Minggu, 21 Maret 2010

Bujangga Manik: Perjalanan Seorang Peziarah 1

Naskah Bujangga Manik berbentuk puisi-prosa yang terdiri atas 1641 baris, diperkirakan ditulis pada abad ke-15. Naskah Bujangga Manik ditemukan oleh Andrew James, seorang pedagang asal Newport. Naskah ini lalu diserahkan kepada Perpustakaan Bodleian, Oxford pada 1627 oleh saudagar tersebut. Baru tahun 1968 (341 tahun semenjak diterima oleh perpustakaan di Oxford), naskah ini diteliti oleh seorang peminat naskah kuno dari Belanda, yakni Jacobus Noorduyn. Noorduyn-lah yang kemudian selama berpuluh-puluh tahun meneliti naskah ini, yang kemudian dibuatlah artikel berjudul “Bujangga Manik Journeys through Java: Topographical Data from an Old Sundanese Source”. Akan tetapi, Noorduyn wafat sebelum sempat mengumumkan penelitiannya yang menyeluruh atas naskah Bujangga Manik ini. pekerjaannya yang terputus ini lalu direuslan oleh seorang sahabatnya yang juga peminat budaya dan sastra Indonesia yang juga berkebangsaan Belanda, bernama A. Teeuw. Teeuw melengkapi kajian-kajian Noorduyn atas naskah Bujangga Manik (termasuk dua naskah lainnya: Putra-purta Rama dan Rawana dan Perjalanan Sri Ajnyana). Dari sini lahirlah buku berjudul Three Old Sundanese Poem (2006) yang diterjemahkan oleh Hawe Setiawan dengan judul Tiga Pesona Sunda Kuna (2008).

Noorduyn dan A. Teeuw memperkirakan bahwa kisah perjalanan Bujangga Manik berlangsung—mungkin juga disusun—pada masa Kerajaan Sunda di Pakuan Pajajaran masih eksis dan ketika Kesultanan Malaka masih menguasai jalur perniagaan Nusantara, sebelum jatuh ke tangan Portugis pada 1511, di mana Malaka telah menguasai jalur perniagaan sejak 1440.

Naskah Bujangga Manik menceritakan seorang petapa Sunda-Hindu yang memilih hidup sebagai petualang untuk memuaskan batin spiritualnya, padahal ia merupakan seorang tohaan (pangeran) istana Pakuan. Tokoh utamanya bernama Bujangga Manik, dan di beberapa halaman berubah menjadi Ameng Layaran. Ada sekitar 450 nama tempat yang ia singgahi, termasuk di antaranya 90 nama gunung dan 50 nama sungai—terbentang dari Sunda bagian barat (Pakuan) sampai Pulau Bali—di mana sebagian nama-nama geografis tersebut masih dikenal hingga kini. Selain berfungsi sastrawi yang indah, Bujangga Manik bisa dikatakan sebagai “ensiklopedi geografi Jawa” di mana tedapat ulasan berbagai segi kehidupan, baik dari budaya, agama, geografi, bahasa, arsitektur. Menurut A. Teeuw, kritikus sastra asal Belanda tersebut, naskah Bujangga Manik, sama seperti naskah-naskah Sunda kuno lainnya, bersifat otentik, tidak disalin, dan hanya satu-satunya di dunia (codex uniqus). Sayang, hingga kini naskah ini masih tersimpan di perpustakaan di Inggris.

Transliterasi Teks

Saur sang mahapandita:
"Kumaha girita ini?
Mana sinarieun teuing
teka ceudeum ceukreum teuing?
Mo ha(n)teu nu kabé(ng)kéngan."
(Orang bijak berkata:
“Keributan apa ini?
Kenapa sangat tidak terduga
kegelapan dan kehilangan ini?
Tidak diragukan lagi banyak orang yang sedih.”)

Saur sang mahapandita:
"Di mana éta geusanna?
Eu(n)deur nu ceurik sadalem,
séok nu ceurik sajero,
midangdam sakadatuan."
(Orang bijak berkata:
“Di mana terjadinya peristiwa ini?
Seluruh istana menangis,
seluruh pengadilan meraung dengan keras,
seluruh keraton meratap.)

Mo lain di Pakancilan,
tohaan eukeur nu ma(ng)kat,
P(e)rebu Jaya Pakuan
Sauma karah sakini:
(Tidak diragukan peristiwa itu terjadi di Pakancilan,
seorang pangeran akan pergi,
Pangeran Jaya Pakuan.
Lalu ia berkata:)

"A(m)buing tatanghi ti(ng)gal,
tarik-tarik dibuhaya,
pawekas pajeueung beungeut,
kita a(m)bu deung awaking,
héngan sapoé ayeuna.
("Bunda, tetaplah terjaga ketika berada di belakang,
walau Bunda menarikku sekuat buaya,
pertemuan ini akan menjadi saat terakhir kita bertatap muka,
kau, Bunda, dan diriku,
masih ada satu hari lagi, hari ini.)

Aing dék leu(m)pang ka wétan.
Saa(ng)geus nyaur sakitu,
i(n)dit birit su(n)dah diri,
lugay sila su(n)dah leu(m)pang.
Sadiri ti salu panti,
saturun ti tungtung surung,
(Aku akan pergi ke timur.
Setelah berkata demikian
ia berdiri dan berangkat,
meregangkan kakinya dan berjalan.
Setelah ia meninggalkan pintu masuk aula,
dan dari mimbar yang paling ujung.)

Ulang panapak ka lemah,
kalangkang ngabiantara,
reujeung deung dayeuhanana,
Mukakeun panto kowari. /Ir/
(Ia menapakkan kakinya di tanah,
bayangan dirinya muncul di luar,
bersama dengan dirinya,
dan ia membuka pintu gerbang.)

Sau(n)dur aing ti U(m)bul,
sadiri ti Pakancilan,
sadatang ka Wi(n)du Cinta,
cu(n)duk aing ka Mangu(n)tur,
ngalalar ka Pancawara,
ngahusir ka Lebuh Ageung,
na leu(m)pang saceu(n)dung kaen.
(Setelah melewati Umbul,
setelah pergi dari Pakancilan,
dan setelah sampai di Windu Cinta,
aku tiba di halaman paling luar,
melewati Pancawara,
untuk terus pergi ke alun-alun besar,
berjalan dengan mengenakan sehelai pakaian sebagai hiasan kepala.)

Séok na janma nu carek:
Tohaan nu dék ka mana?
Mana sinarieun teuing
teka leu(m)pang sosorangan?'
(Banyak rakyat yang berkata:
“Ke manakah engkau akan pergi, Tuan?
Kenapa engkau tiba-tiba
bepergian sendiri.”)
Ditanya ha(n)teu dek nyaur.
Nepi ka Pakeun Caringin,
ku ngaing teka kaliwat.
(Walau mereka bertanya, aku tidak ingin berkata apa-apa.
Pergi ke Pakuen Caringin,
aku melewatinya dengan segera.)

Ngalalar ka Na(ng?)ka Anak,
datang ka Tajur Mandiri.
(Aku pergi melewati Nangka Anak,
dan datang ke Tajur Mandiri.)

Sacu(n)duk ka Suka Beureus,
datang ka Tajur Nyanghalang, nyanglandeuh aing di Engkih,
[ms. da]
meu(n)tasing di Cihaliwung.
(Setelah aku tiba di Suka Beureus,
aku pergi ke Tajur Nyanghalang,
turun menuju Engkih,
dan menyeberangi Sungai Cihaliwung.)

Sana(n)jak aing ka Ba(ng)gis,
ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
nepi ka Talaga Hening,
ngahusir aing ka Peusing.
(Setelah naik menuju ke Banggis,
aku melewatinya,
dan sampai di Telaga Hening,
aku meneruskan perjalanan ke Peusing.)

Na leu(m)pang megat morentang,
meu(n)tas aing di Cili(ng)ga.
(Berjalan lurus ke depan,
Aku menyeberangi Sungai Cilingga.)

Sane(pi) ka Putih Birit,
panjang ta(n)jakan ditedak,
ku ngaing dipeding-peding.
(Setelah tiba di Putih Birit,
aku harus melakukan sebuah pendakian yang panjang,
yang aku lakukan sedikit demi sedikit.)

Sadatang aing ka Puncak,
deuuk di na mu(ng)kal datar,
teher ngahididan a / wak. / 1v /
(Setelah tiba di Puncak,
aku duduk di atas sebuah batu pipih,
dan mengipasi diriku sendiri.)

Teher sia ne(n)jo gunung:
itu ta na bukit Ageung,
hulu wano na Pakuan.
(Di sana ia melihat pegunungan:
Terdapat Bukit Ageung,
tempat tertinggi dalam kekuasaan Pakuan.)

Sadiri aing ti inya,
datang ka alas Eronan.
Nepi aing ka Cinangsi,
meu(n)tas aing di Citarum.
(Setelah pergi dari sana,
aku pergi ke daerah Eronan.
Aku sampai di Cinangsi,
menyeberangi Sungai Citarum.)

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
meu(n)tas di Cipunagara,
lurah Medang Kahiangan,
ngalalar ka Tompo Omas,
meu(n)tas aing di Cimanuk,
ngalalar ka Pada Beunghar,
meu(n)tas di Cijeruk-manis,
ngalalar aing ka Conam,
katukang bukit C(e)remay.
(Setelah berjalan melewati daerah ini,
aku menyeberangi Sungai Cipunagara,
bagian dari daerah Medang Kahiangan,
berjalan melewati Gunung Tompo Omas,
menyeberangi Sungai Cimanuk,
berjalan melewati Pada Beunghar,
menyeberangi Sungai Cijeruk Manis,
aku berjalan melewati Conam,
meninggalkan Gunung Ceremay.)

Sacu(n)duk ka Luhur Agung,
meu(n)tasing di Cisinggarung.
(Setelah aku tiba di Luhur Agung,
menyeberangi Sungai Cisinggarung.)

Sadatang ka tungtung Su(n)da,
meu(n)tasing di Cipamali,
datang ka alas Jawa.
(Setelah mencapai ujung dari Sunda,
menyeberangi Sungai Cipamali,
tibalah di daerah Jawa.)

Ku ngaing geus kaideran,
lurah-lirih Majapahit,
palataran alas Demak.
Sanepi ka Jati Sari,
datang aing ka Pamalang.
(Aku berkelana melewati
wilayah-wilayah berbeda di Majapahit,
dan daerah dataran Demak.
Setiba di Jati Sari,
aku datang ke Pamalang.)

Di inya aing teu heubeul.
Katineung na tuang a(m)bu,
lawas teuing diti(ng)galkeun.
Tosta geura pulang deui.
Mumul nyorang urut aing. /2 r/
(Di sana aku tidak singgah terlalu lama.
Aku merindukan ibuku,
yang telah ditinggalkan terlalu lama.
Aku harus segera pulang.
Tak ingin melalui jalan yang telah kulewati.)

Itu parahu Malaka.
Turun aing ti Pamalang, [ms. -ran]
tuluying nu(m)pang balayar.
(Itu kapal dari Malaka.
Turun aku di Pamalang
lalu menumpang berlayar.)

Bijil aing ti muhara,
masang wedil tujuh kali,
ing na goong brang na gangsa,
seah na ge(n)dang sarunay,
seok nu kawih tarahan,
nu kawih a(m)bah-a(m)bahan:
(Tiba aku di muara
senapan ditembakkan tujuh kali,
gong ditabuh, simbal dibunyikan,
genderang dan gendang dimainkan,
suara yang keras datang dari gubuk-gubuk,
bernyanyi dengan teriakan keras:)

"Ba(n)tar kali buar pelang."
"Surung-sarang suar gading."
"Manyura ditedas u(n)cal."
(“Muara sungai, pohon pelang.”
“Alas lantai dari suar gading.”
“Seekor merak terluka parah oleh seekor rusa.”)

Mibabahon awi go(m)bong,
miitihang awi nyowana,
kamudi kamudi Keling,
apus dangdan hoe muka,
paselang deung hoe omas,
pabaur hoe walatung.
Tihang layar kayu laka,
hurung beunangna ngahi(ng)gul,
siang beunang ngaj(e)rinang
(Kapal itu memiliki dek dari bambu gombong,
dan pilar kapal dari bambu nyowana,
kemudi kapal itu jenis kemudi India,
kapal itu direkatkan dengan tali dari rotan muka,
dipadukan dengan rotan omas,
dan dicampur rotan walatung.
Pilar utama kapal terbuat dari kayu laka,
terang gemerlap, diwarnai merah (?),
dengan hebatnya, diwarnai merah tua.)

Beuteung bogoh ku sakitu,
bogoh ku nu mawa inya:
Nu badayung urang Ta(n)jung,
nu ru(m)ba urang Kalapa,
nu babose urang Angké,
bosé rampas bose layang,
deungeun bose susu landung.
(Setelah aku mengagumi semua itu,
mengagumi awak kapal:
Para pendayung adalah orang-orang Tanjung,
para penimba adalah orang-orang Kelapa,
para pendayung adalah orang-orang dari Angke,
menggunakan dua dayung dan dayung ngambang,
juga menggunakan dayung susu.)

Balayar satengah bulan,
ba/ nyat aing di Kalapa. / 2v /
(Berlayar setengah bulan,
kami berlabuh di Kalapa.)

Ngaraning Ameng Layaran.
U(n)dur aing ti parahu.
(Namaku Ameng Layaran.
Aku meninggalkan kapal.)

Sadatang ka Pabeyaan,
ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
ngalalar ka Ma(n)di Rancan,
datang ka A(n)col Tamiang,
ngalalar aing ka Samprok.
(Sesampai di Pabeyan,
aku berjalan melewatinya,
berjalan melalui Mandi Rancan,
sampai di Ancol Tamiang,
dan melewati Samprok.)

cu(n)duk ka leuweung langgong,
meu(n)tas aing di Cipanas,
ngalalar ka Suka Kandang.
(Setiba di hutan yang luas,
aku menyeberangi Sungai Cipanas,
berjalan melewati Suka Kandang.)

Ku ngaing geus kaleu(m)pangan,
meu(n)tas aing di Cikencal.
(Telah terlewati olehku Suka Kandang,
aku menyeberangi Sungai Cikencal.)

cu(n)duk aing ka Luwuk,
meu(n)tas aing di Ciluwer.
(Sesampai di Luwuk,
aku menyeberangi Sungai Ciluwer.)

Sacu(n)duk ka Peuteuy Kuru,
ngalalar ka Ka(n)dang Serang.
(Sesampai di Peteuy Kuru,
aku berjalan lewat Kandang Serang.)

Sacu(n)duk aing ka Batur,
ngaing geus kaleu(m)pangan,
meu(n)tasing di Cihaliwung.
(Setelah mencapai Batur,
yang telah kulewati,
aku menyeberangi Sungai Ciliwung.)

Sacu(n)duk ka Pakeun Tubuy,
ngalalar ka Pakeun Tayeum.
(Sesampai di Pakuen Tubuy,
aku melewati Pakuen Tayeum.)

Sacu(n)duk aing ka Batur,
sadatang ka Pakancilan,
mukakeun panto kowari,
ngahusir ka lamin ading,
lamin ading pancatulis,
bale renceng / pangrekaan. /3r/
Pamikul beunang ngahi(ng)gul,
pangheret beunang miseret,
li(n)car beunang ngaj(e)rinang,
suhunan beunang marada,
sare galar beutung tuha,
dijeujeutan kawat Jawa.
(Setelah sampai di Batur,
setiba di Pakancilan,
aku membuka pintu gerbang,
dan pergi menuju rumah tamu,
rumah tamu yang dihias dengan baik.
Paviliun yang dihiasi dengan indah,
balok lintang diikat dengan baik,
dengan bagian skirting-boards diwarnai merah tua,
pilar perabungan yang disepuh,
lantai dan pilar-pilar yang terbuat dari beuteung tua,
diikat bersama dengan ikatan ala Jawa.)

U(n)ggah tohaan ka manggung,
pa(ng)guh lu(ng)guh di palangka./0
(Sang pangeran naik ke atas,
dengan penuh khidmat duduk di atas dipan.)

A(m)buing kaso(n)dong ngeuyeuk,
buat nu di tepas bumi,
eukeur ngeuyeuk eukeur meubeur,
eukeur nyulage mihane,
neuleum nuar nyangkuduan,
ngaracet ka(n)teh pamulu,
ngela sepang ngangeun hayam.
(Ibundaku sedang menenun
di beranda rumahnya,
sangat khusyuk menenun tenunan,
Sedang menyulam, memperindah
menggosok benang wol yang mengkilap,
merebus sappan dan memasak ayam.)

Nyoreang ka lamin ading,
ngadeuleu sali(ng)ger beuheung,
katuluyan deuleu teuteuh.
(Melirik ke arah rumah tamu,
dia menengokkan kepalanya dan melihat,
lalu menatap dengan saksama.)

Saur a(m)buing sakini:
'Itu ta eugeun si utun!
Ayeuna cu(n)duk ti timur,
ayeuna datang ti wetan,
datangna ti Rabut Palah.
(Ibuku lalu berkata:
“Tuh, itu anakku!
Sekarang telah kembali dari timur,
kembali dari timur jauh,
telah kembali dari Rabut Palah.)

Anaking deudeuukanan!
Anaking papalayanan!
Aing dék nyiar seupaheun."
(Anakku, kemari, duduklah di sini!
Anakku, kemar, beristirahatlah!
Aku akan mengambil sugi buah pinang.”)

Na heuyeuk tuluy ditu(n)da,
diparac apus / dada(m)par, /3v/
loglog caor ti na to(ng)gong,
diri hapit ti na pingping,
kedalan diri ti da(m)pal.
Neut na(n)jeur ngajuga hangsa.

(Tenunan lalu diletakkan,
tali dilepaskan,
beban dilepaskan dari punggungnya,
diri diapit pada paha,
alas kaki dari tapak kaki.
Lalu dia berdiri seperti angsa.)

Saasup sia ka bumi,
nyi(ng)kabkeun kasang carita.
(Setelah memasuki rumah,
dia menutup kembali tirai.)

Eu(n)deur na rarawis kasang,
kumare(n)cang kumare(n)cong,
ni(ng)gang ka na papan ja(n)ten.
(Rumbai dari tirai terdengar,
berderik dan gemerincing,
ketika mereka bergerak turun dari atas papan jati.)

Bogoh ku na ngaran kasang,
kasang tujuh kali nyi(ng)kab,
kasang seni tambi lu(ng)sir,
kasang pahang ta(m)bi laka,
bedong dita(m)bi baya(m)bon,
balang ditambi kacambang.
(Yang menarik adalah beberapa jenis tirai,
tirai-tirai dilipat tujuh kali,
tirai yang cantik dengan pinggiran yang terbuat dari sutra,
tirai pahang dengan pinggiran merah,
bedong dengan pinggiran dari kain bayambon,
baling dengan pinggiran yang terbuat dari kain kacambang.)

Sau(ng)gah ka manggung ra(n)jang,
gapay ka karas larangan,
dicokot na pasileman, [pasiboteng]
digapay seureuh tangkayan,
pinang ta cangcian keneh,
pinang tiwi pinang ading,
keur meujeuh pateumu angen.
(Naik ke atas tempat tidurnya,
dia mencari-cari di dalam peti miliknya,
diambil baki tempat pinang,
diambil setangkai buah pinang,
di naba biji-bijinya menempel di rantingnya,
pinang tiwi dan pinang gading,
sesuai dengan apa yang dia suka.)

Tuluy ngaha(n)ceng seupaheun,
dituruban saratangan,
beunang ngaharemas,
(Lalu dia menyiapkan sugi untuk pinang,
diolesinya dengan doth upacara,
doth yang disepuh.)

A(ng)geu/s ngaha(n)ceng
seupaheun, /4r/
dicokot pameres jati.
(Ketika sudah menyiapkan
sugi untuk pinang,
dia mengambil sisir kayu jatinya.)

A(ng)geus nu meresanra(m)but,
digapay na ebal ageung,
dicokot kupa saranggeuy,
dieu(n)teupkan (ka na ceuli?).
(Setelah menyisir rambutnya,
diambil tas besar miliknya,
lalu diambil setangkai kupa,
diletakkannya di sela telinga (?).)

Tuluy eu(n?)ceum ka na peu(n)teu,
tuluy sari ka na pipi.
(Kemudian dia berdandan,
lalu membedaki pipinya.)

Ti(m)buru nu kahiasan,
sajingjing boeh cali(ng)cing,
saka(n)dar boeh harega.
(Begitu indahnya dia menimbulkan kecemburuan,
mengenakan kain calingcing,
pada bagian bawah mengenakan kain mahal.)

Saturun ti manggung ranjang,
garudag di tengah imah,
garedog di balik panto,
kareket ni(n)cak taraje,
ulang panapak ka lemah,
kalangkang ngabiantara,
reujeung deung dayeuhanana.
(Seturun dari kamar tidurnya,
dia bergegas menuju ruang tengah,
dan menuju balik pintu,
melangkah di atas tangga,
kemudian menapakkan kakinya di tanah,
bayangannya muncul di luar,
bersamaan dengan dirinya.)

Seah na lemah katincak, eu(n)deur na
Ratu Bancana ngeunakeun tuang kalangkang.
(Dia menapak tanah dengan gemuruh,
bergoyang ketika Putri Bancana melangkah di atas bayangannya.)

Cab ruy tapih meubeut keuneung,
ngeureut ka na bitis koneng,
ngahusir ka lamin ading.
(Sep, sap, rok menyentuh tumitnya,
membelah ke dalam paha coklat keemasannya,
ketika dia berjalan menuju rumah tamu.)

U(ng)gah tohaan ka manggung,
deuuk teoheun palangka,
na seupaheun dia(ng)seukeun. /4v/
(Sang putri turun,
duduk di atas tandu,
dan menawarkan sugi pinang.)

Saur a(m)buing sakini:
"Anaking, nu mucang onam!"
(Ibuku berbicara demikian:
“Anakku, silakan ambil sugi itu!”)

Sauma Ameng Layaran:
"A(m)bu aing sadu mucang."
(Ameng Layaran berkata:
“Ibunda, izinkan aku mengunyah.”)

I(ng)keun mangka o(ng)koh mucang.
(Kita tinggalkan mereka mengunyah pinang.)

Carekeun si Jo(m)pong Larang.
(Marilah kita berbicara tentang Jompong Larang.)

Saturun ti kadatuan,
ngalalar caroge ageung,
nyangla(n)deuh ka Pancawara,
mukakeun pa(n)to kowari,
ngalalar ka Pakeun Dora.
(Sepergi turun dari istana,
melewati ruangan umum,
turun ke arah Pancawara,

lalu membuka gerbang,
dan berjalan melalui Pakuen Dora.)

Leu(m)pang aing nyangwetankeun,
meu(n)tas di Cipanangkilan.
Sacu(n)duk ka Pakeun Teluk,
sadatang ka Pakancilan,
mukakeun panto kowari.
(Berjalan aku ke arah barat,
menyeberangi Sungai Cipanangkilan.
Setelah sampai di Pakuen Teluk,
tiba di Pakancilan,
membuka pintu gerbang.)

Dingaran si Jo(m)pong Larang,
nyoreang ka lamin ading.
(Yang bernama Jompong Larang,
Melirik ke arah rumah tamu.)

Carekna si Jo(m)pong Larang:
"Duh, ameng [ta] ti mana eta?"
(Jompong Larang berkata:
“Oh, di mana pertapa yang ada di sini?")

Ameng ta datang ti wetan,
sakaen poleng puranteng,
sasali(m)but sulam Baluk,
sasa(m)pay sut(e)ra Cina,
sapecut hoe walatung,
dige(m)peng-ge(m)peng ku omas,
jojo(m)pongna made / to(ng)gong.
/5r/
(Pertapa itu datang dari timur,
mengenakan pakaian bercorak puranteng,
ikatan dengan sulaman Baluk,
sehelai selendang sutra Cina,
memiliki cambuk dari rotan walatung,
dihias dengan garis-garis keemasan,
berkas rambutnya seperti jengger ayam.)

Teher lu(ng)guh di pala(ng)ka,
sila tumpang deung sideuha,
ngagigirkeun karas tulis,
teher nyeupah lumageday.
(Duduk di atas dipan,
satu kaki diangkat dan bersandar pada satu tangan,
pati yang dilukis ada di sebelahnya,
dan mengunyah pinang dengan tenang.)

