Minggu, 21 Maret 2010

Candi Rimbi


Candi Rimbi merupakan candi peninggalan kerajaan Majapahit. Candi ini terletak di Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, Kabupaten Jombang, Provinsi Jawa Timur.

Deskripsi Bangunan
Candi Rimbi dibangun dengan menggunakan bahan batuan andesit dan batu bata. Candi ini memunyai panjang sekitar 13,24 meter, lebar 9,10 meter, dan tinggi 12 meter. Candi Rimbi sendiri menempati areal seluas 896,56 meter persegi.

Denah Candi Rimbi adalah persegi empat, terdiri dari batur (alas candi), kaki, dan badan candi. Sebagian besar badan candi telah runtuh. Dinding badan candi yang tersisa hanya dinding sisi utara. Badan candi yang seolah terkoyak itu masih berdiri tegak di antara reruntuhan batu andesit yang berada di sekitarnya. Separuh lebih dari tubuh dan atap candi telah hancur, seolah teriris secara vertikal, namun bagian kaki masih dapat dikatakan utuh.

Dengan kondisi seperti itu, sulit diketahui seperti apa sebenarnya bentuk badan dan atap candi. Meski demikian, kaki candi tampak masih utuh. Kaki candi seperti bersusun dua, terbagi oleh pelipit yang menonjol keluar. Bagian kaki yang terletak di atas pelipit agak menjorok ke dalam sehingga ukurannya menjadi kebih kecil dibandingkan dengan kaki bagian bawah.

Arca-arca Hindu cukup banyak ditemukan di halaman candi. Sayangnya, arca-arca itu sudah tidak berada dalam kondisi utuh, bahkan beberapa di antaranya menyisakan potongan anggota badannya saja. Di halaman candi terdapat reruntuhan batu. Di antaranya ada sebuah lapik bekas untuk menempatkan arca. Pada lapik itu hanya tersisa telapak kaki arca.

Sebuah hiasan kala dengan ukuran agak besar, tergeletak di salah satu sudut halaman candi. Diperkirakan, batu ini dulunya digunakan untuk menghiasi pintu masuk ke ruangan (bilik) candi. Suatu hal yang lazim terdapat pada candi-candi Hindu lainnya di Jawa Timur. Candi Rimbi juga sering disebut juga Cungkup Pulo. Nama Rimbi dikaitkan dengan nama tokoh pewayangan bernama Arimbi, istri Werkudoro (Bima).

Tubuh candi juga lebih kecil dibandingkan dengan bagian kakinya, sehingga terlihat seperti terdapat selasar yang mengelilinginya. Akan tetapi saat ini, sebagaimana halnya sebagian atap dan tubuh candi, tangga naik ke selasar juga sudah runtuh, sehingga hanya selasar di sisi selatan yang dapat terlihat dari bawah.

Pada kaki bagian atas maupun dinding luar tubuh candi yang masih tersisa, tidak tampak adanya pahatan. Akan tetapi, di seputar kaki candi bagian bawah dipenuhi oleh jajaran panel-panel relief cerita-cerita binatang. Relief yang dipahat dengan teknik datar (gaya wayang kulit) yang sangat indah dan halus tersebut dapat dikatakan masih utuh. Untuk membacanya digunakan teknik prasawiya (berlawanan dengan arah jarum jam), dimulai dari sisi utara.

Antara kaki bagian atas dengan tubuh candi dibatasi oleh pelipit dengan hiasan yang menonjol keluar di setiap sudutnya. Pada bagian kaki candi masih bisa ditemukan berbagai relief yang berisi ajaran Tantri, menggambarkan manusia dan hewan. Sayang, hingga sekarang belum bisa diketahui isi cerita yang coba digambarkan melalui relief-relief tersebut. Namun, sebagian dari panel relief diduga menggambarkan cerita Garudeya

Candi Rimbi dalam Sejarah
Reruntuhan bangunan candi dipublikasikan kembali pada akhir abad ke-19 oleh Alfred Wallace, dalam perjalanannya ke Wonosalam untuk mengumpulkan contoh-contoh tumbuhan. Berdasarkan seni arsitektur bangunan, Candi Rimbi merupakan candi Siwa. Hal ini ditandai penemuan arca Dewi Parwati (istri Dewa Siwa) yang sekarang disimpan di Museum Trowulan dan Museum Nasional. Arca Parwati ditemukan di ruang utama candi. Tetapi, ruangan ini sudah tidak ada lagi, karena separuh dari badan candi sudah runtuh.

Dewi Parwati dikenal sebagai simbol wanita yang benar-benar memunyai seluruh syarat terbaik sebagai seorang wanita, ibu sekaligus istri. Parwati juga dianggap sebagai dewi lambang kesuburan, bersama-sama dengan Siwa; mereka berdua sering digambarkan sebagai yoni (simbol wanita) dan lingga (simbol laki- laki). Arca Parwati yang ditemukan di Candi Rimbi melukiskan Tribhuwana Wijayatunggadewi, ratu Majapahit yang memperintah pada 1328 - 1350 M. Kuat dugaan bahwa candi ini dibangun pada pertengahan abad ke-14, sebagai penghormatan kepada Tribhuwana Wijayatunggadewi Jayawisnuwardhani.

Pemugaran
Candi yang dibangun menghadap ke timur ini tampaknya belum pernah mengalami pemugaran. Namun, menurut data yang kami terima candi tersebut telah mengalami pemugaran pada 1995-1997.

Kepustakaan
Abas, H.M.S, Drs, M.Si. dkk. 2001. Peninggalan Sejarah dan Kepurbakalaan di Jawa Timur. Jawa Timur: Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Jawa Timur.

Leona Anderson. Review of Kinney, Ann R. 2005. Worshiping Siva and Buddha: The Temple Art of East Java. . Department of Religious Studies, University of Regina, Canada: H-Buddhism, H-Net Reviews.

Tim Koordinasi Siaran Direktorat Jenderal Kebudayaan. 1994. Khasanah Budaya Nusantara V. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Candi Rimbi [online] http://candi.pnri.go.id/ jawa_timur/rimbi/rimbi.htm. 15 November 2009.

Narasumber
Masyarakat sekitar Candi Rimbi

Sumber Foto,
Koleksi Foto Tim Wacana Nusantara
http://www.wacananusantara.org/2/587/candi-rimbi

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar