Minggu, 28 Maret 2010

Dyah Pitaloka

Sang Linggabuana dinobatkan menjadi Maharaja Sunda dengan gelar Prabu Maharaja Linggabuana, pada tanggal 14 bagian terang bulan palguna tahun 1272 saka atau kira-kira tanggal 22 pebruari 1350 masehi. Linggabuana menikah dengan Dewi Lara Linsing, dari pernikahannya Prabu Lingabuana memperoleh anak Citraresmi (Dyah Pitaloka, panggilan kakeknya) dan yang bungsu namanya Niskala Wastu Kencana (lahir pada tahun 1348 masehi).

Menginjak dewasa Dyah Pitaloka menjadi seorang putri yang cantik rupawan. Pada abad ke 14 di Jawa Timur muncul sebuah kerajaan yang besar dan berambisi menguasai Nusantara dengan rajanya Hayam Wuruk dan Patih Gajah Mada. Ambisi menguasai nusantara berasal dari ide Patih Gajah Mada dengan sumpah palapanya.

Pada tahun 1357 Dyah Pitaloka mendapat pinangan dari kerajaan Majaphit. Dalam kidung sunda disebutkan bahwa, Raja Daha, dan raja Kahuripan bertanya kepada Hayam Wuruk tentang perasaannya kepada putri Sunda (Dyah Pitaloka/Citraresmi/Citrasemi). Raja Hayam Wuruk menjawab, hamba sudah berketetapan hatin tentang gambar sang putri jelita, apabila ada yang menghalangi, ia akan menjadi musuhku, lawanku, apabila aku mati, ia pun akan menemaniku.

Pada tahun 1357 akhirnya rombongan Raja Linggabuana datang ke Kerajaan Majapahit hendak mengantarakan Dyah Pitaloka untuk diperistri oleh Raja Hayam Wuruk. Dalam kidung sunda dikatakan bahwa Rombongan Sunda termasuk Putri Dyah Pitaloka diterima di lapangan Bubat. Pada saat sampai di Bubat terjadi kekacauan antara rombongan sunda dengan Patih Gajah mada. Gajah Mada menginginkan Sunda datang sebagai raja taklukan dan menyerahkan Dyah Pitaloka sebagai upeti, namun raja Sunda tidak menyetujuinya karena ia datang ke Majaphit sebagi kerajaan yang merdeka. Perselisihan ini akhirnya menimbulkan peperangan “Perang Bubat”.

Perang bubat akhinrya dimenangkan oleh pasukan Majapahit, karena jumlah pasukan sunda yang sedikit. Putri Dyah Pitaloka sendiri akhirnya memutuskan untuk bunuh diri di medan pertempuran karena tidak mau menyerahkan dirinya kepada orang yang sudah membunuh ayahnya. Dyah Pitaloka meninggal sebagai seorang ksatria yang membela harga diri dan kehormatan kerajaan Sunda.

Kepustakaan:
Iskandar, Yoseph. 2005. “Sejarah Jawa Barat”. Bandung: CV Geger Sunten
Sukardja, Djadja. 2007. Situs Kawali “ Astana Gede”. Ciamis. ….

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/5/29/dyah-pitaloka

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar