Minggu, 21 Maret 2010

Bhre Lasem dan Bhre Pajang

Ada pun, adik perempuan Hayam Wuruk, Bhre Lasem, menikah dengan Raja Matahun Rajasawardhana; sedangkan adik termuda, Bhre Pajang, menikah dengan Raja Paguhan Singawardhana. Bhre Lasem menurunkan putri bernama Nagarawardhani, yang kemudian dinikahkan dengan putra Hayam Wuruk dari selir, bernama Bhre Wirabhumi. Pararaton memberitakan bahwa Bhre Wirabhumi nikah dengan “Bhre Lasem sang Alemu” (Bhre Lasem yang gemuk). Dengan begitu, Nagarawardhani dalam Nagarakretagama itu sama dengan Bhre Lasem Sang Alemu dalam Pararaton.

Ada pun Bhre Pajang menurunkan putri Surawardhani yang memerintah di Pawanuhan dan Wikramawardhana alias Bhre Mataram. Wikramawardhana menikah dengan Kusumawardhani, anak gadis Hayam Wuruk dengan Indudewi, putri Raja Wijayarajasa. Pararaton menyebut Kusumawardhani sebagai Bhre Lasem Sang Juwita.

Berikut Nagarakretagama pupuh VI melukiskan kedua adik perempuan Hyam Wuruk beserta suaminya masing-masing.

1. Telah dinobatkan sebagai raja tepat menurut rencana. Laki tangkas Rani Lasem bagai raja daerah Matahun. Bergelar Rajasawardana, sangat bagus lagi putus dalam naya.Raja dan rani terpuji laksana Asmara dengan Pinggala.

2. Sri Singawardana, rupawan, bagus, muda, sopan, dan perwira.Bergelar raja Paguhan, beliaulah suami Rani Pajang. Mulia pernikahannya laksana Sanatkumara dan Dewi Ida. Bakti kepada raja, cinta sesama, membuat puas rakyat.

3. Bhre Lasem menurunkan putri jelita Nagarawardani. Bersemayam sebagai permaisuri pangeran di Wirabumi. Rani Pajang menurunkan Bhre Mataram Sri Wikramawardana.Bagaikan titisan Hyang Kumara, wakil utama Sri Narendra.

4. Putri bungsu rani Pajang memerintah daerah Pawanuhan. Berjuluk Surawardani, masih muda indah laksana lukisan. Para raja pulau Jawa masing-masing mempunyai negara. Dan Wilwatikta tempat mereka bersama menghamba Sri Nata.

Nagarakretagama pupuh 1-7 secara teliti menguraikan hubungan kekeratatan Hayam Wuruk dengan raja-raja bawahannya yang memerintah di Jawa. Di masa pemerintahan Hayam Wuruk inilah Majapahit mencapai puncak kebesarannya. Ambisi Gajah Mada untuk menundukkan Nusantara mencapai hasilnya di masa ini sehingga pengaruh kekuasaan Majapahit sampai ke Semenanjung Malaysia, Sumatra, Kalimantan, Maluku, hingga Papua. Sementara, wilayah Priangan (Sunda) hingga hancurnya Majapahit, tak berhasil ditaklukkan, walaupun pada 1357 terjadi peperangan yang dikenal dengan Pasunda Bubat.

Peristiwa Bubat merupakan perang yang tak direncanakan. Ketika itu tengah direncanakan pernikahan antara Dyah Pitalokā, putri Raja Sunda, dengan Hayam Wuruk. Acara berubah menjadi peperangan terbuka di lapangan Bubat, sebuah lapangan di ibukota kerajaan yang menjadi lokasi perkemahan rombongan kerajaan tersebut. Akibat peperangan itu Dyah Pitalokā bunuh diri yang mengakibatkan “perkawinan politik” dua kerajaan di Jawa ini gagal.

Kepustakaan
Babad Tanah Jawi, Mulai dari Nabi Adam Sampai Tahun 1647. (terj.). 2007. Yogyakarta: Narasi.
Mangkudimedja, R.M.. 1979. Serat Pararaton Jilid 2. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Penerbitan Buku Sastra Indonesia dan Daerah.

Muljana, Slamet. 2005. Menuju Puncak Kemegahan (terbitan ulang 1965). Yogyakarta: LKiS.

Muljana, Slamet. 2006. Nagarakretagama dan Tafsir Sejarahnya(terbitan ulang 1979). Yogyakarta: LKiS.

Marwati Poesponegoro & Nugroho Notosusanto. 1990. Sejarah Nasional Indonesia Jilid II. Jakarta: Balai Pustaka.

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/432/bhre-lasem-dan-bhre-pajang

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar