Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Maret 2010

Gayatri

Gayatri atau Rajapatni adalah nama salah satu istri Raden Wijaya raja pertama Majapahit (1293-1309) yang menurunkan raja-raja selanjutnya. Nagarakretagama menyebutkan Raden Wijaya menikahi empat orang putri Kertanagara raja terakhir Singasari, yaitu Tribhuwana bergelar Tribhuwaneswari, Mahadewi bergelar Narendraduhita, Jayendradewi bergelar Prajnyaparamita, dan Gayatri bergelar Rajapatni. Selain itu, Raden Wijaya juga memiliki seorang istri dari Kerajaan Dharmasraya di Sumatra bernama Dara Petak bergelar Indreswari.

Dari kelima orang istri tersebut, yang memberikan keturunan hanya Dara Petak dan Gayatri. Dari Dara Petak lahir Jayanagara, sedangkan dari Gayatri lahir Tribhuwana Tunggadewi dan Dyah Wiyah Rajadewi. Tribhuwana Tunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya.

Peranan Gayatri
Pararaton menyebutkan Raden Wijaya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Diperkirakan, mula-mula Raden Wijaya memang hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri. Baru setelah Majapahit berdiri, ia menikahi Mahadewi dan Jayendradewi pula. Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi.

Pada saat Singhasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwana saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kediri. Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali.

Pararaton menyebutkan, Raden Wijaya bersekutu dengan bangsaTatar (Mongol) untuk dapat mengalahkan Jayakatwang. Konon raja Tatar bersedia membantu Majapahit karena Arya Wiraraja menawarkan Tribhuwana dan Gayatri sebagai hadiah. Kisah tersebut hanyalah imajinasi pengarang Pararaton saja, karena tujuan utama pengiriman pasukan Mongol yang dipimpin Ike Mese ke tanah Jawa adalah untuk menaklukkan Kertanagara.

Setelah Jayakatwang kalah, Raden Wijaya dan Arya Wiraraja ganti menghadapi pasukan Tatar. Dikisahkan dalam Pararaton bahwa, kedua putri siap untuk diserahkan dengan syarat tentara Tatar harus menyembunyikan senjata masing-masing, karena kedua putri tersebut ngeri melihat senjata dan darah. Maka, ketika pasukan Tatar, tanpa senjata, datang menjemput kedua putri, pasukan Raden Wijaya segera membantai mereka.

Gayatri Sepeninggal Jayanagara
Raden Wijaya meninggal tahun 1309 dan digantikan putranya, yaitu Jayanagara. Pada tahun 1328 Jayanagara mati dibunuh Ra Tanca. Menurut Nagarakretagama, Gayatri saat itu sudah menjadi pendeta Buddha. Ia lalu memerintahkan putrinya, yaitu Tribhuwana Tunggadewi naik takhta pada tahun 1329 menggantikan Jayanagara yang tidak punya keturunan. Pada tahun 1350, Tribhuwana Tunggadewi turun takhta bersamaan dengan meninggalnya Gayatri.

Nagarakretagama seolah memberitakan kalau takhta Jayanagara diwarisi Gayatri, karena ibu tirinya itu adalah putri Kertanagara. Mengingat Gayatri adalah putri bungsu, kemungkinan saat itu istri-istri Raden Wijaya yang lain sudah meninggal semua. Karena Gayatri telah menjadi pendeta, maka pemerintahannya pun diwakili oleh Tribhuwana Tunggadewi.

Berita dalam Nagarakretagama tersebut kurang tepat karena pada tahun 1351 Tribhuwana Tunggadewi masih menjadi raja, terbukti dengan ditemukannya prasasti Singasari. Nagarakretagama dan Pararaton juga memberitakan bahwa pada tahun 1362 Hayam Wuruk mengadakan upacara Sraddha memperingati 12 tahun meninggalnya Gayatri Rajapatni.

Referensi
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKIS
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/49/gayatri

Dyah Wiyat

Dyah Wiyah atau Dyah Wiyat alias Rajadewi Maharajasa adalah putri bungsu Raden Wijaya pendiri Majapahit. Dyah Wiyat adalah putri Raden Wijaya yang lahir dari Gayatri Rajapatni. Ia memiliki kakak kandung bernama Dyah Gitarja, dan kakak tiri bernama Jayanagara.

Pararaton mengisahkan Jayanagara yang menjadi raja kedua, merasa takut takhtanya terancam, sehingga Dyah Gitarja dan Dyah Wiyat dilarang menikah. Baru setelah ia meninggal tahun 1328, para ksatria berdatangan melamar kedua putri tersebut. Setelah diadakan sayembara, diperoleh dua orang ksatria, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja (Tribhuwana Tunggadewi), dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat.

Kudamerta kemudian bergelar Wijayarajasa atau Bhre Wengker atau Bhatara Parameswara ring Pamotan. Dari perkawinan itu lahir Padukasori yang menjadi permaisuri Hayam Wuruk putra Dyah Gitarja Tribhuwana Tunggadewi.

Peranan Dyah Wiyat
Pada pemerintahan Jayanagara, Dyah Wiyat diangkat sebagai raja bawahan di Kadiri bergelar Rajadewi Maharajasa Bhre Daha. Jabatan ini terus dipegangnya sampai ia meninggal pada masa pemerintahan Hayam Wuruk, keponakan sekaligus menantunya.

Dalam pemerintahan Hayam Wuruk, Rajadewi tergabung dalam Saptaprabhu, yaitu semacam dewan pertimbangan agung yang beranggotakan keluarga raja.

Tidak diketahui dengan pasti kapan Rajadewi meninggal. Pararaton hanya menyebut kematiannya setelah pengangkatan Gajah Enggon sebagai patih tahun 1371. Rajadewi kemudian didharmakan di Adilangu, dengan candi bernama Purwawisesa.

Kepustakaan
Slamet Muljana. 1979. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya. Jakarta: Bhratara
Slamet Muljana. 2005. Menuju Puncak Kemegahan. Yogyakarta: LKIS

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/51/dyah-wiyat

Dyah Pitaloka

Sang Linggabuana dinobatkan menjadi Maharaja Sunda dengan gelar Prabu Maharaja Linggabuana, pada tanggal 14 bagian terang bulan palguna tahun 1272 saka atau kira-kira tanggal 22 pebruari 1350 masehi. Linggabuana menikah dengan Dewi Lara Linsing, dari pernikahannya Prabu Lingabuana memperoleh anak Citraresmi (Dyah Pitaloka, panggilan kakeknya) dan yang bungsu namanya Niskala Wastu Kencana (lahir pada tahun 1348 masehi).

Menginjak dewasa Dyah Pitaloka menjadi seorang putri yang cantik rupawan. Pada abad ke 14 di Jawa Timur muncul sebuah kerajaan yang besar dan berambisi menguasai Nusantara dengan rajanya Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Ambisi menguasai nusantara berasal dari ide Patih Gajah Mada dengan sumpah palapanya.

Pada tahun 1357 Dyah Pitaloka mendapat pinangan dari kerajaan Majaphit. Dalam kidung sunda disebutkan bahwa, Raja Daha, dan raja Kahuripan bertanya kepada Hayam Wuruk tentang perasaannya kepada putri Sunda (Dyah Pitaloka/Citraresmi/Citrasemi). Raja Hayam Wuruk menjawab, hamba sudah berketetapan hatin tentang gambar sang putri jelita, apabila ada yang menghalangi, ia akan menjadi musuhku, lawanku, apabila aku mati, ia pun akan menemaniku.

Pada tahun 1357 akhirnya rombongan Raja Linggabuana datang ke Kerajaan Majapahit hendak mengantarakan Dyah Pitaloka untuk diperistri oleh Raja Hayam Wuruk. Dalam kidung sunda dikatakan bahwa Rombongan Sunda termasuk Putri Dyah Pitaloka diterima di lapangan Bubat. Pada saat sampai di Bubat terjadi kekacauan antara rombongan sunda dengan Patih Gajah mada. Gajah Mada menginginkan Sunda datang sebagai raja taklukan dan menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai upeti, namun raja Sunda tidak menyetujuinya karena ia datang ke Majaphit sebagi kerajaan yang merdeka. Perselisihan ini akhirnya menimbulkan peperangan “Perang Bubat”.

Perang bubat akhinrya dimenangkan oleh pasukan Majapahit, karena jumlah pasukan sunda yang sedikit. Putri Dyah Pitaloka sendiri akhirnya memutuskan untuk bunuh diri di medan pertempuran karena tidak mau menyerahkan dirinya kepada orang yang sudah membunuh ayahnya. Dyah Pitaloka meninggal sebagai seorang ksatria yang membela harga diri dan kehormatan kerajaan Sunda.

Kepustakaan:
Iskandar, Yoseph. 2005. “Sejarah Jawa Barat”. Bandung: CV Geger Sunten
Sukardja, Djadja. 2007. Situs Kawali “ Astana Gede”. Ciamis. ….

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/29/dyah-pitaloka

Dewi Tara

Dewi Tara adalah putri Sri Dharmasetu dari wangsa Soma yang kemudian menikah dengan Samaragrawira (Rakai Warak), anak Raja Dhanarindra (wangsa Sailendra) yang kemudian melahirkan dua anak yang masing-masing bernama Samaratungga dan Balaputradewa. Ada juga yang menganalisis bahwa Pramodawardani, istri dari Samaratunggalah, yang merupakan saudara Balaputradewa. Kedua anaknya tersebut kelak memerintah di kerajaan yang berbeda, di Jawa dan di Swarnadwipa.

Yang mengidentifikasikan bahwa Samaratungga adalah saudara dari Balaputradewa, adalah ketika tali persaudaraan antara Samaratungga dengan Balaputradewa mengalami permasalahan, yakni ketika putri tunggal Samaratungga yang bernama Pramodhawardhani berselisih dengan pamannya sendiri, Balaputradewa. Perselisihan tersebut disebabkan oleh perebutan kekuasaan antara Pramodhawardhani dengan Balaputradewa.

Tidak menerima perlakuan tersebut, Balaputradewa menyerang Pramodhawardhani. Namun, dengan dukungan sang suami yaitu Jatiningrat, Pramodhawardhani pun dapat mengalahkan Balaputradewa. Dengan kekalahan tersebut, Balaputradewa memilih untuk hengkang dari Tanah Jawa dan pergi ke Swarnadwipa sampai kemudian menjadi raja di sana.

Kepustakaan
Mulyana, Slamet. 2006. Sriwijaya. Yogyakarta: LKiS.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/425/dewi-tara