Rabu, 17 Maret 2010

Kuda (Perang) Kuningan Tinggal Kenangan

Oleh : Siwi Yunita Cahyaningrum

Kuda Windu menjadi bagian sejarah yang tak terpisahkan dari sejarah Kabupaten Kuningan. Kuda perang ini menjadi ikon yang terlihat di setiap gapura pemerintahan hingga logo seragam. Namun, kuda perang ini kini tinggal cerita. Yang kini tersisa adalah kuda-kuda penarik delman.

Menelusuri Kuningan, mencari jejak kuda perang Windu, bukan hal mudah. Meski dalam data Dinas Pertanian Kabupaten Kuningan disebutkan populasi kuda mencapai 605 ekor pada 2008, semua kuda itu adalah kuda delman yang tidak diternakkan di Kuningan.

Iking Sakri (51), salah seorang sesepuh kusir yang tinggal di Lebak Kardin, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan, mengakui, kuda merupakan sarana transportasi utama di kota Kuningan sejak ia lahir. Ia sendiri sudah memulai menarik delman sejak tahun 1971. "Zaman saya dulu, delman ada di mana-mana. Mungkin jumlahnya ribuan. Jalanan kota yang naik turun membuat delman menjadi alat transportasi yang paling mungkin saat itu," katanya, Jumat (24/4).

Kuda di Kuningan selama ini hanya diperuntukkan sebagai penarik delman. Hanya sesekali kuda itu digunakan sebagai kuda pacuan. "Biasanya setiap tahun ada balapan kuda. Pesertanya, ya, kami-kami ini," kata Wawan, kusir kuda yang pernah memenangi lomba pacuan kuda di Kuningan.

Selain untuk pacuan, kuda pun masih digunakan dalam setiap penyelenggaraan saptonan. Saptonan merupakan adu ketangkasan menunggang kuda bagi para tumenggung atau pejabat kerajaan pada zaman dulu. Dalam permainan ini para pejabat itu menunggang kuda sambil menombak air di dalam ember yang digantung pada dua tiang bambu. Pemenangnya adalah yang bisa menjatuhkan air dalam ember dengan tombak.

Hingga saat ini saptonan masih dilangsungkan setiap tahun, tetapi dilakukan oleh pejabat di kabupaten. Kuda yang digunakan biasanya adalah kuda sewaan dari para kusir," kata Iking.

Kuda perang
Kuda Kuningan pada abad XV dikenal sebagai kuda perang. Tidak banyak buku sejarah yang menceritakan keberadaan kuda di Kuningan. Dr Edi Ekadjati (alm) dalam bukunya, Sejarah Kuningan: dari Prasejarah hingga Terbentuknya Kabupaten, menyebutkan, kuda peliharaan Dipati Ewangga, panglima pasukan di Kuningan, yakni Si Windu, merupakan kuda perang yang tangguh meski berbadan kecil.

Dalam dokumen riwayat singkat hari jadi kota Kuningan juga disebutkan, Windu ikut dalam perjalanan perang Adipati Kuningan guna bertempur untuk Kerajaan Cirebon menundukkan Galuh. Windu ikut pula berperang dan mendirikan pemerintahan Wiralodra di Indramayu. Bersama dengan Cirebon, pasukan Kuningan ini juga menggempur Sunda Kelapa dan turut mendirikan pemerintahan Jayakarta. Setelah itu, tidak ada lagi yang menuliskan tentang kuda Kuningan dan penerusnya.

Lia Priliawati, Kepala Seksi Produksi Bidang Peternakan Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan Kabupaten Kuningan, mengatakan, keberadaan kuda Kuningan secara genetis tidak pernah diteliti.

Nursamsi, Kepala Monitoring dan Evaluasi Dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perikanan Kabupaten Kuningan, juga mengatakan, kuda Kuningan yang ikut berperang diperkirakan merupakan kuda peranakan dari Bima. Pada zaman keadipatian, yakni abad XV, menurut dia, ada peternakan kuda di Ciniru.

"Kuda-kuda itu didatangkan dari Bima, dibawa dengan kapal melalui Pelabuhan Cirebon," katanya. Namun, keturunan dari kuda Bima yang menjadi tunggangan panglima perang Kuningan itu tak bisa dilacak.

Kuda-kuda di Kuningan saat ini, menurut Lia, adalah kuda campuran. Dilihat dari asalnya, kuda tersebut berasal dari berbagai kota. "Kuningan sendiri tidak mempunyai peternakan kuda. Jadi, kuda di sini hanya hasil dari jual beli," ujarnya.

Tak jarang para kusir pun tak tahu asal-usul genetis kuda miliknya. Rano (22), kusir delman, adalah salah satunya. Ia hanya tahu kuda putihnya masih muda karena gigi taringnya belum panjang. Kuda perang Kuningan kini memang hanya sebatas cerita, berganti dengan kuda delman yang berasal dari berbagai kota.

Sumber : http://cetak.kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar