Sabtu, 20 Maret 2010

Arsitektur Tradisional Rumah Adat Bangsa Melayu-Bengkulu

Oleh : Presty Larasati

Dalam bahasa Melayu-Bengkulu, rumah tempat tinggal dinamakan juga rumah. Rumah tradisional Bengkulu termasuk tipe rumah panggung. Rumah panggung ini dirancang untuk melindungi penghuninya dari banjir. Di samping itu, kolong rumah panggung juga dapat dipergunakan untuk menyimpan gerobak, hasil panen, alat-alat pertanian, kayu api, dan juga berfungsi sebagai kandang hewan ternak. Bentuk rumah panggung Melayu ini terbagi menjadi beberapa bagian, antara lain:

Bagian Atas
Bagian atas rumah adat Melayu Bengkulu ini terdiri dari:

1. atap, terbuat dari ijuk, bambu, atau seng;
2. bubungan, ada beberapa bentuk;
3. pacu, plafon dari papan atau pelupuh;
4. peran, balok-balok bagian atas yang menghubungkan;
5. tiang-tiang bagian atas;
6. kap, kerangka untuk menempel kasau;
7. kasau, untuk mendasi reng;
8. reng, untuk menempel atap;
9. listplang, suyuk, penyunting.

Bentuk bagian atas ini akan terlihat pada bubungan yang dibuat. Beberapa jenis bubungan antara lain:

* bubungan lima

bubungan limas



bubungan haji (bubungan sembilan)




bubungan jembatan


bubungan gabungan lima dan jembatan



Bagian Tengah
Bagian tengah rumah adat Melayu Bengkulu ini terdiri dari:

1. kusen, kerangka untuk pintu dan jendela;
2. dinding, terbuat dari papan atau pelupuh;
3. jendela, bentuk biasa dan bentuk ram;
4. pintu, bentuk biasa dan bentuk ram;
5. tulusi (lubang angin), sebagai ventilasi, biasanya di atas pintu dan jendela, dibuat dengan berbagai ragam hias;
6. tiang penjuru;
7. piabung, tiang penjuru hal;
8. tiang tengah;
9. bendu, balok melintang sepanjang dinding.

Bagian Bawah
Bagian bawah rumah adat Melayu Bengkulu ini terdiri dari:

1. lantai, dari papan, bambu, atau pelupuh;
2. geladak, dari papan 8 dim dengan lebar 50cm dipasang sepanjang dinding luar di atas balok;
3. kijing, penutup balok pinggir dari luar, sepanjang keliling dinding;
4. balok (besar), kerangka untuk lantai yang memanjang ke depan;
5. tailan, balok sedang yang berfungsi sebagai tempat menempelkan lantai;
6. blandar, penahan talian, melintang;
7. bedu, balok diatas sebagai tempat meletakkan rel;
8. bidai, bambu tebal yang dipasang melintang dari papan lantai, untuk mempertahankan dari tusukan musuh dari bawah rumah;
9. pelupuh kamar tidur, sejajar dengan papan lantai (di atas bidai);
10. lapik tiang, batu pondasi tiang-tiang rumah;
11. tangga depan dan belakang.

Susunan Ruang
Rumah tempat tinggal memilki fungsi dalam kehidupan. Ada pun susunan dan fungsi ruang pada rumah adat Melayu Bengkulu ini adalah:



1. Berendo
Tempat menerima tamu yang belum dikenal, atau tamu yang hanya menyampaikan suatu pesan (sebentar). Selain itu juga dipergunakan untuk relaks pada pagi atau sore hari. Bagi anak-anak, berendo juga sering dipergunakan untuk bermain congkak, karet, dan lain-lain.

2. Hal
Ruang untuk menerima tamu yang sudah dikenal baik, keluarga dekat, atau orang yang disegani. Ruangan ini juga digunakan untuk tempat cengkrama keluarga pada malam hari, ruangan belajar bagi anak-anak, dan sewaktu-waktu ruang ini digunakan untuk selamatan atau mufakat sanak famili.

3. Bilik gedang
Bilik gedang atau bilik induk merupakan kamar tidur bagi kepala keluarga (suami-istri) serta anak-anak yang masih kecil.

4. Bilik gadis
Biasanya terdapat pada keluarga yang memiliki anak gadis, merupakan kamar bagi si anak gadis. Selain untuk tidur juga digunakan untuk bersolak. Bilik gadis biasanya berdampingan dengan bilik gedang, demi keamanan dan kemudahan pengawasan terhadap anak gadis mereka.

5. Ruang tengah
Biasanya dikosongkan dari perabot rumah, dan di sudutnya disediakan beberapa helai tikar bergulung karena fungsi utamanya adalah untuk menerima tamu bagi ibu rumah tangga atau keluarga dekat bagi si gadis. Di samping itu, ruang tengah sering dipakai sebagai tempat belajar mengaji. Bagi keluarga yang tidak memilki kamar bujang tersendiri, kadang-kadang dipakai untuk tempat tidur anak bujang.

6. Ruang makan
Tempat makan keluarga. Pada rumah kecil biasanya tidak terdapat ruang makan, mereka makan di ruang tengah. Bila ada tamu bukan keluarga dekat, maka untuk mengajak tamu makan bersama digunakan hal, bukan di ruang makan.

7. Garang
Tempat penyimpanan tempayan air atau gerigik atau tempat air lainnya, juga dipakai untuk tempat mencuci piring dan mencuci kaki sebelum masuk rumah atau dapur.

8. Dapur.
Ruangan untuk memasak.

9. Berendo belakang
Serambi belakang, tempat relaks bagi kaum wanita pada siang atau sore hari, melepas lelah setelah mengerjakan tugas, tempat mengobrol sambil mencari kutu.

Sebenarnya, selain rumah adat Melayu-Bengkulu, di Bengkulu juga terdapat rumah adat yang lain seperti rumah Umeak Potong Jang (Rumah Buatan Rejang) yang merupakan umeakan (rumah kuno) asli Rejang (salah satu suku di Bengkulu), rumah Kubung Beranak milik bangsawan Rejang Pesisir, rumah Patah Sembilan yang merupakan rumah tradisional rakyat biasa suku bangsa Rejang Pesisir.

Referensi
Achmad, Ramli, dkk. 1992. Koleksi Miniatur Rumah Tradisional Suku Bangsa Rejang dan Melayu Bengkulu Museum Negeri Provinsi Bengkulu. Bengkulu: Depdikbud Propinsi Bengkulu.

Museum Negeri Propinsi Bengkulu , 1993. Koleksi miniatur rumah tradisional suku bangsa Rejang dan Melayu Bengkulu, Museum Negeri Provinsi Bengkulu. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Proyek Pembinaan Permuseuman Bengkulu, Bengkulu,

Sumber : http://prestylarasati.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar