Tampilkan postingan dengan label Situs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Situs. Tampilkan semua postingan

Jumat, 19 Maret 2010

Strategi Pengembangan Wisata Kawasan Situs Talun, Kabupaten Subang

Oleh : Nanang Saptono

Abstrak
Kawasan Situs Talun memunyai potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Potensi yang dimiliki meliputi sektor tinggalan budaya dan keadaan alam. Peluang pengembangan wisata dapat dilakukan secara terpadu antara wisata budaya dan wisata hiburan. Dalam pengembangannya perlu skenario dengan mempertimbangkan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman.

Abstract
The site area of Talun has potential for developed as tourism destination. That potential comprises cultural remain and landscape. Opportunity to develop of tourism to do integrated between cultural tourism and comfort tourism. To develop must have scenario with consider strength, weaknesses, opportunities, and threats.

Pendahuluan
Kabupaten Subang merupakan salah satu kabupaten di Jawa Barat yang berada di daerah pantai utara. Wilayah Kabupaten Subang luasnya 2.051,76 km² terbentang pada posisi 6° 1” – 6° 49” LS dan 107° 31” – 107° 54” BT. Kondisi geografis terdiri dari dua wilayah, yaitu di utara yang merupakan pedataran rendah yang langsung mengarah ke Laut Jawa dan wilayah selatan yang merupakan pedataran tinggi bergunung. Wilayah utara cenderung merupakan kawasan sentra perdagangan. Hal ini karena wilayah itu dilintasi jalur Pantura yang merupakan salah satu jalur paling sibuk di Pulau Jawa. Di wilayah ini terdapat dua kota kecamatan, yaitu Ciasem dan Pamanukan. Wilayah selatan merupakan sentra perekonomian yang berbasis pada sektor agraris. Subang wilayah selatan banyak terdapat area perkebunan seperti karet dan teh. Di samping itu Subang terkenal sebagai salah satu daerah penghasil buah nenas yang dikenal dengan nama nenas madu. Nenas madu dapat ditemui di sepanjang Jalancagak yang merupakan persimpangan antara Wanayasa - Bandung - Sumedang dan Kota Subang sendiri.

Wilayah selatan Subang juga merupakan kawasan wisata khususnya wisata alam yang didukung dengan wisata agro. Di antara perkebunan teh di daerah Ciater, terdapat objek wisata sumber mata air panas. Selain itu juga terdapat wisata alam air terjun Curug Cijalu yang terletak di daerah Sagalaherang dan Curug Cileat di Kecamatan Cisalak (http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Subang). Potensi wisata di wilayah selatan ini masih bisa ditingkatkan lagi dengan mengembangkan objek wisata budaya. Salah satu objek wisata budaya yang sudah cukup dikenal adalah wisata ziarah makam Arya Wangsa Goparana. Tokoh ini dipercaya sebagai putra Sunan Wanaperi, raja Kerajaan Talaga, yang menjadi penyebar Islam di Sagalaherang. Makam Arya Wangsa Goparana terdapat di Blok Karang Nangka Beurit, Desa Sagalaherang Kaler, Kecamatan Sagalaherang (Munandar, 2007: 107 – 109; Kusma 2007: 21 – 22).

Selain makam Arya Wangsa Goparana, beberapa objek arkeologsi telah ditemukan di wilayah Sagalaherang. N.J. Krom dalam "Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie 1914" mencatat adanya tinggalan arkeologis, antara lain berupa mangkuk, piring, pinggan, dan baki perunggu yang ditemukan di Cijengkol. Di Desa Batu Kapur pernah juga ditemukan benda arkeologis berupa arca Maitreya dari perak. Di Sindangsari pernah ditemukan senjata upacara dari perunggu (Krom, 1915: 36 – 37). Di Museum Sri Baduga Bandung terdapat koleksi arca Nandi berasal dari Dusun Selaawi, Desa Cipancar, Kecamatan Sagalaherang. Pada Oktober 2006 telah ditemukan benda perunggu yang sangat langka. Benda itu ditemukan di Kampung Tangkil, Desa Cintamekar, Kecamatan Sagalaherang. Sebelumnya, benda sejenis ini ditemukan hanya dua, yaitu di Kerinci dan di Madura. Bejana perunggu berbentuk bulat panjang seperti periuk berleher panjang tetapi tipis. Di bagian tepi terdapat tonjolan yang di tengahnya berlobang, mungkin sebagai tempat tali untuk mengikat sebagaimana tempat ikan dari anyaman bambu yang diikatkan di pinggang (Munandar, 2007: 104; Kusma 2007: 10).

Banyaknya data arkeologis yang ditemukan di wilayah Subang selatan menunjukkan bahwa wilayah tersebut menyimpan informasi sejarah budaya yang sangat menarik untuk diketahui. Keberadaan benda-benda tersebut mungkin ada kaitannya dengan Situs Talun di Desa Talagasari yang juga termasuk di wilayah Kecamatan Sagalaherang. Situs Talun dan data pendukung yang menyediakan informasi masa lampau daerah Sagalaherang ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan wisata khususnya wisata budaya di wilayah tersebut. Agar hasilnya dapat maksimal maka perlu strategi pengembangan melalui analisis potensi dan masalah yang ada.

Konsep Dasar Pengembangan Wisata
Peluang pengembangan wisata di Kampung Talun pada umumnya berbasis pada wisata terpadu dengan memanfaatkan tinggalan budaya dan potensi alam. Budaya dan alam merupakan dua hal yang selalu mengusik rasa keingintahuan manusia. Rasa ingin tahu ini mendorong seseorang untuk mengadakan perjalanan (Pendit, 1994: 217 – 218). Perjalanan yang dilakukan seseorang apabila tidak disertai dengan perasaan ingin tahu maka akan tidak memberi arti kepada dirinya sendiri. Pada hakikatnya perjalanan adalah alat untuk mencapai emansipasi diri, intelegensia, dan jiwa pada seseorang.

Emansipasi pribadi yang menyangkut tiga hal itu lazim disebut personal culture atau subjective culture. Personal culture dihasilkan dari dan oleh pengetahuan serta pengalamannya dalam melakukan perjalanan. Pemikiran inilah yang melandasi pengembangan kepariwisataan, yaitu bertujuan untuk peningkatan emansipasi wisatawan, sehingga wisatawan harus mendapatkan gambaran yang baik dan lengkap tentang apa yang dilihat, dikunjungi, dan dinikmatinya untuk mencapai emansipasi diri.

Ada beberapa hal yang ingin diketahui wisatawan. Hasil pooling yang dilakukan Pacific Area Travel Association (PATA) terhadap wisatawan Amerika Utara menunjukkan bahwa sektor kebudayaan merupakan yang paling ingin diketahui. Lebih dari setengah wisatawan yang mengadakan kunjungan ke Asia dan kawasan Pacific tertarik pada pengetahuan tentang adat istiadat, kesenian, sejarah, bangunan kuno, dan peninggalan-peninggalan purbakala lain (Pendit, 1994: 219). Keingintahuan manusia terhadap peninggalan purbakala memang sangat beralasan. Pada peninggalan purbakala terdapat informasi mengenai identitas budaya. Suatu unsur penting identitas budaya adalah kesadaran sejarah yang dimiliki bersama suatu bangsa. Kesadaran sejarah itu akan membawakan ingatan akan asal-usul budaya, peristiwa yang telah dialami, dan harapan di masa depan (Sedyawati, 1992/1993: 23). Oleh karena itu, pengetahuan tentang masa lampau sangat menjadi kebutuhan manusia berbudaya, sehingga mengetahui masa lampau merupakan salah satu hak asasi manusia yang dalam (Mc Gimsey, 1972: 5). Berdasarkan pemikiran tersebut, konsep pengembangan pariwisata sangat perlu menyertakan sektor budaya, demikian juga dalam konsep pengembangan pariwisata di Situs Talun.


Lokasi Situs Talun
(modifikasi dari peta Provinsi Jawa Barat.
Surabaya: Indo Prima Sarana, tanpa tahun)

Kampung Talun di mana terdapat Situs Talun berada agak jauh dari jalan utama. Lokasi ini dapat ditempuh dari Kota Subang melalui jalan raya arah Bandung, hingga Jalancagak. Dari sini kemudian melalui jalan alternatif menuju Wanayasa dengan melewati Sagalaherang. Pada perkebunan teh di sebelah barat Sagalaherang, selanjutnya ke arah utara dengan melewati jalan desa yang sudah beraspal hingga Kampung Talun.

Situs Talun berada pada suatu dataran bergelombang dengan ketinggian antara 200-650 m dari permukaan laut. Situs berada di ujung selatan kampung, atau sekitar 200 m di sebelah barat jalan desa, tepatnya pada posisi 06º 38’ 02,3” LS dan 107º 37’ 32,7” BT dengan ketinggian lokasi sekitar 454 m dpl. Secara geografis kawasan Kampung Talun dikelilingi oleh beberapa bukit (pasir), yaitu di sebelah tenggara kampung terdapat Pasir Cibadakpasea (475 m), dan di sebelah timur laut terdapat Pasir Nyomot (640 m).

Situs Talun pertama kali mendapat perhatian dunia arkeologi pada sekitar bulan November 1993. Penelitian secara sistematis baru dilaksanakan pada tahun 2006 oleh Balai Arkeologi Bandung dan pada tahun 2007 oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang. Rangkaian penelitian ini merupakan suatu perhatian terhadap aktivitas kelompok masyarakat yang menaruh perhatian pada peninggalan purbakala dan melakukan penggalian di situs tersebut. Penggalian itu telah menampakkan struktur bata membujur arah utara-selatan terdiri dua lajur sepanjang 6,80 m. Ujung utara dan selatan merupakan bagian sudut yang bersambung dengan struktur melintang arah timur-barat. Struktur melintang di bagian utara dan selatan masing-masing juga terdiri dua lajur. Pada struktur bagian utara terlihat terdiri lima lapis bata, sedang bagian selatan belum seluruhnya terlihat.

Penelitian yang dilakukan Balar Bandung dalam bentuk ekskavasi dengan mengacu pada struktur bata yang telah tersingkap. Ekskavasi dilakukan di sebelah timur struktur bata, hingga mencapai kedalaman sekitar 1,5 m. Hasil ekskavasi telah menampakkan sisa struktur bata pada kedalaman 1,30 m terdiri dua unit. Unit pertama berada di sisi barat merupakan fondasi (batur) bangunan berdenah bujur sangkar dengan ukuran 7 x 7 m dengan struktur lantainya. Unit kedua ditemukan di sebelah timur unit pertama berupa struktur bata rolak yang belum ditampakkan secara keseluruhan.


Struktur bata yang ditemukan pada ekskavasi tahun 2006
(Dok. Balai Arkeologi Bandung) \

Struktur lantai yang terlihat jelas terdiri tiga lapis. Lapisan paling atas, bata disusun memanjang barat-timur, lapisan di bawahnya disusun memanjang utara-selatan, dan lapisan bata paling bawah disusun memanjang barat-timur. Teknik penyusunan bata tidak terlihat menggunakan lapisan perekat. Jarak antarbata (nat) sangat sempit. Perekat antar bata diperkirakan berupa tanah liat halus. Permukaan bata dibuat secara halus sehingga memungkinkan penyusunan secara sempurna. Struktur bata dalam posisi tegak (rolak) juga disusun dengan jarak sangat sempit. Lapisan perekat antarbata tidak terlihat secara tegas.

Selain struktur bata juga ditemukan artefak penting lain berupa fragmen keramik putih biru yang ditemukan di bawah konsentrasi fragmen bata pada kedalaman sekitar 60 cm. Fragmen tersebut merupakan pecahan mangkuk dari Cina masa Dinasti Ming (abad ke-14 – 17). Fragmen keramik lainnya ditemukan pada kedalaman 77 cm, yang merupakan fragmen bagian badan bewarna putih. Fragmen keramik ini berasal dari Cina masa Dinasti T’ang (abad ke-7 – 10) dari bentuk buli-buli (Saptono, 2007: 20 – 23).


Sturktur bata sisi selatan yang ditemukan pada ekskavasi tahun 2007
(Dok. Nanang Saptono)

Penelitian 2007 oleh Disbudpar Kabupaten Subang pada dasarnya melanjutkan hasil penelitian Balar Bandung. Penelitian dalam bentuk ekskavasi ini dilakukan dalam upaya menampakkan struktur bata rolak yang telah tersingkap pada waktu penelitian 2006. Secara umum ekskavasi 2007 berhasil menampakkan struktur bata sisi timur dan selatan (Tim Penelitian, 2007). Struktur bata sisi timur berupa susunan bata rolak terdiri dua lajur dalam orientasi utara – selatan. Bata disusun tanpa menggunakan lapisan spesi, namun di antara bata terdapat celah tipis. Kondisi demikian memungkinkan penggunaan lapisan perekat seperti misalnya tanah liat. Ujung selatan struktur tersebut bertemu dengan struktur sisi selatan yang berorientasi timur – barat. Bagian sisi ini susunan bata terdiri tiga lajur dengan orientasi timur – barat agak miring ke arah utara. Ujung barat struktur bata tersebut terputus dengan demikian belum dapat dipastikan bahwa struktur berakhir pada titik tersebut. Dengan memperbandingkan jarak antara struktur lantai hasil ekskavasi Balar Bandung 2006 terhadap sudut tenggara struktur, dapat diduga bahwa ujung barat sisi selatan bangunan yang juga merupakan sudut baratdaya berada di titik tersebut.

Ekskavasi 2007 juga menemukan fragmen keramik asing bagian tepian dari bentuk mangkuk. Secara utuh, diameter mangkuk 21 cm. Ciri fisik yang terlihat terbuat dari bahan stoneware. Hiasan berwarna hitam di bawah glasir. Motif hias berupa garis-garis sejajar membentuk pola tumpal dan floral. Ciri semacam ini menunjukkan berasal dari Sukotai, Thailand. Keramik demikian diproduksi pada sekitar abad ke-14 – 15 M (Adhyatman, 1990: 75).

Struktur bata yang terdapat di Situs Talun secara keseluruhan terdiri dua jenis. Penelitian 2006 menemukan struktur lantai, demikian juga struktur yang tersingkap akibat aktivitas penggalian masyarakat juga dapat diduga sebagai lantai. Pada penelitian 2007 telah ditemukan struktur bata dalam susunan rolak berada di sebelah selatan struktur lantai. Struktur bata dalam susunan rolak tersebut merupakan sisi selatan dan timur bangunan. Sementara ini sisi barat dan utara belum ditemukan. Memerhatikan kondisi lahan di sekitar temuan, kemungkinan besar struktur sisi barat dan utara sudah rusak total.

Bentuk bangunan secara utuh belum dapat digambarkan. Berdasarkan data yang sudah ada, terlihat adanya struktur lantai berukuran sekitar 7 x 7 m dikelilingi struktur dalam susunan rolak. Biasanya struktur rolak diterapkan pada bagian fondasi bangunan. Lebar susunan yang mencapai lebih dari 60 cm meragukan bahwa bagian tersebut merupakan fondasi. Kemungkinan bagian susunan bata rolak adalah semacam jalan yang mengelilingi ruangan berlantai bata, atau batas luar ruangan berlantai bata. Secara keseluruhan unit bangunan tersebut berukuran sekitar 13 x 13 m. Mengingat bata yang ditemukan dalam jumlah yang sedikit, dapat diduga bagian atas bangunan (tubuh dan atap) terbuat dari bahan yang mudah rusak (kayu). Bentuk bangunan mungkin merupakan semacam pendapa terbuka tanpa dinding. Bangunan dengan bentuk semacam ini misalnya terdapat di komplek Siti Hinggil Keraton Kasepuhan, Cirebon. Di kompleks tersebut terdapat bangunan yang disebut Semar Kinandu. Bangunan ini terbuka tanpa dinding dengan fondasi ditinggikan. Atap empat persegi pada puncaknya berbentuk limas. Atap disangga empat tiang. Fungsi bangunan sebagai tempat penghulu keraton jika ada audiensi di Siti Hinggil (Ambary, 1982: 77; Nur, 2006: 7).

Potensi dan Permasalahan Situs Talun
Situs Talun merupakan objek arkeologis yang sangat langka yang ditemukan di Subang selatan. Kawasan Subang selatan selama ini banyak mempunyai objek wisata khususnya wisata alam dan wisata agro. Situs Talun mungkin dapat dikembangkan sebagai objek wisata khususnya wisata budaya. Untuk mengetahui potensi yang disandang situs tersebut perlu dilakukan analisis SWOT (Strength, Weaknesses, Opportunities, Threats) terhadap Situs Talun. Model analisis SWOT pernah diujicobakan Muhammad Chawari terhadap pemanfaatan bangunan tradisional Jawa di Kampung Kauman, Yogyakarta bagi pengembangan pariwisata (Chawari, 2004: 112 – 127). Analisis SWOT mengkaji potensi berdasarkan dua faktor utama yaitu internal dan eksternal. Faktor internal meliputi keluaran kekuatan (strength) dan kelemahan (weaknesses). Sedangkan faktor eksternal meliputi peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Analisis SWOT dilakukan untuk mendapatkan pemahaman tentang kemampuan objek dalam rangka pengembangan kepariwisataan. Melalui analisis ini akan dihasilkan skenario pengembangan pariwisata di Situs Talun.


Telaga di Kampung Talun, potensi wisata yang belum dikembangkan
(Dok. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang)

Kekuatan (strength) yang disandang Situs Talun di antaranya adalah objek tinggalan berupa struktur bata yang ada hubungannya dengan sejarah Kerajaan Taruma atau Kerajaan Sunda. Informasi tentang masa lampau ini ditunjang pula dengan beberapa tinggalan yang pernah ditemukan di wilayah itu. Dengan demikian, Situs Talun akan dapat memberikan banyak informasi tentang masa lampau Jawa Barat khususnya Subang. Selain itu posisi situs yang berada di pinggir jalan juga merupakan faktor positif bagi Situs Talun. Akses menuju Situs Talun sangat mudah ditempuh dari Kota Subang. Kondisi jalan pada saat ini sudah beraspal meski pun belum berkualitas hotmix.

Prasarana transportasi ini akan memudahkan orang untuk mengunjunginya. Daya tarik daerah juga didukung adanya telaga yang dijadikan ikon nama desa, yaitu Talagasari. Di telaga ini pada waktu-waktu tertentu diadakan wisata hiburan khususnya memancing. Kaitannya dengan daya tarik kunjungan juga ada dua lokasi makam yang dikeramatkan yaitu Sanghyang Teteg yang berada di tepi telaga dan makam Ratna Inten Sari.
Kelemahan (weaknesses) Situs Talun yaitu objek utama belum dapat dinikmati. Struktur bata yang dapat dijadikan andalan objek masih dalam tahap penelitian. Informasi akademik tentang masa lampau yang disandang Situs Talun masih sebatas pada kalangan tertentu terutama para pendidik dan peneliti. Publikasi yang sudah dilakukan belum menyentuh masyarakat luas, meskipun bagi masyarakat Subang sendiri Situs Talun sudah cukup didengar, dikenal, dan diketahui. Daya tarik wisata pendukung seperti wisata hiburan memancing belum dikelola serta diselenggarakan secara rutin dan sering.

Peluang (opportunities) pengembangan situs menjadi objek wisata sangat besar. Kawasan Subang selatan merupakan daerah tujuan wisata khususnya wisata alam dan wisata agro. Promosi wisata ke Situs Talun dapat dengan mudah disertakan pada promosi wisata yang sudah ada. Pengembangan Situs Talun sendiri sebaiknya dikemas menjadi satu paket dengan objek wisata yang ada. Dalam hal ini wisata di telaga dan beberapa tempat ziarah. Dengan demikian paket wisata yang ada meliputi wisata budaya, wisata alam, wisata agro, dan wisata hiburan.

Ancaman (threats) yang dihadapi pengembangan objek dapat dikatakan relatif kecil. Objek yang ada merupakan aset desa yang secara kecil-kecilan sudah dikelola. Kecuali lahan situs Talun masih merupakan milik penduduk setempat.

Kajian potensi dan permasalahan Situs Talun melalui paparan analisis SWOT tersebut dapat disusun beberapa skenario sebagaimana matriks berikut.



Apabila kekuatan (S) dipertemukan dengan peluang (O) yang terlihat adalah skenario pengembangan, maka objek wisata di Talun berpeluang untuk dikembangkan dan dimasyarakatkan karena lokasinya dapat dijangkau. Pengembangan ini tentunya harus disertai pula dengan konsolidasi internal. Skenario konsolidasi internal ini diperoleh dengan jalan memperhatikan kelemahan (W) yang dipertemukan dengan peluang (O).

Memerhatikan hal ini perlu dilakukan persiapan pengembangan antara lain melalui pengungkapan struktur bata secara lebih dalam lagi dan perencanaan event atraksi budaya yang dapat diselenggarakan. Selain itu faktor aksesbiltas juga perlu diperhatikan dengan jalan peningkatan mutu prasarana transportasi. Dengan demikian paket wisata yang ditawarkan akan lebih lengkap dan dapat dengan mudah dinikmati semua lapisan masyarakat. Kekuatan (S) yang ada bila dipertemukan dengan ancaman (T) akan muncul skenario penguatan pengembangan program. Salah satu penyelesaian masalah yang dihadapi Situs Talun dalam skenario penguatan adalah dilakukannya pengalihan hak atas lahan dari masyarakat menjadi milik negara. Skenario selanjutnya adalah dengan memperhatikan kelemahan (W) yang dipertemukan dengan ancaman (T). Skenario ini akan melahirkan introspeksi untuk konsolidasi terhadap kebijakan program yang mendesak diwujudkan.

Kristalisasi Gagasan Pengembangan
Kawasan Situs Talun mempunyai potensi untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata. Potensi yang dimiliki berupa tinggalan arkeologi yang berkaitan dengan sejarah Kerajaan Taruma dan Kerajaan Sunda, makam keramat, serta kondisi alam terutama telaga. Potensi yang ada tersebut agar memunyai nilai lebih perlu dilakukan beberapa peningkatan melalui penelitian, pengkajian, dan penataan terhadap tinggalan yang ada serta peningkatan penyelenggaraan event wisata yang dengan memanfaatkan kondisi alam, yaitu telaga. Dalam hal peningkatan mutu tinggalan arkeologi terdapat kendala yang perlu diatasi, yaitu masalah kepemilikan lahan. Oleh karena itu, perlu pengalihan hak atas lahan. Beberapa hal tersebut, perlu dilakukan skala prioritas dalam pelaksanaannya sehingga pada akhirnya akan terwujud Kampung Talun sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Subang selatan.

Kepustakaan
Adhyatman, Sumarah. 1990. Antique Ceramics Found in Indonesia. Jakarta: The Ceramic Society of Indonesia.

Ambary, Hasan Muarif. 1982. "Historical Monuments". Dalam Cerbon. Jakarta: Yayasan Mitra Budaya – Penerbit Sinar Harapan.

Chawari, Muhammad. 2004. "Model Pemanfaatan Bangunan Tradisional Jawa sebagai Salah Satu Objek Wisata Budaya: Kasus di Kampung Kauman Yogyakarta". Dalam Berkala Arkeologi Tahun XXIV No. 1/Mei 2004, hlm. 112 – 128.

Kabupaten Subang. Dalam http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Subang

Krom, N.J. 1915. "Rapporten van de Oudheidkundigen Dienst in Nederlandsch-Indie (ROD) 1914". Uitgegeven door het Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Batavia: Albrecht & Co.

Kusma, et al. 2007. Sejarah Kabupaten Subang. Subang: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang.

Mc Gimsey, Charles R. 1972. Public Archaeology. New York: Seminar Press.

Munandar, Agus Aris (ed.). 2007. Profil Peninggalan Sejarah dan Purbakala di Jawa Barat dalam Khasanah Sejarah dan Budaya. Bandung: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Propinsi Jawa Barat.
Nur, Adin Imaduddin (peny.). 2006. Potensi Wisata Budaya Kota Cirebon. Cirebon: Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Cirebon.

Pendit, Nyoman S. 1994. Ilmu Pariwisata: Sebuah Pengantar Perdana. Jakarta: Pradnya Paramita.

Saptono, Nanang. 2007. "Struktur Bata di Situs Talun: Data Permukiman di Kawasan Subang". Dalam Sumijati Atmosudiro (ed.) Selisik Masa Lalu, hlm. 17 – 26. Bandung: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia.

Sedyawati, Edi. 1992/1993. "Arkeologi dan Jatidiri Bangsa". Pada Pertemuan Ilmiah Arkeologi VI, hlm. 23 – 36. Jakarta: Pusat Penelitian Arkeologi Nasional.

Tim Penelitian. 2007. "Laporan Hasil Penelitian Situs Talun Desa Talagasari, Kecamatan Sagalaherang, Kabupaten Subang". Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Subang.

Catatan: tulisan ini dimuat dalam buku berjudul Penelitian dan Pemanfaatan Sumberdaya Budaya, hlm. 133 - 142. Editor: Dr. Supratikno Rahardjo. Penerbit: Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia Komisariat Jawa Barat - Banten. Bandung, 2008.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/99/55/strategi-pengembangan-wisata-kawasan-situs-talun,-kabupaten-subang

Situs Gua Hunian Pra Sejarah Morotai Selatan, Kajian Fungsi dan Artefaktual


Oleh : Irfanuddin Wahid Marzuki

Manusia mengenal tempat tinggal atau menetap semenjak masa Mesolithikum (batu tengah)(Soekmono, 1996 : 46) atau masa berburu dan meramu tingkat lanjut(Poesponegoro, 1993 : 125). Sebelumnya manusia belum mengenal tempat tinggal dan hidup nomaden (berpindah-pindah). Setelah mengenal tempat tinggal, manusia mulai bercocok tanam dengan menggunakan alat-alat sederhana yang terbuat dari batu, tulang binatang ataupun kayu (Poesponegoro, 1993 : 135). Tempat tinggal yang pertama dihuni adalah gua-gua atau ceruk peneduh (rock shelter) yang suatu saat akan ditinggalkan apabila sumber makanan di sekitarnya habis. Selain di gua-gua, ada juga yang bertempat tinggal di tepi pantai, hal ini dapat dibuktikan dengan adanya penemuan kulit kerang dan siput dalam jumlah banyak di samping tulang-tulang manusia dan alatnya di Sumatera Timur (Poesponegoro, 1993 : 125).

Sebelum bertempat tinggal manusia sudah mempunyai kemampuan untuk membuat alat-alat yang berasal dari batu dan tulang. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya temuan alat-alat batu yang sudah ada sejak jaman paleolithikum (batu tua). Tidak menutup kemungkinan alat yang berasal dari kayu sudah dibuat, namun dikarenakan sifat dari kayu yang tidak tahan lama, sehingga alat kayu tersebut hancur dimakan usia. Alat-alat dari masa ini bercirikan masih sangat sederhana, belum diasah dan menggunakan teknik droping system. Teknik droping system, yaitu memukulkan batuan yang satu dengan yang lain sehingga diperoleh bentuk yang diinginkan. Jadi alat dari masa paleolithikum ini tidak sengaja dibuat permanen, tapi dibuat berdasarkan kebutuhan pada saat itu. Seiring perkembangan pola pikir manusia, alat-alat yang digunakan manusia juga mengalami perkembangan, dari yang semula sangat sederhana tidak diasah menjadi diasah, bahkan dibuat dari bahan yang indah dan bagus. Alat-alat yang indah ini sebagian besar merupakan benda pusaka dan kemungkinan juga digunakan alat pertukaran. Hal ini dapat dilihat dari tidak adanya bekas pemakaian pada alat-alat tersebut. Sampai sekarang dalam kepercayaan masyarakat kita masih mengenal kepercayaan akan kekuatan batu yang indah, seperti batu permata dan lain sebagainya (Poesponegoro, 1993 : 178 - 180). Bahkan di Papua sampai sekarang kapak lonjong masih digunakan sebagai mas kawin dalam perkawinan adat.

Maluku Utara merupakan pintu masuk manusia purba sejak jaman Pleistosen Akhir. Dari Maluku Utara baru kemudian menyebar ke selatan sampai NTT, ke barat sampai Sulawesi dan ke timur sampai Kepulaun Pasifik (Bellwood, 1996 : 278 -279). Bukti peninggalan manusia purba di Maluku Utara adalah adanya gua-gua hunian masa prasejarah (rock shelter) yang tersebar di Morotai, Halmahera Selatan dan Pulau Gebe. Penelitian oleh Bellwood membuktikan bahwa gua-gua di daerah Morotai Selatan (Tanjung Pinang dan Daeo) sudah dihuni manusia purba sejak 14.000 tahun yang lalu (Bellwood, 1996 : 280). Pada gua Tanjung Pinang bahkan ditemukan adanya temuan rangka manusia purba. Pada situs pulau Gebe dan gua Siti Nafisah di Halmahera Selatan ditemukan bekas-bekas kegiatan manusia sejak masa pra tembikar. Beberapa temuan dari situs-situs di atas menunjukkan adanya kegiatan manusia dan aktifitas mereka pada masa itu.

Fungsi Gua Hunian pra sejarah situs Daeo dan Tanjung Pinang
Desa Daeo secara administratif terletak di wilayah kecamatan Morotai Selatan, dan berhadapan langsung dengan Samudera Pasifik. Mata pencaharian utama penduduk adalah bertani dan sebagian nelayan, pola pemukiman hunian penduduk desa berjejer di sepanjang pantai di tempat yang landai. Secara topografi letak desa berada tepat di pinggir pantai, namun di belakang pemukiman penduduk terletak perbukitan kapur dengan ketinggian 15 – 50 mdpl. Pada deretan perbukitan kapur inilah terdapat ceruk-ceruk gua yang diperkirakan dihuni oleh manusia pra sejarah. Sedangkan ceruk peneduh Tanjung Pinang terletak sekitar 2 km sebelah selatan desa Daeo. Selain di daerah perbukitan di pinggir pantai juga terdapat sebuah ceruk hunian yang agak besar, dibanding yang terletak di daerah perbukitan. Manusia prasejarah umumnya tinggal di daerah yang dekat dengan sumber mata air dan sumber makanan (Poesponegoro, 1993 : 125). Berdasarkan penelitian Bellwood, situs gua hunian Daeo dan Tanjung Pinang sudah dihuni sejak 14.000 tahun lalu (Bellwood, 1996 : 280). Bahkan pada masa belakangan situs-situs tersebut masih digunakan oleh manusia purba.

Berdasarkan temuan rangka manusia di Gua Tanjung Pinang, diketahui manusia penghuni gua Tanjung Pinang berasal dari ras Austro Melanesia (Bellwood, 1996 : 124-125).

Fungsi gua hunian prasejarah dapat dikelompokkan menjadi 3, yaitu.

a. Sebagai tempat tinggal
Gua-gua dan ceruk payung peneduh (rock shelter), sering digunakan manusia sebagai tempat berlindung dari gangguan iklim, cuaca (angin, hujan dan panas), dan juga gangguan dari serangan binatang buas atau kelompok manusia yang lain. Pada periode penghunian gua, yang paling awal tampak adalah gua digunakan sebagai tempat tinggal (hunian), kemudian kurun waktu berikutnya dijadikan tempat kuburan dan kegiatan spiritual lainnya (Sugiyanto, 2004). Pada awall-awal penghunian, tempat hunian menyatu dengan tempat kuburan. Tetapi seiring dengan kemajuan teknologi dan semakin bertambahnya jumlah anggota kelompok yang membutuhkan ruangan yang lebih luas, maka mendorong manusia untuk mencari tempat tinggal yang baru. Seiring perkembangan wawasan dan pengetahuan, manusia kemudian memisahkan tempat hunian dan kuburan.

b. Sebagai kuburan
Selain sebagai tempat tinggal, gua hunian juga berfungsi sebagai kuburan. Posisi penguburan dalam gua biasanya dalam keadaan terlipat, yang menurut pendapat para ahli merupakan posisi pada waktu bayi dalam posisi di dalam rahim ibunya (Sugiyanto, 2004). Penguburan manusia dalam gua pada awalnya sangat sederhana sekali, berupa penguburan langsung (primair burial), dengan posisi mayat terlentang atau terlipat, ditaburi dengan warna merah (oker). Bukti penguburan tertua dalam gua dapat ditemukan pada situs Gua Lawa di Sampung, Jawa Timur (Poesponegoro, 1993 : 160, Simanjuntak, 1998).

Pola penguburan dalam gua secara umum dapat dibagi menjadi penguburan langsung (primair burial) dan penguburan tidak langsung (second burial), baik yang menggunakan wadah ataupun yang tidak menggunakan wadah. Wadah yang biasa digunakan adalah tempayan keramik (guci), gerabah, ataupun paeti kayu dalam berbagai ukuran (Sugiyanto, 2004). Posisi mayat yang paling sering ditemukan adalah lurus, bisa telentang, miring dengan berbagai posisi dengan tangan terlipat atau lurus. Posisi lainnya adalah posisi terlipat dengan lutut menekuk dibawah dagu dan tangan melipat dibagian leher atau kepala. Dalam periode penghunian gua, kegiatan penguburan merupakan salah satu kegiatan manusia yang dianggap penting. Awalnya penguburan dilakukan dalam gua yang sama dengan tempat hunian, yaitu di tempat yang agak dalam dan gelap. Namun seiring perkembangan jumlah anggota dan wawasan pengetahuan, maka manusia mencari lokasi khusus yang digunakan sebagai lokasi kuburan yang terpisah dari lokasi hunian. Sehingga kemudian ditemukan adanya gua-gua yang khusus berisi aktivitas sisa-sisa penguburan saja.

c. Sebagai lokasi kegiatan industri alat batu
Selain sebagai tempat hunian dan kuburan, fungsi yang lainnya adalah sebagai tempat lokasi kegiatan alat-alat batu atau perbengkelan. Banyak situs gua-gua prasejarah yang ditemukan adanya alat-alat batu dan sisa-sisa pembuatannya. Dalam hal ini bekas-bekas pengerjaan yang masih tersisa berupa serpihan batu yang merupakan pecahan batu inti sebagai bahan dasar alat batu. Situs perbengkelan ini banyak terdapat di pegunungan Seribu Jawa (daerah Pacitan), dan juga di Sulawesi Selatan (Foreister, 2000 : 54-56). Salah satu situs yang banyak tinggalan sisa alat batu adalah situs yang terdapat di Punung (Pacitan) yang merupakan sentra pembuatan kapak perimbas yang kemudian lebih dikenal dengan istilah chopper chopping tool kompleks (Poeponegoro : 95 – 100).

Dari uraian di atas, dan berdasarkan temuan peninggalan yang ada dapat diketahui fungsi dari gua hunian di Tanjung Pinang dan Daeo. Gua peneduh Tanjung Pinang dan Daeo merupakan situs tempat tinggal (hunian) yang menyatu dengan kuburan, hal ini dapat dilihat dari adanya temuan sisa-sisa aktifitas manusia masa lampau dan temuan tulang manusia yang berasal dari ras Austro Melanesoid. Penguburan yang dilakukan di Tanjung Pinang adalah penguburan tidak langsung, posisi mayat ditemukan dalam wadah yang berupa tembikar. Temuan sisa aktifitas manusia masa lalu situs Tanjung Pinang dan Daeo adalah adanya sisa pembakaran dan sisa sampah dapur (kulit kerang dan siput yang merupakan makanan manusia penghuni gua) (Bellwood, 1996 : 124-125).

Artefak situs Tanjung Pinang dan Daeo
Berdasarkan hasil ekskavasi yang dilakukan oleh Peter Bellwood tahun 1996, alat yang ditemukan di situs Tanjung Pinang dan Daeo adalah batu-batu vulkanik yang disusun setengah lingkaran yang berfungsi sebagai tungku, alat dari kerang dan alat-alat tulang. Berbeda dengan daerah lain, pada situs Tanjung Pinang dan Daeo tidak ditemukan adanya alat batu atau tulang yang berasal dari tempat lain. Hal ini dapat dilihat dari temuan yang ada. Situs-situs Morotai mempunyai industri batu yang tidak berpola bentuknya. Pada umumnya terbuat dari serpihan kerakal pantai. Berbeda dengan situs Melanesia yang lain, di Morotai tidak ada bukti alat-alat batu dibawa dari pulau ke pulau. Alat-alat tersebut ditinggal begitu manusia pendukungnya meninggalkan gua-gua hunian di Morotai. Industri alat-alat batu yang ditemukan masih sangat sederhana seperti kebanyakan situs Melanesia lainnya. Selain alat batu, juga ditemukan adanya alat dari kerang.. alat-alat dari kerang mungkin menunjukkan sebuah tradisi local, suatu kelanjutan dari tradisi pratembikar beliung kerang yang terwakili di Maluku bagian Utara (Bellwood, 2000 : 326-327).

Kesimpulan
Berdasarkan dari penjelasan di atas dapat ditarik suatu kesimpulan
a. Gua peneduh Tanjng Pinang dan Daeo merupakan gua hunian yang menyatu dengan kuburan yang sudah dihuni manusia sejak 14.000 tahun yang lalu. Hal ini dapat kita lihat dari temuan peninggalan yang ada yang pernah dilakukan oleh Peter Bellwood. Selain ditemukan alat-alat batu, dan tulang binatang di Gua Tanjung Pinang dan Daeo juga ditemukan adanya tulang manusia dalam gerabah yang bercampur dengan lapisan oker.

b. Artefak yang ditemukan pada situs Tanjung Pinang dan Daeo meliputi alat-alat dari kerang , serpihan kerakal, lancipan tulang, dan batu vulkanis untuk memasak. Juga terdapat bekas cangkang kerang dan siput yang merupakan makanan manusia penghuni gua Tanjung Pinang dan Daeo. Selain itu juga adanya lapisan oker (zat berwarna merah yang terdiri campuran pasir besi dan tanah liat yang biasanya digunakan untuk cat lukisan prasejarah dan penutup kuburan).

Saran
Perlunya perhatian dari pihak terkait untuk menjaga kelestarian situs pra sejarah di Morotai. Hal ini mengingat banyak situs yang telah berubah fungsi menjadi tempat sampah dan kandang binatang ternak (ayam dan kambing), sehingga dapat merusak keadaan situs. Banyak masyarakat yang tidak mengetahui bahwa gua-gua tersebut merupakan situs prasejarah yang harus dilestarikan keberadaannya. Sangat disayangkan sampai saat ini benda-benda hasil penggalian tersebut tidak banyak masyarakat yang tahu, bahkan keberadaan fosil manusia prasejarah tersebut tidak diketahui (kemungkinan dibawa ke Australia oleh peneliti ybs).

Perlu adanya penelitian lebih lanjut yang intensif, hal ini berkaitan dengan adanya temuan lepas berupa kapak lonjong(gigi guntur) oleh masyarakat Daruba (Morotai Selatan). Berdasarkan hasil penelitian Bellwood diketahui tidak ada alat batu yang berasal dari luar yang ditemukan di Morotai, baik yang berasal dari masa Paleolithikum ataupun yang lebih muda. Dengan adanya temuan kapak lonjong tersebut, diharapkan siklus perkembangan manusia purba di Maluku Utara dapat diketahui dengan jelas.

Daftar Pustaka
Bellwood, Peter, 2000, Prasejarah Kepulauan Indo - Malaysia, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Bulbeck, David, Monique Pasqua, Adrian de Lello, 2000, Culture History of The Toalian South Sulawesi,

Forestier, Hubert, 2007, Ribuan Gunung Ribuan Alat Batu, Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur, Kepustakaan Populer Grmaedia, Jakarta.

Kasnowihardjo, Gunadi, 2006, Potensi Wisata Budaya dan Wisata Petualangan di Kutai Timur, Budpar.net.

Michel Chazine, Jean, 2005, Recent Rock Art and Archaeological Discoveries in East Kalimantan, World. Socialis Web.net

Poesponegoro, Marwati Djoenoed et al., 1993, Sejarah Nasional Indonesia I, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, PN Balai Pustaka.

Simanjuntak, Truman, 1998, "Budaya Awal holosen di Gunung Sewu" dalam Berkala Arkeologi Th XIX Edisi No. 1/Mei, Yogyakarta, Balai Arkeologi Yogyakarta.

Sonjaya, JA, 2002, Identifikasi Jejak Hunian di Situs Song Agung : Kajian Awal atas Hasil Ekskavasi Bulan Maret 2002, Sub. Terra.co.id.

Sugiyanto, Bambang, 2004, Tradisi Penguburan Dalam Gua (Studi Kasus gua-gua di Wilayah Kalimantan), Balar Palembang. Go.id.

Sukmono, 1996, Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia Jilid I, Yogyakarta : Kanisius.

Wiradnyana, Ketut, 2004, Gua Togi Bogi, Hunian Berciri Mesolitik di Nias (Perbandingan dengan Situs Gua Togi Ndrawa), Balar Medan.

* Tulisan ini pernah dimuat dalam Bulletin Tekstual Edisi Bl September 2007 yang diterbitkan oleh Fakultas Sastra dan Budaya Univ. Khairun Ternate.

Sumber : http://arkeologi.web.id

Situs Gilimanuk


Oleh : Jatmiko

Lokasi dan Lingkungan Situs
Gilimanuk adalah nama suatu tempat pelabuhan penyeberangan kapal ferry dari Pulau Jawa ke Bali. Lokasi ini juga merupakan pintu gerbangnya Pulau Bali dari arah barat (apabila melalui jalan darat). Mungkin tidak banyak masyarakat awam yang tahu kalau di wilayah ini dahulu (masa pra-Hindu) mempunyai peranan yang sangat penting dalam perkembangan sejarah di Bali. Di wilayah ini telah ditemukan suatu situs kompleks kubur dari masa prasejarah yang lokasinya terletak di tepi pantai (teluk), tepatnya berada di Desa Gilimanuk, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana dan berjarak sekitar 1 km arah tenggara dari pelabuhan penyeberangan. Berdasarkan lokasi astronomis situs ini terletak pada koordinat antara 809’36’’ – 8012’59’’ Lintang Selatan dan 114029’57’’ – 114029’10’’ Bujur Timur (Tim Peneliti 1979; 1990).

Secara geomorfologis, Situs Gilimanuk yang mempunyai luas sekitar 53 hektar dan berada pada ketinggian sekitar 4-5 meter dari permukaan laut (dpl) ini dibatasi oleh Gunung Prapat Agung yang terletak di sebelah barat daya, sedangkan di sebelah selatannya terdapat rumah penduduk Desa Banjararum. Di sebelah timur situs ini terdapat areal hutan bakau dan di sebelah baratnya dibatasi oleh Selat (Teluk) Bali. Wilayah ini termasuk dalam satuan pedataran aluvium dan berombak yang tersebar di bagian selatan dan utara. Dataran yang landai tersebut merupakan hasil endapan aluvium dari sungai dan laut dengan ketinggian rata-rata 0-5 meter di atas permukaan laut ke arah pelabuhan. Situs ini dikelilingi oleh paparan dangkalan (< style="font-weight: bold;">

Riwayat dan Latar Belakang
Riwayat dan latar belakang penemuan Situs Gilimanuk tidak dapat dilepaskan dari peran dan sekaligus pelopor penelitian situs ini, yaitu Prof. Dr. R.P. Soejono yang pada waktu itu menjabat sebagai Kepala Cabang Dinas Purbakala di Bedaulu, Bali. Informasi awal tentang keberadaan situs ini bermula dari hasil laporan para pekerja DPU pada 1961 yang sedang melakukan pembuatan jalan raya antara Gilimanuk – Singaraja (di Dukuh Cekik, sekitar 6 km dari Gilimanuk) di mana mereka menemukan sejumlah besar pecahan periuk (kereweng) dan beberapa beliung persegi. Atas dasar laporan tersebut, kemudian pada 1962 dilakukan penelitian penjajagan di sekitar Dukuh Cekik namun hasilnya dinilai kurang memuaskan, sehingga pada 1963 kemudian penelitian diperluas dan dialihkan ke daerah pinggiran pantai (teluk) Gilimanuk. Dari hasil penelitian tersebut telah ditemukan sejumlah fragmen tulang-tulang manusia dan hewan, berbagai macam kereweng berhias dan polos, serta benda-benda logam dan manik-manik yang didapatkan secara berserakan pada salah satu tebing pinggiran pantai yang sedang mengalami pengikisan (Soejono 1977).

Berdasarkan temuan-temuan tersebut, kemudian pada 1964 dilakukan suatu penelitian (melalui ekskavasi arkeologi) secara besar-besaran yang melibatkan beberapa tenaga ahli dan gabungan mahasiswa dari 3 universitas: Universitas Udayana, Universitas Gadjah Mada, dan Universitas Indonesia. Penelitian kemudian dilanjutkan pada tahun 1973, 1977, 1979, 1984, 1985, 1986, 1990 dan sampai sekarang penelitian di situs ini masih terus berlanjut serta ditangani oleh Balai Arkeologi Denpasar. Secara umum, Situs Gilimanuk yang merupakan kompleks kubur (nekropolis) dari masa prasejarah ini telah ditemukan lebih dari 300 individu rangka manusia beserta benda-benda bekal kuburnya yang antara lain berupa: gelang dan perhiasan dari kerang, tanah liat bakar (cawan, periuk, mangkuk, pedupaan, kendi), manik-manik (kaca, kerang, terakota, batu kalsedon dan emas), benda-benda perunggu dan besi (gelang, anting, cincin, mata tajak, mata tombak, mata pisau, mata pancing), sisa-sisa hewan (unggas, anjing, dan babi) (Soejono 1977;1984).

Kompleks Kubur

Rangka manusia dari Situs Gilimanuk

Sejumlah temuan rangka manusia yang ditemukan di Situs Gilimanuk ini secara nyata telah memperlihatkan suatu sistem atau pola penguburan yang jelas sangat berbeda dengan tradisi penguburan pada masyarakat Bali sekarang dimana umumnya dilakukan dengan cara ngaben (dibakar), sehingga tidak meninggalkan bekas-bekas atau jasadnya. Hal ini sesuai dengan kepercayaan yang dianut oleh masyarakat Bali sekarang yang mayoritas memeluk agama Hindu. Keberadaan kompleks kubur di Situs Gilimanuk yang sangat unik tersebut secara nyata telah menimbulkan suatu tanda tanya besar dan teka-teki misterius yang masih belum terjawab secara tuntas sampai sekarang. Mungkinkah sistem penguburan yang berlangsung di situs ini berasal dari masa prasejarah; lalu sejak kapan terjadinya; kenapa rangka-rangka tersebut dibekali dengan benda-benda kubur, kenapa ada rangka-rangka binatang atau manusia yang terpotong tulangnya dan mungkin masih banyak lagi berbagai pertanyaan menarik yang memerlukan jawaban dari keunikan situs ini? (Jatmiko, 2000).

Berdasarkan pengamatan terhadap sistem penguburan yang berlangsung di Situs Gilimanuk (menurut Soejono) secara garis besar dibagi menjadi empat kategori menurut polanya: yaitu Pola-1 adalah kubur pertama (primary burial), Pola-2 adalah kubur kedua (secondary burial), Pola-3 adalah kubur campuran atau gabungan antara Pola-1 dan 2 dengan berbagai variasi, dan Pola-4 adalah penguburan dengan tempayan yang sifatnya khusus, karena menggunakan tempayan sepasang untuk mengubur tulang-tulangkubur kedua (double jars burial). Berbagai sikap mayat yang berhasil diketahui (terutama yang banyak terdapat pada beberapa kubur Pola-1) memperlihatkan beberapa variasi atau posisi yang sangat menyolok, di antaranya sikap membujur (extended), setengah terlipat (semi flexed), melipat (flexed), dan dorsal dengan kedua paha terbuka, dorsal dengan bagian tungkai di bawah lutut ditarik ke belakang dan tertelungkup atau tersungkur (prostrate position) (Soejono 1977).

Data demografi dan hasil identifikasi anatomis terhadap sejumlah 227 individu rangka manusia yang ditemukan dalam kegiatan ekskavasi di Gilimanuk dari tahun 1964-1985, telah memperlihatkan hasil bahwa sekitar 177 individu dapat diketahui umurnya dan 115 individu dapat diketahui jenis kelaminnya. Berdasarkan umur, sebagian besar rangka manusia yang ditemukan terdiri dari usia 1 - 55 tahun (dalam usia produktif dan nonproduktif) dengan populasi angka kematian terbanyak antara usia 1 – 10 tahun (82 individu). Sedangkan dari jenis kelamin diketahui bahwa 68 individu terdiri dari laki-laki, 47 individu terdiri dari jenis perempuan, dan selebihnya sebanyak 111 individu sukar ditentukan karena kondisi tulang (rangka) yang sudah rapuh, fragmenter dan tidak lengkap. Populasi penduduk di situs kubur Gilimanuk diperkirakan mencapai sekitar 300 orang (pada waktu itu) yang menempati areal seluas 53 km2 (Arifin Azis, 1993).

Bekal Kubur dan Konsepsi Kepercayaan


Salah satu konsepsi kepercayaan yang sangat menonjol dalam masyarakat prasejarah di Indonesia adalah sikap terhadap alam kehidupan sesudah mati. Kepercayaan yang berlatar belakang animisme dan dinamisme tersebut memunyai anggapan bahwa roh seseorang dianggap memunyai kehidupan di alamnya tersendiri sesudah meninggal, sehingga perlu diadakan upacara-upacara keagamaan sebelum dikuburkan. Konsepsi kepercayaan yang paling menyolok dalam kaitannya dengan upacara kematian adalah sistem penguburan, terutama bagi mereka yang dianggap terkemuka oleh masyarakat.

Sistem penguburan tersebut biasanya dilakukan secara langsung (primer) maupun tidak langsung (sekunder) dengan penyertaan bekal kubur (funeral gift) berbentuk benda-benda pusaka, senjata, perhiasan dan mungkin juga makanan yang diletakkan dalam periuk-periuk sekitar mayat. Bekal kubur tersebut kadang-kadang juga berupa binatang (anjing, babi) dan manusia yang khusus dikorbankan dengan maksud agar arwahnya dapat ikut serta dengan roh si mati ke alam baka. Kehidupan di alam arwah dipandang sama keadaannya dengan dunia orang hidup, oleh karena itu kesejahteraan arwah harus tetap terjamin untuk menjaga kelangsungan hubungan dengan orang-orang yang ditinggalkan agar dapat terus berlangsung dengan baik (Soejono, 1984).

Berbagai bentuk pola kubur dan penyertaan benda-benda kubur yang ditemukan di Gilimanuk secara nyata hal tersebut jelas memperlihatkan suatu bentuk atau sistem penguburan yang sangat erat hubungannya dengan status sosial orang yang dikuburkan (si mati). Beberapa contoh sistem penguburan menarik yang mungkin memunyai kaitan dengan stastus sosial di situs ini antara lain adalah temuan kubur tempayan sepasang yang disertai dengan bekal kubur manusia yang dibunuh dengan sengaja dan diletakkan dibawahnya, serta temuan tulang leher manusia yang terpotong (dipenggal?) dalam sebuah cawan, kemudian ada lagi rangka manusia yang disertai dengan rangka anjing, atau beberapa rangka manusia yang disertai dengan rangka anjing atau beberapa rangka manusia yang diberi bekal kubur berupa tutup mulut dan tutup mata dari suasa, perhiasan dari emas, kapak-kapak perunggu, mata tombak, manik-manik, gigi taring (seri) anjing yang dilubangi (sebagai kalung), dan sebagainya. Semua ini memperlihatkan suatu bentuk penghormatan terhadap orang-orang tertentu, seperti misalnya terhadap golongan pemimpin atau orang-orang yang memunyai pengaruh besar. Khusus mengenai penyertaan korban manusia yang dibunuh secara paksa atau penyertaan binatang anjing, kemungkinan hal itu dihubungkan sebagai symbol untuk mengiring perjalanan si mati (tuannya) ke dunia arwah. Karena seperti kita ketahui anjing adalah salah satu hewan yang sangat penurut, di mana tuannya pergi dia akan selalu mengikuti, sedangkan korban manusia di sini diidentikkan dengan pelayan atau budak yang sangat setia kepada tuannya (Soejono, 1977).

Manusia Pendukung dan Pertanggalan (Kronologi)
Berdasarkan hasil analisis anatomi terhadap beberapa temuan rangka manusia dari situs kubur Gilimanuk yang dilakukan oleh Bio-Paleoantropologi (UGM), maka berhasil diketahui bahwa manusia pendukung situs ini adalah termasuk jenis manusia modern (spesies Homo Sapiens). Sedangkan ciri ras yang paling dominan ditemukan adalah Mongoloid walaupun kecenderungan cirri-ciri ras Australomelanesoid masih terlihat. Dari hasil analisis pertanggalan absolut karbon 14 (14C) yang dilakukan di laboratorium Groningen (Belanda) menunjukkan bahwa okupasi Situs Gilimanuk berlangsung selama 200 tahun, yaitu kira-kira pada abad kedua hingga keempat Masehi atau pada akhir masa prasejarah (masa perundagian – paleometalik). Pertanggalan absolut tersebut berkisar antara 1650±55 BP - 2020±165 BP (Arifin Azis, 1993; 1998).

Sisa-sisa Fauna
Pemberdayaan sumber daya fauna (baik hewan darat mau pun air) ternyata sudah dilakukan oleh masyarakat pendukung Situs Gilimanuk sejak dulu. Bukti-bukti tersebut diperoleh melalui sejumlah temuan tulang-tulang hewan dari hasil penggalian (masih dalam konteks kubur) yang sangat melimpah. Pemanfaatan hewan darat ini, antara lain, terdiri dari jenis babi, anjing, unggas (ayam), tikus, dan kelelawar; sedangkan dari jenis hewan air umumnya berasal dari biota marin jenis kerang-kerangan dan ikan. Binatang-binatang tersebut kemungkinan dimanfaatkan sebagai konsumsi atau makanan sehari-hari di samping untuk keperluan upacara-upacara tertentu dalam penguburan (misalnya sebagai bekal kubur). Sisa-sisa tulang binatang tersebut seringkali juga dimanfaatkan untuk peralatan dan perhiasan. Jenis kulit kerang-kerang besar seperti Strombidae, Pleurotomaiidae, dan Tridacna dimanfaatkan sebagai gelang atau anting, sedangkan jenis kerang setakup Bivalvia dipakai sebagai alat serut, lancipan, atau pisau, dan jenis kerang Cowry besar dipergunakan sebagai sendok dan cawan kecil (Tim Peneliti, 1979; 1990).

Penutup
Situs Gilimanuk merupakan salah satu situs kompleks penguburan (necropolis) di tepi pantai (pesisir) yang berasal dari masa akhir prasejarah sebelum masuknya pengaruh Hindu (pra-Hindu) di Bali. Dari beberapa data temuan yang dihasilkan melalui penelitian (ekskavasi), setidaknya hal tersebut telah memberikan suatu bukti dan petunjuk tentang adanya corak budaya atau tradisi asli (lokal) yang berkembang pada waktu itu sebelum terkena pengaruh unsur-unsur dari luar (budaya asing). Temuan rangka-rangka manusia yang dikuburkan baik secara langsung (tanpa wadah) maupun memakai wadah tempayan (bersusun) beserta benda-benda bekal kuburnya telah memperlihatkan suatu gambaran tentang adanya sistem penguburan yang berlatar belakang pemujaan arwah leluhur dan pengkultusan individu (status sosial masyarakat). Dan dari hasil identifikasi temuan rangka-rangka tersebut telah diketahui bahwa yang dikuburkan adalah jenis laki-laki dan perempuan yang terdiri dari golongan orang dewasa, remaja, dan anak-anak. Golongan anak-anak yang memunyai umur antara 1-10 tahun ternyata memunyai tingkat kematian yang sangat tinggi. Sementara itu, pada waktu (masa) yang bersamaan di daerah bali (terutama di wilayah pedalaman) juga berlangsung suatu sistem penguburan yang memakai wadah “sarkofagus”.

Sistem penguburan pada masa akhir masa prasejarah (perundagian) di daerah tepi pantai (pesisir) atau sekitar tepi sungai ternyata tidak hanya terdapat di Situs Gilimanuk, dan ternyata di wilayah-wilayah lainnya di Indonesia juga ditemukan, di antaranya adalah Situs Muara Betung (Sumatra Selatan), Anyer (Jawa Barat), Plawangan (Jawa Tengah), Melolo dan Lambanapu (Sumba Timur), dan Lewoleba (Flores).

Daftar Pustaka
Arifin Azis, Fadhila. 1993. “Studi Arkeologi Demografi pada Situs Kubur Gilimanuk (Bali) dari Masa Perundagian”, dalam PIA VI. Jakarta: Puslit Arkenas.

Arifin Azis, Fadhila, 1998. “Karakteristik dan Sebaran Situs Kubur Tempayan di Asia Daratan dan Kepulauan, Kawasan Asia Tenggara”. Berkala Arkeologi, Edisi No. 2 Th XVIII.

Jatmiko. 2000. “Sistem Penguburan dengan Kalamba di Lembah Besoa: Bentuk Gambaran Komunal dalam Tata Masyarakat Prasejarah di Indonesia”, Makalah dalam EHPA Bedugul (Bali). Jakarta: Puslit Arkenas.

Soejono, RP. 1977. “Sistem Penguburan pada Akhir Masa Prasejarah di Bali”, Disertasi (Teks). Jakarta: Universitas Indonesia.

Soejono, RP. 1984. Sejarah Nasional Indonesia I. Editor. Jakarta: Depdikbud, Balai Pustaka.
Tim Peneliti. 1977. 1979. 1990. “Ekskavasi Situs Gilimanuk”. Jakarta: LPA Bidang Prasejarah, Puslit Arkenas.

Sumber tulisan
http://indoarchaeology.com
http://www.wacananusantara.org/99/600/situs-gilimanuk