Minggu, 28 Maret 2010

Gambaran Kosmologis Sanghyang Raga Dewata (Naskah Lontar Abad XVI Masehi)

Oleh : Elis Suryani NS

Abstrak
Makalah ini mengulas Gambaran Kosmologis Masyarakat Sunda yang terdapat dalam Naskah Sunda Kuno yang berjudul Sanghyang Raga Dewata. Naskah Sanghyang Raga Dewata ditulis di atas daun lontar pada abad ke-XVI Masehi, menggunakan bahasa dan aksara Sunda Kuno dan digubah dalam bentuk prosa. Sanghyang Raga Dewata menggambarkan kosmologis masyarakat Sunda, yang berisi mitos tentang penciptaan alam semesta, yang diawali dengan dibangunkannya siang dari kegelapan oleh kekuatan Sang Bayu. Setelah itu, diciptakanlah bumi, bulan, matahari, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa. Matahari ditempatkan di arah timur dan bulan di arah barat. Manusia dalam naskah Sanghyang Raga Dewata dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya yang seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan segala siksa 'ajaran' Sanghyang Darma. Itulah yang dianggap manusia ideal yang kelak dapat mencapai surga abadi.

1. Pengantar
Garapan ilmiah terhadap teks-teks hasil penelitian dalam bidang naskah Sunda kuno hingga saat ini masih sangat sedikit. Hal ini terbukti dengan adanya hasil dari para filolog yang telah dipublikasikan dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Padahal, beberapa artikel dan buku katalog yang membicarakan naskah Sunda mengungkapkan informasi bahwa ada puluhan, bahkan ada yang mengatakan lebih dari seratus, naskah Sunda Kuno yang ditulis di atas daun lontar, daun nifah, dan daun kelapa atau sejenisnya yang diperkirakan berasal dari masa kerajaan Sunda atau paling tidak berasal dari kalangan masyarakat pra-Islam atau awal Islam.

Memang benar adanya, jika dikatakan bahwa banyak sekali kesulitan yang dihadapi dalam menggarap naskah-naskah Sunda Kuno. Akan tetapi, harus disadari bahwa di dalam naskah-naskah kuno terdapat nilai-nilai kehidupan bangsa yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat masa kini. Ternyata diketahui dari beberapa naskah Sunda Kuno yang diteliti terungkap isi mengenai sejarah, pandangan hidup, dan unsur-unsur kebudayaan Sunda kuno lainnya yang merupakan bahan dalam upaya menggali, identitas masyarakat pendukung kebudayaan tersebut. Dengan demikian, penggarapan naskah-naskah kuno perlu dilakukan secara sungguh-sungguh dan berkesinambungan.

Salah satu naskah Sunda Kuno yang cukup menarik untuk dibahas pada makalah ini adalah Naskah Sanghyang Raga Dewata (SRD) menggunakan aksara serta bahasa Sunda Kuno. Teks SRD menggambarkan sistem kosmologis masyarakat Sunda pada abad ke-16 Masehi. Hal lain yang cukup menarik dari keberadaan naskah SRD ialah segi nilai budaya lainnya, seperti bidang keagamaan, mitologis, sastra, pandangan hidup, dan nilai-nilai tradisional lainnya.

2. 2. Deskripsi Naskah
Judul Naskah : SANGHYANG RAGA DEWATA
Nomor Kode : dj66.2923
Asal Naskah : Sukaraja Tasikmalaya
Ukuran
(a) Kropak : 26,5 x 2,5 x 4,5 cm
(b) Lempir : 23,5 x 3,5 cm
Jumlah
(a) Lempir : 25 (21 utuh; 4 tidak utuh)
(b) Halaman : 50 (47 ditulisi; 3 kosong )
Bahan Naskah : Lontar
Aksara : Sunda abad ke-16 Tipe Priangan (Ciburuy,
Galuh) dan Cirebon (Talaga) yang ditulis
dengan tinta (Holle, 1882)
Bahasa : Sunda Kuno
Bentuk Karangan : Prosa
Ringkasan Isi Teks :

Naskah Sanghyang Raga Dewata secara garis besar berisi mitos tentang penciptaan alam yang diawali dengan dibangunkannya siang dari kegelapan oleh kekuatan Sang Bayu. Setelah itu, diciptakanlah bumi, bulan, matahari, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa. Matahari ditempatkan di arah timur dan bulan di arah barat. Dari bumi, dijadikanlah sebutir telur dari sekepal tanah dan menjelma sebagai Sanghyang Tunggal kemudian menjadi Batara Guru yang ditempatkan di gunung Kahyangan. Batara Guru dapat menjelma sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Mahadewa, dan Siwa. Ia juga yang berhak mengendalikan Batara Basuki di bumi dan Batara Baruna di lautan. Manusia dalam naskah Sanghyang Raga Dewata dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya yang seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan segala siksa 'ajaran' Sanghyang Darma. Itulah yang dianggap manusia ideal yang kelak dapat mencapai surga abadi.

3. Gambaran Kosmologis Naskah Sanghyang Raga Dewata
Naskah Sanghyang Raga Dewata menggambarkan tentang mitos penciptaan alam yang diawali dengan dibangunkannya siang dari kegelapan malam oleh kekuatan Sang Bayu. Setelah itu, diciptakanlah bumi, bulan, matahari, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa. Matahari ditempatkan di arah timur dan bulan di arah barat. Bumi, dijadikan dari sebutir telur, dan dari sekepal tanah menjelma sebagai Tanghyang Tunggal, kemudian menjadi Batara Guru dapat menjelma sebagai Brahma, Wisnu, Iswara, Mahadewa, dan Siwa. Ia juga berhak mengendalikan Batara Basuki di bumi dan Batara Baruna di lautan.

Manusia dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya yang seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan segala siksa atau ajaran Sanghyang Darma. Itulah manusia ideal yang kelak dapat mencapai surga abadi atau nirwana.

Gambaran kosmologis masyarakat Sunda yang tampak dalam naskah Sanghyang Raga Dewata dapat kita ketahui melalui teks bagian 02a.1) dan sebelumnya, yakni mitos tentang penciptaan alam yang diawali dengan dibangunkannya siang dari kegelapan oleh kekuatan Sang Bayu. Kemudian mitos penciptaan alam semesta tampak pada teks berikutnya, yaitu :

021.1) sampai 02a-4, 02 a.1) yu nuhir rahina kuL_m / nu tumapah dYiwang awang ta bayu ya ganal ning bayu / alitning bayu ya di sa
2) rira / ya pananyaan-k[a] alit ning bayu / ka bujanggaan ning bayu / kawisesaaning bayu / ya sanghYang
3) pat_t_gan / ya sanghYang kasatYan / sanghYan (ng) kapramanaan ning bayu / ngaranYa / (sanghYang warga) sanghYang bayu wisesa
4) / sanghYang bayu si hurip / sanghYang bayu sang kara /sanghYang bayy sakrati/ bagawat saseda tapa/ sanghYang bayang menjelaskan bahwa setelah dibangunkan siang dari kegelapan, diciptakanlah bumi,bulan, matahari, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa:

02 b.1) aya pr_tiwi / hantö pitatanggungnganön nana / aing dek[a] ngayuga akasa / teka breh aya
2) akasa / di bwana / mtöu sakeng tanhana / anggös ta R_p pwa k-katuruban-ku akasa / ah care
3) k[a] na tmen pwak[a] aing dek[a] ngayuga wulan / wentang aditYa / ngösYan akasa / ang
4) gös ta breh waya wulan / wentang aditYa / mtöu sakeng tanhana / wulan ti barat / a

02 a.1) ditYa ta wetan / agös ta ray börang / cang ang / ti inya manang na tuha na L_mah / manan[a]
2) na akasa / ti inya mana na tuha na pöting manan na boring / carek[a] na tm_n anggös wa
3) ya na bumi bwana / aya L_mah aya akasa / aya börang / aya pöting / hantö piosYin nana / a
4) ing dek[a] ngayuga raga / ngösYin bwana agös ta breh ta ya raga di bwana / mitu sangke tan ha.

Penempatan matahari di sebelah timur di arah timur, serta bulan di arah barat dapat dilihat pada teks 02b.4) wulan ti barat / a (02 a.1) ditYa ta wetan.

Gambaran tentang adanya mitos sebagaimana tampak dalam teks sejalan dengan pandangan kosmologis Indonesia yang menyebutkan bahwa terdapat kesatuan besar diantara para penghuni kosmos. Seluruh kosmos dijiwai oleh suatu daya hidup. Gambaran nyata tentang kosmos kerap kali sangat kuno, seperti pendapat bahwa bumi berbentuk keping besar, bersandar pada hewan atau telur, atau laut; angkasa terwujud taraf-taraf; matahari dan bulan ditarik dalam kereta, sebagagaimana dijelaskan dalam teks Sanghyang Raga Dewata, yaitu bahwa bumi tercipta dari sebutir 'telur', kemudian dari sekepal tanah menjelma Sanghyang Tunggal.

Tentang penempatan arah angin seperti barat, utara, timur, selatan serta pusat 'tengah', atau kanan, kiri, atas, bawah, serta tengah 'pusat' dalam teks SRD tampak pada bagian 03a.1-4).

03 a.1) ti / diri ti juti / ngahusir niskala / diri ti sakala /anggös ta masana tm_n ökör mangraga / boc[a]
2) kesang di pauc ku ti katuhu / dikepeskön-ka kidul breh jadi laut haru
3) s / di pauc ku ti kecanyca dikepeskön ka tenyca breh laut LöLöy / ang
4) gös ta Rör tutul boc cimata ing / breh jadi caing ngalwalwahhan / nujang ka ka laut /

Kemudian dilanjutkan dengan penciptaan-penciptaan laut (air), api, tanah, dan udara,
tampak dalam teks 03a.2-4)

03a. 2) kesang di pauc ku ti katuhu / dikepeskön-ka kidul breh jadi laut haru
3) s / di pauc ku ti kecanyca dikepeskön ka tenyca breh laut LöLöy / ang
4) gös ta Rör tutul boc cimata ing / breh jadi caing ngalwalwahhan / nujang ka ka laut /

Kesatuan kosmologis, baik di Jawa Tengah (Jawa) maupun di Jawa Barat (Sunda) tersistematisasikan menjadi dua cara: yang pertama, bahwa segala bidang kenyataan kosmis diklasifikasikan menjadi lima unsur asasi, empat yang padu termasuk yang kelima (moncopat; kolomudheng; poncosudo atau pancasada). Prototipe adalah dunia bersegi empat dengan satu pusat (papat keblat kelimo pancer atau madhab opat kalima pancer) menurut urutan: selatan, barat, utara, timur, pusat. Demikian pula halnya dengan hari-hari, digolongkan menjadi legi/manis, pahing, pon, wage, kaliwon. Kedua, antara manusia (buana kecil atau mikrokosmos) dan alam (buana besar atau makrokosmos) ada keselarasan progresif, namun bukanlah identitas (homologi antropokosmis). Manusia dengan nafsunafsu, dengan kebatinannya, serupa dengan keteraturan kosmos besar.

Setelah terjadinya proses penciptaan bumi dari sebutir telur, teks SRD lebih lanjut menggambarkan Sanghyang Tunggal yang kemudian menjadi Batara Guru serta ditempatkan di Gunung Kahyangan, sebagaimana tampak pada teks nomor 10b.1-2)

10 b.1) na para dewata kabeh / ka magung batara guru / ka yuga sanghYang tugal / mangkuk [a] dina kasorgaan na
2) batara guru / dina brahma wisnu / iswarra / mahadewa / siwah carek[a]na tm_n ayöna ma agös[a]
3) waya pidewataönnana / dibönang ngi ngayuga bumi bwana / ka handap ka j_RO sapa(ta)la / ba
4) tara basuki sang naga raja / ka laut batara baruna / ayöna ma p_p_k[a] nuh / aya dewata

Teks berikutnya menggambarkan bahwa Batara Guru pun berhak untuk mengendalikan
Batara Basuki di bumi dan Batara baruna di lautan, sebagaimana terlihat dalam teks 10b.3-4)

10b.3) waya pidewataönnana / dibönang ngi ngayuga bumi bwana / ka handap ka j_RO sapa(ta)la / ba
4) tara basuki sang naga raja / ka laut batara baruna / ayöna ma p_p_k[a] nuh / aya dewata

Manusia dalam SRD dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya yang seluruh
kehidupannya harus selalu menjalankan segala siksa 'ajaran' Sanghyang Darma. Itulah
manusia ideal yang kelak dapat mencapai surga, seperti tampak pada teks 11a. dan 11b.

11 a.1) da / sang manon lain pangkat laku su sang manon / Löpang tö kajööng tonggong / datang tö kajööng bö
2) ngöt / i yata kat_mu pangkat sanghYang kala kaRöpat lakar ngaraning bwana / pata ngaraning bn_r / linglang
3) laling L_ngny_p / tan kasurk_ran deneng suk_r / apan mtu hilang tanhana / ti sarira / apan
4) nolas sadakala / teka mtu hilang ti sarira / matangYan / tan katuduh ha ku sang manon / ari da
11 b.1) pada ngaranYa / apan prang nir mala / apan nolasa sadakala/ apan sang manon mtu hilang tanhana / apa
2) n sang manon mtu hilang tan pa sarira / apan sa manon mtuhilang tan pa karana / apa sang ma
3) non mtu hiling tan pa kahanan / matangYan tan kas_guh paran sang manon / lamun ka i
4) yatnakna sanghYang ming_t / haywa lupa / sang manon tanpa dora / lamun kasik_p ning nya napa

Gambaran kosmologis dalam SRD sejalan dengan gambaran kosmos filsafat Pancasila, yang dapat kita temukan pada keempat sila yang bersangkutan dengan dimensi horisontal (kedua sampai kelima). Kosmologi Pancasila mengasumsikan bahwa substansi-substansi kosmos bukanlah merupakan satu substansi raksasa menurut model kolektivitas-monistis. Namun, mereka juga tidak terpisah satu sama lain sebagai monadmonad menurut atomistis-pluralistik.

Manusia menempati keempat sila horisontal dalam Pancasila. Tetapi bersamanya diasumsikan adanya substansi-substansi infrahuman, yang psikis-sensitif, yang biotik, dan yang fisiokimis. Manusia sekaligus bersifat individual dan bersifat sosial (monodualisme); demikian pula secara lebih universal berlaku bagi segala substansi kosmis di samping manusia. Pada akhirnya, keempat sila (sila ke-2 sampai ke-5) tersebut mengacu pada sila pertama, yakni sila Ketuhana Yang Mahaesa. Hal ini sejalan pula dengan apa yang digambarkan dalam Sanghyang Raga Dewata, bahwa segala sesuatu berpusat kepada Sanghynag Tunggal (Yang Mahaesa).

4. Penutup
Naskah Sanghyang Raga Dewata merupakan naskah lontar abad ke-16, menggunakan huruf dan aksara Sunda Kuno serta digubah dalam bentuk prosa. SRD menggambarkan kosmologis masyarakat Sunda pada saat teks itu ditulis, yakni berisi mitos tentang penciptaan alam yang diawali dengan dibangunkannya siang dari kegelapan oleh kekuatan Sang Bayu. Setelah itu, diciptakanlah bumi, bulan, matahari, dan bintang-bintang di bawah naungan angkasa. Matahari ditempatkan di arah timur dan bulan di arah barat. Manusia dalam naskah Sanghyang Raga Dewata dipandang sebagai mikrokosmosnya jagat raya yang seluruh kehidupannya harus selalu menjalankan segala siksa 'ajaran' Sanghyang Darma. Itulah yang dianggap manusia ideal yang kelak dapat mencapai surga
abadi.

Daftar Pustaka
Atja 1970 Ratu Pakuan. Bandung: Lembaga Bahasa dan Sejarah
Ayatrohaedi 1981 “Peranan Benda Purbakala dalam Historiografi Tradisional” dalam Majalah Ilmu-Ilmu Sastra Indonesia, Penelitian dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum dan Profesi Dep. Dik. Bud. Jakarta: Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Bakker, Anton. 1993 Kosmologi & Ekologi: Filsafat tentang Kosmos sebagai Rumahtangga Manusia. Yogyakarta: Kanisius.
Darsa, Undang Ahmad. 1986 Satu Percobaan Rekonstruksi Teks Babad Cirebon (Skripsi). Bandung: Fakultas Sastra Unpad.
1998 Sanghyang Hayu: Kajian Filologis Naskah Bahasa Jawa Kuno di Sunda pada Abad XVI. (Tesis Magister Humaniora). Bandung: Pascasarjana Universitas Padjadjaran.
Ekadjati, Edi Suhardi. 1985 “Keadaan dan Jenis-Jenis Naskah Sunda: Keadaan dan Perkembangan Bahasa, Sastra, Etika, Tatakrama, dan Seni Pertunjukan Jawa Bali Sunda. Yogyakarta: Proyek Penelitian dan Pengkajian Kebudayaan Nusantara (Javanologi), Direktorat Jenderal Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
1988 Naskah Sunda: Inventarisasi dan Pencatatan. Bandung: Kerjasama Lembaga Kebudayaan Unpad dengan The Toyota Foundation.
Ikram, Achadiat 1980 “Perlunya Memelihara Sastra Lama”, Analisis Kebudayaan. No. 3 Tahun I. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.
Robson, S.O. 1978 “Pengkajian Sastra-Sastra Tradisional Indonesia’ dalam Bahasa dan Sastra
Tahun IV Nomor 6. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa
Suryani , Elis. 1990 Wawacan Panji Wulung: Sebuah Kajian Filologis (Tesis). Bandung: Pascasarjana Unpad.
1996 Wawacan Raramendut: Sebuah Kajian Filologis. Jakarta: Program Penggalakan Kajian Sumber-sumber Tertulis Nusantara.
Suryani, Elis, dkk. 2001 Kamus Bahasa Naskah dan Prasasti Sunda Abad 11 s.d. 18. Bandung: Kerjasama Pernaskahan Sunda

Makalah ini disampaikan dalam Kongres Bahasa Sunda
Garut 2003

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/2/399/gambaran-kosmologis-sanghyang-raga-dewata-(naskah-lontar-abad-xvi-masehi)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar