
Sunan Bulki jaika
sakaliji saewung
kesah maring praja liyan
Arya Makdum wau kang ngimami
ing wahu lawang Pangeran.

Ratubagus yen wonten kalaning
anang Cerbon nenggih lamon lajar
ya ta Sang Makdum adewek
wonten sanes dinapur
putra Sultan Demak kang yakti
jalu nama Pangeran
Rajanagara agung
Ing salamining agesang
Tansah masi angarah rusaking Wali
Kang ning Kudus nagara.

Ing sanggek hing ngamales puli
ingkang rama sulta Demak
yata recep pangikete
ika ta Sang Tandajupu
kang sinawitan linen hing sih
pinanji janjinira
sira Tandajupu
aja kapalang sasanakan
maring isun remanggana ambek pati
yen besuk estu ugo.

Sumerene Sunan Kudus yakti
sun wenehi sira panguwasa
apa dudune iku
aja Jipang ing Demak luwi
amasesa ing ngarat
bayane sun tanggung
ing ngadosa nganingaya
sabab Sunan Kudus amimiti
nganihaya mring liyan.

Tandajupu sakedap angingsir
cipta nirange lawan Pamajikan
ningali upah upahe
ketun sapuluh ewu
lawan janji wisesa kening
ing sakus nagaraTandajupu sanggup.

Sunan Kudus wus uninga
saingere panakawan anisip
nanging tan sedi ing manah
wus uninga ajale pribadi
tan ningali wau panakawan
anging yang Purba karsane
sadenging salat subuh.

Tandajupu prapta manjing
anuduking Suhunan
siweg parlu subuh
tan pasah ingkang gagaman
keris tugel kaduga Syeh Jagapari
asalam ming salat tiro.

Angandika Sunan Jagapati
yen sira rep anguntapena
patinisun sayektine
iki lo keris isun
sudukena iga kang keri
tan kelak isun pejah
dening keris isun
upama sira prajaya
lan gagaman liyan saking keris iki
ingsun mangsa matiya.

Sigra nubruk pada aglis
Tandajupu tabat sruh karuna
sumangga kaula suhun
Sunan Kudus aris mangsuli
aja samono sira
tulekena sanggup
pon karep pira priyangga
ora liyan iku karsaning Yang Wido
sira darma lumapah.

Tandajupu matur nuhun gusti
boten sanggem kula nguntapena
dumateng hing sumerenne
Gusti kula Sinuhun
sampun kringgit hing sajroning gali
sapinten nraka kula
murtad dateng guru
lahere mangsa wontena
ing ngukum
bantosse ta kados pundi
kukume hing ngakerat.

Sunan Kudus angandika malih
iya luput iku ujar ira
balik sira yen mangkono
mogoking ujar isun
ora sida sira mateni
maring sun wus nyata
naraka ing besuk
sabab lakunira bantah
maring gugu wong duraka iku pasti
duraka maring Allah.

Lah ing kono sigra mampenni
Tandajupu hing duhung Suhunan
sigra linaksanan age iga wekas sing pungkur
sampun sirna wapating Wali
udan angin diwuhan
ketug lawan lindu
silaking teteru mangkat
ya pinetek bun ecik pan sirane hing
Bersoci Astana Surya Ngalam.

Sasampuning Randajupu dadi
ing ngasrahan jeneng kautaman
Dalem Pati ing jenenge
Wisesa aneng Kudus
ing pagaman durga mandi
nan kumidep pira
miring kang prentah wahu Rajanagara
aneng Kudus ika kang angresti lewi
kina puja ing agama besar.


Megatruh

Pan mangkana hing Demak Dalem Tumenggung amiarsa
Sang Wali
sumerena dipun
Tandajupu kang mateni
Tumenggung Demak asolat.

Sad yang rejek mring sang Maha Pati Kudus
ing wayah tengah wengi
kadya lampah duking wau
hing Kudus aloking jalmi
lamon tatkan barangkot.

Malah sirna pejah sangapati Kudus
Arya Rajanagara
mring Praja Pajang lumayu
angaengsi gesang nusupini Sunan Pajang duking enggon.

Pan mangkana kang jaya Pati hing Kudus
ika pitata saking
Tumenggung Demak adawu
nama Papati gaganti
neng Pati kang sirna papan.

Wonten malih carita kocaping tutur
Ratu Madapa duk dingin
tatapa ana ing Gunung
Ajar Sukarsa mangkidi
salawe tahun ing mangko.

Wus agenep salawe mangkana ayun
ing saja angluwari
mangkana kuliyang runtu
den alap ika tumuli
dinahar dumaja bobot.

Tekeng waktu babar teja warnanipun
istri tur pinarabi
Tanuran Gagang Rahayu
elus salam eting ngaurip
arupatur aman corong.

Kapirsa wau dening Raja Lahut
ing Jakerta Narpati
mangka sinengkeran sampun
arah binadeya kening
ingkang putra ya Sang Katong.

Ingkang nama Pangeran Jakerta Talutur
malah wus aneng wuri
Jakerta ika Sang Ratu
Tanuran Gagang sarehing
kang ngibu tan kangkat mogok
hing karsane wau Raja Lahut
marmaning kinawuri mamareking maring kabul
hing panedana dingin
kang ngibu maring Yang Manon.

Asring malah sang Raja Lahut arawuh
tunduk hing Cerbon nenggih
punapa dening Sinuhun
nunten Arya Sibangkingkin
kali putra jalu anom.

Lah ing kana sedaning putra
Sinuhun Jati ingkang nama
Jayakelana kinubur
ing Epung parna pinuji
narungtun tanpa gagantos.

Ki Syeh Katini Syeh Agungrimang ya mantuk
hing adamme lan maning
Pangeran kajoyorang agung
Pangeran Drajat lalis
Pan mangkana duking enggon.

Ki Syeh kantiyam sinare Kalijaga wau
Syeh Agung Rimang ana ing
Etuk Pasareyannipun
Pangeran Kajoran menggih
Kamalaka duking enggon.

Agung Gegeden samya sumeren sampun
lir pagebug nitisi
karangkendal kangrumuhun
sami seda kinarossi
gegeden sok liyaning wong.

Yen sedane maksi jumeneng Sinuhun
saenggon enggon dapeni
ora ngebon akumpul
kang wapat sami winanggon.

Kumpul ana hing Gunung Jati lainantun
kang satemene hing jalmi
ragane Sinuhun Yuyut
anaha kocaping gurit
kang tuhu Suhunan Katong.

Malah karsa amanggiyakan kang putu
sami putu kang nami
Pangeran Cerbon kaliyanipun
nama Ratu Wanawati
Tubagus putrane wadon.

Mapan ika sami dereng balegipun
saksi Susuhunan Kali
lawan Pangeran Makdum
Tubagus agosti angling
ana pikukuninging Manon.

Amba ningkahaken kang wulang ngum
Sang Ratu Wanawati
maksi wuwojang tinemu
maring wayah rama tinggi
kang nama Pangeran Cerbon.

Mas kawin duwe anak yatim tumuwu
Sunan Jati angabuli
anarimakaken isun
paningkahe putu istri
kang sing anak wadon.

Ingkang maring putu sing jalu
maskawin anduweni
anak lanang ingkang tulus
dadi yatim mangka mami
anging si kana pitumon.

Ya sampingi andua Suhunan sampun
watek bala lan santri
maca amiri sampun
tutug sinaksening wargi
ajining kangken Suhunan Katong.

Muwa Dalem Raja Lahut aneng riku
Ratu Winahun nenggih
Raja Pajajaran kumpul
anaksesni ingkang kawin
lucu titingalaning wong.

Wantu penganten kasemening umuripun
Pangeran Cerbon duganing
yuswa jekjek gangsal nahun
Ratu Wanawati dugi
yuswa tigang nahun mangko.

Duk samono pranataning Masjid Agung
imam kang siti ganti
Sunan Kali Sunan Ratu
Pangeran ing Makdum maksi
akamat cekalaning wong
Syeh Datuk Kafi ika waman aksanau
Kapindo Modin Jati
Lebe Juiman ping telu
Buyut Panjunan lan maning
Sunan Panggung namaning wong

Pangeran Janapura kaping nemipun
kang ada tengete maring
wawacan lami tumuwu
mangkana Suhunan Jati
anetepi hing Sapening gon.

Duk kang serat cacangkokhika muwus
he Sunan Sebangkingkin
lahu putu nira iku
lunga kaji sira mati
anakira pan samono.

Iya mati lawan karsaning Yang Ngagung
mula Muchamad Kapil
hing besuk jumeneng Ratu
lawan wasiyate Kanjeng Nabi
samono ungeling godong.

Kang sinurat kang godong sampun ginulung
cinakotaken mingglis
mring cangkeme Naga duhung
sigra akeris tumuli
amiber lir kaja elong.

Pan lumrap abure kadya andaru
hing wayah tengah wengi
wus prapta panaja nipun
mara ing Banten nagari
gegering wong sakadaton.

Agung alok hing jana mastani andaru
dawuh ing Sibangkingkin
Sunan Banten kagum-kagum
dupi winaspada keris
sang Naga anyokot godong.

Pinariksa godonge akhisi kurup
tulis akonna kaji
Sunan wis tampa hing kalbu
yen erat saking kang jagi hing Cerbon Sinuhun katong.

Sunan Banten ika wis wangun wawang sul
Tulise salaka adi
Lan tulis kancan murub
Hing sacacangkoking tulis
Kang duhung mesat aganitos.


Mijil

Lingsir wengi sang duhung aprapti
dateng Sunan Katong
tiningalang kalangkung baguse
angandika Suhunan jati
budening kumaki
niana kang takabur.

Pira lawase kita hing ngahurip
marentah bala wong mangsa teka hing duriyat kabeh
gon wisesa hing bala lit
ora liwat benjing amung
sangang turun.

Wus angandika samana atoli
Sang Suhunan Katong
dan sidakep hing siti sumare
alelemek punika ronning
rudamala siji
akrengulu watu.

Kang muoes taka ngetan ngujurre baris
dadi mungguh kulon
kadya salat hing ngupamane
wanci sahur Suhunan Jati
wapat anjegjegi
umur satus punjul.

Rong puluh tahun mangkana nenggi
Sunan Kali gatos
wawara hing sanak wargane kabeh
lamon ika Suhunan Jati
sumala hing ardi
gen kentaki kang luhung.

Mangkat gumuruh kang jagat asisip
kayon pada rontog
sasatowan pada muni kabeh
kad ja toya anmbur atrih
kang swara gumuruh gangi
ketug lawan lindu.

Sila karikil pada gumatik
Bumi anggerem anggembor
yasang Gunung jumegus swarane
ya gumen jrang kumandanging langit
Srangenge amuni
gumarangsang nguwung.

Lir ta dening panangising Ejin
jajahan alok
pan gumuruh ika ing tasbeke malaikat ika medaki
saking ngara hing langit
maring puncaking Gunung.

Ing kang wayah linajar reken age
kKesah kaji binaktani
pasangu lang janji
mampir sajan jujug.

Dateng Mesis aminta kasih
pan Sultan hing kono
maring rayat iku satemene
tuturra kanda kang sejakti
lawan iki bukti
tanda rama lan Sinuhun.

Ingkang aneng godong kang tanta aking
lahiku ing kono
pinto kena ing tanpa ngandelle
Sultan Mesis hing Sireki
minta apa aparing
pusaka ning luhung.

Pangeran Muchamad atampi
pitung kasseng gantos
pan anembah sigra mit mangke
sarta godong kang tanpa lum aking
binakta akaji
kocapa hing pungkur.

Gih Pangeran Muchamad atampi
ganta tahun mangko
wau Sunan Banten sumeren
dadi manggung ika angantosi
ingkang kesah kaji
ingkang ngadeg Ratu.

Kocap dalem Jajaketra talu turu
kang jumeneng ngadeg marpati
diparagab maring
ingkang warna Ratu.

Tunuran gagang mamaning Putri
arsa sapaturan
nunten miyos agni sing bagane
maha dalem wis wandane aguling
kalawan Sang Putri
gyuwane satuhu.

Mangkana ngucapa lah iki Sang Putri
ayu tanpo dono
mung cuwane tan guna gantine
saban asa isung guling
medal saking parji
agni ingkang murub.

Ing marmane Tanuran gagang kasesi
cipta kaning uwong
tan takanggung tan kacipta salirre
teba dinum kapanta rabi
pareng Dalem maji
hing Cerbon tumanduk.

Maring yuyut Sinuhuning Jati
nama Arya Cerbon
nembe umur sadasa jejege
Ratu Gagang tumut angiring
ika sasiswan ning
pedekkana lit tan wruh.

Kinare menan ing kana dening
Pangeran ning Cerbon
Sinuhunaken punika sukane
Dalem Jaketra dadi hing Cerbon pinundut.

Sinom

Kocap malih Sultan Demak
kang putra Sultan Demak dingin
ana wartane yen ika karsane amales puli
kang rama duk dingin
sedane dening Tumenggung
Demak dereng samapta
wis kawarta maring Tumenggung ing Demak.

Tumenggung Demak alanglang
wataraning tengah wengi
mrajaya ing kanin binedil
sumala mangka nuli
Tumenggung Demak kang nuju
kang putra Sultan Demak
kang mangke ingkang dumadi
Panembahan Madiyun duk pinang arah.

Dening sang Tumenggung Demak
ayun malih pinejahi
supanten kasusu bubar
Panembahan ingkang ngili
maring Pajang dumadi
kawula bala kajuput
kagawa maring Demak
la hing kono purwa kaning
Ki Tumenggung mas huri yen anjalok etang.

Singa-singa hing nagara
binarang kot pinalu hing
marmane Sunan hing Pajang
darbe sembara hing mangkin
sapa ingkang nguntapi ing
Tumenggung Demak iku
pasti pada kang nagari
lawan alas Mataram geneng nagara.

Malah agung para Nata Bupati manca nagari
tanopen kang bidak nrama
kang sami agenging agati
hika kang saja angarah ing
patine Dalem Tumenggung
supayane Dalem Demak
sato mara sato mati
jalma mara jalma mati tanpa sala.

Guna telu lan tragnyana
upas tan nana mandeni
ingkang samya angarah
ana wadag ana demit
lir ing demit upasi
yen wadag subawang nglurug
prandene ora nana
kang nemu dalaning pati
engganira Tumenggung bawa ing Demak.

Ana dening kabisanira Sinapati maring alit
maring sanak maring liyan
jar dingine olih idin saking Suhunan Kali
marmane ika Sang Ratu
abawa kaduluran
sahinggake kang pinambabrih
ya wong Cerbon malah asring so bawa sanja
lan ta mahune pisan.

Dalem Jaketra kang nelir
pan samono lamon den gawaha nendra
mangka pinonta pininta
deng Riya Cerbon nulya glis
sinungaken pang mangkana
lamon ayun kinarepi.

Sunan Mataram angling
gih boten kenging hing ngingu
samademing wontena
mumulu mata balasi
samaptanana lamon dinuking saja.

Sunan Kali angandika wong mamaceni
yen ora kalawan dosa
aloing si dollen tumuli
ming juragan Walandi
ingkang arep layar iku
mangka sapakoning Wali
Ratu Gagang ing ngedol dening Raja Walanda.

Tinuku bedil titiga
ageng mariyem warnining
bedil ingkang sajambangan
bolonge duk winastani
pun sapujagat iki
wau hing paparabipun
tetep aneng Mataram
dupi kang alit Satonimi
wastanira ika kang pinagari gena.

Hing Cerbon ika nagara
dupi si Pameleng kang nami
si Hamuk wastaning sandawa
kang ing ngaturaken sandawa
kang ing ngaturaken dening
maring Jaketra puri
milaning binagi telu
sabab Tanuren Gagang
wong tetelu kang miraosi
kaga duwan Tanuran Gagang kang nama.

Binakta nusa Walanda
ganti gumanti metetti
sang Raja bangsa Walanda
supaya kacuwan dening
namala metu geni
Raja ngakal diwasa
wastaning papantan Inggris
dupi medal geni hing ngusapan karam.

Pukang wulang atemahan
tawa kadi saporanti
dadi kena jakagawa
turun teleren anitis
marena ika wonten sing ning
sapanta Inggris tumurun
turun ming ngakir mangsa
ika iku puwa kaning
duking dingin panedane Ratu Madapa.


Asmarandana

Wrnanen kang kesah kaji
wus tutug ing saja nira
pecapen sapamedeke
ana hing Mesir nagara
sampun atra kang kanda
sarta srat wusing ngatur
dateng Kanjeng maha Sultan.

Ana hing nagara Mesir
nutug gonira pracaya
kabuktening srat godong
dening tanpa aking ika
hing ngandel lamon ika
Sayid Bulkika kang wangun
narmane oliyah Allah.

Malah sampun pinaringi
ika Pangeran Mochamad
kang Pusaka rasukane
Rasulullah dingin nira
lan kinarilan dadya
Jeneng Sultan bawa Ratu
ana hing Banteng nagara.

Sampun ning lami tumuli
dinulurang hing pamitan
malah wus layar lampahe
duk aneng tengah sagara
mangka ana susulan
wajir saking Mesir muwus
Sultan Jawa Tuwan wakap.

Amba pinutus hing Gusti
ambakta punaing Rasukan
kang mungel wau pawewe
lamon suka iku Tuwan
lini ronan kalawan
Rasukan Pusaka Ratu
Banisrail mapan tunggal.

Punika luluhur aji
Sultan kaji ika nabda
he wajir iku samono
manura hing kanjeng rama
isun kalimat pisan
anuhunaken bebendu
prakara iki Rasukan.

Idep-idep rama paring maring ngisun kaureipan
tekang anak putu kabeh
telung kanjeng rama ika
mapan agung pusaka
ora babeh baju
sang Wajir wau pamitan.

Dupi matur ika maring
Sultan Mesir yen Rasukan
dados boten lilane
panuhune putra Tuwan
hing paparing punika
bab prakawis inggih baju
boten suka kalintonan
mangkana Sultan ning Mesir kalangkung nalangsa nira
kantaka sira Sang Katong
anulya wonten kang swara
he Sultan Mesir dan sira
aja ta hing gegetun
pan iku pakarepan nira.

Mangkana Sultan ning Mesir
mapan Sultan benjing pasti
alaye jaluk pusaka
kalawan rong prakarane
besuk uga kang rasukan
balik maning hing benjang
ing duriyat tira besuk
tinembe maning kagema.

Jeneke Rasukan Nabi
ana hing Banten nagara
pitung turunan watese
toli balik maring ngarab
Banten sirna parentah
apes kajara ing dudu
wus tutuh ujiring swara.

Sultan Mesir wonge aglis
suka rila asrah manah
kocap Sultan Banten lire
wus rawuh nagara nira
kali sobawanira
pepacara ingkang langkung
adi aeng sarta nira.

Gawok ingkang nganingah
wahu dateng Gusti Sultan
kawula liwat sukane
agung wong sanak asanja
anungsung ing purwaka
sarwi angucap bagja Sang Prabu
Jumeneng Sultan kang nama.

Dupi ana memelingi
hing prahu kapal
ana swara abane
kadi kidung ing gamelan
ika pribasa nira
Sultan Banten aja tungkul
anunggoni maring gesang.

Kita hing ngurip punika
hing ngulantan dening bala
tinemu lan panyakit kabeh
wus sing lara ing ngolatan
dening pati ta sira
anak putu nira
jumeneng Ratu
tedak pitu tuli rusak.

Parentahe maring ngalit
karana ana kanag mawa
agawe karusakane
pan anak putu kang darma
anglakoni mangkana wong tuwa kang murwa mangun
kaceda ning
wong Talaga.

Ratu Madapa kang mandi
pandeo ene maring Dewa
sakala saking mantepe
ya iku pan sirn nira
kapusakan gaib musna
wikan enggen puruggipun
pan tunggaling kang Pusaka.

Keris Naga musna gaib
tanpa paran iku tanda
duriyat Sinuhun Katong
tan pajowa watek walaka
ya ika kala samana mula aja girang-girang ………..
sira dakaburing manah.

Sultan Banten ka konngsi
pitung dalu pitung dina
tan karsa dahar go elinge
sangeting kang tan winulat
medaling lesu lupa lumampah kadi tan kadug
ambakta sariranira.

Lami-lami ika toli
languning kidung swara
den niket rinakete
di namet cipta gamel lan
Denggung Rujung paparabe
Wonten ganti ning carita
aneng Cerbon nagara
Tubagus Pase Agung
ningali jalma sumala.

Sunan Panggung ingkang nami sumala ora kajamak
ngadeg mentang mengkang kelek
nyekel biti lati kadya
greget bramatya
mata mandelik maringut
kang mrigali sami heran.

Den prawasa kadi wesi
keker kukuh ora kena
den nalapi hing majite
werengkeng wangkeng tan kena
silih ganti manungsa
kang sami arsa anjungjung
supaya mayit tan kena.

Kalisani kang sami mambrih
pinetek kaliyu parna
dan Sang Tubagus Pase
ngandika lamon anaha
Suhunan Kalijaga
tan wande isun matur
supaya aneng Mataram.

Cep kendel kang wau angling
rawuh Sunan Kalijaga
enggal ngandika wiyose
boking ngapa wongsumala
kang bener aja mangkana-mangkana
ala dinulu mangkana majid kaya saban.

Sidakep sare meremi
wus sinocekaken ika
pina tak anang hing kono
nulya Syeh Datuk Sirna
pinetek Gunung Jati wetan
pan kala nurongtun
Modin Jati pan sumala.

Ora lawas iku mati
Pangeran Tandawariga
tumuli ika ginantos
kaponakane Pangeran
tandawariga daja
kang jenengan Tandajupu
kinanjeneng nama Pangeran.

Purwane Badiman dadi
acepang kanimat Jomuah
pasarog wedi Ki Lebe
Juriman lan panta kadar
innallaha Syeh Kadam
cekel Cis Kadamjumunu
kalawan Kadamjalila.

Pada marbot lan Ketib
lan panta sabatur rira
wong patangpuluh bature
wondening jana pura ika
wis mari cekel adan
Buyut Panjunan wus mantun
sumawonan werutanda.

Sunan Kali ika nuli
ora karsa ngimana
amung Ratu Bagus Pase
lawan Pangeran Makdum ika
silih ganti ing kana
watek Patih ya wis saewung
Pati Keling Patih Kering.

Kinanti

Pangaran Cerbon duk umur
telulas lan pitung sasi
ika metengaken Emban
ingkang nama Adumanis
asal Talaga punika
Pangeran Makdum aturing.

Sunan Kali lah punika
sadiwegi kahasrih jomenenga sembahan
sanajana dereng dugi
ingkale tahun lima las
langipe badbelas musim.

Kandi dening sampun lurud
punika sala sanunggil
tetangerin baleg yuswa
atawa tumuli ngimpi
sarta kurud sarta kelar
wus puputra kakali.

Mih ngajengan tetalu
Sunan Kali tan rempagi
dumadi dereng kaangkat
ganta dina ika toli
Pangeran Cerbon sumala
sinare wonten kamuning.

Katela luning pamuwus
Pangeran Sedangkamuning
tilar garwa duk garbana
ika Ratu Wanawati
ingkang bobot sangang wulan
ganta dina noleya lahir.

Putra jala jatma jalu
kang ibu sumeren dening
wewedi kabaya-baya
prayayi yuswa sawengi
kang ibu tumoli tilar
kang putra salamet hurip.

Kang pinaraban tumuwu
Pangeran Agung duk nami
ya iku kang winawayang
sesembahan hing andasi
dupi ingkang sing Ampiyan
pinarabkan ingkang mami.

Pangeran Sukagung
iku kang den pupu dening
Gedeng Wandahaji ika
iung Gebang mengko nagari
Pangeran Wirasutaka
kaelun ingkang mastani.

Pangeran Gebang tumulus
kinasiyan hing samantri
ana ing Gebang kang prenah
dupi lamining ngalami
Sunan Kali pancawagawa
kalawan kang garwa nyai.

Udiolun wastanipun
nalika Suhunan Kali
tatamuwan wong Mataram Sunan Kali animbali
hing garwa kon susuguwa
angunduana cicipir.

Kang garwa wada angasruh
anata kacang cicipir
nembe mandur wingi enjang
apane kang den unduhi
Sunan Kali miyos unduhi
teka ora den turuti.

Bae hing sapakon nisun
sigra kesah Nyai Undi
lang kung dening gawokira
aningali wo cicipir
kacang atub kaya rebah
aglis nyunyuguhi Nyai.

Sedeng tatamo wus mantuk
ana wong ngeber ngampiri
ambakta sinjang akatah
Nyai Undi ngasi-yasi
maring Sunan Kalijaga
malampa den welas sasih.

Tinambassaken sasampur
Sunan Kali Andaya
karamating Insan kamil
tan dangu jinising arta
anulya aglis bayari.

Ing sare gining sasampur
wis sampurna den picisi
Nyai Undi mesem nabda
punika satunggal nabda
sinjang bade tapi kula
sampun kapambeng paparing
Sunan Kali nabda assruh
wong apa ta sira iki.

enjar-enjor yen rarasan
ing mave ujare siji
nurutana napsu nira
mangsa wis sewt siji.

Yen sira samono iku
pinasti tan bareng maning
lawan isun sira pisah
sarwi kesah kali ecis
mring ngetan hing purugira
kang garwa tininggal kari.

Tan lami kang garwa lampus
ganta dina angemassi
sirane hing Kalijaga
kocap Ratu Bagus mangkin
kesah layar lampahira
dupi kang sami ngimami.

Hing Cerbon Masigit Agung
Pangeran Makdum Kabir
Pangeran Agung duk yuswa
padbelas tahun tumuli
Pangeran Makdum sumala
sinare hing Makdum adi.

Mangka imame sareju
Pangeran Agung pribadi
naban-naban salat Jumuah
ya kutbah ya ngimami
juru komat Syeh Badiman
sorog wedi para santri.

Lami-lamining tumuwuh
ganta sasih ika tolih
ana Mrebot jaruman
purwa sing wetan angabdi
hing Pangeran Ageng mala
salamine kinadasi
Pangeran Agung den yakti
Ki Jaruman timbalana
Ing salat Jumuah ngimami.

Malaka lampah tinudu
Marbot Jaruman pinardi
aturegi nuhun pisan
inggih tan bisa ngimami
pinaksan sigrah kalampah
Jaruman ika wus takbir.

Wus takbir mulya dangu
ora muni ura ngecap
ngadep sarira lis tosan
ora na ketung katoli
ora ruku

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/286/babad-cirebon