Dingaran si (Jom)pong Larang,
na bogoh han-io kapalang,
diilikan dibudian,
dideuleu diteuteuh-teuteuh,
ti manggung dikaha(n)dapkeun,
ti ha(n)dap dikamanggungkeun.
Bogoh ku na pangawakan:
(Dia yang dipanggil Jompong Larang,
benar-benar terlihat tergoda,
dia memerhatikannya dan menelitinya,
dia memerhatikannya dengan seksama,
dari kepala sampai kaki,
benar-benar tergoda oleh bentuk tubuhnya:)

giling bitis pa(n)cuh geulang,
tareros na tuang ramo,
para(n)jang na tuang ta(ng)gay,
be(n)tik halis sikar dahi,
suruy hu(n)tu be(n)tiktungtung,
sumaray dadu ku seupah.
(Pahanya padat, pergelangan tangannya molek,
jari tangannya runcing,
kukunya panjang,
alisnya melengkung, pelipisnya menyatu,
susunan giginya yang indah,
bergerak miring (?) dan merah karena mengunyah pinang.)

Dingaran si Jo(m)pong Larang,
gupuh sigug ga(m)pang kaeur,
leu(m)pang bitan gajar jawa.
(Dia yang dipanggil Jompong Larang,
sangat gugup, ceroboh, mudah terganggu,
dan berjalan seperti gajah jawa.)

Sadatang ka kadatuan,
tohaan kaso(n)dong ngeu(y)euk,
eukeur ngeuyeuk eukeur meubeur,
eukeur nyulage mihane,
neuleum nuar nyangkuduan,
ngaracet ka(n)teh pamulu.
(Setiba di istana,
[dia melihat] sang Putri sedang menenun,
sedang menenun, mencelup ikat,
In…(?) dan warping,
mencelup warna biru, kuning, dan merah,
menggosok benang wol yang mengkilat.)

Tohaan / na Ajung Larang / 5v /
Sakean Kilat Bancana,
ngaleke ebreh na cangkeng,
cugenang tuang pinareup.
(Putri Ajung Larang
Sakean Kilat Bancana,
mengenakan pakaian dengan cerobohnya, pinggangnya terlihat,
dadanya menonjol ke depan.)

Teherna lu(ng)guh di kasur,
ngagigirkeun ebun Cina,
ebun cina diparada,
pamuat ti alas peu(n)tas.
(Demikian dia duduk di atas matras,
peti buatan Cina di sebelahnya,
peti cina yang mengkilap,
berasal dari seberang lautan.)

Tohaan Ajung Larang
nyoreang ti jokjok panon,
ngadeuleu sali(ng)ger beuheung,
katuluyan deuleu teuteuh.
(Putri Ajung Arang
melirik dari sudut matanya,
menengokkan kepala dan melihat,
lalu menatap dengan seksama.)

"Itu ta eugeun si Jo(m)pong!
Na naha eta bejana?
Mana geura-geura teuing?"
Dingaran si Jo(m)pong Larang,
cat-cat gek deuuk di lemah.
(“Lihat! Itu dia Jompong!
Seperti apakah pesan darinya?
Kenapa dia terburu-buru?”
Dia yang bernama Jompong Larang
menaiki tangga dan duduk di atas lantai.)

Saur taan Ajung Larang:
"Jo(m)pong naha beja sia?
Mana sinarieun teuing?"
(Putri Ajung Larang berkata:
“Jompong, apa yang ingin kau sampaikan?
Kenapa tiba-tiba?”)

Dingaran si Jo(m)pong Larang,
umun sadekung ka manggung,
beres ngaburang ku ramo.
(Dia yang bernama Jompong Larang
memberikan penghormatan, duduk dalam keadaan emok (?),
dengan sopan menunjukkan jari-jemarinya ke atas.)

Carekna si Jorong Lo(m)pong:
"Taan urang Ajung Larang
Sakean Kilat Bancana,
ra(m)pes teuing jeueung aing:
Latara teuing nu kasep. /6r/
Inya kasep inya pelag,
keur meujeuh pasieupan deung
taanurang Ajung Larang."
(Jompong Larang berkata:
“Putri kami, Putri Ajung Larang
Sakean Kilat Bancana,
sangatlah indah apa yang ku lihat:
Seseorang laki-laki sangat tampan.
tampan, adil,
sangat cocok dengan Putri Ajung Larang!”)

Saur taan Ajung Larang:
"Jo(m)pong saha ngaranna?"
(Putri Ajung Larang berkata:
“Jompong, siapa namanya?)”

Sanembal si Jo(m)pong Larang:
"Samapun ngaranna Ameng Layaran.
Latara teuing na kasep,
kasep manan Banyak Catra,
leuwih manan Silih Wangi,
liwat ti tuang ponakan.
Ageungna se(ng)serang panon,
[keur meujeuh] pauc-pauceun
di a(n)jung,
timang-timangeun di ranjang,
tepok-tepokeun di kobong,
edek-edekeun di rengkeng.
Teher bisa carek Jawa,
w(e)ruh di na eusi tangtu,
lapat di tata pustaka,
w(e)ruh di darma pitutur,
bisa di sanghiang darma." /0/
(Jompong Larang menjawab:
“Mohon maaf, Putri, nama laki-laki itu Ameng Layaran,
seorang laki-laki yang sangat tampan,
lebih tampan dari Banyak Catra,
lebih tampan dari Silih Wangi,
bahkan lebih tampan dari keponakan Putri.
Ia tinggi dan sangat diidam-idamkan,
laki-laki untuk dipeluk dan dibelai di beranda,
untuk ditimang-timang di ranjang,
ditimbang oleh peraturan,
untuk dirangkul di ruang tidur.
Selain itu ia bisa bahasa Jawa,
mengetahui isi dari kitab-kitab,
mengenal susunan buku-buku,
mengetahui hukum dan nasihat-nasihat,
mengenal sanghyang darma.”)

Saa(ng)geus kapupulihan
taan urang Ajung Larang
Sakean Kilat Bancana
tuluy minger tuang hi/dep. /6v
(Ketika mendengar berita ini,
Putri kami Ajung Larang
Sakean Kilat Bancana
membayangkannya dalam pikiran.)

Na rasa kalejon bogoh,
na rasa karejay hayang.
Na heuyeuk tuluy ditu(n)da,
diparac apus dada(m)par,
loglog caor ti na to(ng)gong,
diri hapit ti na pingping,
kedalan diri ti da(m)pal
(Dia merasa terbakar karena cinta,
merasa dikendalikan nafsu.
tenunan diletakkan,
melepas tali ikatan,
beban berat yang musti dipikul,
diri diapit di paha,
gerak diri di telapak kaki.)

Neut na(n)jeur ngajuga hangsa.
Saasup sia ka bumi,
nyi(ng)kabkeun kasangcarita
(Lalu dia bangkit bagaikan angsa.
Setelah memasuki rumah,
dia menyingkap tirai.)

Eu(n)deur na rarawis kasang,
kumare(n)cang kumare(n)cong,
m(ng)gang ka na papan ja(n)ten.
(Rumbai tirai terdengar,
berderik dan gemerincing,
ketika mereka bergerak turun di atas papan jati [?].)

Bogoh ku na ngaran kasang,
kasang tujuh kali nyi(ng)kab,
kasang seni ta(m)bi lungsir,
kasang pahang ta(m)bi laka,
bedong dita(m)bi baya(m)bon,
balang dita(m)bi kaca(m)bang.
(Yang menarik adalah beberapa jenis tirai,
tirai-tirai dilipat tujuh kali,
tirai yang cantik dengan pinggiran yang terbuat dari sutra,
tirai pahang dengan pinggiran merah,
bedong dengan pinggiran dari kain bayambon,
balang dengan pinggiran yang terbuat dari kain kacambang.)

Sau(ng)gah ka manggung ra(n)jang,
gapay na karas larangan,
dicokot na pasileman
[pasileman pasiboteng],
digapay seureuh heuseunan.
(Naik ke atas tempat tidurnya,
dia mencari-cari di dalam peti miliknya,
diambil baki untuk buah pinang,
diambil beberapa biji pinang.)

Tohaan tuluy nu ne(k)tek,
nu ne(k)tek / meunang salawe, /7r/
nu mauc meunang sapuluh,
[ms. muuc]
ngaga(n)tul meunang dalapan.
(Sang Putri kemudian melipat beberapa lembar daun pinang,
membungkus pinang dia dapat 25 buah,
menumbuk pinang dia dapat 10 buah,
mempersiapkan pinang dia dapat 8 buah.)

Ditalian ra(m)bu tapih,
diletengan leteng karang,
leteng karang ti Karawang,
leteng susuh ti Malayu,
pamuat aki puhawang.
(Dibungkus pinang itu dengan fringe threads of frocks,
digosoknya dengan kapur,
kapur dari Karawang,
kapur cangkang kerang dari Malayu,
didatangkan oleh nahkoda.)

(bersambung)

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/9/id/208

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar