Selasa, 30 Maret 2010

Kapak Perimbas: Kebudayaan Masyarakat Paleolitikum

Zaman Paleolitikum berlangsung sekitar 600.000 tahun yang lalu, manusia pada masa itu harus berjuang untuk kelangsungan hidupnya. Perjuangan adalah sebuah keharusan yang harus ditempuh oleh manusia demi tercapainya sebuah kelangsungan hidupnya. Alam ini bukan musuh yang harus di jauhi, melainkan sebuah tantangan yang harus menjadi kawan dalam hidup ini. Hidup mengembara sebagai pemburu, penangkap ikan, dan pengumpul bahan makanan seperti buah-buahan, umbi-umbian, dan bahan makanan lainnya, menjadi sebuah kebiasaan sehari-hari mereka, berusaha mengumpulkan makanan sebanyak-banyaknya.

Untuk menjawab sebuah tantangan alam dan menjadikanya kawan, tentunya manusia harus terus berinovasi agar tidak kalah cepat dengan perubahan alam. Manusia pada zaman prasejarah khususnya zaman Paleolitikum berusaha melakukan semua itu dengan melakukan berbagai inovasi, terutama dalam hal peralatan hidup. Salah satu peralatan hidup yang berhasil mereka buat, dengan tujuan untuk mempermudah dalam berbagai aktivitas hidupnya, seperti dalam berburu, menangkap ikan, mengumpulkan makanan adalah kapak perimbas.

1. Kemunculan Kapak Perimbas
Peradaban manusia purba terbagi dalam beberapa masa, yaitu masa berburu dan mengumpulkan makanan, masa bercocok tanam, serta masa perundagian. Setiap masa memiliki ciri khas tersendiri. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan, manusia purba telah mengenal alat-alat berburu seperti kapak perimbas, alat-alat serpih, dan alat-alat tulang. Pada masa bercocok tanam, manusia purba telah mengenal sistem kepercayaan dan telah mampu membuat bangunan besar dari batu (Megalit), berbagai alat dari batu, gerabah, dan perhiasan. Pada masa perundagian, manusia purba telah mengenal kehidupan sosial ekonomi dan mampu menghasilkan berbagai benda dari perunggu.

Selain di Indonesia, seperti yang telah dikemukakan sebelumnya, kapak perimbas ini banyak ditemukan di wilayah luar Indonesia, khususnya kawasan Asia Tenggara dan Asia Timur. Kapak perimbas diperkirakan sebuah peralatan awal yang dibuat manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Pembuatan kapak genggam dilakukan dengan cara merampingkan pada suatu permukaan batu untuk memperoleh tajaman. Bentuk alat ini meruncing, dan kulit batu masih melekat pada pangkal alatnya sebagai pemegang. Pada umumnya alat ini dipersiapkan dari sebuah serpihan besar. Bentuk alat ini mendekati bujur sangkar atau persegi empat panjang. Tajamnya dipersiapkan melalui penyerpihan terjal pada permukaan alas menuju pinggiran batu (Poesponegoro, 2008: 96).

Tajam kapak perimbas, yang berbentuk konveks (cembung) atau kadang-kadang lurus, diperoleh melalui pemangkasan pada salah satu sisi pinggiran batu. Kulit batu masih melekat pada bagian besar permukaan batu (Poesponegoro, 2008: 96).

Melihat seluruh penemuan di wilayah Punung, dan dari hasil-hasil penggolongan alat-alat Paleolitik yang tercapai, tampaklah bahwa jenis kapak perimbas menduduki tempat utama di antara alat-alat yang masif. Kapak perimbas budaya Pacitan oleh Heekeren dibagi dalam beberapa jenis atas dasar ciri-ciri pokok yang sudah sebagai landasan penggolongan Movious. Jenis-jenis penggolongan itu adalah:

* Tipe setrika (iron-heater chopper), berciri: panjang menyerupai setrika, berpenampang lantang plano-konveks, dan memperlihatkan penyerpihan yang memancang dan tegas.
* Tipe kura-kura (tortoise ), berciri: beralas membulat dengan permukaan atas yang cembung dan meninggi.
* Tipe serut samping (side scraper), berciri: berbentuk tidak teratur dan tampak gelap, tajamnya dibuat pada sebelah sisi.

2. Persebaran Kapak Perimbas
1. Luar Indonesia
Peralatan prasejarah yang sangat menonjol di Indonesia pada masa Paleolitikum adalah kapak perimbas. Kapak ini merukan jenis kapak yang digenggam dan berbentuk masif. Manusia pendukung dari kapak perimbas ini diduga adalah Pithecanthropus. Bukti-bukti pendukung dari kebudayaan ini ditemukan pula di Cina, yaitu Chou-kou-tien, dan kapak ini ditemukan bersamaan dengan fosil manusia Pithecanthropus pekinensis.

Mengenai persebaran kebudayaan kapak perimbas telah dilakukan penelitian sejak tahun 1397 dan 1398 di Myanmar. Ada pun tempat persebaran kapak perimbas adalah Thailand, Pakistan, Myanmar, Malaysia, Cina, dan Indonesia. Kalau dilihat dari sudut teknologinya, ternyata kapak perimbas yang ditemukan di Indonesia memiliki kesamaan dengan yang ditemukan di negara-negara lain.

Movius berpendapat bahwa di Asia Tenggara dan Asia Timur berkembang suatu budaya Paleolitik yang berbeda dengan corak yang berkembang di daerah sebelah barat seperti Eropa, Afrika, Asia Barat, dan sebagian India, khususnya mengenai bentuk dan teknik alat-alat batunya. Hasil penemuan menunjukkan kalau teknik pembuatan yang ada di Asia Timur dan Asia Tenggara adalah monofasial, yaitu pengasahan alat-alat batu dilakukan pada salah satu permukaan saja. Kebudayaan kapak perimbas digolongkan sebagai tingkat awal budaya batu di Asia Timur dan masa perkembangannya pada umumnya ditentukan sejak kala Plestosen Tengah, sesuai dengan keadaan geografisnya.

Perimbangan tipe-tipe alat di daerah persebaran Asia Tenggara dan Asia Timur tidak sama. Ada tipe-tipe tertentu yang menonjol daripada tempat lain. Yang menonjol dalam kelompok lokal budaya Paleolitik di Asia Timur dan Asia Tenggara adalah tipe kapak perimbas dan kapak penetak. Begitu pula jenis batuan yang digunakan untuk membuat kapak perimbas berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lainnya. Misalnya, fosil kayu banyak dipakai di Myanmar, kuarsa di Punjab, Cina, dan Malaysia, sedangkan kapur kersikan dan tufa kersikan banyak dipakai di Indonesia.

2. Di Indonesia
Salah satu ciri khas dari kehidupan prasejarah Indonesia adalah berkesinambungan dari satu zaman ke zaman berikutnya. Fenomena seperti ini terus berkembang dari mulai zaman kehidupan awal manusia sampai zaman sekarang. Bukti adanya kapak perimbas menunjukkan adanya sebuah kehidupan pada zaman Paleolitikum, zaman yang diperkirakan sebagian bumi masih diselimuti es.

Keberadaan kapak perimbas di Indonesia ternyata memiliki persebaran yang luas dan khusus berkembang di tempat-tempat yang banyak mengandung bahan batuan yang sesuai untuk pembuatan perkakas-perkakas batu. Penelitian mengenai tradisi paleolitik di Indonesia dimulai pada 1935, ketika Koenigsswald menemukan alat-alat batu di daerah Punung (Pacitan), di dasar Kali Baksoko. Alat-alat tersebut bercorak kasar dan sederhana teknik pembuatannya. Koenigswald beranggapan bahwa kebudayaan Paleolitik yang tersebar ada di Pacitan sama dengan kebudayaan yang berkembang di Eropa pada zaman awal Paleolitik. Temuan kapak perimbas di Pacitan ini merupakan sebuah kebudayaan terawal di Indonesia.

Perhatian terhadap kebudayaan kapak batu dari zaman Paleolitik di Indonesia mulai meluas. Dan penemuan-penemuan baru terus terjadi, seperti; Sumatra Selatan (lahat), Lampung (Kalianda), Kalimantan Selatan (Awangbangkal), Sulawesi Selatan (Cabbege), Bali (Sembiran, Trunyan), Sumbawa (Batutring), Flores (Wangka, Maumere, Ruteng), dan Timor (Atambua, Kefanmanu, Noelbaki). Daerah Punung ternyata daerah terkaya akan kapak perimbas sehingga sekarang merupakan tempat penemuan terpenting di Indonesia.

3. Keadaan Manusia Pendukungnya
Kehidupan zaman batu ini telah berlangsung sejak 600.000 tahun yang lalu. Selama kurun waktu tersebut manusia hanya menggunakan alat-alat yang paling dekat dengan lingkungan kehidupan mereka, seperti kayu, bambu, dan batu. Mereka menggunakan batu-batu tersebut untuk berburu maupun untuk membersihkan makanan. Batu-batu tersebut juga mereka gunakan sebagai kapak yang digenggam untuk memotong kayu atau membunuh binatang buruan. Kehidupan manusia pendukung zaman ini masih nomaden atau berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Kepindahan mereka bergantung dari tersedianya bahan-bahan makanan terutama binatang buruan. Jadi, inti kegiatan hidup harian manusia pendukung kebudayaan kapak perimbas (zaman Paleolitikum) adalah mengumpulkan bahan makanan untuk dikonsumsi saat itu. Kegiatan seperti itu disebut peradaban food gathering atau pengumpul makanan.

Berdasarkan penemuan fosil manusia purba, jenis manusia purba yang hidup pada zaman Paleolitikum adalah Pithecanthropus erectus, Homo wajakensis, Meganthropus paleojavanicus, dan Homo soloensis. Fosil ini ditemukan di aliran Sungai Bengawan Solo.

Kepustakaan
Bellwood, Peter, 2000. Prasejarah Kepulauan Indo-Malaysia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Daeng, J. Mans. 2005. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan, Tinjauan Antropologis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Djubiantono, T. 1985. "Posisi Stratigrafi Artefak di Lembah Muzoi", dalam PIA III. Jakarta: PuslitArkenas, hal. 1026–1033.
Driwantoro, Dubel. dkk. 2003. "Potensi Tinggalan-Tinggalan Arkeologi di Pulau Nias, Prov. Sumatera Utara”. Jakarta: Puslit Arkenas dan IRD (tidak diterbitkan).
Forestier, Hubert. 2007. Ribuan Gunung, Ribuan Alat Batu; Prasejarah Song Keplek, Gunung Sewu, Jawa Timur. Jakarta: Populer Gramedia.
Poesponegoro, M.D. dkk. 2008. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Balai Pustaka.
Soejono, R.P. (ed.). 1990. Sejarah Nasional Indonesia I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.
Wiradnyana, Ketut, Dominique Guillaud & Hubert Forestier. 2006. “Laporan Penelitian Arkeologi, Situs Arkeologi di Kabupaten Nias, Provinsi Sumatera Utara”. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).
Wiradnyana, Ketut & Dominique Guillaud. 2007. “Laporan Penelitian Etno-Arkeologi, Situs Arkeologi di Pulau Nias, Provinsi Sumatera Utara”. Medan: Balar Medan dan IRD (belum diterbitkan).

Sumber :
http://www.wacananusantara.org/content/view/category/2/id/552

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar